Demi Dewa, Kereta Api Indonesia! (Sebuah Kritik Nyinyir)

Berhubung ini uneg-uneg, jadi harus ditulis selama rasa kesalnya masih ada. Bagaimana tidak kesal ketika saya harus tertahan di kereta selama total lima jam?

stasiun-weleri-kendal
Stasiun Weleri dan bangunannya yang khas stasiun Kabupaten Kendal.

Sebenarnya saya sangat mengapresiasi perkembangan PT KAI dalam bisnis layanan perkeretaapian Indonesia. Jadi anggaplah tulisan ini, meski nyinyir, sebagai bentuk kepedulian saya, tidak (semata-mata) untuk cari-cari dosa. Ya kalau merasa berdosa, ya benahilah apa yang perlu dibenahi dari sisi penyedia jasa. Saya pun, jikalau ada aspek dari tulisan ini yang keliru, akan membenahi diri supaya jadi penulis, pengamat, sekaligus penumpang yang baik.

Namanya kereta api delay itu sudah umum, ya. Asalkan delay-nya jelas sebab dan tidak berkepanjangan. Tapi kalau delay kereta apinya seperti tadi malam, duh saya yakin bukan cuma saya yang uring-uringan.

Kemarin saya naik KA Tawang Jaya, KA 201, relasi Semarang Poncol sampai Pasar Senen. Pertamanya sudah senang, berangkat tepat waktu, 14.00. Perjalanan juga lancar banget, lintas Pekalongan, Tegal, Brebes, lancar jaya, aman dan damai. Sampai Cirebon Prujakan juga tepat waktu dan tepat jalan, jadi perjalanan kemarin semestinya bisa jadi perjalanan yang asyik banget. Bisa lihat stasiun pinggir laut, gunung-gunung, dan diselingi hujan. Setengah delapan malam dan kereta ini bahkan sudah ancer-ancer melintas langsung di Stasiun Cikampek.

perbukitan-kendal
Pemandangan perbukitan di sekitar Kendal.

Eh ndilalah, di Cikampek berhenti luar biasa. Tetiba ada pengumuman kalau ada gangguan persinyalan di Stasiun Dawuan. Buka-buka internet, ternyata memang ada banyak musibah hari itu. Stasiun Bandung banjir, Tol Cikampek juga banjir akibat cuaca ekstrem yang tumben terjadi. Penumpang langsung kasak-kusuk kalau ini gara-gara banjir di Bandung. Tapi menurut saya bukan itu sebabnya. Jalur Bandung petaknya di mana, kami sedang ada di petak mana. Lagi pula kalau ada antrian dan keterlambatan (yang saya pikir pasti ada), mestinya kejadian di Bandung, tidak serta-merta berdampak sampai stasiun sini.

Sekitar setengah jam kemudian bersusulan datang Tegal Bahari KA 69 dan Argo Parahyangan (mungkin KA 27A). Sebagai penumpang KA Ekonomi PSO tentulah saya kuatir akan dibalap dua kereta ini, secara dua kereta yang baru datang itu eksekutif semua. Syukurlah tidak, karena kami jalan lebih dulu, meski itu harus makan waktu enam puluh menit kemudian. Iyalah, kalau sampai sudah menunggu satu setengah jam terus kami dibalap, bisa habis kereta-kereta itu diamuk massa, hehe.

jalur-kereta-plabuan-batang
Sepertinya ini di dekat Stasiun Plabuan, Batang.

Tidak terlalu lama kami jalan lagi karena kereta kemudian berhenti di Stasiun Dawuan. Lama banget. Ada bapak-bapak petugas keluar bawa-bawa senter besar, entah mau menyenter apa. Saya memerhatikan apakah ada sinyal yang rusak di DWN dengan melihat rambu-rambu yang entah kenapa menyala kuning semua. Namun tidak ada rambu rusak, sepenglihatan saya. Yah kalau ada rambu tumbang atau patah, tentunya itu menarik perhatian, toh?

Jalan lagi sampai Kosambi. Berhenti lagi lama. Lanjut jalan pelan, eh tiba-tiba berhenti di tengah-tengah Stasiun Kosambi dan Stasiun Klari. Saya kenal itu mau masuk Stasiun Klari karena ada gudang semen panjang paralel dengan rel. Dan di tengah kegelapan malam kami menunggu lama banget. Bahkan saya sampai ketiduran. Yang jelas saat saya bangun lagi, belum ada perubahan pemandangan di luar sana. Ketiduran lagi, baru ketika bangun tiba-tiba sudah disapa bangunan panjang Stasiun Karawang. Lihat jam, setengah dua belas malam.

rel-panjang-kereta-api
Rel kereta api yang tak berputus.

Kereta masih belum jalan lagi.

Salah satu alasan saya agak peduli soal waktu menunggu sebenarnya untuk mengecek apakah kami para penumpang bisa dapat kompensasi dari PT KAI atas keterlambatan ini. Memang dapat, karena sesuai Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 48 Tahun 2015 (Permenhub 48), ada kompensasi yang harus diberikan penyedia jasa kereta api jika keberangkatan/kedatangan tidak sesuai jadwal. Sesuai Pasal 6 ayat (1) peraturan tersebut, kompensasi yang diberikan jika keterlambatannya tiga sampai lima jam adalah makanan ringan dan minuman, untuk keterlambatan di atas lima jam baru mendapatkan makanan berat dan minuman.

Saya jadi merasa agak tak berharga ketika membaca terlambat tiga jam tapi cuma dapat makanan ringan dan minuman. Seakan-akan waktu tiga jam kami hanya dihargai makanan ringan. Padahal sementara itu, untuk urusan transportasi udara, sesuai Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 89 Tahun 2015 (Permenhub 89), keterlambatan 30 menit saja sudah dapat kompensasi.

kereta-api-barang-stasiun-pekalongan
Angkutan kereta barang dekat Stasiun Pekalongan.

