Java Jazz Festival #2: Judulnya Jazz, Kan?

Ternyata, malam itu Gilang Ramadhan sedang berkolaborasi dengan band yang namanya Komodo Project. Mereka membawakan lagu-lagu yang menurut saya lumayan enak, meski saya awalnya sempat bingung apakah ini jazz atau bukan, soalnya lebih terdengar seperti lagu pop, sih. Mungkin juga saya salah, soalnya saya belum pernah mendalami jazz yang banget-banget sebelum ini :hehe.

Komodo Project
Komodo Project
Its bassist.
Its bassist.
Once again, Mas Gilang!
Once again, Mas Gilang!

Pertunjukan ditutup dengan apik lewat satu lagu cinta yang penonton juga diajak bernyanyi dengan begitu interaktifnya. Sebuah lagu berbahasa Flores tentang pasangan yang bagaikan matahari bagi si penyanyi. Hati para penonton pun dibuat meleleh ketika si vokalis meminta penonton yang berpasangan memegang tangan kekasihnya sambil mengikuti lirik si penyanyi, “Kaulah matahariku.” Wuhu.

The vocalist.
The vocalist.

Setengah dua belas malam ketika pertunjukan Gilang Ramadhan dan Komodo Project resmi ditutup. Payung Teduh baru manggung setengah jam lagi, jadi kami tidak ada kerjaan. Bosan juga, apalagi semakin malam tempat ini bukannya tambah ramai, tapi malah makin sepi :haha. Saya mengambil beberapa foto untuk membuktikan bahwa Jumat malam itu PRJ tidak seramai biasanya.

Empty...
Empty…
Even the booth was.
Even the booth was.

Mbak Din tertarik dengan sebuah booth permainan dari salah satu sponsor rokok. Saya mengamati sebentar permainan itu. Kelihatannya mudah. Cuma memilih kata-kata dari lirik lagu supaya sesuai dengan urutan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Poin terbesar sampai Minggu nanti bakal dapat satu tiket gratis untuk menonton Jessie J di Hall D2 pada acara Special Show (SS). Informasi yang saya dapat adalah kalau seseorang mau menonton SS itu, orang itu harus bayar lagi. Meminjam dan memodifikasi istilah dari Mbak Santi, kalau di situ namanya Muter-ception, di sini namanya Bayar-ception. Sudah masuk venue-nya bayar, mau nonton konser mesti bayar lagi.

Hadoh, ekonomi berbiaya tinggi!

Dan saya cobalah itu game. Ternyata tidak susah, sumpah. Gampang, kok. Tidak tahu juga kenapa mbak-mbak yang coba sebelum saya mesti pakai teriak-teriak panik seolah baru memergoki jemurannya dicuri maling kambuhan. Touch screen-nya memang agak tricky, jangan dipencet pakai tangan keseluruhan, tapi cukup pakai satu jari saja. Mudah. Apalagi beberapa lagunya saya kenal. Saya memilih lagu yang dinyanyikanΒ Ruth Sahanaya (Andaikan Kau Datang Kembali), Tulus (Seribu Tahun Lamanya), sama lagunya siapa lagi satu penyanyi itu saya lupa.

Poin saya 30.687.

Mbak Dina kaget. “Dek, tiga puluh ribu Dek!”

Si Mbak penjaga stan kaget. “Hah ini gue nggak tidur kan ini? Buset! Tinggi banget?”

“Gue juga nggak tidur, Mbak,” jawab saya.

Begitu klasemen dibuka, barulah ketahuan kalau poin tertinggi sebelum saya adalah 15.000-an :hehe :peace.

Tampaknya Mbak Dina menyadari kalau poin tertinggi itu ada kemungkinan untuk bakalan diberi uang Rp500k atau tiket Jessie J.

“Eh, eh, Mbak, jadi ini ada kemungkinan masuk tiga besar nggak buat dapat uang atau tiketnya?” tanyanya.

