Hujan di Alun-Alun Purwokerto: Satu Renungan Lain

Keluar-keluar dari Pratistha Harsa, saya jadi seperti filsuf betulan. Merenung terus, bahkan tetes-tetes air hujan di alun-alun Purwokerto ini pun direnungkan. Itu artinya satu: saya lelah dan butuh sesuatu yang segar-segar. Seperti mandi hujan. Tapi, ya kali, mandi hujan. Paling-paling yang bisa saya lakukan sekarang cuma merasakan tetes-tetes air yang turun dari pinggiran payung (tuh kan kontemplasi lagi. Capek sayanya, jadi kita hentikan sejenak penjelasan panjang itu di titik ini dulu).

Maka akhirnya, untuk mendinginkan kepala sekaligus memuaskan keinginan (saya) yang kota asalnya tidak punya alun-alun ini (sebenarnya ada lapangan, cuma saya pikir belum memenuhi syarat sebagai alun-alun), kita bertiga bergerak ke timur sedikit, menuju pusat kota Purwokerto. Syukurlah cuaca sudah mulai bersahabat, meski langit masih menyisakan sedikit rintik dan jalanan masih basah dengan beberapa genangan di sana-sini.

Sepertinya kurang seratus langkah dari Pratistha Harsa menuju alun-alun, karena jarak mereka yang begitu dekat. Selain itu, di sepanjang jalan saya mendengarkan cerita Mbak Er tentang masjid agung yang kami lewati, tempat dulu Mbak Er kecil belajar mengaji, diantar jemput oleh sang ayah yang kini ada di sisi. Saya cuma membayangkan dan tertawa-tawa sendiri. Sayangnya, entah kenapa tawa itu terasa hambar. Hujan membuat suasana yang umumnya bahagia pun jadi galau. Pasti begitu.

air-mancur-hijau-purwokerto
Hijau dan hujan.

Hujan menderas lagi. Lumayan derasnya, kali ini memaksa kami mengembangkan payung. Namun kami tetap melanjutkan langkah, tidak urung berkunjung hanya karena Bhatara Indra sedang melaksanakan tugasnya. Kami semua sama-sama punya kegiatan yang tidak bisa ditunda. Istilahnya begitu. Untuk saya, kegiatan itu mungkin melanjutkan jalan pikiran yang sedari tadi terhenti. Siapa tahu setelah hujan ini berakhir, saya bisa mendapat suatu kesimpulan.

Beberapa saat berlalu sampai langkah-langkah kami menghindari genangan di hujan yang kembali turun itu membawa jejak kami pada lapangan besar di hadapan Kantor Bupati Banyumas: Alun-alun Purwokerto. Mbak Er membawa saya melihat sesuatu di agak ke depan sana, sesuatu yang baru ada di kota ini. “Terakhir kali aku ke sini ini belum ada, Gar.”

Air mancur yang berwarna-warni.

air-mancur-alun-alun-purwokerto
Air mancur di Alun-alun Purwokerto.

Bukan, ini bukan air mancur yang beratraksi atau menarikan cahaya spektakuler. Hanya empat atau lima baris air mancur dengan ketinggian yang berbeda, ada dua, di sisi kiri dan kanan yang agak ke kejauhan sana. Sempat saya bingung: ini air mancur atau air muncrat, sih? Pasalnya, kalau air mancur setahu saya memancur dari ketinggian, sedangkan kalau dari bawah, namanya air muncrat. Tapi kan kalau dari ketinggian namanya air terjun, ya? Ah, entahlah.

Mungkin bagi yang biasa menyaksikan atraksi air mancur spektakuler berwarna-warni menari-nari di taman atau mal dekat rumah, melihat air mancur seperti ini adalah biasa banget. Saya pun juga sudah pernah melihat air mancur yang lebih berwarna warni dari ini di ibukota. Tapi di sini, pemandangannya agak berbeda. Di tengah hujan, masih ada orang yang mau menyaksikan air mancur ini, berganti warna dengan ritme konstan setiap waktunya. Kegiatan yang sesungguhnya begitu sederhana. Tapi ada orang yang merasa bahagia dengan kegiatan yang sederhana seperti itu.

videotron-air-mancur-alun-alun-purwokerto
Mereka menari dalam warna-warna.

Sungguh. Menatap air mancur itu kala itu membuat hati terasa permai. Sederhana sekali.

Sekaligus, saya ingin foto-foto saja di tempat ini, hitung-hitung mengabadikan ruang waktu bersama-sama dengan melatih kemampuan jepret-jepret. Agak kerepotan memang, soalnya saya membawa payung di satu tangan, dan kamera di tangan yang lain, yang harus saya jaga agar tidak basah tapi saya kepingin mengambil banyak gambar.