Kenapa berbeda, ya? Apakah penumpang kereta api punya “kelas” yang berbeda dengan penumpang pesawat udara? Apa bagi kami penumpang kereta api, ketepatan waktu bukan prioritas lantaran waktu tempuh kereta api jauh lebih lama daripada jalur udara? Bagi saya sih itu bukan justifikasi yang membuat kami lantas dapat dibedakan. Bukankah semua penumpang di moda transportasi apa pun patut diperlakukan setara? Atau apakah di sini harga tiket berbicara?

Bukan cuma saya yang mengalami nasib serupa. Seorang teman kantor yang berangkat dengan KA Tegal Bahari 70L dari Gambir tujuan Cirebon yang jadwal keberangkatan seyogianya pukul 19.45 baru lepas Gambirpukul sebelas lewat. Itu pun ditambah dengan kereta yang berhenti lama di Stasiun Bekasi. Entah jam berapa ia akan tiba di tujuan. Bisa dipastikan, seluruh kereta yang dari dan ke Jakarta, tak peduli mau lewat Pantura atau Jalur Daop V, mengantre di malam 13 November yang menakjubkan itu. Mungkin juga ini pengaruh tanggal 13 ya.

gunung-slamet
Sawah dan gunung yang indah sebelum kami tahu kereta berhenti lama.

Di Karawang, kami menunggu lagi untuk bersilangan dengan beberapa kereta api. Bagi saya, kelihatan bahwa PT KAI sedang berusaha mendahulukan kereta api yang berangkat dari Jakarta menuju kota-kota di Jawa ketimbang kereta yang menuju Jakarta. Hm, bisa dimengerti. Saya belum bisa membayangkan akan bagaimana marahnya para penumpang jika terlambat berangkat.

Menurut pengamatan saya, umumnya keterlambatan pemberangkatan jauh lebih menyulut emosi ketimbang keterlambatan kedatangan. Yang terakhir ini umumnya hanya akan melecut emosi dari para penjemput, namun tak begitu berdampak pada penumpang. Beda dengan terlambat berangkat, sebagaimana bisa dilihat sendiri, banyak berita tentang emosi penumpang tak terbendung ketika satu maskapai pesawat ter-ten-tu (hehe) men-delay lama penerbangannya. Entah bagaimana analisis psikologisnya.

menara-pabrik-gula-kolonial
Pabrik gula zaman Belanda dengan menaranya yang tinggi.

Tiga puluh sembilan menit tepat setelah pukul sebelas malam. Namun tak ada apa yang terjadi. Tak ada pengumuman soal pembagian kompensasi, tak ada pemberitahuan soal jam berapa kira-kira kami akan tiba. Kereta masih berhenti di Karawang untuk memberi kesempatan kereta lain bersusulan. Rangkaian gerbong bisnis melintas pelan di samping kami. Saya mencoba membaca nama kereta di dinding salah satu gerbong. Senja Utama Yogya.

Oh Tuhan, setahu saya semestinya Senja Utama Yogya itu berangkat dari Pasar Senen pukul 18.45, kalau tepat waktu. Di setengah dua belas malam begini, kereta itu mestinya sudah melintas Stasiun Bumiayu menuju Stasiun Purwokerto. Apa kabar kalau jam segini bahkan belum keluar dari Karawang? Fix, ini gangguannya memang parah banget karena rata-rata keterlambatan pasti di atas tiga jam. Agak lebih dulu, di Klari, kami bersilangan dengan KA Majapahit tujuan Malang. Yang terakhir ini mestinya berangkat dari Pasar Senen pukul 18.30, di jam ini mestinya sudah menuju Semarang Tawang.

sawah-gunung-slamet
Sawah dan gunung lagi.

Saya mencoba mengecek linimasa untuk mencari mention ke PT KAI. Tentu saja sudah amat sangat banyak keluhan, bahkan amarah dari para penumpang yang entah (1) terlalu lama menunggu di stasiun atau (2) senasib dengan saya, mesti menunggu di gerbong-gerbong tanpa kejelasan akan sampai jam berapa. Oh, saya mengerang dalam hati, apa kami penumpang punya terlalu banyak mau, sampai-sampai kami susah bersabar menunggu kedatangan transportasi yang sedang kami naiki ini?

Bagi saya, bersabar jadi sedikit lebih susah karena saya tak punya makanan. Sip banget. Bagaimana mungkin saya tidak sedikit berharap akan adanya kompensasi dari PT KAI, meski itu juga tidak mungkin saya makan karena sedang on diet? #eh.

Informasi Simpang Siur

stasiun-pemalang-jawa-tengah
Stasiun Malang! Eh salah, ini Pemalang.

Selain sebuah berita di situs media daring yang menyatakan bahwa kejadian ini disebabkan banjir di Tol Cikampek dan Stasiun Bandung (yang sudah setengah saya bantah di atas), belum ada perkembangan soal informasi apa pun soal penyebab sebenarnya dari tertahannya kereta-kereta di lintas arteri Ibukota itu. Akun twitter resmi PT KAI hanya berisi template soal selamat beristirahat dari jam sepuluh malam tadi. Sampai dengan jam setengah dua belas malam belum ada info resmi dari otoritas itu soal apa yang terjadi.

Menurut saya, info yang pasti soal penyebab keterlambatan mutlak diumumkan pada para penumpang. Jika ternyata keterlambatan itu disebabkan keadaan kahar, seperti cuaca atau huru-hara, ya masa sih kita para penumpang mau menuntut penyedia jasa transportasi? Justru kami akan berusaha mempanjangkan sumbu sabar, bahkan mungkin memberi dukungan pada para teknisi agar gangguan cepat diatasi.

gerbong-tua-stasiun-tegal
Pacaran di atas gerbong tua, Stasiun Tegal.

