Intrik Politik Walikota: Pasangan Boneka, Politik Kebakaran Jenggot, Sentimen Spanduk dan Sarung Kepala Lingkungan

Wihi, judulnya panjang, postingannya juga begitu. Tapi memang demikian, secara ini soal intrik politik yang sedang hot banget karena inilah tahunnya, tapi nyeleneh banget soalnya menyangkut jenggot dan surat sakti, spanduk, dan sarung bagi kepala lingkungan.

Semua kejadian ini ada dan nyata, terjadi di kampung halaman saya, sebuah kota permai berinisial M (yang suka baca blog saya pasti tahu di mana kampung halaman saya).

Permai… yang ternyata tidak permai-permai banget, sih :haha.

Okesip.

Eh, saya cuma mencoba jujur saja, lho.

Letikan awal tulisan ini lagi-lagi berasal dari obrolan saya dengan Ibu di kampung halaman beberapa hari silam. Saya agak heran lho, obrolan dengan Ibu selalu berbuah sesuatu. Obrolan yang dulu banget menghasilkan satu novel, yang ini sekarang… kayaknya satu postingan saja cukup, deh, habisnya kalau kepanjangan bisa bahaya.

Tapi sungguh, Ibu adalah sumber inspirasi saya, yang paling cetar, paling nyeleneh, tapi paling membuat saya mengelus dada akan topik yang kami bahas. Kali ini, obrolan kami (seperti biasa) ngalor-ngidul dari rencana pernikahan anak tetangga (iya, kami mah duo pedang kalau di rumah :haha) sampai ke walikota M yang ternyata sudah Plt.

Yep, Pelaksana Tugas, karena pasangan yang sedang berkuasa sekarang, sebut saja pasangan Tenteram, sudah habis masa jabatannya. Berhubung di M belum Pilkada Serentak (selanjutnya disingkat PS) yang rencananya baru tanggal 9 Desember 2015 nanti, Walikota M dijabat oleh salah satu kepala SKPD sampai nanti tanggal pelantikan Walikota hasil PS.

Salah satu simbol politik: Istana Merdeka.
Salah satu simbol politik: Istana Merdeka.

Sempat saya mengutarakan keheranan, apa jadi M ikut dalam PS di tanggal itu karena menurut berita yang beredar beberapa minggu lalu di televisi, calon dari M adalah calon tunggal petahana (pasangan Tenteram ini), sehingga PS (ada kemungkinan) ditunda sampai tahun 2017 nanti.

Sekaligus saya juga tanya ke Ibu, saya heran kenapa bisa calon tunggal, sebab saya ingat betul pas mudik kemarin sudah ada spanduk-spanduk yang dipersembahkan oleh pasangan balon Walikota lain, yang merupakan saingan dari pasangan Tenteram, sebut saja pasangan Berkah.

Logika sederhananya, kata saya, lha masa sudah all out pasang tebar spanduk baliho (yang tentunya modal tidak sedikit itu) dari zaman kapan tahun (di M mah kampanye sepanjang masa), terus tetiba batal nyalon dan menyerahkan perjuangan pada sang calon tunggal? Kan dermawan banget, dan tidak masuk di akal banget.

Apalagi, pasangan Berkah ini diusung koalisi partai politiknya sang Gubernur, sedangkan pasangan Tenteram diusung koalisi partai politik sang bos media “memang beda”, yang di M itu dinamika mereka sudah seperti kucing sama guguk, sama sekali tak mau mengalah. Jadi alasan batal maju karena tiada dukungan kayaknya mustahil.

Ibu saya menjawab dengan penjelasan yang membuat kaget.

Ternyata, pasangan Berkah ini sengaja tidak mengajukan diri sampai habis masa pendaftaran! Kenapa? Karena mereka tahu dengan perkembangan bahwa jika di suatu daerah tidak ada dua atau lebih pasangan calon yang mendaftar, maka PS batal dan pilkada diundur sampai 2017.

Ibarat kata, mereka mengulur waktu, setelah melihat perkembangan bahwa pasangan yang “bertunas” menjelang PS itu hanyalah pasangan mereka (yang notabene pengantin baru banget), dan petahana.

