Konfrontasi di Rumah Jaga (2): Candi Pari, Candi Berjiwa

Pertanyaan selanjutnya harus langsung menuju topik permasalahan. Namun kata-katanya harus dipilih dengan sangat hati-hati.

“Saya lihat di dalam sana ada… itu Pak, semacam dupa, dan persembahan berupa kelapa, telur, dan segala macam. Apakah candi ini masih dipakai sebagai tempat ibadah?”

Saya tidak begitu kaget bahwa demikianlah adanya. Pancingan mengena. Si bapak penjaga (yang sialnya saya lupa bertanya nama beliau) mengiyakan. Memang masih banyak orang yang menjadikan Candi Pari ini sebagai tempat ibadah. Beberapa waktu lalu bahkan ada rombongan dari Bali mengadakan upacara kecil di tempat ini.

pelipit-kanan-atas-candi-pari
Bentukan sederhana di pelipit Candi Pari.

Candi-candi di daerah Jawa Timur umumnya masih digunakan sebagai tempat peribadatan dalam intensitas yang lebih tinggi ketimbang candi di Jawa Tengah. Akan umum ditemui tempayan kecil penuh abu dupa, atau wangi kemenyan yang semerbak menerjang di bilik candi, begitu pengunjung melangkahkan kaki untuk pertama kalinya.

Para juru pelihara candi tidak pernah melarang siapa pun yang ingin beribadah di candi yang mereka jaga. Namun tentu, siapa pun yang beribadah di sini mesti mengindahkan peraturan di bidang cagar budaya; bahwa siapa pun dilarang mengubah bentuk, memindahkan, atau merusak cagar budaya. Bagi saya, tak cuma orang yang beribadah; siapa pun yang mengunjungi cagar budaya wajib mematuhi peraturan tersebut.

Ketika saya mencoba mengerucutkan orang-orang yang beribadah di sini pada satu (atau dua) agama saja, pendapat saya dibantah oleh pak penjaga. Menurutnya, tidak hanya umat dari dua agama itu saja yang beribadah di tempat ini, melainkan umat dari seluruh agama boleh (dan pernah) berdoa di tempat ini. Saya kurang mengerti bagaimana penjelasannya (terus terang saja), namun saya pikir, Candi Pari adalah tempat yang hening dan tenang, cocok untuk orang-orang yang ingin mendalami ilmu meditasi.

Namun saya diwanti-wanti sekali soal ritual yang dilakukan di sana. Kata pak penjaga, meskipun ia mempersilakan orang-orang untuk beribadah atau berdoa di tempat ini, ia melarang orang-orang yang datang untuk niat ngalap berkah, alias minta nomor. Atau orang-orang yang datang untuk meminta kekayaan atau jabatan, dengan mengorbankan satu (atau beberapa) benda yang ia bawa. Pernah juga ia mengusir rombongan orang yang datang dengan tujuan untuk mencari benda pusaka.

“Memangnya dari mana Bapak tahu kalau orang-orang itu niatnya tidak bagus? Misalnya mau cari nomor, atau segala macam?”

Ia menjawab dengan mudah, “Biasanya orang-orang itu datang di waktu yang tidak semestinya (maksudnya, tengah malam buta). Dan saya biasanya punya firasat dengan orang-orang seperti itu, Mas.”

Saya tak bisa cakap apa-apa.

Itulah mengapa waktu kunjungan di Candi Pari dibatasi, jelas pak penjaga. Orang-orang bisa beribadah di candi ini kapan pun mereka mau, namun tidak lebih dari jam sembilan malam, karena setelah itu pintu candi akan dikunci. Setelahnya, tidak ada lagi orang yang boleh masuk ke dalam lingkungan candi tanpa didampingi oleh si juru pelihara.

taman-gerbang-depan-candi-pari
Taman dan gerbang depan situs Candi Pari

Soal penjagaan, di sini memang tidak ada satpam. Namun pak juru pelihara sudah bekerja sama dengan pedagang kopi yang membuka warungnya di balai desa depan candi. Mereka menjaga secara bergantian, biasanya pak penjaga akan menjaga sampai sore dan setelah malam tiba, pak penjaga dibantu oleh sang pedagang warung kopi. Dengan demikian, candi ini bisa dipantau terus—meski mungkin sekali waktu pak pedagang kopi akan lebih fokus pada dagangannya, terlebih kalau pelanggan sedang ramai-ramainya.

