Pulau Menjangan #10: Dalem Waturenggong, Raja dengan Sejarah Panjang

Beribadah di bale gong yang berlantai keramik berarti tidak ada tempat untuk menancapkan dupa. Walhasil sela-sela lutut pun menjadi korban supaya dupa bisa berdiri. Peringatan-peringatan pada mereka yang duduk tepat di depan untuk tidak mundur agak tak tersundut dupa muncul di sana-sini, ditimpali seruan-seruan untuk lebih cepat lagi menyelesaikan persiapan sembahyang. Syukurlah, menurut pengumuman, Jro Mangku akan segera memulai persembahyangan.

“Sampun sami pulih sekar wyadin asep?” (Sudah semua mendapat bunga dan dupa?)

“Sampuuun…” (Sudah…)

Saya adalah salah satu yang menyeru paling sering. Habis, tak kuat duduk lama-lama!

Satu kata untuk persembahyangan di Pura Airlangga: panas, bagi kami yang masih kena sinar matahari. Ibarat kata sudah kering, dijemur sampai jadi lebih kering lagi. Pasir pantai yang menjadi lantai di pura ini tentunya terasa makin membara bagi orang-orang yang duduk di sana. Namun demikian, warnanya cukup cantik masuk ke mata, berpadu dengan putih baju sembahyang para peziarah. (Saya mencoba abai bahwa orang-orang di depan, kendati tidak dapat terik matahari, juga kepanasan).

Ketika mengedarkan pandang, papan di pelinggih kecil di samping gedong Airlangga membuat saya tertarik. Selain karena namanya, ukuran dua pelinggih ini seperti kontras dengan perbandingan yang menyeramkan. Padahal dari nama yang tertera di sana, yang ditempatkan di sini adalah raja terbesar Kerajaan Gelgel pada masanya.

ida-bhatara-dalem-waturenggong
Tugu peringatan Dalem Waturenggong, berdampingan dengan pelinggih Prabu Airlangga.

Namanya Dalem Waturenggong. Ia raja Bali ketiga dari kerajaan Gelgel yang memerintah sekitar abad ke-16 M, setelah ayahnya, Dalem Ketut Ngulesir (Dalem Gelgel). Raja inilah yang nantinya menurunkan generasi penguasa Bali sampai sekitar awal abad ke-20.  Masa pemerintahannya terkenal sebagai masa keemasan Kerajaan Bali-Gelgel, setelah kejatuhan Kerajaan Bali-Samprangan di tangan kakek-kakeknya karena kekosongan pemerintahan.

Pada masa kekuasaannya, kebudayaan Hindu-Bali berkembang dengan begitu pesatnya. Bali membentuk suatu identitas yang berbeda dengan kebudayaan Hindu-Majapahit yang sirna seiring dengan berkembangnya kerajaan Demak di pesisir utara Jawa. Sebabnya karena Dalem Waturenggong, yang tadinya menjadi raja bawahan, melepaskan diri dari Jawa. Ia tidak ingin dimasuki pengaruh Islam yang sedang menyebar sampai ke pelosok di sana.

Masa pemerintahannya juga merupakan keemasan di bidang agama. Pada masa pemerintahannya, Danghyang Nirartha (beberapa teks menyebut Danghyang Dwijendra) datang dari Jawa Timur dan “memurnikan” ajaran Hindu di Bali. Sang purohita yang tak lain buyut dari Dalem Waturenggong ini menyempurnakan ajaran-ajaran dari pemuka agama sebelumnya (Panca Tirtha, lima empu yang meletakkan dasar Hindu-Buddha di Bali) dan meletakkan dasar-dasar keagamaan Hindu yang kontemporer. Ia menyelesaikan penyatuan sekte-sekte Siwa-Buddha dalam bentuk baru Hinduisme. Pada akhirnya, agama Hindu pun bertransformasi dan menemukan bentuknya yang baru: bentuk yang setidaknya masih bertahan sampai di detik saya menulis ini.

Asal-Usul Dalem Waturenggong

Sebagaimana yang telah saya jelaskan di postingan sebelum ini, tahun 1343 Gajah Mada melancarkan ekspansi ke Pulau Bali. Selain beberapa arya yang ditugaskan untuk mengepung Bali dari berbagai sisi, Gajah Mada juga ternyata membawa kerabat dari kerajaan Majapahit untuk menjadi raja di Bali. Kerabat kerajaan Majapahit yang dibawa ke Bali itu bernama Sri Kresna Kepakisan. Seorang sejarawan menyebut bahwa ia adalah cikal-bakal “paku-paku” yang ditancapkan di Bali dan bertahan sampai hari ini (pakis berarti paku).

