Ketika Matahari Menjejak Khatulistiwa Lagi #3: Inilah Bintangnya!

Oi Gar, ini niatnya cuma jadi satu postingan. Terus jadi dua, kan?

Yep.

Tapi kenapa sekarang malah jadi tiga?

Terlalu banyak yang bisa saya ingat :hoho. Maapkeun, ya!

Ogoh-ogoh pertama sebenarnya membuat saya heran. Pasalnya, biasanya ogoh-ogoh itu menampilkan bhuta kala. Bukan dewa. Tapi di ogoh-ogoh pertama dari Jakarta Selatan ini, figur yang ditampilkan justru salah satu awatara Wisnu: Narasimhamurti Avatara. Perwujudan Dewa Wisnu saat turun ke dunia, dalam bentuk makhluk setengah singa, yang menurut cerita dalam beberapa kitab Purana telah membunuh raksasa jahat bernama Hiranyakasipu yang berniat menguasai dunia.

Narasimhamurti Avatara.
Narasimhamurti Avatara.

Perlu saya luruskan, bahwa awalnya, setahu saya, ogoh-ogoh itu biasanya berupa makhluk-makhluk seram yang berkonotasi jahat. Namanya pun diawali dengan Kala, misalnya Kala Sungsang, atau Kala Dandaka. Tapi melihat yang ada di sini… entah, saya mulai berpikir, apakah ogoh-ogoh sudah bergeser maknanya dari sebagai personifikasi kekuatan jahat di alam yang nantinya dihancurkan dengan cara dibakar ataukah sudah menjadi bentuk kreativitas para perajin ogoh-ogoh. Ya masa kita membakar perwujudan Tuhan? Kan agak… aneh.

Mulai meninggalkan Monas...
Mulai meninggalkan Monas…

Tapi mana sempat saya berpikir lama-lama, karena saya sudah terdesak kerumunan manusia yang mau berfoto? Aargh!

Ogoh-ogoh kedua :hehe.
Ogoh-ogoh kedua :hehe.

Biasanya, ogoh-ogoh ditampilkan dalam satu paket kesenian lengkap. Jadi bukan cuma sekadar mengarak boneka besar berwajah seram itu. Ada musiknya juga dalam bentuk gamelan baleganjur. Umumnya demikian, tapi, sebagaimana masyarakat Jakarta yang kadang terlalu kreatif, saat itu setiap ogoh-ogoh juga punya pertunjukan tambahan. Kadang ada sendratari kecil-kecilan. Ada juga atraksi api, yang sampai saat itu masih tetap gagal saya foto karena… simpel, saya takut disembur.

Atraksi baleganjur.
Atraksi baleganjur.

Kesenian itulah yang ditampilkan ogoh-ogoh kedua, yang merupakan ogoh-ogoh yang sama dengan yang dipakai saat upacara pecaruan tadi. Sayang, saya tidak terlalu memerhatikan narasinya, jadi ya ogoh-ogoh itu lewat begitu saja, dengan foto-foto yang belum dapat saya pastikan maknanya sampai saat ini.

Ada barongsai juga!
Ada barongsai juga!

Kesenian barongsai menjadi selingan antara dua ogoh-ogoh pertama dengan pertunjukan selanjutnya. Saya baru tahu kalau barongsai ini juga bisa diberi uang dengan cara dimasukkan ke dalam mulutnya :hehe. Lucu. Apalagi polahnya jinak-jinak lincah begitu lah?.

Seram ya monsternya #eh.
Seram ya monsternya #eh.

Nah, di ogoh-ogoh yang ketiga, ceritanya baru jadi sedikit lebih jelas. Tentunya pembaca budiman ingat epos Ramayana, buku Aranya Kanda (The Book of Forest), tepatnya saat Sita digoda oleh Kijang Kencana supaya bisa keluar dari lingkaran pelindung yang dibuat oleh suaminya. Ogoh-ogoh ini menampilkan saat-saat ketika Rama, yang marah karena istrinya dibawa kabur, memanah kijang kencana itu, yang sebenarnya adalah raksasa seram bernama Marica.

Dilatari Monas. Seru!
Dilatari Monas. Seru!
Marica!
Marica!

Uniknya, ogoh-ogoh ini didesain supaya bisa berputar! Jadi Maricanya bisa berputar, Ramanya juga bisa, kijangnya pun bisa!

