Kumpulan Jejak Sang Gelombang (3)

Ruangan selanjutnya, yang cukup besar serta berposisi melengkung,  menampilkan situasi sebelum, di saat, dan sesudah tsunami. Tentang garis pantai yang akhirnya menjadi menjorok sekian ratus meter ke daratan setelah gelombang itu melanda. Termasuk beberapa pulau kecil yang menghilang, dan beberapa pulau kecil lain yang muncul dari dasar lautan.

Sebuah papan exhibit informasi penampunan pascabencana.
Sebuah papan exhibit informasi penampungan pascabencana.

Beberapa memento tentang kejadian 10 tahun silam disajikan dalam kotak-kotak kaca. Seperti sebuah motor Honda C70 (motor jenis ini pernah dimiliki ayah saya) yang kini sudah menjadi puing meski sebenarnya masih terbilang utuh. Atau sebuah sepeda yang terbawa gelombang tsunami, dikumpulkan pencari jejak lain, sebelum berakhir sebagai pajangan di dalam Ruang Pra dan Pascatsunami ini.

Motor itu ada di tengah.
Motor itu ada di tengah.

Tapi yang menjadi bintang dalam tulisan ini adalah sebuah gambar tentang waktu. Penangkap jejak waktu menurut saya adalah yang tersulit dari semua pengumpul jejak, dan di sini mahakarya itu bisa saya saksikan. Melihat itu, saya terdiam, napas tertahan, dan darah berdesir. Ditambah dengan rasa panas yang seperti menyeruak di mata ini.

Karena sesuatu di hadapan saya kini berkisah tentang sebuah jam yang berhenti berdetak tepat pada sekitar pukul 08.20 WIB.

Sepuluh tahun lalu, kala itu, “kala” itu, sepertinya waktu berhenti di Aceh. Adegan terakhir, klimaks dari karya sempurna milik Tuhan berlangsung di tempat ini, at that very second. Semua persiapan sudah dilakukan, awal cerita dengan gempa 9,2 SR (atau 8,7, menurut beberapa versi) sudah dijalankan pada pukul 07.53.

26 Desember 2004, sekitar pukul 08.20, Tuhan berseru, “Aaand… action!”

Maka terjadilah.

Supermerinding. Mengetahui diri berada tepat di lokasi yang betul-betul merupakan tempat kejadian perkara. Padahal yang ada di depan saya adalah sebuah jam dinding biasa, kalau saya tidak salah ingat. Tapi ya memang, di dalam jam dinding sederhana itu ada jejak waktu, yang tak akan terhapus, bahkan oleh waktu itu sendiri.

Sampai sekarang jam itu tidak berdetak lagi.

Ruangan ini, selain menampilkan situasi pra, saat, dan pascatsunami, juga menampilkan sedikit progres rehabilitasi oleh lembaga-lembaga donatur. Disertai beberapa gambar yang sebenarnya cukup menyayat hati, misal saja seorang ibu memeluk anaknya yang sudah tidak bernyawa.

Memang saya ini agak aneh. Saya kok ya membayangkan bagaimana kalau gambar itu terjadi pada saya? Kalau wanita itu ibu saya, kalau anak laki-laki itu adalah saya? Sentimental, ya? :haha.

Dan terus terang, saya juga membayangkan apa yang ada di benak para bapak itu. Bukannya apa-apa, mereka kan juga turut menjadi korban dalam bencana itu. Tidakkah melihat kembali benda-benda dari waktu yang berhenti sama dengan membuka luka lama? Seperti hubungan yang sudah putus, deh. Kalau lihat-lihat lagi foto mantan, bukankah namanya belum bisa move on?

Untungnya sih tidak ada yang bagaimana-bagaimana (saya sebenarnya mengamati tindak-tanduk para bapak :peace), termasuk ketika kami memasuki ruangan sebelah. Mungkin kami masuk dari pintu belakangnya, karena kami tidak tahu nama ruangan itu apa. Tapi bagi saya, ruangan itu sudah punya nama sendiri: Ruang Miniatur dan Diorama. Bisa dibilang sebenarnya ruangan ini persambungan dari Ruang Saat-saat Tsunami, tapi ketika melangkah, nuansanya sudah sangat berbeda, karena di sana, seperti namanya, ada Miniatur dan Diorama.

Ada tiga diorama mini yang menurut saya penting di sana. Pertama, saat setelah terjadinya gempa. Orang-orang keluar dari dalam rumahnya, dengan muka bingung bertanya-bertanya apa yang baru saja terjadi. Seseorang bahkan sampai berdiri di atas atap rumahnya, melihat ke arah penonton yang jauh untuk tahu apa yang akan terjadi. Nyatanya, memang setelah gempa, selain bangunan yang retak, genteng terlepas, beberapa orang luka karena kejatuhan genteng atau tertimpa bangunan. Untuk beberapa belas menit, suasana tenang. Terlampau tenang, seperti sesaat sebelum badai menerjang.

Situasi setelah terjadinya gempa.
Situasi setelah terjadinya gempa.

Karena dua puluh menit setelah itu, ada sebentuk gelombang mendebur dengan ketinggian, kecepatan, dan kekuatan mahadahsyatnya.

Dia bahkan mengintip seperti itu!
Dia bahkan mengintip seperti itu!

Tergambar jelas di Diorama 2 adalah ketinggian nyata dari gelombang tsunami, yang berdasarkan cerita beberapa orang setinggi pohon kelapa. Satu dari gambar di sana saya muat dalam Weekly Photo Challenge edisi Scale. Ada sepuluh meter ya tinggi pohon kelapa itu, ternyata?

Gelombang.
Gelombang.

