Kerkhof, Apa Kabar?

Mungkin orang-orang mencari saya. Masa bodoh. Yang jelas, saya menghilang dari pintu, berlari ke objek wisata sebelah (secara harfiah), sebelum berhenti beberapa langkah di depan pintu, terdiam.

Apa yang ada di depan saya membuat pita suara ini untuk beberapa saat tak mampu menggema.

Saat itu langit cerah. Biru jernih dengan sedikit awan. Tapi jauh, jauh di belakang sana, perbukitan dan langit biru itu menjadi latar bagi sebuah gerbang kolonial yang demikian megah dengan banyak tulisan-tulisan pada plakat nama tertempel di sana.

Selamat datang.
Selamat datang.

Puncak tertinggi dari deretan bukit di belakang itu tepat berada di tengah-tengah gerbang. Sebuah monumen berada di tengah jalan, di belakang monumen lain yang lebih rendah. Saya berani jamin semua pengaturan itu disengaja.

Perlahan, sangat perlahan, saya mendekat. Di belakang saya suara mobil kami terdengar. Setelah menjelaskan bahwa saya amat sangat ingin berada di sana barang sebentar, mereka mengerti dan bersedia menunggu.

Saya pun akhirnya memulai pengamatan ini pada nama-nama yang tertempel pada kanan dan kiri gerbang. Hmm, mungkin itu adalah nama-nama tentara Belanda yang dulu gugur di medan peperangan Aceh. Banyak sekali, memang, mengingat Perang Aceh itu sendiri dari tahun 1873 sampai 1914. Empat puluh satu tahun.

The names.
The names.

Hari itu Kerkhof sepi. Tidak ada penjaga, dan rumah penjaga di sebelah kiri pintu gerbang juga tampak sepi. Niat saya untuk sekadar bertanya-tanya di dalam itu kuburan siapa saja, meninggalnya kenapa dan kapan, pangkatnya apa, serta cerita apa lagi yang ada di sana tampaknya harus saya urungkan dan saya ganti dengan riset dunia maya saja. Yah, perang Aceh adalah perang besar. Kompleks pekuburan ini pun sangat besar, jadi pasti sudah banyak yang bahas.

Beda dengan Ekspedisi Lombok 1894 yang sampai sekarang agaknya belum ada yang mengangkat.

Heh, tunggu dulu. Kenapa saya jadi mendiskreditkan pulau sendiri, ya? :haha.

Kembali ke Aceh, saya masih mengamati gerbang besar di hadapan saya. Puncak dari gerbang ini membentuk gunungan, sesuatu yang mirip dengan pintu masuk Kerkhof Kebon Jahe Kober (Museum Taman Prasasti). Tulisan dalam bahasa Belanda tertulis dalam huruf kapital, di bawah sebuah hiasan bintang. Di kanan kiri bawah tulisan berbahasa Belanda itu, ada tulisan lain dalam huruf Arab dan aksara Jawa. Saya tak paham maknanya, mungkin semacam penghormatan bagi orang-orang yang dimakamkan di sini.

Saya justru tertarik dengan lambang bintang itu, karena saya teringat bangunan di Jakarta yang juga dulunya punya hiasan satu bintang serupa, yang pernah saya lihat di situs ensiklopedi ibukota. De Ster in het Oosten, salah satu perkumpulan ordo Freemason yang dulu pernah ada di Jakarta.

Eh, jadi ordo Freemason di Indonesia itu bukan isapan jempol, ya…

Masih belum ada orang atau petugas yang menghampiri. Cuma ada anak-anak SMA sebelah yang riuh meminta saya memotret mereka karena saya kelihatan berkalung kamera SLR dari tempat mereka nongkrong. Saya mendekati gerbang yang tertutup kemudian mencoba membukanya. Tidak terkunci.

Memangnya penjaga sini sedang ke mana, ya…

Kesan pertama!
Kesan pertama!

Kesan pertama dari Kerkhof ini adalah bahwa tempat ini bersih. Gang-gang berpaving blok tidak menunjukkan adanya sampah daun atau sejenisnya. Artinya tempat ini cukup terurus, dan saya lumayan lega. Beberapa pot bunga yang berisi bibit-bibit bebungaan berderet di pinggir jalan berpaving, tersiram sinar mentari yang lumayan terik. Di sisi-sisi rumput dekat jalan, beberapa rumpun tanaman bunga berwarna merah seperti menambah warna bagi hijaunya rumput, birunya langit, dan putihnya nisan.

