Dance for Two: Cerita di dalam Cerita

Warning 1:
Postingan ini akan panjang, jadi… pelan-pelan saja bacanya. 

Untuk pertama kalinya, dalam sejarah blog yang baru berusia enam bulan ini, saya membuat sebuah postingan tentang review buku, padahal blog ini utamanya adalah buat jalan-jalan :hihi. Tapi saya (sangat) senang, karena ini adalah sebuah pembayaran utang kepada seorang teman, yang sekaligus penulis dari apa yang akan saya bahas. Buku ini sudah menemani saya pada satu perjalanan, yang saya habiskan di atas kereta antara Purwokerto hingga Jakarta… dan beberapa hari sesudahnya.

Dear editor,

Saya terjebak dalam cerita yang saya mulai sendiri. Saya selalu membiarkanmu mengacaukan kata-kata yang sudah saya urutkan, membiarkanmu memenggal kepala huruf-huruf yang sudah berbaris rapi itu. Saya pun menikmati setiap cara yang saya lakukan untuk merangkainya kembali, lalu menyusunnya menjadi mozaik baru yang kamu suka.

Ini tentangmu, percayalah. Bagian mana dari dirimu yang tidak saya tahu? Tak ada satu celah pun yang terlewat; setiap potong kehidupanmu adalah gambaran paling jelas yang tersimpan dalam benak saya. Setiap langkahmu adalah jejak tanpa putus yang tercetak di atas peta saya.

Saya tidak ingin selamanya menjadi rahasia. Saya hidupkan kamu dalam cerita.

Dance For Two by Tyas Effendi.
Dance For Two by Tyas Effendi.

Bagi saya, novel ini punya arti tersendiri, karena dikarang (authored) oleh seseorang yang saya kenal dan bisa saya sebut “teman”. Entah, saya merasa bangga punya teman novelis, apalagi ini bukan novel pertamanya. Memang akan lebih bangga lagi kalau saya sendiri punya novel ciptaan pribadi, tapi dengan ini saja saya sudah cukup senang. Rasanya seperti berteman dengan artis, atau dengan seleb blogger yang sudah malang melintang tapi tetap rendah hati dan membumi.

Saya kenal Kak Tyas (dan Kak Arum juga, kembaran Kak Tyas yang juga novelis) dari Kak Heni, sahabat saya yang mungkin sangat (terlalu) akrab. Kami pertama berkenalan di saat beberapa waktu yang lalu saya pernah terperosok ke dalam jurang psikologis yang terlalu dalam akibat masalah di dunia tulis menulis, entah, mungkin dalam betul, dan mereka seperti mencoba menyemangati dan menyuruh saya keluar. Meskipun upaya-upaya itu pada akhirnya gagal :hehe, dan mereka memilih membiarkan saya untuk keluar sendiri. Yes, Ma’am, I’m still trying now.

Bagi saya, berkenalan dengan mereka bertiga benar-benar anugerah, meski sempat saya ragukan dan kadang sempat tidak saya percayai kalau mereka akan benar-benar ada. Halo, saya cuma remah-remah debu kosmis yang mengisi kehampaan di luar angkasa sana. But talking about people who keep believing in you even when you don’t believe in yourself, maka saya pikir mereka contoh yang paling baik. Haha. Konyolnya saya. Padahal kami berempat sejatinya adalah sama: empat anak manusia yang sama-sama punya mimpi untuk jadi penulis.

Yah, pada akhirnya, mungkin saya harus mulai memandang itu dari sisi yang berbeda. Sisi yang sedikit lebih positif (Oh, I used to proudly saying that I am negative :haha). Thank you very much for all of your supports, friends! Kita bangkit sama-sama, nanti kita punya cerita sama-sama juga :hehe.

Novel ini juga saya dapat dengan cara tidak biasa. Pernah suatu waktu Kak Tyas tandang ke Jakarta, untuk urusan beasiswa. Setelah selesai, dia minta bertemu untuk diantar ke Depok. Kami tersasar sampai Pasar Minggu dan akhirnya berhasil jalan ke Depok. Tidak cuma ke Depok, karena setelahnya kita membolang sampai Kebun Raya Bogor cuma untuk melihat setting novel Kak Tyas yang pertama, Catatan Musim (sebelumnya dia belum pernah ke Jakarta, apalagi Bogor).

