Heyla Hotsa!

Akhirnya dapat waktu untuk tak-tik mengetik soal tari saman yang sangat fenomenal di kantor saya :hihi. Hore!

Sebagaimana telah saya jelaskan dalam beberapa postingan sebelum ini, beberapa hari setelah saya kecelakaan (yang dibahas kecelakaan mulu… kok saya jadi bosan ya? :haha), saya sudah harus latihan buat lomba tari yang diadakan oleh kantor saya, dalam rangka Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) di kantor kami. Istilahnya, pencarian bakat begitulah.

Porseni ini diadakan antar eselon 2 (setingkat divisi kalau di swasta). Total di kantor kami ada delapan biro dan lima lembaga setingkat eselon 2 jadi totalnya adalah tiga belas kandidat pesaing. Tapi, tidak semua eselon 2 wajib mengirimkan wakil di setiap mata lomba, secara untuk SMB sendiri mata lombanya ada: tari, band, menyanyi, dan stand up comedy. Semampunya saja, tak ada paksaan, biro saya sendiri tidak mengirimkan wakil di stand up comedy, jadi kita cuma ikut tari, vokalis, dan menyanyi. Toh kita semua melakukan ini buat senang-senang.

Meski demikian, tentu saja kita mesti melakukan yang terbaik, soalnya yang menonton adalah para bos (baca: pejabat) jadi penampilan kudu mesti membanggakan. Selain itu, ada beberapa biro yang menganggap kompetisi ini terlalu serius dan menjadikan kami sebagai lawan utama yang harus dimusnahkan. Biasa, orang-orang yang terlalu kompetitif :haha.

Nah, biro kami memilih tari saman sebagai tarian saat lomba nanti. Kita belajar dari banyak sumber, bahkan sampai tanya-tanya dan mengundang pelatih tari untuk gerakannya. Yang diinginkan, kita menarikan tari saman ini seperti ditarikan asli oleh orang Aceh sana, bagaimana lagu dan gerakan wajibnya (ternyata tari saman ini ada gerakan wajib) bisa ditampilkan dengan baik oleh kita.

Tantangannya adalah waktu yang sangat singkat untuk latihan (cuma seminggu sebelum audisi), dan tidak ada satu pun di antara kita yang orang Aceh jadi kita kurang tahu apakah yang kita tarikan itu betulan saman atau bukan, apakah syair yang saya nyanyikan itu memang benar demikian ataukah ada syair yang sebenarnya.

Yep, yang saya nyanyikan, sebab di tarian itu, saya tidak menari, melainkan jadi syekh yang bertugas memandu penari sambil memainkan rebana. Dengan kondisi tangan yang seperti itu, ini sudah jadi tantangan tersendiri banget, habisnya ketukannya mesti pas dengan gerakan, dan tari saman ini semuanya adalah soal tempo dan ritme!

Namun di tari samanlah saya belajar bahwa tarian ini merupakan kerja tim yang semua anggotanya mesti satu jiwa. Meski saya adalah syekh yang notabene memandu, tapi saya tidak boleh merasa lebih tinggi dari yang lain karena di dalam beberapa situasi saya mesti menunggu sampai semua penari siap. Saya juga tidak boleh merasa bahwa beban saya berat banget (menyanyi sampai suara mau habis sambil main rebana), karena ternyata… perjuangan para penari itu berat banget.

Gerakannya gilak! Menari saman itu sangat, sangat, sangat tidak gampang. Bersimpuh seperti itu sudah jadi tantangan berat, belum lagi bahwa ternyata di beberapa peralihan dari satu lagu ke lagu yang lain (total ada lima lagu di tari saman yang kami bawakan) ada pergerakan pindah posisi dan pola hadap, yang membuat semua jadi seribu kali lebih sulit. Belum lagi ada demam panggung yang membuat beberapa penari salah di gerakan dan suara saya habis karena kebanyakan latihan :haha.

Kita tampil dua kali, sekali saat audisi dan berhubung kita lolos ke grand final, kita tampil lagi di acara gemerlap itu.

Menurut si pelatih tari, tari saman punya lima lagu wajib. Entah apa judulnya kami juga tidak tahu, yang jelas kami mengistilahkannya dengan lagu La Ilah, Ya Hu, Hei Jana, Kutiding, dan yang terakhir seperti judul postingan, Heyla Hotsa. Menurut saya yang paling ditunggu adalah Heyla Hotsa soalnya di sana para penari harus dalam tiga posisi seperti ombak, ada yang jadi dasar ombak, pinggang ombak, dan puncak ombak, belum lagi gerakan selanjutnya yang tidak kalah cepat.

