Kuliah lagi.

Beberapa hari ini sudah jarang buka Reader. Ada kesibukan baru yang sangat menyita waktu dan punya prioritas yang dengan sendirinya lebih tinggi.

Saya kuliah lagi.

Dengan status saya yang hanya lulusan D3, lanjut ke S1 memang harus. Bagaimanapun karir di kantor nggak bisa berkembang kalau saya belum S1. Jadi begitu secara aturan saya sudah boleh lanjut kuliah, saya pun lanjut kuliah. Saya belum mau komentar soal aturan blukutek soal izin belajar kedinasan di kementerian saya ya, tapi nanti seiring mata kuliah yang saya ambil semakin banyak, satu dua analisis mungkin bisa saya buat.

Ambil apa? Saya ambil hukum. Memang tidak begitu mirip dengan pendidikan di D3 dulu, tapi adalah kesamaannya. Sama-sama bahas aturan. Yang satu bahas pajak, yang satu bahas hukum secara umum.

Kenapa hukum? Nah, ini ada beberapa alasannya. Alasan paling pragmatis (cie, sudah bisa pakai kata pragmatis) adalah karena bidang kerja saya di kantor ya urusan legal su-legal ini. Pak bos sudah berkali-kali menghasut dengan semua cara supaya saya ambil hukum. Beliau juga yang menghasut kalau ilmu pajak itu sebenarnya lebih “nyangkut” ke hukum ketimbang ke akuntansi.

Alasan kedua, saya ngelihat orang tua saya. Terutama ibu. Ibu saya itu menurut saya jenius banget di bidang hukum. Pas di universitas beliau peringkat kedua dengan IPK terpaut 0,01 dengan yang peringkat pertama. Padahal kuliah Ibu tidak maksimal karena kakak sudah lahir. Zaman segitu, belum ada teknologi, saya agak bingung juga bagaimana mengatur waktunya. Tapi Ibu bisa lulus delapan semester dengan nilai yang cemerlang.

Sayang garis nasib membuat beliau tidak berkarir di bidang hukum. Meski Ibu bilang sama sekali tidak menyesal tidak berkarir di bidang hukum (dan akhirnya karirnya justru di pasar tradisional), tapi saya merasa kalau jalur hukum ini mesti ada penerusnya di keluarga. Saya ingin saja gitu menggantikan Ibu berkarir di bidang ini. Mirip-mirip Airlangga yang menggantikan Mahendradatta buat jadi raja di Jawa lah.

Nyambung sama passion? Ehem. Passion sesungguhnya sudah kelihatan dalam postingan-postingan saya. Soal apa ada hubungan dengan pendidikan yang sedang saya ambil, saya pikir kalau dihubung-hubungkan, pasti ada.

Sesungguhnya saya tidak perlu khawatir tentang itu, karena profesi pengacara ada juga dimungkinkan bagi orang yang punya latar belakang sejarah (gambar bisa dilihat di bawah). Vice versa, saya pikir profesi sejarawan, plus penulis dan fotografer, bisa juga dimungkinkan bagi orang yang punya latar belakang hukum (ini sebenarnya kesesatan berpikir, namun toh, sebagai konsep norma, aturan logika kadang tidak berlaku, iya kan? Colek Hans Kelsen dululah).

que-sera-sera
Kita dapat menjadi apa pun yang kita inginkan.

Galau? Ya iyalah, kalau saya nggak galau, nggak mungkin saya menulis ini. Saya sebenarnya paling galau sama kenyataan bahwa untuk tiga setengah tahun ke depan, petualangan sejarah saya tidak akan maksimal. Petualangan di dunia blogging pun saya pikir tidak akan maksimal. Tidak bisa lagi terlalu banyak baca buku sejarah-arkeologi karena sudah digantikan dengan buku-buku hukum. Tidak bisa lagi traveling terlalu sering karena waktu pasti habis buat mengerjakan tugas, dan, belajar.

(Meskipun Maret, April, Mei ini sudah ada jadwal traveling sih… hehe).

Tapi kompensasi saya mungkin seperti itu: bahwa mengingat ada yang saya korbankan, jadi di bidang ini ya saya mau rampok ilmunya sampai habis. Mungkin bisa dibilang kalau saya menjadikan belajar sebagai pelarian. OK, saya memang kutu buku. Minimal, saya berharap, kalau saya lumayan fasih dengan hukum, analisis-analisis sejarah saya selanjutnya bisa lebih nendang karena saya akan bisa menggambarkan apa yang seharusnya (das sollen) ketimbang hanya mendaraskan pada gambaran soal apa yang sudah ada (das sein). Hitung-hitung menambah kredibilitas sebagai seorang penulis.

Selebihnya, menurut saya ya soal mengatur waktu. Saya minta maaf kalau mungkin update di blog ini tidak (melulu) dengan sejarah yang terjembreng menurut buku-buku yang saya baca. Kebanyakan mungkin akan geser sedikit ke hukum-hukumnya. Atau mungkin lebih banyak curhatannya. Kita menulis apa yang sudah kita baca, kan. Selain itu, saya minta maaf juga kalau mungkin akan lebih jarang main ke blog teman-teman semua. Saya minta maaf juga kalau lama balas komentar.

Bukan berarti saya tidak mau membalas komentar. Saya masih mencari waktu ketika semua bisa saya selipkan.

Terakhir, apa yang saya harapkan dari kuliah ini melulu soal karir? Yah tentu tidak. Sebenarnya saya punya rencana juga soal kelanjutan studi. Dan itu bersinggungan banget dengan passion saya: karena saya kepengin S2 di mana hukum dan sejarah Indonesia tersimpan banyak.

Mudah-mudahan bisa S2 Legal Research di Belanda. Amin.

Tapi sebelum itu, mudah-mudahan kuliah S1 ini bisa selesai dengan baik, deng.

18 thoughts on “Kuliah lagi.

  1. Lama nggak mampir, sekalinya mampir justru menerima kabar baik. Semangat, Bli πŸ™‚ semoga kuliahnya menyenangkan dan semakin memperkaya wawasan πŸ™‚

  2. Semangat Gara! Semoga lancar dan sukses ya!!

    Itu apakah kantornya memberikan izin kuliah full-time selama 3,5 tahun? Atau mesti juga mengerjakan sedikit pekerjaan kantor?

  3. Jadiii Gara sudah mulai kuliah??? Yahhh kapan kita jadi piknik bareng? Kapan mau berburu candi bareng? Trus saya yang panik hahaha.
    Sukses menempuh tiga setengah tahun jadi mahasiswa lagi. Mudah-mudahan tetep eksis di dunia persilatan dan tetap membagi kisah cerianya ketika guling-guling di situs bersejarah saja harapanku. πŸ˜‰

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!