Kebun Raya Bogor Dalam Catatan Peneliti

Riwayat Kebun Raya Bogor, atau Bogor secara umum, dalam khasanah penelitian tumbuh-tumbuhan telahlah panjang. Setidak-tidaknya lebih panjang daripada umur saya.

Sebagai sebuah kota yang kaya akan flora dan fauna tropis, Bogor merupakan tempat yang tepat sebagai titik awal penelitian tumbuh-tumbuhan. Lokasinya strategis, ia tak terlalu jauh dari ibu kota. Tambahan lagi dengan iklim yang ajaib, membuat Bogor pernah jadi satu dari sedikit tempat di dunia, kalau tidak mau dibilang satu-satunya, yang sangat cocok bagi para peneliti untuk menelaah lebih jauh soal tanaman khas di daerah kaya hujan.

pintu-laboratorium-treub
Pintu masuk ke Laboratorium Treub. Mengingat saya bukan pegawai, saya belum bisa masuk.

Dulu sekali, pernah ada satu surat dikirimkan pada redaksi majalah Botanical Gazette bulan Desember 1896. Dijilid dalam Volume 22 dari majalah itu, si surat menerangkan tentang Kebun Raya Bogor bagi para calon peneliti yang sekiranya berminat menelaah soal flora dan fauna di daerah tropis. Surat itu ditulis oleh David G. Fairchild, seorang peneliti muda (27 tahun) yang kala itu sedang bertugas di Bogor. Kira-kira isi suratnya seperti ini:

“Dr. Treub, the director of the gardens, is taking steps to establish an international affair here, similar to that at Naples, except that the whole expense of running such a place will be borne by the Dutch government. I am anxious to see a table here and hope when I return to get assistance in bringing this about. What is needed is a yearly or bi-yearly grant which will enable a botanist or a zoologist to spend six or eight months at the gardens. Tickets are now sold from Hong Kong to New York for forty-five poundsterling, and it is very probable that if proper steps were taken round trip fares could be obtained for seventy-five pounds. It will require another hundred pounds to support a man here for six or eight months. Board, room, washing, and servant cost about $45 a month. It must of course be remembered that the table is free, providing we get a grant which will enable a man to come here. There is no question as the wealth of the material, and I trust that sufficient interest can be aroused to give Americans a chance to utilize it. Various German societies have already acted in the matter.

As for climate and its effects on one’s health, I need only say that I work with the microscope from 6:30 a.m. to 8:30 a.m., and from 9:30 a.m. until 1:30 p.m. After 8:00 p.m. attempts at work bring on sleeplessness, which must be avoided…. I find it easy to get everything needed here in the way of apparatus, literature, etc. There are chemical, entomological, and botanical laboratories within easy reach, and a fine library, where most of the important botanical journals are kept on file. Everything is conducive to good work; in fact in this respect the place is the best I have so far seen.”

david-g-fairchild
David Fairchild. Sumber: Wikipedia

Ketika saya mencari soal Pak Fairchild di dunia maya, saya beroleh informasi bahwa ia seorang ahli botani yang cukup dikenang dalam dunia perbotanian di Amerika. Menantu Alexander Graham Bell (si penemu telepon) ini adalah orang yang memperkenalkan sekitar dua ratus ribu tanaman baru ke Amerika Serikat. Yang menarik, rumahnya di Amerika Serikat sana dinamai “The Kampong”, yang, jika saya menyitir artikel Wikipedia tentang beliau, “dinamai seperti peninggalan keluarga yang serupa di Jawa, Indonesia, tempat Fairchild menghabiskan begitu banyak hari-hari bahagianya mengumpulkan tumbuh-tumbuhan.”

Jujur, saya jadi mengenang betapa besarnya Kebun Raya Bogor, dan Bogor secara umum, di masa lalu. Sepertinya begitu banyak ahli botani dari seluruh dunia rela datang jauh-jauh ke kota yang basah itu untuk meneliti soal flora dan fauna daerah tropis. Bahkan sekelas David G. Fairchild.

Hebatnya, Bogor bagi mereka tidak hanya menjadi tempat penelitian. Lebih dari itu, Bogor menjadi tempat yang selalu dikenang, karena berbagai sebab.

