Di Dalam Candi Pari (2): Tentang Peripih

sandaran-arca-candi-pari
Dulu, di sini ada arca yang sangat, sangat besar…

Ketika didekati, si kotak batu menunjukkan wujud aslinya yang mengagumkan.

Inilah inti dari Candi Pari: peripihnya.

Peripih adalah kotak batu bertutup yang dalamnya dibagi lagi menjadi ruang-ruang berjumlah ganjil. Peripih umumnya ditanam di dasar pusat candi, atau di bawah arca (seperti di Candi Siwa Prambanan, peripihnya dulu ditanam pada sebuah sumuran di bawah arca Siwa), dengan tujuan untuk memberi “nyawa” atau wibawa pada sebuah bangunan suci.

Jumlah ruang pada peripih bervariasi, tapi umumnya selalu ganjil. Biasanya peripih memiliki satu atau tiga ruangan, namun ada juga yang terdiri dari sembilan ruang (disebut Peripih Nawa Sanga seperti peripih di Candi Pari ini). Peripih paling spektakuler yang pernah saya lihat sejauh ini adalah peripih Prambanan, karena ada tiga puluh tiga ruang di peripih tersebut. Tentu saja spektakuler, mengingat Prambanan dimaksudkan untuk dibangun sebagai candi Hindu terbesar.

Peripih di masa sekarang masih ada, disebut pedagingan. Meskipun pedagingan sekarang tidak lagi dibuat dalam kotak batu dengan jumlah ruang ganjil (kini pedagingan dimasukkan dalam pasu/tempayan tanah liat), fungsinya masih sama, untuk memberi aura dan kesucian pada bangunan suci pura. Prosesi penguburan peripih/pedagingan dalam budaya Hindu saat ini dinamakan ngenteg linggih atau mendem pedagingan, dan menjadi syarat mutlak sebelum pembangunan sebuah pura dimulai.

Apa isi peripih? Umumnya peripih terdiri dari panca datu (lima logam mulia seperti emas, perak, tembaga, perunggu, dan baja/timah), diisi juga dengan inskripsi-inskripsi yang ditulis di lempengan logam, uang, perhiasan, mirah permata, maupun artefak-artefak yang dianggap suci di masa itu. Setelah diisi dengan benda-benda berharga, peripih diupacarai, dimantrai, kemudian ditanam di dasar candi, barulah pembangunan dilanjutkan.

Nilai sejarah (dan ekonomi) yang sangat tinggi dari sebuah peripih membuat benda satu ini jadi incaran sejuta umat. Banyak candi di Indonesia yang belum sempat diteliti, lantainya sudah bopeng-bopeng di sana-sini lantaran digali oleh para pencari harta karun. Di Candi Sewu sekalipun, bahkan pada candi perwara yang jumlahnya lebih dua ratusan itu, semua bidang lantainya porak-poranda dibongkar orang tak bertanggung jawab.

peripih-candi-pari-01
Peripih dan serpih-serpihan lapik arca.

Akibatnya, saya tak terlalu kaget ketika mendapati peripih Candi Pari sudah tidak berisi benda-benda yang pertama kali dimasukkan ke sana. Yah, masih syukur peripihnya masih utuh, tidak dihancurkan tangan-tangan pencuri itu. Kalau isi dalamnya pindah ke museum dan disimpan dengan baik, saya akan lebih bersyukur lagi. Kalau isi peripihnya pindah ke kantong pemburu harta karun…

Ya sudahlah, rezeki mereka.

Saya masih memandangi peripih Candi Pari dengan banyak ketidakpercayaan. Dari segi dimensi, saya menganggap peripih ini cukup besar. Apabila diangkat, maka peripih ini tidak mungkin bisa diangkat seorang diri; butuh bantuan beberapa orang.

Pun benda sebesar ini tidak dibuat sembarangan. Tepian peripih yang bertakuk dan tak ada celah pembuka memberi petunjuk kalau sekali ditutup, akan susah membuka peripih ini seorang diri tanpa alat bantu. Hakikat peripih sebagai sesuatu yang ditanam di bawah tanah menjadi sebabnya. Peripih, atau pedagingan, tidak dimaksudkan untuk diambil lagi–selama bangunan suci itu masih berdiri, dan dijaga oleh masyarakat pembangun, maka selama itu pula peripih ada di bawah sana.

