Bertahanlah, Borobudurnya Banyumas.

Sudah beberapa lama berlalu sejak saya cari gara-gara di Jawa Tengah, tapi tulisannya baru sempat saya rilis sekarang. Waktu itu tujuannya tidak seberapa jauh, bisa dicapai dengan kereta dari Stasiun Gambir, pun tidak begitu lama, cuma lima jam. Apalagi naik kereta kelas Eksekutif, sudah begitu perbekalan lengkap dengan banyak makanan, jadi sama sekali tidak merasa lelah sepanjang perjalanan. Tahu-tahu, malam sudah tiba dan kereta mengumumkan kedatangannya di salah satu stasiun terbesar di Jawa bagian selatan.

Tumben naik kereta jadi mainannya seperti ini. Mohon dimaafkan.
Tumben naik kereta jadi mainannya seperti ini. Mohon dimaafkan.

Oh, itulah enaknya kereta api! Jadi ke mana kami?

Purwokerto.

Banyumas!

Ya kan Purwokerto!

Purwokerto itu ada diΒ Banyumas!

Purwokerto itu ibukota Kabupaten Banyumas. Tak apa, saya pun awalnya menganggap Purwokerto dan Banyumas adalah hal yang sama, karena Purwokerto belum jadi kota administratif mandiri. Tapi bagi penduduk sana, sepertinya penyamaan itu kurang disenangi. Orang Purwokerto yang saya ajak jalan kala itu umumnya agak enggan kalau disebut berasal dari Banyumas. Padahal Purwokerto ada di Kabupaten Banyumas. Tapi tetap saja, Purwokerto ya Purwokerto, Banyumas ya Banyumas. Dua hal yang berbeda. Jangan sekali-kali disamakan.

Sampai saya berniat berkirim surat ke Gubernur Jawa Tengah supaya Purwokerto itu dijadikan kota tersendiri saja, seperti Kota Malang atau Kota Batu. Supaya karuan. Lho, tapi siapa saya mengatur-atur daerah administratif orang? Saya cuma bercanda, hehe.

Kita tiba sekitar jam sembilan. Stasiun Purwokerto masih ramai, maklum saja, stasiun ini selalu jadi perhentian hampir semua kereta yang melewati jalur selatan. Berita di telinga saya, yang kata Mbak Er menjadi ciri khas PT KAI Daop 5 Purwokerto ketika ada kereta yang datang masih belum sepenuhnya saya percaya karena belum mewujud nyata tatkala saya menjejak di Stasiun Purwokerto. Sebuah bangunan khas kolonial yang tentu menanti untuk dieksplorasi, tapi malam itu kami tidak sempat karena kami sudah terlalu penat dengan lima jam perjalanan. Duduk lima jam itu capek juga, ya.

Inilah Purwokerto, saya memberi ucapan selamat datang pada diri sendiri. Sebuah kota kecil di barat daya Jawa Tengah. Yang jam sembilan malam sudah sepi tanpa ada kendaraan berlalu-lalang. Saya jadi agak heran. Masuk ke jalan utama kota, tempat Pratistha Harsa, jalanan sudah sepi banget. Padahal baru jam setengah sepuluh malam. Kalau di Jakarta, orang-orang malah baru bangun dari tidur siang, sombong saya dalam hati ketika becak yang saya dan Mbak Er tumpangi membelah malam dari stasiun sampai ke penginapan.

Apa yang spesial dari Purwokerto?

Sejauh ini yang saya jumpai adalah beberapa bangunan kolonial. Kebanyakan properti PT KAI, sebagaimana juga di kota lain seperti Semarang, Jember, atau Cirebon. Selain itu, kota di kaki Gunung Slamet ini juga terkenal dengan Museum BRI-nya, karena di kota inilah, BRI lahir dan memulai hidupnya dalam kehidupan perbankan anak negeri.