Tapi yang membuat saya terdiam lagi, sejauh mata memandang, hanya ada nisan. Begitu klasik, dan begitu kolonial. Saya agaknya selalu mencari kompleks pekuburan kolonial, dan sejauh ini, Kerkhof adalah kompleks yang terbaik. Saya memang belum mengunjungi Ereveld di Jakarta dan baru menyinggahi Kerkhof Kebon Jahe serta di dalam ‘s Plantentuin (Kebun Raya Bogor), tapi untuk pekuburan kolonial di luar Jawa, saya rasa kompleks ini adalah yang paling terawat.

Notice the lane's name?
Notice the lane’s name?

Semakin lama diamati, Kerkhof ini punya keunikannya juga. Ternyata gang-gang berpaving di tempat ini punya nama-namanya sendiri. Sebuah plakat rendah terpancang di dekat pojokan lahan. Contohnya, gang utama yang selurus dengan gerbang tadi, bernama General Majoor Kohler Laan. Gang di sebelah kiri pintu masuk bernama Kapitein Darlang Laan.

Di General Majoor Kohler Laan ada tiga monumen utama. Yang pertama, tepat ada di depan saya. Saya tidak bisa bahasa Belanda, tapi dari bentuknya, sepertinya inilah makam General Majoor Kohler yang dibangun tahun 1978 sebagai pengganti makamnya di Kebon Jahe Kober (Taman Prasasti).

IMG_3789

Benar saja, angka tahun 1978 di bawa sebuah kata berbahasa Belanda yang saya tak mengerti artinya tercetak pada satu sisi monumen itu. Saya jadi ingat cerita soal Kohler ketika kami melewati Masjid Baiturrahman kemarin malam. Pak Dayat bercerita, bahwa Kohler tertembak di dekat sebuah pohon di halaman Masjid Baiturrahman Banda Aceh. Sekarang di tempat Kohler tertembak itu ditanam sebuah plakat yang menerangkan hal tersebut.

Yang membuat saya tertarik dengan kisah Kohler adalah kata-katanya saat tertembak, yang kalau saya tidak salah kutip dari sang bapak,

“Oh Tuhan, saya sudah kena.”

Lagi-lagi saya jadi ingat ekspedisi Lombok, dan kisah pelarian P.P.H. van Ham dalam labirin yang bernama Kota Cakranegara.

Tentu saja saya sadar dengan ouroboros yang ada di monumen itu. Ouroboros. Lambang kehidupan kembali. Entah apa maksudnya. Saya yakin ada satu juta teori, termasuk teori konspirasi di dalam itu. Tapi kita serahkan saja kepada para pakar untuk menjawabnya :)).

Monumen kedua berbentuk seperti obelisk berundak. Putih bersih menjulang, menentang matahari. Saya cukup bahagia mendapati monumen-monumen ini tidak terlalu dicorat-coret oleh pelaku vandalisme. Bukan berarti tidak ada coretan, ada, tapi mungkin sudah dibersihkan sehingga warnanya tersamarkan dengan abu-abu marmer kolonial di belakangnya. Beberapa tulisan yang ada pada monumen itu sempat tertangkap lensa kamera saya, yaitu:

Ter herdenking van de gevallen militairen in Atjeh en onderhoorigheden

IMG_3790

Menurut Google Translate, kira-kira artinya “Commemorating the fallen soldiers in Aceh and their dependencies.”

Dit gedenkteken werd aangeboden door de Deli planters vereeniging en de algemeene vereeniging van rubberplanters ter oostkust van Sumatra

Yang kira-kira artinya “Monumen ini dipersembahkan oleh Serikat Petani Deli dan Serikat Pusat Petani Karet di Pantai Timur Sumatra.”

Ah, rupanya ini monumen untuk mengenang prajurit-prajurit perang. Atau sekaligus untuk mengenang “kemenangan” Belanda terhadap Aceh dalam perang 41 tahun itu, seperti Monumen Belanda di Mataram (yang sekarang sudah punah)?

Mungkin alasan kedua tidaklah tepat, karena monumen ini berada di sebuah pemakaman, bukan di pusat kota (sebagaimana Monumen Michiels yang pernah ada di Lapangan Banteng). Jadi seperti argumen pertama, monumen ini didirikan oleh Serikat Petani untuk mengenang korban perang yang berjatuhan dari pihak Belanda. Meskipun terus terang saya agak tidak yakin apakah monumen ini juga dipersembahkan untuk pejuang Aceh yang sebenarnya cuma ingin mempertahankan tanah airnya.

