Kena Hujan, Kena Panas: Arca-Arca di Luar Ruangan

Arca dan prasasti lain saya simpan untuk tulisan setelah kunjungan kedua ke museum ini saya rampungkan di 2017. Terlalu banyak cerita arca kalau sebuah museum arca sudah kita kunjungi. Satu kunjungan saja tak akan pernah cukup untuk menggali dalam makna dari batu-batu yang tak ternilai harganya itu. Tapi saya percaya, pelan-pelan, pasti semua hal yang ingin saya ceritakan bisa tersampaikan. Mudah-mudahan, ya.

Mbak Mimin, masih memegang sapu, mengajak kami ke luar. Tentu untuk menjumpai koleksi-koleksi yang diletakkan di halaman museum. Tidak ada alasan khusus soal kenapa benda-benda ini diletakkan di luar, selain karena ukurannya yang besar. Beberapa arca, demi keamanan, bahkan sudah disemen. Akan jadi sedikit susah bagi seseorang yang punya niat jahat untuk membawa benda-benda ini pergi.

Buddha Aksobhya

buddha-aksobhya-museum-mpu-purwa-2

Bintang acara di halaman depan ini, sudah tentu, patung Buddha gundul yang duduk tegak di tengah-tengah halaman. Dari mudranya, Buddha ini adalah Dhyani Buddha Aksobhya, Buddha untuk arah timur. Agak sayang melihat patung ini justru dihadapkan ke arah tenggara (cenderung selatan, mungkin), padahal menurut saya maknanya justru lebih tampak jika patung ini dihadapkan ke timur.

Tentang mudranya, Dhyani Buddha Aksobhya ditampilkan dalam Bhumisparsamudra, yang secara harfiah artinya menyentuh bumi sebagai saksi. Menurut informasi, Dhyani Buddha Aksobhya dikatakan sebagai Buddha yang mengubah kemarahan menjadi introspeksi diri.   Perubahan itulah yang ditampilkan di mudra ini; ketika sifat membumi menjadi kunci untuk sadar akan keadaan diri.

Saya sangat bersyukur arca ini masih dalam keadaan lengkap. Tak terlalu banyak kerusakan berarti kecuali sedikit retakan di lapik arca. Arca ini pun menurut saya tak dikerjakan sembarangan; arca ini sangat halus sampai-sampai saya bingung apakah arca ini memang dibuat halus atau ada peranan alam dan waktu yang menjadikannya aus.

buddha-aksobhya-museum-mpu-purwa
Patung Buddha Aksobhya di Museum Mpu Purwa.

Dengan mengesampingkan arca-arca pendeta Buddha (yang juga gundul) di Museum Nasional, sejauh ini baru dua arca Buddha gundul yang saya temui. Selain di sini, ada satu lagi arca Buddha gundul di Surabaya. Arca yang di Surabaya lebih spesial karena dua hal: pertama, arca ini adalah perwujudan Kertanegara sebagai Jina/Buddha (sebagaimana diketahui, Kertanegara menganut dua agama [Siwa dan Buddha] sehingga ketika ia meninggal, ia disimbolkan dalam dua agama itu) dan kedua, di bagian bawah arca itu terdapat tulisan prasasti, yang umum dikenal sebagai Prasasti Wurare.

Meskipun demikian, satu rasa yang sama dari setiap arca perwujudan Buddha yang saya temui adalah ketika saya mencoba menatap wajah sang Buddha. Yang balas menatap saya adalah sebuah wajah yang nirekspresi dalam meditasi tak putusnya, tapi di saat yang sama, memberikan keteduhan.

Duh.

