Konfrontasi di Rumah Jaga (1): Candi Pari, Candi Padi

Saya kembali ke rumah jaga. Pak penjaga masih ada di sana; ia adalah seorang pria empat puluh tahunan yang menolak difoto, berbadan tambun berkulit legam karena kebanyakan menyabit rumput di sekitar candi. Saya tak bisa membayangkan si bapak mengenakan seragam dinas, sebagaimana saya tak bisa membayangkan penjaga-penjaga di candi-candi lain dalam hal serupa. Begitulah nasib penjaga cagar budaya di Indonesia, orang akan lebih mengira mereka sebagai petugas kebersihan ketimbang pemandu di candi.

Anak muda yang tadi masih tidur juga, angin semilir yang bertiup dari luar melenakannya. Saya setengah iri melihat anak itu; betapa beruntungnya bisa tidur siang di dekat sebuah candi megah yang bisa dikunjungi dan dieksplorasi setiap hari.

Pertanyaan-pertanyaan awal adalah selalu pertanyaan soal informasi dan spesifikasi teknis, yang akhirnya berkembang menjadi cerita-cerita seru. Saya membiarkan bapak penjaga menjelaskan, hitung-hitung mengonfirmasi fakta yang saya bawa saat itu.

Benar, candi ini mendapat pengaruh dari Champa karena bentuknya juga kondisinya yang minim relief. Benar, candi ini dibangun pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk di tahun 1371 yang dibuktikan dengan batu andesit yang menjadi ambang pintu candi. Ternyata, bongkah-bongkah kayu yang ada di dalam berasal dari zaman Belanda (saat pemugaran pertama bulan Oktober 1906), karena sebelum diganti batu di pemugaran kedua (tahun 1994—1999), baris-baris di belakang batu angka tahun diisi dengan kayu untuk menopang bangunan.

bilik-dalam-candi-pari
Semua arca beroleh sinar terang matahari sore.

Ternyata kayu-kayu itu sendiri sudah cukup bersejarah.

Cerita Singkat Pembangunan Candi Pari

Saya mendapat tahu dari pak penjaga soal asal kata candi ini. Dinamakan Candi Pari karena Pari berarti padi. Candi ini (dan Candi Sumur), menurut legenda yang dituturkan pak penjaga dibangun sebagai perintah raja Majapahit (pak penjaga menyebut Brawijaya V) lantaran pada saat itu ada sepasang suami istri menolak dibawa ke keraton Majapahit untuk dijadikan kerabat kerajaan. Pasangan suami istri itu bernama Joko Pandelengan dan Nyai Lara Walangangin.

Namun apa hubungannya dengan padi?

Ketika itu, Majapahit mengalami paceklik hebat, tak ada sawah yang menghasilkan kecuali sawah milik pasangan suami istri ini. Kala itu, padi-padi dari sawah pasangan ini disimpan di lokasi yang konon kini menjadi tempat Candi Pari berdiri. Punggawa yang kebetulan lewat memberitahukan hal ini pada raja, dan tak lama berselang, raja pun meminta pasangan ini menyerahkan padinya.

Pasangan Joko Pandelegan dan Nyai Lara Walangangin adalah orang yang baik hati, mereka pun menyerahkan padinya kepada sang raja. Sebagai ucapan terima kasih, sang raja pun ingin membawa mereka ke istana, bersama satu pasangan lain yang juga turut menyerahkan padinya, bernama Joko Walang Tinunu (kakak Joko Pandelegan) dan Nyai Lara Walangsangit.

Pasangan Pandelegan dan Walangangin menolak dibawa ke istana, bahkan setelah dipaksa. Joko Pandelegan menyembunyikan diri di dalam tumpukan padi, namun ketika dicari, ia hilang tanpa jejak. Begitu pun istrinya, menghilang tanpa bekas setelah meminta izin barang sebentar untuk mengisi kendi air di sebuah sumur dekat tempat penumpukan padi.

Akhirnya, ketika sang raja mengetahui pasangan ini sudah menghilang, sebagai tanda peringatan, ia memerintahkan rakyatnya untuk membangun sebuah candi di tempat menghilangnya Joko Pandelegan (Candi Pari), dan satu candi di tempat menghilangnya Nyai Lara Walangangin (kini bernama Candi Sumur).

