Ganesha Torongrejo: Sebuah Kesedihan di Tapal Batas

Curio sebenarnya punya kekagetan yang sama dengan saya. Patung Ganesha Torongrejo? Aneh kedengarannya. Namun, melihat si bapak yang sudah bersiap menunjukkan jalan, dia memilih untuk mendengarkan penjelasan lelaki tua itu dulu sebelum akhirnya naik ke boncengan dan menyuruh saya menjalankan motor. Si bapak tidak mengantar kami sampai tujuan, ia hanya menunjukkan jalan karena harus kembali ke punden lagi untuk melakukan sesuatu.

Atau, saya duga, untuk tidak melakukan sesuatu. Menurut saya, yang mereka lakukan cuma menunggu sampai dupa-dupa itu habis terbakar.

Setelah agak jauh meninggalkan si lelaki tua, yang tak sempat kami tanyakan namanya itu, sebelum motor kami membelok di belokan pertama, Curio baru berkata pada saya, “Kamu tahu tadi kenapa bapak-bapak itu bertanya kenapa kita ada di sana?”

“Tidak,” jawab saya. “Kenapa?”

Mungkin Curio sudah penuh dengan uneg-uneg. Di atas motor, pada jalanan berbatu itu, dia berteriak:

“Kita disangka ke sana mau cari pesugihan!”

pemandangan-bukan-pesugihan
Saya ke sini cari pemandangan, bukan cari pesugihan…

“Hah?”

“Ya iyalah! Buat apa dua anak muda yang mestinya pergi ke taman bermain atau ke mal malah cari punden? Kita cari punden Gar, cari punden! Kita ini mestinya ke mal!”

Sebetulnya saya sudah siap dengan pertanyaan seperti itu, karena sebelum ini saja sudah banyak yang bertanya. Tapi selalu, saya cuma menjawab:

“Yah, namanya juga mau ngalap berkah?”

Kami melintas di sebuah jalan setapak, pematang yang menurut Curio adalah pemandangan familiar ketika ia akan berangkat ke kebun-kebun apel milik keluarganya. Jalanan tidak bisa saya katakan bersahabat, karena ruas ini tak beraspal. Saya mesti membiasakan diri dengan guncangan, tetap berhati-hati dan memegang setang motor kuat-kuat supaya tidak jatuh melintasi jalan berkerikil.

bagian-pertama-jalan-setapak-ganesha-torongrejo
Bagian pertama dari jalan setapak Desa Torongrejo.

Tapi pemandangannya memang memesona! Saya selalu suka sentuhan mendung pada panorama. Kali ini, yang mendapat sentuhannya adalah lereng gunung, petak-petak kebun sayur yang baru berupa bibit yang dikubur dangkal. Sempat saya hampir meleng dan melajukan motor agak ke kanan, sebelum Curio berteriak panik dengan mengatakan kalau saya lebih ke kanan beberapa puluh sentimeter lagi, kami berdua tidak akan selamat.

Di kanan itu lereng bukit mencuram dengan kemiringan lebih dari yang bisa saya perkirakan.

Belokan pertama adalah sebuah percabangan jalan. Saya hampir pesimis, awalnya, tapi ketika melihat papan kecil bercat putih, saya langsung menelan ludah. Bapak tadi tidak berbohong, batin saya. Papan bertuliskan petunjuk arca ganesha memang ada di sini. Jadi arca itu bukan rekaan belaka. Tapi kami mesti melaju ke mana? Satu jalan memutar bukit sementara satu lagi menanjak. Kami sudah tak punya banyak waktu tersisa—hari ini saya berencana menyambangi Punden Mojorejo dan apalah artinya saya ke Batu kalau tak menjumpai situs itu?

petunjuk-ganesha-torongrejo
Petunjuk menuju Arca Ganesha Torongrejo

Potongan puzzle ini seperti teka-teki—sama sekali tidak membantu.

Dan Ganesha adalah dewanya teka-teki.

Suara motor terdengar dari balik tikungan yang memutari bukit, dan Curio sudah menghentikan ibu-ibu yang mengendarainya. Dari percakapan berbahasa Jawa yang tentu saja awam bagi saya, arca itu bisa ditemui dengan mengambil jalan memutar, yang tadi ia tempuh. Jalanan menanjak akan membawa ke kuburan desa. Tatapannya membuat saya menepis pertanyaan soal mengapa kuburan ada di puncak bukit dan apakah ada situs lain di atas sana, dengan kata lain apakah kuburan itu bukan sekadar kuburan.

Sekitar sepuluh menit mungkin kami berguncang-guncang lagi di jalanan kerikil yang sama sekali tidak mulus. Perdebatan terjadi, saya memilih mengambil satu di antara dua cekungan jalan sementara Curio menyuruh saya mengambil jalan tengah. Akhirnya memang dia yang menang, jalan terasa jauh lebih baik di tengah sini. Rupa-rupanya memang, cekungan kiri dan kanan dikhususkan untuk roda empat sementara bagian tengahnya untuk roda dua.