Di hadapan Monumen Nasional.
Di hadapan Monumen Nasional.
Dia tampaknya sedih.
Dia tampaknya sedih.

Ogoh-ogoh keempat, kalau saya tidak salah, juga mengambil fragmen Ramayana. Tepatnya di klimaks cerita, saat Rama memanah sang raja Alengka, Rahwana. Di sini juga ada sendratarinya, jadi ada pemeran Rama dan Rahwana kalau saya tidak salah.

_MG_5143

_MG_5145

Pertunjukan dilanjutkan dengan ogoh-ogoh I Cupak, dari cerita rakyat Cupak Gerantang. Cerita yang sebenarnya berasal dari Bali, tapi setahu saya lebih terkenal di Lombok. Jadi, tersebutlah dua kakak beradik, I Cupak dan I Gerantang. I Cupak ini orangnya pokoknya semua sifat jahat yang ada di diri manusia, ya angkuh galak sombong rakus iri hati tukang marah tamak, pokoknya semuanya. Nah si Gerantang ini kebalikannya, anaknya baik sopan tidak sombong dan rajin menabung :hihi.

I Cupak dengan... babi gulingnya.
I Cupak dengan… babi gulingnya.

Akan terlalu panjang kalau saya ceritakan legendanya di sini. Pokoknya akhirnya I Gerantang hidup bahagia dengan putri untuk selamanya. Ogoh-ogoh I Cupak jadi pelajaran supaya kalau kita jadi anak harus selalu jadi anak baik, yang sopan, tidak sombong, dan rajin menabung.

Sepintas, cerita Cupak Gerantang ini mirip dengan folklor Bubuksah dan Gagak Aking yang digambarkan dengan sangat detil di panel 19 sampai panel 23 relief Teras Pendopo Candi Panataran. Mungkinkah folklor ini menyeberang laut sampai ke Bali sana? Dilihat-lihat dari bentuk dan susunan adegannya, mungkin sekali, sih…

Perhatian saya teralihkan, karena saya sudah terlalu terdesak oleh pengunjung yang makin menggila ingin mendekati ogoh-ogoh yang sedang berpertunjukan, dan kekesalan akibat tergencet sana-sini itu akhirnya membuat saya menyerah.

Ogoh-ogoh yang saya lewatkan :sedih.
Ogoh-ogoh yang saya lewatkan :sedih.

Lebih baik menunggu situasi kondusif dulu! Bahkan pecalang yang sudah teriak-teriak pun kadang tidak terlalu diindahkan para pengunjung dan pencari gambar. Inilah yang sebenarnya kurang membuat saya nyaman di setiap pawai. Antusiasme masyarakat kadang terlalu ekstrem! Terus semuanya kepingin foto-foto dari jarak dekat, membuat saya ini tergencet di sana dan di sini. Ya saya juga sih kepingin foto dari jarak dekat… jadi ya kita sebenarnya sama saja, ya :hihi. Malah sebenarnya di situ euforianya: bagaimana bersama kita mendapat gambar-gambar bagus :)).

Ketika saya kembali dan mendapat tempat yang cukup bagus, malah ada stasiun televisi yang meliput di dekat tempat saya berdiri. Ya sudah, mbak-mbaknya yang sedang panik gara-gara kepanasan padahal pakaiannya sedang berkebaya jadi objek menarik buat saya foto. Lumayan, euy :hihi.

Si Mbak yang sedang siaran :hihi.
Si Mbak yang sedang siaran :hihi.

Saya sedikit terlewat, tapi ogoh-ogoh yang berada di belakang si mbak yang sedang liputan itu sepertinya menggambarkan Kalantaka dan Kalanjaya–perwujudan Citrasena dan Citranggada yang menurut cerita dikutuk oleh Bhatara Guru untuk turun ke dunia sebagai pengiring Bhatari Durga di pekuburan yang berwajah seram lantaran melakukan perbuatan tidak senonoh di kahyangan.

Kalantaka dan Kalanjaya... mungkin :hehe.
Kalantaka dan Kalanjaya… mungkin :hehe.