Legenda lengkap pembangunan Candi Pari disarikan dari mulut rakyat sekitar, paling awal oleh J. Knebel, Anggota Komisi Purbakala Hindia Belanda. Terjemahannya dapat dibaca di situs ini. Versi lain dari legenda tersebut ada di situs ini, yang agaknya di-copy paste dari sejarah pembangunan candi yang ditempel di papan pengumuman di Candi Sumur.

Menyoal Asal-Usul Candi Pari

Sepertinya agak susah untuk mengatakan bahwa legenda tersebut adalah benar apa yang terjadi sampai Candi Pari ini bisa ada. Terlepas dari bagaimanapun eratnya legenda tersebut berakar di kehidupan masyarakat sekitar, bagi saya, legenda Joko Pandelegan dan Nyai Walangangin itu memiliki posisi yang sama dengan legenda Roro Jonggrang dan Bandung Bandawasa di Candi Prambanan.

Saya pernah mendengar bahwa masyarakat Indonesia terkenal dengan imajinasinya yang tinggi. Saking tingginya, untuk bisa membuat bangsa Indonesia percaya akan sesuatu, tidak bisa dilakukan dengan pendekatan teori-dan-bukti sebagaimana dilakukan di negara-negara barat, namun justru dengan cerita-cerita rakyat yang sifatnya setengah fantasi, disertai dengan banyak tabu berupa kejadian serta makhluk menyeramkan. Jika cerita itu telah tersebar, dan ada bukti yang bisa dilihat di kehidupan nyata, barulah masyarakat Indonesia bisa percaya akan suatu teori, kemudian menerimanya sebagai aturan hidup tanpa banyak bertanya.

Legenda pembangunan Candi Pari mengandung beberapa kekeliruan besar, dari raja yang memerintahkan pembangunannya. Dalam legenda, diterangkan bahwa candi itu dibangun atas perintah dari Brawijaya V—padahal tahun 1371, masih Hayam Wuruk yang memerintah.

kelinci-bulan-candi-pari-modif
Relief kelinci bulan di Candi Pari.

Selain itu, gaya Champa yang dominan di Candi Pari seolah tidak dijelaskan dalam legenda. Kalau memang ini candi yang dibangun untuk seseorang yang merupakan keponakan orang tua yang tinggal di Gunung Penanggungan, kenapa candi ini tiba-tiba harus punya gaya Vietnam selatan? Apa Joko Pandelegan berasal dari kerajaan Champa?

Dari sana, tampak bahwa fakta raja yang memerintah, atau gaya pembangunan candi, memegang posisi yang tidak penting. Bukan soal candi, atau soal menghilangnya sepasang suami istri secara misterius, atau soal ikan yang mewujud sebagai manusia, yang menjadi poin penting dari legenda itu, melainkan sebuah teori yang ingin disampaikan: bagaimana cara menanam padi yang baik.

Tanah yang disiapkan untuk pertanian harus diolah dengan baik sebelum ditanami. Untuk dapat menghasilkan padi yang baik, maka haruslah ditemukan bibit padi yang baik, di cerita itu dibuktikan dengan bibit yang mesti diperoleh jauh-jauh ke Kyai Gede Penanggungan (dari Sidoarjo ke Gunung Penanggungan itu jauh, lho). Bukan berarti di sekitar sana tidak ada bibit padi, namun sebagaimana ceritanya nanti, seluruh sawah di kerajaan Majapahit—kecuali sawah mereka berdua, mengalami gagal panen.

Padi adalah tanaman yang membutuhkan banyak air—karenanya sumber air adalah mutlak. Begitu vitalnya air bagi padi, sehingga dewata penguasa air adalah sosok yang sangat dihormati oleh para petani, sebagaimana Nabi Kilir yang ditemui Joko Pandelegan (dan sangat dihormatinya) adalah sosok ajaib pelindung semua air.

pancoran-yeh-pulu
Ilustrasi aliran air di sebuah sungai.

Akhirnya, untuk merayakan padi yang tumbuh subur perlu diadakan perayaan-perayaan. Salah satunya seperti yang dikatakan Nabi Kilir: “Kalau kamu sudah selesai bertanam, adakanlah selamatan apabila sawahmu berhasil dengan baik.”