Terus terang saya kagum dengan dedikasi pak jupel (juru pelihara). Dengan gaji yang saya yakin tidak seberapa, mereka mencurahkan semua daya upaya untuk menjaga candi ini dari niat-niat egois beberapa pengunjung. Semua itu tak lain supaya candi ini bisa bertahan lebih lama, lebih lama berdiri, maka lebih banyak orang pula bisa menggali kearifan darinya.

Kendati orang-orang yang mau berpayah untuk menggali cerita masa lalu, menurut pak juru pelihara, makin hari makin menyusut.

Dimensi Spiritual Candi Pari

Saya mencoba mengonfirmasi kebingungan soal arca. Dengan menjelaskan bahwa saya mengira ini candi agama Buddha, bagaimana mungkin di dalam sana bisa ada arca-arca yang mirip dengan apa yang ada di candi-candi Hindu. Ternyata penjelasannya sederhana: arca-arca itu berasal dari penggalian dan penemuan sekitar.

Memang tidak aneh kalau kita melihat sebuah candi dengan aliran tertentu ternyata memiliki peninggalan dari aliran agama lain di dekatnya. Kasus di Jawa Tengah pun sebenarnya ada beberapa (semoga saya sempat menulisnya). Yang jelas, fakta ini adalah bukti bahwa kerukunan beragama di masa itu, antara Hindu dan Buddha, memang sangat terjalin erat. Contoh lainnya, banyak raja-raja Singhasari dan Majapahit didarmakan sebagai Siwa dan Jina (Buddha) di dua tempat.

Namun yang menarik justru pertanyaan pak juru pelihara ketika saya membahas soal arca dan peripih. Caranya bertanya agak aneh, seolah setengah tidak percaya saya bisa membahas arca-arca yang ada di dalam itu dengan sangat santai.

arca-candi-pari-2
Arca-arca di dalam Candi Pari.

“Mas bisa memotret arcanya? Hasilnya jelas?”

Saya merasa ada angin dingin berembus di tengkuk. “Er… bisa sih, Pak. Tidak ada masalah apa-apa. Memangnya kenapa?”

Barulah si bapak menjelaskan bahwa biasanya arca-arca itu pasti akan tampak kabur atau gelap ketika lensa kamera mencoba menangkapnya.

Saya langsung mengecek foto yang saya ambil di dalam. Baik-baik saja. Pembaca budiman juga pasti bisa mengecek foto-foto itu di postingan tentang arca atau postingan peripih, dan saya pikir gambar di sana baik-baik saja, kan?

Menurut pak juru pelihara, konon beberapa pengunjung tidak berhasil mengambil gambar arca-arca di dalam. Sebagaimana yang dijelaskan tadi, gambarnya akan blur, sangat blur sehingga objek tak tampak dengan jelas, atau mungkin gambarnya akan hitam, gelap tak tampak apa pun. Hal yang lain, beberapa orang bisa merasakan “sesuatu” ketika ada di dalam candi ini—seperti udara yang tiba-tiba pengap, perasaan seseorang yang mengawasi, hal-hal seperti itu.

Saya tak mengalami apa-apa, bahkan saya merasa di dalam tadi sangat sejuk dan nyaman.

Pak juru pelihara akhirnya berkata bahwa mungkin “kekuatan” yang ada di dalam candi agak melunak hari ini. Memang, menurut beliau, setelah pemugaran (yang ternyata diawali dengan serangkaian ritual panjang untuk minta izin), kekuatan-kekuatan yang ada di dalam candi melunak (saya menggunakan kata melunak alih-alih melemah). Jadi fenomena gambar kabur atau gelap hanya terjadi pada hari-hari pasaran tertentu, semisal Jumat Kliwon.

Saya mendengar semua penjelasan pak jupel dengan mulut agak membuka. Terus terang saya bukan tipe orang yang sedemikian peka. Tak ada satu pikiran pun terlintas di dalam sana soal arca berkekuatan yang mampu membuat gambar di kamera kabur atau bahkan gelap. Selain bahwa artefak di dalam sana dipakai dalam fungsi yang sama dengan altar pemujaan, tak ada pikiran apa pun. Sama sekali.

Agama yang saya percaya memang mengakui bahwa barang-barang sakral peninggalan leluhur sebagai perwujudan Tuhan pasti ada yang menjaga, punggawa-punggawa tak kasat mata yang juga diakui oleh agama sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Namun untuk mengalami sendiri, rasa-rasanya itu jauh di luar ekspektasi. Sama sekali tak ada pikiran soal itu!

Selama ini saya hanya mendengar cerita soal pelancah Ida Bhatara yang berwujud ini dan itu, mayoritas menyeramkan, tapi untuk mendengar kesaksian untuk sesuatu yang (tadi) sangat dekat dengan saya, saya masih tak percaya kalau saya sendiri bisa mengalaminya.

