Buda Cemeng Kelawu, Tilem Kelima, dan Senjakala Bumi Gora

Langit senja. Dan awan.
Langit senja. Dan awan.

Saya selalu suka bagaimana bersembahyang “memperbaiki” saya, memberi sesuatu yang baru dalam cara saya memandang hari, terutama pada sebuah hari yang sangat susah. Tuhan tidak “mengangkat” semua kesulitan atau menghilangkan semua yang tidak enak di depan saya dan menggantinya dengan yang enak-enak. Semua yang tidak enak tetap ada, yang enak tetap ada. Namun, Tuhan menjaga saya untuk tidak berlebihan melihat semua yang ada di depan.

Mereka semua tetap ada, tapi ya, biasa saja. Memang benar sih, semua yang ada di depan tidak akan berubah. Tapi cara kita memandang semua itulah yang bisa berubah. Semacam “Ya sudahlah, ya…”

Ya sudahlah, ya. Saya sih senyum saja buat hari ini. Syukur banget bisa pulang dan menghabiskan malam di pura dan kosan, pada gilirannya, meski banyak urusan yang mesti diselesaikan.

Senja timur.
Senja timur.

Ini hari raya kombo. Yang satu adalah Buda Wage Kelawu, datang setiap 210 hari sekali (kelipatan persekutuan terkecil dari tujuh (Buda), lima (Wage), dan tiga puluh (Kelawu)). Di hari ini, kami umat Hindu melakukan persembahyangan memperingati anugerah Tuhan dalam bentuk harta. Kerennya, ini hari keuangan versi Hindu. Historisnya, ini hari perayaan untuk Bhatara Rambut Sedana, wujud Tuhan dalam tugasnya sebagai penguasa harta.

Biasanya hari raya ini dirayakan dengan memberi banten pada pundi-pundi harta. Logam dan batu mulia, juga uang. Perdagangan juga mendapat perhatian spesial di hari raya ini, karena ekonomi mesti terlibat dengan uang. Oleh karenanya, kami umat Hindu agak pantang berbelanja barang-barang atau pantang pula membayar sesuatu tanpa mendapat timbal balik (baca: utang). Pada hari ini, uang diistirahatkan. Boleh digunakan, tapi sebatas untuk keperluan saja.

Mungkin uang lelah, berputar cepat, jadi medium membeli sana-sini untuk memenuhi kebutuhan, meski lebih banyaknya adalah keinginan. Tapi pada hari ini, kita mengalah. Diam sebentar, mengintrospeksi. Sudahkah saya menggunakan uang dengan bijak? Sudahkah saya menjadikan uang sebagai mitra yang setara, ketimbang menjadi budak dari gemerincingnya?

_MG_9411

Hari ini juga Tilem Kalima. Ganti bulan, ketika bulan mati untuk hidup lagi di penanggal apisan Sasih Kanem. Bulan yang sulit, menurut penanggalan Bali. Di bulan ini konon cuaca akan jauh lebih ganas ketimbang Sasih Kalima, penyakit mulai berkembang luas, dan bencana akan datang silih berganti. Grafik akan terus turun sampai akhirnya pada Sasih Kedasa, ketika semua sudah “kedas”. Bersih.

Oleh karenanya, pada Sasih Kanem, umat Hindu umum melaksanakan acara Nangluk Merana, suatu ritual untuk meminta pertolongan Tuhan dalam menjalani bulan ini. Lebih khusus lagi, agar pertanian bisa memulai siklusnya di bulan ini, supaya tidak terganggu dengan cuaca ekstrem yang umum mencapai puncaknya di sasih satu ini.

Di Lombok, upacara Nangluk Merana ini punya modelnya tersendiri, yakni Mulang Pekelem, yang dilaksanakan pada Purnama Sasih Kelima (15 hari sebelum ini). Pada upacara ini, umat Hindu di Lombok “mulang” (menenggelamkan) “pekelem” (benda-benda suci) berupa lima macam logam (emas, perak, kuningan, tembaga, besi), dan melepas korban suci berupa hewan liar di lingkungan Danau Segara Anak agar bisa berkembang biak sebagai simbol pelestarian alam.

_MG_9400

Iya, Danau Segara Anak. Jadi, rombongan akan mendaki Gunung Rinjani melalui jalur Torean yang konon paling sulit, singgah di beberapa pos untuk bersembahyang dan melakukan upacara sebelum akhirnya tiba di tepian Segara Anak untuk puncak acara. Beberapa orang akan berenang ke tengah danau sedalam 230m itu untuk menenggelamkan pekelem tadi sebagai klimaks acara, baru acara selesai dan rombongan turun gunung.

Untuk tahun 2015, upacara ini berpuncak pada tanggal 25 Oktober 2015.

Mungkin ada yang sudah tahu apa yang terjadi di Rinjani pada tanggal itu. Ketika itulah, Puncak Barujari meletus eksplosif untuk pertama kalinya. Yep, disaksikan oleh segenap peserta upacara mulang pekelem.