Selamatan serupa masih dilaksanakan di Bali hingga kini. Selamatan juga diadakan ketika padi berumur satu bulan setengah (45 hari), persis saat ketika Joko Pandelegan bertemu dengan Nabi Kilir. Di Bali, selamatan tersebut dilakukan ketika padi berusia a bulan pitung dina atau enam minggu pawukon (42 hari). Saya kurang begitu tahu, apakah di Jawa saat ini masih ada selamatan serupa?

Meskipun legenda Candi Pari agak susah untuk diterima sebagai sebuah kenyataan, namun untuk membuat legenda tersebut lebih membekas di benak masyarakat, memang ada beberapa tempat di dekat Candi Pari yang juga memiliki pertalian dengan legenda tersebut. Selain Gunung Penanggungan tempat tinggal Kyai Gede Penanggungan yang masih terkenal hingga kini, satu di antaranya adalah Desa Pamotan, tempat penampungan (pamotan berarti penampungan) padi di atas tebing. Ada juga sebuah situs di sekitar sana bernama Candi Pamotan, namun saya belum berkunjung ke candi itu sehingga belum dapat memastikan apakah mereka semua memang berkaitan.

sawah-yeh-pulu-gianyar
Ilustrasi persawahan.

Satu hal lain yang menarik untuk disebutkan adalah bahwa desa di selatan Candi Pari, desa kaya sawah yang merupakan rute saya menuju ke candi tersebut, bernama Desa Pesawahan—sebuah padanan yang tepat betul dengan persawahan luas yang menjadi ciri dari daerah tersebut.

Saya akan mencoba untuk tidak terlalu heran jika ada penelitian yang membuktikan bahwa persawahan tersebut memang berasal dari zaman Majapahit.

Epilog

Bagaimanapun juga, legenda itu memberi pencerahan baru pada saya tentang betapa kayanya Indonesia, Jawa khususnya, sebagai lumbung padi yang sangat menentukan di masa silam, bahkan sampai ke masa kini. Sementara itu, padi sebagai sumber makanan pokok masyarakat Indonesia, adalah sumber kehidupan, sehingga perlakuannya pun penuh penghormatan—banyak sesajian, banyak selamatan, banyak doa agar panen bisa berhasil.

Dari legenda-legenda yang dituturkan pak penjaga, saya memperoleh satu pandangan baru soal Candi Pari. Candi ini memang merupakan bukti hubungan diplomatik antara Majapahit dan Champa, itu benar. Namun agaknya, paham tersebut hanya berlaku bagi petinggi-petinggi istana, pejabat kerajaan yang bisa membedakan mitreka satata dan manca negara. Rakyat kebanyakan tidak menganggap itu penting—yang penting mereka cukup makan untuk hari ini, bisa bekerja dengan bahagia, itu sudah cukup.

Akibatnya, bagi masyarakat, Candi Pari menemukan bentuk keduanya—sebagai monumen kesuburan, bukti terima kasih manusia kepada padi dan semesta alam yang memberikan mereka hidup. Mereka hidup dari padi—baik sebagai bahan makanan dan mata pencaharian. Setiap elemen dari kehidupan mereka berputar pada sawah dan semua dinamikanya, menjadikan Candi Pari sebagai bagian dari sistem masyarakat agraris yang sejahtera—potret Majapahit di masa pemerintahan Hayam Wuruk.

Candi Pari memang candi untuk padi, dalam cara apa pun kita memandangnya.


Seri Candi Pari yang lain:
Candi Pari: Yakin Mau Ke Sana?
Citarasa Champa di Candi Pari
Candi Pari: Tampak Luar dan Spesifikasi Teknis
Kelinci Bulan: Cerita Pembangunan Candi
Di Dalam Candi Pari (1): Dinding dan Lantai
Di Dalam Candi Pari (2): Tentang Peripih
Di Dalam Candi Pari (3): Tentang Arca-Arca

 

60 thoughts on “Konfrontasi di Rumah Jaga (1): Candi Pari, Candi Padi

  1. Di kampung saya waktu saya kecil diadakan selamatan sebelum memulai mengolah tanah sawah untuk ditanami. Setelah panen juga diadakan selamatan.
    Karena kemajuan zaman sekarang hilang blasss dibawa kemajuan, selamatan untuk memulai dan setelah panen juga habis. Sedih.