Di belakangnya, ada Kumbakarna–adik dari Rahwana, tokoh dalam epos Ramayana yang awalnya jahat, seperti kakaknya, namun berbalik begitu tahu apa yang dilakukan Rahwana itu salah. Saya dulu ingat kalau tokoh yang awalnya antagonis tapi berubah jadi protagonis ini ada istilahnya dalam dunia fiksi–cuma saya lupa. Intinya, Kumbakarna adalah satu tokoh yang menarik dari epos ini–bagaimana seseorang yang awalnya jahat, menjadi baik, dan mencoba baik, tapi tidak mampu bangkit dari tekanan sang kakak sehingga pada akhirnya ikut bertarung melawan Rama dan tewas di tangannya, padahal sebenarnya dia kepingin sekali membantu Rama.

Kumbakarna.
Kumbakarna.

Ironis, ya.

Diarak, dari sisi yang berbeda.
Diarak, dari sisi yang berbeda.

Sang Hyang Kala menyusul di belakangnya. Nah, ini dia yang menarik.

Awas, jangan main lupa waktu!
Awas, jangan main sampai lupa waktu!

Kata “kala”, memang bisa diartikan sebagai sesuatu yang seram, makhluk jahat, atau iblis. Tapi sebenarnya, kata “kala” punya konotasi lainnya sendiri–waktu. Itulah yang digambarkan dalam ogoh-ogoh ini, tentang bagaimana anak-anak yang bermain sampai lupa waktu akhirnya ditangkap oleh Bhatara Kala untuk dibawa ke tempat yang saya juga tidak tahu. Yah, semacam jadi pelajaran untuk anak-anak supaya tidak keluar malam, nanti bisa dibawa lari Bhatara Kala, lho!

Apabila dilihat dari dekat, seperti ini.
Apabila dilihat dari dekat, seperti ini.

Ada yang menarik dengan ogoh-ogoh Sang Hyang Kala dari Cibubur ini. Anak-anak yang ditangkap ya mirip Upin Ipin :hihi. Mungkin cuma perasaan saya saja, ya?

Jreng.
Jreng.

Ogoh-ogoh selanjutnya memang tanpa narasi dibacakan, tapi dari adegan yang digambarkan, saya berpikir kalau ini mesti tidak jauh-jauh dari isin setra (penghuni kuburan). Seorang wanita yang dari kain yang menutupi kepalanya saya tafsirkan sebagai seseorang yang mempelajari Ilmu Pangleakan (mungkin) sedang mempersembahkan sesuatu (mayat?) kepada seseorang (?) yang juga berwajah seram, seperti Rangda.

Halo.
Halo.

Ha, terlalu banyak informasi yang tidak saya ketahui, jadi anggap saja kata-kata saya sebelumnya cuma jadi tafsiran dangkal.

Dan inilah bintang pertunjukan yang berhasil membuat semua penonton berdecak kagum.

Duka Lara Drupadi.

Duka lara Drupadi.
Duka lara Drupadi.

Mari mengingat Buku Dua Mahabharata, Sabha Parwa (The Book of Conference), Bab Dyuta Parwa, Seksi 68. Hanya satu dan satu-satunyalah adegan yang digambarkan di sana: adegan ketika Drupadi berusaha dilucuti pakaiannya oleh Dursasana. Penyebabnya mungkin tidak terlalu perlu saya jelaskan, karena saya yakin pembaca budiman sudah sangat mengetahuinya.

Menurut saya, ini ogoh-ogoh terbaik.
Menurut saya, ini ogoh-ogoh terbaik.

Drupadi, yang terlecehkan, secara perasaan dan secara harfiah karena dirinya dijadikan barang taruhan oleh Yudhistira, suaminya sendiri, untuk perjudian yang bahkan direncanakan dengan curang, dalam cerita itu digambarkan tak bisa melakukan hal lain selain memohon kepada Tuhan untuk dapat menolongnya.

Pertolongan Tuhan yang sedang mewujud sebagai Krishna Avatara itu pun datang–dalam bentuk kain yang tak putus-putus. Tak ada satu senti pun tubuh Drupadi terlucuti, sekuat apa pun Dursasana berusaha menariknya, bahkan sampai akhirnya Dursasana menyerah karena kehabisan kekuatan. Di situlah Drupadi bersumpah, untuk tidak akan mengikat rambutnya sebelum ia berkeramas dengan darah dari Dursasana.

Sebuah sumpah yang akhirnya menjadi kenyataan di tengah perang Bharatayudha.