Secara teknis, tentunya, salah satu penyebab Bogor dapat nama besar di kalangan peneliti adalah lantaran kekayaan flora dan fauna yang dimilikinya, bersama daerah-daerah sekitarnya. Saya tidak menyangsikan itu. Namun, objek penelitian semata tidaklah cukup. Sebagaimana yang dijelaskan Pak Fairchild dalam suratnya, fasilitas di Bogor pun sangat lengkap dan menunjang bagi para peneliti di bidang tumbuhan tropis dan tumbuhan langka. Tidak heran, nantinya nama-nama besar peneliti di bidang botani dan zoologi lahir dari, atau setidak-tidaknya pernah melakukan penelitian di kota ini.

Ada beberapa indikatornya sesuai dengan surat itu. Pertama, pemerintah kolonial sangat mendukung perkembangan teknologi yang berkelas dunia di Hindia Belanda, dengan cara menanggung penuh seluruh biaya operasional kebun raya (the whole expense of running such a place will be borne by the Dutch government). Itu seakan-akan menunjukkan komitmen pemerintah untuk “meneliti habis” kekayaan flora dan fauna Indonesia,yang sudah diakui sendiri sebagai “tak perlu dipertanyakan” (there is no question as the wealth of the material).

Dengan komitmen seperti itu, pada gilirannya tentu saja semua fasilitas penelitian juga disediakan. Sebagaimana diakui di dalam surat itu, ada banyak laboratorium tersebar di kompleks kebun, seperti laboratorium kimia, laboratorium serangga, dan laboratorium tumbuh-tumbuhan, dan mereka semua punya koleksi yang sangat lengkap, sampai ke perpustakaannya, yang menyimpan jurnal-jurnal botani penting dunia (pada masa itu).

treub-laboratorium-kebun-raya-bogor
Laboratorium Treub, Kebun Raya Bogor

Sampai hari ini, laboratorium-laboratorium itu masih ada gedungnya. Di sekitar Kebun Raya Bogor kini memang banyak gedung milik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Beberapa di antaranya, yang masih berwujud bangunan tua, punya informasi yang menyuratkan bahwa gedung itu dulunya sebuah laboratorium. Beberapa di antaranya pun sepertinya masih digunakan sebagaimana aslinya dulu.

Tak cuma laboratorium dan isinya, orang-orang yang ditugasi pemerintah untuk mengampu lembaga itu pun adalah para peneliti terkemuka di bidangnya. Saya mengenali nama Dr. Treub yang disebut dalam surat itu sebagai Dr. Melchior Treub, salah satu kepala Kebun Raya Bogor yang namanya kini diabadikan menjadi nama sebuah laboratorium di dalam Kebun Raya Bogor.

Dari surat itu, seseorang juga bisa tahu soal bagaimana kehidupan sehari-hari seorang peneliti asing di Bogor pada akhir abad ke-19. Soal pekerjaan rumah tangga agaknya bukan masalah, sebab seluruh fasilitas (penginapan dan pekerja rumah tangga) sudah disediakan pihak kebun raya. Seorang peneliti dituntut mencurahkan waktunya penuh untuk meneliti, mengingat ia sudah dibiayai untuk itu. Ini artinya, pekerjaan peneliti sangat bergantung pada penyandang dana. Bisa dibilang, dilihat dari segi lembaga donatur, tugas seorang peneliti bagaikan investasi. Tentunya dalam artian yang agak terselubung.

wisma-tamu-kebun-raya-bogor
Wisma Melchior Kebun Raya Bogor

Ngomong-ngomong, sampai kini kita masih bisa melihat wisma tamu di samping laboratorium di dalam Kebun Raya. Mungkinkah dahulu Pak Fairchild juga tinggal di wisma tamu ini?

Surat itu juga, pada akhirnya, memberi informasi tentang jam kerja seorang peneliti di masa lalu. Pak Fairchild menulis bahwa ia bekerja dari pukul 6.30 sampai pukul 8.30 pagi, kemudian dari pukul 9.30 sampai pukul 13.30 siang. Pekerjaan sebaiknya tidak dilanjutkan sampai malam, karena kerja begadang justru membuat insomnia (After 8:00 p.m. attempts at work bring on sleeplessness, which must be avoided.)

wisma-melchior-kebun-raya-bogor
Salah satu sudut wisma tamu di Kebun Raya Bogor.

Namun, jika kita pikir-pikir lagi, besar kemungkinan bahwa Bogor demikian membekas tidak hanya karena ia merupakan pusat penelitian berkelas dunia. Kota ini memiliki sesuatu yang lebih; sesuatu yang membuat orang yang singgah padanya enggan pulang. Mungkin, semua keajaiban yang Bogor miliki membuat orang yang berasal dari seberang lautan pun merasa bahwa Bogor adalah rumah. Dibutuhkan banyak keajaiban terkait itu, tentu saja.