Jangan lupakan juga bahwa Baturraden adalah objek wisata terkenal yang ada di Kabupaten Banyumas.

Meski sudah meramban dunia maya, saya tidak mengunjungi tempat-tempat wisata itu. Mungkin, gaya saya memang selalu seperti ini: singgah di tempat yang sudah banyak jejaknya tapi tak ada yang peduli, sehingga jejak-jejak itu menunggu untuk saya kumpulkan (alasan banget ini, hehe).

Becak yang kami tumpangi sampai di penginapan. Pak satpam yang masih ada berjaga di sana menyapa rekan seperjalanan saya, dibalas dengan sangat ramah. Usut diusut, ternyata rumah rekan saya ini dulunya tidak seberapa jauh dari tempat kami menginap. Betul-betul pusat kota, puji saya. Bahkan rumah saya di Mataram pun tidak sebegini dekat dengan pusat kota. Ini secara harfiah cuma sepelemparan batu dari alun-alun.

Saking dekatnya, saya berpikir untuk melempar sebuah batu ke arah alun-alun. Berani jamin sampai. Kalau saya Hulk.

Selamat Datang di Hotel Borobudur

Hotel ini dari kesan pertamanya saja membuat saya kembali pada era 1970 atau 1980-an. Menurut saya, ini adalah salah satu hotel yang paling tua di Purwokerto, dan hal ini dikonfirmasi sendiri oleh Mbak Er, rekan seperjalanan saya. Katanya, dulu sebelum ada hotel-hotel bermerk internasional itu, hotel inilah yang terbaik dan paling terkenal di Purwokerto. Dulu, artis ibukota atau pejabat pusat yang berkunjung ke Purwokerto pasti menginap di hotel ini.

Tapi harus diakui, kehadiran hotel-hotel internasional itu lambat laun mulai menggeser kebesaran nama Hotel Borobudur sebagai penginapan paling terkenal di seantero kota. Hotel San**** di daerah pinggir kota, dan yang sedang dibangun, Hotel Ast** yang tepat depan alun-alun. Sementara itu, Hotel Borobudur mulai menua, menjadi saksi perkembangan kota dari singgasananya yang agak masuk dari jalan utama.

Hotel ini tidak terletak di pinggir jalan. Mungkin mengantisipasi supaya orang yang menginap tidak terlalu tersibukkan dengan keriuhan jalan utama kota. Namun, secara lokasi hotel ini paling dekat dengan stasiun kereta api. Tenang, damai, aksesnya mudah, serta secara relatif, hemat. Kamar-kamar per malamnya disewakan dengan harga antara Rp300k–Rp400k. Perbedaan kelas dan cara penawaran saat memesan tentu bisa membuat harga per malam lebih terjangkau lagi.

Borobudurnya Banyumas, kalau saya juluki, memang masih menampilkan sisa kemegahan kejayaan ekonomi Indonesia di tahun 1980-an. Kamar-kamar teratur dalam bangunan yang tidak bertingkat, kecuali bangunan dua tingkat di bagian belakang. Setiap kamar memiliki teras dengan meja rendah dan kursi berdudukan serat-serat karet yang khas betul tahun 1980-an.

bagian-luar-hotel-borobudur-purwokerto
Bagian luar Hotel Borobudur, Purwokerto. Banyak palem.

Di samping itu, bentuk gorden dua lapis dan pintu kayu berpelitur cokelat muda semakin memberi kesan antik. Tapi bukan antik yang zaman kolonial, melainkan antik yang biasa kita temui di film-film akhir 1980-an. Saya tak pandai mengekspresikan jejak nuansa dengan kata-kata, tapi saya seperti kembali ke tahun-tahun itu tatkala mulai menjejak di lobi hotel ini.

Logo-logo bank yang lama, barang-barang lama seperti televisi tabung, mesin hitung akhir 70-an, penataan interior ruangan yang kesannya sangat rapi dengan lantai marmer berwarna cokelat, bercerita banyak soal hotel ini yang dengan semua tingkahnya, masih tetap bertahan padahal tahun sudah menunjuk bilangan 2015.