Makara Gajahmina Superbesar

Bentuk dan lengkungan benda berbahan batu andesit itu tidak bisa menipu. Lengkungannya pasti akan langsung dikenali. Ya, kami juga tidak butuh waktu lama untuk kenal dua buah benda yang ada di sebelah belakang Buddha Aksobhya sebagai hiasan yang mesti ada di sebuah pipi tangga candi. Benar, ini sebuah makara. Namun pertanyaan yang juga langsung menyeruak adalah: candi mana yang punya makara sebesar dan semegah ini?

makara-gajahmina-museum-mpu-purwa
Makara Gajahmina

Makara ini ukurannya tidak kecil. Brosur museum memberi ukuran tepat tentang makara ini. Panjangnya 1,3m, tebalnya 0,6m dan tingginya 1,2m. Sekarang, bayangkan benda ini menjadi ujung pipi tangga sebuah candi. Dengan ujung pipi tangga yang sebesar ini, saya belum bisa membayangkan akan setinggi apa tangga candi yang di ujungnya terdapat benda ini. Dan lebih lanjut, saya tidak bisa membayangkan akan sebesar apa candi yang jadi pokok persoalan di sini, jika pipi tangganya saja sebesar itu.

Ukiran di batu andesit ini juga tidak bisa dikatakan sembarangan. Untuk ukuran sebuah pipi tangga candi yang umumnya hanya berupa ukel sederhana tanpa hiasan, makara yang satu ini punya ukiran yang sangat indah lagi rumit. Taring dan belalai diukir dengan presisi, bahkan ada ukiran di bagian-bagian terdalam dan terkecil.

Dari penjelasan Mbak Mimin yang didukung brosur museum, makara ini kira-kira berasal dari abad ke-8 sampai ke-10M. Ukirannya di bagian depan menampilkan belalai gajah, namun di bagian belakang seperti insang ikan. Dalam kepercayaan Hindu, makhluk ini dinamakan gajahmina, gabungan dari gajah dan mina (ikan). Dari dalam mulut sang gajamina itu muncul seekor singa kecil, yang langgamnya sepintas mirip dengan singa-singa di Candi Prambanan dan Candi Ngawen, Jawa Tengah. Candi ini boleh jadi sezaman dengan kerajaan Mataram lama.

Saya tak terpikir ini sampai saya mengetik postingan ini, namun jika memang benar di Jawa Timur ada candi dengan makara dengan besar yang proporsional dengan makara yang ada di depan saya, dan dengan analogi yang sudah saya kemukakan di awal bagian ini, maka boleh jadi pernah ada candi yang besarnya fantastis di bumi Jawa Timur, yang boleh jadi menandingi kemegahan Prambanan di Tatar Kewu.

close-up-singa-makara-museum-mpu-purwa
Close up singa di makara Museum Mpu Purwa

Sekadar informasi, makara ini ditemukan di daerah Njoyo-Merjosari, Malang. Saya kurang hapal daerah-daerah di Kota Malang, namun jika kelurahan ini tidak seberapa jauh dari kompleks Badut-Karangbesuki… maka ada kemungkinan daerah ini, seluruh daerah ini, merupakan kompleks percandian, atau paling tidak pusat peradaban yang cukup maju di milenium pertama Indonesia. Jelas, hal itu sangat tidak bisa dianggap remeh.

Saya tidak begitu kaget dengan kemungkinan pusat peradaban itu mencakup wilayah yang demikian luas, kata-kata juru kunci Candi Songgoriti masih terngiang di benak, memberi keyakinan. Dengan demikian, bukan tidak mungkin ada sesuatu yang masih terpendam dalam di bawah sana, menunggu waktu yang tepat untuk naik dan muncul ke permukaan.

27 thoughts on “Kena Hujan, Kena Panas: Arca-Arca di Luar Ruangan

  1. Ah ngomongin sejarah Mataram Kuno sampai Majapahit gak ada habisnya, banyak banget yang bisa dijadikan bahan tulisan, soalnya sejarahnya gak dicatat secara mendetil tapi vital banget bagi pulau Jawa, Bali, Sumatra, bahkan seluruh Indonesia!

  2. Kalau ada makara yang ditemukan di Jawa Timur yang sezaman dengan Mataram Kuno periode Jawa Tengah, dan ada kompleks percandian / pemujaan di situ, berarti ada kemungkinan ada peradaban, bahkan kerajaan di Jawa Timur yang sezaman dengan Mataram Kuno periode Jawa Tengah, dan ini belum diulas dan digali oleh sejarawan!

