Di Dalam Candi Pari (1)

Setelah meraba-raba sedikit soal sejarah panjang candi, saya mulai merasa kalau energi kerajaan Champa di dalam candi ini memang betul bisa bertahan sampai beratus tahun setelah kemusnahannya. Mungkin Tuhan berkehendak demikian; mungkin Tuhan belum mau melihat kebudayaan Champa–satu dari kebudayaan sejarah Asia Tenggara yang tertua–selain Sriwijaya, tentu–menghilang untuk selamanya. Selalu ada jalan bagi yang ditakdirkan bertahan untuk tetap ada, meski kesannya sangat mustahil.

tangga-batur-candi-pari
Tangga 1 dan 2 di Candi Pari

Saya mendekat. Menaiki tangga menuju Batur I dari satu dari dua tangga samping (keunikan lain Candi Pari), menuju pertemuan jalur di tengah-tengah. Mendaki lagi menuju Batur II, dengan enam anak tangga yang tingginya masing-masing sekitar 35cm. Berhenti di anak tangga teratas, saya ingat apa kata Bapak setiap kali akan masuk ke sebuah bangunan suci: peganglah temboknya barang sejenak dan heninglah, minta izin agar tak ada halangan di dalam nanti (nanti, saya akan diberi tahu siapa yang “menjaga” candi ini :hihi).

pemandangan-tangga-kanan
Pemandangan dari tangga kanan.

Saya masuk tanpa masalah atau “udara yang aneh”. Hm… di depan sana ada sekumpulan artefak batu terserak. Tapi sepertinya ada sesuatu yang unik ketika ada di dalam sini…

Di sini sama sekali tak ada udara pengap.

Ini adalah candi dengan sirkulasi udara paling baik yang pernah saya jumpai. Saya ulangi, sama sekali tidak ada rasa sesak atau panas ketika ada di dalam candi. Sejuk jelas terasa merasuk dari enam lubang angin yang ada dua di masing-masing sisi, kecuali sisi pintu. Agak heran juga tentang kenapa candi ini bisa punya sirkulasi yang sangat baik, padahal di candi-candi dengan lubang angin lebih banyak (baca: Candi Sari), udara di dalam candi masih tercium agak lembap.

Teknologi abad ke-14 soal sirkulasi udara tentunya sudah jauh lebih maju ketimbang teknologi ketika kerajaan Hindu masih berpusat di Jawa Tengah, ya.

Sedikit tonjolan lajur yang ada di depan sana adalah fitur pertama yang dapat diamati pengunjung yang baru masuk. Tak butuh waktu lama untuk sadar bahwa tonjolan yang lurus pintu ini dulu menjadi linggih dari objek pemujaan (akan saya jelaskan nanti) paling utama di dalam candi ini, karena yang ada di depan saya adalah sebuah sandaran arca.

sandaran-arca-candi-pari
Dulu, di sini ada arca yang sangat, sangat besar…

Tentang Dinding

Mungkin ketika di candi ini masih ada arca, besarnya fantastis. Mungkin tingginya sekitar 3 sampai 4 meter, dengan lebar sekitar 1 meter. Bayangkan saja kalau arca yang asli masih ada di tempatnya–mungkin besarnya akan sama dengan arca-arca di Candi Mendut. Sayang sekali, yang tersisa kini hanya sandarannya saja. Mungkin arcanya sudah dibawa ke museum (saya sangat bersyukur apabila demikian kejadiannya). Tapi mungkin juga arca itu tak mampu bertahan dalam arus sejarah.

Tapi saya masih sangat bersyukur tentang apa pun yang masih bisa saya lihat saat itu. Paling tidak apa yang tersisa membuat orang tahu bahwa dulu ada arca megah di dalam sini. Pasti indah sekali.

Saya melihat keluar dari bilik candi. Hm, taman di luar sana cukup indah. Sinar matahari yang membentuk bayang-bayang memberi petunjuk soal arah hadap Candi Pari: candi ini menghadap barat, sehingga orang-orang yang bersembahyang akan menghadap timur. Poros matahari adalah hal yang vital dalam pembangunan tempat suci agama Hindu-Buddha, dan hal itu masih dilestarikan sampai sekarang, karena mayoritas bangunan suci agama Hindu dibangun menghadap barat. Merajan di rumah saya pun demikian, karena umat Hindu kini bersembahyang menghadap dua arah: timur atau utara.

taman-gerbang-depan-candi-pari
Taman dan gerbang depan situs Candi Pari

Semua petunjuk itu akhirnya membawa sebuah hipotesa di kepala. Tentang agama apa yang melandasi pembangunan candi ini. Kelinci bulan yang berasal dari Jataka, bangunan candi yang tak berelung, arca yang tunggal nan besar, membawa sebuah dugaan tentang corak Candi Pari: Agama Buddha.

