Ketika Matahari Menjejak Khatulistiwa Lagi #2: Photographers in Action!

Dan sejatinya…

Pengumuman itu cuma instruksi supaya panitia menyantap makan siang yang telah disediakan di tenda-tenda belakang kursi VIP, jadi kami berempat masih punya waktu untuk kucluk-kucluk, senantiasa bergerak karena stay di satu tempat hanya akan membuat kulit yang sudah hitam ini makin terbakar karena matahari jam 12 siang di lahan terbuka minim pepohonan seperti plaza Monumen Nasional itu garang sangat dengan sinarnya.

Aslinya panas, lho.
Aslinya panas, lho.

Berdiam di bawah tenda juga tak banyak membantu, karena angin pun tak bertiup, jadi pengap juga maksimal. Pergi ke bawah pohon juga tidak bisa karena ya kok pepohonan di Monas itu jauh banget… belum lagi semua orang sudah nangkring manis di sana: peserta acara, pengunjung monas, juga pedagang-pedagangnya.

Meskipun sebetulnya konstan bergerak juga tidak membantu banyak karena kami malah keringatan dan capek. Terbakar, keringatan, capek, pendek kata kami menguap. Yah, hikmahnya, banyak foto-foto lucu yang kami dapatkan. Ogoh-ogoh yang masih dikerjakan ada. Ogoh-ogoh kecil juga ada. Macam-macam pokoknya. Seru deh.

Apabila dilihat dari dekat, seperti ini.
Apabila dilihat dari dekat, seperti ini.
Ada yang kecil juga!
Ada yang kecil juga!
Ada yang keikut pose :hehe.
Ada yang keikut pose :hehe.

Ketika kami kembali, ternyata persiapan akhir sudah akan selesai. Tak butuh waktu lama bagi saya untuk bersiap pada posisi di sebelah depan kiri kursi-kursi undangan dan mempersiapkan kamera. Di saat seperti ini, posisi adalah syarat yang paling utama. Sebagaimana idiom saat sekolah dulu, PMP–Posisi Menentukan Prestasi.

Saya pun begitu–sebagai orang yang mengaku sebagai fotografer, tentu saya mesti berusaha menekan rasa malu saya dengan berdiri di kerumunan fotografer dengan kamera-kamera mereka yang besarnya segambreng itu. Hei, pede saja. Saya kan juga pakai DSLR :haha.

Para pecalang yang menjaga keamanan membantu pihak protokoler Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan tempat bagi para pejabat yang akan menghadiri acara. Sedikit kecewa memang kami pada awalnya, karena Gubernur DKI Jakarta (Pak Ahok) batal hadir, dan digantikan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Pak Djarot Syaiful Hidayat. Spanduk penyambutannya sudah dipasang sejak tadi–nangkring manis di sisi kanan panggung, di depan tempat saya sembahyang.

Beberapa lama kami, kumpulan pencari foto, mesti menanti di balik pecalang yang masih juga menjaga agar kami tak bergerak terlalu mendekat. Sementara itu, para tamu undangan lain, para kepala SKPD di lingkungan pemerintahan provinsi dan Pemerintah Kota Jakarta Pusat termasuk Walikota Jakarta Pusat sudah duduk juga di tempat mereka masing-masing, dengan susunan yang telah diatur oleh protokoler.

Sebagian besar para pejabat teras DKI itu memakai pakaian khas Betawi, dengan sarung tersampir di leher. Tamu undangan dari organisasi Hindu, mengenakan kamensaput, dan udeng khas Bali. Sejuk rasanya melihat dua budaya ini berdampingan. Apalagi dengan None-None kinclong yang menemani Abang-Abang itu, makin sejuklah rasanya mata ini!

Saat itu saya masih sibuk mencari posisi mengambil foto yang pas. Duduk? Atau berdiri? Beberapa fotografer sudah duduk dan mencari posisi nyaman dengan kameranya, beberapa lagi berdiri-berdiri supaya lebih mobile, sementara saya sendiri masih galau, mau dari posisi berdiri atau posisi duduk, meskipun akhirnya saya memilih posisi berdiri, supaya kaburnya gampang.