_MG_5181

Saya jadi ingat, ada pepatah lama mengatakan, “Tak ada yang lebih menyeramkan selain murka seorang wanita.”

Nah, dari kejadian ituย juga, masyarakat Hindu, terutama kaum perempuan, punya aturan tidak tertulis, untuk tidak menggerai rambut apabila sedang sembahyang ke pura, karena menggerai rambut di pura adalah simbol amarah dan dendam, sebagaimana Drupadi yang dendam sekali pada semua orang yang tidak menghormati hak-haknya sebagai seorang perempuan.

Jadi, ladies, kalau saya boleh menyarankan, apabila ingin berkunjung atau wisata ke pura, dimohon untuk tidak menggerai rambut, ya :)).

Baleganjur pengiring ogoh-ogoh.
Baleganjur pengiring ogoh-ogoh.

Semua orang pasti kagum melihat Duka Lara Drupadi itu. Konstruksinya melayang! Saya ingat dulu pernah melihat satu ogoh-ogoh yang berusaha dibuat melayang seperti ini, tapi gagal. Tapi sekarang, wow. Bahkan ketika diuyeng-uyeng (bahasa Bali untuk digoyang-goyang)–sesuatu yang wajib ada dalam setiap pengarakan ogoh-ogoh–Drupadi, Dursasana, dan Krishna seolah tidak terganggu. Hebat pokoknya!

Drupadi dan Krishna.
Drupadi dan Krishna.

Kalika Gandamayu–makhluk seram pengiring Bhatari Durga sebagai penguasa setiap kuburan, yang menculik Sadewa ketika untuk meruwat Bhatari Durga supaya kembali menjadi Dewi Uma menjadi ogoh-ogoh penutup acara. Penonton sudah mulai sepi–mungkin mereka kelelahan dengan pawai panjang yang tentu menghabiskan waktu karena berdesak-desakan di bawah terik matahari. Beberapa tamu undangan termasuk Pak Wakil Gubernur saja sudah tidak terlihat lagi–mungkin sudah meninggalkan lokasi sejak tadi karena ada agenda lain.

Kalika dari Cinere.
Kalika dari Cinere.

Kisah kuburan, Kalika, Kalantaka dan Kalanjaya memang tidak bisa dilepaskan dari Bhatara Siwa dan saktinya, Parwati. Nah, suatu ketika, Dewa Siwa kepingin menguji kesetiaan saktinya ini, dengan menyuruhnya turun ke dunia guna mencari susu. Singkat cerita, gagallah dia dalam ujian itu, akhirnya Bhatara Siwa pun mengutuknya, dengan menjadikannya Bhatari Durga, dan diturunkanlah ia ke dunia, menjadi penguasa kuburan (setra), yakni Setra Gandamayu. Diberikan juga beberapa abdi bagi Dewi Durga ini, yakni Kalika, dan semua makhluk penghuni kuburan yang seram-seram, seperti kepala yang bergerak sendiri, tangan dan kaki yang jalan sendiri, atau cahaya-cahaya seram seperti bola api.

Agak seram, sih...
Agak seram, sih…

Nah, untuk dapat kembali menjadi Parwati/Uma, Bhatari Durga harus diruwat oleh Sadewa, salah satu dari Panca Pandawa. Namanya seorang wanita, kalau lagi kesal kan kadang suka susah ya, nah singkat cerita Bhatari Durga pun mengutus Kalika untuk menculik kembaran Nakula itu dengan cara merasuki tubuh Ibu Kunti. Sadewa didapat, dan Bhatari Durga pun mengancam akan membunuh Sadewa kalau dia tidak bisa mengembalikannya sebagai Dewi Uma.

Sadewa kan agak plangak-plongok juga kan ya, lha wong dia tidak tahu apa-apa soal ruwatan, kok mau dibunuh? Semakin marahlah Bhatari Durga dan dia berniat untuk menghancurkan alam semesta karena keinginannya tidak tercapai. Beruntung, di tengah kekalutan itu, akhirnya Dewa Siwa turun ke tubuh Sadewa dan akhirnya meruwat Bhatari Durga supaya kembali ke wujudnya semula. Semua pun hidup bahagia untuk selamanya.

Di hadapan Monas.
Di hadapan Monas.

Mungkin yang rajin menonton serial televisi Mahadewa di salah satu stasiun televisi swasta yang juga menayangkan serial Jodha Akbar, pasti tahu episode-episode mana yang saya maksud :hehe.

