Indahmu, Kualanamu!

Suatu fajar dan saya terbaaang… kembali menuju barat Indonesia.

Dalam petualangan saya ke Pulau Andalas kali ini, bersama Mbak Din saya menjelajahi ujung sebelah dari pulau ini: Aceh. Tapi sebelumnya, kami harus mendarat di Kualanamu karena intrik-intrik transportasi last minute.

Kenapa maskapai penerbangan selalu tidak menyisakan sekian persen tiketnya untuk para traveler last minute seperti kami? marah-marah sendiri

Ya itu supaya kalian para traveler menyiapkan perjalanan jauh-jauh hari, Gar. Jadi nggak ada intrik konflik, drama terburu-buru kejar pesawat seperti Rangga dan Cinta #eciye

Oh iya juga sih.

Memang perjalanan kali ini, meski sudah direncanakan, tetap saja jatuhnya out of plan. Namun demikian, meskipun out of plan, malah bagi saya tambah seru. Seru soalnya cerita yang ada banyak banget, semua detik bisa jadi satu cerita dengan panjang dua ribu kata. Jadi mohon maaf kalau cerita-cerita serial Aceh ini akan jadi super duper panjang  :hihi.

Mari, kembali ke lappie~

Perjalanan ke Meulaboh sendiri, sebenarnya bukannya tanpa rintangan. Tersebutlah kami sedang ngobrol-ngobrol dengan teman asli Aceh karena kami berdua sebelumnya belum pernah ke sana.  Dan pertanyaan mereka ketika tahu kami akan ikut ke Meulaboh adalah, “Yakin, mau ke Meulaboh?”

“Ya–memangnya kenapa, Pak?”

“Di situ bukannya lagi banjir dan tanah longsor, ya?”

“Iya, sih… Tapi mau bagaimana? Sudah kadung terniatkan ke sana?”

Dengan mengabaikan peringatan-peringatan itu, jadilah kami berangkat.

Dalam rencana awalnya (sebut saja Plan A), saya bersama Mbak Din dari Jakarta langsung terbang menuju Banda Aceh. Dari Banda Aceh, kami bersama orang kantor sana akan menempuh jalur darat menuju Meulaboh untuk menyelesaikan urusan di sana. Setelah urusan di sana selesai, kami kembali lagi ke Banda Aceh sebelum meneruskan perjalanan kembali ke Jakarta.

Tapi tiket Jakarta—Banda Aceh sangat susah didapat. Jadilah Rencana B, kami transit di Kualanamu, dari Kualanamu penerbangan ke Banda Aceh. Lagi-lagi kami kehabisan tiket uyeah. Seakan-akan semua orang sedang menuju Banda Aceh di hari yang sama dengan kami!

Akhirnya setelah riset sedemikian lama, dan tahu kalau di Meulaboh ada bandar udara, jadilah kami melaksanakan Rencana C.

Jakarta—Kualanamu—Meulaboh. Dari Meulaboh mengikuti rencana sebelumnya, jalan darat menuju Banda Aceh sebelum kembali ke Jakarta.

Wuhuu.

Soetta di kala subuh.
Soetta di kala subuh.

Jadilah hari itu, 10 November 2014 yang bertepatan dengan Hari Pahlawan, pagi-pagi buta saya sudah membelah Tol Dalkot dan Tol Sedyatmo menuju Soetta dengan taksi yang rela menunggu dari jam 2.15 sementara saya baru keluar kosan pukul 3.00 :terimakasihpaktaksi. Setelah menanti fajar di Soetta, kedinginan di ruang tunggu gara-gara saya baru sendirian di situ bersama petugas bandara, kami pun take off resmi pukul 5.40.

Sungai itu pun meliuk...
Sungai itu pun meliuk…

Sumatra… tetap saja misterius. Bahkan setelah saya perawani pada kunjungan ke Metro beberapa minggu berselang, Sumatra seperti tetap menyembunyikan sesuatu. Sungai-sungai cokelat kental meliuk-liuk menembus hutan lindung menguarkan aroma petualangan yang demikian pekat, tatkala pantulan samar matahari dari balik awan berpadu dengan tebalnya hijau pepohonan.

Bahkan beberapa menit sebelum pesawat kami menjejak Kualanamu, aura misterius itu tetap ada. Keperkasaan Medan belum tampak gahar di mata, karena memang kalau dilurus dari Jakarta, bandar udara ini terletak sebelum Medan.