Dalam perjalanan itu juga sebenarnya saya bisa bertemu dengan satu penulis lagi, penulis yang juga sama cetarnya, Mbak Windry Ramadhina (mudah-mudahan saya mengeja namanya tidak salah), yang sudah mengarang beberapa novel yang kayaknya sudah tidak asing lagi bagi para pembaca sekalian (Montase, London, Metropolis, Interlude, dan yang paling baru Walking After You selain beberapa judul lain).

Gila, ketemu penulis terkenal itu so… indescribable. Meskipun di sana saya statusnya cuma tukang ojek yang sudah belepotan asap hasil Jalan TB Simatupang dan pemeran utamanya tetap Kak Tyas, tapi melihat langsung sang novelis, melihat sendiri bagaimana sepintas kegiatan penulis novel itu betul-betul suatu pengalaman yang tidak akan mungkin bisa saya lupakan :hehe. Ditambah dengan kesederhanaan melihat sang penulis pulang dengan naik angkot dan duduk di samping supir. Yes, I won’t forgot such memories.

Nah, novel ini, bersama beberapa gantungan kunci murah karena besoknya langsung putus satu demi satu kidding, secara ajaib muncul di dalam ransel saya pada malam saya membongkar ransel yang saya bawa-bawa :hore.

Warning 2:
This point forward may contain spoilers about this book. If you want to buy the novel as soon as possible and read it by yourself, without reading my review, it will be very wise if you close this post immediately. But for those of you who want to continue, go on.

Tahu secret admirer? Saya pikir semua orang sudah tahu, dan mungkin beberapa ada yang jadi secret admirer juga :hehe. Nah, premis utama itulah yang diangkat oleh Kak Tyas dalam novel keduanya ini. Tentang bagaimana seorang gadis yang mungkin terlalu memuja lelaki yang dicintainya, tapi tak memiliki keberanian untuk mengutarakan (dan sebab lain, tentu), sehingga pada akhirnya cuma bisa menatap dari jauh. Beberapa orang menganggap secret admirer muncul karena maksim “cinta tak harus memiliki”. Tapi bagi saya, justru pengagum rahasia itu ada karena rasa cinta yang terlalu besar; rasa ingin memiliki seseorang yang terlalu kuat untuk diabaikan.

Namanya Caja. Caja Satyasa Hasan. Seorang pemudi blasteran Yogyakarta–Denmark yang saat itu sedang menuntut ilmu balet (yes, she’s a ballerina) di Royal Danish Ballet School. Dia jatuh cinta dengan mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Universitas Kopenhagen bernama Al, lengkapnya Albizia Falcataria. Nama ilmiah bagi pohon jeunjing (cowok itu juga menganggap dirinya adalah pohon jeunjing).

Mungkin kisah cinta mereka akan menjadi biasa, seorang pengagum dengan yang dikagumi dan dinamika di antara mereka, tapi tidak demikian halnya, karena ada suatu tembok terlalu tinggi di antara mereka yang membuat pernyataan cinta satu juta kali lebih sulit. Tembok tinggi yang dibangun Albizia untuk mencegah dirinya dari kesakitan, tapi juga berarti mengakibatkan orang luar sangat susah untuk masuk. Tembok itu bernama kenangan.

Kenangan macam apa, biarlah rahasia dulu. Beli bukunya, ya? Terus baca :hehe.

Akhirnya, Caja pun hanya bisa menjadi penggemar rahasia: menatap Al dari jauh seperti bunga matahari menatap sang surya. Jauh, tapi tak disadari.

Saya tidak ingin dia mengenal saya. Biarlah saya tetap menjadi rahasia. Saya hanya ingin mengenalnya, itu saja. Mungkin saya mulai tertarik dengan kehidupannya yang tidak biasa. Mungkin saya tertarik dengan persahabatannya yang selalu punya cerita mengejutkan. Mungkin saya tertarik padanya.
–Caja, p.100

Bukannya Caja tak tahu bahwa apa yang dihasratkannya sangat jauh dari perumpamaan “gayung bersambut”. Meskipun demikian, meskipun Caja tahu tembok itu tak bertembus, perasaan cinta tak bisa dikalahkan hanya dengan tembok, selemah dan serapuh apa pun perasaan itu. Caja tahu semua tentang Al (dan ini membuat saya paham kekuatan secret admirer bisa sangat dahsyat).

