Kepingan-Kepingan Ekspresi dari Gajah dan Arca

Hari Minggu pertama Kak Randy ada di Jakarta, kami membelah jalanan lagi menuju pusat kota. Sebuah museum menarik perhatiannya, karena dalam beberapa kali kunjungan ke ibukota negara, sang sahabat ini belum pernah menyambanginya.

Tempat itu adalah museum negara, museum di mana Indonesia disaripatikan dalam Rotunda, Taman Arca, Ruang Sejarah, Ruang Tekstil, Ruang Keramik, Ruang Etnografi, Taman Megalitik, serta Ruang Koleksi Perunggu. Belum termasuk Gedung Arca, berdiri baru tegak nan kokoh di sebelah, gedung delapan lantai yang setengahnya dipakai untuk museum.

Museum Nasional.

Monumen baru yang diadopsi dari filosofi Presiden keenam Indonesia menyambut kami tepat di depan pintu masuk, bersama gajah tua hadiah Raja Siam yang anehnya tetap tampak kecil. Kami tak berfoto dengannya di awal acara ini karena apa yang ada di dalam jauh lebih penting. Ada beberapa hal yang ingin saya pastikan, ada beberapa hal yang ingin Kak Randy jadikan latar belakang pemotretan :ehem.

Tak apa, jika sejenak kau menutup mata, mensyukuri kenikmatanmu, menikmati keadaanmu.
Tak apa, jika sejenak kau menutup mata, mensyukuri kenikmatanmu, menikmati keadaanmu.

Berulang kali kemari rupanya belum membuat bosan. Soalnya di sini ada saja cerita dari setiap arca dan artifak beraroma yang ditampilkan. Atau dari kemegahan Ruang Etnografi yang secara menakjubkan membentang dari ujung ke ujung. Namun, untuk kali ini, tiba-tiba saya ingin saja sekadar bertualang sebagai penangkap jejak ekspresi, dari manifestasi-manifestasi yang dibentukkan pada bongkah-bongkah batu berpahat itu.

Ada yang kesal, ada yang marah...
Ada yang kesal, ada yang marah…
Dan mengapa kau harus bermurung, O, sang hidup?
Dan mengapa kau harus bermurung, O, sang hidup?

Lupakan sejenak tentang sejarah arca, karena semua arca di sini punya sejarah, dan satu arca bisa jadi satu postingan blog, jadi penjelasan komprehensifnya saya simpan untuk kemudian hari. Hari itu, kami keliling-keliling Taman Arca dan mendapatkan beberapa ekspresi yang menarik. Saya akan menjelaskan beberapa, tentu sepanjang masih ada dalam batas pengetahuan saya.

Bijaklah dalam hidup, jalani sebaik mungkin.
Bijaklah dalam hidup, jalani sebaik mungkin.

Kita mulai dengan satu bentukan wajah Siwa Mahadewa (atau Buddha? Saya lupa :maaf) dengan mata ketiganya, menatap bijak ke arah umatnya yang ada di bawah. Hm.

Jreng!
Jreng!

Namun, di Rotunda, bintang pertunjukan tentu, Adityawarman, penguasa Sumatera Melayu pada zaman kerajaan Majapahit, yang digambarkan sebagai Siwa Bhairawa, bentuk Siwa ketika berada dalam keadaan marahnya. Berketinggian sekitar empat meter, Bhairawa digambarkan bermuka seram, memegang sebuah mangkuk darah para korbannya, sambil memegang belati yang digunakan untuk menggorok leher si musuh di tangan sebelah.

Masterpiece-nya Rotunda. Sempat dijadikan batu asah pisau...
Masterpiece-nya Rotunda. Sempat dijadikan batu asah pisau…

Wuhu.

Ada juga Arjuna yang sedang digoda oleh Subadra dan salah satu dari tujuh bidadari yang lain (saya lupa namanya siapa). Tampak aus, tapi saya masih bisa menerka ekspresi dari seorang pria tampan yang sedang digoda oleh bidadari-bidadari. Sangat menahan diri untuk tidak terhasut.