IMG_3798

Monumen ketiga ada di sisi belakang pekuburan. Saya sampai berlari untuk bisa mencapainya. Sebuah monumen besar dengan relief potret seseorang terpampang padanya. Dari bentuknya, jelas, ini kuburan. Bentukan balok tertutup atap gunungan yang berada di atas tanah sebenarnya sempat membuat saya berpikir bahwa jenazah si empunya wajah dalam relief tidaklah dikubur, melainkan diletakkan di atas tanah, di dalam bentukan balok itu. Hiiiy.

Saya membaca apa yang tertulis pada sang monumen. Sepertinya nama si empunya makam: Johannes Ludovicus Jakobus Hubertus. Kata “Pel” yang ada di atasnya kelihatannya merupakan bagian dari nama juga. Jadi nama lengkapnya “Johannes Ludovicus Jakobus Hubertus Pel”. Menurut saya, orang ini pasti bukan sembarangan. Paling tidak mesti memegang jabatan, berpangkat militer lumayan, atau sudah berjasa besar terhadap suatu hal sehingga peristirahatannya pun dibuat seperti ini. Apalagi dengan potretnya yang direliefkan pada nisan makam.

IMG_3791

Nisan lain yang pernah saya temukan berelief potret orang yang dimakamkan adalah pada kuburan seorang pendeta (kalau saya tidak salah), di Kerkhof Kebon Jahe Kober.

Note: Buat yang bisa bahasa Belanda, biografi soal Johannes Ludovicus Jacobus Hubertus Pel dapat dibaca dalam buku Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek,  di sini. Saya membaca informasi soal peperangan, ekspedisi Aceh yang kedua, dan informasi soal rencana tentang Kraton (saya terjemahkan via Google Translate tentu), namun saya belum begitu paham apa maksudnya, dan akan sangat senang apabila ada ahli bahasa Belanda yang berkenan menerjemahkan. note to myself: habis ini kita kursus bahasa Belanda.

Kuburan siapa ini?
Kuburan siapa ini? Sepertinya ia lahir di Semarang dan meninggal di Banda Aceh dalam usia 38 tahun?

Beberapa puluh menit lepas dari janji saya yang katanya “sebentar”, saya menghabiskan waktu untuk mengambil banyak foto-foto. Saya suka nisan-nisan kolonial seperti ini. Menurut saya setiap nisan menyimpan cerita yang berbeda, cerita uniknya sendiri-sendiri, yang membuat saya kadang tertunduk sedih dengan puisi perpisahan di atasnya, penasaran dengan siapa yang dimakamkan, atau ingin tahu serta haru tentang kenapa orang ini bisa dimakamkan di sini, jauh dari kampung halamannya di Eropa Utara sana.

Yang ini agak grande.
Yang ini agak grande.

Tinggal selamanya di tanah orang, yang orang-orangnya dulu dibunuhi, dibenci, dan dihabisi, serta balik membenci kita, dan pada akhirnya menghabisi, tentunya akan sangat terasa tidak nyaman. Seperti tinggal di suatu rumah yang semua penghuninya berusaha mengusir tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa dan kita juga tidak bisa pergi dari sana.

Tapi apakah tubuh-tubuh itu bisa merasa?

Nisan sejauh matamu memandang, Teman.
Nisan sejauh matamu memandang, Teman.

Ada berbagai macam bentuk nisan dalam jumlah yang juga sepertinya tidak terhitung. Saya lupa pernah membaca di mana, namun bentuk nisan ini sepertinya mengikuti status sosial si meninggal. Beberapa hanya berupa pancangan salib batu. Beberapa hanya lempengan batu yang kini sudah tak terbaca lagi. Tapi ada yang berupa monumen obelisk terpotong, atau berupa monumen-monumen besar. Semakin tinggi status sosialnya, makin megah pulalah monumennya. Saya jadi berpikir, memang monumen segede gaban begini berpengaruh? Memang yang sudah meninggal bisa merasa megah di dalam sana? Itu kan cuma monumen duniawi.

Daripada-daripada saya bertransformasi dengan tasbih sorban sajadah menjadi Pak Kyai gadungan ya, lebih baik saya mengamati lagi apa-apa yang ada di sekeliling saya.

Some silhouette, anyone?
Some silhouette, anyone?