Mungkin beberapa orang tidak akan menganggap gambar saya adalah yang terbaik, sejenak saya pun beranggapan begitu, tapi kalau soal puas, saya sudah sangat puas, karena malam itu saya sudah berusaha yang terbaik untuk mengabadikan air mancur ini, semampu saya. Meski butuh waktu lama, tak apa. Meski air terjunnya cuma “seperti ini”, itu pun tak masalah. Saya kala itu merasa sangat cukup meski hanya melihat air terjun.

Permai. Purwokerto memang permai sekali.

Mbak Er dan sang ayah juga entah berbicara apa ada di depan sana, bercakap-cakap di bawah payung, dalam bahasa Jawa, sambil juga menatap air mancur itu. Saya memilih memerhatikan sekeliling. Videotron besar lurus dengan kami, sepasang air mancur, dan di kejauhan sana, Alun-alun Purwokerto, sebuah lapangan yang diapit oleh pusat pemerintahan dan masjid agung. Sementara di depan sana, sebuah mal megah sedang dalam proses pembangunan.

videotron-purwokerto
Videotron di Purwokerto.

Saya memilih mengabaikannya untuk kembali mengamati alun-alun kota. Tak mau berkomentar tentang apakah kepermaian kota ini akan terganggu karenanya. Pada kegelapan, saya memalingkan kepala, pada barisan lampu yang menjadi pembatas di kegelapan nyata pada ujung lain alun-alun kota.

Tak terlalu jelas dari sini karena gelap, tapi barisan lampu itu menjadi tanda pembatas bahwa di kegelapan sana, ada bangunan megah sebagai Kantor Bupati Banyumas. Saya belum sempat beriset, apakah dulu di tempat inilah Residen Banyumas berkantor, tapi menurut cerita Mbak Er, memang kompleks alun-alun ini adalah kompleks yang sudah ada sejak zaman kolonial dulu. Kalau cerah, Gunung Slamet menjadi latar yang demikian megah bagi pusat pemerintahan kabupaten ini.

lapangan-alun-alun-purwokerto
Lapangan dan gapura pusat pemerintahan.

Dan kalau kita cocok-cocokkan, pemerintahan di masa lalu betul-betul mempertimbangkan latar dari tempat mereka membangun sebuah pusat pemerintahan, agar bangunan tersebut punya wibawa di mata masyarakatnya. Istana Bogor dibangun dengan latar Kebun Raya dan di kejauhan, Gunung Salak. Balai Kota Batavia dibangun berhadapan persis dengan Gerbang Amsterdam, dan di belakangnya, kesibukan bandar Sunda Kelapa, pusat pengaturan perdagangan VOC selama kurang lebih dua abad. Sekarang, di Purwokerto, sebuah bangunan pusat pemerintahan didirikan dengan latar Gunung Slamet yang berdiri anggun, tapi misterius.

Sebuah kemisteriusan yang menyaput, ikut turun bersama malam di kota sang Bawor. Yang entah sampai kapan akan ada di sini sebelum akhirnya terganti dengan hiruk-pikuk pariwisata, perkembangan daerah dan pemikiran masyarakat, menuju kata modern dan menjauhi semua yang mengingatkan pada masa lalu.

air-mancur-alun-alun-purwokerto-2
Kini warnanya biru!

Ah, saya baru sadar, kalau tema semua postingan tentang Jurnal Banyumas ini semua tentang “bertahan”, tapi ya, itulah yang saya rasakan. Maka pada malam yang mulai menua itu, sesuatu di dalam sudut hati saya bergumam lirih, “Bertahanlah.”

Pada akhirnya, pikiran yang sedikit terganggu dengan renungan di alun-alun Purwokerto itu mesti mengalah pada waktu yang terus bergerak. Tapi sebelum malam berakhir, sempat saya berpikir soal apa makna dari semua yang sudah saya alami. Yang paling menyentak tentu saja arti dari “Pratistha Harsa”. Sebuah almanak kata-kata Jawa Kuno memberi definisi bahwa “pratistha” berarti tempat, dan “harsa” punya makna senang. Maka Pratistha Harsa semestinya bermakna “tempat yang memberi kesenangan”.

Namun, apakah benar demikian?

