Bhatara Gana di Punggung Bukit: Sebuah Latar

Berada di sana membuat saya sangat bersyukur. Betapa tidak, saya diberi kesempatan menyaksikan sang Bhatara Gana secara langsung. Tak ada jarak di antara kami. Saya dan beliau berhadap-hadapan. Mungkin kami sama-sama penasaran. Koreksi, sayalah yang sangat penasaran akan kenampakan beliau. Sesungguhnya beliau pasti sudah tahu siapa saya. Jangan diartikan saya terlalu geer dulu. Ini hanya jawaban dari pertanyaan singkat. Bahwa, di hadapan kekuatan Tuhan, adakah sesuatu yang mungkin tidak Ia ketahui?

bhatara-gana-torongrejo-kota-batu
Bhatara Gana di Torongrejo, Kota Wisata Batu. Perhatikan pojok kanan bawah.

Di sebelah saya, Curio terdiam barang sebentar. Mungkin ia tidak mengerti melihat saya dan Bhatara Gana. “Dia terlihat sangat menggemaskan,” komentarnya pada akhirnya, penuh simpati.

Saya mencoba duduk di pelataran kecil yang ada di depan Bhatara Gana, setengah memunggungi. Di depan kami ada punggung bukit yang terus melandai, sebelum akhirnya menghilang jauh ke bawah sana pada suatu jurang kecil. Setelah jurang itu, bukit lain muncul di depannya. Bukit kedua ini juga menjulang ke atas sana, sebelum kembali membentuk dataran. Pada dataran itu, masyarakat menggantungkan hidup pada kegiatan bercocok tanam.

Ganesha yang menggemaskan. Kata-kata Curio mengendap pelan. Di saat yang sama membuat saya mengenang cerita-cerita dalam purana. Mereka membuat ajaran agama yang abstrak dan kompleks mudah dipahami. “Ya, dia memang terlalu lucu,” kata saya setuju. “Dia mengitari dunia hanya dengan bantuan seekor tikus. Dia juga penuh rasa ingin tahu.”

Tapi di saat yang sama, masih ada haru-biru menyeruak. Masih ada semacam rindu yang tak terbahasa di antara kami. Sampai sekarang pun, jika saya mengenang, rasa itu masih ada. Sudah bertahun-tahun berlalu sejak pertemuan pertama kami. Namun, hati dan dada ini masih bergetar ketika mengingatnya. Mungkin saya berlebihan, namun mungkinkah, jika sejatinya bukan cuma saya yang menanti-nanti pertemuan kala itu?

Dengan semua itu, saya mencoba menikmati rasa rindu. Saya ingat bagaimana kejadiannya. Angin berembus, menghapus semua lelah yang terbulir. Mendung menggantung, menghalangi matahari, membuat semua  nyaman. Kesedihan sirna dengan sendirinya, berganti dengan syukur. Saya sangat, sangat berterima kasih. Ya Tuhan, saya sampai habis kata. Objek purbakala pertama yang saya temui. Sebuah perwujudan Bhatara Gana. Di tempat yang menurut saya sangat spesial: sebuah punggung bukit.

Saya pun tak bisa menahan diri lagi. “Bolehkah kita berdoa di sini?”

Curio mengangguk. “Tentu saja. Menurutmu siapa yang meletakkan itu?” tanyanya sambil menunjuk sesuatu di depan Ganesha. Benda itu adalah sebuah takir daun pisang dengan beberapa macam bunga padanya. Sementara itu, di belakang sana ada sebatang dupa yang telah habis. Tepat sekali dekat dengan lapik kanan bawah Bhatara Gana.

takir-bunga-mawar-bhatara-gana
Takir berisi kembang setaman.

“Menurutmu…”

Curio mengangguk sambil menyisih. “Berdoalah dulu. Kita diskusikan setelah doamu selesai.”

