Di Dalam Candi Pari (3): Tentang Arca-Arca

Setelah sedikit menengok sang peripih yang menakjubkan, rasa penasaran saya alihkan pada tiga arca yang ada di dalam bilik candi.

arca-candi-pari-01
Arca-arca di dalam Candi Pari.

Tidak ada arca yang masih utuh, apalagi lengkap dengan semua ukir pahatan. Bagian kepala umumnya sudah hilang, bahkan arca yang tersandar di dinding candi hanya menyisakan torso tanpa kaki. Ukir pahatan pun tak tampak dari semua mereka, sudah aus dan cuma menyisakan tonjolan-tonjolan halus.

Namun saya masih bersyukur masih dapat menemukan arca di sini. Yah, paling tidak saya bisa berimajinasi dari apa yang saya lihat soal figur apa yang ditampilkan para arca ketika mereka pertama kali dibuat…

Arca Torso yang Vulgar

Arca pertama saya juluki arca torso, mengingat kondisinya yang tinggal bagian dari pundak ke bawah sampai lutut. Meskipun demikian, ukirannya masih lumayan, tangannya pun masih lengkap. Ukiran upawita yang terdapat di depan dada, kelat bahu dan gelang tangan yang senada masih bisa dilihat dengan jelas. Dari ukuran kainnya yang agak panjang, kelihatannya arca ini menggambarkan dewa–atau seorang petinggi kerajaan, jika ini arca pendharmaan.

arca-torso-candi-pari-01
Arca torso yang legendaris. Mengingatkan saya pada Situs Pasir Angin.

Postur tubuh yang tegap, posisi tangan yang terkepal, dan gulungan kain yang agak ke atas tapi masih di bawah dada menggambarkan bahwa arca ini seorang pria. Bagian kain yang ada tepat di depan mengingatkan saya pada lancingan, lipatan wiru yang sampai sekarang juga masih dikenakan kalau saya kebetulan pakai kain buat sembahyang. Dari posisi kainnya, kemungkinan besar ini bukan arca dewata, kendati yang sebenarnya unik dari arca ini bukan yang satu itu…

Tapi tonjolan yang ada di posisi kelamin dengan ukuran agak besar

Sebenarnya tangan kirinya tidak persis memegang kelamin, karena di foto pertama, tampak kalau tangan kirinya juga dalam posisi menggenggam, seperti tangan kanan. Yang menarik justru sesuatu seperti ujung kelamin itu ada di bawah lipatan kain yang tinggi di atas dada, sehingga saya harus bertanya hal yang satu ini: apakah betul figur di arca ini mengenakan kain? Ataukah kain itu hanya sebagai hiasan berupa wiru?

Setelah dipikir-pikir, keberadaan arca ini dapat dijelaskan menggunakan tahun pembangunan. Arca yang vulgar, mengekspos kelamin secara eksplisit, adalah hal yang tidak begitu asing ditemukan pada peninggalan masa sandyakala Majapahit. Bukti paling jos tentu Candi Sukuh, yang berangka tahun 1437, dan saya rasa tidak perlu diceritakan lagi bagaimana vulgarnya arca-arca di sana. Candi Pari yang dibangun di 1371 tentu sudah mulai mendapatkan pengaruh-pengaruh serupa, pengaruh dari paham ilmu meditatif yang sangat santer ada di masa itu:

Tantra.

Di masa Majapahit, terutama Majapahit akhir, paham Tantra kiri yang kental dengan aroma seksualitas memang berkembang begitu pesat. Sebagaimana diketahui, Tantra (atau Tantri) adalah cara-cara pengelolaan/pemuasan hawa nafsu untuk mencapai penyatuan individu dengan alam semesta, yang diwujudkan dalam bentuk kepuasan tertinggi (orgasme).

Tantra dikenal sebagai salah satu paham dalam Hindu yang banyak melibatkan ritual-ritual berbau erotis/seksual sebagai pengelolaan hawa nafsu dalam salah satu alirannya. Dalam Tantra, puncak kenikmatan memegang peranan yang sangat penting, karena dalam sensasi inilah, penyatuan antara individu dan alam semesta dianggap telah terjadi.