Contohnya, Peripih Pura Besakih yang ditanam sejak abad ke-7 masih ada sampai hari ini.

Ah, namun saya rasa, ketika di abad ke-9 saja orang Indonesia bisa membangun monumen serumit Borobudur, Prambanan, atau Candi Sewu, maka untuk membuat satu peripih seperti ini tentunya adalah pekerjaan yang sangat, sangat mudah.

Pengaturan ruang peripih ini juga mengundang decak kagum, bukan karena ia dibagi dengan proporsional, melainkan karena peripih ini serupa betul dengan pengaturan Dewata Nawa Sanga. Ruangan tengah menjadi sentral, berukuran persegi paling besar. Ruang di arah-arah utama berbentuk persegi panjang (yang uniknya besar antarmereka sama) sementara ruang-ruang di pojok berbentuk persegi tepat (yang besarnya juga sama).

Bagaimana mereka membuatnya? Bagaimana orang zaman dulu memahat batu, membaginya ke dalam sembilan ruangan, kemudian membuatkannya tutup dengan pinggiran bertakuk? Terlebih ini bukan semen, melainkan batu asli. Batu asli yang dibentuk, dipahat, dilubangi, entah dengan cara apa dan bagaimana, sedemikian rupa sehingga menghasilkan bentuk seperti apa yang saya pandangi tanpa berkedip.

Tutup peripih ini masih ada di dekatnya, bersandar di tembok. Terbit penasaran untuk mencoba bagaimana tampang benda ini jika bertutup, namun saya mengurungkan niat. Peraturan pertama saat berkunjung ke sebuah candi adalah jangan pernah mengubah posisi benda apa pun sekecil apa pun juga. Biarkan ia sebagaimana adanya. Biarkan batu-batu itu terletak pada posisi sebagaimana kita menemukannya.

Perhatian saya alihkan ke benda-benda yang ada di dalam peripih, dan mereka semua tampak tidak asing…

isi-peripih-candi-pari
Apa yang ada di dalam peripih?

Peripih di hadapan saya berisi telur, kelapa, benang, uang, dan beras. Benda-benda yang sangat biasa, hasil alam, tapi bukan karena itu maka saya merasa sangat heran. Benda-benda yang ada di dalam peripih itu justru terlalu familiar, karena saya sudah setiap hari melihat sarana pemujaan agama Hindu yang berisi lima benda itu…

Daksina.

Peripih di depan saya memang sudah tidak berisi benda-benda paling berharga yang dijadikan inti candi. Namun peripih ini ternyata masih tetap menjadi pusat di Candi Pari, karena ia kini menjadi sebuah daksina, inti ritual agama Hindu yang paling dasar.

Daksina adalah sarana pemujaan yang sangat vital dalam agama Hindu. Ia melambangkan dunia beserta seluruh isinya, alam semesta dan semua makhluk yang ada di dalamnya sebagai hasil karya mahaagung Tuhan. Biasanya, daksina diletakkan sebagai pratima dalam setiap pelinggih di merajan atau pura.

Elemen-elemen daksina punya makna tersendiri. Kelapa, melambangkan makrokosmos atau alam semesta, dan telur melambangkan mikrokosmos atau diri manusia. Sementara itu, uang logam melambangkan sesari, penebus dari semua kekurangan, yang menggerakkan ekonomi dan kehidupan manusia.

Beras melambangkan hasil bumi, apa yang membuat manusia hidup dan mampu bertahan di dunia. Semua itu akhirnya diikat dengan benang, karena sebagaimana cerita Samudramanthana, jika tak ada pengikat dunia, maka Amertha Kamandalu pun tak akan pernah bisa diangkat dari dasar Gunung Mandara.

Dan karena benda yang ada di depan saya adalah sebuah daksina, maka saya tak heran dengan tempayan dupa yang ada di depan peripih ini, alih-alih ada di dekat arca. Objek pemujaan utama di tempat ini justru bukan arca, melainkan peripih yang ada di depan saya…

Saya merinding dan berlutut pelan, pelan sekali. Ada rasa bersalah; rasa lancang karena saya berdiri sejajar dengan daksina yang biasanya diletakkan pada ruang-ruang (rong-rong) pelinggih yang tinggi sebagai simbol tempat Tuhan berada. Selama beberapa saat saya cuma bisa melihat benda-benda yang ada di dalam daksina itu, memastikan bahwa memang, peripih ini adalah objek pemujaan tervital yang ada di dalam Candi Pari.

bebantenan-hari-raya
Banten untuk hari raya. Salah satu tipikal banten di kalangan agama Hindu yang kekinian.