51 thoughts on “Hujan di Alun-Alun Purwokerto: Satu Renungan Lain

  1. Membaca cerita tentang kota tempat saya selalu datang saat mudik Lebaran ketika kecil itu, -apapun ceritanya-, memang menghangatkan hati, Gara. Mungkin terlalu banyak kenangan manis penuh senyum, menimbulkan kerinduan tersendiri. Saya kangen baunya, kangen riuhnya, kangen suasananya…
    Terima kasih sekali sudah berbagi cerita yang kini gantian saya jadi merajuk ke suami minta ditemani kesana hahahaha…
    NB* Moto sambil payungan itu asli asikkk tapi apapun hasilnya rasanya worth it… 😀

    1. Masa kecil memang paling membekas dalam kehidupan ya Mbak. Setuju banget, saya juga senang membaca apa pun tentang Mataram, hehe.
      Iya, berfoto saat hujan itu seru. Meski hasilnya mungkin bukan yang terbaik tapi akan selalu ada cerita di balik itu.

  2. Ah bahagia memang sederhana. Ngeliat foto air mancur yang warna-warni aja udah seneng kok. Gimana ngeliat yg aslinya.

    Itu kenapa ya kok bisa berwarna seperti itu? Trik pake lampu atau gimana? Jadi penasaran juga haha ha…..

  3. Ternyata ada banyak daerah yang sedang memperbaiki tatanan kotanya terkhususnya alun-alun ya. Beberapa waktu lalu di kampung halaman saya di Jogja juga mrubah tatanan alun-alunya, dipercantik, diperluas, dan diberi banyak fasilitas publik. Bandung juga demikian. Dan sekarang Purwokerto pun juga.. semoga perbaikan-perbaikan ini membawa dampak yang baik bagi perkembangan masing-masing daerah…

    nice writing mas Gara 🙂

  4. Kalau didepan saya ada air mancur seperti itu juga bakalan liat sih walau hujan, menarik dan jarang ada air mancur seperti itu.
    Bagus sekali Purwokerto punya taman yang bisa jadi objek wisata. Dengan modal taman kota yang asri, tata ruang yang baik, dan kebersihan yang terjaga pasti kota tersebut disukai orang…kalau jaman sekarang istilahnya bisa viral 😀

  5. Rasa-rasanya, saya sebenarnya cukup sering merenung pada satu titik lokasi/tempat dan berlagak seperti filsuf betulan. Tapi, jarang menuliskannya seperti yang Mas Gara di tulisan ini, hahaha 😀 Padahal dengan merenung, sebenarnya bisa jadi jalan untuk memotivasi kita melanjutkan langkah, apa yang sebenarnya terjadi pada tempat tersebut sebelumnya? Ketika kita sudah bertanya-tanya, itu tandanya perlu jawaban-jawaban yang harus dicari tahu lebih lanjut 😀

  6. Sekarang lagi musim air mancur warna warni. Di Gedung Juang 45 Nganjuk juga ada air mancur warna warni begini. Di alun2 tulungagung juga ada. Di Gedung Juang Nganjuk, air mancurnya malah bisa menari2 naik turun muter2.

    Dan otomatis menarik anak anak kecil plus ortunya tentunya, untuk berada di situ lama lama. Trus pedagang2 di sekitar situ pun tinggal menunggu rejeki yg datang dari perut si anak untuk beli minuman atau makanan, atau otak si anak yg kepingin menambah koleksi mainan.. 😀

    1. Pingin lihat yang bisa naik turun muter-muter Mas, hehe. Iya, jadi pusat keramaian baru, pusat ekonomi baru, dan pusat kegiatan yang baru juga. Kota juga jadi lebih hidup, kan. Tapi catatannya adalah semoga tidak berujung vandalisme atau pengotoran fasilitas publik.

  7. Terakhir aku kesana pun belum ada air mancurnya, hehe. Ya iyalah, secara tahun 2013. Btw bener itu namanya air mancur, air mancur kan memang dari bawah mancur ke atas. Kalau dari atas ke bawah, namanya air terjun. Air mancur ini persis yang ada di Taman Vanda, Bandung, samping Balai Kota.

  8. aku pun akan dengan seksama melihat dengan sabar tuh air muncrat warna warni, maklum sebagai orang yang tinggal di kampung, hiburan seperti ini boleh dibilang sangat menarik bagi ukuran kami : )

  9. Terakhir lewat alun-alun purwokerto pas awal tahun 2017, abis jalan dari stasiun mau mudik, tapi masih siang…jadi gak bisa ngelihat air mancur warna-warni kayak air sirup itu…ahaha

  10. Aku blm pernah ke Purwokerto, mas 🙂 Kadang kontemplasi yang tak berujung memang selalu datang di saat2 tertentu, apalagi dlm aroma hujan dan peristiwa yg ada di sekelilingnya 🙂

    1. Betulan langsung mandi Mbak? Eh memang menggoda banget sih, haha. Beruntung dulu itu saya ke sana saat hujan jadi hasrat mandi di air mancur pinggir jalan itu bisa sedikit terbendung. Meskipun, banyak juga anak-anak aji mumpung di sana: mandi hujan di air mancur.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!