Beberapa nisan masih dalam kondisi terbaiknya. Tapi beberapa lagi sudah tidak terbaca, somplak, atau sudah retak patah di sana-sini. Tambahan lagi, dengan bencana sepuluh tahun lalu itu, bukannya tanpa akibat pada Kerkhof. Sebanyak lima puluh pancangan salib menghilang hanyut entah ke mana dibawa air bah dahsyat.

Cerita lain yang sempat diberitahukan para bapak mengatakan bahwa bahkan mayat-mayat para korban sempat bergelimpangan di dalam sini. :glek.

IMG_3796

Sesekali saya curi-curi membuka Google Translate supaya tahu apa yang dituliskan di sana, tentang siapa yang dimakamkan, lahir di mana, meninggal di mana, serta kalau ada, kata-kata perpisahan dari yang ditinggalkan. Mengetahui sekelibat kehidupan pada masa itu menjadi sensasi tersendiri, semacam jendela untuk tahu apa yang terjadi di masa kolonial.

Satu hal unik dari makam-makam Belanda yang saya temukan adalah penjelasan tentang riwayat si meninggal. Biasanya, makam-makam itu menampilkan tulisan: Gebooren xx xx 19xx, overl. (dari overleden) Atjeh xx xx 19xx. Menurut Google Translate, overleden berarti “wafat” atau “meninggal”. Namun, beberapa makam bertuliskan hal yang berbeda, yakni “gesneuveld”. Gesneuveld berarti “terbunuh”. Mungkin orang-orang yang dimakamkan pada kuburan bertuliskan “gesneuveld” adalah prajurit-prajurit perang yang harus rela kehilangan nyawa dalam operasi militer, dua kali ekspedisi Aceh yang terjadi pada tahun 1873.

Sebenarnya, termasuk J.H.R. Kohler juga memiliki kuburan bertuliskan “gesneuveld”, karena bukankah dia mati terbunuh di bawah pohon pada sisi kiri Masjid Baiturrahman?

Gesneuveld.
Gesneuveld.

Prihatin. Saya paling tidak suka perang, karena menurut saya lebih banyak keburukannya daripada kebaikannya. Menghabisi nyawa banyak orang hanya untuk keinginan ambisius segelintir orang yang mengaku penguasa. Ugh. Banyak jalan yang jauh lebih elegan untuk memenuhi keinginan ketimbang perang, kan?

Sebagian kecil wilayah pemakaman agak berpagar di belakang sana. Penasaran, saya mendekat. Ternyata itu adalah kompleks pekuburan lain di dalam pekuburan ini. Ternaungi beberapa pohon rimbun, dan agak terpisah dengan jalan kecil bersemen, dengan pagar sepinggang di kiri kanan.

Kompleks ini sendiri berpagar agak tinggi, dan pintunya terkunci, sehingga saya tidak bisa masuk dan akhirnya cuma bisa menempelkan muka (dan lensa) di sela-sela pagar besi, sekadar mengambil gambar nisan-nisan berselimutkan kain putih yang ada di dalamnya. Nisan-nisan yang saya ketahui tradisional, tapi bukan dari langgam kolonial. Berselimutkan kain putih membuat nuansa Islam di kompleks pemakaman ini demikian terasa.

Jalan masuk ke kuburan di dalam kuburan.
Jalan masuk ke kuburan di dalam kuburan.

Makam Meurah Pupok, plakat keterangan yang terpancang miring di depan makam bercerita. Seorang putra dari sultan paling termashyur se-Aceh raya, Sultan Iskandar Muda. Pangeran kesayangan dengan julukan “Pocut”, yang karena suatu kesalahan dihukum oleh ayahnya sendiri. Tak dijelaskan hukuman apa yang dijalankan, tapi saya menduga besar kemungkinan kalau hukumannya adalah hukuman mati, yang disebabkan si anak mungkin melakukan perbuatan yang mencoreng adat budaya, dan bukan tidak mungkin, juga agama.

Bukannya bagaimana-bagaimana. Kata-kata sang ayah ketika menghukum anaknya adalah:

Mate aneuk meupat jirat, gadoh adat pat tamita.

Yang kira-kira artinya:

Kalau anak meninggal, kuburannya masih bisa ditemukan. Tapi kalau adat budaya yang punah, sisanya tidak ada lagi.

Papan-papan informasi.
Papan-papan informasi.