  2. Hehehe, candi yang berhubungan dengan kesuburan ya Gara. Dan iya sih, sebenarnya dari namanya pun sudah jelas ya, dari kata pari yang berarti padi dalam bahasa Jawa itu 😛 .

  3. Mantaaaap. Lengkap banget Mas Gara! Bisa jadi Disertasi dan buku 😀

    Betul sekali, di balik simbol-simbol yang tersurat, tersirat pesan yang sebenarnya baik, terlepas bagaimana proses atau dinamika saat itu 🙂

  4. Menarik sekali Bli, ternyata di Bali masih ada serangkaian upacara selamatan setelah nanam pagi gitu sampai sekarang…

    terus terasse nya Ubud itu, ada hubungan nggak sama zaman majapahit seperti Desa Pesawahan itu?

    1. Iya Mbak, di Bali juga ada pura yang khusus untuk padi, namanya Pura Subak… :)).
      Menurut saya tidak ada… sistem sawah berteras itu menurut saya karena kontur di Bali saja sih :hehe.

  5. hehehe, kadang masyarakat punya ilmu yang disebut cucokologi, Gara. Bisa menjauh dari sejarah sebenarnya atau sekedar pendukung cerita. Btw, tulisanmu selalu membuat aku harus membaca serius, runtut dan pelan-pelan, berusaha memahami sejarah di balik keberadaan atau sebuah tempat, kadang mumet untuk seorang donna yang telat menyukai sejarah, tapi tulisanmu mencerahkan. thanks for sharing, Gara… aku mau belajar pelan-pelan supaya tulisanku bisa keren isinya kayak kamu.

    1. Teorinya ada banyak sih, tapi sejauh ini baru bisa dibuktikan bahwa Indonesia punya hubungan diplomatik yang erat dengan Champa. Ya tapi seberapa erat sampai bisa bangun candi, saya juga belum tahu :haha.

  6. mudahan ada penelitiaan geologi yang bisa buktikaan asumsi sawah di sekitar Pesawahan itu dari jaman Majapahit
    arkeologi memang harus kerja sama dengan disiplin ilmu lain untuk mengungkapnya ya

    1. Dan ini pun sebenarnya serial belum selesai Mbak :haha. Wah beruntung sekali punya rumah dekat dengan candi ini, jadi bisa ke sana kapan pun diinginkan :hehe. Menurut saya worth it sih pergi ke sana, soalnya ada banyak informasi baru yang bisa digali di sana :)),

    1. Betul sekali Mas. Saya pun tak menyangka bahwa ada banyak yang bisa digali hanya dari satu candi. Terima kasih sudah mampir, semoga tulisan saya bermanfaat!

  7. Jadi sejarah pendiri candinya itu keliru ya. Hasil manipulasi politik zaman dulu melalui legenda?
    Btw, selamatan usai panen padi juga dilakukan di beberapa daerah di Aceh. Kalau dulu ada ritual khusus seperti tepung tawar yang nuansa Hindu-nya masih terlihat kental. Kalau sekarang selamatannya lebih mirip piknik sambil berdoa-doa namun ada juga yang memberikan sesajian dan tepung tawar.

    1. Oalah, di Aceh ada tepung tawar? Wow. Kalau sudah menyangkut tepung tawar saya tidak bisa ngomong apa-apa :hihi. Jadi penasaran dengan ritualnya… seperti apa yaa..

        1. boleh Bang gara.. syaratnya cuma satu. kita harus nunggu musim Molod dan Musim Khanduri blang 😀
          apa itu? nanti tanyakan ke citra hehe

    1. Iya… link yang ada di postingan ini bisa diklik untuk menuju halaman web yang memuat kisah pembangunan candi ini :)). Imajinasi bangsa Indonesia memang sangat kaya sehingga cerita lengkap akan sebuah bangunan pun ada :)).

    1. Mungkin masuk di spam Bang… beberapa minggu terakhir saya tidak buka blog karena banyak tugas di kantor. Nanti saya coba cek. Terima kasih banyak ya Bang! Ini masih banyak yang perlu dibenahi… mudah-mudahan saya bisa :amin.

  8. Emang kebanyakan penamaan sesuatu di indonesia ini selalu ada sejarah yang nyremped-nyremped berkaitan. candi pari , dibuat untuk mengingat petani pari. 😀
    ceritanya seru kak. salam kenal dari Cirebon

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!