Jam 08.00 kami mendarat. Perjalanan yang agak jauh dari landas pacu menuju lokasi parkir pesawat awalnya menimbulkan tanya keheranan di benak saya: kenapa begini jauh? Selaksa jalan layang menyapa di kejauhan, tapi sejauh ini hanya itu jalanan kendaraan yang terlihat. Sama sekali belum ada dugaan mengenai dunia futuristik macam apa yang akan menyapa kami di kejauhan sana #agaklebay.

Kali pertama saya menjumpai bangunan bandara, pada awalnya membuat saya teringat dengan Sultan Hasanuddin di Makassar sana. Lengkung-lengkungan berderet beriring, memanjang menjauhi pelupuk mata. Masih tampak biasa. Kami turun lewat garbarata, kemudian barulah saya mendapati lorong kedatangan itu demikian panjang.

Kurang panjang apa?
Kurang panjang apa?

Apa yang saya jumpai di jendela lorong itu pada awalnya cukup mencengangkan. Serangga-serangga kecil seperti kutu berkaki enam menggumpal di sudut-sudut jendela. Begitu banyak, dan agak menyeramkan bagi orang-orang karena jumlahnya yang demikian itu. Beberapa orang bahkan mengambil foto untuk mengabadikan wabah unik ini. Sayang saya belum sempat mengambil kamera karena keburu ribut-ribut sendiri.

“Ini apaan?” Saya berseru kaget. “Kayak kutu, Mbak! Kayak kutu!”

“Ih iya Dek…” Mbak Din ikut-ikut menempelkan mata di jendela itu. “Agak nyeremin, ya.”

Yang lebih menyeramkan adalah kalau kutu-kutu itu masuk ke dalam bandara yang berkarpet ini… apalagi kalau ternyata serangga-serangga itu menggigit, masuk ke aliran darah, dan menjadikan korbannya zombie penyebar virus mematikan!

Wah, saya terlalu banyak menonton film horor, pikir saya sambil geleng-geleng dan melanjutkan langkah.

Kami tiba di gerbang F. Sampai gerbang D, perjalanan belum selesai. “Kok begini panjang, ya?” gumam saya. Sumpah, panjang sekali lorong kedatangannya! Kami menyusuri dari huruf D, kemudian C, bahkan sampai ke B. Baru sedikit sebelum gerbang B kami berbelok pada gerbang transit. Niatnya mau transit di sana, tapi kata petugasnya, karena kami dari maskapai yang berbeda, kami harus check-in dari awal lagi di konter check in Island C.

Saya baru sekali ini mendengar istilah island di bandara. Just curious, how big is this airport, actually?

Ketika kami menuju konter check in, saya cuma bisa melongo.

Satu island check-in
Satu island check-in

Dang, it’s huge.

Satu selasar besar nan panjang menyapa kami tepat setelah deretan ruang tunggu. Dengan satu terminal yang memiliki dua belas gate, ulangi, DUA BELAS (di Soetta saja setiap terminal cuma punya enam), tidaklah berlebihan kalau saya katakan bandara ini sekarang jadi bandara terbesar di Pulau Sumatra.

Twelfth
Twelfth

Jangan pula lupa bahwa bandara ini adalah satu-satunya bandara dengan jaringan kereta api sebagai penghubungnya dengan pusat kota Medan, ya!

Railink Services :D
Railink Services 😀

Untuk dapat menuju konter check in, kami harus mencari ramp yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua. Di balik ramp itu, di lantai satu terdapat kumpulan bank dan kafe. Ramp ini sendiri bagi saya merupakan hal yang baru, karena saya belum pernah melihat yang serupa di Soekarno Hatta. Mungkin, sedikit hal yang perlu ditambah adalah eskalator dan lift yang mengantar pengunjung dari lantai satu menuju lantai dua dan sebaliknya.

Soalnya untuk turun kita mesti cari lift karena eskalator rusak, tapi kalau mau naik kita mesti cari eskalator karena lift-nya mesti penuh.

Di lantai dua, kesibukan malah nyaris membuat saya lupa kalau ini bandara. Sontak saya berucap, “Ini bandara apa mall?”

Betapa tidak, penataan tenant dan tenant-tenantnya sendiri malah membuat saya merasa sedang di PI, bukan bandara di Sumatera Utara! Keren banget pokoknya. Bagi wisatawan yang berduit, transit di bandara dalam waktu lama tapi tidak cukup lama untuk menginap, shopping-shopping sejenak di commercial zone seperti ini pastinya jadi pilihan utama, ya.