Namun sejauh ini, info yang kami terima di atas kereta baru hanya karena ada gangguan sinyal di Stasiun Dawuan. Gangguan seperti apa tepatnya? Apa penyebabnya? Cuaca? Sabotase? Atau kesalahan manusia? Sama sekali tak ada kejelasan, dan menurut saya, dalam kondisi seperti inilah penumpang akan menumpuk emosi, belum lagi ditambah fakta bahwa kejadian ini berlangsung tengah malam, jauh dari jadwal kedatangan semestinya (kami mestinya tiba di Pasar Senen jam 20.38).

Kewajiban menyampaikan informasi keterlambatan kedatangan memang belum diatur dalam Permenhub 48 dimaksud. Demikian pula di bidang transportasi udara, Permenhub 89 juga tidak mengaturnya. Kedua peraturan tersebut hanya menentukan keterbukaan informasi khusus bagi keberangkatan yang terlambat, yakni selambat-lambatnya 45 menit sebelum jadwal keberangakatan atau setelah diketahui ada keterlambatan. Namun mestinya ini tidak jadi celah dalam keadaan sebaliknya untuk membiarkan penumpang terkatung-katung tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Haruskah kami menunggu? Atau apakah ada opsi transportasi lain?

gunung-slamet-dari-dekat
Ini bukan Gunung Ciremai.

Tapi dengan kereta kami yang sedang berhenti di suatu tempat antara Karawang dan Bekasi, kami tak bisa berbuat banyak kalau keluar saat ini juga. Kegelapan bisa langsung menelan kami.

Dengan mempertimbangkan Stasiun Pasar Senen pasti akan sangat padat dengan penumpang yang emosi (bayangkan, KA Tawang Jaya keberangkatan Pasar Senen yang mestinya bergerak dengan rangkaian ini juga, terjadwal semestinya pukul 23.00 tentu saja akan terlambat lebih dari dua jam), agaknya baik kalau saya turun di Jatinegara saja. Dari sana bisa naik ojek. Sayang sejurus kemudian saya ingat kereta ini tidak berhenti di Stasiun Jatinegara karena KA Tawang Jaya menggunakan rangkaian panjang. Berhenti di Bekasi juga tidak mungkin, karena mau naik apa ke Salemba? Pilihan paling akhir ya hanya berhenti di Pasar Senen, tujuan akhir.

Saya cukup bersyukur setelah lepas Karawang kereta tidak berhenti lagi, meski pergerakannya juga tak bisa dibilang cepat. Meski sedari tadi saya tidak berharap mendapat kompensasi dari PT KAI, tapi kalau memang ada kompensasi di stasiun tempat turun, tentu saja bisa sedikit melipur, saya membatin ketika kereta sudah berangkat lagi dari Stasiun Bekasi. Sudah jam dua belas lewat seperempat, waktu itu.

Akan tetapi, tiba-tiba saja kereta berhenti di Jatinegara.

Saya sempat kebingungan. Awalnya saya kira kereta ini hanya melambat, tidak berhenti. Tapi ternyata kereta benar-benar distop dan penumpang-penumpang pada turun. Ya sudahlah, pikir saya. Berhubung kereta berhenti di Jatinegara ya saya turun saja. Lebih dekat dengan kosan, lebih sepi juga. Mungkin juga khusus malam ini kereta diberhentikan di Jatinegara meski dengan rangkaian panjang, meskipun ini berarti rangkaian menutup wesel Jatinegara sebelah timur dan tentu saja menghambat kereta dari Manggarai yang akan bergerak ke Bekasi atau terus ke timur. Tapi memang ada kereta yang mengantri di tengah malam begini?

Mungkin ada, karena saya melihat satu-dua rangkaian KRL Jabodetabek sedang menunggu bersilangan dengan kereta jarak jauh. Saya pernah menuliskannya dulu tentang kenapa kereta masih mengantre padahal jalur sudah lebih dari cukup. Buat sekarang, saya tak perlu tanya, karena kereta ada banyak mengantre mulai daerah Bekasi sedangkan jalur terbatas. Tentu kereta perlu antre satu sama lain.

Baca juga: Tentang Rel yang Saling Silang

gunung-ciremai-jawa-barat
Ini baru Gunung Ciremai.

Saya turun di Jatinegara dan lagi-lagi, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tidak ada pembagian kompensasi untuk penumpang kereta jarak jauh. Bahkan permohonan maaf pun cuma diutarakan sekali via pengeras suara. Seakan-akan yang namanya keterlambatan itu sangat normal terjadi dalam dunia perkeretaapian Indonesia. Padahal keterlambatannya sudah kebangetan; saya yang mestinya tiba jam delapan jadi molor lima jam begini.

Tapi yang aneh justru pengumuman resminya. Jika di kereta tadi katanya ada gangguan sinyal di Stasiun Dawuan, info di Jatinegara itu gangguan sinyalnya justru kejadian antara Stasiun Karawang sampai Stasiun Klari. Bagi penumpang yang sudah kelelahan di tengah malam buta dan mungkin hanya ingin pulang dan tidur nyenyak ini mungkin tidak penting-penting amat, tapi buat saya kejanggalan ini agak aneh.

Masa sih bisa ada informasi yang beda antara pihak masinis kereta dan pihak stasiun? Tidak masuk akal. Bukankah semestinya pihak Stasiun Dawuan di mana masalahnya terjadi akan berkoordinasi dengan sang masinis, yang menyampaikan ke stasiun tujuan tentang masalah yang terjadi? Jadi Stasiun Jatinegara dapat info dari mana kalau beda-beda seperti ini?