Pikiran saya malam itu masih belum tersambung penuh–kenyataan kalau saya sudah stop begadang sejak tiga tahun lalu membuat pikiran saya kembali ke zaman masih anak-anak dulu–menzombie kalau sudah di atas jam sebelas malam.

Si Mbak cengengesan sambil menjawab kalau dirinya tidak tahu. Dia cuma memberi saya sebuah goodie bag dan satu T-shirt sponsor.

Lucky me!

Kami kemudian menuju tenda tempat banyak stan-stan sponsor. Saya tak heran melihat ada stan bir, yang ramai pengunjung di tengah malam begini. Seingat saya, ada satu klausula di tiket masuk yang mengatakan bahwa berhubung acara ini disponsori oleh perusahaan rokok dan perusahaan minuman keras, jadi dilarang membawa anak-anak berusia di bawah 15 tahun, kalau saya tidak salah.

Lah? Terus yang barusan saya lihat anak SMP sama bapaknya itu siapa? Dan bukankah sebelum ini saya sempat papasan dengan seorang ibu modis yang mendorong kereta bayi?

Haduh, aturan!

Beberapa penjaga stan sudah mulai menutup stannya, sementara tenant-tenant lain baru mulai mempersiapkan karena mereka baru akan buka stan esok hari (Sabtu). Oh, mungkin ini juga penyebab malam Sabtu kemarin JJF tidak terlalu ramai. Namanya juga hari pertama, ya, belum buka semua stannya. Good for us, actually, karena saya tidak tahu jadinya akan jadi seperti apa kalau mesti berdesak-desakan saat menonton konser :hehe.

Sebenarnya kami kepingin ikut games lagi. Maklum saja, kepercayaan diri sedang tinggi-tingginya. Sayang, stan yang kami rencanakan untuk datangi sudah tutup. Sebuah stan yang menyajikan permainan-permainan anak tahun 90-an. Nostalgia banget kalau kami bisa main-main dulu di stan itu, tapi karena tidak bisa, tidak apalah.

Generasi 90-an, angkat tangan dong :haha!

Sebagai hadiah hiburan, kami berfoto saja di mesin FreePhoto yang ada di sana. Dan saya baru tahu kalau mesin foto itu gratis! Cuma ya memang, loading-nya agak lama, tapi tetap saja gratis mengalahkan segalanya. Hasilnya juga lumayan, lho :hehe.

I do look fat...
I do look fat…

Ketika kami kembali ke Hall B2 itu, Payung Teduh sudah main beberapa saat lamanya. Gila, ramai sekali. Bahkan dengan hall yang sudah didesain menampung lebih banyak pengunjung yang duduk lesehan itu pun, ramainya masih tidak kira-kira. Penuh banget. Padahal yang menurut saya penting banget… saya tidak tahu Payung Teduh itu band apa :malu. Band jazz ya, mereka? Atau band pop, soalnya musiknya menurut saya ada popnya? Ah, diserahkan ke pendengar saja… :hehe.

Payung Teduh
Payung Teduh

_MG_4817

The crowds.
The crowds.

Saya bahkan baru mengambil beberapa foto ketika keramaian orang yang ada di ruangan itu mendadak berdiri, sedikit demi sedikit meninggalkan ruangan. Menurut saya agak tidak sopan, sih. Kalau saya jadi si band yang manggung, itu betul-betul tusukan yang sangat menyakitkan hati, ya. Saya sempat heran kenapa hal itu bisa terjadi.

From afar

 

Terus sebenarnya yang sopan seperti apa, Gar? Permisi dulu sama yang manggung? :haha.

Dan sebenarnya, saya akhirnya juga dipanggil oleh teman-teman untuk mengikuti jejak kerumunan penonton itu, menuju Hall A3. Kami kan menunggu-nunggu kehadiran Sheila on 7!