Well, buying time untuk pemilihan walikota di M memang super duper penting. Pasalnya, petahana ini memang sudah berakar banget di kota, berhubung walikota sebelumnya (periode 2005-2010) tidak lain adalah bapak dari wakil walikota di pasangan petahana, dan walikota incumbent pun adalah wakil walikota di masa pemerintahan sebelumnya, jadi basis massa mereka pasti besar banget dan sudah ter-“pelihara” dengan sangat rapi.

Walaupun sebenarnya sih, kalau pasangan Berkah ini punya program yang bagus (banget) dan konkret, pasti pasangan ini bisa menarik hati masyarakat, terlepas dari sekuat apa “tradisi petahana” itu bertahan. Apalagi kalau programnya realistis dan populis.

Namun, (dari tadi saya juga memang belum berbicara masalah proker alias program kerja), di M memang agak berbeda. Di sini proker tidak begitu nendang sebagai jualan kandidat. Padahal peningkatan dalam segala bidang penting banget, dan sejauh ini, entah, saya belum melihat bukti konkret pembangunan di kota kwa kwa, lagaknya sudah kayak pengamat politik saja saya ini.

Tapi betulan! Saya kurang tahu juga kenapa, tapi di M itu pemilih lebih bicara soal tokoh, soal “siapa dia”, apa yang “diberikan” tokoh tersebut kepada masyarakat atau pemilik massa (simpulkan sendirilah ya, nanti saya kena UU ITE kalau bicara panjang lebar soal ini), ketimbang “apa yang sudah dia lakukan”.

Begitu kata ibu saya.

Setelah mendengar obrolan Ibu, saya jadi merasa, gila, gokil juga pasangan Berkah ini. Tapi antara gokil dan agak… pengecut, sih. Tahu kalau sekarang dia tidak mungkin menang melawan Tenteram, jadi mereka memilih untuk mengulur waktu.

Entah apa di kepala mereka belum ada ide jitu untuk “dijual” ke masyarakat, kok sudah takut kalah duluan sebelum tanding proker. Tapi mengingat proker di M tidak nendang, mungkin mereka berpikir, let’s be realistic rather than be idealistic but you know it’s useless. Singkatnya, pasangan Berkah juga ingin “menanam tokoh” lebih dulu ketimbang “menanam proker”.

Membuat prihatin? Tentu, karena apa yang dilakukan oleh pemimpin jadi tidak penting, yang penting pemimpinnya keren dan ngartis. Selain itu, ini membuktikan bahwa pasangan Berkah tak ada bedanya dengan petahana yang cuma menanam tokoh ketimbang menanam bukti.

Jadi ingat omongan Curio (yang juga sudah saya twit):

Yang penting perut sendiri, urusan perut rakyat nantilah bisa diatur.

Sudah cukup miris?

Belum. Apa yang membuat saya ngakak miris banget adalah perkembangan sesudahnya.

Tak dinyana, secara (sangat) tiba-tiba, ada pasangan baru, sebut saja pasangan Sejahtera, mendadak ingin mendaftar sebagai pasangan bakal calon walikota. Padahal batas waktu pendaftaran sudah berakhir!

Mulailah kebakaran jenggot pasangan Berkah. Pasalnya selain batas waktu pendaftaran sudah habis (jadi pasangan Berkah tak bisa mendaftar lagi), pasangan baru ini menggunakan salah satu surat komisi pemilu tingkat pusat sebagai senjata untuk melenggangkan mereka maju ke pemilihan walikota.

Kalau sampai dikabulkan, ya gagal totallah pasangan Berkah ini maju dalam kontes kepala daerah. Kasihan, niatnya berstrategi supaya kans lebih besar, eh malah akhirnya batal maju karena PS tak batal dilaksanakan.

Yang lebih heran lagi, ternyata pasangan Sejahtera ini diusung oleh partai politik yang dulu mengusung pasangan Tenteram, yakni partai politik bos media “memang beda”. Jadi, partai si bos media ini, yang dulu mendukung pasangan Tenteram, menarik dukungannya dan mengalihkannya pada pasangan Sejahtera.