Doh, tapi saya kemarin sudah tidak punya waktu buat memikirkan hal-hal remeh temeh seperti ini. Terlalu capek! Persetanlah dengan tidak dapat kompensasi. Persetan juga dengan apa penyebab kekacauan kereta ini. Saya cuma ingin pulang dan tidur, that’s it.

Di kosan, sudah bersih dan wangi siap tidur, iseng-iseng saya buka Twitter. Hal pertama yang bikin heran adalah di linimasa resmi PT KAI (meski sudah ada beberapa respons soal kejadian ini kepada orang-orang yang me-mention) penyebab kekacauan ini beda: ada perawatan dan perbaikan jalur di lintas utara Jawa.

Hah? Perawatan jalur? Pikir saya, kalau memang benar ada perawatan jalur, jalur anjlok, atau bagaimana, tentu ada pekerja-pekerja yang berkerumun di satu titik kekacauan dan membenahinya on the spot. Sementara itu, untuk menjaga kelancaran kereta, jalur yang satu lagi (jalur kereta utara Jawa sudah trek ganda) dipakai bergantian. Memang pasti ada antrean kereta yang memakan waktu terlebih karena jalur dari Jakarta sampai Stasiun Cikampek adalah jalur sapu bersih untuk semua perjalanan kereta, tapi kalau dijelaskan dari awal, menurut saya semua penumpang bisa memahaminya.

Dan lagi, jika benar ini perawatan, apa harus makan waktu sampai (minimal) lima jam? Di pikiran saya agak nggak masuk saja. Perawatan mestinya rutin, kan? Jika ada kejadian di luar dugaan yang mengharuskan adanya perbaikan, ya masa sih masih disebut perawatan? Bagaimanapun saya mencoba memosisikan diri sebagai bagian perusahaan kereta api, tetap saja saya tidak bisa mendapat alasan tepat.

Saya juga tidak ada melihat pekerja memperbaiki jalur di sepanjang perjalanan tadi. Mungkin saya tak sempat lihat karena ketiduran, tapi apa iya? Bukankah jauh lebih enak mengatakan pada penumpang kalau memang ada perbaikan jalur ketimbang bilang gangguan sinyal?

Tapi di atas semua itu, manajemen informasi jajaran PT KAI di saat-saat darurat seperti ini menurut saya agak kacau. Di dalam kereta informasinya gangguan sinyal di Stasiun Dawuan. Di stasiun infonya gangguan sinyal, tapi antara Stasiun Karawang sampai Klari. Eh di media sosial infonya perbaikan dan perawatan jalur, dari Karawang sampai Klari! Entah mana yang benar.

Menurut saya, bahkan ketika kejadian sebenarnya bukan semata-mata jalur yang rusak atau rel patah, sebagai contoh, tetap mesti ada koordinasi internal dulu sebelum membuka informasi kepada penumpang, media sosial resmi, apalagi kantor berita. Mudah-mudahan di masa depan soal penyampaian informasi ini lebih diperhatikan. Bagaimanapun salah info sedikit bisa berdampak besar, lho.

rel-kereta-api-1
Kereta api, yang bersahabat ya.

Ternyata banyak (banget) pengguna jasa kereta yang komplain ke twitter resmi PT KAI. Mungkin itu sebabnya sang admin akun bangun lagi padahal sudah mengetwit salam perpisahan untuk hari ini. Kebanyakan isinya permintaan maaf atas keterlambatan kedatangan dan keberangkatan. Namun, ada satu tagar yang menarik perhatian: #ServiceRecovery. Tentu saja ini soal kompensasi. Bukannya saya tidak ikhlas karena tak dapat kompensasi ya, tapi saya penasaran saja apakah kompensasi yang diperjanjikan oleh PT KAI itu betul ada atau tidak. Jika tak ada, waduh… bisa-bisa orang berhenti naik keretanya KAI terus beralih ke penyedia lain.

Eh tapi mau naik kereta punya penyedia mana lagi lha wong perkeretaapian di Indonesia masih monopoli?

Eh ndilalah, ternyata pernyataan soal #ServiceRecovery-nya PT KAI bikin emosi. Bagaimana tidak, dalam beberapa twitnya dijelaskan bahwa pemberian kompensasi itu dilakukan di stasiun tujuan akhir. Dalam hal ini, untuk KA Tawang Jaya, pemberiannya dilakukan di Stasiun Pasar Senen.

Saya tidak bisa menutupi kalau saya merasa sedikit dibohongi. Saya sampai mengecek di Permenhub 48 dan di sana tidak pernah ada klausul bahwa pemberian kompensasi dilakukan bagi penumpang yang turun di stasiun tujuan akhir. Bukankah itu artinya membeda-bedakan penumpang? Bagaimana dengan penumpang yang turun di Jatinegara? Bagaimana pula dengan penumpang yang turun di Bekasi? Memangnya penumpang yang tidak turun di Pasar Senen pantas dibedakan dengan mereka yang turun di stasiun akhir itu?

Pasal 6 ayat (1) Permenhub 48 juga tidak pernah menyatakan bahwa pemberian kompensasi hanya diperuntukkan bagi penumpang yang turun di stasiun tujuan akhir. Justru sebaliknya, ayat tersebut dengan jelas menyebut frasa “setiap penumpang“, dengan demikian, di mana pun penumpang itu turun, selama keterlambatan yang sudah ia alami di atas tiga jam, maka penumpang itu berhak mendapat kompensasi.