Harvey Mason 'Chameleon'
Harvey Mason ‘Chameleon’

Di Hall A3 saat itu masih ada band jazz yang main. Kalau saya tidak salah, namanya Harvey Mason ‘Chameleon’. Saya sempat mengambil beberapa gambarnya, tapi sebagian besar dari kami sepertinya tidak terlalu memerhatikan pertunjukan itu karena artis yang kami semua tunggu-tunggu itu baru memulai pertunjukannya di panggung sebelah kira-kira tiga puluh menit sesudahnya, meleset lima belas menit dari jadwal!

Wihi!
Wihi!

Sheila on 7!

Malam itu mereka tampil gemilang sekali, diiringi big band asal luar negeri, namanya Ron King Big Band. Cuma menurut saya semalam itu suara big band-nya kurang keluar, ya, jadi tidak begitu banyak berpengaruh. Pun, si big band ternyata tidak sampai setengah konser, ternyata mereka hanya mengiringi beberapa lagu. Okelah, bagaimanapun, penampilan mereka tetap gemilang karena memberi warna berbeda pada musik band Sheila on 7!

_MG_4825

Seumur-umur, saya baru dua kali menonton konser yang musiknya saya mengerti dan saya bisa ikut bernyanyi bersama. Yang pertama itu di kampus dulu, di acara jejepangan, malam itu yang manggung band asal Bandung, namanya Chicken Katsu. Saat itu memang saya puas banget jejingkrakan di depan panggung, apalagi saat mereka membawakan OST Naruto yang judulnya “Go!”.

“We are Fighting Dreamers, takami wo mezashite…”

Sumpah itu event joss banget, suara saya sampai serak gara-gara kebanyakan teriak-teriak!

Nah, yang kedua ya ini, dan rasanya hampir sama, meski tidak ada yang jejingkrakan :haha. Seingat saya sudah lama ketika saya terakhir kali mendengar lagu Sheila on 7. Dan perjalanan band ini pun tidak terlalu saya ikuti, jadi saya tidak begitu mengerti beberapa lagu-lagu mereka, terutama lagu-lagu baru. Yang lebih familiar justru nomor-nomor lama, seperti “Pejantan Tangguh”, “Pemuja Rahasia”, “Itu Aku”, “Melompat Lebih Tinggi”, dan lagu sepanjang masa yang selalu jadi mood booster,

“Sahabat Sejati”.

Sahabat sejatiku, hilangkah dari ingatanmu, di hari kita saling berbagi…

_MG_4838

Nah, ketahuan deh saya angkatan berapa :haha.

Puas sekali melihat mereka manggung lagi. Kita bernyanyi bersama, selama hampir satu jam setengah kebersamaan antara band dan penggemarnya itu. Ramainya? Jangan ditanya. Satu hall penuh dengan penonton! Sampai-sampai saya jadi agak heran, ini pengunjung semua datang ramai-ramai ke tempat ini, mau menonton jazz, atau mau menonton Sheila on 7 yang notabene adalah band pop?

_MG_4821

Ha, sebenarnya saya agak sangsi sih. Kata “jazz” di judul festival ini solah-olah lama-kelamaan jadi tinggallah judul, tanpa makna dan “jiwa jazz”, mengutip kata teman seperjalanan. Yang penting tiket terjual, laku habis, pendapatan lumayan, supaya bisa balik modal. Bahkan, tidak sedikit pendapat di luar sana yang mengatakan kalau event tahun ini cuma dimaksudkan untuk “cari pendapatan”. Yah…

Pada perjalanan pulang, mendadak saya teringat satu kalimat dari Mbak Fajar (mohon maaf kalau salah penyebutan nama), tentang penyelenggaraan event JJF ini. Katanya di chat grup BEC,

They said JJF is no longer jazz festival, it turn out to other pop festival, maybe that’s why JJF lost his charm…

Satu kalimat yang saya rasa perlu direnungkan, sih…

Jadi, JJF 2016 tahun depan bakal seperti apa, ya?