Saya memanjatkan doa singkat. Ucapan terima kasih karena kini kita sudah bertemu. Doa untuk keluarga di rumah, semoga Tuhan dalam wujud Ganesha ini menjaga mereka dan memberi nikmat sehat. Tak lupa sebuah permintaan izin karena saya akan mengambil beberapa gambar.

Setelah selesai, barulah saya berani mengajukan lensa kamera dan menekan tombol rana.

Diskusi seru pun berlangsung setelahnya.

Status Cagar Budaya, Cungkup, dan Papan Petunjuk

Saya sedikit lega melihat Ganesha ini sudah dibuatkan tempat bernaung permanen. Paling tidak, perhatian akan situs ini mulai ada. Meskipun, menurut informasi yang saya dapat, pemerintah kota belum sepenuhnya terlibat. Di data cagar budaya Kota Batu, per tahun 2016 situs ini belum ditetapkan sebagai cagar budaya. Keterangan yang ada hanyalah bahwa situs ini adalah “peninggalan sejarah” yang dilestarikan oleh “perorangan”. Semoga saja dalam waktu dekat patung ini bisa ditetapkan sebagai cagar budaya.

Mungkin itulah sebabnya, papan petunjuk situs ini tidak memuat logo kota. Sesungguhnya, papan petunjuk juga tidak bisa juga dijadikan indikator. Siapa tahu, pada tahun anggaran lalu spesifikasi papan petunjuk yang dipesan berbeda. Misal saja, tidak memuat lambang kota. Namun demikian, menurut warga sekitar, papan petunjuk arah menuju situs tidak dibuat  pemerintah. Mereka diusahakan oleh warga dan mahasiswa dari sebuah universitas yang pernah melakukan Kuliah Kerja Nyata di daerah ini.

petunjuk-ganesha-torongrejo
Petunjuk menuju Arca Ganesha Torongrejo

Beberapa warga lain, yang memiliki pemikiran lebih klenik, punya pendapat yang lebih dahsyat. Menurut mereka, cungkup dan papan petunjuk situs dibuat orang-orang yang “berhasil” setelah melakukan pemujaan di patung Ganesha. Rata-rata orang luar daerah. Untuk beberapa saat, saya mendengar bombardir cerita. Banyak kata “pesugihan” dan “kekayaan” serta “nomor” terselip di dalamnya.

Saya hanya bisa tertawa. Benda-benda purbakala seperti ini memang banyak peminat. Mereka datang dengan alasan berbeda-beda. Itu harus dimaklumi. Oleh karena itu, tentu saja ada yang menjadikan patung ini lokasi ritual. Buktinya takir berisi bebungaan yang tadi saya temukan. Mungkin mereka bapak-bapak yang tadi berritual di Punden Tutup. Entah apa tujuannya. Semoga saja baik.

Nasib Sang Bhatara Gana di Torongrejo: Kata Warga Sekitar

Mesti saya akui, nasib arca Bhatara Gana di Torongrejo sudah jauh lebih baik. Dalam sebuah foto di awal dekade 2000-an, ia diletakkan hanya pada sebuah bangunan berdinding bambu. Itu juga swadaya dari masyarakat sekitar. Merekalah yang menjaga dan membersihkan patung ini.

Namun demikian, arca ini bukan tidak punya kisah buruk. Dulu, oleh segelintir orang, patung ini (beserta bangunannya) pernah berusaha dibakar. Alasannya karena tidak sesuai dengan kondisi religi masyarakat. Entah masyarakat mana. Sampai dua kali kejadiannya. “Rumah” lama yang terbuat dari kayu dan bambu memang sangat mendukung untuk sabotase itu. Harapannya, dengan membakar rumah yang tidak permanen, patung ini bisa hancur karena tertimpa kayu.