Duh, susah nulisnya dengan bahasa yang “direm” banget. Kita ketemu dan diskusi saja yuk kalau ingin kenal lebih banyak soal tantra!

Banyak peninggalan masa Majapahit akhir yang kaya akan nuansa Tantra, dan umumnya mereka semua berasal dari zaman pertengahan hingga akhir kerajaan. Candi Penataran, peninggalan di Gunung Penanggungan, bahkan Candi Jawi dan candi-candi lain di Kabupaten Blitar, sehingga menurut saya tidaklah mengherankan ketika Candi Pari juga memuat salah satu figur yang sangat merepresentasikan paham Tantra.

Satu figur yang seingat saya selalu muncul dalam setiap relief tantra pada candi-candi Majapahit adalah relief figur bertopi yang menggambarkan tokoh Panji, hal ini sudah dikupas tuntas oleh Ibu Lydia Kieven dalam bukunya Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit. Ulasan ala-ala saya tentang buku itu ada di postingan berjudul Berkas Jejak Sang Pemandu Jejak :)).

Saya ingat penjelasan lain soal fenomena kembalinya paham vulgarisme padahal kerajaan-kerajaan sebelumnya jauh lebih “berbudaya”. Termasuk Majapahit, Tarumanegara menjadi buktinya, bahwa menjelang akhir kerajaan, kepercayaan masyarakat di kerajaan itu cenderung kembali pada kepercayaan di masa sebelum kedatangan budaya luar. Untuk Tarumanegara, hal itu dibuktikan dengan adanya Prasasti Kebon Kopi II, yang ditemukan tepat di situs batu dakon/batu lumpang yang umum dipakai sebagai tempat pemujaan pada kebudayaan prasejarah Indonesia.

Asal tahu, kebudayaan prasejarah Indonesia masih cukup ekstrem, terutama menyangkut tubuh manusia… :hehe.

Arca-Arca Aus

arca-aus-candi-pari
Saya belum dapat mengenali arca ini. Mungkin ada yang mau membantu?

Dua arca lain sangat susah untuk dikenali wujudnya, setidaknya bagi saya. Namun dari postur tubuh dan senjata-senjata suci yang sepertinya ada dipegang pada tangan-tangannya (dan jumlah tangan yang agaknya lebih dari dua), boleh kiranya jika saya menganggap arca-arca ini adalah perwujudan dewa, atau seseorang yang didharmakan dengan diwujudkan sebagai dewa.

Satu arca hanya tersisa bagian pinggang ke bawah, sangat aus, bagian kakinya yang masih lengkap menunjukkan bahwa figur ini berdiri. Dari apa yang tersisa, saya merasa masih bisa melihat bagian upawita, serta kain yang memanjang sampai ke bawah lutut. Hm, mungkin ini arca dewa. Apalagi arca ini memiliki sandaran yang menempel (istilahnya arca kaku bukan sih?), mirip dengan arca dewa-dewi yang pernah saya lihat di museum.

Namun berbeda dengan arca dewa yang ada di sebelahnya, arca ini punya posisi kaki yang berbeda. Lutut kiri arca ini masih tertutupi kain, sedangkan lutut kanannya agak maju dan tidak tertutup kain. Ada satu kecurigaan soal ini, namun sayang yang tersisa dari arca ini belum dapat memberi kesimpulan tentang siapa sesungguhnya figur yang diarcakan.

Mohon maaf, ya :hehe.

Arca yang lain, meskipun bisa dikatakan sama ausnya (kalau tidak lebih aus), paling tidak masih hampir lengkap bentuknya, sehingga masih dapat diterka sedikit siapa figur yang ditampilkan. Posisi tangan yang mengangkat ke atas, namun di saat bersamaan ada tonjolan seperti lengan semu menunjukkan bahwa arca ini memiliki empat tangan–khas bagaimana seorang dewa diarcakan di agama Hindu.

arca-ketiga-candi-pari
Arca Ketiga. Siapakah gerangan?

