Ketika Matahari Menjejak Khatulistiwa Lagi #1: Catatan Tawur Agung Kesanga

Official Logo: Nyepi 1937.
Official Logo: Nyepi 1937.

Selamat Tahun Baru Saka 1937 untuk semua pembaca!

Monas dan penjor.
Monas dan penjor.

Setiap hari pertama (penanggal apisan) di bulan kesepuluh (ning sasih kedasa), kami, umat Hindu, merayakan tahun baru saka, yang dikenal dengan hari raya Nyepi. Pada hari raya ini, kami mengupayakan tercapainya keadaan sunya, sepi, sipeng, damai untuk mengulik kontemplasi dari dalam diri tentang apa yang benar dan apa yang salah selama dua belas sasih ke belakang.

Guna mencapai hal tersebut, kami melaksanakan Catur Brata Penyepian, yaitu empat pantangan selama Nyepi, yakni tidak menyalakan api (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungaan), dan tidak bersenang-senang (amati lelanguan). Saat Nyepi, Pulau Bali bisa “mati total” selama 24 jam, terhitung jam 6.00 pagi sampai jam 6.00 keesokan harinya. Mbak Tjetje sudah menjelaskan hal itu dengan sangat komprehensif dalam tulisan terbarunya. Saya sebagai umat Hindu sangat berterima kasih untuk itu :)).

Hroam.
Hroam.

Mungkin ada yang bertanya kenapa tahun baru kami jatuh pada bulan kesepuluh (sasih kedasa) dan bukan pada bulan pertama (sasih kasa). Itu karena pembagian bulan dan penentuan perayaan dalam kalender saka adalah dua hal yang berbeda. Untuk tahun baru, kalender saka mengambil acuan yakni hari ketika matahari, dengan gerak semunya, kembali menjejak khatulistiwa, yang menandai awal musim semi (spring equinox). Itu sebabnya, tanggal pasti Nyepi dalam kalender Masehi tidak pernah pasti, mengikuti kapan matahari betul-betul kembali menjejak di khatulistiwanya. Namun, secara kebetulan, Nyepi untuk tahun baru 1937 ini jatuh di kalender Masehi bertepatan dengan konsensus khatulistiwanya, yakni 21 Maret.

Dan sepengetahuan saya, banyak kebudayaan di dunia yang menjadikan hari pertama musim semi sebagai hari perayaan. Termasuk konsensus zodiak, ketika hari ini matahari menjejak juga kembali di rasi bintang Aries, rasi pertama dalam 12 konstelasi ekliptik.

Siap memakanmu! :haha.
Siap memakanmu! :haha. Et dah itu ada kepala orang.

Rangkaian perayaan Nyepi dimulai sekitar H-3, ketika Melasti, Mekiyis, atau Melis, nama lain untuk upacara penyucian Bhuwana Alit dan Bhuwana Agung sekaligus pencarian Amertha Kamandalu dilaksanakan. Setelah itu berlanjut pada H-1, ketika Tawur Agung Kesanga, Pengerupukan, dan pawai ogoh-ogoh. Nah, perayaan H-1 inilah yang saya hadiri kemarin di Plaza Barat Monas.

10.47 jam di tablet saya berkata ketika saya mulai menyusuri plaza selatan Monumen Nasional yang panasnya gahar gara-gara matahari bersinar terik di atas kepala. Sebuah lokasi di barat monumen nasional itu sudah cukup ramai dengan orang-orang yang berpakaian adat. Saya bergegas, meskipun sejatinya menurut jadwal persembahyangan baru dimulai sekitar pukul 13.00.

Untunglah saya bergegas, karena ketika saya mendekat ke lokasi acara, nyanyian kidung yang terdengar rasa-rasanya saya kenal. Pupuh Jerum, kidung yang wajib dinyanyikan kalau upacara pecaruan seperti ini. Kebetulan juga, kidung ini dulu sering saya nyanyikan, jadi saya cukup fasih dengan nada-nadanya. Sembari berjalan sekaligus mencari syairnya di Google, saya bersenandung mengikuti nada para sekehe kidung (kumpulan ibu-ibu yang bertugas menyanyikan kidung pengiring upacara). Nadanya ternyata masih saya ingat dengan baik.