Kasarnya, she’s literally a stalker. Mengamati semua gerak-gerik Albizia. Mencoba menggali apa yang ia suka. Memenuhi semua keinginan cowok itu, semampunya. Nenek Caja punya sebuah kafe di Kopenhagen, tempat Al dan teman-temannya (Aksa, Langga, dan Nesia) suka menghabiskan waktu. Selalu ada hal spesial yang dibuat Caja pada setiap pesanan Albizia. Itu membuat teman-temannya iri.

Tapi apa Albizia tahu? Jelas tidak.

Saya hanya membantu Nenek saja di dapur, mempersiapkan pesanan mereka di nampan sebelum seorang pramusaji mengantarkannya. Sebagai catatan, pesanan pemuda pembawa kamera itu selalu saya beri bonus istimewa.
–Caja, p.79

Satu kejadian membuat semua berubah. Katakan saja itu putaran kenyataan, yang agak tidak pantas saya ungkap dalam ringkasan semata karena harus si penulislah yang mendapat kehormatan untuk bercerita. Namun anggaplah kejadian itu adalah ketika Caja betul-betul terbentur dengan tembok tinggi yang mengungkungi Albizia, yang membuat mereka menjauh dalam jarak antara Denmark dan Indonesia.

Albizia akhirnya menjadi editor di sebuah penerbit di mana ayah cowok itu menjadi petinggi di sana, karena dia telah lulus dari pendidikan tingginya di sana. Tembok yang ia bangun tetap tinggi, kokoh, tak tertandingi (mirip iklan semen, ya?).

Tentang Caja, Albizia sadar pun tidak. Dia tahu nama Caja pun tidak. Dia sadar ada yang selalu tahu tentang hidupnya? Juga tidak. Tak ada yang berubah, baginya, meski bagi Caja, perubahan itu berarti demikian dahsyat.

Kak Freja menyenggol lengan saya. “Jangan murung begitu terus, Caja. Ayolah, senyum sedikit. Nggak ada gunanya menangisi kepergian orang yang nggak kita kenal.”

“Saya kenal dia, Kak. Saya kenal dia sampai semua detail kehidupannya,” protes saya cepat.

“OK. Maksudku, nggak ada gunanya menangisi kepergian orang yang nggak kenal kita sama sekali.”

–Caja, p. 21

Yah, demikianlah. Caja, setengah patah hati dan menyerah karena ia benar-benar sadar tembok itu terlalu tinggi dan terlalu tebal, harus menerima kenyataan meski ia sebenarnya mencoba pun tidak mau. Sang kakak, Freja (yang menurut saya benar-benar mirip Kak Heni tapi orangnya sama sekali tidak mau mengaku), mengajukan sebuah ide kepada Caja.

Menulis sebuah naskah novel, dan mengirimkannya pada penerbit kecil di Yogyakarta. Sebuah naskah novel yang menjadi pencurahan dari semua apa yang dirasakan oleh gadis itu. Hanya saja, bundanya Caja salah kirim naskah, dia mengirimnya justru ke penerbit tempat Albizia bekerja sebagai editor.

“Kamu juga bisa cari kesibukan baru, nggak harus menari. Melukis, mungkin. Atau backpacking ikut aku menjelajah Kopenhagen sambil jadi manusia patung. Atau menulis. Ya, menulis tentang dia, tentang kalian berdua, tentang semuanya. Kamu bisa mengenang sebelum benar-benar melupakannya.”

–Freja, p.22

Tahu novel apa yang dia tulis? Jelas, novel tentang dirinya dan Albizia. Hanya saja, pada novel itu nama Albizia disamarkan, menjadi Aldri.