Hei Arjuna, ekspresimu itu lho...
Hei Arjuna, ekspresimu itu lho…

Beberapa ekspresi Siwa dan Wisnu saya abadikan dalam kartu memori ini. Kami bergerak ke sayap selatan, mengambil foto Prasasti Getas dan Prasasti Jeru-jeru. Umumnya prasasti ini menggambarkan peresmian suatu daerah menjadi daerah sima (daerah bebas pajak) yang bersifat otonom, mengurus fungsi pemerintahannya sendiri. Mungkin semacam peresmian otsus di zaman sekarang.

Gambar lembu menggigit surya. Mungkin Nandi?
Gambar lembu menggigit surya di Prasasti Getas (Nganjuk). Mungkin Nandi?
Hiasan kepala Prasasti Jeru-Jeru.
Hiasan kepala Prasasti Jeru-Jeru.

Di belakangnya, ada Buddha Wairocana (kalau saya tidak salah), Aksobhya, dan Siwa dalam bentuknya sebagai Agastya, Dewa Kebijaksanaan. Ha, saya melihat Siwa-Buddha berdampingan. Tapi kok ya ekspresi tiga arca itu bisa dijadikan meme tersendiri :hihi.

Dari balik Prasasti Jeru-Jeru.
Dari balik Prasasti Jeru-Jeru.
Dua di kiri, sepertinya sedang tenang. Sementara di sebelah kanannya... :hihi.
Dua di kiri, sepertinya sedang tenang. Sementara di sebelah kanannya… :hihi.

Menelusuri sisi selatan Taman Arca, kami mendapat beberapa benda menarik. Sebuah lingga yang baru saja saya baca keberadaannya dalam buku yang kini sedang saya selesaikan pembacaannya. Lingga dengan empat bola yang secara naturalistik menggambarkan kejantanan. Saya menerka, sesuai dengan deskripsi yang digambarkan dalam buku pegangan saya itu, lingga inilah yang ada di Candi Sukuh.

Inilah lingganya. Sesuai benar dengan penjelasan Bu Lydia Kieven dalam bukunya. Tapi mungkin juga saya salah menerka.
Inilah lingganya. Sesuai benar dengan penjelasan Bu Lydia Kieven dalam bukunya. Tapi mungkin juga saya salah menerka.

Satu lagi Buddha yang ekspresinya sejuta misteri saya tangkap di dekat pintu ruang keramik. Sementara itu, Siwa Bhairawa dalam ekspresi menyeramkan lainnya berhasil saya abadikan membelakangi taman arca. Dengan kalung tengkorak, yang berdiri pada tengkorak-tengkorak juga, dan ekspresinya yang menyeringai. Saya selalu kagum dengan detail yang diaplikasikan oleh para pemahat dalam abad pertengahan itu. Semua ekspresi wajahnya seperti berbeda antara satu andesit dan andesit lainnya, bertambahan dengan cerita yang sejalan betul dengan apa yang diniatkan oleh sang pematung.

Better not disturbing. Lagi marah.
Better not disturbing. Lagi marah.
Senyumnya itu... misterius!
Senyumnya itu… misterius!

Langkah kaki menuntun kami kembali ke sisi utara Gedung Gajah, sebelum akhirnya kami mesti menelusup ke bawah tangga lantaran saya menjumpai bentuk yang sepertinya saya kenal.

“Ini Prasasti Telaga Batu bukan, sih?”

Oh ya, bagaimana mungkin saya lupa. Tujuh kepala ular yang menaungi batu sumpah kesetiaan rakyat kepada Dapunta Hyang Sri Jayanasa, penguasa Sriwijaya, Nusantara pertama di Indonesia. Saya agak merinding tanpa sebab yang jelas dengan baris terakhir dari inskripsi ini, yang berkata:

niwunuh sumpah dari mangmang kamu kadaci tida bhakti di aku
terbunuh sumpah dari mantramu kalau tidak berbakti padaku

Notice the similarities? Yep, secara, prasasti ini ditulis dengan bahasa Melayu Kuno. Cuma agak sayang saja, ini salah satu masterpiece Museum Nasional, ya kok letaknya ada di bawah tangga. Apa peninggalan ini kalah dengan regalia-regalia gedung sebelah? Haduh…

Prasasti di bawah tangga.
Prasasti di bawah tangga.

Petualangan kilat kami dilanjutkan pada Ruang Etnografi. Keanekaragaman Indonesia dalam satu ruangan panjang dari ujung ke ujung, disusun secara geografis, dimulai dari Sumatera, Jawa, Sunda Kecil, Kalimantan, Sulawesi, untuk ditutup dengan perahu superpanjang dari Suku Asmat di Papua.