Sebagai seorang raja, gelar “Dalem” pun disematkan padanya (sampai saat ini gelar “Dalem” masih dipakai di keraton-keraton di Jawa). Dengan demikian nama lengkap beliau berubah menjadi: Dalem Sri Kresna Kepakisan. Dalem Sri Kresna Kepakisan inilah yang nantinya akan menurunkan Dalem Waturenggong sampai keturunan-keturunannya nanti (yang sekarang punya gelar alias kasta).

Saya belum akan menceritakan perjalanan cerita dari Dalem Sri Kresna Kepakisan ke bawah, karena itu menjelaskan sejarah Bali kini. Untuk postingan ini, cerita yang menarik justru dari Dalem Sri Kresna Kepakisan ke atas, atau silsilah beliau di Pulau Jawa, lantaran cerita tentang dinasti raja-raja di Bali akan menghubungkan mereka dengan Mpu Tantular, beserta Gajah Mada dan ekspedisinya.

Betul, Mpu Tantular pengarang Sutasoma.

Beberapa babad menjelaskan silsilah Dalem Sri Kresna Kepakisan sampai beberapa generasi ke atasnya. Meski sumbernya dari babad, persesuaiannya membuat saya bisa sedikit yakin. Dalam babad-babad tersebut dijelaskan bahwa Dalem Sri Kresna Kepakisan adalah putra dari Mpu Kepakisan, yang merupakan putra dari Danghyang Angsoka, seorang pendeta Buddha Mahayana (salah satu dari beberapa sebab kalau Hindu yang ada sekarang punya rasa Buddha sehingga dinamakan Siwa-Sogata). Mpu Kepakisan punya saudara bernama Danghyang Astapaka, yang keturunannya menurunkan Pedanda Buddha di Bali (dan Lombok) sampai hari ini.

Danghyang Angsoka sendiri, lebih lanjut, adalah putra dari Danghyang Asmaranatha. Ia (Danghyang Angsoka) memiliki satu saudara laki-laki yang tadi sudah saya jelaskan di atas. Dialah Danghyang Dwijendra, alias Danghyang Nirartha. Jadi bisa dibilang, Danghyang Dwijendra ini adalah kakek-paman dari Sri Kresna Kepakisan. Ini juga menjadi sebab Danghyang Nirartha langsung dijadikan purohita kerajaan pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong.

Lebih lanjut, karena kenabiannya, kisah hidup Danghyang Nirartha penuh dengan keajaiban. Umurnya yang sangat panjang pun dijelaskan sebagai sebuah mitos, kendati tentu memerlukan pembuktian yang lebih mendalam. Cerita lengkap perjalanan hidupnya dirangkum dalam beberapa babad, namun babad yang paling lengkap adalah Babad Dwijendra. Beberapa peninggalan Danghyang Nirartha bisa dilihat kini di Bali dan Lombok. Contohnya Pura Tanah Lot dan Pura Uluwatu.

Selanjutnya, Danghyang Asmaranatha sendiri bersaudara tiga orang, semuanya pendeta Siwa atau Buddha. Yang pertama adalah Danghyang Siddhimantra, ayah dari Manik Angkeran, yang menurut beberapa legenda bercampur mitos berkatnyalah Pulau Bali dan Pulau Jawa bisa terpisah. Yang kedua dan ketiga, berturut-turut adalah Danghyang Panawasikan dan Danghyang Kepakisan (namanya kebetulan sama). Bersama-sama dengan Danghyang Asmaranatha, mereka adalah empat bersaudara putra dari seorang pendeta besar di zaman Majapahit:

Danghyang Angsokanatha, alias Mpu Tantular.

Apabila penelusuran kita lanjutkan ke generasi di atasnya lagi, akan kita dapati bahwa ibu dari Mpu Tantular adalah putri dari seorang janda di Girah (Jirah), yang janda ini adalah seorang yang terkenal di bidang ilmu hitam dan sangat ditakuti pada masanya. Nama ibu dari Mpu Tantular adalah Ni Dyah Ratna Mangali, dan ayahnya bernama Mpu Bahula. Saya rasa saya tak perlu menyebutkan siapa janda ini; yang merupakan nenek Mpu Tantular dari pihak ibu:

Calonarang.

genealogi-dalem-waturenggong-raja-bali
Genealogi Dalem Waturenggong dan Raja Bali, menurut beberapa babad.