Dalam novel ini, kita akan diajak membaca novel lainnya. Sebuah novel karangan C. Satyasa Hasan, yang berjudul “Menjemput Cinta di Kopenhagen”. Itulah saya katakan novel ini adalah “cerita di dalam cerita”. Disajikan dengan dua sudut pandang, yakni sudut pandang Caja dan Albizia. Dengan semua dinamika di dalam isi hati dan kepala mereka. Dari awal, sampai akhir cerita.

Premis pengagum rahasia, kejadian-kejadiannya, bukanlah sesuatu yang baru atau wah sebagaimana lampu pijar pada saat awal ditemukan. Tapi Kak Tyas menurut saya sangat berhasil mengolah hal-hal sederhana itu, menuturkannya kembali menjadi sesuatu yang baru dan berbeda. Kejadian-kejadian kecil tapi bermakna dengan pernak-perniknya digambarkan sepenuh hati, sesuai dengan kata-kata yang Kak Tyas ucapkan, yang masih saya ingat hingga kini: “Menulis itu menggunakan hati, Gar. Bagaimana tulisanmu mau sampai ke pembaca jika kau tak pakai hati?”

Karena kisahku adalah kisahmu yang hilang. Atau sebaliknya? Karena kisahmu adalah kisahku yang hilang?
Karena kisahku adalah kisahmu yang hilang. Atau sebaliknya? Karena kisahmu adalah kisahku yang hilang?

Saya juga suka deskripsi yang dituturkan Kak Tyas dalam tulisannya. Terlepas dari alur yang mungkin bagi sebagian orang agak tertebak, dengan secret admirer patah hati yang mengirim novel buatannya ke penerbit yang akhirnya dieditori oleh sang pujaan, atau klimaks yang ending yang mungkin terasa kurang manis dan terlalu cepat karena ditutup dengan satu kejadian saja, ramuan katanya membuat saya salut sendiri karena pada akhirnya kita merasa plot itu bahkan tidak terasa bahwa kita pernah membaca kisah serupa, sepanjang cerita.

Tambahan lagi soal setting yang bagi saya begitu vivid. Saya belum pernah ke Denmark, Kak Tyas pun begitu (saya yakin :hehe). Tapi nuansa Denmark yang ditampilkan dalam novel ini menurut saya cukup baik. Dengan suasana musim dinginnya, budaya masyarakatnya yang menyukai balet dan ke mana-mana menggunakan sepeda kayuh, maupun deskripsi geografi Kopenhagen yang cukup baik guna mendukung cerita yang berlangsung.

Misalnya saja adegan ketika Caja membuntuti Albizia; si cowok sedang berkelana dari pemakaman satu ke pemakaman lain:

…Pohon-pohon weeping willow dan poplar berjajar rapi, daun-daun serasah kering bertebaran, semuanya menyatu utuh di pemakaman itu. Senyum bahagianya membuat jantung saya berdetak cepat, meskipun saya tahu ia tidak tersenyum buat saya. –Caja, p.137

Jadi ingat lagi waktu dulu saya dan Kak Tyas berpetualang di Bogor, mencari pembuktian lokasi novel Catatan Musim (novel pertama Kak Tyas) :hihi. Paling tidak kita tahu kalau Katedral Bogor itu ada di dekat stasiun :hehe.

Atau, dengan budaya masyarakat sana yang tidak asing dengan living statue. Bahkan Kak Freja juga menjadi satu di antaranya; satu di antara patung-patung hidup yang ada di Kopenhagen. Patung yang sempat dikerjai oleh Albizia dan kawan-kawan tanpa alasan, hanya karena empat mahasiswa yang jauh dari kampung halaman itu punya rasa usil yang terlalu besar.

Benar saja, rupanya Kak Freja sedang tampil di sekitar Skindegarde. Pagi itu, dia sudah berpose manis menjadi seorang barbie. Gaun yang dikenakannya adalah gaun yang baru diselesaikannya semalam. Saya memberikan kotak kosmetik yang saya bawa kepada Hagen. Hagen menambahkan jepit untuk merapikan beberapa helai rambut Kakak yang terlepas dari tatanan. –Caja, p.63

Kadang-kadang, saya juga tertawa kecil ketika melihat secuil kehidupan nyata dari Kak Tyas dimasukkan sebagai elemen dalam ramuan kata pada novel ini. Suatu hal yang tiga gadis itu ketahui, dan saya, sebagian kecil (girls do have their own talks which cannot be understood by men). Penyebutan “Fuji-something”, “Prince Bejo”, dan “Mr. Panda” mengingatkan saya pada obrol-obrolan di linimasa Twitter antara tiga gadis itu, saya tentu tidak ikut campur, tapi jelas saja itu terkait masalah cowok :haha.

