Jakarta Smart City: Pulang Bicara ke Balaikota

Saya belumlah lama tinggal di Jakarta. Namun yang saya sempat baca dari beberapa kertas yang melayang di udara, kota ini pernah menjadi primadona Asia. Dijulukinya ia seorang ratu. Ratu nan eksotis, indah, kaya, penuh wibawa. Darinya teramu budaya dan bangsa. Seorang ningrat dari awal mula, ratu yang sudah beberapa kali ganti nama ini pernah begitu jaya di zaman awal modernisasinya.

Saya mengenal Jakarta masa lalu sebagai sebuah kota yang jaya juga karena pengaturannya yang begitu apik. Kota berbenteng yang rapi, dengan masyarakat yang kendati senantiasa bergolak, penuh cerita dan ada masa damai ketika semua orang akur. Bangunan-bangunan megah didirikan dengan bahan terbaik yang terbukti bertahan ratusan tahun.

logo-lama-jakarta-smart-city
Logo lama Jakarta Smart City

Tapi bahkan di saat saya belum tinggal di sini juga, sang ratu kabarnya mulai merenta. Tua, namun belum hendak mati. Lelah, tapi tak bisa berhenti. Dipaksanya ia tetap berdenyut oleh sepuluh juta organisme berpikir yang selalu meminta makan darinya. Namun ia masih mampu, dan begitulah Jakarta.

Jakarta mulai kehilangan kemegahannya sejak lama, boleh dikata sejak dekade akhir abad ke-18 seiring dengan melemahnya kuasa VOC di Asia. Kanal-kanal megah berisi air jernih yang bisa langsung diminum perlahan tinggal kenangan. Sebagai gantinya, kanal-kanal yang sama berubah menjadi selokan berisi air comberan sumber segala penyakit yang mematikan begitu banyak orang. Di masa itu, kuburan sampai terlalu penuh karena orang meninggal begitu banyak.

Setelahnya, Jakarta tidak terlalu lama bisa tenang sebagai sebuah kota. Mungkin banyaknya kematian membuat semua orang berubah. Masuk zaman perang, zaman merdeka, bahkan sampai zaman modern pun, wajah Jakarta sebagai sebuah kota sudah coreng-moreng di sana-sini. Dalam bukunya, Jakarta: A History, Susan Blackburn bahkan mengklaim (meski samar) bahwa pengelolaan Jakarta di masa modern tidak lebih baik dibanding masa lalu.

Apa buktinya? Jakarta yang dulu punya sistem kanal terbaik di Asia Tenggara kini selalu dirundung banjir kala suplai air bertambah meski hanya sedikit.  Jakarta yang dulu punya sistem transportasi paling mutakhir di Asia kini terancam kemacetan total dalam beberapa tahun. Jakarta yang dulu jadi pusat kearsipan dan sejarah bahari, kini usang dan terlupakan karena orang-orang bahkan lupa untuk mengingat masa keemasan kota tempat tinggalnya.

pagi-kota-tua-jakarta
Pagi yang sepi di Batavia Lama.

Sang ratu yang dulu jaya, kini tidak lebih bagaikan seorang wanita yang mulai merenta karena dieksploitasi untuk memberi makan sepuluh juta penduduknya. Belum termasuk penduduk wilayah penyangga yang setiap harinya keluar-masuk kota dalam waktu yang kurang lebih sama.

Apa tidak ada cara mengelola Jakarta untuk jadi lebih baik?

Pekan lalu, tim Indonesia Corners mengajak saya dan beberapa puluh blogger lain guna menyambangi Balaikota Jakarta, Koningsplein Zuid No. 8 dan 9. Sepintas saya menyangka bahwa ini kunjungan bangunan tua biasa, balaikota keempat yang letaknya paling jauh dari tiga balaikota terdahulu di dalam tembok kota. Satu bangunan kolonial lain yang masih tahan berdiri di Jakarta.

Apa yang saya harapkan dari kunjungan sebuah instansi pemerintah di hari libur? Kunjungan kerja? Saya sudah setiap hari menyaksikan kerja aparatur sipil negara lantaran saya termasuk satu di antaranya. Hari libur jelas harinya untuk libur. Lagi pula pekerjaan aparatur sipil bukan untuk disaksikan karena pasti banyak kekurangannya. Ehem.

Sebenarnya saya setengah berharap bahwa kunjungan balaikota ini bisa membawa ingatan kami pada bagaimana balaikota tua Batavia di dalam tembok kota berfungsi: sebagai gedung bicara. Semua masyarakat boleh datang dan mengadukan permasalahannya pada orang-orang yang bertugas di sana.

bagian-dalam-balaikota-jakarta
Bagian dalam Balaikota Jakarta, sejak 1919. Kelihatan, gedung ini awalnya tidak dimaksudkan sepenuhnya sebagai pusat pemerintahan.