Kabarnya, ini adalah kendaraan Nyi Roro Kidul dari Pantai Selatan menuju Gunung Merapi.
Kabarnya, ini adalah kendaraan Nyi Roro Kidul dari Pantai Selatan menuju Gunung Merapi.

 

 

Satu foto terakhir dari Taman Arca
Satu foto terakhir dari Taman Arca

Kami menyusur langkah menelusuri koridor kaca menuju Gedung Arca. Gedung delapan lantai, separuhnya dipakai sebagai museum. Waktu yang semakin menipis membuat saya tidak terlalu lama mengajak Kak Randy di sini, karena sebenarnya saya cuma kepingin memperlihatkan khasanah masterpiece yang dijaga dengan demikian ketatnya, dibandingkan dengan prasasti yang ada di bawah tangga.

Khasanah Regalia Nusantara dalam Emas dan Keramik, julukan saya untuk lantai 4 Gedung Arca ini. Sayang di lantai ini tidak boleh mengambil foto. Tapi lumayan juga, soalnya kita kucluk-kucluk ke mana-mana akan ditemani satpam yang sekaligus sebagai pemandu wisata yang tahu semua keadaan di sini secara komprehensif. Lumayan, soalnya gratis :hehe.

Khasanah emas di lantai empat dibagi menjadi dua bagian besar. Khasanah Emas Jawa, dan Khasanah Regalia. Untuk khasanah emas Jawa, dibagi menjadi dua lagi, Khasanah Wonoboyo dan Khasanah Muteran. Satu kalimat yang saya tidak bisa lupa dari dua khasanah itu adalah bahwa pengerjaan khasanah Wonoboyo lebih halus ketimbang khasanah Muteran. Habisnya diulang-ulang terus sih sama pak satpam.

Penjagaan di lantai ini memang ketat. Sangat ketat. Tidak boleh mengambil foto. Setiap mengeluarkan kamera (apalagi SLR) dilarang keras. Ruangan dijaga satpam 24 jam. Akses untuk ke lantai ini hanya boleh menggunakan lift. Tangga cuma bisa digunakan oleh orang-orang tertentu. Wajar sih, karena 2013 kemarin kita sudah kehilangan empat arca emas dari museum ini. Hanya saja, terkadang saya membayangkan pengamanan yang lebih mutakhir, misalnya dengan menggunakan laser… :hehe.

Khasanah Wonoboyo, juga Khasanah Muteran, sebagian besar terdiri dari perhiasan yang umum digunakan dalam pemujaan, atau untuk hiasan kepala pada arca-arca candi. Satu replika arca pendharmaan Prajna Paramita (Ken Dedes) dipajang untuk memberi keterangan pada pengunjung, perhiasan seperti ini dikenakan di mana. Gelang tangan, gelang kaki, kelat bahu, tali upawita yang menunjukkan kasta, dan lain-lain. Yang unik adalah, ternyata zaman dahulu itu cincin dikenakan di ibu jari, bukan di tempat yang dianggap lazim saat ini :hihi.

Terdapat pula lempengan emas yang masih jadi perdebatan: apakah digunakan untuk payung (versi Hindu) atau sebagai alas duduk padma di arca-arca Buddha (versi Buddha), yang saat ini masih diteliti. Tapi apa pun maksud penggunaannya, sekarang lempengan itu tersimpan aman di tempatnya di sana :)).

Tapi bintang pertunjukan itu tentu… Mangkuk Ramayana.

Mangkuk emas 24 karat bertatahkan ukiran maharumit tentang adegan-adegan penting dalam epos Ramayana. Kalau tak salah ada delapan adegan yang diukirkan di sana. Sita yang dilarikan Rahwana. Sita yang ditipu oleh Kijang Kencana. Sebuah mangkuk bergaya Persia yang dibuat di Cina pada abad ke-10. Tunggu… berarti mangkuk ini sudah berusia seribu tahun?

