Ganesha Torongrejo: Apa yang Saya Lihat (1)

Di depan saya, Sri Ganesha ini menepati janjinya. Ia ada di sana, bergeming sepanjang waktu mengalir, entah berapa lama, melihat kehidupan timbul tenggelam. Ia ada di sana sendiri, menampilkan diri dengan atribut lengkap, seolah-olah minta dimengerti dan disaksikan. Ia seperti sangat ingin semua orang yang mengunjungi dan melihatnya tahu bahwa apa yang tertampilkan pada dirinya penuh dengan makna dan rahasia. Saya sesungguhnya yakin pula, Ia akan selalu mengajari semua pengunjung mengenai bagaimana memahami dan bagaimana cara mendapatkan makna dari keberadaan dan waktu yang sudah ia lewati.

Bagaimanapun, Ganesha adalah pendikte Mahabharata. Hanya perwujudan Tuhan untuk ilmu pengetahuan yang bisa mengemban tugas seperti itu.

Maka setelah semua hal yang terjadi sebelum ini, saya berpikir bahwa ada baiknya jika saya menjadi saksi atas apa yang tampak pada kenampakan arca beliau. Dengan saksi, saya mendefinisikan diri sebagai seseorang yang melihat dan mendengar secara langsung apa yang ada di depan mata dan telinga. Setelah melihat dan mendengar, saya akan mencoba membuat sebuah deskripsi yang saya usahakan detil dan sesuai dengan apa yang telah saya lihat dan dengar itu.

petunjuk-ganesha-torongrejo
Petunjuk menuju Arca Ganesha Torongrejo

Sesungguhnya, ada pula niatan saya untuk menyertakan suatu tafsiran. Dengan kata lain, sebuah deskripsi yang kesannya lebih ilmiah. Jadi tidak sebatas apa yang saya lihat, tetapi juga meliputi arti dan makna logisnya. Namun, bahkan sampai kini pun saya masih mempertimbangkannya. Ada dua alasannya. Pertama, saya hanya memiliki modal rasa penasaran yang terlalu besar. Saya sama sekali tidak memiliki latar belakang pendidikan, apalagi pengalaman yang cukup di bidang arkeologi. Apalagi di bidang sejarah. Saya sangat khawatir, jika saya mencoba nekad untuk menulis tafsiran, tulisan saya lebih banyak bohong dan bolongnya.

Alasan kedua berkaitan dengan referensi. Pun jika saya bisa meyakinkan diri bahwa saya terlalu paranoid dengan alasan pertama, dan saya mencoba untuk menuliskan apa yang saya tafsirkan sehubungan dengan kenampakan arca ini, saya tak punya dasar yang cukup. Lengkapnya, saya tak memiliki referensi yang mumpuni untuk bisa memengaruhi pembaca, agar dengan penalaran yang sekiranya wajar dapat memiliki penafsiran dan pemahaman yang lebih kurang sama dengan saya.

Padahal sejatinya, bahkan tulisan pengamatan ini pun bisa pula disebut lancang. Maka dari itu, jika ada hal dalam tulisan ini yang kiranya tidak pas di hati, mohon saya dapat ditegur; diingatkan, dan diminta untuk membenarkan. Dengan senang hati dan penuh rasa terima kasih saya akan mengoreksi dan menyempurnakan apa-apa yang masih keliru. Bagi saya kritik dan saran adalah hadiah yang paling berharga.

Namun perlulah saya sampaikan, bahwa dalam tulisan ini, dan tulisan-tulisan selanjutnya yang mungkin akan mendeskripsikan bagaimana patung ini, saya menggunakan sebuah buku sebagai pegangan, supaya saya tidak terlalu hilang arah dalam kegelapan. Informasi tentang buku tersebut saya sampaikan di akhir tulisan ini.

Baca juga: Ganesha Torongrejo: Sebuah Kesedihan di Tapal Batas

Sirah Ganesha: Mahkota dan Hiasan di Dahi

Saya menghabiskan waktu beberapa puluh menit untuk betul-betul mencoba mengamati fitur dari patung ini. Saya mencoba melihat semua lekukan, semua bentuk, semua hiasan. Syukur-syukur saya bisa melihat hal-hal yang paling kecil. Saya penasaran, sungguh. Dari zaman apa patung ini berasal? Apa yang ia kenakan? Mengapa ia mengenakan itu? Mengapa bentuk-bentuknya harus seperti itu, dan tidak yang lain? Apa fungsi dan arti dari benda-benda yang ia kenakan?

Berbagai pertanyaan berkecamuk. Hal pertama yang saya coba lakukan adalah mengingat-ingat, mencoba membandingkan arca di depan saya ini dengan arca-arca Ganesha klasik lain yang pernah saya lihat di beberapa museum, sebut saja Museum Nasional. Pernah pula saya melihat beberapa arca Ganesha di beberapa candi. Yang paling terkenal tentu saja Ganesha yang ada di Candi Prambanan. Itu dapat juga jadi bahan perbandingan.