Di masa-masa itu, semua permasalahan, tanpa terkecuali, baik masalah kriminal sampai tetangga yang berulah karena air pancuran atapnya jatuh ke halaman, diadukan ke balaikota. Orang balaikotalah yang memutuskan bagaimana menanggapi masalah-masalah itu, menyelesaikannya, karena membuat warga puas adalah tanggung jawab mereka sebagai aparat yang dibayar pajak masyarakat kota.

Namun sepertinya saya harus menunggu dulu, lantaran sebelum kami menyambangi balaikota, Tim Indonesia Corners (untuk selanjutnya saya sebut Tim IC) mengajak kami untuk mengunjungi suatu divisi baru dalam Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Namanya Jakarta Smart City.

Bohong jika saya berkata tak pernah mendengar apa itu Jakarta Smart City (untuk selanjutnya saya sebut JSC). Tapi saya belum begitu tahu mendalam apa dan bagaimana JSC beroperasi. Apa ini seperti banyak CCTV dipasang di seluruh penjuru kota guna mengawasi warga Jakarta agar tidak bertindak anarkis? Apa penduduk ibukota memang demikian kerasnya sehingga kami mesti dimata-matai dua puluh empat jam?

Berbagai pikiran aneh itu musnah tatkala suasana futuristik dan modern langsung menyerbu ketika kami menjejak di sana. Citra soal “pegawai pemda” judes nan jutek dengan seragam berwarna tak jelas antara hijau dan coklat yang bersantai-santai makan gaji buta pun hilang. Sebagai gantinya anak-anak muda nan keren-keren khas sebuah megapolitan merancang kreativitas mereka di ruang kerja besar yang bisa dipakai umum secara cuma-cuma.

tempelan-ruang-rapat-balaikota-jakarta
Tak ada papan yang ditulisi, tempelan pun jadi.

Co-working space, nama kerennya.

Di saat pertama, saya bahkan iri melihat ruang kerja anak-anak itu. Bagaimana tidak, kantor saya sendiri tidak punya dinding yang bisa ditulis-hapus bagaikan papan tulis! Kantor ini betul-betul menerapkan konsep paper less, less paper. Kalau di kantor saya, kami mesti mencari-cari kertas bekas untuk menggambar peta konsep sebagai pembantu penjelasan, maka di sini tinggal coret buah pikiran di dinding, setelah semua paham, hapus lagi dan seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Tapi semua itu belum seberapa. Inti dari JSC justru ada di ruangan sebelah, sebuah ruang rapat yang tersekat kaca dengan command centre yang menempel padanya. Sekat itu bisa transparan, dan semua orang yang ada di ruang rapat dapat melihat langsung layar besar yang ada di command centre.

ruang-rapat-jakarta-smart-city
Ruang rapat Jakarta Smart City.

Apa yang bisa dilihat di command centre JSC? Semua tentang Jakarta, semua yang diperlukan para pengambil keputusan untuk menentukan penataan kota. Sementara data ditampilkan di depan sana, pejabat-pejabat berwenang berpikir, menentukan apa yang terbaik bagi penduduk yang telah memilih mereka untuk duduk di sana.

Pernah saya mencari di dunia maya apa latar belakang program JSC diluncurkan. Orang-orang skeptis mungkin berkata bahwa ini semata-mata mengikuti perkembangan teknologi agar Jakarta bisa berdiri sejajar dengan ibukota-ibukota negara yang sudah maju-maju. Mereka yang lebih apatis lagi menganggap ini hanya gelaran mendadak untuk menghabiskan anggaran dengan penundaan pertanggungjawaban.

Tapi ketika saya dan teman-teman menyelami JSC lebih jauh, fitur-fitur yang ada di dalamnya justru sangat transparan dan bisa diakses siapa saja. Tak cuma akses, siapa pun bisa memberi inputan data untuk ditampilkan di layar-layar besar itu melalui aplikasi yang dipasang di gawai masing-masing. Sebut saja Qlue, Waze, RagunanZoo, dan Info Pangan.

Soal CCTV, memang salah satu hal yang menjadi indikator capaian kinerja dalam JSC adalah persentase pemasangan CCTV di seluruh kota Jakarta. Namun data CCTV itu tidak (cuma) digunakan dalam arti negatif, melainkan, untuk tahu bagaimana situasi terkini yang terjadi di Jakarta. Ini semua dilakukan agar tak ada lagi kesan pemerintah lambat tahu suatu masalah. Supaya pemerintah dekat dengan masyarakat sebagai pemegang kuasa.

