Berkas Jejak Sang Pemandu Jejak

Izinkan saya berterima kasih kepada Mbak Monda yang sudah memberi saya letikan ilham dalam sebuah komentarnya untuk menyelesaikan postingan tentang review buku ini.

Saya “menghilang” dari dunia maya selama beberapa hari kemarin untuk menyelesaikan diri ini mencandu obat adiktif yang sampai sekarang saya belum tahu penawarnya apa. Selama beberapa jam setelah obat itu saya habiskan, efek sampingnya masih ada. Pikiran saya masih melayang, pada gugusan mahakarya di Gunung Penanggungan, mandala mitis asli di bilangan Jawa Timur sana, setidaknya sampai beberapa menit silam ketika pengaruhnya mulai memudar dan saya bisa menyusun tulisan ini lagi :haha.

Yang saya maksud sebenarnya adalah sebuah buku :haha. Tidak berpikir yang aneh-aneh, kan? Syukurlah. Kita mulai dengan informasi singkat, ya. _MG_5208

Judul: Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit: Pandangan Baru terhadap Fungsi Religius Candi-Candi Periode Jawa Timur Abad ke-14 dan ke-15 (Seri Terjemahan Arkeologi ke-13).
Judul Asli: Following the Cap-Figure in Majapahit Temple Reliefs: A New Look at the Religious Function of East Javanese Temples, 14th and 15th Centuries
Penulis: Lydia Kieven
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) bekerja sama dengan École française d’Extrême-Orient (EFEO) dan Institut Français d’Indonésie
Jumlah halaman: 472
Tahun terbit: Desember 2014
Harga: Rp60.000

Saya menemukan buku ini ketika ingin mencari hadiah tahun baru untuk saya sendiri. Tak saya sangka ternyata hadiah itu betul-betul jadi hadiah yang tak terlupa karena isinya yang sangat berharga. Begitu banyak ilmu, begitu banyak cerita, pendapat, tafsiran, penjelasan, semua yang mungkin saya dapat dari sebuah handbook bagi rupa dwimatra yang terpahat pada batu-batuan candi.

Candi yang bukan sembarang candi, melainkan potongan-potongan terakhir dari kejayaan Hindu-Budha di bumi Yawadwipa.

Majapahit.

Candi zaman Majapahit, bagi saya, adalah potongan mozaik terakhir dari kerajaan terakhir tentunya menjadi teka-teki dan memento kejayaan yang tak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi, karena para pelakunya, masyarakat Majapahit yang dulu menjadi pemilik kejayaan, sebagian besar telah musnah, kecuali sebagian kecil yang melarikan diri ke luar pulau dan menyisakan kenangan-kenangan mereka dengan tugu Menjangan Saluang di setiap sanggah tempat sembahyang (coughmoicough). Ha.

Salah satu pembeda antara candi zaman Majapahit akhir dengan pendahulunya di masa kerajaan Hindu-Budha Jawa Tengah, selain struktur candi (candi Jawa Timur cenderung ramping sementara candi Jawa Tengah gemuk pendek) adalah langgam relief candinya. Salah satu unsur unik yang hanya ada di candi zaman Majapahit adalah relief figur bertopi, yang jelas tidak ada di relief candi-candi Jawa Tengah (Borobudur dan Prambanan, sebagai contoh).

Siapakah figur bertopi ini? Mengapa dia hanya ada di candi zaman Majapahit saja? Apa fungsinya? Apa ada kaitan dengan sosio-kultural masyarakat pada saat itu? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang dijawab oleh Bu Lydia Kieven, seorang dosen studi Asia Tenggara di University of Frankfurt dan University of Bonn yang memperoleh gelar doktor PhD dari University of Sydney, seorang yang sudah meneliti relief candi Jawa Timur selama dua puluh tahun dalam buku yang sejatinya merupakan disertasi PhD-nya ini. Jadi saya tidaklah ragu lagi dengan penelitian dan penafsirannya. Hal ini akan saya jelaskan belakangan. Yang jelas, tentunya disertasi ini sudah teruji dan sudah terbukti, kan.

Ups, jadi lupa. Sebagaimana beberapa review buku yang sudah saya baca, lembar belakang buku selalu jadi pembuka dalam setiap review. Izinkan saya melakukan hal serupa untuk dapat disimak:

Buku ini memuat hasil penelitian penggambaran figur laki-laki bertopi di relief candi-candi zaman Majapahit (sekitar 1300-1500 M). Penulis menelusuri apa yang disebutnya sebagai “figur bertopi” di banyak candi dan memperoleh hasil yang mengejutkan tentang makna dan fungsinya. Figur bertopi–yang menampilkan rakyat biasa, pelayan, prajurit, bangsawan, dan terutama Pangeran Panji, pahlawan dari cerita Panji Jawa Timur–adalah tokoh yang unik dalam menggambarkan cerita lokal. Figur bertopi merupakan contoh yang menonjol dari kreativitas zaman Majapahit dalam konsep baru terhadap seni, sastra, dan agama, yang lepas dari pengaruh India. Lebih dari itu, arti simbolis figur bertopi membawa pada tahapan yang hanya diketahui sedikit orang: peziarah yang mengikuti gambaran figur bertopi dan Panji di candi-candi sedang dituntun menuju doktrin Tantra dalam agama Hindu-Budha.

Melalui penjelasan yang termuat dalam figur bertopi, pembaca buku mendapatkan pengertian baru akan fungsi religius di candi-candi di Jawa Timur. Penelitian tentang figur bertopi dan simbolismenya memberikan sumbangan luar biasa dalam memahami keunikan kebudayaan Majapahit.