Menurut saya, hotel ini bukanlah tipe hotel yang umum ada sekarang. Hotel ini tidak berasal dari waralaba hotel yang sudah bernama di internasional, dengan semua modernisme mereka dan kemudahan akses. Tidak ada minimarket di hotel ini sejauh mata memandang. Urusan internet nirkabel pun cuma bisa dilakukan di lobi, beruntung kamar saya dekat dengan lobi jadi remah-remah sinyal masih bisa didapat.

Dan ketika sang bapak penjaga membuka pintu kamarnya, saya ternganga. Secara harfiah, karena saya tidak merasa kembali ke tahun 1975. Saya memang betul berada di tahun itu. Andai saja tidak ada kalender di atas meja menunjukkan ini Januari 2015, saya pasti sudah salah paham dengan menyangka ini Januari 1975. Bahkan berkas cahayanya pun seolah memundurkan saya ke empat puluh tahun yang lalu. Sebuah sensasi yang tidak saya duga, tapi sangat saya suka!

interior-kamar-hotel-borobudur
Interior kamar Hotel Borobudur. Cukup baik bagi saya.

Lantai parkit memberi rona cokelat pada lantainya. Tak berdecit, tapi kesannya seperti tahun 1980-an. Furnitur-furniturnya apalagi. Dengan meja rendah kaca dan dua sofa sewarna kulit. Tahun-tahun sedemikian sepertinya memang familiar sekali dengan warna-warna alami seperti ini. Apalagi ditambah dengan warna ranjang yang dibuat oranye cerah, senada tapi agak kontras dengan lantai dan seprai berwarna putih.

Tempat tidurnya sendiri cukup unik, karena di atasnya tertutupi kain seperti kelambu, berjaring-jaring sebelum akhirnya penutup itu diangkat supaya ranjangnya bisa ditempati. Di tempat tidurnya juga ada guling. Guling, demi Tuhan! Kapan saya pernah melihat ada guling dengan ukuran yang sedemikian tepat ini ada di sebuah kamar hotel? Biasanya kamar hotel yang umum saya temui hanya menyediakan dua bantal besar. Jarang ada yang juga menyediakan guling seperti ini.

Satu lagi, adalah soal cahayanya. Tidak tampak jelas memang dari gambar-gambar ini, tapi cahaya kuning yang dihasilkan lampu kap bergaya retro di atas kepala tempat tidur itu sinarnya terang sangat, cukup terang tapi tidak terlalu menyilaukan mata. Kuning keemasan memandikan ruang tidur, membuat warna-warna keluarga kuning dari seprai dan lantai serta furnitur demikian terangnya keluar, menyamankan indra penglihatan.

Saya setengah berharap bisa menyaksikan kembali acara televisi tahun 80-an yang sukses menelurkan seniman-seniman tarik suara terbesar negeri ini ketika menekan tombol remote. Tapi sebagaimana televisi yang saya temui bukan lagi TV tabung, acaranya juga acara masa kini. Itu jujur, cukup bagus, saya tak mengerti bagaimana keterkejutan saya kalau saya mendapati acara TV-nya adalah Irama Ria.

Tapi secara umum, meski tampak retro, semua benda di ruang kamar saya masih berfungsi dengan baik. Sakelar berfungsi, televisi juga baik dengan saluran yang meski tak terlalu banyak tapi lengkap. Pendingin udara juga bekerja sebagaimana mestinya, satu hal yang tidak saya duga lantaran tampang si alat elektronik itu sepertinya sudah terlihat begitu ringkih.