Saya… tak bisa membayangkan bagaimana reaksi semua orang dengan apa yang terjadi di depan mata mereka. Rinjani yang biasanya tenang, Barujari yang biasanya cuma mengeluarkan asap tipis, kini bergolak, ganas membentuk pilar abu setinggi beratus-ratus meter ke udara.

Dan, fakta bahwa di puncak sana ada acara sempat membuat penjaga Taman Nasional agak ketar-ketir. Sebagian memang bersedia turun, tapi sebagian lagi memilih bertahan, apa pun yang terjadi mereka harus menyelesaikan acara hingga selesai. Apa pun yang terjadi. Pihak Taman Nasional pun menyerah dan membiarkan mereka meneruskan acara.

Syukurlah, acara selesai. Meskipun Barujari memulai aktivitas panjangnya yang hingga hari ini, 11 November 2015, masih terus berlangsung, tapi acara bisa selesai dan seluruh rombongan selamat kembali ke Mataram. Meski menurut cerita, ada satu orang kecelakaan dan mengalami patah tangan, tapi secara umum, semua rombongan selamat.

_MG_9401

Namun, ada sesuatu yang berkembang samar di masyarakat. Terutama di kampung-kampung. Apa yang akan terjadi di tahun ini? Pertanda apa gerangan ketika ada gunung meletus? Semua tentu berpikir ada apa sampai tepat sekali kebetulan di 25 Oktober 2015 itu Rinjani memulai letusannya. Sayang saya tak mendapat info lebih lanjut… entahlah, apakah mereka semua diam, tapi anggaplah tak ada apa-apa.

Kalau gunung meletus kan ya meletus saja, toh?

Yang mengkhawatirkan justru abunya. Abu Barujari sangat halus dan ringan sehingga konsisten tertiup angin, tak pernah ada saatnya dia berhenti melayang. Kasat mata, abu vulkanis itu tak terlihat, tapi soal udara, penciuman memang lebih juara. Saya khawatir dengan keluarga yang ada di Mataram tapi yah, pantauan terakhir mengatakan kalau udara sudah lebih nyaman. Semoga mereka baik-baik saja.

Abu yang sama menutup Lombok dari dunia luar, bahkan hingga hari ini. Bandara masih ditutup hingga besok, 09.45 LT. Itu pun belum pasti apakah setelahnya bandara akan dibuka, karena mesti menunggu rapat penetapan status yang biasanya dilakukan sekitar pukul 07.30 waktu setempat. Per hari ini (11/11), genap tujuh hari sudah bandar udara LOP tak beroperasi.

Langit yang indah.
Langit yang indah.

Sehingga tampaknya, saya memang mesti bersabar dulu untuk mudik. Menunda dulu waktu sembahyang di Pura Dalem yang hari ini juga berpiodalan. Menunda diri untuk melihat senja-senja di Bumi Gora yang saya ambil secara asal-asalan dengan kamera sederhana. Tapi sekaligus bertimbang rasa, mengakui kalau waktu bersama di kampung halaman adalah masa-masa tak tergantikan, masa-masa yang jika saya akui sekarang bahwa dulu saya memperlakukannya sia-sia, adalah penyesalan yang sangat membekas.

Tapi, bukankah gunung meletus adalah anugerah yang paling indah? Melihat pemandangan yang sudah indah di Rinjani akan berganti dengan panorama yang lebih kaya, berbeda, dan lebih subur? Saya jadi ingat kata-kata Mbah Rono yang saya baca dalam sebuah media:

“Ikuti maunya gunung api, karena gunung apinya lebih lama dari manusia. Jaga sopan santun. Kalau meletus ada masanya berhenti. Kalau sudah berhenti akan membuat tanah subur, pemandangan indah.”

Iya, semua pasti berhenti. Justru kehormatan kita bisa menyaksikan alam memperbaiki diri. Rinjani, saya pikir, sudah sangat sopan dalam mengubah panorama alamnya—tanpa awan panas atau hal-hal membahayakan yang tak bisa diantisipasi. Letusannya tak meledak kencang—yang mengkhawatirkan cuma abu, dan lahar panas pun tak turun masuk ke permukiman, melainkan langsung masuk ke kaldera sejuk Segara Anak yang penuh dengan air.

Sehingga kini, giliran kitalah yang harus sopan. Sudahkah kita sopan pada alam?

Akhir kata, selamat Tilem Kalima. Selamat Buda Cemeng Kelawu. Semoga kita lebih bijak dalam menggunakan apa saja, semoga kita lebih sopan memperlakukan apa pun yang ada di sekitar kita, dan… semoga tidak ada apa-apa. Sehat selalu, ya.