Ketika saya menulis ini (29 Januari 2015), saya mencari sedikit tentang cerita di balik “hukuman” terhadap Meurah Pupok. Bertemulah saya dengan dua tulisan, yakni di sini dan di sini. Sebuah tragedi fitnah-memfitnah yang tragis, yang harus berakhir dengan goyahnya kuasa keluarga kerajaan. Saya menyimpulkan bahwa Sultan Iskandar Muda adalah seseorang yang berpegang sangat teguh pada adat budaya serta agama. Integritas termurni, dalam kualifikasi tertinggi yang memang sangat jarang dimiliki petinggi-petinggi zaman sekarang. Hanya saja, menurut saya kadang integritas memang menghasilkan beberapa tindakan yang berada sedikit di atas garis ekstremitas.

Nisan di dalamnya.
Nisan di dalamnya.

Yah, namanya juga intrik istana. Saya tidak begitu heran, sebenarnya. Dan kalau saya boleh sombong sharing, kejadian ayah-membunuh-anaknya-sendiri-karena-berpegang-teguh-pada-adat (atau dalam kasus ini, surat sandi dari sang raja) tidak hanya terjadi di Aceh. Bahkan di Bali sendiri ada. At my very family.Nantilah saya akan cerita, kalau jalan kebetulan menggiring saya ke Desa Tangkas, Klungkung Bali, tempat tetes-tetes darah ini bermula. Hihi.

Saya baru saja berniat untuk mengeksplorasi sisi tenggara Kerkhof ketika Pak Dayat melambai-lambai dari dekat gerbang. Mengecek handphone, saya agak terkesiap juga karena sudah jam setengah dua belas siang. Cepat-cepat saya memasukkan kamera ke dalam tas dan menghampiri sang bapak yang sudah kepanasan. Masih belum ada orang atau siapa pun di sini. Sepi sekali. Setelah meminta maaf, kami keluar, Pak Dayat menuju mobil terlebih dahulu sementara saya menutup pintu gerbang.

Ah, saya padahal masih ingin berlama-lama. Saya belum mengeksplorasi semuanya!

Gambar terakhir sebelum pulang.
Gambar terakhir sebelum pulang.

Lagi-lagi saya terdiam sejenak. Sesuatu di dalam kepala memerintahkan saya untuk memanjatkan salam perpisahan untuk semua yang beristirahat di sini.

“Tuhan, biarkan kenangan-kenangan ini terdiam bersama kami yang masih hidup, untuk kami jadikan arah dan pemandu untuk melangkah. Sementara mereka, angkatlah mereka ke tempat-Mu, bersih dan suci bersama-Mu, tak terikat lagi dengan semua apa yang pernah ada di dunia ini.”

Mobil pun melaju, menghilangkan Kerkhof dan semua kenangannya dari pandangan.

Selanjutnya, ke mana kenangan-kenangan itu akan membawa kami?

Ada bonus sedikit tentang Ekspedisi Lombok di halaman selanjutnya. Special thanks untuk Mas Rifki Jampang yang sudah mengajari cara untuk menulis postingan dalam multihalaman. It works! Thank you!

73 thoughts on “Kerkhof, Apa Kabar?

      1. Benar.. Tapi, Kerkof ini kesannya ngga terlalu angker ya.. ngga kayak pekuburan yang biasanya diperuntukkan untuk masyarakat lokal di Indonesia.. Malahan, kalau sore, banyak anak2 bermain di sana..

  1. Di kota sy ada daerah namanya Karkuf. Konon katanya nama daerah itu memang berasal dri Kerkhof dalam bahasa Belanda. Karena di kawasan itu dulu memang pemakaman. Skrg pemakamannya udah jadi terminal 😀

    1. Wah, sayang sekali. Padahal kalau seandainya masih ada nisan kolonialnya, pasti bisa seeksotis tempat ini :hehe.
      Tapi antara kita saja, Mbak… apa tempat itu berhantu?

  2. ngomongin soal teori konspirasi itu….bakalan panjang 😀
    Aku belum pernah wisata makam seperti ini, tetapi menarik ya untuk mencoba ke makam yang lebih mirip taman seperti ini.

    1. Ya, berwisata ke makam, apalagi makam kolonial, memang bisa membawa cerita tersendiri Mbak, yang pastinya berbeda dengan tempat wisata lainnya :)).
      Ayo ayo, saya siap ikut (kalau diajak) :hihi.

  3. nggak tau kenapa merinding liat gambar gambarnya… :p
    btw, kayaknya menarik tuh cerita yang di Bali. Semoga segera bisa ke sana deh ya…

    1. Mungkin karena kuburan kali ya Mbak :))
      Ah, cerita yang di Bali ya? Baiklah, akan saya usahakan kalau saya menjejak ke sana :)). Terima kasih banyak :hihi.

