Kumpulan Jejak Sang Gelombang (2)

Warning: Postingan ini hampir-hampir tanpa foto :sedih.

Saya menemui seorang penjaga yang berdiri di depan sebuah pintu. Ternyata itu adalah ruang audio visual. Mbak-mbak pemandu itu mempersilakan para pengunjung untuk masuk guna menikmati pertunjukan. “Silakan Pak, pertunjukan videonya akan segera dimulai.” Melihat kami yang diam, dia mengamati sebentar, kemudian menyebutkan kata yang membuat kami bersemangat masuk ruangan itu.

“Gratis, Pak.”

Tahu saja, Mbak, kalau kami lagi cekak. :hehe.

Ruang audio visualnya tidaklah besar. Dan sederhana. Cuma ada empat baris kursi sofa berjok kulit. Masih mulus kalau dari jauh, meski kalau didekati agak kelihatan bekas sering dipakai. Mungkin karena usianya sepuluh tahun. Saya yang datang sebelum ada orang lain di ruangan mencoba duduk di kursi tengah yang kulitnya sudah terlihat terkelupas. Posisinya cukup bagus, ibarat kata, kalau menonton bioskop, tempat duduknya sempurna.

Saya duduk, dan terjeblos sampai ke bawah. “WUADUH!”

“Dek!” Mbak Din memekik.

Saya mencoba bangkit, berhasil, kemudian tertawa kecil. Haduh haduh. Saya kira saya terperosok dengan begitu cantiknya? Baru pertama kali dan saya sudah kadung dibuat malu karena sudah berpose seperti, yah, gajah duduk. Pantas saja kemudian tidak ada pengunjung yang duduk di sana. Termasuk saya memperingatkan para bapak untuk tidak menempati kursi itu (para bapak juga belum pernah datang ke sini sebelumnya).

Tak seberapa lama kemudian, ruangan penuh. Tapi bukan penuh dengan pengunjung luar daerah atau turis asing, melainkan penduduk Aceh sendiri yang berkunjung dan menonton video tentang tsunami. Saya cukup senang, melihat masyarakat lokal yang cukup antusias melihat kenang-kenangan dari karya mahabesar sepuluh tahun silam itu. Pun dengan fakta masyarakat Banda Acehlah yang sering datang ke tempat ini (menurut cerita mbak-mbak penjaga ruangan tadi).

Di tempat saya, Mataram, juga ada museum provinsi. Tapi boro-boro wisatawan asing, penduduk lokal pun ogah mengunjungi wisatawan itu (ya, ya, saya juga termasuk penduduk lokal). Jadilah Museum NTB sepi, menyepi, dan menyepi.

Mudah-mudahan sekarang sudah tidak seperti itu, sih. Saya sudah lama tidak ke Museum NTB.

Ruangan menggelap ketika seorang bapak memastikan pengunjung sudah penuh. Ia menyalakan pemutar DVD, video pun dimulai.

Saya sudah bisa menduga sebelumnya bahwa apa yang disajikan adalah detik-detik itu, dari sudut pandang beberapa jurnalis videografer yang menyumbangkan karyanya bagi museum ini. Tambahan lagi dari dokumentasi lembaga swadaya yang kebetulan menjadi relawan dalam rehabilitasi Aceh.

Saya rasa, saya tak perlu menceritakan lebih jauh tentang kehancuran maksimal yang melanda tatkala detik itu tiba. Beberapa postingan saya sebelum ini sudah menjelaskan apa yang terjadi sepuluh tahun lalu itu, apa yang menjadi penyebabnya, bagaimana kehancurannya, yang terjadi bagaikan kiamat menyenggol dunia, dan bagaimana Aceh bangkit dari semua itu.

Tapi satu yang berbeda, satu hal baru yang saya tangkap dari video itu, adalah bagaimana manusianya. Apa ekspresi yang terpancar dari wajah-wajah penduduk Aceh kala hari itu datang.

Bagaimana mereka bangkit setelah sepuluh tahun adalah satu cerita penuh pengharapan, tapi bagaimana mereka berteriak, menangis, merintih, kedinginan dalam hujan dan kepanasan di bawah terik matahari adalah cerita lain.

Tanpa bermaksud membuka kembali luka lama, apa yang terjadi dan tersaji di depan kami kini benar-benar suatu adegan nyata dari bencana besar itu.

Seorang anak kecil berdiri bingung pada sebuah emperan toko, di bawah hujan dengan baju yang hanya melekat di badan, sementara di sekitarnya keriuhan orang-orang yang lari tunggang langgang di tengah air bah tidak memberi titik terang apa pun baginya.