Tonjolan di bagian dada yang kalau saya tak salah lihat, berpahat, menunjukkan bahwa yang digambarkan di sini adalah seorang dewi. Sayang bagian kepalanya sudah aus maksimal, kalau tidak aus setelah dihancurkan sekian abad silam, sehingga saya lagi-lagi tak punya dugaan siapa yang diarcakan. Yah, beginilah dilema arca-arca Indonesia, kepalanya pasti sudah hancur (atau dihancurkan).

Namun apa saya tak bisa menduga siapa yang diarcakan?

Sebuah tonjolan yang ada di bagian pojok bawah arca membuat saya tertarik. Bentuknya lumayan menonjol, dan sebagian di antara pahatan itu ada di samping kaki sang dewi sehingga seolah-olah sebagian dari kaki sang dewi ada di atas pahatan itu, jika saja pahatannya lengkap.

Agaknya saya pernah melihat seorang dewi, diarcakan dengan empat tangan (atau delapan, atau sepuluh!), dan fitur yang paling membedakannya adalah, tentu saja, beliau berdiri di atas seekor binatang, yang kalau boleh saya buka sedikit, adalah seekor siluman kerbau… arca itu tampak sangat familiar, karena pasti mengisi setiap relung kiri dari setiap candi Hindu…

Durga Mahisasuramardhini, Durga yang berdiri di atas siluman kerbau (Mahisasura).

Tapi tidakkah itu menimbulkan pertanyaan? Dari awal, dari tampak luar candi, relief kelinci bulan, lapik arca tunggal yang besar, pengaruh Vietnam Utara yang bercampur dengan citarasa Champa, semua petunjuk itu hampir pasti menyatakan bahwa candi ini adalah sebuah candi agama Buddha.

Namun ketika saya meneliti yang terserak di dalam candi, mulai dari peripih, arca Tantra, sampai (arca yang saya duga) Durga Mahisasuramardhini, hampir pasti juga kalau arca-arca itu adalah arca Hindu.

Jadi candi ini candi Buddha atau candi Hindu?

Adakah penjelasan yang mungkin tentang ini? Ada. Saya sudah pernah melihat gejala serupa di beberapa candi di Jawa Tengah, dan dari dugaan yang sangat bercabang akhirnya dijelaskan dengan sangat sederhana. Tapi apakah penjelasannya akan sesederhana itu? Tidakkah candi ini akhirnya akan serupa seperti Jajawi, yang merupakan perpaduan Hindu-Buddha secara (sangat) harfiah dalam satu monumen?

Kelihatannya saya harus bertanya pada pak penjaga di rumah jaga pojok sana. Tadi saya lihat sih beliau masih main ponsel, semoga saja sekarang beliau ada dan berkenan untuk menjelaskan beberapa hal kepada bocah yang kebanyakan bertanya ini…

Itu semua berarti satu hal. Pengumpulan petunjuk sudah selesai, sekarang mari berkonfrontasi!

pemandangan-dari-pintu-candi-pari
Meski di luar terang, apa yang ada di dalam seolah masih tersaput gelap…

Epilog: Pintu

Saya tertarik mengambil satu gambar pojokan pintu ketika bergegas untuk meninggalkan bilik candi. Di sana ada bulatan purus yang masuk ke dalam tanah. Satu di bawah, dan satu lagi di atas. Sudah barang tentu, kayu bulat yang jadi poros putaran pintu dulu berada di tempat ini.

purus-pintu-candi-pari
Purus Pintu Candi Pari

Sejak zaman pembangunan candi di Jawa Tengah, sebagai contoh Candi Sewu, pintu-pintu candi sudah umum dibangun seperti ini, mengutip kata Jacques Dumarcay:

Pintu-pintu berdaun dua dan umumnya memiliki dua purus yang masuk lubang di dalam batu, satu di atas dan satu di bawah.

Namun berbeda dengan pintu-pintu di Candi Sewu yang posisi serta konfigurasi purus batunya sangat unik dan banyak macamnya (Dumarcay menemukan enam), di Candi Pari purusnya sederhana saja, mungkin karena Candi Pari bukanlah monumen gigantis macam Candi Sewu. Pintu di candi ini berdaun dua, dengan kayu bulat yang menjadi purus di sebelah kiri dan kanan. Sederhana.