Nah lho. Pertamanya saya heran kan, masa sih konstelasi pasangan calonnya jadi karut-marut seperti ini? Apalagi, ketika saya konfirmasikan dengan ibu, beliau bilang dengan sangat santainya:

Lha wong pasangan Sejahtera ini orangnya ondo-ondo (ondo artinya manut) kok, ya jelaslah ini sebenarnya cuma boneka doang.

Maksudnya? Saya makin bingung, dan inilah salah satu alasan yang menyebabkan saya pulang kampung kemarin dan menemukan beberapa fakta mengejutkan ini.

Pertama, semua berawal dari dualisme kepemimpinan partai itu di ibukota sini, yang membuat adanya perpecahan di ibukota dan beberapa daerah (beberapa lho, ya). Partai yang sama, kubu yang berbeda, kadang membuat partai itu mengajukan dua pasangan calon kepala daerah di beberapa daerah, dan itu membuat komisi pemilu setempat tidak menerimanya, bahkan sampai batas waktu perpanjangan pendaftaran kepala daerah berakhir.

Padahal, semua partai mesti dapat kesempatan yang sama buat mengajukan pasangan calon. Asas pemilu yang terakhir kan “adil”?

Nah, hal ini membuat komisi pemilu pusat mengambil kebijakan, bahwa khusus untuk partai yang sedang bersengketa, batas waktu pendaftaran calon kepala daerah bagi mereka diperpanjang sampai beberapa hari setelah batas waktu sesungguhnya. Kelirunya, kebijakan ini berlaku menyeluruh, tidak membedakan antara daerah yang partainya ada perpecahan kubu dengan daerah yang pimpinan partainya tetap solid.

M, “sayangnya”, masuk kategori yang kedua. Ini berarti, khusus bagi partai itu di M juga ada “tambahan waktu” guna mengajukan bakal calon baru ke komisi pemilu daerah.

Peluang? Banget! Misalnya saja ada 10 partai yang mendukung pasangan Tenteram, termasuk partai utama yang bersengketa ini. Hanya ada satu calon sejauh ini karena calon tandingan mereka memilih menunggu dan mengulur waktu, karena kalau PS jadi, calon tandingan ini tidak mungkin menang. Sekarang, ada kebijakan kalau khusus partai yang bersengketa ini ada perpanjangan, tidakkah ini jadi cara yang asyik banget buat “memunculkan pasangan tandingan” agar PS tidak batal?

Yang bikin saya tepok jidat banget adalah, ketua dari partai yang bersengketa, partai yang menarik dukungan dan mendukung pasangan baru ini tak lain dan tak bukan adalah calon walikota dari pasangan Tenteram sendiri!

Pantas pasangan Berkah kebakaran jenggot sampai sebegitunya. Pantas juga ibu saya jadi yakin benar bahwa ini “pasangan boneka”, soalnya kan ketahuan banget triknya. Saya langsung ngakak, membayangkan bagaimana ekspresi pasangan Berkah :haha. Semacam permainan langsung berbalik arah menguntungkan pasangan Tenteram, kan?

Tentu saja, soal masyarakat M, kalau PS jadi, maka pasangan Tenteram pasti menang, terserah lawannya mau siapa, pasangan Berkah sekalipun, apalagi pasangan “boneka”. Kode yang sering dipakai di pasar, masyarakat masih tenteram, alih-alih mau cari berkah.

Seperti yang sudah saya bilang, masyarakat M itu unik. Kita memang megangnya di figur banget tapi kalau dalam 2 tahun (in case PS betulan diundur sampai 2017), anything could happen, apalagi ketika yang jadi walikota masih Plt, belum pejabat definitif. Sehingga, untuk mencegah pilkada diundur ke tahun 2017 (yang menguntungkan pasangan Berkah), bagaimanapun pilkada jadi harus di 2015, kan?

Antara lucu, tapi agak kasihan, tapi agak elus dada… gila, sebegitu all out-nya orang-orang ini kalau urusan kekuasaan. Mirisnya, belum ada tanda-tanda kalau mereka punya jualan program, jualan visi misi, apalagi jualan bukti nyata.

