Citarasa Champa di Candi Pari

Kata Munandar dalam bukunya, Candi Pari adalah bukti dari hubungan monumental antara Jawa dan citarasa Champa pada masa Majapahit. Hal itu dibuktikan dengan batu ambang candi yang berhias motif medalion dan bentuk bangunan yang melebar tanpa relung.

candi-pari-1
Candi Pari, Porong, Kabupaten Sidoarjo. Melebar tanpa relung? Hmm…

Bukan hal baru bahwa Indonesia sudah punya hubungan dengan kerajaan di pesisir Vietnam ini. Tak bisa disangkal bahwa pada zaman Majapahit, Indonesia sudah punya hubungan dengan Champa, terbukti dengan adanya makam Putri Champa, istri Prabu Brawijaya V, di daerah Trowulan.

Pun kalau makam putri Champa di Trowulan tidak cukup menjadi bukti, Coedes telah menuliskan bahwa hubungan antara Indonesia dengan Semenanjung Indocina sudah dim ulai sejak abad ke-9, dari Wangsa Syailendra yang berkali-kali menyerang Funan untuk memperluas kekuasaan. Semua itu tertuang dalam Prasasti Ligor, sebuah tempat yang kini menjadi Nakhon Si Thammarat di Thailand selatan.

Dan ngomong-ngomong, Kerajaan Angkor di Kamboja bisa terbentuk, pada awal sekali, setelah salah satu rajanya melepaskan diri dari “jajahan” kerajaan Hindu besar di daerah Yogyakarta, yang penguasa-penguasanya membangun kemegahan Hindu-Buddha di Dataran Kedu dan Dataran Kewu…

Mencicipi Citarasa Champa di Nusantara

Saya cuma tinggal mencari penjelasan Munandar itu di badan candi ini.

Memang, ornamen dan relief di Candi Pari ini unik, hal itu sudah saya tunjukkan di postingan sebelumnya. Menekuri candi besar ini sedikit lebih lama, saya kemarin mendapati kalau ada ukiran-ukiran unik di pelipit atas. Bulat-bulat kecil bentuknya, timbul jarang-jarang, dan yang mengapitnya adalah bentukan seperti pilar-pilar (para arkeolog menyebutnya pilaster) yang kecil banget. Sangat sederhana.

pilaster-atas-candi-pari
Bentukan-bentukan pilar di pelipit atas Candi Pari

Ralat, terlalu sederhana.

Relief ini tumben saya lihat di sebuah candi. Saya belum bertualang ke banyak candi, tapi yang umum saya lihat, candi-candi Indonesia biasanya mengambil relief sulur-sulur tumbuhan yang rumit. Bahkan untuk candi-candi yang umurnya lebih tua di Jawa Tengah, reliefnya sudah yang lebih kompleks, sehingga untuk Candi Pari, menilik tahun pembangunannya, agaknya kurang wajar kalau candi ini mendadak minim ornamen.

Di candi-candi sezaman pun, misalnya Candi Jawi, reliefnya adalah salah satu yang terindah yang pernah saya lihat di seluruh bangunan candi di Jawa Timur. Bahkan untuk Candi Dermo yang sebetulnya cuma gapura pun, reliefnya lebih rumit dan lebih indah.

pelipit-kanan-atas-candi-pari
Bentukan sederhana di pelipit Candi Pari.

Satu relief yang menurut saya unik adalah relief candi-di-badan-candi yang diduga bahwa itu merupakan penampakan Candi Pari di masa jayanya. Di sana terdapat relief bunga-bunga yang juga jarang-jarang. Itu artinya, sedari dulu candi ini tidak dimaksudkan untuk punya relief yang banyak dan rumit.

Mau tak mau saya berpikir, apa candi-candi di daerah Champa minim relief sehingga para arkeolog bisa menyimpulkan bahwa candi ini punya citarasa Champa?

Cara paling mudah untuk mengetahuinya, tentu dengan membandingkan Candi Pari dengan candi-candi di pesisir Vietnam tengah itu. Berhubung saya belum pernah pergi ke Champa, di sanalah Om Google memegang peranan :hehe. Saya membandingkannya dengan kompleks My Son.

Beberapa saat kemudian, foto-foto candi My Son terpampang di depan mata, dan saya merinding lagi sebelum mendongak penuh kekagetan… karena ternyata kesamaan antara My Son dan Candi Pari berada dalam level yang lebih menakjubkan dari sekadar “sama persis”…

Menyoal Pintu Masuk

Saya belum pernah berkunjung ke Champa. Belum pernah juga saya menelaah khusus soal bangunan candi, saya yakin ada sejarawan dan arkeolog yang jauh lebih berkompeten soal itu. Apa yang saya perbandingkan kemarin hanya antara dua benda, itu pun secara visual: Candi Pari dan kompleks My Son, dan menurut saya, kesamaan di antara mereka berdua mencengangkan.

Tulisan ini pun hanya menggambarkan apa kesamaan yang saya peroleh, sebagai pandangan mata seorang awam. Hampir pasti akan ada yang salah dari hasil pengamatan ini, karenanya saya membuka kesempatan seluas-luasnya pada sidang pembaca untuk urun masukan.

candi-pari-2
Candi Pari. Perhatikan bentukan segitiga di atas pintu masuk.