Buur!
Buur!

Saya tidak sia-sia menunggu sampai ogoh-ogoh terakhir ditampilkan. Pasalnya, baru di sinilah saya berpikir kalau saya berhasil mengambil gambar… atraksi api. Pertamanya memang agak gagal, tapi di yang kedua saya rasa saya berhasil. Wuhu! Keren banget. Sekaligus baru pertama kali saya melihat orang menyembur api dari dekat. Bisa mengambil gambarnya adalah anugerah banget.

Dahsyat euy!
Dahsyat euy!

Parade, pada akhirnya, ditutup dengan penampilan arak-arakan kecil dari Hare Krishna Jakarta, sebelum pembawa acara menutup parade dan menyerahkan acara kepada dewan juri beberapa jam kemudian guna mengumumkan pemenangnya. Sayang saya tidak mengikutinya sampai selesai–sudah jam empat sore dan saya harus setor muka lagi di kantor :hehe. Yap, semua rangkaian perbuatan dan kejadian yang ada hari ini betul-betul baru bagi saya–dan saya sangat senang bisa melalui itu sebagai penutup tahun yang manis.

Hare Krishna Jakarta.
Hare Krishna Jakarta.

Melelahkan memang, tapi seru! Saya langsung menelepon kampung halaman, mengatakan bahwa di sini pawainya seru sekali, orang-orangnya ramai. Saya harus selalu hati-hati supaya tidak tergencet.

Orang rumah cuma ketawa. Mereka bertanya berapa banyak ogoh-ogoh yang ditampilkan di sini.

Saya menjawab dua belas.

Di Mataram ada dua ratus.

Mak! Dua ratus! Dan semua punya paket sendratarinya sendiri-sendiri. Kalau saya sampai meliput dua ratus ogoh-ogoh itu, bisa dipastikan postingan ini tidak selesai-selesai… tepokjidat

Kober, yang melambai.
Kober, yang melambai.

Wuaduh. Kejutan apa lagi yang menunggu saya di tahun yang baru ini?

103 thoughts on “Ketika Matahari Menjejak Khatulistiwa Lagi #3: Inilah Bintangnya!

  1. Ceritanya komplit, jadi lebih tahu soal event ini. Foto-fotonya juga bagus, aku paling suka foto atraksi api yang kedua ๐Ÿ™‚
    Dua ratus? Nggak kebayang itu seramai apa 0.0

    1. Iya sama, saya juga paling suka yang itu Mi :)).
      Wuih, ramai banget pastinya. Tapi penasaran juga untuk saya liput, mudah-mudahan tahun depan bisa :amin.

  2. Keren Gara, aku belom pernah liat ogoh ogoh. Tapi mengenal cerita pewayangan mulai wayang purwa hingga perang bratayuda. Membaca postingan ini mengingatkan kenangan masa kecil yg dipenuhi komik komik wayang gambaran RA Kosasih

      1. Iya betul, mahabharata 4, bratayuda ada 3, parikesit 2, trus ada dua buku lg yg nyeritain perjalanan ke syurga yg satu satu anggota pandang lima pada meninggal, hanya yudistira yg nyampe kehiyangan… Lupa judulnya apa ๐Ÿ˜‰

        1. Komplet euy Mbak… saya malah tahunya cuma Mahabharata doang :hehe.
          Oooh, iya… tapi saya juga kurang tahu judul Indonesianya :hehe. Judul aslinya itu setahu saya Mahaprasthanika Parwa dan Swargarohana Parwa, dua buku terakhir dari Mahabharata :)).

  3. Salut Bli, semangat saudara-saudara Hindu meskipun di luar Bali yang menyelenggarakan perayaan menyambut nyepi dengan semarak. Bahkan mengetahui lengkap cerita-cerita dan nama-nama. *applause*

  4. aku dulu pernah sekali nonton ogoh-ogoh di monas juga. yang ngangkat temanku dan katanya disuruh minum kayak dikasih kekuatan gitu, jadi kalau ogoh2nya bergerak, itu bukan orang yang ngegerakin, tapi ‘kekuatan’ dari mana gituuu…

    1. Betul sekali, Mbak. Setiap sebelum diarak, ogoh-ogoh ini diisi dengan bhuta kala sungguhan melalui sebuah upacara yang bernama Ngelinggihang (bahasa Bali untuk “menempatkan”). Itu sebabnya ada sanggah cerucuk berisi daksina di depan setiap ogoh-ogoh :)). Semua kekuatannya bersumber dari situ. Tidak jarang, kalau tidak kuat, penegen (pengarak) ogoh-ogoh bisa pingsan, lemas, bahkan kesurupan.
      Satu hal yang selalu membuat saya berteriak ogah kalau disuruh Bapak ikut mengarak ogoh-ogoh :hehe :peace.