Kidung pangundang ring bhuta,
Basa lumbrah pupuh jerum.
Bhuta asih, Widhi asung
Caru pesajine reko
Genep saha upakara
Manut warna lawan ungguh
Sekul iwak pada bina
Olah-olahan sedulur.

Saya jadi ingat masa kecil dulu, ketika sering diajak Ibu untuk sama-sama bernyanyi kidung ini di pura kalau ada acara pecaruan. Cuma saya menolak soalnya yang jadi sekehe kidung ibu-ibu semua dan anak-anak seumuran saya tidak ada yang jadi penyanyi kidung ini :huhu.

Sebenarnya saya tidak tahu juga kenapa saya tertarik dengan kidung ini. Mungkin karena melodinya enak. Padahal kidung ini, sebagaimana kidung-kidung lain, tidak boleh dinyanyikan sembarangan. Bait di atas adalah bait pengundang bagi semua bhuta kala untuk datang ke lokasi acara dan menikmati caru yang telah disediakan, yang mana caru merupakan upah baginya agar tidak mengganggu selama pelaksanaan hari raya Nyepi kami. Tapi karena melodinya enak, jadi kadang saya suka menyenandungkan nada-nadanya. Tanpa syair, tentu.

Kemarin saya cuma sempat ikut mengiringi pecaruan dengan menyanyikan bait keduanya saja, yang merupakan sebagian dari penjelasan hidangan berwarna apa diletakkan di sebelah mana. Terjemahan kira-kira ala saya ada di dalam kurung:

Pangideran panguripan (tentang warna arah dan angka)
Kangin panca putih mulus (timur lima, putih mulus)
Kelod siya barak mungguh (selatan enam, tempatnya merah)
Kauh kuning pitu anggon (barat kuning, angkanya tujuh)
Kaja selem urip papat (utara hitam, angkanya empat)
Manca warna tengah brumbun (lima warna, tengah brumbun)
Akutus panguripannya (delapan angkanya)
Babhutane manut ungguh (para bhuta pada manut)

Acara kemudian dilanjutkan dengan pementasan Topeng Sida Karya, tari topeng yang mengambil cerita dari Babad Dalem Sidakarya tentang pendeta yang terusir dari suatu upacara, dan tentu saja, Tari Rejang Dewa, yang ditarikan oleh ibu-ibu dari WHDI (Wanita Hindu Dharma Indonesia). Sayang saya tidak sempat mengambil gambarnya. Satu hal menarik yang sempat membuat saya agak heran dari tari yang terakhir saya sebut adalah kenapa penarinya berputar ke kiri (prasavya), padahal setahu saya tari Rejang ini perputarannya ke arah kanan (pradaksina, purwadaksina, arah perputaran timur-selatan). Atau mungkinkah saya tidak melihat pada adegan yang tepat? :hehe.

Yang saya suka dari upacara pecaruan (pemberian upah kepada para bhuta) adalah dengan semua keriuhan pada caru yang ada di depan. Sebelumnya perlu saya jelaskan, caru itu seperti makanan juga, terdiri dari nasi serta lauk pauknya. Semuanya itu nanti dicampur sesuai instruksi dari Peranda (pendeta tinggi yang menyelesaikan upacara). Dibagi sembilan, tujuh, lima, tiga, baru satu, sebelum akhirnya semua sanggah cucuk (tugu sederhana yang dibuat dari bambu) itu direbahkan sebagai penutup upacara.

_MG_5068

_MG_5069
Rubuhkan!

Tapi kali itu, prosesi penyelesaian upacara pecaruan tidak diselesaikan oleh beberapa orang saja seperti umumnya, melainkan ditutup dengan kesenian lain. Ada pementasan Tari Baris Tombak, yang menggantikan orang-orang yang menumbangkan sanggah cucuk. Setelah itu, satu ogoh-ogoh diarak untuk “menginjak-injak” lokasi pecaruan sebagai tanda bahwa pesta sudah selesai, semua bhuta kala itu “diusir” kembali ke alamnya supaya tidak mengganggu.

_MG_5072 _MG_5075 _MG_5063 _MG_5064 _MG_5077

Horeee!!!