Meskipun, tentu saja tidak tertutup kemungkinan yang lain, jika bukti terkait hal itu ditemukan :hehe. Saya kan cuma analis ala-ala :p.

Wangi dupa halus membelai indra penciuman. Beberapa artefak batu yang ada di depan sana sepertinya menarik sekali untuk dilihat lebih dekat. Beberapa batang dupa yang telah padam tampak berkumpul di salah satu pojok, di dekat sebuah kotak batu, juga dalam sebuah tempayan kecil berisi pasir. Sementara itu, arca-arca tak berkepala dengan pose yang agak unik terletak di tengah, seolah menjadi pengganti arca besar yang hilang tersapu zaman.

Namun meski tergilas zaman, pemujaan di dalam candi ini agaknya masih sering dilakukan…

pemandangan-dari-pintu-candi-pari
Meski di luar terang, apa yang ada di dalam seolah masih tersaput gelap…

Tentang Lantai

Satu hal lain yang saya harus puji dari Candi Pari, selain sirkulasi udaranya yang jempolan, adalah lantainya.

Di bangunan yang lebih tua, yang sudah dianalisis bentuk lantainya (Candi Sewu dan perwaranya), sistem pelantaiannya tidak terlalu rapi. Batu-batu diserakkan sekadarnya, kemudian ditambal di sana-sini dengan batu pengunci. Yang penting hasilnya menjadi rata.

Tapi di Candi Pari, si pembuat candi agaknya sudah memikirkan nilai estetika. Susunan lajur-lajur bata besar dan kecil berselang-seling membujur di lantai candi. Mungkin ini imbas dari bahan baku pembuat candi, batu bata, yang tentunya bisa dibuat dengan ukuran sesuai kebutuhan. Sistem perlantaian di Majapahit memang sudah kompleks, di Trowulan saja terdapat situs yang sudah berlantai segi enam.

sistem-perlantaian-candi-pari
Sekelibat sistem lantai di Candi Pari. Cantik!

Mungkin juga ini hasil pemugaran, namun saya rasa, mengubah tata letak lantai candi merupakan perubahan yang terlalu signifikan. Sistem pemugaran candi di Indonesia adalah anastilosis, ketika sebuah bangunan candi disusun kembali semirip mungkin dengan aslinya, sebisa mungkin hanya dengan menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar candi. Jadi kalaupun ini hasil pemugaran, sepertinya tak terlalu berbeda dengan susunan lantai aslinya.

Lantai candi cukup bersih dan tidak ditumbuhi rumput-rumput tak berarti. Ruangan jadi tampak makin lapang karenanya. Selain itu, memang tak banyak benda di dalam sini. Beberapa batang kayu diletakkan di sisi-sisi ruangan, sisa-sisa dari ambang pintu yang dipasang pada zaman Belanda ketika Candi Pari dipugar untuk pertama kalinya. Sangat nyaman.

Jujur, kenyamanan adalah apa yang saya rasa ketika ada di dalam ruang candi ini. Rasanya bebas mau ngapa-ngapain, jalan-jalan, salto, bahkan tidur-tiduran. Meskipun di luar sana sedang terik, tapi di dalam sini sejuk, sejuk banget! Saya menghirup napas dalam-dalam saking tidak percaya, dan memang, di sini sama sekali tidak terasa terik.

Sementara itu, kumpulan artefak masih diam di depan sana. Oh, saya tidak mengharapkan satu (atau semua) potongan arca itu bergerak, tentu saja!

Tapi ada yang aneh dengan susunan lantai di depan arca. Jika diperhatikan, pola bata besar-bata kecil yang mengisi seluruh lantai candi seolah putus dalam area sekitar dua langkah di depan tonjolan bekas dinding arca. Saya belum mau mengambil kesimpulan, tapi sempat terlintas dalam pikiran bahwa mungkin arca yang dulu ada di sini punya besar yang sama dengan lantai yang memiliki pola beda itu… (hal itu dimungkinkan jika area itu dulunya berisi lapik alih-alih lantai).