Saya, lho.

sudut-tembok-yang-menarik.
Meskipun, saya masih agak bingung kenapa gambar ini ada di memori kamera saya…
sudut-tembok-dalam-candi-pari
Sudut tembok dalam Candi Pari. Saya pun heran kenapa sampai bisa mengambil gambar ini.

Keheranan kedua yang saya dapat adalah ketika pak juru pelihara bertanya apa saya bisa mengambil foto Candi Pari. Tak ada masalah soal itu, kata saya. Saya ingat betul suara saya bergetar sedikit ketika mengatakannya. Tentu saya tanya mengapa pak juru pelihara bertanya demikian, karena terus terang, saya ulangi, sama sekali tak ada masalah bagi saya ketika mengambil gambar candi beserta benda-benda yang ada di dalamnya.

Pak juru pelihara mulai bercerita, bahwa beberapa orang yang pernah mencoba mengambil gambar Candi Pari tidak berhasil, lantaran alih-alih foto candi, yang tercetak di layar justru tumpukan kulit ular.

Saya menelan ludah dan mulai menerka-nerka. Tak ada penjelasan yang bisa diambil akal sehat, bagaimana mungkin foto candi bisa berubah menjadi kulit ular. Tapi penjelasan dari segi niskala? Jelas, yang menjaga wilayah candi ini adalah ular besar. Atau naga? Saya mencoba untuk tak terlalu kaget, mengingat di Bali dan Lombok, hal-hal seperti ini sebenarnya sangat umum.

Namun, menurut pak juru pelihara, sama dengan fenomena di bilik candi, fenomena kulit ular itu sudah jarang muncul. Muncul di hari-hari pasaran tertentu, itu pun jika kebetulan ada yang mengambil gambarnya, dan tidak semua orang bisa mengalaminya.

batur-luar-candi-pari
Batur candi yang aus, namun masih bisa bertahan.

Penjelasan baru saya dapatkan ketika berdiskusi dengan orang tua. Mereka mengingatkan saya akan banyak kejadian di beberapa pura, ketika foto arca pratima blur, gelap, dan berbagai kejanggalan lainnya. Mereka mengingatkan saya pada beberapa pelinggih yang sama sekali tak bisa dipotret, dan apa yang terjadi kalau seseorang nekat melakukan hal-hal kurang sopan terhadap benda-benda itu: entah kesurupan, atau yang lebih buruk dari itu.

Menurut orang tua saya, semua itu kembali lagi pada niat si pengambil gambar, dan izin yang telah diberikan oleh kekuatan yang bersemayam di dalam arca. Apalagi untuk arca-arca yang (telah terbukti) sakral, yang tak bisa dibohongi.

Saya cuma dipesan, jangan pernah berniat macam-macam, apalagi niat egois ketika mengulas peninggalan-peninggalan bersejarah. Semua niat akan dinilai. Orang tua menyebut apa yang saya lakukan sebagai mangayu-ayu, melakukan kegiatan suci dan baik. Rintangan akan tetap ada (sepertinya saya sedang mengalami satu di antaranya), tapi ketika semua bisa saya selesaikan, hadiah yang sangat manis menanti di akhir cerita.

Jadi ingat acara Tirtha Yatra di Pulau Menjangan, dengan rintangan yang sangat banyak sebelum hadiah besar menanti di akhir perjalanan. Saya cuma perlu mengingat itu kalau pergi ke tempat yang suci dan wingit, kata orang tua.

Dan saya diminta untuk mengindahkan, bahwa setiap akan mengambil gambar candi apa pun, apalagi arca-arca yang ada di dalamnya, jangan lupa berdoa agar semua kegiatan dilancarkan. Menurut saya, Tuhan akan tahu apa niat seorang manusia ketika akan melakukan sesuatu, dengan niat apa sesuatu itu dilakukan, apakah semata berbagi atau untuk memberi makan nafsu serakah yang ada di dalam diri.

Satu hal, peninggalan bersejarah bukan tempat untuk bermain-main. Ada hal-hal yang mesti kita hormati.