Ibarat kata, pilkada M memang tidak memilih kucing dalam karung, tapi kita semua tidak ada yang tahu siapa kucing yang bisa menangkap tikus lebih cepat karena, alih-alih mengadakan kontes menangkap tikus, kita malah memilih kucing mana yang bertampang lebih sangar dan berbadan lebih besar!

Politik memang begini, ya?

Nah, satu lagi cerita nyeleneh yang kemarin diberitahu si ibu adalah soal pembagian sarung. Ceritanya, tersebutlah sebuah program walikota M ini, setiap Lebaran sang walikota akan membagikan sarung kepada setiap kepala lingkungan (setingkat ketua RW karena di M tidak ada RW) via kantor-kantor lurah.

Ini juga sarung... bantal.
Ini juga sarung… bantal.

Sebenarnya dari dulu kami sekeluarga sudah curiga kalau pembagian seperti ini pasti ada udang di balik batu, tapi kami ya diam-diam saja, sejauh ini kita ogah cari ribut (tahu diri sebagai minoritas dan ogah jadi pahlawan kesiangan, bok) jadi jujur, kita cari aman. Lagi pula kalau kita mau berpikir realistis, sudah dikasih, terima saja toh? Namanya rezeki masa ditolak :hehe digampar.

Tahun ini, secara kebetulan banget, Bapak tidak dapat sarung (kebetulan Bapak adalah kepala lingkungan kami). Katanya Pak Lurah sih, gara-gara jumlah sarung tahun ini kurang, tapi ya masa dari tahun sebelumnya sudah dapat, mendadak sekarang jadi tidak dapat?

Alasan yang dangkal dan kesannya tidak masuk di akal, kalau kata ibu saya. Makin curigalah, apa benar pembagian ini program walikota? Bukan sekadar “cari simpati dengan memberi” (mengerti kan, maksudnya)?

Ibu pun cari informasi, dan tak seberapa lama hasil sudah di tangan. Ternyata, memang demikian, ini bukan semata-mata program pemerintah, menurut penyelidikan ibu terhadap beberapa orang di pasar tempat ibu berjualan (duh, mulut pasar memang mulut yang paling bocor kalau soal informasi). Melainkan, program itu ternyata “program loyalitas pemilih”.

Betulan, kan?

Yah, saya rasa saya tak perlu banyak menjelaskan tentang ini karena pembaca budiman pasti bisa menyimpulkan dengan sangat baik soal apa itu program di dalam tanda kutip. Namun yang menarik, dan yang membuat kami penasaran, tentu ada sesuatu yang disengaja dengan “insiden kelupaan” ini, karena kok tumben banget ini sampai kejadian, secara kita tak pernah “cari ribut”?

Ternyata, usut diusut, itu semua kejadian karena ada spanduk pasangan Berkah di wilayah lingkungan kami.

Haiya, sentimennya masa gara-gara spanduk? Padahal kami juga tidak tahu siapa yang memasang itu spanduk, karena spanduknya dipasang di pinggir jalan utama! Memangnya bapak saya sebegitunya sampai mematroli spanduk siapa yang terpasang di lingkungan kami?

Doh, Gusti…

Yah, kita sih, pada akhirnya cuma bisa tertawa-tawa saja. Bukan masalah tidak dapat sarung yang membuat kita sejauh ini, tapi kesimpulan yang ciamik banget yang kita dapatkan.

Pertama, bahwa “konsolidasi” massa dilakukan bahkan dengan jalur-jalur pemerintahan resmi. Tak heran, pasangan ini begitu berakar di tengah masyarakat M karena konsolidasinya pun dilakukan dengan jalur-jalur bahkan hingga satuan pemerintahan terkecil, sampai Kepala Lingkungan!

Ketika saya konfirmasi pada Curio tentang fenomena seperti ini, dia cuma berkata dengan sangat santai:

Yah Gar, biasa mah, politik praktis di daerah memang seperti itu.

Dan yang kedua, alangkah lucunya negeri ini, ketika pemberian sesuatu pada masyarakat hanya didasarkan pada apakah mereka “loyal” dengan pemerintahan yang ada dan dinilai dari hal yang paling sepele banget, apakah spanduk “lawan” terpasang di sana apa tidak. Soal program? Soal tanggung jawab pemimpin kepada rakyat? Mungkin nomor sekian kali, ya…

Tapi terlepas dari itu, saya jadi bertanya-tanya, apa harga diri masyarakat kita sedangkal mental orang-orang itu, yang, mohon maaf, hanya seharga selembar sarung dan sehelai spanduk?