Wuaduh… menatap mangkuk yang dengan kami hanya terpisahkan kaca itu sejenak membuat ada rasa mengerikan terbersit di hati, tanpa tahu apa sebabnya. Sejuta pertanyaan pun muncul mengiringi. Bagaimana kalau hilang, harganya berapa, kalau dijual apa bisa untuk membayar utang negara, dan lain-lain… eh tapi, mangkuk ini tidak bisa dinilai dengan nominal mata uang, karena nilai sejarahnya yang tidak ternilai harganya. Kenyataan itulah yang membuat ketakutan ini seolah makin menjadi. Ini harta karun dalam artiannya yang terharfiah, tersaji di depan mata kami tanpa penghalang.

Informasi dan gambar penampakan mangkuk harta karun ini bisa dilihat di laman resminya di situs Museum Nasional.

Sang satpam mengajak kami ke bagian selanjutnya: Khasanah Regalia. Regalia bisa diartikan sebagai pusaka kerajaan. Mengingat jumlah kerajaan di Indonesia itu tak terhitung banyaknya, dan mayoritas memiliki regalia emasnya tersendiri, jadilah, di sini pun koleksinya lumayan banyak.

Hanya saja, sebagian besar koleksi di sini adalah hasil pampasan perang di zaman kolonial dulu, seperti Regalia Banten, Regalia Bali dengan keris-keris bertuah asli bertatahkan intan permata dengan gagang terbuat dari gading gajah asli. Permata aneka warna itu menatap kami dengan kilauannya yang membutakan sekaligus sangat mengundang untuk dikagumi.

Berbelok di tikungan, kami melanjutkan diri dengan regalia dari kerajaan di timur Indonesia. Cuma, sang satpam sebelumnya menarik perhatian kami pada sebuah pelana lusuh yang terpajang di sudut ruangan, tanpa keterangan apa-apa. Tapi apa yang dikatakan sang satpam sekaligus pemandu itu membuat kami terkagum.

“Ini pelananya Pangeran Diponegoro, Mas. Yang asli.”

“Asli?”

Si satpam mengangguk. “Ya. Aslinya lebarnya 89 cm, tapi karena kita masih keterbatasan ruang, jadi agak dimampatkan supaya bisa muat, jadi di sini sekitar 60 sentimeter begitu.”

“Wow. Tapi bukannya ada tongkatnya, Mas? Yang baru dikembalikan dari Belanda itu?”

“Masih dikonservasi, Mas. Nanti kalau sudah selesai, akan dikembalikan ke sini.”

Saya terkesima dua kali. Pak satpam yang lagi-lagi membuktikan diri kenal betul dengan semua koleksi yang ada di sini, plus bahwa pelana di depan saya itu pernah dipakai oleh salah satu pahlawan terbesar Indonesia. Wow.

Beberapa saat terakhir saya habiskan dengan mengagumi regalia-regalia dari sisa kerajaan Indonesia yang belum saya bahas dalam paragraf sebelumnya. Siak Indragiri, Palembang, Riau, sejenak Kalimantan dan Sulawesi dengan koleksi stempel dan traktat asli dari zaman kolonial, serta perlengkapan menyirih, budaya asli Indonesia, yang terbuat juga dari emas dan logam mulia lain. Bahkan, kami menjumpai sebuah pipa rokok berukuran empat puluh senti dengan hiasan yang rumit.

Saya mencari-cari apa yang mungkin berasal dari daerah saya, Lombok. Yah, anak Lombok, pasti carinya juga peninggalan dari sana. Saya terus terang tidak kaget melihat perhiasan dari Lombok itu tidak seberapa jauh berbeda dari Bali, tapi membaca keterangannya membuat saya sedikit menahan napas.

Sejauh ingatan saya, kira-kira keterangan itu menjelaskan bahwa pada tahun 70-an, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Belanda menandatangani perjanjian untuk mengembalikan sebagian harta karun Lombok yang dirampas pada saat Ekspedisi Cakranegara.

Astaga, ternyata inilah sebagian kecil harta karun yang dikembalikan bersama dengan kitab Desawarnana itu. Cincin-cincin dengan permata dan batu mirah yang hampir sama indahnya dengan regalia lain yang ada di dalam ruangan ini menyapa, tapi yang paling menarik hati saya adalah sebuah cincin bermata sembilan, dengan warna batu mirah yang dengan sangat menakjubkannya melambangkan sembilan mata angin dalam falsafah Hindu.