Ada hal menarik yang bisa dianalisis di sini: yakni bagaimana Calonarang yang sangat khawatir tak ada orang yang akan mempersunting putrinya, kini bisa berbangga karena keturunannya justru abadi sampai akhir zaman. Yuk, kita simpan untuk tulisan berikutnya.

Cerita Mistis Dalem Waturenggong Pulau Menjangan

Mari sekarang kita bercerita sedikit klenik, tentang mitos yang ada di tempat ini terkait dengan pelinggih Dalem Waturenggong itu. Cerita ini saya dengar dari Bapak dan Ibu Mangku K, ketika mereka berdua sedang berdiskusi sambil menunggu para pemangku menyelesaikan tugas, tanda persembahyangan akan diakhiri.

Suatu hari, ada rombongan dari luar pulau Bali juga, sembahyang ke Pulau Menjangan. Mereka diberikan jangka waktu yang sama untuk menjelajahi seluruh pura. Namun, mungkin mereka tidak bisa mengatur waktu atau selalu terjebak persembahyangan kelompok lain. Pada akhirnya, mereka cuma sembahyang sampai di Pos Siwa Pasupati dan langsung menghentikan perjalanan, kembali ke Pelabuhan Lalang.

Baca juga: Pulau Menjangan #8: Jawaban Misteri Tamas dari Sang Perempuan Tangguh

Tapi perjalanan kembali itu tidak begitu mulus. Mendadak, begitu banyak orang kerawuhan. Kata Bu Mangku mereka yang kesurupan itu kebanyakan menangis dan meratap. Raos-nya (ucapannya), kenapa sudah jalan sejauh ini tapi tidak sembahyang di Pelinggih Dalem Waturenggong, padahal mereka sudah ditunggu oleh Ida Bhatara yang ada di sana. Kesempatan sembahyang di Dalem Waturenggong, menurut orang-orang yang kerawuhan itu, adalah kesempatan yang langka karena pelinggih Dalem ini hanya ada di sini dan tidak di tempat lain.

Walhasil, kata Bu Mangku, semua orang yang ada di rombongan itu kembali lagi ke Pulau Menjangan dan bersembahyang di sana sebelum kembali lagi ke daratan Bali.

Agak susah diterima akal sehat, memang. Tapi kalau saya ingat lagi, ini Bali, tanah yang wingit dan penuh akan hal-hal bersifat gaib. Ngomong-ngomong soal “seseorang yang menunggu saudara yang datang dari jauh”, hal tersebut sebenarnya kejadian juga di rombongan kami, di pura gua seluas lapangan sepak bola. Satu yang pasti, bukan cuma kami yang semangat mengantisipasi sebuah perjalanan suci. Ada banyak kekuatan yang lebih dari bersedia untuk menyambut dan menyamakan energinya dengan kami yang sedang beribadah. Maka saya tidak bertanya, apalagi mempertanyakan informasi itu lebih jauh.

Saya menunggu beberapa lama sampai akhirnya semua prosesi persembahyangan selesai diakhiri. Masih berpanas-panas serta kesilauan, kami bangkit dari tempat duduk. Sayup kami mulai mendengar deburan ombak mengaduk batu karang yang ada di bawah sana, dan mungkin ketika suara itu singgah di telinga kami, kami tersadar. Tidak ada yang membawa topik ini ke permukaan, tapi semua orang tampak bersemangat. Saya pun begitu. Bagaimana tidak, pura selanjutnya akan menjadi pura terakhir!

Tapi kini jam berapa? Saya memberanikan diri menoleh ke belakang dan menganga. Kami masih punya satu jam?

“Pak, itu jam dindingnya betulan, Pak? Satu jam?”

Bapak melihat jam tangannya. Ia menatapnya heran juga, kemudian langsung berucap syukur. Apa yang ditunjukkan jam tangannya tak berbeda dengan apa yang diperlihatkan jam dinding.

Oh, itu artinya kami punya satu jam penuh untuk pura terakhir!

52 thoughts on “Pulau Menjangan #10: Dalem Waturenggong, Raja dengan Sejarah Panjang

  1. Makin ke sini makin kagum, Pulau Menjangan bukan sebatas menjangan yang berseliweran di pulau yang dikelilingi alam bawah laut yang cantik. Beragam jejak di sana membuat saya mengerti, betapa tempat ini begitu suci. Saya merasakan kekhidmatan ketika kalian bersembahyang dengan iringan deburan ombak yang menghantam karang.