Lagi-lagi waktu berhenti tepat di saat gelombang tsunami menunjukkan keperkasaannya. Manusia langsung berubah dari manusia biasa menuju makhluk dengan satu dan hanya satu insting saja: bertahan hidup. Meskipun sebenarnya kalau dihitung secara matematis, tidak ada gunanya lari karena kecepatan gelombang akan selalu lebih daripada kecepatan lari manusia itu, semua orang tetap pada insting bertahan hidupnya. Lari sekencang yang mereka bisa. Run for your life. Literally, for your life.

Beberapa kisah ajaib terjadi pada saat-saat ini. Seperti bagaimana orang yang sudah benar-benar pasrah, terangkat dari tanah dengan demikian lembutnya sehingga dia tidak sadar kalau yang mengangkatnya adalah gelombang tsunami. Atau kisah tentang orang yang memanjat pohon setinggi-tingginya untuk menghindari diri dari gelombang, hanya untuk melihat puing, mayat, dan korban lain yang masih hidup akhirnya mengembuskan napas terakhir karena terhantam puing kayu.

Tuhan sudah merancang semua dengan sangat detil, Teman. Manusia mah apa atuh…

Melihat ini semua, saya berpikir bahwa Tuhan memang tampak persis seperti sutradara yang menyiapkan semua perlengkapan untuk mahakarya besarnya. Bahkan mungkin Tuhan harus merencanakan pohon ini mengalir ke mana, puing ini tertabrak apa, bangunan ini hancur apanya duluan, sampai ke hal-hal terkecil sekalipun.

Termasuk semua keajaiban-keajaiban yang terjadi. Yang salah satunya ada di diorama mini ketiga. Ternyata, selain sebuah bangunan tempat ibadah umat Islam yang malam sebelumnya telah saya lewati, Masjid Baiturahim Ulee Lheue, ada juga satu masjid lain luput dari gelombang tsunami, terlepas dari posisinya yang tidak terlalu jauh dengan pantai.

Masjid dan puing di sekitarnya.
Masjid dan puing di sekitarnya.

Masjid Lampisang, kata label keterangan yang tertempel di dinding kaca. Satu-satunya masjid di daerah Lampuuk, Aceh Besar, yang selamat dari terjangan tsunami. Kita bisa melihat, sejauh mata memandang, puing-puing. Puing dan puing dan puing. Sementara itu, di tengah-tengah, sebuah masjid tetap berdiri, seolah tak pernah terkena apa pun.

Saya tak sadar di belakang Pak Dayat sudah berdiri. Tanpa diperintah, dia bercerita. Sedikit menerawang tatapan matanya ketika melihat puing itu. Katanya, entah kenapa saat tsunami terjadi, air laut yang menerjang ganas itu seolah terbelah tepat sesaat sebelum menyentuh dinding masjid, mengitari tempat ibadah itu, sebelum akhirnya bersatu kembali di depan masjid dan kembali menghantam semua yang dilewati dengan keganasan mahadahsyat. Tempat ibadah itu tak tersentuh, tetap kering, seolah-olah tertutupi mangkok transparan. Bahkan puing-puingnya pun tak ada satu pun menyentuh dinding masjid.

IMG_3755

Saya terhenyak. Saya jadi sadar bahwa keajaiban Tuhan bisa terjadi di mana saja, bahkan dalam ketidakmungkinan yang paling tidak mungkin. Di tengah gempuran gelombang tsunami yang mahadahsyat itu, Tuhan masih memberi belas kasihan dengan tidak membiarkan tempat ibadahnya tersentuh oleh air laut barang setetes pun.

Ah, makna. Bahkan kau ada di balik diorama seperti ini, ya?

Mas Baliyan memanggil kami. Rupanya ia telah ada di luar sejak tadi, menunggu kami untuk menjelajahi sudut lain museum. Kami tak punya banyak waktu, masih ada tempat-tempat lain yang mesti kami jelajahi. Saya mengangguk dan setengah berlari menyongsong para bapak. Derap sepatu kami bergema di ruang museum.

Ayo kawan, kita bergerak!

20 thoughts on “Kumpulan Jejak Sang Gelombang (3)

  1. Bayangan Tsunami Aceh ini tak betakhir seramnnya sekalipun sudah leway dari sepuluh tahun. Saya ingat suatu pagi, bulan Desember, saat menyalakan TV melihat bagaimana pembaca berita mengabarkan bahwa semua saluran komunikasi terputus ke Aceh, saya sudah membayangkan hal yang sangat buruk terjadi…

    1. Lebih buruk dari yang diperkirakan semua orang, Mbak. Makanya saya kagum sekali dengan masyarakat Aceh yang sudah demikian luar biasa bangkitnya selama waktu 10 tahun ini. Kita harus banyak belajar dari mereka :)).

  2. Pernah liat pilemnya Naomi Watts yg The Impossible itu aja aku merinding dan nangis Ga. Hiks, kalo di Islam itu namanya Kiamat Kecil. Ketika manusia hanya setitik debu, tak sebanding dengan kekuatan yang sesungguhya.

  3. nyambung dengan komentar di edisi sebelumnya… ada yang bercerita kalau saat itu ketika gelombang air datang dia hanyut lalu kemudia berpegangan di pohon kelapa. kebayang an tingginya. pohon kelapa aja kalah

  4. Bisa jadi saya berpikiran yang sama pas buat puisi itu. Tapi saya ga paham kalau pas nulis dibawa ke arah sana. Thanks mas buat penjelasan yg panjang untuk mereview kejadian yg mungkin terlupa.

      1. Ngga punya sih… Tapi waktu nonton kejadian di tipi, selalu sedih dan pengen nangis…

        Sekarang sih udah nggak sih… Tapi tetap ada rasa gimana gitu kalau baca atau liat gambar tsunami di Aceh…

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!