    1. Belum digali lebih jauh, tepatnya. Sejauh ini Jawa Timur lebih banyak digali soal Airlangga ke belakang, dan lebih khusus lagi, Majapahit. Soal peradaban yang semasa dengan Jawa Tengah sudah ada dibahas, tapi sebatas penemuan arkeologis berupa candi dan prasasti saja, itu pun tidak banyak. Saya tertarik sih dengan perpindahan budaya Jateng ke Jatim ini dan mengapa mereka berkembang dengan langgam yang berbeda, hehe. Banyak yang harus ditelaah, Mas.

  3. iiih .. Gara jadi merinding membayangkan masih ada kemungkinan terpendamnya sebuah candi sangat gede tempat makara itu berasal..
    bagian2 lain yang kira2 berasal dari candi yang sama dengan makara itu belum ada ya Gara?

  4. Hmmm, masuk akal juga ya Gara. Semakin besar candi, tentu kemungkinan rusaknya juga semakin besar dan (jika rusak/hancur beneran karena suatu alasan), yang tersisa hanyalah bagian-bagiannya saja, yang sedikit menunjukkan ukuran asli candinya! Seru juga memikirkan dulu mungkin ada candi lain yang sebesar atau bahkan mungkin lebih besar dari, misalnya, Prambanan atau Borobudur? Hmm

    1. Betul sekali! Membayangkan Gunung Padang yang konon lebih besar dari Borobudur saja sudah membuat senyum-senyum sendiri. Memang struktur-struktur masif nan spektakuler itu ada!

  5. Suksma Gara, boleh ikut belajar dari postingan ini. Ragam hiasan di arca variatif banget ya. Duh hidup sekali cara Gara menuliskan setiap arca. Seni belajar sejarah dengan memikat.

  6. Mas Gara, ada nggak sih standar khusus untuk menyimpan benda purbakala seperti ini? Memang sih kalau kulihat ada beberapa peninggalan/petilasan yang hanya ada patung kecil dan rusak, serta lainnya. Seringnya terbengkalai. Entahlah, terasa makjleb gitu kadang lihatnya.

    1. Ada Mas, untuk mencegah aus dan keropos karena pengaruh hujan dan panas, mestinya artefak candi yang ukirannya presisi dan jumlahnya terbatas disimpan di dalam ruangan. Tapi masih banyak keterbatasan dalam konservasi, sehingga tentu ada benda-benda yang diutamakan pelestariannya, ada juga yang seperti ini dulu, untuk sementara, hehe…

  7. Aku gak kepikiran kalau misalnya sampai harus merekonstruksi ukuran candi berdasarkan makaranya. Tapi masuk akal juga sih. Sebagaimana dengan cara yang lain para ahli bisa memperkirakan wajah seseorang dari sisa tengkorak, bahkan rahang, dan ukuran geliginya. Cuma yang aku baru tahu, tentang adanya percandian berbahan batu andesit di Jawa Timur pada masa Mataram Kuno. Aku pikir selama ini, hanya daerah Jawa Tengah dan sedikit Jawa Barat saja yang memilikinya. Dan kalau misalnya analisa itu tepat, maka Jawa Timur menyimpan ‘harta karun’ yang sangat menarik dari era itu.

    1. Ada sebuah kitab dari India mengenai tata cara pembuatan candi. Namanya Manasara. Meskipun candi di Indonesia kebanyakan tidak sepenuhnya menuruti kitab itu, tapi dari segi ukuran, bisa kita perkirakan, hehe.
      Betul, dari segi peradaban Hindu, Jawa Timur tidak kalah juga tuanya dengan Jawa Tengah dan Jawa Barat, hehe…

  8. Komplek Badut memang tidak seberapa jauh dengan Merjosari. Saya sepakat pada dua paragraf terakhir di tulisan ini. Besar kemungkinan akan muncul wujud-wujud peradaban yang selama ini belum terkuak, dan semoga yang sudah ada terjaga dengan baik.

  9. saya pernah main ke kompleks Badut-Karangbesuki .. dipikir2 betul juga kemungkinan daerah ini komplek percandian tapi sepertinya penelitiannya disana tidak intensif … sayang kalau sampai di biarkan begitu saja

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?