“Aku tuh sudah pengalaman lewat jalan yang seperti ini, Gar. Jadi kamu menurut saja, deh.”

Dalem, Gusti.

Jalanan putus di sebuah pelataran kecil tempat beberapa motor petani terparkir. Tak ada pelataran parkir, tak ada pedagang, apalagi pemandu wisata. Hanya tiga orang pria paruh baya yang sedang berdiskusi soal daun bawang dan lobak. Mereka sadar dengan tambahan dua orang dengan penampilan jauh betul dari sebuah kunjungan kerja tani di lereng perbukitan Kota Batu. Mereka awalnya punya tatapan yang sama dengan kami, bertanya-tanya, namun setelah Curio melancarkan kalimat-kalimat Jawa Timurannya, mereka justru menunjukkan bahwa kami mesti memarkir di sini.

“Ganesha-nya ada di sebelah sana,” katanya sambil menunjuk ke arah barat.

ladang-bawang-arca-ganesha
Sejauh mata memandang adalah ladang bawang.

Curio jalan lebih dulu. Saya tahu, dan mafhum, bahwa mereka bertiga menatap heran. Dengan helm dan tripod dibawa Curio—serta jaket dan kamera yang saya kenakan di leher, kami bukan orang desa. Tapi mau apa kami datang ke tempat sebuah arca yang bahkan jalan ke sana saja masih rusak? Apa yang ingin dicari oleh anak-anak ini, bela-belain banget datang ke pelosok kota cuma buat cari sebuah arca?

Jawabannya ya karena cuma mau cari arca! Apa lagi?

Saya lama tak dapat menemukan arca itu. Cungkup, atau bahkan papan penunjuknya. Yang bisa saya lihat cuma ladang-ladang dengan tiada tanaman tumbuh tapi di atasnya ada bedengan-bedengan. Bukit pada kejauhan yang muncul dari nadir, setelah sisi bukit tempat kami berdiri menghilang pada jurang tak seberapa jauh. Tapi di mana patungnya, saya masih bingung, padahal Curio sudah melepas sandal, turun ke ladang kebun yang agak basah karena hujan semalam. Dia mau ke mana?

Saya pun berteriak pada rekan jalan saya, “Hoi! Patungnya mana?”

“Di situ!” serunya sambil menunjuk. “Kamu tidak lihat?”

ganesha-torongrejo-tengah-tengah-ladang
Patungnya berada di tengah-tengah ladang.

Saya mengikuti arah tangannya, dan terhipnotis. Diam tak bergerak barang beberapa puluh detik, antara terpukau, tidak percaya, heran, kasihan, dan sedih. Ya Tuhan. Patung itu memunggungi kami. Saya bisa melihatnya berada di bawah sebuah bangunan tak berdinding yang syukurnya sudah beratap. Sebuah papan keterangan dalam tulisan serupa dengan papan petunjuk ada terpancang di dekatnya. Sementara itu, patungnya sendiri membelakangi kami, menatap jurang dan bukit dengan hutan menghijau di seberang sana.

Apakah saya bicara? Tidak. Kata-kata saya terisap habis.

Kaki saya seakan bergerak sendiri, mencari jalan menuju patung Ganesha. Tak ada jalan setapak, apalagi jalan beraspal. Hanya pematang sawah. Bahkan, tak ada pematang sawah yang tepat berujung pada si patung. Ganesha di Batu ini berada di tengah-tengah ladang kebun selada!

Rasanya seperti sedang mencari sebuah pulau di tengah-tengah lautan berombak, sementara tempat berdiri yang ada cuma gabus yang sangat oleng. Ada sebuah kerinduan yang membuat saya rela melakukan apa saja untuk bisa mencapai patung itu. Itu memang sebuah patung, tapi dari sini saya bisa merasakan kalau patung itu masih sama. Ia adalah Ganesha yang asli dengan yang diletakkan di sana oleh entah siapa, beratus tahun lalu.

Hanya saja, ini rindu yang berbeda. Rindu yang rasanya haru, sedih sekali. Seakan kami sudah saling menunggu untuk bersua. Ia menunggu dalam bisu, sementara saya menanti dalam pikiran yang penuh. Air mata rasanya ada di pelupuk, menggenang tanpa diperintah, tanpa sebab yang saya tahu apa. Tapi mungkin inilah rasanya bersalah. Karena lama tak berjumpa padahal kemampuan itu ada. Lama tidak tangkil, sekadar memberi salam penghormatan. Terlalu sibuk dengan riuh-rendah dunia fana, abai dengan kekuatan yang menjadikan ada.

Oh, masihkah selarik kata maaf itu berguna?

Saya mesti berterima kasih pada Curio yang tidak membiarkan saya terhanyut pada suasana dan aura mendung yang menggantung di langit. “Gar, itu lubang jangan diinjak semua, itu bibit selada! Berani kamu injak, aku bunuh kamu nanti!” serunya di tengah tawa sambil mengacungkan kepalan tangan.

ampun-gusti-curio
Ampun, Gusti Curio!