Oh, kecuali telepon di antara dua tempat tidur. Telepon bergaya tua yang ketika pertama kali saya lihat hampir-hampir tidak saya percayai bahwa telepon semacam itu masih ada. Benar-benar… retro! Pas benar melengkapi suasana kamar yang sudah klasik sedemikian. Dari segi warna, bentuk, dan cara menelepon yang dulu cuma bisa saya lihat di televisi karena keluarga kami tidak punya telepon. Diputar! Sempat saya bingung, bagaimana mekanismenya, ya, dari diputar jadi bisa tersambung ke nomor yang kita tuju?

telepon-tua-hotel-borobudur
Telepon tua di kamar. Sayang tak berfungsi.

Ulasan (panjang) tentang penginapan belum lengkap kalau tidak membahas kamar mandi. Saya mencoba tidak kaget ketika mendapati kamar mandinya juga nuansa 80-an yang benar-benar retro. Semua berfungsi dengan baik, meski memang rupa benda-benda yang ada di sana tidak menandakan bahwa benda-benda itu baru dipasang. Tapi secara umum kamar mandinya bersih dan nyaman. Air panas pun berfungsi dengan baik.

Perlengkapan mandi juga disediakan, dalam bentuk dan jumlah yang standar. Tapi selalu saja ada yang unik, dan hal itu adalah… handuknya. Ada cetakan nama hotel: Hotel Borobudur. Tampak sudah cukup tua, tapi masih sangat bersih dan wangi, seperti selalu dirawat dengan baik. Ada dua handuk seingat saya, dan yang satu lagi sudah handuk putih polos yang modern. Mungkin handuk retro itu dijadikan ciri khas oleh hotel ini, mengenang masa-masa yang sudah lalu.

Beberapa hal kecil lain masih tetap saja membuat saya berdecak dan berseru saking kagumnya (kadang saya memang agak berlebihan), sampai saya bahkan tak sadar kalau pintu kamar sudah digedor oleh bapak-bapak yang tadi, menanyakan jam berapa sarapan besok akan diantarkan. Berhubung saya tidak tahu, saya jawab saja supaya diantar seperti jam biasanya sarapan di hotel ini.

Sang bapak menjawab jam enam pagi. Tentu saya mengiyakan saja, saat itu. Masih agak takjub dengan sarapan yang diantarkan langsung ke kamar. Bukankah umumnya, sarapan baru diantar ke ruangan kalau si tamu menghendaki demikian? Jadi tidak secara default makan paginya diantar langsung ke kamar. Namun, mungkin saja dulu di tahun 1980-an, adatnya adalah seperti ini.

Wuhu, saya betul-betul berada di dekade itu, tidak lagi sekadar ditonton dalam film-film lama…

lampu-meja-hotel-borobudur
Lampu meja yang manis. Sinarnya hangat.

Sebuah Pagi di Hotel Borobudur, Purwokerto

Malam pun beralih, berganti dengan pagi.

Hari baru, matahari bersinar cukup terang, saya jadi bisa melihat dengan lebih menyeluruh bagaimana lingkungan sekitar hotel ini. Ketukan di pintu membangunkan saya dari mimpi panjang. Di luar sudah terang. Jam tangan saya menunjukkan pukul enam tepat. Suara seorang pemuda dari luar ruangan mengembalikan arwah saya kembali ke tempatnya. Sarapan datang sangat tepat waktu.

Dan apa yang dibawakan oleh mas-mas itu lagi-lagi membuat saya keheranan. Kapan saya terakhir kali melihat sarapan dengan beberapa tumpuk roti bakar, telur rebus dan lada serta garam, lengkap dengan sepoci aluminium kecil air panas, teh celup, kopi dan gula, berikut gelas dan lepek kaca, di dalam satu nampan yang disajikan di depan setiap pintu kamar tamu?