Ini bukan soal seberapa nilai dari kompensasi itu, namun lebih ke bagaimana komitmen penyelenggara perkeretaapian untuk bisa menerapkan peraturan yang mereka buat sendiri secara adil.

img_0568Saya akui, memang sedikit repot untuk menyiapkan kompensasi bagi penumpang yang turun bukan di stasiun tujuan akhir. Namun bukankah ini salah satu keuntungan sistem boarding pass yang telah diterapkan oleh PT KAI sendiri? Menurut saya, dapat saja dilakukan pengecekan boarding pass di pintu-pintu keluar setiap stasiun untuk pembagian kompensasi. Dengan sistem basis data penumpang yang telah terkoneksi dan terkomputerisasi (untuk bisa masuk stasiun mesti memindai kode bar, kan?), menurut saya adalah hal mudah untuk membagi kompensasi makanan, sekaligus di sisi lain mencegah satu penumpang mendapat kompensasi ganda. Sistem tap in tap out saja bisa diterapkan penumpang kereta komuter setiap hari nonstop, mengapa itu tak dapat diterapkan dalam kereta jarak jauh?

Satu-satunya hal yang perlu dipersiapkan, menurut saya, adalah persediaan kompensasi di setiap stasiun, karena tak ada yang bisa menduga di mana penumpang tersebut akan turun. Solusi saya, begitu diketahui informasi bahwa akan terjadi keterlambatan yang berdampak pada pemberian kompensasi, maka stasiun-stasiun tujuan mutlak harus mempersiapkan sejumlah paket kompensasi untuk dibagikan pada penumpang yang diperkirakan akan turun di stasiun itu.

Bagaimana menentukan jumlahnya? Di sinilah ilmu statistik berperan. Pastinya, dan semestinya, ada data jumlah penumpang kereta X, misal KA Tawang Jaya, yang turun di Stasiun Jatinegara, misalnya, atau berapa data penumpang yang turun di Stasiun Bekasi. Sistem seperti ini sebenarnya sudah diterapkan dengan sistem tap in tap out, jadi perusahaan bisa tahu dan dapat memperkirakan berapa jumlah penumpang yang turun di suatu stasiun. Penerapan sistem tap in tap out dengan tujuan seperti ini sebenarnya sudah dijalankan di TransJakarta, bahwa penumpang harus tap out di halte tujuan meski tidak mengurangi saldo. (Selain itu, sistem tap out juga punya fungsi lain, yakni untuk menentukan ongkos perjalanan, dan inilah yang terjadi di kereta komuter).

Saya sudah mengirim twit ke pihak PT KAI. Tapi twit saya sepertinya alpa dibaca sehingga tidak ada balasan apa pun. Mungkin twit saya terlalu nyinyir padahal saya sudah berusaha menulis dengan bahasa yang cukup sopan. Mungkin pula terlalu banyak twit komplain yang mesti dibahas sehingga cuitan saya sangat boleh jadi luput dari perhatian.

Beberapa hari kemudian, ketika media daring banyak yang membahas ini, saya baru tahu bahwa penyebab dari semua kekacauan kereta itu adalah gara-gara petir menyambar visual display unit di sistem persinyalan antara Stasiun Karawang sampai Stasiun Klari, sehingga menyebabkan kereta-kereta mesti dipandu secara manual dari Stasiun Dawuan sampai Stasiun Karawang. Tentu saja ini menimbulkan antrean kereta yang sangat panjang, bahkan masih berimbas sampai beberapa hari setelahnya.

Tapi yang aneh, kejadian “perbaikan sinyal” dan “perawatan jalur” di segmen Karawang-Klari ini tidak cuma terjadi di malam 13 November itu. 29 Oktober, dan beberapa hari silam, terjadi antrean kereta di petak yang sama yang menimbulkan keterlambatan panjang. Saya jadi sangsi apakah benar kejadian-kejadian ini disebabkan karena perangkat sinyal tersambar petir. Memangnya bisa gitu, perangkatnya tersambar petir berkali-kali?

63 thoughts on “Demi Dewa, Kereta Api Indonesia! (Sebuah Kritik Nyinyir)

  1. Kapan ya bisa dapat pertanggunga jawaban kyk di Jepang gt. Terlambat segitu lama, menteri transportasinya pasti langsung resign. Di sini? Maaf pun nggak ada.

  2. Sebagai pengguna commuter line tiap hari, saya sering menemui hambatan2 perjalanan semacam ini. Apalagi tujuan awal dan akhir saya adalah stasiun bekasi yg mana menjadi jalur lintas beberapa kereta jarak jauh. Ditambah kondisi cuaca yg lg sering menimbulkan kendala, memang seharusnya PT KAI lebih bisa memanage risiko2 yg mungkin muncul, sperti gangguan persinyalan itu.

    Utk menanggulangi ini sepertinya PT KAI sedang menjalankan pembenahan, seperti pembangunan jalur kereta baru yg sedang berjalan di sekitar manggarai-jatinegara (tapi belum tau itu buat kemana). Cuma emang bener sih, jalur lintas mestinya diperbanyak terutama di wilayah2 yg bersinggungan dgn jalur jarak jauh karena kalo engga, dampaknya ga cuma ke jadwal antar kota aja, tapi juga ke jadwal commuter line yg menggunakan jalur yg sama. Dan gangguan di satu jalut commuter line, otomatis mempengaruhi perjalanan commuter lain jurusan lain karena beberapa jadwalnya berkaitan. Rumit emang, sayapun ga ngerti gimana manage jadwalnya hahahaha Yah semoga saja pihak berwenang udah ngeh dgn kondisi ini dan skrg sdg menjalankan pembenahan. Sebagai penumpang yg baik tentunya kita memang harus ngasih masukan2 yg value adding buat penyedia jasa.