Tapi, satu hal yang pasti, dan harus saya akui, novel ini cukup berhasil menggali dan mengaduk perasaan saya ketika membaca. Mungkin karena pilihan diksinya yang betul-betul sarat makna tak terucap, di mana saya jadi betul-betul bisa menyaksikan drama Caja dan Albizia, seolah tersaji tepat di depan mata. Bagi sebagian orang, pilihan diksi “berat” seperti ini memang terkesan kaku dan nyastra, tapi menurut saya itu tergantung pada penulisnya masing-masing. Kak Tyas, dalam hal ini, berhasil meramu ulang kata-kata itu sehingga tidak terkesan kaku. Terutama sekali dengan quote-quote yang dikatakan Caja dalam novelnya:

Orang bilang, kita tidak butuh satu alasan pun untuk menyukai seseorang. Tapi, saya justru punya banyak alasan untuk menyukai Aldri. Saya menyukainya karena saya suka caranya memandang hidup. Saya suka caranya menikmati hidup. Saya suka tawanya yang selalu ceria, suka sepasang matanya yang selalu berbinar. Saya mencintai keseluruhannya. Saya mencintai dia secara utuh. –Caja, p. 148

Atau ketika Caja menyadari tembok penghalang itu terlalu tinggi dan tebal:

Mungkin seorang gadis yang duduk di sebuah danau di Kopenhagen dengan sahabat laki-lakinya itu sangat polos. Mungkin gadis itu sangat naif. Mungkin semua yang ia katakan saat itu hanya akan ada di kehidupan fiksi, sama sekali tidak akan ada di kehidupan nyata. Ia benar-benar bodoh kalau meyakini seorang pasangan hidup hanya dengan mengamatinya ribuan hari saja. Benar-benar bodoh. –Caja, p. 154

Saya sudah membuka mulut, tapi urung mengatakan sesuatu. Apa yang dikatakan Kak Freja itu memang benar. Albizia memang tidak mengenal saya sama sekali. Mungkin selama ini dia hanya menganggap saya seperti orang asing lain yang kebetulan berada di kota yang sama dengannya. –Caja, p.21

Tapi sebuah cerita tidaklah adil ketika cinta hanya dirasa satu arah. Dengan pujaan yang di mata si gadis adalah tokoh mahasempurna, tidaklah demikian harusnya di mata para pembaca budiman juga. Cerita baru dirasa adil, dirasa seimbang ketika semua berjalan dalam porsinya. Ketika semua manusia ada dalam kodratnya sebagai makhluk yang juga memiliki ketidaksempurnaan.

Dan dalam buku ini, Albizia tetap digambarkan dengan sejuta permasalahannya, tentang kenangan masa lalunya yang belum ia izinkan untuk pergi, kenangan yang sama dengan yang membuat pintu hatinya tertutup. Albizia bukanlah sosok matahari yang berkilau dari bumi karena dipandang dari jauh, melainkan matahari yang nyata, yang jika didekati, juga penuh dengan masalah, sebagaimana matahari yang berbintik-bintik hitam apabila dipandang dekat-dekat. Ini terbukti, sebagai contoh dari puisi yang dibuat Albizia bagi kenangan masa lalunya itu (diedit sedikit supaya membikin penasaran, ya?):

Hari ini aku sangat merindukanmu. Merindukan jasadmu. Abumu.
Aku mengelilingi banyak pemakaman di Kopenhagen demi membayar rinduku.
Biarlah aku terus menjadi jeunjing, kayu nisan yang hangat memeluk kuburmu, selamanya. –Albizia, p. 146

Yang membuat saya takjub itu adalah bahwa pemilihan jeunjing bukannya tanpa alasan, lho…

Ah, sumpah, takjub benar melihat Kak Tyas ini! Dia memang penulis yang demikian hebat. Sampai sekarang sudah menghasilkan tiga novel, yakni Izinkan Aku Bersujud (sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Malaysia juga lho), Catatan Musim, Life After You, dan yang terakhir adalah yang ini, Dance For Two. Eh, itu empat ya, namanya.