Tapi ajaib, patung ini tidak terbakar, meski rumahnya habis. Bahkan, kata seorang petani yang saya temui, gosong pun tidak ada padanya. Seolah-olah ada lingkaran tidak terlihat memisahkan bekas kebakaran dengan patung Bhatara Gana. Satu-satunya dampak yang terjadi hanya ulah sang waktu. Ada ukiran yang sudah mulai aus. Atau, bagian hidung yang somplak akibat ulah vandalisme (dan pencurian yang gagal).

Soal pencurian patung ini bahkan lebih seru. Kisahnya pernah dimuat di koran lokal Malang (dan dibukukan). Ceritanya, patung ini pernah ditemukan dalam kondisi terlilit tali. Seakan-akan siap diangkut, namun siapa pun yang ingin melakukannya, tak kuat. Esok harinya, ia ditemukan kembali di tempat asalnya. Sekadar informasi, lokasi penemuan patung ini awalnya ada di bukit sebelah.

profil-ganesha-torongrejo
Profil Sang Bhatara Gana. Dia sudah melalui banyak hal.

Saya mengkonfirmasinya pada petani tadi. Cerita itu benar, sepanjang pengetahuannya. Patung Bhatara Gana ini kembali sendiri. Padahal, tidak ada seorang warga pun yang memindahkannya. Disinyalir, patung ini menyimpan kekuatan keramat. Itu sebabnya ia tidak bisa dicuri. Bahkan, jika cerita tadi benar, ia tak terpindahkan dari tempatnya. Seakan-akan, patung ini sedari awal memang telah dimaksudkan untuk berada di situ.

Saya mencoba mengesampingkan latar mistis yang ada. Ada makna yang tersirat dari penempatan patung Ganesha. Ia ditempatkan pada tempat-tempat angker, lagi keramat. Dari sana, ia dijuluki Wighna-ghna atau penakluk rintangan. Dalam agama Hindu, Bhatara Gana adalah penguasa seluruh keangkeran dan kekeramatan. Ia adalah penguasa kekuatan-kekuatan alam. Oleh karenanya, alam pun mengatur energinya, agar Bhatara Gana sebagai penguasa tetap pada tempatnya. Petunjuk alam itu diinterpretasikan manusia, dengan menempatkan sebuah patung Ganesha di tempat ini.

Benar saja demikian. Menurut berita yang sama, daerah tempat Ganesha ini terkenal keramat tanahnya. Bahkan sampai saat ini. Ramai orang-orang luar daerah membeli tanah di sini. Diduga, alasan pembelian itu bukan semata investasi. Ada latar mistik yang tersirat. Seorang warga bersaksi dalam berita bahwa ia melepas tanahnya dengan harga ratusan juta.

Lebih lanjut, berita itu menjelaskan bahwa dulu di sini tidak hanya terdapat arca Ganesha. Ada juga arca raja yang diduga Kertanegara, serta Lembu Nandini. Sayang, kini arca-arca itu sudah tidak ada. Dari info yang saya dapat, alasannya kurang lebih sama dengan mengapa kenong-kenong batu di Punden Tutup juga menyusut dari segi jumlah. Demikianlah, peninggalan purbakala Hindu sangat terkenal di pulau Bali. Orang Bali pun mencarinya sampai ke pulau sebelah.

Memang benar, penganut Hindu di Indonesia kini terpusat di pulau Bali. Sementara itu, perjalanan sejarah menunjukkan bahwa benar, secara religi, Jawa telah terkonversi. Dengan demikian, bekas-bekas pemujaan Hindu di Jawa pun bisa diperkirakan akan terbengkalai. Sebaliknya, di Bali, pemujaan Hindu masih bertahan. Tentu saja, peninggalan pemujaan Hindu di Jawa akan diambil alih oleh orang-orang dari Bali. Secara ratio legis, penganut Hindu di Bali saat ini akan merasa bahwa mereka lebih bisa menjaga peninggalan itu, dibandingkan dengan penduduk Jawa yang sudah menganut agama yang berbeda.