Maka dengan membandingkan dengan arca-arca tersebut, menurut saya hal pertama yang menarik dari arca Ganesha di depan saya ini adalah bahwa beliau punya bagian kepala yang teramat kecil. Dari muka, wajah, dan telinganya tidak tampak besar dan lebar seperti arca Ganesha yang ada di Candi Prambanan. Ia justru tampak kecil dan ramping, lurus sehingga mahkotanya tampak kebesaran.

Mungkin itulah sebabnya. Saya melihat mahkota Ganesha ini digambarkan besar, ujung kiri dan kanannya bahkan seolah-olah menutupi kuping. Sementara itu bagian wajah Sang Ganesha justru tampak tenggelam, hanya mengisi bagian tengah mahkota.

Namun sebelum membahas bagian itu mari kita kembali ke bagian kepala dulu guna menyisir semua atribut. Mahkota Sang Ganesha biasa disebut jatamakuta, karena mahkota tersebut terbuat dari gelungan rambut (Sedyawati 1994:51). Gelungan-gelungan rambut tersebut makin ke atas makin mengecil dan terkesan tinggi.

bhatara-gana-torongrejo-kota-batu
Bhatara Gana di Torongrejo, Kota Wisata Batu.

Rasa-rasanya saya tidak asing dengan bentuk mahkota yang terbuat dari rambut alih-alih perhiasan yang banyak itu. Lama setelahnya, barulah saya ingat, bahwa Bhatara Siwa juga digambarkan dengan bagian rambut serupa: tanpa perhiasan, tetapi menggunakan rambut yang digelung ke atas. Hal tersebut karena Bhatara Siwa digambarkan sebagai seorang petapa yang tinggal di Gunung Himawan (Himalaya).

Sementara itu, sisiran rambut Sang Ganesha tampak jelas. Rambutnya digambarkan dalam bentuk garis-garis tegak. Di gelungan rambut bagian bawah terdapat sebuah hiasan berbentuk bulan sabit. Menurut saya ini satu bukti lagi keterkaitan Ganesha dengan Siwa, mengingat terdapat cerita bahwa Siwa meletakkan Dewa Chandra (dalam bentuk bulan sabit) juga di jatamakutanya.

Di gelungan rambut sebelah atas juga seperti terdapat hiasan. Namun saya tak bisa memastikan apakah hal ini benar, karena bagian itu sepertinya sudah aus termakan usia.

Menempel dalam relief tipis di belakang kepalanya adalah lingkaran yang menandakan bahwa tokoh ini adalah tokoh dewa. Sirascakra namanya, berasal dari kata siras atau sirah yang berarti kepala, dan cakra yang artinya lingkaran. Memang, sirascakra biasa disebut sebagai lingkaran halo. Dalam kasus patung Ganesha ini, bentuknya sepintas seperti ujung daun. Saya agak bingung membedakan apakah bentuk tersebut merupakan ujung daun atau bentuk akolade (kurung kurawal).

Bagian sirascakra memiliki beberapa hiasan, seperti untaian pita yang simetris. Boleh jadi ia merupakan bagian dari ikat kepala yang membagi rambut menjadi dua gelungan. Bentuk lipatan-lipatan pita tampak jelas pada sirascakra bagian kanan pemirsa. Sementara itu, bagian bawah sirascakra ini menggulung keluar di kiri dan kanan. Keduanya terletak di atas bahu, mengesankan bahwa sirascakra Sang Ganapati tidak bersinggungan dengan bagian tubuhnya.

Batas antara mahkota gelungan rambut di kepala dan bagian wajah adalah sebuah perhiasan kepala yang terletak di atas dahi. Jamang namanya. Jamang inilah yang ukurannya sangat besar lagi lebar sehingga menutupi kuping. Ia membuat wajah Sang Ganesha tampak demikian kecil, seolah-olah tenggelam karena perhiasan kepala yang kebesaran.

Dari beberapa foto arca Ganesha pada literatur yang saya miliki, tidak ada satu foto pun yang arca Ganeshanya punya jamang yang serupa dengan ini. Kebanyakan hiasan itu melingkari dahi secara lekat, dengan cara seperti bagaimana saya mengenakan ikat kepala udeng: melingkari dahi dan tidak menyentuh daun telinga. Apakah ada arti khusus terkait keunikan ini? Saya belum bisa memberi penjelasan. Sejauh ini, saya cuma bisa memastikan bahwa begitulah fakta yang saya lihat.