Doh, nasib amatir, nasib badan gempal, ya begini, tidak lincah, mau bangun saja susah… :huhu.

Saya masih sibuk duduk-duduk-berdiri-berdiri saat tepat ketika saya berusaha bangun, fotografer-fotografer yang entah dari mana asalnya itu merangsek mendesak-desak saya. Buset, ternyata sang undangan utama sudah datang! Tergesa-gesalah saya berusaha berdiri, dan berusaha merangsek ke depan, tapi pecalang sudah menghalau fotografer dengan berkata,

“Cukup ya, cukup.”

Para tamu undangan.
Para tamu undangan.
Hiduplah Indonesia Raya...
Hiduplah Indonesia Raya…

Tuhan, saya bahkan belum ambil foto Pak Wakil Gubernur dari dekat, tapi saya tidak mau hanya bisa kembali ke kerumunan dengan muka cemberut, jadi untuk melipur lara saya mengambil beberapa foto dengan panjang fokal maksimal yang dapat dicapai oleh lensa ini :hehe, sampai beberapa lama mungkin, karena ketika saya berbalik, ternyata di belakang sudah ada banyak sekali orang, mulai mengacung-acungkan kamera.

Ke arah saya? Bukanlah. Empat ondel-ondel yang mulai bergerak menari-nari di belakang, mengiringi lagu khas Betawi dengan suara khas dari alat musik Tehyanlah yang menjadi pusat perhatian.

Ondel-ondel!
Ondel-ondel!

Mari mulai memotret!

Acara dimulai dengan sebuah tari kreasi, perpaduan antara budaya Bali dan Betawi. Betawi menyumbangkan Lenggang Nyai sementara Bali menyumbang Pendet dan beberapa penari Topeng. Apik, euy. Ondel-ondel berwarna terang menari-nari lincah, abang-abang dan nyai-nyai dari ibukota memadu gerak dengan jegeg-jegeg dari Bali dalam gerakan yang selaras. Penari-penari topeng yang mungkin diimpor langsung dari Bali menambah kocak suasana dengan gerakan mereka yang seolah bermain bersama ondel-ondel.

_MG_5108

_MG_5109Antara Bali dan Batavia memang sudah punya ikatan yang panjang. Sepanjang sejarah awal mula berdirinya Batavia di abad ke-16, banyak orang Bali “dibuang” ke Batavia untuk dijadikan budak orang Belanda. Asal usul nama Glodok dan nama dua kelurahan di Jakarta, yakni Bali Mester di Meester Cornelis (Jatinegara) dan Kampung Bali di daerah Tanah Abang (belakang Hotel Millennium) merupakan bukti-bukti yang saya rasa cukup kuat menunjukkan bahwa antara ibukota dan pulau di barat Sunda Kecil itu punya ikatan pasti.

_MG_5110

_MG_5111

Ada penari topeng juga!
Ada penari topeng juga!

Paling berkesan bagi saya dari tarian itu adalah musiknya. Musik Betawi, entah kenapa, berhasil menyihir saya dengan Tehyannya yang bagi saya legendaris. Seperti biola, tapi menurut saya tarikan nadanya lebih kaya. Satu waktu, nada-nada tehyan bisa membuat saya merasa mendengar ratapan seseorang yang jauh dari kampung halaman, tapi di waktu yang lain, tarikan nada dari alat musik yang sama bisa membuat saya mengentakkan pelan kaki ini dan membungakan rasa bersemangat, seperti siang ketika saya menyaksikan tarian itu.

Lagunya Jali-Jali dan Kicir-Kicir, sih, gimana tidak semangat :hehe.