Namun, atas nama semangat kebhinekaan, saya rasa pandangan itu keliru. Prasangka bahwa perbedaan religi serta-merta membuat budaya berganti seperti bertukar baju tentu tidak tepat. Hindu ada di Jawa bukan setahun dua. Melainkan ribuan tahun sudah. Ajaran Hindu sudah merasuk dalam budaya Jawa begitu rupa. Ia pun menjelma dalam produk budayanya. Meskipun kini produk budaya masa lalu itu tidak lagi difungsikan penuh, dalam taraf sebagai objek pemujaan, masih ada rasa hormat padanya. Tidak benar bahwa di Jawa, peninggalan Hindu tidak dilestarikan. Buktinya, masyarakat sekitar masih peduli untuk menjaga patung ini.

panorama-perkebunan-jawa
Ajaran Hindu sudah merasuk dalam alam Jawa begitu rupa.

Tidaklah dapat dibenarkan jika patung ini diambil alih oleh saudara Hindu di Bali dengan alasan lebih bisa digunakan untuk ibadah. Toh, sekarang pun tidak ada larangan untuk beribadah di sini. Lagi pula, jika Sang Ganesha ini dapat dijenguk oleh semua orang, bukankah lebih bermanfaat? Maksud saya, ketimbang ditaruh dalam kamar suci terkunci. Masih untung kalau dijadikan objek pemujaan. Bagaimana kalau ternyata dijual ke luar negeri?

“Aku kok merasa kalau patung ini nggemesin banget ya, Gar? Pengen dipeluk,” tiba-tiba saja Curio memecahkan keheningan saya yang sedang membaca situs on line.

Saya cuma tertawa. “Ya, dia memang menggemaskan,” jawab saya.

“Betulan lho, Gar, Ganesha yang ini menggemaskan sekali, rasanya pengen dipeluk! How adorable. Dan jujur, aku bahkan tidak tahu kalau arca ini ada di kotaku. Sejauh ini yang kutahu soal Batu cuma Jatim Park dan semua taman bermain mahal itu,” katanya sebelum tertawa. “Ternyata Batu banyak sekali menyimpan peninggalan purbakala, ya.”

“Baru tahu? Ya ketimbang pelesir ke mal, lebih baik jalan kemari, toh?” ujar saya sambil mengganti lensa.

gumuk-bulurancang-kota-batu
Lebih baik mengamati alam, ketimbang mengamati barang belanjaan #eh.

Referensi:
Wicaksono, Bagus Ary. 2014. Arca Ganesha yang Kerap Dibakar. Dalam Bagus Ary Wicaksono dkk.: Ekspedisi Samala: Menguak Kemashyuran Majapahit dari Jendela Malang Raya (Laporan Jurnalistik Malang Post), hlm. 60-61. Malang: Malang Post Forum-Ekspedisi Samala.

37 thoughts on “Bhatara Gana di Punggung Bukit: Sebuah Latar

  1. Ah, menarik ya mas.
    Dulu, sewaktu saya tinggal di Jogja, saban minggu saya suka mlipir-mlipir ke candi-candi. Kalau orang lain berselfie ria, biasanya saya akan cari spot yang teduh dan hening, lalu menutup mata beberapa saat. Damai sekali rasanya, terutama kalau sedang berada di Candi Sewu dan Barong saat senja. 🙂

    1. Setuju. Berada di candi memang bisa membuat semua orang merasa damai. Entah karena bangunannya, entah karena alamnya. Itu juga sebabnya saya ketagihan berkunjung ke candi, hehe.

      1. Nah itu. Mungkin karena dulu ketika candi itu dibangun, pasti tidak sembarang dibangun. Aku membayangkan saat candi itu dibangun pasti ada upacara-upacara khusus, lalu setelah dibangun pun dijadikan tempat yang sakral tentunya. Makanya di beberapa tempat aura sakralnya itu masih terjaga.