Saya melihat ada tiga lapisan di jamang ini. Ia tidaklah polos, ada hias-hiasan menempel padanya. Literatur yang saya pakai memberi istilah simbar.Β Pada kasus ini, ada tiga jumlahnya. Saya tidak berani menyimpulkan apa bentuk hiasan simbar tersebut. Namun, jika saya harus memilih, maka saya pikir bentuk hiasannya lebih mirip bunga daripada daun.

Wajah Kecil dan Belalai yang Bergelang

close-up-ganesha-torongrejo
Sedikit pembesaran agar bagian-bagian tampak lebih jelas.

Secara umum, posisi kepala secara relatif dengan bahu adalah hal pertama yang dapat dilihat pengunjung patung ini. Tidak ada yang begitu spesial, dalam artian kepala tidak digambarkan terlalu tinggi atau terlalu rendah dibandingkan posisi bahu. Meskipun demikian, jika profil beliau dilihat dari samping, jelas tampak bahwa kepala Sang Ganapati digambarkan di atas bahunya.

Bagian mata Ganesha ini sangatlah susah untuk saya lihat. Mata yang terletak di sebelah kiri pemirsa masihlah dapat ditelusuri bentuknya secara lengkap. Namun, mata di kanan pemirsa hampir-hampir tak bersisa lagi, selain sebuah goresan kecil pada titik yang kira-kira merupakan bagian mata.

Oleh karena itu, saya susah menyimpulkan apakah mata beliau membuka, setengah membuka, atau tertutup. Ketika saya ingin mengatakan mata beliau tertutup, ada goresan melengkung di atas mata kiri yang menunjukkan seolah-olah mata itu terbuka. Namun, ketika saya ingin mengatakan sebaliknya, bagian mata kanan beliau tidak memiliki goresan itu, sehingga susah juga bagi saya mengatakan mata beliau terbuka.

Hanya saja, ketika profil beliau dilihat dari sisi sebelah kiri, bagian mata itu sepertinya terlihat berbeda. Entah ini perasaan saya saja, namun saya merasa mata itu seperti terbuka, meski hanya sedikit sekali. Seakan-akan ada celah kecil antara kelopak mata bawah (goresan bawah itu) dengan bagian atasnya. Sayang sekali, saya sendiri tidak yakin. Oleh karena itu, saya lebih memilih untuk tidak memutuskan apa-apa.

Bagian belalai dan gading sang dewa pengetahuan menurut saya lebih mudah untuk dipastikan. Bagian belalai dan gading ini sepertinya pernah somplak di suatu masa lalu. Sebabnya, ada retakan yang menandakan bekas sambungan jika patung ini dilihat dari profil sampingnya. Bagian depannya sendiri tidak mulus dan membulat (sebagaimana dugaan saya akan penggambaran sebuah belalai). Ada bagian yang somplak pula. Saya tidak terlalu heran, mengingat bagaimana sejarah patung ini di masa lampau yang pernah dicuri dan coba diangkut dalam beberapa bagian.

Baca juga: Bhatara Gana di Punggung Bukit: Sebuah Latar

Namun, marilah kita perhatikan dahulu bagian yang membuat ia dijuluki berkepala gajah itu. Belalainya memiliki hiasan berupa gelang yang ada di tengah-tengah. Hiasannya berbentuk bunga dan simbar segitiga. Di depan perut, belalainya meliuk ke kanan pemirsa, ujungnya melengkung pada benda yang ada di tangan kanan depan (tangan kiri depan Ganesha). Hal ini mengesankan bahwa seolah-olah belalai itu sedang mengambil sesuatu. Soal benda apa yang diambil, saya pikir hal tersebut dapat dijelaskan pada tulisan tafsir-tafsiran soal atribut Sang Ganesha. Hanya saja, memanglah benar bahwa sangatlah menarik untuk mengetahui apa makna dari belalai Ganesha itu. Sebagai contoh, mengapa belalainya harus selalu meliuk ke kanan pemirsa?

Perhiasan gelang pada belalai juga menarik perhatian. Belalai Ganesha di Candi Prambanan tidak bergelang. Sebagai gantinya, di bagian bawah yang menunjukkan belalai bagian belakang terdapat gores-goresan yang menunjukkan bagaimana sebuah belalai sebenarnya.

Gading sang dewa (edisi bahasa Indonesia dari buku Sedyawati menyebutnya sebagai β€˜taring’), sebagaimana yang sudah saya singgung di atas, mudah dilihat pengunjung dari sebelah depan. Jumlahnya ada dua, dan keduanya patah. Itu sebabnya mereka tampak tumpul.