Saya memotretnya, dan tergelak. Gadis ini, yang saya geret dengan paksa, memanggul tas dan tripod, serta helm pun tak ketinggalan, susah payah memaksa rok panjangnya untuk tak terserimpet di sela-sela bedengan yang berlumpur pada beberapa titik. Padahal sebelum ini kita cuma bertegur sapa di dunia maya, tapi hari ini saya sudah mengajaknya keliling situs!

“Terus bagaimana?” saya berkilah. “Kalau jalan di sela-sela bedengannya, nanti basah semua karena berlumpur!”

Saya tak bohong. Ini masih musim hujan (perjalanan ini dilakukan bulan Mei), jadi sekeliling kami masih sangat basah.

“Be smart!” serunya. “Jalanlah di sela-sela lubangnya!” Ia memeragakan beberapa gerakan menghindar, untuk saya turuti.

Atau coba saya turuti. Saya menurut, hanya untuk sadar kalau itu makin sulit untuk dilakukan. Susah payah saya menghindari lubang-lubang pada bedengan. Beberapa kali saya mencoba curang dengan menginjak beberapa lubang, beberapa kali pula saya mesti diteriaki Curio keras-keras karena ia ternyata melihat semua ulah saya.

Setelah sampai, saya mencoba berkilah, “Terus saya mesti lewat mana kalau tidak menginjak lubangnya?”

Ia tak menjawab, ia cuma menunjuk ke patung di samping saya.

Saya tercekat. Seperti ada angin dingin berembus menjalari punggung saya, entah dari mana. Suaranya lirih sekali berdesir di telinga, tapi ketika saya menatap Ganesha itu lekat-lekat, rasanya seperti suara kesedihan dan kerinduan setelah berpisah beratus-ratus tahun. Semacam ada yang marah kenapa saya tidak datang ke sini padahal sudah lama sekali, marah besar seperti kepada seorang anak kecil.

Sebagaimana anak kecil yang dimarah, saya pun menangis.

ganesha-torongrejo-punggung
Dia, Ganesha di Torongrejo, memunggungi kami.

18 thoughts on “Ganesha Torongrejo: Sebuah Kesedihan di Tapal Batas

  1. Ya Lord, kapan ini? Udah lama kan. It was like crazy! Perjalanan yg mengubah imej gadis baik2 di mata orang jd imej pencari pesugihan di punden T_T
    Btw, itu sawi bukan selada. Beda! Harusnya dulu saya saja yg nyetir motornya. Situ sama sekali gak tahu kalo nyetir motor di jalan rata itu beda dgn jalan berbukit2 penuh tanjakan. Kampas kopling abis dan ban bocor jd kenang-kenangan banget.

    I miss that Ganesh tho.

    1. Oh, sawi ya? Haha, kukira selada. Who cares?
      Memangnya motormu ada koplingnya, dan memangnya koplingnya berkampas? #inibenerantanya

      Datanglah, kan dekat dengan rumahmu.

    1. Sekarang sebagian akses jalan ke sana sudah berpaving blok, terakhir Juli kemarin saya ke sana. Tapi setengahnya lagi masih jalan makadam dan untuk ke patungnya juga masih harus lewat pematang sawah, Jo. Wkwk…

  2. Aku rasa warga di sini termasuk hebat, walau berada di pematang sawah dan patung tidak besar tapi tetap dilindungi. Mungkin sejarah tentang keberadaan patung Ganesa itu jauh lebih besar daripada bentuknya.

    Dan yang membuat penasaran adalah menunggu part kedua tentang cerita ini. Menunggu ulasanmu kala meilat patung ganesha dari depan.

    1. Terima kasih Mas. Bagi saya patung ini justru cukup besar, dan sejarahnya pun membentang sangat panjang di kawasan Jawa Timur ini, wkwk. Semoga saya bisa segera publish, amiin.

  3. Haaaa, lagi-lagi baru tahu ada arca Ganesha di sini! Hahaha, selalu penuh kejutan dan saya selalu tidak sabar menanti tulisan-tulisan selanjutnya. Kejutan apa lagi yang akan ditunjukkan. Ngomong-ngomong, saya membayangkan betul bagaimana ekspresi petani-petani itu melihat anak kota main ke sawah dan cuma cari arca 😀

    1. Wkwk, terima kasih banyak! Heran mas ekspresinya, cuma mungkin kalau kita ramah dan terbuka, penduduk sekitar sesungguhnya sangat terbuka juga dengan pengunjung dan orang-orang yang ingin tahu, wkwk.

  4. Salut dengan warga sekitar sana yang tidak mengobrak-abrik posisi arca apalagi memindahkannya ke tempat lain. Terus jadi penasaran dengan rupa Ganesha di tengah sawah itu. Kenapa nggak fotoin bagian depannya sih, Gar? 😀

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!