_MG_5113

_MG_5114Jepret-jepret? Tentunya ada. Saat itu orang sudah berkerumun, tapi tidak terlalu ramai, meski sudah banyak, jadi saya masih lumayan leluasa mengambil gambar. Dua orang yang memegang map duduk di sebelah saya, jadi saya ikut saja duduk. Belum tahu saya siapa orang yang duduk di sebelah itu; awalnya bahkan saya tidak tahu kalau di samping saya ada orang yang ikut duduk.

Monas menjadi saksi *eciye*.
Monas menjadi saksi *eciye*.

Saat itu beberapa pejabat masih menyampaikan kata sambutan, termasuk Wakil Gubernur DKI Jakarta yang sambutannya sangat menyejukkan hati karena membahas indahnya harmoni dalam keberagaman agama. Paling tidak, acara di Monas kala itu sudah jadi satu bukti, meski kecil, tentang betapa harmoni budaya itu indah sekali untuk dinikmati dalam kedamaian Nyepi :hehe.

Tapi semua berubah saat parade dimulai… dengan para pengunjung yang mendesak-desak seperti cewek-cewek penonton One Direction. Sumpah ya, orang-orang itu seperti datang dari mana. Mendesak, mendesak, dan mendesak, Tapi kalau tidak ada mereka, saya juga tidak bisa sadar kalau… yang duduk di samping saya itu Dewan Juri Ogoh-Ogoh!

Jadi saya yang duduk sambil berusaha untuk tidak terdesak lebih jauh sampai saya takut gepeng itu heran kok ya dua orang di samping saya itu bawa map, terus semua pecalang seperti mengusir-usir orang-orang yang kebetulan berdiri, ambil foto, atau melakukan apa saja di depan dua orang pembawa map.

Tapi saya belum sadar, sampai si pecalang dan orang itu berujar, “Maaf ya Pak, Bu, ini dewan jurinya.”

Nasib semuanya akan ada di kertas ini :haha.
Nasib semuanya akan ada di kertas ini :haha.

Etdah! Saya ya seperti dapat durian runtuh. Jadi kan view dari sini bisa tidak terganggu selama acara berlangsung. Bertransformasilah saya dari fotografer amatir menjadi “The Judge’s Official Photographer”, karena dengan demikian songongnya (:haha) saya bisa menyuruh anak-anak kecil dan para wanita yang mengacungkan tongsis mereka di depan kami untuk menyingkir. Tentu dengan berusaha mengabaikan tatapan heran dari si dewan juri yang ada di samping saya :haha.

“Er, Mbak, itu tolong ya, dewan juri, di sini ada dewan juri.”

Menyenangkan :hihi.

Yah, pada akhirnya kenikmatan itu cuma berlangsung sebentar. Soalnya pengunjungnya merangsek terus, semua orang pingin maju dan menyaksikan lebih dekat, padahal acaranya juga masih berlangsung, pawai ogoh-ogoh bahkan baru dimulai.

Jujur, situasi sempat agak kacau saat beberapa ogoh-ogoh awal melancarkan atraksinya. Soalnya semua pengunjung kepingin foto-foto dengan pawai ogoh-ogoh itu, mengabadikan penampilan mereka. Sementara itu, areal di depan tempat duduk Wakil Gubernur DKI Jakarta dan di depan dewan juri juga mutlak harus steril, sedangkan menghadapi antusiasme pengunjung yang membludak seperti itu, pecalang-pecalang jelas kalah jumlah. Saya sendiri pun merasa hampir tergencet di tengah pengunjung yang seperti itu, jadi di ogoh-ogoh keenam atau ketujuh saya melipir (dengan susah payah dan terengah-engah) dan memilih mengambil gambar dari sudut pandang lain.

Bagaimanapun, saya salut. Matahari jam 1 sampai jam 2 siang kan sinarnya terkenal paling ganas karena si raja siang sedang berada di titik kulminasinya, ya. Tapi semangat orang-orang itu tetap tidak menyurut: ayo berfoto dengan ogoh-ogoh yang sedang beraksi! Semua orang terus mengacungkan ponsel pintar, kamera digital, DSLR, dengan demikian bersemangat, jadi saya pun berpikir: bagaimana mungkin saya sebagai “pemilik acara” bisa kalah dengan semangat mereka?