        Tapi, kadang sedih jika datang ke Borobudur atau Prambanan, dua candi mahakarya Nusantara. Terkadang pengunjung ke sana memperlakukan obyek candi cuma sekadar obyek wisata, bukan sebuah bangunan luhur. Akibatnya, banyak yang manjat-manjat gak jelas, naik-naik sampe ke pinggir stupa dan tentunya berselfie ria.

          1. Hehehehe..
            Nah di situlah. Mgkin sejak dari sekolah perlu ditanamkan pemikiran bahwa candi-candi adalah bangunan mahakarya, jadi kalau berkunjung ke sana tidak cukup pakai niat, tp jg pakai etika 😀

  2. Menarik membaca kisah-kisah spiritual seputar patung itu, mas. Aku pun percaya ada Kuasa yang menjaga patung itu.

    Btw, sebel juga dengan masyarakat yang berpandangan sempit. Masih di Jawa Timur, aku baca berita ada situs purbakala yang dicoret-coret atau diapain gitu, karena dianggap tidak sesuai dengan keyakinan masyarakat. Semua kembali kepada masing-masing pribadi. Kalau imannya kuat, tidak perlu takut atau resah.

    1. Punya iman kok ya “cupet” banget ya >.< aku juga sebel kalo denger berita kayak gitu. Rasanya geram sekali tapi susah kalau berhadapan dengan orang-orang intoleran ya 🙁

    2. Saya yakin manusia yang beriman adalah manusia yang bisa menerima perbedaan. Jadi ketika ia tak bisa menerima perbedaan, secara logis ia bukan manusia yang beriman. Setuju, dengan iman seseorang tidak perlu takut atau resah. Tapi yah balik lagi, masih banyak manusia yang butuh pendewasaan, haha.

  3. Terpesona membaca deskripsi gara tentang patung yang telah melewati lorong sejarah yang sangat panjang. Mungkin bentuknya menggemaskan. Mungkin juga yang disebut menggemaskan itu adalah perasaan takjub karena doa-doa orang yang memujanya melekat di sana, mengejawantah dalam energi yang tak terlihat. Semoga peninggalan-peninggalan budaya seperti ini tetap terpelihara dimanapun mereka diletakkan, Entah di Malang atau di Bali. Karena mereka adalah kekayaan kita, akar kita dan identitas kita sebagai bangsa Indonesia

  4. Dulu bahkan negara ini kan bukan negara mayoritas Islam, bahkan negara Hindu Buddha makannya banyak peninggalan-peninggalan sejarah mengenai Hindu Buddha ya kak.Mau bagaimanapun tetap kita harus menjaga benda-benda sejarah di Indonesia ini, karena ga ada sejarah, ga ada Indonesia hari ini #ea

    1. Setuju, Kak… kunjungi lindungi dan lestarikan. Tak ada hal yang lebih indah dan disyukuri oleh kenangan sejarah selain fakta bahwa manusia hari ini masih ingat akan mereka.

  5. patung bhatara ghana kembali sendiri ppadahal tidak ada yang memindahkannya…itu uraian yang buat aku bergidik…. selalu suka kalo baca baca yang ada unsur sejarah, budaya bagian dari masa lamau negeri kita yang kaya ini… btw itu alamnya bikin betah berlama lama yaaa… thanks sharing info mas..keren banged ini tulisannya… salamdari saya – Indra di Lampung.

    duniaindra.com

  6. Sedikit kesal ketika membaca ada beberapa oknum yang coba membakar salah satu peninggalan sejarah ini. Kenapa ya mereka tidak bisa melihatnya sebagai suatu kekayaan, kekayaan dimana tersimpan banyak kisah yang bisa dipelajari?

  7. Wah sepertinya saya pernah dengar cerita patung ganesha yang berusaha dicuri itu mas. Entahlah, saya lupa-lupa ingat, tapi memang banyak peninggalan bersejarah yang tidak dirawat dan belum mendapat perhatian pemerintah daerah. Semoga ke depannya bisa lebih dirawat agar peradaban sejarah yang merupakan kekayaan bangsa tidak hilang.