Jurinya sendiri bukan sembarangan, kalau boleh saya bilang ciee ceritanya bangga. Terdiri dari enam orang, tiga orang adalah juri dari Institut Kesenian Jakarta (bahkan Wakil Rektor Bidang Kerja Sama IKJ juga turun tangan :hihi), sementara tiga juri lagi adalah tim artis dan penyanyi, yakni Oddie Agam, Rinanda Begal, dan pelawak Mucle.

Sayang kemarin kita kurang maksimal di gerakan ini, ada penari yang kelupaan gerak, dan suara saya juga sudah habis jadi kesannya seperti teriak-teriak. Tapi jurinya yang notabene penyanyi tahun 80-an itu bilang suara saya bagus, sih :haha mulai geer.

Anyway, kami mendapat juara 2! Tak buruk untuk sepuluh orang yang baru dua minggu kenal dengan tari saman dan belajar tentangnya :hehe. Jadi ajang bagi kami juga untuk ikut melestarikan tarian daerah Indonesia, sekaligus semangat buat belajar tari saman seperti apa yang benar, siapa tahu di ajang tahun depan bisa kami lakukan dan bisa dapat juara 1 :hehe.

Buat yang berkenan, sila tonton videonya di sini (abaikan gemuruhnya :haha) dan teks lagu saya sisipkan di halaman selanjutnya. Mohon maaf apabila kualitas videonya kurang bagus, sebab hanya diambil dari kamera ponsel. Soal lirik lagu, sekali lagi saya tegaskan bahwa saya bukan orang Aceh jadi saya kurang tahu apakah itu lirik yang benar. Saya menyalinnya dari catatan pelatih tari kami jadi saya kurang tahu apakah liriknya memang benar seperti demikian. Yang jelas kami berusaha menyamakannya dengan apa yang kami dengar di beberapa video YouTube :hehe.

Kalau ada yang mau mengirimkan pada saya teks lagu saman yang asli disertai bukti berupa kitab sumber, akan saya terima dengan senang hati.

Soal drama, nantilah ya kapan-kapan saya bahas. Tak enak membahas drama personal kami dan pesaing di muka umum, jadi agaknya semua drama itu akan saya simpan sebagai bumbu yang bisa saya pakai dalam posting-postingan di masa depan :hehe. Lagi pula, yang namanya beberapa suporter lawan yang kepengin mengacaukan penampilan pesaingnya di depan panggung itu kan hal yang biasa?

Selamat menonton, dan semoga terhibur! :haha.

Bagian 1:

Bagian 2:

14 thoughts on “Heyla Hotsa!

    1. Saya bukan menari Om, saya yang nyanyi… yang nari memang keren banget, saya kagum sendiri melihat teman-teman yang saya temui di kantor bisa berubah jadi ahli banget main gerakan tangan :hehe. Terima kasih ya :)).

      1. Yang di depan itu bukan Gara ya? kirain Gara >.<

        Aku suka liat video pas penari Saman menunjukkan kebolehan di luar negeri. Biasanya yang nonton hening dan udahnya tepuk tangan membahana. Merindiiiing

  1. gara, seminggu tapi gerakan susah itu keren lho 😉
    kamu pas jadi syekh n rapai (multitasking banget)
    salut kamu mau pake peci hehe
    btw, bhs aceh mirip bahasa bali kan hehe..
    #standing aplause

  2. Saluuut, cuma seminggu untuk bisa mementaskan ini? Kalau aku mungkin butuh waktu berbulan-bulan, secara susah ngapalin syair, nada dan juga koreografi. Dan sepertinya dirimu menikmati banget ya Gara …

  3. emang kebayang .. susah menari tari saman … apalagi berlatih dalam waktu singkat …
    tapi ternyata berhasil juara kedua …. congrats .. …
    saya terakihr nari .. waktu SD … eh kalau dugem termasuk ngga ….

    1. Dugem kayaknya tarian bebas deh :hehe. Terima kasih sudah berkunjung dan mengapresiasi! :hoho. Iya tari saman memang susah, tapi kami bangga, menarikannya tidaklah terlalu buruk :hehe :peace.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!