Kesamaan itu, bagi saya, dimulai pada pintu kedua candi yang ternyata persis sekali. Dari letaknya yang agak menganjur, serta fungsinya yang mirip seperti bilik pintu, tapi ternyata bukan. Tapi ada satu hal yang lebih mengejutkan: tidak ada kala makara di ambang atas pintu kedua candi. Saya tak tahu apakah My Son sebenarnya punya–atau Candi Pari sebenarnya punya–namun dalam perjalanan kemarin, rasa-rasanya saya tak menjumpai adanya kala makara di Candi Pari.

Jujur saya butuh waktu yang lumayan lama untuk sadar akan absennya kala makara. Semua candi di Indonesia, semua pura di Bali, pasti punya kala makara di atas pintu masuk utama (kori agung). Tapi di Candi Pari, sama sekali tidak ada mata menatap garang para pengunjung yang akan masuk!

Bilik pintu yang menganjur sebenarnya bukan hal yang baru dalam khasanah percandian Indonesia. Di beberapa candi di Jawa Tengah terdapat bilik pintu menganjur, misalnya di Candi Plaosan Kidul dan candi perwara No. 20 di kompleks Candi Sewu. Beberapa relief di Candi Borobudur pun (menurut Dumarcay) juga menggambarkan bangunan suci dengan bentuk relief yang sama.

miniatur-candi-pari
Satu lagi bentukan di dinding yang saya duga sebagai miniatur candi.

Namun di Candi Pari, meski berbentuk seperti bilik pintu, penampil itu bukan bilik pintu seperti di Candi Plaosan Kidul, karena pintu candi ini sebagaimana nanti saya buktikan, justru membuka ke dalam. Bagian yang menjulur ke luar itu menurut saya hanya hiasan–yang entah kenapa digunakan juga persis di candi-candi dengan citarasa Champa (atau My Son, karena contoh saya baru satu itu), bahkan sampai ke lengkung pintunya.

Terlalu banyak untuk disebut kebetulan.

Pilaster oh Pilaster!

Satu karakteristik lain yang saya lihat dari My Son adalah bahwa percandian di sana sangat kaya akan pilaster (paling tidak begitulah yang tampak di Candi E1). Menurut beberapa buku, pilaster adalah bentukan seperti pilar-pilar semu yang tersebar di dinding sebuah bangunan (benarkan kalau saya salah). Dalam sebuah candi, pilaster bisa memiliki banyak fungsi, entah untuk membatasi relung tempat arca, atau sebagai transisi dari relief naratif (biasanya berupa pilaster dengan relief sulur tanaman atau bebungaan, kekayaan alam Indonesia).

Namun pilaster di Candi Pari tidak menggambarkan bunga-bunga, apalagi sulur-sulur. Pilasternya menggambarkan pilar, sebagaimana adanya. Dan saya akhirnya mencoba untuk tidak kaget ketika melihat pilar-pilar serupa di gambar yang menunjukkan candi My Son tidak (melulu) menggambarkan sulur, lantaran ada yang memang seperti hakikatnya, menjadi pilar pemisah (sekali lagi, paling tidak begitulah yang tampak di Candi E1, dari foto yang saya peroleh di Wikipedia).

Di sini, pilar-pilar di Candi Pari memang lebih halus, beberapa di antara mereka bahkan sudah rusak. Namun di Batur 1, saya masih mengira bisa melihat bentukan yang mirip pilar-pilar semu ini. Sayang kondisinya telah aus dan hancur sehingga tak bisa diterka dengan jelas, relief apa yang dulu ada di sana.

pilaster-miniatur-candi-pari
Sepertinya pernah ada semacam pilar–atau tonjolan–di tempat ini. Atau relief miniatur candi?

Bagi saya, dua bukti soal kesejajaran gaya antara Candi Pari dan My Son lumayan membuktikan bahwa memang, candi ini mendapat citarasa Champa dari pesisir Vietnam tengah. Ini menjadi bukti betapa terbuka dan bersahabatnya Indonesia kala itu akan kehadiran kebudayaan baru–kebudayaan yang berbeda dengan napas lokal yang dianut mayoritas masyarakat pun diberikan tempat dan bahkan diperkenankan untuk mengalirkannya dalam suatu candi yang monumental.

Saya jadi berpikir-pikir, bagaimana dengan sekarang, ya? Apakah Indonesia masih seterbuka dulu? Betapa terbukanya leluhur-leluhur kita, ya, membangun candi dengan atap megah dengan tinggi lebih dari dua puluh meter ini.

Saya mendongak, dan sepasang hewan bertelinga panjang itu menatap saya.

LHO ITU KAN KELINCI BULAN!?


Referensi:
1. Coedes, George. 2015. Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha. Jakarta: EFEO dan Kepustakaan Populer Gramedia.
2. Dumarcay, Jacques. 2011. Candi Sewu dan Arsitektur Bangunan Agama Buddha di Jawa Tengah. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
3. Munandar, Agus Aris. 2015. Keistimewaan Candi-Candi Zaman Majapahit. Depok: Wedatama Widya Sastra.