Hal pertama yang saya lakukan ya foto-foto. Unik banget. Katakanlah saya agak berlebihan, tapi melihat cara penyajian makan pagi seunik ini, agak sayang rasanya apabila tidak diabadikan. Kebiasaan penyajian sarapan di sini sepertinya belum berubah semenjak dua puluh atau tiga puluh tahun terakhir, dan kemampuan untuk dapat bertahan di tahun-tahun sekarang ini bukanlah sesuatu yang bisa dipandang sebelah mata. Hotel Borobudur tetap seperti ini, tak lekang dalam waktu yang bagi dunia ini menjadikan semuanya selalu berubah.

sarapan-hotel-borobudur-purwokerto
Penyajian sarapan yang paling unik. Jika kurang berkenan dengan roti dan telur, bisa minta diganti nasi goreng.

Saya mengamati sekitar, dan sepertinya, selain kamar saya dan kamar sebelah, kamar Mbak Er, tak ada tamu lain. Sepi sekali. Mungkin ada juga orang lain yang menginap di hotel ini, tapi dari sayap sebelah sini, ditambah lagi dengan parkiran yang tidak ramai, mungkin tamu hotel di akhir bulan awal tahun itu tidak sampai sepuluh orang.

Roti dan telurnya masih sangat hangat ketika saya makan. Air panasnya pun benar-benar panas, tanda bahwa makan pagi disajikan tak lama setelah dibuat. Kehangatan tahun 1980-an di penginapan ini masih bergema dan masih dapat saya rasa dengan begitu intens, seolah tahun 1980 baru saya lewati kemarin.

Sambil makan pagi, saya berpikir. Mungkin tak banyak orang seperti saya, yang terlalu banyak hidup dalam bayang-bayang masa lalu sampai saya menganggap pengingat kecil tentang jejak masa di waktu-waktu itu adalah benda yang sangat berharga. Sebagian orang mungkin menganggap suasana sunyi dengan banyak tanaman dan nuansa kamar bergaya retro temaram adalah gelap, tidak modern, dan bahkan menakutkan. Apalagi dengan umur hotel yang saya yakin tidak muda, suasana suram dan menyeramkan pasti adalah kesan bagi beberapa orang yang menginap di sini.

Akan tetapi, kalau saya boleh menghitung, berapa sih hotel yang tempat tidurnya masih ditutupi kain berjaring seperti kelambu, sesuatu yang khas 1970-an? Berapa banyak penginapan yang tetap bertahan dengan keramahan penyajian sarapan diantar ke kamar dalam bentuk dan rangkaian hidangan yang tidak berubah sejak tiga puluh tahun silam? Bagi saya, kemampuan untuk bertahan dan membuat sesuatu yang baru memang tidak buruk, tapi kemampuan untuk tetap bertahan dengan ciri khas yang berhasil menjadi pembeda juga tidak bisa dipandang sebelah mata.

Saya mencoba mengabaikan berita yang saya dengar dari Mbak Er bahwa ada desas-desus hotel ini akan segera berubah. Bertahanlah dengan keramahanmu, dengan apa yang sudah membuatmu bertahan.

Sungguh. Sepanjang ini saya menulis, padahal apa yang ingin saya sampaikan sejatinya cuma satu kata.

Bertahanlah.

Hotel Borobudur
Jl. Yosodarmo No. 32, Purwokerto


p.s
Tulisan ini dibuat hampir dua tahun lalu.

34 thoughts on “Bertahanlah, Borobudurnya Banyumas.

  1. Wew, dua tahun lalu ternyata wkwk.
    Gak nyangka anda berkunjung ke kota saya wkwk. Kalau hari Sabtu, jam 9an itu biasanya belum sepi kok mas. Atau ke daerah kampus UNSOED, tiap harinya jam 9an itu ya belum sepi, masih ramai sama kegiatan mahasiswa biasanya hehe.
    Well, hotel Ast** bukan di depan alun-alun mas, tapi di dekat kawasan GOR Satria atau kampus UNSOED tepatnya di jalan Overste Isdiman.