    Pernah juga dengar bahwa justru di luar negeri, malah bisa membeli dengan harga mahal untuk peninggalan2 sejarah kita. Nanti kan aneh klo ada peninggalan sejarah kita yang ada di museum2 luar negeri.

    1. Diplomasi untuk mengembalikan benda purbakala Indonesia yang ada di luar negeri jadi penting banget. Tidak pada tempatnya warisan suatu bangsa dimiliki orang luar, bahkan secara pribadi. Amin, semoga semua benda bersejarah bisa lebih terjaga.

  8. Mudah2an situs-situs non muslim lestari. Gak perlu dihancurin buat apa sih, kenapa gak bisa diapresiasi sebagai budaya aja ketimbang ngeributin sbg berhala. Kalo kata orang sunda mah: tan hana huni tan hana mangke. Udah disebutin artinya sama Irham 😀

      1. Bahasa sunda & jawa memang ada miripnya, gara. Tapi bahasa sunda sendiri beragam variasinya, saya yg gede di Cirebon, sundanya campur2. Begitu datang ke Bandung, sunda saya disebut sunda kasar.

        Walo begitu, konon kerajaan Pajajaran dahulu menggunakan bhs sunda yang sekarsng disebut sunda kasar. Oleh karenanya di sunda masyarakatnya egaliter, tidak ada strata. Kemudian Mataram datang dan menaklukan kerajaan sunda. Di situlah Mataram mulai menerapkan kebudayaan dlm berbahasa.

        Dan klo diperhatikan, bhs sunda dan bhs jawa seperti ada pertentangan. Kayak perang psikologis terselebung 😀

        Sampeyan (jawa) : anda (sopan). Sampean (sunda) : kaki.

        Dahar (jawa) : makan (sopan)
        Dahar (sunda) : makan (kasar banget)

        Di Cirebon, ada istilah Bobad, artinya bohong. Konon kata Bobad berasal dr Perang Bubat, yg mana mulanya dipicu kebohongan.

        Lho kenapa saya komennya ngelantur ke mana2 ini heuheuheu….

        1. Saya pikir “bobad” itu bahasa slang yang artinya “boong banget”. Ternyata ada urat katanya juga, ya. Jadi lebih kenal dengan hubungan Sunda dan Jawa. Memang tak bisa dipisahkan dari Perang Bubat. Sekarang saya makin penasaran, euy. Dampak pernikahan berujung pembantaian itu ternyata demikian besar. Sampai ke bahasa dan budaya yang terdalam. Kira-kira apa ya yang sebenarnya terjadi saat itu, hehe.

  9. Aku kira ada orang yang berpikiran sempit tentang arca yang notabenenya ‘milik’ Hindu atau Budha sehingga itu dianggap sebagai berhala. tapi jauuh lebih banyak lagi yang mempunyai pikiran yang lapang yang beranggapan arca atau candi hindu budha perlu dilestarikan.

    Contohnya, candi hundu budha di sumatera, yang merawat dan mengelola juga masyarakat sana yang beragama islam.

    kemaren di candi singosari aku sempat nanya petugasnya yang sedang membersihkan halaman candi, itu candi hindu ya, dijawab itu candi hindu dan budha juga. Trus aku tanya, bapak hindu atau Budh, dia jawab Islam,

    1. Menurut saya, jika semangatnya pelestarian, apa agama seseorang tidak begitu penting. Iman seseorang menurut saya urusan ia dan Tuhannya, hehe. Sepanjang seluruh umat beragama saling menghormati, saya yakin semua akan tenteram damai.

  10. wah sudah sempat hampir “hilang” … masyarakat memang bermacam2 pola pikir dan motif-nya ya …
    sayang pemerintah belum turun tangan .. eh tapi kalau pemerintah turung tangan .. kemungkinan malah dipindahkan kemuseum

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?