Oh ya, ada kumpulan cerpennya juga, judulnya Untuk Apa Kau Menandai Waktu? kumpulan cerpen yang sedang saya palak dari si penulis :haha Dan ah, saya kelupaan, Kak Tyas punya satu novel lagi yang siap terbit, yang, bocoran sedikit, akan membahas soal time travelers! Wihihi!

Nah, saya pikir saya sudah cukup panjang memaparkan, mengupas, membedah, buka jahitan, bedah lagi, novel ini. Kalau saya disuruh menilai (postingan ini sebenarnya membuat saya bingung sendiri, ini review apa bukan), maka novel ini akan saya beri nilai, erm…

91,65.

Itu nilai apa hasil ujian Fisika, ya? Haha. Saya bukan penilai yang baik. Mungkin penilaian saya hanya valid untuk diri saya sendiri.

Saya juga mengatakan ini review, tapi sama sekali tidak mengupas cerita secara keseluruhan. Bahkan saya tidak membahas dari segi alur maju-mundur yang diangkat di dalam novel ini. Atau gaya menulis Kak Tyas yang akrab benar dengan tanaman (saya simpan itu untuk review CM saja (tidak, saya tidak berjanji!)).

Apalagi kalau ditambah dengan pertanyaan-pertanyaan, bagaimana akhir novel Caja? Bagaimana akhir kisah cinta Caja dan Albizia? Berakhir bahagia? Atau Albizia malah pergi dan menjadikan tembok tinggi itu sebagai benteng?, tidak bisa saya jabarkan di sini, karena jawaban itu saya serahkan kepada kalian, pembaca budiman, mencari sendiri dan menyimpulkannya sendiri juga, setelah membaca novel ini :haha jahat.

Sebagai penutup, dan mungkin bahan renungan juga bagi para pencari cinta, pengejar cinta, maupun pendamba cinta di luar sana, yang sekarang mungkin kehujanan dalam derasnya air mata dan gemuruhnya perasaan eciye, ada satu teori akhir yang saya pelajari, teori yang dimaktubkan Caja pada halaman 234:

Teori cinta yang berlaku hanyalah mengejar cinta yang kita yakini. Mengejar cinta hidup kita karena dengan begitulah cinta kita tidak akan sia-sia.

Akhir kata, selamat membaca. Buat yang ingin kenal-kenalan dengan Kak Tyas, silakan sambangi rumah mayanya, di http://effendityas.wordpress.com/.

Kak Tyas, utangku lunas lho, ya :p

_MG_4718

Ugh, banyak buku yang harus dibaca! Tapi gampanglah itu! :hihi.

41 thoughts on “Dance for Two: Cerita di dalam Cerita

    1. Terima kasih, Om…
      Oh, hehe… itu karena saya beli buku dihitung dulu harga per lembarnya, semakin murah semakin mau saya beli, jadi saya cari buku paling murah dengan jumlah halaman paling banyak alias yang paling tebal :malu

  1. Keren ih Gara..maennya ama penulis.

    Btw aku suka kata2 mu yg ini gar:

    juga bagi para pencari cinta, pengejar cinta, maupun pendamba cinta di luar sana, yang sekarang mungkin kehujanan dalam derasnya air mata dan gemuruhnya perasaan

    Rangkainnya bagus.
    Secret admirer mahhh ya si lovefool yg kmren itu ;))))

    1. Terima kasih, Mbak, sekarang saya juga tambah keren lho Mbak, mainnya sama blogger-blogger kece-kece, seperti yang komennya sedang saya balas ini 🙂

      Love fool… kadang menjadi fool tapi punya cinta lebih baik daripada genius tapi tak bercinta *efek baca postingannya mbak Ncuss soal film The Imitation Game* (ini cara masukin link-nya bagaimana yah? :hehe)

  2. mantap reviewnya. wajar, kenalannya para peulis 😀

    usulan aja, di bagian akhir ditambahin deskipsi buku semisal, judul, penulis, penerbit, tahun buku, jumlah halaman, dsbg