  5. Ogoh-ogohnya serem banget, Gar.. Aku takut.. ๐Ÿ™

    Tapi sempet ngakak di bagian ketek ogoh-ogohnya ada bulunya.. Mana lebat lagi.. Wkwkwk ๐Ÿ˜€

      1. Aku memang sukak fokus sama yang aneh-aneh. Maklumin aja yah. Namanya jugak nyeleneh. Wkwkwk.. ๐Ÿ˜›

        Btw, bikin ogoh-ogoh ini bisa sampek ratusan juta kan yak?

  6. Banyak keseruan dalam satu event dan satu lokasi ya. Informasinya lengkap banget, banyak yang baru saya tahu seperti nama-nama butha kala itu

  7. Wohooo akhirnya bisa mampir kesini lagi ๐Ÿ˜€ seperti biasa, hasil jepretan mas gara mencengangkan banget ๐Ÿ˜€ aku suka sama foto terakhir yang berkibar-kibar gitu ๐Ÿ˜€ seruuu banget ya mas ๐Ÿ˜€

    1. Aku juga paling suka dengan foto yang berkibar itu Feb *toss*.
      Seru bangeet… pingin ikut lagi tahun depan :hehe.
      Terima kasih ya Feb sudah berkunjung :)).

      1. Nah, sama kan *Tos ๐Ÿ˜€

        Hihihi kalau ikut lagi, posting foto-foto lagi ya bang ๐Ÿ˜€

        Yuhuuu sama-sama Bang, tiap ngeblog pasti aku sempetin buat ngunjungin blog mas Gara kok ๐Ÿ˜€

        1. Wew, alamat kaya mendadak kalau itu emas Monas semua dijadikan batu akik :hihi.
          Saya di Jakarta posisinya Mas :hehe.
          Sekali lagi, terima kasih ya :)).

    1. Wah, dapat teman lagi dari Bali. Halo, salam kenal juga. Terima kasih sudah follow blog saya. Ah, di Bali ogoh-ogohnya juga pasti keren-keren, kemarin saya lihat teman ada yang pasang foto ogoh-ogoh warna pink lagi selfie… memang kreativitasnya maknyuss banget ya! :)).

  8. pertama kali dan terakhir kali nonton pawai ogoh2 di jakarta ya di monas (jaman kuliah di stan) … seru banget liatnya… btw, baru tau kalau dewa (kadang) dijadikan objek ogoh2 juga ๐Ÿ˜ฎ sayapun agak heran liatnya, aneh, sedih, marah campur jadi satu…

    1. Iya Mas, mungkin itulah kreativitas si pembuat ogoh-ogoh, makin ke sini semua objek bisa dijadikan ogoh-ogoh :hehe. Setuju, pawai ini adalah salah satu pawai paling seru yang bisa saya tangkap. Terima kasih!

  9. Kak… tahun depan ajak-ajak yaaaa… *penasaran… acaranya setiap menjelang Nyepi yah, Kak? aku baru tahu kalau ogoh-ogoh itu lambang dari makhluk-makhluk yang berkonotasi jahat, dan ada ceritanya sendiri… wow…Waktu masuk ke museum Ogoh-ogoh, aku cuma ngeblank doang sambil merinding, mandangin sosok ogoh-ogoh yang gede dan mukanya serem-serem…
    Kak, ogoh-ogoh itu sebetulnya terbuat dari apa ya? request dong kak… tulisan tentang proses pembuatan ogoh-ogoh… *maaf ngelunjak yaa…

  10. thx ya sudah memposting dari hati, kebetulan saya dan kawan2 permudhita tangerang yg berimajinasi mewujudkan kedukaan sang drupadi di dlm ogoh2 itu, rahayu
    semoga 2017 ada lagi, di tunggu ulasan menariknya…

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!