    Ah, kalau begitu, ada satu pura terakhir! Saya penasaran! 😀

    1. Iya Mas, meski saya belum sempat melihat keindahan bawah lautnya, saya menikmati kesyahduan ibadah di pulaunya dulu, hehe.
      Sip, siklus selanjutnya episode terakhir!

  2. Mas Gara ini jurusan ilmu sejarah atau apa sih? pengetahuan seharahnya mumpuni sekali. Suka geleng kepala kalau baca tulisannya. Sejarahnya kayak udah diluar kepala 😀

    Btw, tulisan tanganmu bagus mas. Ndak seperti tulisanku hehehe (serius)

    1. Di luar kepala berarti lupa dong Mbak, haha.
      Bukan, saya bukan jurusan sejarah, haha. Makanya beberapa penjelasan mungkin masih ada yang salah.
      Iya kah? Padahal saya pikir tulisan tangan saya termasuk agak jelek lho, haha.

  3. Nggak nyangka kalau sejarah kerajaan Bali sedalam itu hanya dikuak dari sisi Pulau Menjangan aja, Gar. Sepertinya kalau mlipir ke Pulau Menjangan sama dirimu bakal betah lebih dari sehari nih hahaha.

  4. Gara, waktu di Museum Bali saya juga di ceritakan mengenai sejarah raja-raja yang pernah memerintah di sini. Saya juga sempat bertanya Mengapa islam Kelihatannya tidak mendapat pengaruh yang berarti di Pulau Bali. Sayang guide tidak menceritakan mengenai pemutusan hubungan tersebut. Iya hanya menceritakan berdasarkan mitos-mitos yang sekarang saya sudah lupa mitosnya tentang apa.

    Menarik Membaca cerita Gaara ini. Jadi tahu sedikit mengenai hubungan Majapahit dan Bau-bau Jawa yang ada di Bali 😃😃

    1. Beberapa buku tentang sejarah Bali memberi informasi bahwa berkat Dalem Waturenggong dan Danghyang Nirartha-lah Bali tetap bertahan dengan Hindunya, Mbak. Di satu sisi raja ini sangat protektif soal daerahnya. Di sisi lain sang danghyang memurnikan ajaran agama supaya lebih mudah dijalani. Ia juga membumikan filsafat Hindu dalam kehidupan sehari-hari.
      Kalau mitosnya mungkin diceritakan tentang terputusnya Pulau Bali dan Pulau Jawa… hehe.

  5. Biasanya membaca Pulau Menjangan tentang keindahannya aja.
    Gara menjelaskannya dari sisi spritual. Ternyata sejarah benar2 sangat panjang kalau ditelisik lagi ya. Kepedulianlah membuat Bali tetap dengan tradisinya.

    1. Ini melipur saya karena tak bisa menikmati keindahan bawah laut Pulau Menjangan Mbak, haha. Namun, meski begitu, Bali memang kaya. Terlalu kaya malah sampai-sampai jutaan tulisan pun tak akan cukup untuk menggambarkannya.

  6. Menulis Pulau Menjangan dari sisi yang berbeda kamu mas. Saya hanya paham dengan Mpu Tantular. Mendapatkan siisilah seperti yang mas jabarkan pasti membutuhkan waktu yang panjang. Orang seperti saya bisa sedikit belajar dari tulsian-tulisanmu mas.

    1. Terima kasih, Mas. Sejujurnya masih banyak yang perlu disempurnakan dari silsilah itu, karena ada banyak informasi baru, namun untuk sementara hanya itu yang baru bisa saya pastikan, hehe.

    1. Tantular itu menurut saya nama pena. Tan berarti tidak, tular berarti terpengaruh. Tantular berarti “tidak terpengaruh”, maksudnya tetap anteng dan eksis, hehe.

  7. Gara..aku baru tahu kalau Mpu Tantular itu cucunya Calon Arang!!
    Selalu betah baca tulisan-tulisanmu soal Sejarah Gar, kayaknya kalo ketemu sambil jalan-jalan bisa diceritain sejarah tempat2nya ya 😀

    1. Saya juga waktu pertama kali tahu kaget Mbak, sekaligus lucu, haha.
      Hayuklah… kalau saya bisa bantu nanti saya ceritakan. Googling dulu tapi, haha.

  8. Wah. Lagi2 menarik. Aku harus meluangkan waktu di shubuh hari membaca dan meresapi tulisanmu Mas. Menjangan tak hanya menarik dari sektor wisatanya. pun jika mengulas riwayat panjang sejarahnya.