    1. Iya kalau kampus memang selalu ramai ya. Sepertinya butuh kunjungan selanjutnya ke Purwokerto jadi bisa melihat kotanya secara lengkap. Yang kemarin itu kami tak ke banyak tempat jadi mengenal kotanya masih setengah-setengah, setengahnya lagi diisi prasangka, hoho.
      Oh iyakah? Wah akan saya edit. Terima kasih ya atas koreksinya.

  2. Eh, aku suka hotelnya, mas! Melihat layout lorongnya, kesannya adem, tenang, banyak sirkulasi udara dan cahaya alami. Hotel-hotel modern punya desain interior seragam, heuheu..

    Aku dulu nginep di Hotel Mutiara, yang dipesan go-show dan secara asal, tapi overall not bad, deket dengan pusat kota dan dilewati jalur angkot.

    1. Iya, saking seragamnya sampai susah cari ciri khas ya, hehe.
      Faktor transportasi memang menentukan banget ketika memutuskan tempat menginap ya. Apalagi ketika kita tidak bawa kendaraan sendiri, hehe. Kok ya saya jadi pengen ke Madura πŸ™ˆ

  3. Hahaha… hotelnya keren banget. Bener-bener 80an ya… itu selai rotinya coklat tabur sama selai stroberi atau nanas? Dan apakah ada seragam para petugas hotel? Kok saya jadi membayangkan warna pink, hijau, coklat muda atau biru…

  4. Suka banget sama postingannya. Hotel Borobudur tidak gentar terhadap perubahan jaman dan tetap menjaga keunikannya yang bersahaja. Semoga masih banyak orang-orang seperti Gara yang menghargai hal-hal seperti ini dan tidak hanya terbawa arus modernisme.
    Ohya, Satu lagi… barang-barang produksi jaman dulu kualitasnya unggul, tahan lama aja sampai sekarang πŸ™‚

    1. Terima kasih atas apresiasinya, Mbak. Betul banget, soal barang-barang, produksi zaman dulu seperti dibuat dengan lebih sepenuh hati daripada produksi hari ini. Atau apa mungkin sumber daya sekarang sudah tidak sebanyak masa lalu, ya? Ini pertanyaan lagi nih, hehe.

  5. “Mungkin tak banyak orang seperti saya, yang terlalu banyak hidup dalam bayang-bayang masa lalu..”

    ya betul, orang muda sepertimu sangat langka yang suka benda tua
    tapi karena kesukaanmu itu jadi betah datang ke blog ini

  6. baik gara, purwokerto kota adem yah, nggak terlalu kecil, nggak terlalu rame, kulinernya enak, banyak tempat bersejarah yg bisa dilihat, sama satu lagi yg bikin saya makin suka ada tempat mandi air panasnya πŸ™‚
    saya nggak pernah nginap di hotel kalo kesana, soalnya ada pakde disana
    hotelnya kayaknya nyaman, vintage, tp liat sofanya kok agak serem hihihi… πŸ˜€

  7. unik yaa,tapi sekarang banyak juga kok yang cari cafe, rsto, atau penginapan yang berkonsep tahun “ndeso” lebih berkesan, maksih infonya ntr klo ke Banyumas aku tak ke sana πŸ™‚

  8. sempat beberapa kali ketemu penginapan yang serupa, dari bangunan,interior bahkan kamar mandinya pernah ada yang memakai bath up loh gara, seperti hotel semut di surabaya. kadang malah punya pemikiran mungkin pada jamannya dahulu hotel tersebut punya masa jayanya…

    1. Iya, di masanya hotel-hotel itu tentu modern banget. Cuma, bath tub? Saya kayaknya lewat saja deh kalau hotelnya pakai bath tub… takut ada sosok aneh-aneh muncul dari dalamnya! Ya kecuali kalau hotelnya Hotel Majapahit sih… tapi hotel itu kan menyeramkan juga, haha.
      Pokoknya selalu ada cerita seru di setiap hotel yang kita inapi yak.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!