Setelahnya, kami sembahyang bersama. Acara yang sekiranya dimulai pukul 13.00 malah dimulai lebih awal, beberapa menit lepas pukul 12 siang. Mungkin menyesuaikan dengan para pejabat yang akan menghadiri Pagelaran Budaya Nusantara yang sedianya mengiringi, atau supaya hadirin tidak terlalu lama berpanas-panas di Monas. Mungkin itu sebabnya pemandu acara mengimbau seluruh hadirin agar tidak meninggalkan tempat duduknya.

Tapi untuk kami, empat pegawai yang sengaja datang dengan baterai kamera terisi penuh, waktu yang luang ini tentu saja kami pergunakan untuk dua hal yang semestinya kami lakukan sejak saat pertama ada di sini: foto-foto dan makan-makan! Senang rasanya bisa merasakan kembali kuliner Bali yang demikian kayanya, senang rasanya bisa menjadikan adat budaya kami sebagai objek pemotretan! Rasa-rasanya seperti memindahkan sepotong Bali ke pusat Jakarta, dan kami disambut dengan demikian baiknya.

_MG_5079

Pengumuman dari panggung utama memberi tahu kami bahwa pagelaran sebentar lagi dimulai. Semua panitia diminta untuk bersiap pada posisinya.

Hey, it's us!
Hey, it’s us!

OK, saatnya beraksi, photographers!

105 thoughts on “Ketika Matahari Menjejak Khatulistiwa Lagi #1: Catatan Tawur Agung Kesanga

  1. Gara, tak hanya yang di Bali yang merayakan. Yang di Selatan Malang juga ikut merayakan.

    Saya ga suka mecaru yang melibatkan kuluk. Sekali waktu saya mendengar anak anjing merintih kesakitan, aduh rasanya hati saya ikut teriris. Apalagi saya sebagai makhluk yang punya kekuatan tak punya kekuatan menghentikan.

    1. Oh iya, kenapa saya bisa lupa. Keluarga saya yang di Lombok juga merayakan. Terima kasih sudah diingatkan :)).
      Ah, demikian. Thank you for your insight. Kita punya pengalaman yang sama. Dulu waktu kecil saya suka main-main dengan anak anjing kecil yang akan dijadikan bahan caru. Tiba-tiba anjingnya sudah tidak ada :)).

    1. Terima kasih banyak :)).
      Sudah lumayan lama Mbak, ini edisi yang ketujuh :)). Setiap tahunnya mesti ada pawai ogoh-ogoh, kecuali tahun 2014 karena bertepatan dengan masa tenang pemilu :hehe.

  2. Hai Gara, salam kenal ya. Selamat Tahun Baru Caka ya, walaupun sudah telat beberapa hari.
    Harusnya saya panggil “Bli Gara” ya. Hehe..
    Anyway, tahun lalu saya di Bali ketika sudah mau Nyepi.
    Rasanya senang sekali bisa melihat upacara-upacara disana, termasuk festival ogoh-ogoh dan Melasti.

    1. Halo Mbak Wien, salam kenal juga. Ah, terima kasih sekali, tidak apa-apa kok :hehe. Selamat Tahun Baru juga :)).
      Wah, pasti itu pengalaman yang sangat menyenangkan. Biasanya saya pun demikian, sayang dua tahun terakhir tidak bisa ikut pawai dan Melastinya, karena sudah ada di Jakarta :huhu.

      1. That’s very nice of you, Gara. Semoga tahun baru ini menjadi tahun yang lebih baik ya 🙂
        Well, it was! Saya memang sudah lama berencana ke Bali menjelang Nyepi, walaupun nada-nada nyinyir “napain, kan sepi” datang silih berganti.
        Ternyata saya puas sekali, hehe, sampai-sampai bisa lihat banyak bintang di langitnya Bali, suatu pemandangan yang sudah sangat langka untuk ditemukan di langitnya Jakarta.
        Harusnya saya kesana lagi pas Nyepi tahun ini tapi batal, haha.. Tar kapan-kapan kita arrange jadwal bareng untuk kesana yah 😛

        1. Hehe, saya sendiri bahkan belum pernah Nyepi-an di Bali :hehe. Boleh, boleh, mudah-mudahan ada kesempatan buat berhari raya di sana :)).
          Ya, pemandangan bintang di Bali saya rasa sebanding dengan panorama alamnya: spektakuler. Wah, tak sabar untuk segera melihatnya! :hehe.