Tiba-tiba saja saya saat itu merogoh kantong jaket dan menemukan uang logam Rp500. Tanpa pernah berpikir apa-apa saat itu, saya—secara harfiah—meletakkan uang logam itu ke dalam peripih, sebelum melanjutkan penelitian dengan arca-arca yang ada di dekatnya. Iseng? Katakanlah demikian, tapi seingat saya kemarin saya menaruh uang di sana bukan dengan alasan sesederhana lucu-lucuan. Ya biasa saja, seakan-akan itu sudah sering saya lakukan…

Padahal baru kemarinlah untuk pertama kali saya meletakkan uang di sebuah peripih dalam candi kuno…

Baru orang tua di kampung yang menjelaskan soal apa yang sebenarnya saya lakukan ketika saya menambahkan uang ke dalam sebuah daksina. Itu pun ketika saya iseng bertanya dan sesumbar, “Eh kemarin waktu di Candi Pari kita taruh uang lho di dalam peripihnya…”, jauh, jauh setelah saya berkunjung ke Candi Pari dan Candi Sumur.

Penjelasan kedua orang tua cukup membuat saya menahan napas, merinding, dan tertawa sendiri. :haha.

Hanya saja, saya pikir agak bijak kalau saya membiarkan informasi itu sebagai sebuah rahasia kecil untuk saya simpan sendiri, sebab info itu adalah sangat, sangat sensitif dan saya tak yakin ada orang yang akan percaya dengan cerita saya (yang sejauh ini saja bagi saya sendiri sangat tak bisa dipercaya!). Maaf, ya.

Tapi satu hal yang saya boleh tegaskan, ini bukan klenik, melainkan bentuk ibadah agama Hindu yang paling sederhana. Agama saya juga mengenal mana bentuk ritual yang dilakukan semata untuk memuja Tuhan dan mana bentuk upacara yang dilakukan untuk, istilahnya, “tujuan yang aneh-aneh”. Dan apa yang saya lakukan kemarin, menurut kedua orang tua saya, sebenarnya bentuk upacara agama yang paling, paling sederhana. Saking sederhananya sampai-sampai saya tak paham kalau saya sudah melakukannya :haha.

Ya kalau begitu tak usah cerita! #eh.

Jadi bagaimana kalau sekarang kita membahas soal arca? pengalihan isu.


Seri Candi Pari yang lain:
Candi Pari: Yakin Mau Ke Sana?
Citarasa Champa di Candi Pari
Candi Pari: Tampak Luar dan Spesifikasi Teknis
Kelinci Bulan: Cerita Pembangunan Candi
Di Dalam Candi Pari (1): Dinding dan Lantai

37 thoughts on “Di Dalam Candi Pari (2): Tentang Peripih

    1. Iya Mas, saya pun baru paham juga kalau peripih punya makna yang begitu dalam :hehe. Senang rasanya bisa melihat peripih itu secara langsung! :)).

  1. Baca dua seri ada apa di dalam Candi Pari ini ngalahin rasa penasaran Ada Apa Dengan Cinta seri dua hahaha. Jadi bentuk arca apa yang kira-kira masuk di dalam Candi Pari, mungkinkah arca tersebut sudah dipindah ke Museum Nasional? Nggak nyangka bener di Sidoarjo terdapat candi unik begini. Kelinci bulan lalu peripih yang saya juga baru paham bahwa isi di dalamnya begitu sakral, sungguh keren penjelajahanmu, Gar. 😀
    Tapi jadi penasaran penjelasan dari orang tuamu tentang menaruh uang logam di dalam peripih… ntar japri ahh hahaha

    1. Kayaknya di Museum Nasional nggak ada Mas, soalnya arca candi ini besarnya banget-banget. Hampir sama besarnya dengan Buddha Bhairawa-nya Adityawarman yang di rotunda. Jika arca candi ini ada di suatu museum pasti akan jadi koleksi utama.
      Haha, kapan-kapan saya cerita ya, tapi itu sebetulnya lazim banget ketika kami umat Hindu bertandang ke sebuah bangunan suci tanpa ada persiapan untuk beribadah.