Rahasia yang diungkap lubang purus ini bagi saya justru terdapat pada letaknya. Sebuah bingkai yang jadi penahan pintu memberi bukti kalau pintu candi ini bukannya membuka ke luar, sebagaimana yang saya pikirkan tentang fungsi sebuah bilik pintu, melainkan membuka ke dalam.

Artinya, separuh dari bagian yang menjorok (bagian berhiasan atap gaya Champa itu) memang dimaksudkan sebagai ciri khas dari Candi Pari…

Bagian epilog ini memang agak nggak penting, sih…


Seri Candi Pari yang lain:
Candi Pari: Yakin Mau Ke Sana?
Citarasa Champa di Candi Pari
Candi Pari: Tampak Luar dan Spesifikasi Teknis
Kelinci Bulan: Cerita Pembangunan Candi
Di Dalam Candi Pari (1): Dinding dan Lantai
Di Dalam Candi Pari (2): Tentang Peripih

36 thoughts on “Di Dalam Candi Pari (3): Tentang Arca-Arca

  1. Waa masih ada lanjutan seri Candi Pari ternyata…. Baca yang ini jadi penasaran tentang Tantra. Kalau kita ketemuan kudu bahas tentang ini yahh hahaha. Candi Sukuh beneran full vulgar yah, candi lain yang menganut paham itu ada di mana lagi? #ehh

    1. Siap… nanti saya siapkan bahan soal Tantra :hihi.
      Laaah :haha. Candi Cetho juga Mas :hehe. Apalagi lingga Candi Sukuh kan mirip banget dengan kelamin pria, bahkan sampai ke testisnya juga :hehe. Pengaruh Tantra memang kuat banget pada sandyakala Majapahit, dan saya pikir logis juga mengingat masa-masa itu penuh dengan huru-hara…

    1. Iya Mas… bahkan arca Buddha di Candi Sewu pun rata-rata sudah raib. Memang dikenal mengoleksi kepala arca oleh beberapa gelintir orang, untuk tujuan-tujuan tertentu :hehe.

  2. Sungguh pemahaman saya akan arca-arca sangatlah dangkal. Dulu mulanya belajar sejarah sekadar lulus dan dapat nilai lumayan, masih belum terlalu “mencintai”. Dan sejak punya blog, malah ada ketertarikan 🙂

    Eh, btw, Minggu siang kemarin saya ke candi Pari loh sama teman saya. Akhirnya keturutan juga. Ntar saya juga minta izin nulis ya tapi bukan dari sudut pandang seperti yang Mas Gara tulis, soalnya bukan kapabel di sana, Mas Gara mah expert banget kalau menjelaskan teknis dan spesifikasinya 😀

    1. Ya Tuhan Mas ayo segera ditulis :hihi. Setiap orang pasti punya sudut pandang yang berbeda-beda akan suatu tempat, malah saya senang sekali banyak yang menulis soal Candi Pari jadi orang-orang di luar sana semakin banyak yang tahu. Kan tulisan kita semua bisa saling melengkapi :hehe.
      Wah saya pun masih sangat awam soal arkeologi dan sejarah, sangat mungkin ada beberapa penjelasan atau teori yang keliru :hehe, tapi mari terus belajar dan mencoba, karena kalau takut salah dan tidak dicoba, sudah barang pasti apa yang kita punya tidak berkembang :hehe.

  3. Itu arcanya tidak utuh lagi karena memang rusak sendiri atau akibat tangan-tangan jahil ya Gara? Mudah-mudahan sih bukan karena alasan yang kedua…

  4. Kalau di Candi Borobudur, arca yang rusak banyak yang dibetulkan. Kalau di Pari kenapa tidak ya mas? Atau ada kriteria khusus untuk arca dan bangunan candi yang boleh direnovasi seperti apa?