Hitam di utara, abu-abu di timur laut, putih di timur, merah dadu di tenggara, merah di selatan, jingga di barat daya, kuning di barat, hijau di barat laut, sementara di tengah… warna brumbun, alias gabungan dari delapan warna itu.

Bagaimana cara membuatnya?

Ah, masih ada banyak cerita sebenarnya di dalam ruangan regalia. Sudah saya bilang, setiap benda punya satu cerita. Setiap keris punya satu tuah. Bahkan ada keris yang kabarnya apabila dikeluarkan bisa mendatangkan hujan :haha. Sayang saya tak bisa menceritakan semuanya dalam satu postingan, nanti bisa jadi buku supertebal, jadi mari kita cukupkan sampai di sini. Kami mengambil beberapa foto lain di lantai dua dan tiga, sebelum akhirnya turun dengan eskalator.

Seakan menjadi penutup, satu bentukan prasasti asli di lantai tiga membuat saya berhenti.

Prasasti Talang Tuwo.

Inskripsi asli yang berusia 1300 tahun. Sebaiknya jangan disentuh.
Inskripsi asli yang berusia 1300 tahun. Sebaiknya jangan disentuh.

Prasasti yang dibuat pada tahun 684 (umurnya sudah 13 abad) ini terkenal dengan kearifan doanya yang melambangkan kejayaan dan keberhasilan. Berbeda dengan Prasasti Telaga Batu yang, maaf, terkesan otoriter dan mengutuk, Prasasti Talang Tuwo lebih menitikberatkan pada doa tulus agar semua umat manusia mencapai kesejahteraan. Sebagaimana satu doa pada larik-larik terakhir Talang Tuwo, saya memilihkan satu sebagai pujian bagi semua pembaca, terjemahan serta transliterasi saya dapatkan dari laman prasasti di Ditjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan Dasar, Menengah, dan Kebudayaan RI:

tathapi nityakala tyaga marcila ksanti marvvangun viryya rajin tahu di samicrana cilpakala paravis
samahitacinta, tmu ya prajna smrti medhavi
Dan juga semoga senantiasa (mereka bersikap) murah hati, taat pada peraturan, dan sabar; semoga dalam diri mereka terbit tenaga, kerajinan, pengetahuan akan semua kesenian berbagai jenis; semoga semangat mereka terpusatkan, mereka memiliki pengetahuan, ingatan, kecerdasan.

Selamat menyesap sejarah. Selamat bertualang di Museum Nasional Jakarta, Jl. Medan Merdeka Barat No. 12 Jakarta Pusat. Tiket masuk Rp5.000 untuk dewasa, Rp10.000 untuk wisatawan asing.

Setelah kami keluar dari sana, barulah kami berkesempatan memotret monumen baru di Museum Nasional itu, yang dikerjakan oleh pematung yang sama dengan pematung yang membuat monumen Arjuna dan keretanya di Bundaran Indosat dan Garuda Wisnu Kencana di Bali: Nyoman Nuarta.

Nyoman Nuarta: 2012
Nyoman Nuarta: 2012

 

Kuyakin, sampai di sana :)).

Tanah lapang di depan Gedung Arca.
Tanah lapang di depan Gedung Arca.

Further reading: Prasasti Talang Tuwo di laman Ditjen Kebudayaan, Kemendikdasmenbud RI.

65 thoughts on “Kepingan-Kepingan Ekspresi dari Gajah dan Arca

    1. Museum Nasional Mbak, barat Monas, sebelah kantor Kementerian Pertahanan, satu deret dengan Kementerian Perhubungan, Mahkamah Konstitusi, dan RRI :)).

  1. Akupun udah sering bolak balik ke monas dan belum pernah masuk ke museum nasional. Lain kali ke Jakarta bakal meniatkan diri ke sini

  2. Keren Gara… Aku belum pernah masuk ke museum ini.. Padahal dulu kerja nya di Thamrin, hanya beberapa ratus meter dari museum ini.. Mungkin next time kalo ada kesempatan ke jakarta lagi, aku harus explore museum ini ya..

  3. Museum itu fungsinya kan mengedukasi. Pasti banyak yang menarik. Hanya saja kalau cuma “jualan” etalase koleksi susah lakunya. Mestinya museum itu banyak kerjasama dengan sekolah2 supaya rame. Terus mengadakan pameran spesial. Semua museum yang sukses di luar negeri menggunakan metode itu.