    1. Setuju… pengaturan gapeka memang hal yang rumit banget soalnya sifatnya sangat menyeluruh dan semua-mua kudu dipikir, dari kondisi stasiun sampai kondisi jalur. Mudah-mudahan PT KAI terus berbenah dan kita sebagai penumpang bisa terus menjadi pengamat yang objektif ya, hehe.

  3. Di sisi lain PT KAI pasti berusaha sebaik-baiknya ya Gara dengan melibatkan banyak pihak yang mungkin belum standard untuk service excellencenya. Disisi lain, penumpang juga punya limit sabar masing-masing yaaa… Saya membayangkan jika didalamnya ada dua orang yang sedang saling jatuh cinta dan bepergian bersama, pasti inginnya kereta berjalan lebih lambat lagi 😀 😀

    Semoga PT KAI lebih baik lagi.

    1. Amin, Mbak. Saya percaya PT KAI pasti terus melakukan perbaikan berkelanjutan, saya cuma menunjukkan saja apa yang masih perlu sedikit dibenahi, hehe.
      Kalau keretanya nggak macet-macet, saya malah senang banget naik kereta Mbak, 15 jam ke Malang pun saya lakoni hampir tiga kali tahun ini, haha. Seru sih.

  4. hallo mas gara, hehe sabar ya..keluhan nya sudah saya sampaikan ke @KAI121, kebetulan admin dari akun tersebut adalah temen saya :D..saya bisa memahami dan memaklumi..namun saya yakin @KAI121 selalu berusaha memperbaiki diri..meskipun sebenarnya banyak sekali kendala..

    Limit sabar orang memang macem2 hehehe 🙂

    1. Wah terima kasih banyak Mas, saya akhir-akhir ini sering banget naik kereta api jadi saya memang merasa sekali perkembangan kereta api. Mudah-mudahan catatan kecil ini bisa jadi ajang untuk berbenah lebih baik lagi ya.

  5. ooh ini yang telat parah kemarin itu ya ? bukan karena PLH di stasiun Cikaum kah lupa saya tgl brp kmrn,
    memang mas kalo terjadi sesuati di jalur, otomatis ngantri, lalu lintas KA sekarang juga sudah jauh semakin ramai, jadi mau ga mau ngantri mengakibatka telat parah

    1. Itu yang 29-30 Oktober Mas, teman saya juga kena imbas kereta anjlok itu, sampainya lama banget. Sebenarnya kalau telat lama banget pada akhirnya kita sebagai penumpang juga tak bisa berbuat banyak Mas, saya setuju, namun paling tidak informasi keterlambatannya harus transparan, begitu juga dengan tindak lanjutnya.

  6. Wah kok jodoh yaaa, saya lagi ngedraft tentang KAI hehe, tapi bukan karena keterlambatan melainkan kursinya yang tegak lurus yg bikin sakit punggung. Belakangan naik kereta kok selalu tepat waktu, tidak seperti dulu yang suka bikin kesel.

    1. Syukurlah kalau perjalanan selalu tepat waktu. Saya juga kemarin dari Nganjuk sampai Sidoarjo juga tepat waktu, padahal lagi ada proyek trek ganda di jalurnya Daop 7 dan cuaca kurang bagus, hehe. Mungkin pengalaman di Cikampek ini kebetulan saya sedang sial.

    1. Ini akibat nulisnya buru-buru Mas (meski delaynya juga seminggu lebih, haha). Kalau nulisnya nggak dibaca lagi pasti jadi membengkak, hehe. Sekarang sudah nggak sebel lagi. Sudah keluar bersama kata-kata di tulisan ini, hehe.

  7. koreksi dulu, om gara. Tawang Jaya sekarang statusya non PSO, sama kayak Kertajaya dan Progo meskipun sama-sama menggunakan kereta ekonomi dengan susunan kursi 3-2. alasannya apa? mutlak komersil dilihat dari sisi jadwal masing-masing kereta yang emang hot time banget. 😀

    Mengenai kasus yang telat ini, emang bener karena gangguan sinyal di stasiun karawang. Begitu info langsung dari orang KAI 😀
    KAI pas tanggal tanggal itu emang lagi apes banget. setelah sebelumnya ada anjlokan kereta di stasiun Cikaum, habis itu ditambah sama kerusakan sinyal.

    sebenernya sih KAI udah jauh berubah dibanding duluuuu banget jaman masih belum jadi BUMN, sejak masuknya Pak Jonan itu perkembangannya jadi pesat. Sayangnya akhir akhir ini emang aku ngerasain ada penurunan dan cukup signifikan.

    Ketepatan waktu, masih bisa dapet bintang 5 di luar kejadian luar biasa kayak kecelakaan atau kendala teknis.
    Sayangnya harganya sekarang jauh lebih tinggi dari jaman aku dulu 2009 naik Sri Tanjung, kelas ekonomi, masih 19500 sekarang udah sampe 96rb padahal statusnya masih sama, kelas Ekonomi dengan PSO. katanya sih buat mbayar cicilan lokomotif *eh :p
    Terus kondisi gerbong, Mas Alid di atas bilang kalo kursinya tegak 90derajat. Sebenernya itu udah standar untuk kelas ekonomi. sesuai aturan. tapi di gerbong ekonomi baru keluaran tahun 2016 ini ada failnya dan baru ketahuan setelah dirilis ke pasaran dan akhirnya dapet kritik banyak banget.

    Terus kalo masalah KAI121 sih udah dari lama. Maaf lho Om Sukmana, bukan maksud nyinggung temennya yang kerja di sana. Tapi menurutku dan teman-teman komunitas sering terjadi ketidak sinkronan antara KAI121 dengan kantor. Jadi banyak yang missed gitu informasinya. Entah kenapa ini bisa terjadi.