Sebelum terlalu panjang, dan memang tulisan ini masih sangat bisa memanjang, lebih baik saya pungkaskan sampai di sini. Postulatnya, yang moga-moga menggugah kita semua untuk lebih asyik dan lebih bangga menjelajah Bogor, adalah bahwa begitu terkenalnya Bogor di masa lalu sampai-sampai seorang ahli botani besar menulis di suratnya, bahwa “nyatanya, dalam konteks ini, tempat ini adalah yang terbaik yang pernah ia lihat sejauh ini (in fact in this respect the place is the best I have so far seen)”.

28 thoughts on “Kebun Raya Bogor Dalam Catatan Peneliti

  1. Bogor, dari dulu saya ingin sekali ke bogor tapi belum kesampaian, saya penasaran sekali dengan Kebun Raya Bogor ini ditambah membaca sejarah dari tulisana mas Gara ini. Begitu luar biasa rupanya kebun botanical kita ini di mata dunia, saya sebagai orang Indonesia sangat bangga sekali taman botanical kita di Bogor tidak kalah dengan Singapore Botanical Garden for example atau botanical garden yang ada di Australia. Semoga Kebun Raya Bogor semakin keren dan menjadi icon botanical garden dunia.

    1. Ayo ke Bogor, Mas. Luar biasa banget memang kebun raya kita ini, konon pernah menjadi satu yang termegah dan terbesar, menjadi kiblat dari penelitian untuk kekayaan hayati di daerah tropis. Paling tidak kita bisa merasakan kejayaan itu ketika berkunjung langsung, hehe. Saya pun tak sabar untuk segera ke sana lagi karena pasti masih banyak cerita yang disimpan kebun ini. Mudah-mudahan akhir pekan ini bisa ke sana lagi, amin.

  2. Aku dulu pernah tinggal dan kuliah di Bogor, tapi koq malah gak betah ya 😁? Mungkin karena dulu aku masih ingin bertualang & melihat Bogor terlalu kalem, apalagi suasana di kampus yang terkesan ingin me-rohisasi semua..
    Mungkin suatu hari di masa tua jika sudah puas bertualang, jika ditawari tinggal di Bogor dengan fasilitas yg kurang lebih sama dengan Pak Treub 😁… aku gak akan nolak 😊.

    1. Wah itu sisi lain Bogor yang patut pula diangkat, agar berimbang, hihi.
      Tentu saja. Penginapan, pekerja rumah tangga, pokoknya terkait hal-hal itu sudah terima beres. Itu saya juga mau…

  3. Wah kalau ke Bogor hampir seriap minggu saya lewat lewatin kebun raya ini. Aku kira ya cuma sekadar taman saja, tidak terlalu menarik, tapi banyak cerita-cerita dibalik penelitian di kebun ini yg aku ga tau. Aku suka cerita masnya, ada aja info baru yg aku ga tau ☺
    Memang aku rasa KRB ini skrg kurang diurusin dgn sepenuh hati ya. Kemarin baru ke kebun raya di Australia itu keren, rapih, informatif, dan fasilitas lengkap. Padahal ya kalo dibanding dgn koleksi KRB Bogor gada apa2nya haha

    1. Wkwk, sebagaimana halnya dengan peninggalan-peninggalan lain di Indonesia, Mas. Kadang pengurusannya kurang maksimal dan penuh dengan keterbatasan. Beda jika dibandingkan dengan negara lain yang sudah punya kemampuan berlebih. Negara kita masih punya hal-hal yang mungkin masih punya hal-hal yang secara prioritas lebih tinggi.

    1. Kebun Raya Bogor sangat kaya, Mas. Dalam semua arti. Ilmu pengetahuan, sejarah, kisah cinta, bahkan kisah mistisnya juga ada, hehe. Saya rasa masih sangat luas peluang untuk mengulas kebun ini, dan saya yakin tidak akan habis juga.

  4. Baru sekali main ke Kebun Raya Bogor, dan kesimpulan setelah ke sana itu GEDE BUANGET!!!
    Wah kayaknya kalo saya sebagai peneliti terus dipasrahi laboratorium di sana, bakal seneng dan bangga banget. Aku membayangkannya siapa sih peneliti (botani) yg gak kepengen penelitian di sana gitu. Eh malah jadi penanggung jawab lab. Beuh.