Saya pribadi terkagum-kagum dengan bagaimana aplikasi-aplikasi itu terintegrasi dan saling bertimbal balik satu sama lain. Sebagai contoh dalam aplikasi Qlue dan CORP, inputan dari masyarakat Jakarta langsung memberi notifikasi pada gawai milik lurah di wilayah mana masalah yang diinfokan tersebut terjadi. Secara sentral di Balaikota, tindak lanjut sang lurah senantiasa terpantau dari balon-balon merah-kuning-hijau yang bergerak dinamis di layar. Merah untuk yang belum ditindaklanjuti, kuning untuk yang sedang diproses, hijau untuk yang sudah selesai.

sebaran-laporan-warga-jakarta
Sebaran laporan masyarakat di seluruh Jakarta

Pada akhirnya, semua itu sejalan dengan informasi yang saya baca mengenai latar belakang program JSC, yakni bahwa:

“Pengaduan masyarakat merupakan sumber informasi bagi penyelenggara pemerintahan dalam memberikan pelayanan publik secara konsisten. Perlu sistem yang efektif dan efisien dalam mengolah pengaduan masyarakat sehingga menjadi input bagi pemerintah dalam merancang kebijakan publik.”

Saya menghela napas kendati mata tetap memandang layar besar itu tanpa berkedip. Sebuah langkah kecil tentang bagaimana fungsi Balaikota sebagai tempat warga bicara mulai kembali pada hakikatnya. Memang kini, warga tidak bicara secara langsung. Namun, suara kita tetap dapat tersampaikan, dan yakinlah, pasti ada yang mendengar. Tidak perlu jauh-jauh mencari balaikota sebagai gedung bicara, karena teknologi sudah menjadi suara di sana.

Satu lintasan pandang yang terakhir saya layangkan ke pojok kiri atas layar besar; tempat pantauan CCTV di pintu-pintu air Jakarta dan sekitarnya terletak. Dari sini, kanal-kanal dipantau agar pemerintah bisa menentukan langkah tepat ketika suplai air mulai mengalami peningkatan.

pantauan-pintu-air-jakarta
Pojok kiri atas layar: pantauan pintu-pintu air.

Dulu, Jakarta memang jatuh karena pengelolaan air yang tidak maksimal. Namun hari ini, Jakarta mulai bangkit karena pemantauan dan pemanfaatan air secara saksama. Harapan itu mesti tetap menyala, sampai suatu hari nanti, sang ratu dari timur sudi memberi senyumnya pada warga Jakarta, sembari membersihkan muka pada kanal-kanal bersih tempat perahu-perahu berlabuh sebagaimana layaknya di masa lalu.

Saya mulai berpikir, betapa lancang dan egoisnya saya sebagai orang yang numpang tinggal di Jakarta. Saya tak pernah punya kontribusi akan kota ini.  Sejuta tulisan di blog tidak akan pernah lebih berguna dari satu laporan soal lampu jalan yang mati. Jika tulisan di blog ini laris, yang menerima manfaat terbesar adalah saya sendiri. Namun ketika satu laporan lampu jalan mati yang saya kirimkan ditindak dengan baik, satu Jakarta menerima manfaatnya.


Kanal pengaduan Jakarta Smart City:
Laman: smartcity.jakarta.go.id
Surel: dki@jakarta.go.id
Facebook: Pemprov DKI Jakarta
Twitter: @DKIJakarta
Balai Warga: www.jakarta.go.id
SMS: Aplikasi Lapor (1708) dan JSC (08111272206)

42 thoughts on “Jakarta Smart City: Pulang Bicara ke Balaikota

    1. Iya, sebagai ibukota Jakarta memang mesti jadi contoh bagi pengelolaan wilayah bagi kota lain di Nusantara. Namun tentu jika ada kota lain yang berhasil mengelola wilayah, Jakarta mesti mencontohnya, hehe.

  1. Argggg bisa masuk Balaikota sampai lihat sistem kerja mereka! Daku sirik huhuhuhu. Btw itu bisa dikunjungi wisatawan biasa atau harus ada izin khusus sebagai rombongan, Gar? Duh agak nyesel nggak ikut acara IdCorner yang itu.

  2. Kemarin blogwalking, ada banyak yang ngebahas Jakarta Smart City.
    Ternyata lagi ada event toh.

    Btw kabarnya disitu ada kafe baru yang dibangun, beneran uda ada kah?

    1. Hayo yang mana ya Mbak, hehe…
      Untuk tulisan ini yang saya angkat memang hanya JSC. Soal Monas akan saya angkat dalam tulisan yang lain. Terima kasih sudah membaca, hehe.

  3. iya sedihnya nih perasaan kita merdeka duluan dibanding Malaysia/Singapur tapi sekarang tata kotanya kalah jauh. semoga pembangunan MRT bisa sekaligus merapihkan Jakarta yaa aamiin

    -M.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?