Di bagian wajah, hal lain yang menurut saya juga agak susah saya lihat adalah bagian mulut. Mengingat dari depan bagian ini tertutup belalai, pengunjung baru bisa melihat bagian mulutnya dari samping. Itu pun yang tampak tidaklah banyak, dan bagi saya sangatlah meragukan untuk dapat diterka apa ekspresinya. Satu-satunya hal yang dapat sedikit saya buktikan melalui gambar adalah bahwa bagian mulut beliau agak terbuka, karena bibir bawah yang tidak tampak menempel.

profil-ganesha-torongrejo
Profil Sang Bhatara Gana. Dia sudah melalui banyak hal.

Namun, bisakah saya mengatakan bahwa mulut beliau menganga? Saya tidak pasti.

Akhirnya, bagian telinga adalah fitur terakhir yang rasanya patut saya bahas dalam episode ini. Telinga beliau digambarkan sebagai telinga gajah dengan beberapa hiasan. Di bagian atas, dan hanya dapat dilihat dari samping, saya seperti melihat untaian bunga menjuntai dari bagian atas telinga yang berbatasan dengan jamang ke bagian belakang telinganya. Sepintas, saya berpikir untaian bunga ini mirip dengan roncean kembang melati.

Sementara itu, di bagian depan, terdapat ukiran yang seolah-olah menujukkan benda yang terdiri dari helaian-helaian dari bagian depan telinga itu menjuntai sampai menempel ke bahunya. Ada godaan untuk menyebut benda ini sebagai dedaunan. Namun, menurut saya, jika saya sampai berpikir demikian, apalagi jika menerimanya sebagai sebuah keyakinan, saya sudah terlalu lancang dan bergerak terlalu jauh, jauh melampaui batas keilmuan yang saya miliki.


Referensi:
Sedyawati, Edi. 1994. Ganesa Statuary of the Kadiri and Singhasari Periods. Leiden: KITLV Press.

22 thoughts on “Ganesha Torongrejo: Apa yang Saya Lihat (1)

    1. Agak susah melihat Ganesha di situ lama-lama, Mas. Selain relungnya agak gelap, kondisi ketika saya berkunjung ke sana selalu ramai, sehingga rasanya agak sungkan jika mengamat-amati berlama-lama, hehe.

  1. Wii, detail sekali mas pendeskripsiannya.
    Arca Ganesha yang pernah saya lihat itu di Pantai Kenjeran, Surabaya waktu 2015 dulu, warnanya emas. Tapi dulu cuma melihat sekilas, gak sampai mengamati bener-bener nih hehe.

    1. Saya malah belum pernah ke Kenjeran itu, hehe. Kabarnya bagus, ya? Ada patung Dewi Kwan Im dan Brahma juga ya kalau saya tak salah. Mudah-mudahan bisa ke sana, hehe.

      1. Yang Dewi Kwan Im aku pernah ke sana. Tapi kalau yang Dewa Brahma aku belum nemu mas.

        Di sana ada Vihara juga, aku sempat singgah 2 jam di vihara itu, bengong dan ngadem dari panas sembari mengamati umat yang doa dengan khusyuk.

          1. Iyapp! Ntul banget.
            Konon katanya naik Sumber Selamat ato Sugeng Rahayu slebih serem.

            Tapi, aku naik Eka duduk di kursi paling depan dari Surabaya ke Jogja, sport jantung wkwkwkwk.

  2. kalau mau buat tulisan yang berhubungan dengan sejarah .. kadang kita yang tidak memiliki background di bidang itu jadi gamang ya … takut salah atau bahkan takut dianggap sotoy … tapi tulisan mas gara ini bisa dibilang dalam … keren .. membuat saya jadi berpikir dan ngingat2 ganesha yang pernah saya lihat … yang keingat sih lambang sekolah negri terkenal di Bandung

    1. Betul, Kak… dan terima kasih, seperti yang sudah saya sampaikan di tulisan ini, saya hanya menulis apa yang saya lihat, yang mudah-mudahan juga dapat dilihat oleh semua pembaca melalui foto-foto yang ada di sini.

  3. Di Prambanan ada ya?
    Saya dua kali kesana tapi gak pernah lihat πŸ˜€
    Ganesha yang saya tahu itu merk penerbit buku jaman SMP atau SMA dulu πŸ˜€
    Oh iya satu lagi, jadi ingat ITB πŸ˜€

  4. Beberapakali aku ke situs candi, jarang kutemui arca Ganesha berbentuk utuh.
    Entah karena rusak pengaruh alam atau karena akibat tangan-tangan tak bertanggung jawab.

    Sangat disayangkan.

    1. Bisa jadi karena keduanya. Oleh karena itu, menurut saya kita mesti mendukung semua upaya untuk pelestarian situs cagar budaya. Semoga keberadaan cagar budaya Indonesia semakin lestari ke depannya.

Terima kasih sudah membaca, mari lanjut dengan diskusi di kotak bawah ini!