Mari kita mulai pawainya dengan sedikit penjelasan tentang acaranya sendiri. Ada dua belas ogoh-ogoh yang dipertandingkan, dibuat oleh komunitas Hindu di Jakarta dan sekitarnya. Pawai dimulai dengan pengarakan gunungan, bentuk budaya Jawa yang masih bertahan sampai sekarang, sebagai bentuk terima kasih kepada Tuhan atas hasil bumi yang melimpah.

_MG_5122
Berbagai macam hasil bumi.
Gunungan.
Gunungan.

Selanjutnya, parade dari mahasiswa-mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Dharma Nusantara yang kampusnya satu lokasi dengan Pura Rawamangun. Mereka mengenakan pakaian adat dari seluruh Indonesia, disusul oleh kesenian marawis dari siswa-siswa dari dua SMA di DKI Jakarta (saya lupa sekolahnya dari mana saja). Yep, ini bukan pawai ogoh-ogoh biasa, melainkan pawai ogoh-ogoh yang disajikan bersama dengan pertunjukan budaya lain, jadi semacam pawai gado-gado begitu :hehe.

Para mahasiswa dan mahasiswi.
Para mahasiswa dan mahasiswi.
Siswa SMA DKI Jakarta, membawakan marawis.
Siswa SMA DKI Jakarta, membawakan marawis.

Akhirnya, awal pertunjukan ditutup dengan ibu-ibu dari Wanita Hindu Dharma Indonesia yang tadi membawakan tari Rejang Sutri. Baru setelah itu para ogoh-ogoh memulai paradenya!

Ibu-ibu yang tadi menari Rejang Sutri.
Ibu-ibu yang tadi menari Rejang Sutri.

Agak lama, ya… :hehe.

53 thoughts on “Ketika Matahari Menjejak Khatulistiwa Lagi #2: Photographers in Action!

    1. Panjang tulisannya. Acaranya mah cuma dari jam 11 sampai jam 5 sore… eh itu mah panjang namanya yak :hehe…
      Kayaknya semua yang digabung bagus deh. Apalagi kalau gabung duit terus dikasih saya *kode banget*.

    1. Saya juga senang sekali Mbak bisa di sana kemarin :hehe. Hm, kalau yang pernah saya lihat, gunungan biasanya isinya itu dibagi-bagi ke masyarakat, tapi yang kemarin itu sepertinya dibawa pulang lagi :hehe.

    1. Yep, dan masih berlanjut lagi ke episode terakhir yang barusan dipublish :hehe.
      Lama Feb, sampai sore :)).
      Terima kasih banyak buat apresiasinya :)).

          1. Hihi udah dibuka Bang yang ketiga 😀 keren bangetttt 😀

            Iya gitu deh bang kampusku ._. nggak ada tanggal merah deh. Jumat kemarin yang harusnya libur paskah aja ada yang berangkat kok -_- wow banget kampusku -_-

          2. Kebetulan kampusku kampus islam kok Mas ._. jadi, ya gitu. herannya, kenapa nggak ada rasa toleransi gitu ya ._.

            tapi nggak libur karena udah janjian sama dosen gitu sih, jadi, kayaknya sah aja ya

          3. Selamat praktikum ya Feb… hitung-hitung rekreasilah :hihi.
            Jadi kalian ini ada liburnya nggak sih? (Kok ya saya jadi kesal sendiri :hehe :peace).

          4. Sabar ya Feb :hehe. Nanti kalau sudah lulus, jamin deh, bakalan kangen dengan masa-masa seperti ini :)). Soalnya pengalaman saya demikian :huhu.

          5. Wahahahahaa kadang memang gitu ya, kita justru bakal ngangenin masa yang sebelumnya kita anggap ngeselin :’ ah, hidup memang aneh 😀

            Hihi rindu kuliah, atau rindu orang dimasa lalu bang 😀

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!