_MG_9410 _MG_9402 _MG_9408 _MG_9406 _MG_9403 _MG_9404


post scriptum.
Postingan ini sebetulnya dibuat untuk bisa memajang gambar-gambar senja yang ada di atas. Jangan terlalu serius gitu deh bacanya :hihi.

55 thoughts on “Buda Cemeng Kelawu, Tilem Kelima, dan Senjakala Bumi Gora

  1. Odalan pipis ya Gara. Aku ada share article bagus tuh tentang Odalan ini di Twitter. Aduh aku merindukan ngelungsurin aneka rupa buah dan makanan kalau pas abis upacara. Disini mah ngimpi aja penganan2 itu.

    Semoga urusan gunung ini cepet selesai dan suasana segera aman ya Gara.

  2. Dari tulisanmu jadi tahu beberapa perayaaan dari umat beragama Hindu. Baca tentang Gunung Rinjani, senang dengan petugas Taman Nasional yang tidak mengusik acara yang terlanjur berlangsung di puncak dan syukurlah tidak terjadi apa-apa di puncak ya, Gar.

      1. Wah…. abunya katanya membahayakan bang… akhirnya pada tutup ya bandaranya?
        moga segera dibuka kembali… dan semoga lain waktu bisa ke Lombok…
        Ke Bali kan udah, nahhh moga ke Lombok juga bisa 🙂

  3. Aku pecinta senja and l love the pictures! 😀
    Dan somehow aku suka dan setuju dengan tulisanmu di 3 paragraf pertama, tentang sembahyang dan efeknya ke diri kita.. 🙂

  4. “Ikuti maunya gunung api, karena gunung apinya lebih lama dari manusia. Jaga sopan santun. Kalau meletus ada masanya berhenti. Kalau sudah berhenti akan membuat tanah subur, pemandangan indah.” <<—— sukaaa… dan foto"nya bagus" 🙂

  5. Kalau boleh jujur, saya lebih menikmati tulisannya dibanding foto-fotonya. Karena, deskripsi tulisan membuat saya melayang, mengetahui sisi lain dari umat Hindu dan beragam keyakinannya. Saya melihat kebhinnekaan negeri ini dari tulisan ini. Keyakinan yang teguh, bahkan kala Barujari meletus pun, mereka tetap yakin akan tetap pulang dengan selamat seusai upacara.

    Benar, kadang gunung yang sedang meletup memberikan pertanda, ada masanya ia harus istirahat, menutup pintu sejenak untuk tamu. Agar menyeimbangkan kembali ekosistem.

    Tapi, bukan berarti foto-foto senjanya tak bagus. Senja-senjanya manis, adem. Semoga keluarga di kampung halaman baik-baik saja ya Mas 🙂

    1. Kalau ada notif Mas Rifqy sudah me-like satu postingan, maka boleh jadi ada komentar setelahnya :hihi. Terima kasih Mas atas apresiasinya. Saya juga ikutan melayang membaca komentar ini. Ya, memang peserta upacara itu sudah niat banget, kadang menjurus bebal… makanya saya kepengen pulang kemarin buat menggali lebih lanjut, sayang bandara ditutup :huhu. Tapi tak apalah :hehe.

      Ngomong-ngomong, misteri notif yang tak muncul itu masih belum juga terpecahkankah?

      1. Maaf baru balas Mas. Wah, menarik ini, Bebal di sini apakah memang sudah menjadi karakter atau memang upacara tersebut dalam kondisi bagaimanapun harus dijalankan ya Mas?

        Nah belum kayaknya kalau soal misteri itu 😀

  6. Ah makasih ya Gar. Makasih sudah dibagikan cerita tentang adat istiadat dan budaya di sana. Seneng bacanya. Semoga sih gunung meletus ini bukan pertanda apa-apa ya Gar. cuma fenomena alam dan Rinjani cuma membersihkan diri dan mau makeover aja. Keren istilah RInjani masih sopan itu Gar 🙂

    1. Awww. Makasih kembali Mas Dani, buat apresiasi dan doanya. Sekarang letusannya sudah tak parah lagi, bandara sudah dibuka. Iya, gunung meletus ya meletus aja, tidak ada kaitan dengan kejadian lain :)).

  7. Semoga kita menjadi manusia yang selalu mengerti akan hikmah di setiap kejadian. Seperti halnya gunung api yang meletus, esok setelah gunung api selesai. Tanah-tanah disekitarnya akan kembali subur. Saya juga suka membaca deskripsi tulisannya, daripada fotonya. Soalnya fotonya kurang sesuai dengan isi tulisan 🙂
    Tapi saya juga suka foto-foto senjanya

    1. Iya, foto-fotonya memang nggak nyambung sih… :hihi. Akan saya usahakan untuk membuat postingan yang nyambung dengan fotonya. Terima kasih ya buat sarannya :hehe.
      Gunung meletus itu memang awalnya terkesan bencana, tapi menurut saya itu juga tanda kalau alam juga cinta pada semua yang ada di atasnya :hehe.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?