    1. Hoo, demikian… iya ya, kerja sama dengan sekolah-sekolah (atau komunitas sejarah) pasti bisa sedikit lebih menjual. O iya, pameran spesial seperti pameran Diponegoro itu. Sip, sip.

  4. tuh kaaan… nikmat banget baca postingamu Gara…. saya sejak sma suka ngluyur kesitu bersama sahabat saya, gila kali yaa… yang lain pada ke mal saya malah ke museum wkwkwk… cinta batu 😀 BTW, tiket masuknya masih lebih murah dari biaya parkir sejam? Sebelumnya malah 750rupiah… 😀

    1. Kalau saya sejak SMA ada di Jakarta, mungkin saya akan melakukan hal yang sama, Mbak :hihi.
      Hm… berhubung saya pakai sepeda motor yang ongkos parkirnya Rp2.000, jadi sekarang lebih mahal tiket masuknya ketimbang parkirnya :huhu.
      Rp750 itu murah banget… andaikan ada museum yang tiket masuknya segitu saat ini :eh.

  5. Gara…, lagi baca buku apa? ntar direview ya..
    sejarah itu nikmat kan.., tapi aku jadi nggak bisa main ke sini lagi kalau jam istirahat Jumat.., udah jauuuh….,
    kalau ada pameran biasanya aku usahakan banget datang lagi

    Gara beruntung ketemu satpam yg ngerti, aku pernah nanya letaka Padrao aja, semua yg di pintu masuk, yg jaga karcis dan satpam nggak ada yg tau.., akhirnya nyari petugas benerannya, he..he..
    gaya berceritamu enak, ngepop.., semoga aja teman2 yg baca jadi ikutan tertarik pada museum

    1. Iya Mbak, sedang baca buku tentang candi-candi zaman Majapahit :hehe. Lumayan bikin mupeng dan mengkhayal kapan saya bisa ke sana :huhu.
      Sejarah itu nikmat dan menyamankan hati, Mbak :hihi.
      Oh, batu Padrao itu… kalau tidak salah di belakang meja informasi yang sebelah kiri ya Mbak pintunya :hehe.
      Terima kasih banyak Mbak :)). Amin, semoga makin banyak pembaca yang mau jalan ke museum :)).

  6. Sepertinya tak cukup sekali menyambangi museum ini. Saya sendiri masih mau balik lagi buat melengkapi gambar & kisah. Btw trims Gara, caramu bertutur bikin berasa ikut sedang tour di museumnya 😉

  7. mantap ulasannya, gar. apa saya kalau ke museum bisa bikin tulisan kaya di atas yah? 😀

    Koleksi Papua: Tas dengan hiasan kaki-kaki hewan. —> ini mikir kaki hewan asli yang diawetkan

    1. Pasti bisa, Mas :)).
      Oh, sepertinya saya lupa bilang kalau itu memang kaki hewan asli… :hehe :peace. Bahkan ada juga kalung gigi-gigi manusia :hehe.

  8. Baca tulisan ini berasa ikut jalan-jalan, sama sekali nggak membosankan. Padahal dulu aku kurang antusias belajar sejarah kerajaan hindu-budha di Indonesia. Foto-fotonya bagus, Bli, caption-nya juga menarik.

  9. Wah ada koleksi artefak dari emas juga ya di museum nasional 😐 saya kelewatan. Berarti harus revisit museum ini lagit 😀 Terus itu empat arca emas bisa hilang dari museum nasional gimana ceritanya, sayang banget euy, bukan cuma masalah harganya, tetapi nilai historisnya begitu berharga!

    1. Iya Mas, hilang sekitar September 2013, dari lemari di ruang khasanah lantai 2 gedung gajah. Entah dibawa ke mana, tapi ada kecurigaan muncul soalnya kunci lemari tempat menyimpan arca itu tidak rusak.

  10. Aku merinding baca postingan ini, dan gak sabar untuk bisa berkunjung ke museum satu ini. Malu banget ini bikin pengakuannya, seumur-umur belum sempat ke Museum Nasional.

    1. Museum Nasional ini kudu wajib Mas :hehe. Beberapa arca yang tidak ada di tempat aslinya, atau tempat asalnya sudah musnah, ternyata disimpan di sini :)).

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?