Kalau menurut saya, dari apa yang saya lihat di lingkungan kami sendiri, sebenarnya harga diri masyarakat kami jauh lebih tinggi dari selembar sarung untuk kepala lingkungan. Sori ya, spanduk, eh, sarung mah nggak ngefek buat kampung saya (lha ini kok saya ngomongnya seperti orang sakit hati begini :haha).

Betulan lho, saya bersyukur sekali, sejauh ini saya tak pernah melihat adanya konsolidasi atau apalah dari kampung saya yang “menggiring” seseorang untuk memilih pasangan tertentu. Meskipun setiap tahun dikasih sarung atau apalah itu (pin, kaos, stiker, segala macam pernik kampanye yang cuma jadi simpanan di rumah :haha), tapi tidak pernah terbukti pasangan yang “memberi sarung” itu menang di dua TPS di kampung saya :haha (ya saya tahulah, saya kan kepo sana kepo sini saat penghitungan suara).

So if you think you could buy our votes with just a piece of sarong, think again.

(Tapi kenapa pasangan pemberi itu tetap menang di kota kami, ya?)

Pada akhirnya ini jadi pelajaran buat saya juga, sih. Namanya pilihan kan urusan individu masyarakat dengan Tuhannya, kita sudah punya penilaian dan pilihan sendiri, untuk apa ikut campur, apalagi menggiring?

Dan lagipula, biar bagaimanapun usaha pasangan itu, dalam bilik siapa tahu?


Post scriptum:

  1. Nama kota dan akronim pasangan saya samarkan, tapi bagi yang mau riset dengan datang ke M, pasti bisa menduga siapa.
  2. Maaf kalau gambarnya sedikit. Kemarin pas mudik tidak sempat memfoto barang bukti. Tapi kalau barang buktinya difoto, semua pasti ketahuan…

42 thoughts on “Intrik Politik Walikota: Pasangan Boneka, Politik Kebakaran Jenggot, Sentimen Spanduk dan Sarung Kepala Lingkungan

      1. paling gak pemilih semakin sadar gar gak ngasal milih cuma ketimbang kasarannya dapet sogokan yang nilainya gak seberapa #yangsayayakinuangnyajugabolehnimpadariuangnegara. tapi inget-inget apa jadinya kalau orang ini menjadi orang yang memutuskan kemana daerah kita akan dibawa oleh ybs.

        salam
        /kayka

        1. Pemilu sebenarnya menentukan banget ya Mbak. Lima menit kurang kita ada dalam bilik tapi itu sebenarnya menentukan banget buat lima tahun ke depan. Jadi memang mesti cerdas banget. Kalau di luar negeri bagaimana Mbak pemilunya? Apakah ada dinamika seperti ini?

          1. pemilu disini mmm gait deh gar mapan. tapi gak sedikit yang jadi anti kemapanan dan memilih partai-partai seperti piratenpartei misalnya, partai yang membolehkan donlot gratis di internet 😀

            salam
            /kayka

  1. politik samalah seperti internet…. sama-sama tidak bernyawa…. keduanya bisa diibaratkan gelas kaca. gelas kaca tersebut akan terlihat bening atau kotor tergantung apa isinya…. jadi politik dan internet itu kotor dan jelek…. tergantung siapa yang mengisinya… orang-orang di dalamnya

  2. Hal yang sangat jarang mau aku celotehin di sosmed itu tentang politik. Males semales malesnya. Cuma katanya, jika anak muda sudah antipati sama politik, ya wajah perpolitikan Indonesia gak akan berubah 10 sd 20 tahun lagi. Duh maafkan aku Indonesia. Izinkan aku berkontribusi di jalur lain saja. -mempromosikan wisata Indonesia misalnya 🙂

    1. Iya sih Mas :hehe. Politik memang ribet dan kalau kata orang-orang agak kotor. Padahal penting banget soalnya nasib kehidupan kita banyak ditentukan dari proses politik ini :hehe. Tapi saya cuma mengamati doang sih :hehe :peace.