    Kalo aturan pembagian kompensasi, aku pernah dapet pengalaman hampir serupa. Ada di blog tapi udah lamaaaa banget hehehe. Setauku sih kalo keterlambatan di atas 3 jam dapet snack. Tapi kalo sampe nggak dapet sih ya itu kebangetan banget. Bisa jadi, stok dari Restorasi sedang kosong. sementara stasiun terdekat jauh dari gerai gerai market. aku dulu telat sampai 12 jam baru dapet snack setelah stasiun cirebon dan snack kedua setelah stasiun Purwokerto. keduanya stasiun besar dengan fasilitas gerai Indomaret di dalamnya. kalo nggak salah.

    Ya mungkin itu aja dulu sharingnya. Mungkin kalo kita bertemu muka aku bisa curhat banyaaaak banget tentang pengalaman naik sepur. Sama sekalian ngenalin komunitasku 😉

    Semoga udah nggak kesel lagi ya, Om Gara 😀

    1. oh tambahan:
      kalo disuruh naik kereta jaman sekarang apa dulu. aku tetep milih kereta jaman sekarang 😀
      habisnya naik kereta tuh enak sih, ada AC, colokan, waktu tempuhnya lebih cepet daripada naik bis. tapi harganya nggak semahal pesawat :p

      1. Setuju Mas. Saya juga pasti lebih memilih naik kereta di zaman sekarang ketimbang di masa lalu. Mungkin kalau kereta hari ini masih sama dengan sepuluh tahun lalu, kereta api akan termasuk moda transportasi yang saya hindari.

    2. Mantaaaap!!! Terima kasih banyak atas pandangannya yang komplet soal masalah ini, Om. Terima kasih soal koreksinya. Jujur kaget juga kalau statusnya sudah komersil tapi kondisi gerbong masih seperti itu–ini disengaja nggak sih? Soalnya di pikiran saya kalau konfigurasi 3-2 mesti PSO. Ternyata nggak juga, ya.
      Setuju lagi, memang nggak semua jadwal KA terlambat. Kemarin saya naik KA Ranggajati dari Nganjuk sampai Sidoarjo dan tepat waktu banget, saya sangat mengapresiasi itu. Nah, soal KA Ekonomi New Image, kemarin saya sempat naik dan lumayan nyaman, tapi itu mungkin karena saya merasakan duduk di seat yang tengah-tengah ya, jadi yang berhadapan, spasi tempat kakinya lumayan luas. Menurut Om Johanes spasi tempat duduk di tempat duduk yang searah hadapnya sempit banget. Saya akan membuktikannya nanti.
      Telat sampai 12 jam itu mestinya dapat makanan berat Om. Dulu cuma dapat snek doang? Waduh. Mudah-mudahan komentar ini dibaca dan jadi bahan perbaikan bagi PT KAI, ya.
      Sip, sekarang setelah dapat banyak respons dari teman-teman, saya mulai bisa memandang ini dengan lebih jernih. Jujur pas nulis ini masih agak emosi, haha. Hayuklah ketemuan, pengen sharing banyak soal perkeretaapian :)).

  8. Sebenarnya tadi siang habis ngelike mau komen mas gara. Cuman hp saya kehabisan baterai ha ha ha…..

    Kalau nurut saya pelayanan publik otomatis jadi lebih baik jika ada saingan nyata. Bukan dimonopoli pemerintah. Ada anggapan klo masih dipegang pemerintah sih perkembangannya bakal lambat, termasuk semua aspek dalam meningkatkan kualitas jasa. Harus ada persaongan agar perusahaan ingin menjadi yg nomor satu.

    Sayangnya saya nggak bisa komentar banyak soalnya pengalaman masih sedikit atau jarang make kereta sehingga takutnya tidak bisa memberi opini yg objektif.

    1. Setuju saya, malah ini poin tersembunyinya, hehe. Selama perusahaan yang bersaing diatur dan punya orientasi pelayanan yang bagus, menurut saya dilepas ke swasta adalah keputusan yang baik. Toh semua demi pelanggan juga. Pemerintah tinggal mengatur standar minimal pelayanan (tapi standarnya harus tinggi). Jika semuanya punya pandangan untuk melayani pelanggan dengan baik, dijamin deh makin banyak orang yang naik kereta api.

    1. Amin, mudah-mudahan ya. Transparansi informasi memang perlu banget supaya nggak simpang siur. Penumpang pasti lebih tenang dan lebih bisa mengerti kalau infonya jelas dan satu suara, nggak beda-beda kayak begini.

    1. Semestinya punya. Bagaimanapun pelayanan tetap yang utama, namun harus mengutamakan keselamatan juga. Tapi sepertinya Plan B, C, D-nya belum cukup jelas, atau belum cukup memuaskan. Jadinya malah simpang siur. Itu sih yang saya lihat kemarin, hehe.

  9. Hebat PT. KAI alasan keterlambatan sampai lima jam bisa macam-macam: gangguan sinyal di Dawuan; gangguan sinya antara Stasiun Karawang sampai Stasiun Klari; ada perawatan dan perbaikan jalur di lintas utara Jawa. hahahaha….

    Yang jelas menurut saya orang yang ditunjuk menjadi pengurus kereta api yang monopoli itu tidak kompeten.

    1. Iya Mas, hebat banget kan? Saking hebatnya sampai saya sempat nggak habis pikir, kok ya bisa… duh iya, soal kompetensi dan kemampuan menyampaikan informasi memang masih harus dibenahi dari perusahaan itu. Menjadi monopoli bukan berarti bisa seenaknya, melainkan mesti meyakinkan konsumen bahwa mereka memang yang terbaik.