    1. Mohon benarkan jika saya salah, namun seingat saya KRB adalah kebun raya pertama di Asia Tenggara dan pernah jadi yang terbesar juga. Jadi kita memang patut banget berbangga, hehe.
      Tentunya! Peneliti yang pernah datang kemari pasti punya sumbangsih besar di dunia ilmu pengetahuan. Beberapa di antara mereka bahkan punya monumennya sendiri di dalam kebun ini, hehe.

  5. Belum puas ngublek Bogor dan kebun rayanya. Beberapa tahun lalu malah cuma sekian jam saja keliling Kota Bogor. Cuma dapat museum dan makam yang bikin penasaran banget siapa saja dan apa peran besar mereka terhadap Kebun Raya Bogor. Lalu menerawang dari jauh bangunan-bangunan wisma yang ternyata sudah dijelaskan Gara di sini.

    Kira-kira perlu berapa hari ya masuk keluar kebun dan belajar sejarah permukiman Eropa dan mungkin juga konsetrat warga Amerika di sana? 😀

    1. Hayuk Mas ajak-ajak saya kalau mau jelajah Bogor lagi, hehe…
      Saya juga tidak tahu Mas berapa banyak kunjungan yang bisa membuat jelajah di Bogor menjadi ‘lengkap’. Yang jelas tidak akan selesai dalam satu dua kunjungan saja, hehe.

    1. Penelitian apa tuh, Mbak? Haha. Tidak, saya tidak ikut penelitian di sini, kecuali ‘penelitian’ kecil-kecilan soal sejarahnya, itu pun kalau kebetulan ada bahan, hehe.

  6. Akhirnya ada tulisan bung Gara yg bisa saya pahami tanpa berkali-kali baca. 😂

    Kebun raya ini memang suasananya menunjang banget buat penelitian. Udaranya bagus, pemandangannya hijau, dan tenang banget rasanya.

    Kalau saya seringnya ke sini untuk olah raga aja. Tapi entah kenapa kok saya merasa kebun raya bogor ini kurang terurus ya. *cuma perasaan saya aja*

    1. Wah, terima kasih, hehe. Semoga tulisan saya di masa depan bisa lebih baik lagi.
      Betul. Kendati sekarang Bogor dan sekitar Kebun Raya terkenal dengan angkot yang jumlahnya menggila, hal itu tidak terasa di dalam Kebun Raya.
      Itu bukan perasaan saja sih, kalau menurut saya… sebab terkadang saya merasa demikian juga. Mungkin satu tulisan lain soal ini akan membuatnya jelas, hehe.

  7. Hmm setelah membaca ini, saya baru sedikit membayangkan romantisme Bogor karena saya sendiri belum pernah menginjakkan kaki di sana.
    Sedikit berbeda ya dengan kota lain, yang pada masanya berkembang sebagai kota perdagangan. Nah kalo Bogor ini ternyata menarik sekali ya Mas Gara. Tempat berkumpulnya para ahli botani dunia. Dan letaknya pun ga jauh dari Batavia.

    1. Romantisme yang sama mungkin membuat Jokowi lebih betah tinggal di Bogor meskipun kantornya di Jakarta. Padahal di Jakarta pun ada istana, dua buah pula jumlahnya, hehe.
      Datanglah ke Bogor, Mas. Banyak kejutan menanti di sana.

  8. Wah, udah lama banget nggak ke Kebun Raya. Terakhir ke sana waktu masih bocah hehe 😀
    .
    Dari postingan ini saya baru tahu, ternyata sejarahnya sehebat itu. Untuk ukuran zaman itu (bahkan sampai sekarang), proyek untuk mengumpulkan dan meneliti segitu banyak jenis flora benar2 luar biasa

  9. ada teman blogger yang hiatus panjang sekarang jadi peneliti di sana
    dan selalu bikin mupeng karena sering upload foto tanaman2 langka, bahkan ada yang puluhan tahun sekali abru berbunga..
    jadi bangga denga kerja keras para peneliti dahulu mengumpulkan semuanya di KRB

  10. Dulu pernah duduk di seberang wisma ini. Ada tanaman yang daunnya lucu… putih bersih gitu transparan ada matanya.

    Kota ini memiliki sesuatu yang lebih; sesuatu yang membuat orang yang singgah padanya enggan pulang. << bener banget. jadi kangen bogor. hiks.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?