  3. Jeunjing itu pohon albasia, kayunya dipakai untuk membuat nisan, Mbak :hehe
    Soalnya saya belum pernah tes toefl, tapi semua orang-orang di kantor saya ribut-ributnya tes toefl, jadi supaya saya tidak anti-mainstream ya saya ambil juga :hehe
    Ah Mbak, terima kasih, penulis novel yang saya kenal baru 2 orang itu. Dengan Mbak Windry itu kebetulan doang ketemunya, entah beliau masih ingat saya apa tidak :hehe
    Wiih keren living in Kopenhagen. Saya berkunjung ke blognya ah nanti. Terima kasih! :))

    1. Aaaahhh itu bahasa Indonya! Maaf vocab tetumbuhan memang kurang banget. Ooowww bagus kok untuk latian. Memangnya skor TOEFL mempengaruhi kenaikan pangkat Gar? Kerja di mana btw? You should visit si kutubuku hehehe. Eva is a superb writer!

  4. Makasih review-nya, Gara ;D (yah, aku anggap ini review deh)
    Review-nya sudah menyeluruh kok, dan aku suka baca cerita perjalanan di Jakarta-Bogor-Depok itu.

    Ada beberapa koreksi dan pertanyaan:
    1. Kamu udah positif, kan? Hahaha.
    2. Hei, novel keempat, bukan kedua.
    3. Hah, aku dulu beneran kasih kamu gantungan kunci Jogja? Hahahaha. Jadi, itu ceritanya dulu waktu habis KKN di Jogja, trus aku beli banyak banget gantungan kunci buat adik-adik organisasi. Dan, sisa banyak banget. Jadinya aku bagi-bagi. Hihi.
    4. Ah, malu nih Gara baca percakapan kita bertiga di twitter tentang Fuji-something dll. Btw, Dance for Two itu ada dari dan untuk Prince Bejo loh.
    5. Yey, mau dibikinin review Catatan Musim! Yes.

    salam,
    Tyas

    1. Jakarta Depok Bogor… eh iya ya kita ke Bogor duluan :hehe
      Ayo ke Jakarta lagi…
      1. Sudah, Bu. Saya sudah bertobat.
      2. Oh iya, yang kedua itu CM, ya. Memangnya aku bilang kedua? Maksudku novel keduamu yang aku baca *alasan
      3. Iyaa. Banyak banget. Ih dia lupa. Tapi aku maklum sih, kan sudah setahun.
      4. Sebenarnya aku itu niatnya nimbrung. Tapi aku nggak ngerti. Heh? Bukannya CM? Maksudku, aku tahu kalau yang menyuruhmu menulis soal Prince-Bejo itu si Curio, tapi… kukira hasilnya CM.
      5. No, I didn’t promise :p Lagian novelnya juga ketinggalan di Mataram; harus pulkam dulu kalau mau dibaca dan di-review… sekitar 6 bulan lagi :hihi

      Terima kasih! Jangan lupa kumpulan cerpen sama novel barunya buat saya, gratis ya!

      1. Iya, Gar, CM itu buat Prince Bejo. Tapi, DFT ternyata juga. Ini malah lebih menyeluruh kebejoannya. Hahaha.
        Kayaknya aku pengen kirim buku ke kamu deh, antologi aja deh, jangan novel terbaru. Novel terbaru beli sendiri! 🙂

        1. Asyik… nanti saya BBM alamatnya, soalnya sekarang saya kan di Jakarta 🙂

          Oh, I know for sure that I’ll get your latest novel for free, too *hubungi Curio*

  5. Legal Aid Bureau, 1st Djuanda, 15th floor.
    HEH? Frans Seda? I think I know that building… DJPU, isn’t it? But… how come? You are in Australia now. :curious

    1. Hahaha…no it was a part of my previous chapter of life, though I still stay in contact with them. You might want to consider applying for a scholarship Gar. It’s a really good idea if you are into it and being an employee of MOF really opens doors you know.

      1. Ah, I see :))
        Getting scholarship for me is a must, Mbak. Even though it’s very difficult, considering my circumstances right now. But that’s a must for me :)).

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!