  2. Di kampung waktu saya kecil pasu itu berfungsi untuk menampung air bersih. Zaman berubah pasu sudah tak digunakan lagi.
    Mungkin ini juga salah satu bukti (nama sama untuk benda yang sama) bahwa agama nenek moyang saya beratus tahun lalu adalah Hindu.

    1. Dari apa yang saya baca, pasu sebenarnya sudah dipakai dari zaman prasejarah Mas, untuk tempat bekal kubur atau tempat tulang-belulang jenazah.

  3. Gara, hmm… feeling aja deh, dirimu digerakkan untuk memasukkan uang kedalam peripih, yang sekarang dijadikan daksina, padahal nilainya lebih dari itu (seharusnya), jadi ya… hmmmm… uang dalam daksina itu artinya kan udah dijelaskan, jadiiiii…. oh begitu ya Gar…. Mudah-mudahan deh… Semoga terwujud.
    * semoga feelingku benar

    1. Kayaknya feeling Mbak dengan apa yang dijelaskan orang tua saya sama deh. Nggak tahu kenapa tapi saya berasa aja kayak begitu :haha. Amin Mbak, semoga semua doa-doa baik itu dikabulkan.

    1. Memang ada sedikit kengerian juga diceritakan si penjaga candi Mas :haha. Salam kenal kembali, terima kasih sudah membaca :)).

  4. Wah saya bacanya dengan kagum! Kagum sama orang-orang dulu yang hebat banget ya bikin peripih gini. Dan baru tau kalau di Prambanan itu peripihnya paling banyak, ish baru tauu baru tau >.<
    Dan kagum lagi sama orang-orang yang semena-mena mengambil peripih itu hiks! Emang mahal banget peripih, arca kuno.
    Tfs ya ^^

    1. Iya… banyak hal yang menakjubkan banget di masa lalu, yang belum tentu terpikir oleh kita di masa sekarang :hehe. Saya juga kagum banget Mbak lihat Peripih Prambanan, habisnya bagaimana mungkin bisa memahat dengan kerumitan seperti itu…
      Iya… di satu sisi memang itu tindak kejahatan, tapi menurut saya pasti ada sedikit alasan di balik itu, entah kita ketahui atau tidak.
      Sama-sama! Terima kasih sudah membaca :)).

  5. arca besar yg hilang itu satu2nya arca di candi Pari Gar?

    dan soal peripih, salut lah dgn cara pembuatannya, pasti sulit buat kotak dan tutup yg bisa pas, ingat waktu praktikum pahat sepasang gips supaya bisa menyatu dgn pas aja susahnya minta ampun, bgmn memahat batu sekeras itu pula

    1. Sepertinya demikian Mbak, soalnya di candi itu tidak ada relung-relung arca yang lain, juga lapik-lapik arca. Bekasnya pun tak ada.
      Pekerjaan tukang batu ternyata bukan perkara mudah ya Mbak… apalagi kalau dilakukan enam abad yang lalu :hehe. Ada beberapa teknologi masa lalu yang ternyata perlu kita pelajari ya :hehe.

  6. Saya malah baru ngerti tentang Peripih di setiap Candi Hindu, jadi gitu ya budaya Hindu.. ada semacam harta karun di bawah Candi yang bernama peripih

  7. Ah, aku baru tahu tentang peripih ini!! 😀

    Sayang banget ya banyak tangan-tangan nakal yang nggak menyayangi peninggalan sejarah seperti ini. Well, memang sih kadang orang kalau “terpaksa” ya akhirnya “nekad” juga…

    1. Iya kak, sayang banget banyak aksi vandalisme di candi-candi Nusantara. Tapi memang betul, kadang itu karena faktor ekonomi juga, masyarakat sekitar belum sejahtera secara ekonomi jadi kadang mereka mengambil jalan pintas. Mudah-mudahan saja di masa depan hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi :hehe.

        1. Hehe makasih banyak Mas… mudah-mudahan ya :hihi.
          Terima kasih buat info museumnya, mudah-mudahan bisa ke Surabaya, etnografi ya… di Museum Nasional juga ada bangsal etnografi tapi penasaran juga lihat kalau museum baru ini kayak gimana :hoho.

    1. Waaah padahal Candi Pari banyak banget rahasianya Mas :hihi. Eh tapi memang ya, saya juga orang Lombok tapi jarang jelajah tempat wisata di Lombok :hihi, apa gejalanya penduduk lokal memang seperti itu, ya?

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?