Seri Candi Pari yang lain:
Candi Pari: Yakin Mau Ke Sana?
Citarasa Champa di Candi Pari
Candi Pari: Tampak Luar dan Spesifikasi Teknis
Kelinci Bulan: Cerita Pembangunan Candi
Di Dalam Candi Pari (1): Dinding dan Lantai
Di Dalam Candi Pari (2): Tentang Peripih
Di Dalam Candi Pari (3): Tentang Arca-Arca
Konfrontasi di Rumah Jaga (1): Candi Pari, Candi Padi

16 thoughts on “Konfrontasi di Rumah Jaga (2): Candi Pari, Candi Berjiwa

  1. Saya sepakat dengan aturan larangan tersebut. Tempat sakral akdang dilupakan sebagian orang. Jadi ingat kasus siswa yang kesurupan massal di Jogja akrena salah satu dari mereka menggeser letak batu (atau semacamnya).

  2. Salut dengan Bapak penjaga yang begitu peduli dengan candi yang dijaganya… sudah langka sekali kak orang2 seperti beliau…
    Hmm…iya kak…kadang.. banyak orang menganggap candi itu hanya sekedar tumpukan batu jadi seenaknya saja bertindak.. bahkan melakukan hal2 yang nggak sopan… kayak waktu aku ke Candi Tikus..udah jelaa ada tulisan dilarang naik..eh..malah pada naik… gemesin deh… itu kan tempat sakral….

    1. Jangan lupa datang ke Candi Pari ya Mbak supaya bisa kenal langsung dengan bapak penjaga candinya :hehe.
      Mudah-mudahan kita tidak termasuk dalam golongan orang yang seperti itu, ya. Amin.

  3. masih banyak juga oknum warga kita yang ingin cepat kaya dengan mudah, ga mau usaha …. tempat2 seperti ini jadi target tempat untuk nomor disini .. cari mustika ….

    hiyyy .. koq bisa ya di foto yang muncul tumpukan kulit ular …

  4. Salut buat sang bapak yang begitu berdedikasi menjaga Candi Pari. Ini bener-bener namanya pengabdian. Saya termasuk orang yang tidak peka dengan hal-hal ‘halus’ dan memang tidak mau peka, tapi habis baca postingan ini kok agak merinding ya, hehe.. Mengenai larangan untuk berniat yang tidak baik ketika mengunjungi tempat yang disakralkan, saya jadi ingat sama Sri Lanka. Di sana bahkan ada aturan ketika mengambil foto patung Buddha dilarang mengambilnya dengan ada orang di dalam foto. Untungnya saya memang tidak pernah berfoto semacam itu, bahkan di luar Sri Lanka sekalipun. Thanks infonya, Gara. Sangat membantu untuk lebih memahami Candi Pari.

    1. Iya Mas, di kebanyakan peninggalan Hindu Buddha memang ada aturan-aturan tak tertulis yang kadang agak janggal tapi mesti kita hormati :)). Sama-sama Mas, semoga tulisan ini bermanfaat :)).

  5. Rasanya seeerrr baca postingan Gara kali ini hehe. Berhasil ya pura-pura ga rasa (mungkin yang benar adalah ga yakin) dengan banyak ‘unusual’ things and questions lalu melingkar sempurna dengan jawabannya. Sepertinya memang dirimu menuju apa yang saya doain di postingan lalu, soal uang itu… remember? Amiiiin…:)
    Btw, kenapa lagi foto sudut dalam candi itu ditampilkan juga yaaa…? 😀 *timpukinGara
    Ah, semoga saja candi Pari bisa terpelihara terus ya, jadi banyak orang bisa dateng untuk melihat bagaimana hebatnya dia pada masanya…

    1. Amiin… iya ya Mbak :hihi, seolah-olah semua sudah diatur :)).
      Wah, sebenarnya saya juga lupa kapan dan bagaimana foto sudut candi itu saya ambil :hihi, tapi mungkin karena ada yang mau nebeng tampil di gambar, jadi saya foto saja :hoho.
      Amin, mudah-mudahan candi ini bisa jadi monumen abadi :)).

  6. ternyata terlewat post yang ini hadeeh..
    iya Gara candi2 lain pun masih banyak yang dipakai untuk ibadah..
    sewaktu ke candi Singosari pun ketemu yg baru selesai berdoa, jadi sungkan mau foto2 dan liat lama2..

    kalau ketemu saat sedang beribadah gitu, sebaiknya tindakanku bagaimana ya ?

    1. Kalau menurut saya Mbak, asalkan kita tak sibuk jejepretan dan ribut-ribut saat mereka sedang berdoa, menurut saya tidak masalah. Baru setelah mereka selesai ibadah, kita mendekat dan foto bagian dalam candinya :hehe. Saya pikir mereka juga pasti paham kalau candi-candi sekarang juga sudah jadi tempat wisata sehingga tentu yang memfotonya juga banyak :)).

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!