  4. aaahh..kereeenn. Kesan yg dimunculkan di sini jauh berbeda dgn kalo saya sendiri yg ada disitu. I think you change something spooky into an elegance 🙂 Ohya, Pocut itu gelar apa gimana sih? Tetanggaku ada yg namanya Pocut juga dari Aceh aslinya.

  5. Ini di Aceh?
    Waahh sebagai cucu dari pejuang Aceh yang nggak pernag pulang ke Aceh karena tinggal dan besar di jakarta, saya pun merasa gagal.

    Jadi pengen ke Aceh untuk liat taman ini, eh pemakaman ini.

    Trimakasih Bli reviewnya, kerennn

  6. Kerkof amat terawat. Dan ini kuburan Eropa pula. Kira2 dana pemeliharaan dari mana ya Mas, mengingat banyak juga kuburan bersejarah bangsa Indonesia lenyap begitu saja karena tak dirawat…

    1. Hm… kalau saya tidak salah, ada juga andil dari Pemerintah Kerajaan Belanda terkait dengan konservasi lokasi-lokasi kuburan tentara seperti ini dalam bentuk dana hibah, Mbak. Nah, kalau untuk kuburan bersejarah bangsa kita, kembali lagi pada kepedulian pemerintah, dan apakah pemerintah sudah menganggap pelestarian situs-situs seperti ini adalah suatu prioritas…

  7. Wah suka wisata kerkhof juga nih?
    Apik nih, kalau di Bandung sini mah buat nyari kerkof harus masuk gang-gang sempit, itu pun dipake buangan sampah.

    1. Agak memprihatinkan ya Mas. Jadi ingat dengan makam Souw Beng Kong di Jl. Pangeran Jayakarta, itu pun juga sekarang sekitarnya sudah jadi pemukiman padat :huhu.

      1. Iya kerkof orang tionghoa juga tuh yg saya temuin di gang pas ngaleut, itu pun harus nyibakin sampah dulu.
        Makam yg terjaga dan terkenal ya cuma Boscha dan Marhaen.

  8. aku baru dari ereveld jakarta dan, rasanya lapang ya.
    seperti kembali pada masa-masa noni-noni dan sinyo itu menari-nari.

    aku tidak terlalu suka di kuburan, karena sering membuat sesak. ada hal-hal yang tidak ingin dilihat atau dirasakan mungkin. 🙂

  9. Terawat ya tempatnya….

    Biacara perang Aceh… aku sangat salut dengan perjuangan rakyat aceh yang sampai 41 tahun melawan Belanda… Itu perang terlama Belanda menghadapi masyarakat Indonesia. Sehingga Aceh pun banyak melahirkan nama2 pahlawan karena lamanya mereka berjuang melawan kompeni

  10. membaca tulisan ini kok jadi mengingatkanku ke blog nya mbak olive ya 🙂 yaitu sama2 membahas makam dan bahasanya pun indah. jangan2 ini pak olive (aka popeye the sailorman) he he he… salam kenal mas

  11. Detail banget penjelasannya, Gara. 🙂

    Di Jakarta ada Museum Prasasti yang isinya juga kuburan gitu, salah satunya kuburan Soe Hok Gie. Tempat syutingnya Base Jam. Pasti tau lah ya siapa Base Jam xD

    1. Yep, Kerkhof Kebon Jahe Kober :)).
      Tentunya tahu :hehe. Dulu saya kira mereka syuting di luar negeri, eh ternyata syutingnya di sebelah kantor walikota :hehe.

  12. Itulah kisah Aceh dahulu kala saat dijajah oleh kolonial belanda bersama para tentara bayaran marsose2 dari tanah indonesia.
    pernahkah kita bertanya ada berapa serdadu aceh yang tewas dalam perang melawan wilayah lain di indonesia saat itu ??

    Rakyat aceh tak pernah menjadi marsose-marsose/penjajah. kuburan-kuburan itulah sebuah bukti klassik yang akan terus menjadi bahan renungan bagi semua yang mau menelisiknya secara mendalam.

    Aceh tidak pernah menyerah dengan negara manapun didunia dan itu sebuah bukti aceh ini adalah negara berdaulat dan kedaulatannya akan kembali pada suatu saat nanti.

    1. Saya mesti setuju… penjajahan memang tidak pernah membawa dampak baik. Namun saya agak tergelitik dengan kalimat terakhir komentar ini… apa itu artinya Anda setuju Aceh jadi negara sendiri yang merdeka, lepas dari Indonesia?

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?