Adegan berganti, kali ini menampilkan saat-saat ketika air bah berarus deras, penuh pepuingan, menerjang kota. Sebuah mobil biru mencoba menyeberang jalan, tapi kendaraan itu tidak cukup cepat. Air keburu menghanyutkannya, puing keburu menghantamnya.

Kami bisa mendengar orang-orang yang kebetulan bertahan di tempat yang sama dengan pengambil gambar itu memekik, berteriak, menyebut nama Tuhan sekeras dan sebanyak yang mereka bisa.

But alas, nothing happened.

Adegan lain berasal dari kamera video amatir yang sempat ditayangkan pada satu stasiun televisi nasional, menampilkan seseorang yang mencoba bertahan dari terjangan tsunami dengan berpelukan pada sebuah tiang. Ia berteriak, si pengambil gambar pun begitu, tapi apa gelombang itu memberi belas kasihan denganmelambatkan lajunya?

Atau yang lainnya, ketika seseorang mengambil gambar puing bercampur air bah ditingkahi suara seorang bocah yang menangis mencari di mana orang tuanya. Puing rumah bercampur atap dan kendaraan seolah tanpa daya, tersapu habis-habisan oleh air bah hasil tsunami. Tak ada tempat lari, tak ada tempat sembunyi, apalagi tempat untuk bertahan. Semua tersapu, dalam satu gelombang mahabesar. Apakah di saat itu gelombang menyingkir dan berhenti di udara?

Setengah video selanjutnya menampilkan apa yang terjadi setelah gelombang itu datang. Sebuah kubah masjid yang terempas, berakhir dalam posisi di tengah hamparan puing. Korban tewas tergeletak di sembarang tempat, masih berusaha untuk dicari dan dievakuasi oleh Tim SAR sebelum dimasukkan dalam kantong-kantong jenazah, untuk dikebumikan dalam beberapa kuburan massal bagi korban tsunami yang tersebar di beberapa titik pada pesisir Aceh. Saya ingat kami sempat lewat di satu lokasi tadi malam.

Ruangan yang tadi ramai dengan celotehan pengunjung, termasuk Mbak Din dan saya tentang betapa bagusnya posisi saya ketika terperosok busa kursi tak beralas, seketika menghening. Kami semua masih sama-sama tersedot dalam haru-biru dan ingar-bingar masyarakat yang berusaha menyelamatkan diri, yang, meski terjadi sepuluh tahun silam, masih terasa seperti terjadi kemarin.

Lama kemudian, ketika menulis ini, saya jadi teringat salah seorang reporter stasiun televisi nasional yang kala itu sedang meliput bencana ini langsung di Aceh. Ia bercerita tentang apa yang ia alami di situ, dengan mata merah dan suara sekuat mungkin menahan air mata. Sejauh yang saya ingat, katanya,

“Kami memutar video liputan kami berkali-kali, semua orang berusaha mengingat di mana kami mengambil video itu, demi seorang ibu yang terus-terusan berkata, ‘Mbak itu anak saya masih selamat Mbak, anak saya masih selamat, di mana anak saya sekarang Mbak, saya lihat anak saya di TV Mbak dan dia masih selamat…'”

Mencegah diri untuk tidak terlalu terharu, saat itu saya mencoba mengamati apa yang dilakukan para bapak, dan…

Mata seorang bapak memerah.

Secara tidak langsung saya merasa agak tidak enak. Ada rasa bahwa saya seperti menggali kembali luka lama itu, menaburkannya dengan air garam, kemudian mengoyaknya berulang-ulang. Sebelumnya para bapak tidak pernah bercerita tentang kehilangan keluarga, tapi dengan melihat ekspresi itu, bukankah tidak mungkin ada sesuatu yang belum diceritakan?

Banyak, malah.

Saya memilih tidak membahas itu ketika kami menuju ruang sebelah, kendati saya melihat jelas kalau seorang bapak menyeka matanya.

Apa yang ada di kamar sebelah?

Para penonton! (note: kursi yang menjebloskan saya itu ada di kiri si bapak).
Para penonton! (note: kursi yang menjebloskan saya itu ada di kiri si bapak). Courtesy: Mbak Din.

27 thoughts on “Kumpulan Jejak Sang Gelombang (2)

  1. Merinding Gara bacanya. Apalagi pas lihat langsung. Pasti gw termasuk yang bakalan berkaca-kaca. Spt Mba Mikan bilang, gw akan meRinto. Hiks.

    Awal diajak ketawa pas posisi gajah duduk. Jd bener2 coba bayangin dirimu berpose itu. Tp lanjut baca.

  2. aku suka dengan judulnya. begitu menggambarkan kisah yang kamu ceritakan…
    aku belum pernah ke aceh, namun aku ke beberapa tempat yang memasang memorial seperti ini dan memang rasanya mencelos sekali.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!