    1. Bisa banget! Tidak ada larangan peliputan untuk siapa pun di acara kemarin, soalnya semua orang bisa masuk. Bahkan pengunjung Monas yang kebetulan ada di sana pun bisa ikut foto-foto dari awal sampai akhir acara :hehe.
      Terima kasih banyak, semoga tahun ini jadi tahun yang damai untuk kita semua :)).

        1. Kalau tidak Maret, April Mbak. Biasanya selang-seling, jadi tahun depan kemungkinan April. Mungkin juga saya salah ya Mbak :hehe.
          Yep, di Bali akan jauh lebih spektakuler :)). Ada ogoh-ogoh selfie :hihi.

          1. Hihi, never mind… saya juga penasaran sih Mbak… soalnya beberapa tahun terakhir Nyepi jatuhnya Maret terus… biasanya selang-seling Maret April Maret April :hehe :peace.

  3. Puasanya cukup berat ya, Gar.. Dari jam 6 pagi trus bukak besoknya jam 6 pagi lagi.. :’

    Btw, aku jadi pengen ngerasain Nyepi di Bali deh.. Gimana ya kira-kira.. Hihihi 😛

  4. Pertama kali lihat ogoh-ogoh di kampus. Awalnya saya ga tau, kirain hanya sebatas pawai iseng gitu. Saya perhatikan terus, kok sepertinya ada cerita yang diusung. Bahkan kalau tidak salah waktu itu ada salah satunya yang sampai dibakar. Tapi sayangnya dulu belum punya kamera. 😀

    1. Iya, semakin ke sini biasanya ogoh-ogoh punya cerita narasinya sendiri :hehe. Yup, malah pada umumnya dibakar Mas, setelah diarak.
      Jadi sekarang setelah punya kamera, wajib dong diliput lagi :hihi.

  5. Terima kasih sudah berbagi budaya Bali yang agung, Gara. Jadi hari raya nyepi secara keseluruhan diikuti tiga ritual sebelum dan sesudah ya. Alhamdulillah Bali berada di Indonesia 🙂

    1. Sama-sama, Mbak… senang rasanya bisa berbagi sesuatu di sini :hehe.
      Iya, kalau Bali tidak di Indonesia… mungkin saya juga tidak ada di sini *mengkhayal*.

    1. Bukan panas lagi… menguap :hehe. Tapi seru bangetlah acaranya, jadi nggak rugi.
      Bukan panitia, Bro, cuma fotografer amatir yang suka keliling-keliling :hihi.

        1. Syukurlah tidak ada foto before afternya, soalnya lebih fokus ke panoramanya :p.
          Aaak terima kasih! Nanti saya datang kok *kalau saya diundang :hihi*.

  6. Thanks sudah sharing Gara. Aku hanya pernah menyaksikan hari raya Galungan di Bali, karena kebetulan pernah di sana. Lumayan, dapat kesempatan liat arak-arakan di Ubud. Photonya keren2..

      1. Iyaa… Banyak hiasan dan janur di sepanjang jalan. Terus arak2an dan musik khas Bali di mana-mana. AKu malah ngga tau pas lagi kunjungan ke Ubud bertepatan dengan hari raya Galungan. hehehhe..

  7. Oalah, ternyata kamu itu Hindu toh. Kirain Kristen atau Katolik. Selamat Tahun Baru ya, meskipun telat. Ehehe. Terima kasih juga sudah berbagi tentang budaya Bali. Asyiknya tinggal di ibukota itu adalah masyarakatnya yang majemuk!

    Btw, di foto paling bawah itu kamu yang mana? Pojok kiri ya?

  8. selamat tahun baru Gar, sorry telat

    aku pikir dari judulnay mau cerita ke Pontianak, malu deh .. salah
    baru tau juga alasan penetapan tahun barunya
    iih aku ke mana aja ya kok nggak tau perayaan ini ada di Monas, padahal sebelumnya mah kerjaku kan di balik sananya Monas…
    telaaat banget

    1. Hehe, perayaan kemarin yang ketujuh Mbak, sudah tujuh tahun berturut-turut selalu di Monas :)). Berarti tahun depan wajib datang Mbak, 8 Maret 2016 :)).

      1. Kalau di perantauan teman sebangsa, satu suku, maupun seagama, biasanya terasa seperti keluarga sendiri. Apalagi kalau kita jauh dari keluarga dan kampung halaman.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?