    1. Betul Mbak, sepanjang pengetahuan saya memang ada kriteria khusus untuk memugar bangunan atau arca-arca, yang sebisa mungkin menggunakan bahan-bahan asli. Jika arcanya sudah terlalu aus dan pemugaran arca itu akan lebih banyak mengubah bentuk aslinya, biasanya akan dibiarkan saja. Paling dipertahankan supaya tidak lebih aus lagi.

      1. Ah iya, istilahnya lebih tepat memugar ya daripada merenovasi. Candi itu sebenarnya bagian sejarah yang asyik untuk dipelajari. Sayang, daya tariknya kurang mengena di hari masyarakat saat ini. Saya salut dengan orang yang masih tertarik belajar sejarah khususnya percandian..

        1. Bagi saya candi itu menarik sekali :haha, soalnya menurut saya ada ikatan batin yang kuat antara bangun-bangunan itu dengan masyarakat Indonesia saat ini :hehe. Mudah-mudahan makin banyak orang yang tertarik dengan candi jadi semakin banyak juga yang peduli dengan peninggalan-peninggalan mahakarya ini :)).

  5. hahaha… tidak heran banget dirimu memperhatikan pakaian arca-arca itu sebab saya jadi ingat saat dirimu sedang memeriksa pakaian para apsara di Angkor dan akhirnya pertanyaan jahil itu keluar juga dari saya soal bagian atas yang tak berlapis kain itu dan dirimu menjawab sambil malu, males gitu…. hahahaha…
    Anyway, menarik sekali dengan pintu itu, di Champa kok malah jadi pilar batu ya? atau saya yang engga memperhatikan lebih dalam?
    Great post Gara, saya jadi pengen kesana…

    1. Kepengen banget Mbak :haha. Kayaknya dari kecil deh namanya minat di arkeologi itu tetap ada :haha. Yah namun sayang kenyataan berkata lain…

    1. Sejauh ini malah candi-candi di Bali yang arca-arcanya relatif utuh, Mbak. Atau candi yang memang sudah jadi World Heritage Sites macam Prambanan dan Borobudur, di sana arcanya relatif utuh atau sudah dipugar. Kalau candi-candi lain… masih syukur bisa ketemu arca Mbak :hihi.

      1. Kalo dipugar tu semacam ditambalin apa gimana sih? Yg udah jadi heritage series cenderung lebih bagus2 karena jd pusat perhatian kali ya, sayang banget yg lainnya kalo terabaikan ya. Semoga ntaran candi2 lain juga bisa dipugar juga. Eh tapi menurutmu pemugaran ini justru bagus ato malah menghilangkan esensi historis?

        1. Kalau candi andesit biasanya diganti batunya Mbak, kalau candi batu bata ditambalin, nanti bakal saya tulis bagaimana nambal candi batu bata :hehe.
          Berhubung sistem pemugarannya anastilosis yang menggunakan sebanyak mungkin bahan asli, menurut saya malah bagus soalnya seperti dibangun kembali seperti di masa lampau. Masalah menurut saya baru muncul kalau kebanyakan bahan baru, jadi riskan dan rentan keliru kalau membangunnya :hehe.

  6. Arca tanpa kepala di Candi Pari (dan candi-candi lainnya) selain rusak atau dihancurkan, apakah ada kemungkinan dicuri untuk dijual ke kolektor benda seni? Mengingat hal serupa lazim terjadi di belahan dunia lainnya. Btw, bicara tentang bagaimana sebuah masyarakat cenderung kembali ke akarnya ketika sebuah kebudayaan sedang dalam masa kemunduran dan budaya lain sedang bangkit, itu persis sama dengan hipotesis yang saya baca juga. Dan sepertinya pola tersebut memang berulang dari waktu ke waktu, bahkan sampai sekarang.

    Another intriguing post, Gara! Matur suksma.

    1. Tentu saja, malah kebanyakan demikian. Tapi yang unik malah ada juga artefak klasik Indonesia yang dijadikan sarana kegiatan spiritual, jadi dicuri untuk dijadikan sesembahan.
      Sip, mewali :)).

  7. Wuih… keren bingits deh kak… Setiap ke candi selalu menganalisa sedetail ini ya… salut… Beneran jadi pengen kesana deh… *padahal waktu itu udah deket banget… hiks…

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!