51 thoughts on “Citarasa Champa di Candi Pari

  1. Jangan-jangan pembangun Candi Pari dan Candy My Son adalah masyarakat yg sama dari generasi yang sama pula. Memang memungkin kan sih mengingat sejarah bahwa penduduk nusantara ini berasal dari Asia Belakang. Seperti halnya penyebaran cerita rakyat yang banyak mirip satu sama lain, aku kira demikian juga yg terjadi pada pembangunan tempat ibadah seperti Candi ini. Mereka dibawa oleh para pengelana

    1. Iya Mbak, mungkin banget… artinya pertukaran budaya-budaya di Asia Tenggara sudah ada dalam bentuknya yang sangat kompleks bahkan di abad ke-14 ketika Jawa sebenarnya sudah menemukan bentuk budayanya dengan Majapahit yang sedang berjaya.

    1. Doh Mbak ini juga analisis ala-ala :haha. Terima kasih ya, mudah-mudahan saya punya waktu luang jadi bisa mengetik lanjutannya :)).

    1. Sebetulnya kemarin saya mau japri Mbak buat minta foto My Son tapi saya malu soalnya ujungnya saya akan banyak maunya :haha. Akhirnya googling saja, kebetulan ketemu :hehe.

  2. Ah baru sadar kebanyakan relief2 candi berbentuk sulur2 tumbuhan.
    Hebat sampean mas, bisa tau detail2 dari candi pari tsb 😀

    Salam kenal, baru mampir di blog ini. Bila berkenan follback 🙂

  3. Kagettt pas scroll ke bawah, kupikir yg My Son juga candi buatan Majapahit yang letaknya nggak jauh dari Candi Pari.Ternyata bukan hahaha. Anyway pengunjung dibolehin naik ke atas, Gar? Kok nggak ada tali batasnya, cemas dinaikin banyak orang…

    1. Bukan Mas, yang My Son adanya di Vietnam sana :hehe, tapi kalau Mas bilang begitu maka agaknya betul ya kalau mereka memang satu langgam.
      Maksudnya masuk ke dalam bilik Mas? Boleh masuk kok, saya masuk ke dalam biliknya sana (tapi ceritanya masih beberapa postingan lagi :haha *panjang*).

    1. Nggak biasa aja sih Mbak, soalnya kan setiap candi di Indonesia mesti ada kala makaranya sebagai penyambut yang seram-seram :hehe. Amin amin, terima kasih yak Mbak!

    1. Waduh, berapa ya? Saya tidak menghitungnya, tapi yang pasti banyak banget. Belum lagi masih banyak candi yang belum ditemukan karena masih tertimbun :hehe.

    1. Iya Mbak, pengen saya datang ke candi-candi itu. Muaro Jambi terutama… eh tapi prasasti yang di Sumatera Barat juga keren-keren kan… yang Mbak pernah tulis di blog itu… sama situs batu kursi itu lho Mbak.

          1. Bisa 5 hari… Di jambi kalau muaro jambi bisa sehari aja kalo cuma di candi…

            Ke sumbar sekitar 10 jam… bisa ke sawah lunto dulu, yg searah trus ke Batusangkar, bukittinggi, payakumbuh padang… baru balik jakarta

          2. ayoo… pikirkan garaa… kamu akan menemukan duniamu di jambi sana… Kalau di jambi candi budha kalo ga salah… di candi muara takus (bangkinang, Riau), sekitar 2 jam-an dari Payakumbuh, itu kalau ngga salah candi Hindu

  4. Eh, kamu mengamatinya detail banget bang 😀 aku sampai ikutan ngamatin ._. dan yaaak, persis ._.

    Tapi model candi begitu itu banyak nggak sih mas? candi yang modelnya merah begitu ._.

  5. Tidak akan mengejutkan jika ternyata Candi Pari ini memang dulu dibangun oleh orang-orang dari Kerajaan Champa, atau yang terkait dengan kerajaan dari Vietnam bagian tengah-selatan itu. Jaman dulu memang seni arsitektur di India, Sri Lanka, Myanmar, Kamboja, Vietnam, Laos dan Indonesia mencerminkan adanya interaksi antara bangsa-bangsa penghuninya. Dan menapaki kembali jejak-jejak masa lalu itu sangat menarik dan bisa membuka kembali komunikasi dengan bangsa-bangsa di kawasan karena sejak dulu kita tidaklah merasa asing satu sama lainnya.

    1. Iya Mas, saya setuju. Rasanya mengunjungi semua peninggalan itu seperti bertandang ke rumah saudara jauh ya :hehe.
      Terima kasih sudah mampir dan membaca :)).

    1. Ada, Mbak… Jawa pertama sekali mendapat pengaruh murni dari India sebagai tangan pertama. Sementara Champa mendapat pengaruh dari Tiongkok, yang karena hubungan pernikahan/aliansi mancanegara akhirnya punya hubungan dengan Jawa :)).

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?