Ah, ekonomi berbiaya tinggi. Buat saya sih nggak dulu. Hehe…

Setelah insiden Burger King yang ternyata tidak ada di sana tapi kami berhalusinasi bahwa restoran itu ada (bahkan kami bertanya ke petugas kebersihan dan dia cuma berseru: Burger King? Di sini nggak ada!), akhirnya kami pun menuju konter check in yang ada di Island C, dan itu lagi-lagi membuat saya bengong, karena jumlah konter check in-nya mungkin lebih dari 50 ya, dibagi dalam empat island. Yang dimaksud dengan island di sini adalah kumpulan konter-konter check in, jadi konter-konter itu tidak berderet dalam satu tempat saja gitu (seperti di Soekarno Hatta), tapi dibagi jadi empat kelompok besar untuk setiap kelompok maskapai, jadi antriannya bisa terdispersi dengan baik.

Ide yang bagus. Patut diterapkan di seluruh bandara di seluruh Indonesia :))

Kami memutuskan untuk rehat sebentar di sebuah kafe sebelum menunggu penerbangan kami ke Meulaboh dua jam lagi. Dua jam sih sebenarnya tidak sebentar, ya, tapi katakanlah itu rehat sebentar. Niatnya, kami (sebenarnya saya) kepingin makan besar, tapi niat itu langsung terurungkan begitu kami melihat daftar menu.

Segelas jus sirsak saja harganya 25k! Kentang goreng 30k!

Mahalnya… ekonomi berbiaya tinggi banget lah ini, Mak…

Ujung-ujungnya kami cuma memesan satu gelas jus sirsak (untuk Mbak Din), sementara saya memesan kentang goreng dan segelas teh manis panas. Beruntung, saya menyiapkan sebungkus keripik kentang kesukaan, jadi saya menggunakan dua jenis olahan kentang itu sebagai pengganjal perut.

Sarapan (mahal)ku...
Sarapan (mahal)ku…

Hidangan licin tandas, saatnya foto-foto!

Saya memanfaatkan waktu yang ada untuk mengabadikan tempat itu sebaik-baiknya, sembari mencoba meningkatkan kemampuan fotografi saya yang masih cetek ini, tentu :haha. Banyak objek yang coba saya abadikan. Seperti gerbang masuk ke ruang tunggu penumpang, yang menggunakan sistem tap yang mirip sekali dengan pintu-pintu di stasiun di Jepang sana. Penumpang tinggal menge-tap barcode yang ada pada boarding pass mereka, dan voila! Pintu itu pun terbuka. Tapi jangan keburu bahagia melihat tidak ada pengamanan X-Ray di sini, itu wajib di setiap bandara, dan untuk Kualanamu, ada satu pemeriksa X-Ray di setiap kelompok ruang tunggu.

Tap and go!
Tap and go!

Saya juga baru sadar kalau di bandara itu mengadopsi bentuk atap rumah adat Batak di beberapa tempat. Juga, panggung-panggung untuk show musik atau kesenian tradisional berlatar Istana Maimun. Wuhuu.

Terminal domestik di sini, sebagaimana yang telah saya katakan tadi, terbagi menjadi 12 gate. Setiap 4 gate memiliki satu ruang tunggu bersama, jadi misalkan saya kemarin akan naik pesawat dari Gate 6, maka ruang tunggu saya akan bersama-sama dengan ruang tunggu penumpang yang naik dari Gate 5, 7, dan 8.

Suasana ruang tunggu
Suasana ruang tunggu

Konsep green airport saya pikir teraplikasikan dengan baik di sini. Di ruang tunggu ada beberapa pohon berukuran sedang ditanam dalam pot. Pencahayaan dari luar sangat baik, hampir-hampir tidak menggunakan lampu karena dinding sebelah utara dibuat seluruhnya dari kaca yang tebal. Saya tidak akan heran kalau seandainya untuk sumber energinya, digunakan sel-sel tenaga surya.

Pukul 10.20, panggilan boarding memerintahkan kami untuk segera naik ke pesawat menuju Meulaboh. Ah, tampaknya kunjungan singkat saya di Kualanamu telah berakhir. Semoga saya bisa menjumpainya lagi, karena saya penasaran dengan Railink-nya. Teriring terima kasih saya pada Pemerintah RI dan Angkasa Pura II yang telah menjadikan bandar udara ini ada. Semoga keindahan Kualanamu bisa tetap terjaga, dan dicontoh oleh seluruh bandar udara di seantero negeri ini.

Yes!
Yes!

Sampai jumpa di Meulaboh!

9 thoughts on “Indahmu, Kualanamu!

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!