  10. Setahuku kalau perawatan memang bisa lama Gara. Di Belanda, perawatan bisa memakan waktu sekian hari (biasanya sih di akhir pekan). Tapiiiii, namanya kan perawatan ya, artinya “gangguan”-nya sudah terencanakan dong. Jadi di sini jika memang ada perawatan, dari awal jadwal keretanya sudah disesuaikan, antara jadwal sedikit diubah atau frekuensi dikurangi.

    Aku duga sih penyebabnya mungkin gangguan yang bukan perawatan, alias yang tidak terencanakan. Ini memang tidak bisa dihindari kan. Dan lama waktu perbaikannya tergantung dari apa yang terganggu/rusak. Apalagi di kereta antar kota seperti ini, bisa jadi sulit bagi teknisinya untuk mencapai tempat itu sehingga membutuhkan waktu lebih lama. Di Belanda, yang aksesnya cenderung lebih mudah karena relatif hampir semua lokasi mudah dicapai dengan kendaraan, juga terkadang gangguan begini bisa memakan waktu berjam-jam kok 🙂 .

    Tapi memang sih, seharusnya komunikasi antara pihak kereta api dan penumpangnya lebih baik ya. Mungkiiiin, inovasinya cenderung lambat karena di Indonesia PT. KA itu memonopoli bisnis kereta api? Jadi tidak ada saingan gitu? Hehehe 😛 .

    1. Setuju, kalau perawatan mestinya sudah ada antisipasi, entah perjalanan memang ditunda atau dibatalkan. Pada akhirnya ini terbukti memang gangguan karena sinyalnya tersambar petir dan suku cadangnya harus diambil dari Bandung dulu jadi agak lama. Mana kejadiannya di tengah malam lagi, kan.
      Yep, sebenarnya saya sih nggak begitu keberatan menunggu lama asal infonya jelas, bukan simpang siur begini. Kalau seperti ini tidak menutup kemungkinan ada penumpang yang merasa dibohongi dan mulai berpikir jangan-jangan kejadian sebenarnya bukan itu, hehe.

  11. Ini hari yang sama dengan aku yang mustinya sampai Gambir 03:42 tapi sampainya pukul 11:30.. Huhuhu TL 4. Potonganku tambah banyak dan cuma diganti makanan ringan dan air mineral T^T

    1. Eh betulan cuma diganti makanan ringan dan air mineral? Sebenarnya aturannya bilang kalau di atas 5 jam itu makanan berat, lho, itu kan dirimu sudah hampir 8 jam ya Mbak telatnya. Waduh memang ya kalau urusan kompensasi itu kadang ketidaktahuan konsumen jadi alat buat perusahaan main akal-akalan. Mudah-mudahan tidak terjadi lagi di masa depan ya.

  12. Sebal itu kalau datang tepat waktu bahkan berapa lama sebelumnya, tapi KA nya delay. Tapi ketika telat beberapa menit, KA nya tepat waktu. Huh! Tapi tetap saya yang salah aja sih, salahin diri sendiri aja biar hidup agak damai…..tapi kalo gitu delay nya ngabisin umur banget ya

    1. Wah itu memang mengesalkan banget, hehe… kalau saya kemarin berarti datang tepat waktu, berangkat tepat waktu, tapi tibanya molor. Sama-sama nggak enak yak. Oke buat selanjutnya kita harus lebih tepat waktu nih, supaya nggak kejadian ketinggalan kereta. Rasanya pasti nyesek banget dan kita banyak mengutuk diri sendiri kalau ketinggalan. Saya pernah pengalaman soalnya, cuma ketinggalan pesawat.

  13. Pernah 3 tahun akrab sekali dengan kereta api sebagai PJKA., hingga akhirnya sampai pada titik pasrah misuh ( mencerca ) KAI karena pada akhirnya misuh bagaimanapun kita juga pasti naek keretanya. Kalo mau, KAI harus punya saingan biar dia mau berbenah lebih. cmiiw

  14. kalau sudah delay lama … terus tidak ada informasi pasti, karena apa, berapa lama, mau di apain … jadi tambah b9kin “panas” … mudah2-an KAI terus berbenah dan selalu siap terima kritik membangun,

    1. Iya Mas, bikin panas banget. Manajemen informasi adalah satu hal yang mutlak harus dibenahi untuk mendapat kepercayaan pelanggan. Amin, saya yakin PT KAI pasti terus berbenah dari hari ke hari.

  15. Kalo menurut saya sih yg tentang kompensasi kenapa kereta beda dgn pesawat karena ada 2 hal.
    1. Perbandingan perbedaan waktu tempuh pesawat n kereta.
    2. Kemungkinan untuk terlambat antara pesawat n kereta.
    Jadi bukan hanya karena “kelas” sih.. hehehe…
    CMIIW

    1. Mungkin juga… kalau naik pesawat umumnya lebih cepat dan kemungkinan terlambat juga tidak sebesar kereta, jadi sekalinya terlambat kompensasinya juga mesti sedikit lebih, demikian ya?

  16. Saat saya sekitar 2 atau 1 januari 2017 juga mengalami apa yg Anda rasakan….. Dan lagi lagi di daerah DAWUAN!!!!

    Bahkan ada beberapa kereta yg mengantri dan kereta sy, kutojaya pun harus berjalan di jalur kiri petak klari —dawuan dan akibat nya HARUS bergantian jalur dari jakarta dan KERETA DARI JAKARTA lah yg dimenangkan untuk jalan dolo

    Petak sebelum prembun pun berjalan di jalur kiri, tapi untung nga tidak mengantri untuk jalan 🙂

    1. Sama ya pengalamannya. Saya bisa paham mengapa kereta dari Jakarta yang dimenangkan, karena tujuan mereka secara jarak lebih jauh. Kalau berjalan di jalur kiri berarti ini bukan masalah sinyal ya, memang relnya yang lagi problem 😢😢

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!