Heh buset! JADI ITU ARCA BESARNYA BANGET-BANGET! #gaksantai.

bilik-dalam-candi-pari
Semua arca beroleh sinar terang matahari sore.

Dan memang, ketiadaan arca pemujaan utama menyebabkan ruang sebesar Candi Pari (ukurannya 6m x 6m) seolah kosong. Benda-benda yang terserak di depan pun kebanyakan hanya berupa alas berupa umpak-umpak kecil, kini dijadikan tempat lilin untuk orang yang melakukan persembahyangan. Ada juga potongan-potongan batu dengan ukiran yang memberi kesan bahwa batu-batu itu bagian dari sesuatu yang lebih besar. Mungkin lapik arca, mungkin pula arcanya sendiri.

Saya cukup bersyukur potongan-potongan batu di dalam candi sudah diberi nomor urut. Semoga saja catatan soal pecah-pecahan batu itu disimpan dengan baik, dan audit rutin dilakukan terhadapnya, untuk memastikan tidak ada batu yang hilang sebagai sarana pemujaan portabel. Datang kemari dan sembahyang langsung jauh lebih afdol!

Dari semua artefak yang berserakan, hanya ada empat benda yang bagi saya menarik. Tiga arca yang bentuknya sudah tak jelas lagi (tapi kita masih bisa menerka sedikit), dan satu kotak batu berisi beberapa benda. Sepertinya saya melihat sesuatu yang mengilap di dalam kotak batu itu…

Tunggu, kotak batu? Dengan tutup? Di dalam candi?


Referensi (semoga tidak bosan karena referensinya cuma itu-itu tok :haha):
Dumarcay, Jacques. 2011. Candi Sewu dan Arsitektur Bangunan Agama Buddha di Jawa Tengah. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.


Seri Candi Pari yang lain:
Candi Pari: Yakin Mau Ke Sana?
Citarasa Champa di Candi Pari
Candi Pari: Tampak Luar dan Spesifikasi Teknis
Kelinci Bulan: Cerita Pembangunan Candi

32 thoughts on “Di Dalam Candi Pari (1)

    1. Iya masih kokoh banget. Bangunan-bangunan seperti ini memang harus dilestarikan. :hehe.
      Terima kasih sudah membaca, tapi maaf, sebetulnya saya bukan mbak, tapi mas :haha.

  1. Mas Gara, biasanya aku baca tulisan tentang candi itu mudah bosan. Tapi giliran aku baca tulisan ini rasanya membaca tulisan tentang wisata candi itu jadi menyenangkan. Style menulismu enak sekali..

    Dan aku kepingen juga ke candi dan menjajal nasehat ayahmu hehe. Siapa tahu aku dipertemukan dengan penunggunya.. eh jangan ding bikin takut 😀

    1. Terima kasih banyak Mbak :)).
      Biasanya penghuninya baik-baik kok Mbak, selama kita bertamu dengan santun dan tidak mengambil benda macam-macam, kita malah akan dipandu selama ada di dalam sana :)).

  2. Teknologi nenek moyang kita zaman dulu juga canggih, Gara. Liat aja candi bisa bertahan ribuan tahun. Lem apa yang mereka pakai ya sehingga batu-batu itu bisa merekat dengan dengan awet? 🙂

    1. Itu masih menjadi suatu misteri… tapi dulu saya pernah baca bahwa tidak ada lem dipakai di sana Mas. Mereka menggunakan sistem penguncian batu sedemikian rupa sehingga bisa menopang banyak :)).

    1. Setuju, lantainya memang dibangun dengan sangat apik. Padahal itu candi dibangunnya sekitar enam ratus tahun yang lalu ya :hehe. Kalau lantai saja sudah diatur dengan sangat apik berarti pembangunan candinya memang sangat estetik ya.

    1. Aku belum pernah ke Dieng :aaak. Padahal kata orang kalau mau jelajah candi di Jawa itu harus mulai dari Dieng dulu, karena candi-candi di sana adalah candi-candi tertua di Jawa, bahkan di Indonesia. Mudah-mudahan suatu hari nanti bisa ke sana :amin.

    1. Iya, hebat banget masih bisa bertahan sampai hari ini. Amin, semoga perhatian pemerintah makin kuat ke tempat-tempat bersejarah seperti ini, jadi generasi muda seperti kita tidak lupa asal-usul :hehe.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!