  3. HHahahaha.. Dagelan yang pasti selalu laris ya Gar ini. Gw baca ngikik-ngikik aja. Pinter juga taktiknya bos media memang beda itu ya. Wkwkwkwkwk. Semoga yang terbaik yang menang Gar! “:)

      1. hehehe….skip dulu yah Gar wkwkwkw
        eh…yg lomba resensi dr gara juga kelupaan buat ikutan gara2 ke-skip -_-
        btw aku pengen bikin blog review tentang blog gara dan aku selalu penasaran knp kalo gara komen di postingan blog siapapun pasti bisa panjang dan detail….
        argh….kalo aku jd penulis blognya pasti bkl terharu banget postingannya dikomen panjang lebar hehehe…
        good luck gara, sukses selalu 🙂

        1. Syiaaap :haha.
          Oke Mas, dipersilahkan, saya penasaran juga ingin tahu bagaimana penilaian orang tentang blog saya :hehe.
          Iya Mas, sukses juga untukmu. Salam buat semua teman yang ada di sana ya Mas :)).

        1. Mungkin karena saya orang yang suka berkomentar Mas :haha, jadi setiap pendapat yang dituliskan bisa jadi bahan dan pertanyaan di kepala yang menanti untuk ditanyakan pada si penulis :hehe. Mungkin demikian, sih… :)).

  4. panjang amat tulisannya *skip baca langsung komen trus disambit ama gara* 😛
    dan berita terakhir adalah terancam gagalnya pilwali surabaya.. uh! sebel aku. soalnya kalo beneran gagal, surabaya tidak punya walikota dan akan dipimpin oleh DPR yang nyebelin itu. berasa menuju kegagalan…

  5. Berat. Kali ini postingannya berat ya, Mas. Hehehe….
    Tapi aku yang berhadapan langsung sama bapak2 yang katanya ngurusin negeri ini, malesin banget liat muka2nya. Padahal mereka gak ada salah apa2 ya sama aku. Hahaha…
    Tapi ya itu…karna aku udah males sama dunia perpolitikan yang isi orangnya cuma mau jabatan, gengsi, egois, foya2, hura2 atau apalah itu namanya walaupun gak semua sih kaya begitu. Terkadang cuma jadi bahan tertawaan org aja akibat perbuatan bodoh mereka…

  6. Emang politik Indonesia ini rasanya pelik banget ya.
    Saya selalu nggak mau pusing jadi jarang merhatiin kasus politik gini
    Tapi baca postinganmu jadi sedikit terbuka matanya kalo yang begini masih ada.
    Semoga Indonesia cepet maju deh :’

    1. Amin, saya juga berharap begitu. Well, to be honest, sebenarnya saya juga jarang banget up date soal-soal yang seperti ini, tapi berhubung ini lucu banget, jadi sayang kalau tidak diabadikan :haha. Terima kasih sudah berkunjung!

  7. Ini ada apa dengan Gara kok tumben banget cerita panjang tentang politik hahaha. Yah begitulah politik negeri kita tercinta. Ada yang didongkrak secepat mungkin lewat trend “media darling” demi mengangkat wawalinya yang kelak bakal naik kelas, sementara walinya udah duduk nyaman di kursi panas di kelas teratas. Sama sebenarnya dengan moment PS yang lagi-lagi hasil akal bulus politikers en the genk. Dibikin skenario yg lama nyalon tanpa saingan, finally doi pilih calon wawali yg siap dinaik-paksakan jadi wali saat doi berhasil naik jadi gubernur! Kan? 😉

  8. Widih… bacaannya berat Bli. Jadi inget saran dari seorang kawan, kalo mau dapat nilai bagus dari dosen, harus pandai ‘berpolitik’. Begitulah yang saya alami waktu kuliah dulu. Hanya bisa menyayangkan meski terpaksa dilakukan. Semoga suatu saat nanti Indonesia bisa berubah U_U

  9. Wah, ibunya Bli Gara melek politik ya? Hm.. menjelang pilkada, mungkin hampir di semua daerah ada “mencari simpati dengan memberi”. 🙁

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!