    Wah, kamu sangat keren mas. bisa membuat pohon garis keturunan juga. Layak dibukukan nih mas! Aku pengen lebih dalam mengenal Mpu Tantular dari tulisan2mu mas.
    Oh ya btw, sudah pernah jelajah Wali Pitu di Bali mas? sepertinya menarik. aku pernah ke sana waktu SD. pengen ke sana lagi mengulangi perjalanan itu. hehe

    1. Berhubung saya belum bisa mengulas pulau ini dari bawah laut, saya menulis dari atas dulu Mas, hehe.
      Belum pernah Mas, malah saya baru dengar. Boleh, coba saya browsing dulu soal situsnya ya, hehe…

  9. Lho mas gara, apakah ada babad2 zaman dahulu yg diterjemahkan kedalam bahasa indonesia dan kemudian di bukukan? Rasanya menarik sekali membaca sejarah2 di indonesia.Soalnya babad kebenarannya lebih bagus dibanding dengan buku2 zaman sekarang dan seharusnya bisa dipakai rujukan untuk menulis. Saya membayangkannya saja sudah merasa keren he he he…….

    1. Ada Mas, Mas mau babad apa? Dulu sekitar 1980-an Depdikbud punya proyek penerjemahan naskah-naskah Nusantara dan hasilnya lumayan bagus. Kalau Mas mau bisa ke perpustakaan terdekat (usahakan yang ada koleksi 1980-an), pasti akan ketemu, hehe.

      1. Adik saya kuliah jurusan sejarah. Coba nanti saya suruh nyari di perpustakaan kampusnya. Sepertinya menarik. Ntar saya fotocopy saja. Makasih mas gara. Lagian sekarang daftar bacaan saya udah numpuk banget, tapi kenapa selalu penasaran saja ha ha ha…….

  10. Dang Hyang Nirartha ternyata hitungannya masih kakek buyut dari Dalem Waturenggong ya? Padahal beliau datang ke Bali dari Jawa Timur pada saat Bali diperintah oleh Dalem Waturenggong. Umur beliau panjang sekali ya.

    1. Nah, ini juga jadi pertanyaan saya yang masih belum terjawab sampai sekarang. Bagian ini mesti saya teliti lebih jauh lagi. Orang-orang tua bercerita bahwa beliau sangat panjang umur karena ia seorang rsi yang besar dengan banyak anugerah. Tapi tentu saja ini belum bisa kita percaya begitu saja, kan?

      1. Atau bisa saja sih orang2 zaman dulu emang nikah waktu muda sehingga jarak antara buyut dengan kakek buyut jadi gak terlalu jauh kyk sekarang 😛

        Oh ya bli, apakah orang2 Majapahit yang melarikan diri ke Bali waktu Majapahit mulai runtuh hanyalah keturunannya Dang Hyang Nirartha, Sri Kresna Kepakisan, dan para arya pendamping Dalem Sri Kresna? Tak ada kah pejabat2 Majapahit lainnya atau keluarga2 trah Majapahit yang ikut menyeberang ke Bali? Karena menurut saya aneh sekali kalau para pejabat kerajaan dan keluarga2 trah Majapahit semuanya tinggal di Jawa dan menjadi bawahan Sultan Demak.

        1. Dan mohon maaf bli out of topic sedikit 😛
          Mengapa Bali tidak ditemukan candi-candi megah seperti di Jawa? Mengapa orang Bali beribadahnya di pura? Tidak kepikiran kah mereka untuk membangun candi untuk pemujaan atau tempat persemayaman para rajanya? Matur suksma nggih bli 🙂