Sembari menunggu, saya punya beberapa koleksi yang mungkin bisa dilihat-lihat:

_MG_4835_MG_4833_MG_4830_MG_4818_MG_4807_MG_4806_MG_4804_MG_4799_MG_4798_MG_4791

Sampai jumpa di gelaran event selanjutnya! :))

70 thoughts on “Java Jazz Festival #2: Judulnya Jazz, Kan?

    1. Ah masa sih mirip Mbak? Sampai sekarang saya masih antara percaya dan tidak (banyakan tidaknya, sih :haha).
      Saya malah belum pernah dengar Payung Teduh Mbak :hehe :peace.

    1. Wehehe, terima kasih… dan saya baru sadar kalau beberapa foto di sini ada warna oranye yang sebenarnya bisa dipakai untuk WPC :haha.
      Let’s find another orange-y photos, then *talk to myself*.

  1. banyak teman juga bilang begitu gara. java jazz tapi jazz nya hanya nama doang yang ngejual itu justru pop nya. Tapi tetap menikmati kan yach ikutan konser disana. hehehehe.. foto2nya bagus jadi nyesal nga ikutan.

    1. Menikmati, Mbak, soalnya permainannya bagus-bagus. Terlepas dari apa omongan di luar, mereka tetap maksimal penampilannya, dan itu membuat saya salut :)).

  2. Bener banget, udah sekian lama banyak artis yang ga ada jazz2nya sama sekali. Lah itu contohnya, si Jessie J (kaya kenal aja haha) keliatan banget R&B dan Pop gitu πŸ˜€

  3. fotonya keren-keren Gara!!
    Buset, hari Jumat sepi banget yaaaaa….

    yang paling ga nyambung lagi tahun kemarin, tiba-tiba ada JKT48 di JJF πŸ˜†
    mari menanti seperti apa JJF 2016

    1. Terima kasih :))
      Yap, memang sepi sekali, tapi kabarnya ramainya di hari Sabtu.
      Saya malah agak menyesal tidak datang tahun lalu, Mbak, jadi tidak bisa nonton JKT48 :hihi.

  4. Padahal Payung Teduh mayan sih. Aaah Gara, ddari dulu belum pernah kesampaian nonton Java Jazz nih. Eh kalau Sheila sebenarnya lebih condong ke pop sih ya πŸ˜€

    1. Kagak, pan tiket gratisnya cuma sehari :hehe :malu
      Nope, kami cuma menonton pertunjukan yang saya sajikan kembali di blog ini :hehe. Selebihnya luput :)).

  5. Iya ya Jazz nya udh sekedar nama doang. Gw baru mau tanya kok bs ada SO7 kan mereka bukan Jazz. Hahaha.

    Btw jd akhirnya menang dpt duit nya gak?

  6. moshing di acara java jazz aja, bro…biar greget :v

    payung teduh mirip-mirip lah sama ERK model musiknya walaupun instrumennya payung teduh lebih klasik dan mirip kroncong (pake gitar akustik, ukulele, dan bass tenore/bass betot)

    1. Moshing itu apa Bro? :hehe
      Hooo… tapi memang sih, Payung Teduh terkesan lebih tradisional. Vokalisnya kemarin pakai kain alih-alih celana, kalau saya tidak salah.

  7. Waaaaaaks, seru banget :”

    Eh, itu bassistnya komodo project kok mirip kayak vokalistnya netral ya :p

    Aaaaaaaakh, suka sama payung teduh + sheila on 7 πŸ˜€

    lucky tuh, dapet goodie bag sama t-shirt :)) selamaaat bang πŸ˜€

    1. Seingat saya bawa, soalnya saya ikut nyanyi-nyanyi lagu itu keras-keras :haha. Tapi itu kalau saya tidak salah, ya! :hehe.
      Anda adalah orang kesekian yang mengatakan saya mirip Tulus :haha. Terima kasih!
      Dan terima kasih sudah berkunjung! :)).

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!