          1. Untuk candi sebagai persemayaman para raja, tentu ada. Di Gunung Kawi, ada candi yang dipakai sebagai makam Udayana (ayahnya Airlangga) dan Marakata serta Anak Wungsu (adik-adiknya Airlangga).
            Soal kenapa tidak ada candi megah, ini masih harus dibuktikan lagi namun menurut saya lebih ke ketersediaan bahan baku. Jawa kaya akan gunung berapi sehingga batu andesit melimpah di mana-mana. Sementara Bali, gunung berapinya tidak banyak, yang masih aktif hanya Gunung Agung dan di sana sudah ada kompleks pemujaan sejak abad ke-8: Besakih. Menurut saya Besakih itu sudah megah banget.
            Untuk candi dan pura, sesungguhnya perkembangannya paralel Mas. Pada awalnya, bangunan suci di Bali juga berbentuk candi-candi. Namun seiring perkembangan Hindu, candi-candi ini dibuatkan kompleksnya tersendiri sehingga jadilah satu perangkat pura seperti yang kita kenal sekarang. Pemurnian Hindu oleh Danghyang Nirartha juga berperan di sini sebab beliau menyatukan paradigma pemujaan Hindu secara total; sehingga di Bali pura akhirnya punya standar bentuk dan kawasan. Di Jawa, perkembangan ini tidak selesai karena Islam sudah keburu masuk. Praktis perkembangan kawasan religi candi menjadi terhenti dan akhirnya candi yang diketahui hanya terdiri dari bangunan tunggal.
            Tapi bukan berarti di Jawa tidak ada candi yang kawasannya menyerupai pura. Mas bisa ke Candi Penataran dan di sana penataan halaman candinya sudah mulai sama dengan pura di Bali: ada tiga halaman dan bangunan pemujaan utamanya ada di halaman paling belakang, yang paling tinggi.

            Demikian, hehe… terima kasih atas pertanyaannya Mas, pertanyaannya bagus.

        2. Haha, mungkin juga, kalau nikah mudanya berturut-turut (dan di zaman kerajaan masa lalu setahu saya menikah muda itu biasa). Hal ini menarik, namun masih perlu dibuktikan lagi.

          Tentu ada. Mereka adalah para arya yang membantu penyerangan Majapahit ke Bali. Beberapa babad menyebut 8, ada yang menyebut 10, bahkan ada yang sampai menyebut 20 arya. Para arya itu menetap di Bali, punya banyak keturunan. Untuk tahu seseorang itu keturunan arya yang mana, tanyakan apa kawitannya (wit berarti asal). Misal, kawitan saya adalah Arya Kanuruhan. Dulu, Arya Kanuruhan ini bawahan Gajah Mada yang ditempatkan di Tangkas. Umumnya semua orang Bali punya kawitan, kecuali orang Bali Aga. Orang-orang Majapahit lain yang tidak sempat menyeberang ke Bali namun tidak mau memeluk Islam mengungsi ke pedalaman Jawa, jadi orang Tengger dan orang Osing, hehe.

          (Saya rencananya mau bahas soal kawitan saya di blog, tapi sampai sekarang belum sempat, hihi).

  11. Dari dulu lemah sekali di sejarah mas. Belajar dari cerita yang ditulis seperti ini lebih menarik menurutku wkwk
    Eh arti wingit itu sebenernya apa mas? sakral?

    Sering-sering aku mampir ngeyup ke blogmu ini 🙂

  12. jadi inget pelajaran sejarah dulu, bahwa jawa dan bali sebenarnya memang saling terkait. pdhl sekilas memang berbeda entah itu dari budaya dan lainnya.
    seorang guru pernah bilang huruf hanacaraka itu dibawa ke bali, namun ada dua huruf yg hilang yaitu dha dan tha. itulah mengapa org bali melafalkan dua huruf itu berbeda dari yg lain hehehe

  13. Detail dan dalam banget ceritanya. Menarik karena bs angkat cerita daerah dr sudut pandang berbeda. Jarang banget lho ada anak muda yg mau peduli dgb sejarah. Sepertinya kamu cocok jd sejarahwan. Btw, kudukung cerita ini jd buku. 😀

  14. Garaa… Pemahaman kamu ttg sejarah, apalagi ini berhubungan dengan agamamu, luar biasaa yaa… Saluut…

    Tapi aku pusing pas liat nama-nama di atas, siapa anak siapa, hehe… mirip semua namanya…

    Jadi Uadayana ayahnya Airlangga ya…

    Dari Bali pindah ke kediri?

    1. Hehe, terima kasih banyak. Iya, nama-namanya memang mirip, semoga bagan silsilah yang saya oret-oret ala-ala di atas bisa sedikit membantu ya Mbak, hehe.
      Yah, dibilang ayah ya bisa, tapi dibilang nggak juga bisa, soalnya bukan ayah kandung, sih…
      Dari Bali pindah ke daerah sekitar Pasuruan-Mojokerto Mbak, sekitar SIdoarjo kini, Gempol dan sekitarnya, hehe.

    1. Wah sama-sama, semoga bisa membantu sedikit, saya bukan mahasiswa sejarah atau lulusan sejarah jadi pasti masih banyak yang salah. Tapi, kalau bisa bermanfaat, saya senang sekali. Terima kasih atas apresiasinya, ya.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!