Buku ini ditujukan kepada para ahli seni rupa, arkeolog, filolog, dan sejarawan yang berminat yang berminat pada Indonesia di masa lampau, khususnya zaman klasik. Namun kalangan luas pun akan memperoleh banyak manfaat dari buku ini, terutama sejak meningkatnya minat pada kearifan lokal Jawa Timur.

Meskipun paragraf terakhir menyiratkan bahwa buku ini sepertinya bukan konsumsi hore-hore di waktu senggang, tapi saya nekad saja, menganggap buku ini juga bisa dibaca saat santai. Dan menurut saya sih memang benar, kita tidak perlu bergelar pegiat seni rupa, arkeolog, filolog, atau sejarawan Indonesia klasik untuk bisa menikmati serta mencerna isi buku ini.

Butiran debu remah-remah roti seperti saya ini pun ternyata bisa, dengan kenekadan tentunya (:hehe), karena buku ini, sebagaimana sudah saya ceritakan di depan, bagaikan sebuah handbook yang mengajak pembacanya mengenal arkeologi serta menelaah relief figur bertopi dari awal sampai akhir cerita di bab-bab belakang.

Buku ini dimulai dengan dua bab awal yang dari bentuk dan sistematika penulisanya menunjukkan asalnya dari sebuah disertasi ilmiah. Kita akan disuguhi tentang siapa itu Pangeran Panji dan bagaimana ceritanya hidup dalam seluruh wilayah kekuasaan Majapahit, dari Pagaruyung sampai Dompo, dan dari Jawa sampai ke Tanah Genting Kra. Beberapa rujukan silang tentang varian cerita Panji yang mem-folklor dalam berbagai judul pun ada, mulai dari Kidung Wangbang Wideya dan Malat dari Bali, sampai ke Hikayat Andaken Penurat dan Hikayat Cekelwanengpati dari Semenanjung Malaya.

Kisah Pangeran Panji dibahas tuntas secara komprehensif dari berbagai segi, namun tidak terlalu mendalam, sekadar memberi gambaran yang cukup bagi pembaca tentang siapa itu Pangeran Panji dan Putri Candakirana dalam dunia sastra dan wayang, dan bagaimana keterkaitan ceritanya dengan sosio-antropologi masyarakat kala itu, sebagai informasi awal yang malah membuat penasaran tentang apa sih rahasianya Panji dalam relief-relief di candi-candi ini? Apa kaitannya? Itulah yang dijawab dalam dua bab pertama.

Namun penafsiran tentang relief tak akan berarti tanpa sedikit diklat singkat tentang arkeologi dan filologi, dan hal itulah yang ada dalam Bab III: Ikonografi Relief Candi Periode Jawa Timur Akhir. Mengkhususkan diri pada candi-candi zaman Majapahit, kita akan disuguhi dengan pembahasan tentang apa itu relief, bagaimana cara membacanya (pradaksina atau prasawya) dan bagaimana menentukan apakah relief candi itu pradaksina atau prasawya atau keduanya.

Selain itu, dijelaskan pula tentang tokoh-tokoh yang umumnya ada dalam relief candi, dari tokoh bangsawan, tokoh rakyat jelata, kadeyan atau punakawan, beserta sikap tubuh mereka yang ternyata punya arti tersendiri (akan banyak istilah “suasana hati erotis”). Latar tempat yang ada dalam relief beserta maknanya pun dijelaskan di sini, bagaimana latar kerajaan akan berbeda dengan latar pasar maupun latar keindahan alam.

Di sinilah, figur bertopi sebagai tokoh utama cerita dijelaskan, tapi masih dalam penjabaran morfologis singkat. Di mana ia biasanya muncul dan dalam posisi yang bagaimana, semua diceritakan dalam tataran empiris. Seperti pengumpulan informasi yang dilakukan oleh detektif, relief ini ada di candi ini dalam panel kesekian dalam posisi seperti ini, kira-kira seperti itulah yang dijelaskan dalam Bab III. Dan walaupun belum mendatanginya langsung dan belum dapat menafsirkannya, paling tidak kita sudah bisa menerka bagaimana posisi dan makna dari posisi tubuh relief para tokoh yang ada di candi-candi zaman Majapahit akhir.

Pembuatan candi dan reliefnya tidak terlepas dari kondisi sosio-religius masyarakat yang ada di zaman Majapahit akhir. Bab inilah, “Candi dalam Konteks Agama dan Politik”, menyorot keberadaan candi dalam keterkaitannya dengan kondisi dinamis masyarakat Jawa Timur saat itu. Dijelaskan tentang latar belakang pembangunan candi, yang ternyata tidak sedangkal pemahaman bahwa candi adalah tempat pemujaan semata.

Lebih dalam dari itu, bab ini menjabarkan agama Hindu-Budha yang berkembang di masyarakat Majapahit kala itu, dengan sedikit pemahaman mengenai ajaran-ajarannya. Pun, sedikit pembicaraan konkordansi antara asas agama yang berlaku di India yang ternyata tidak terlalu sama dengan yang nyata ada di Jawa Timur, meskipun agama Hindunya masih tetap agama tirtha.

Dibahas pula antara ajaran agama dalam hubungannya dengan tata letak dan arsitektur candi, yang menjawab tanya mengapa candi-candi ini ditempatkan pada tempat-tempat tertentu, seperti di pegunungan. Akhirnya, pembahasan ditutup dengan keterkaitan pembangunan candi dengan kondisi politik Majapahit mulai dari zaman Raden Wijaya, Tribhuwana Tunggadewi, puncak kejayaan di zaman Hayam Wuruk sampai kemerosotan yang berpuncak pada suryasengkala “Sirna Ilang Kertaning Bumi”.

Bab ini memberi informasi tentang sistem politik, sistem masyarakat, sistem kepercayaan, dan sistem pembangunan di masyarakat zaman itu, yang memberi landasan teori tentang penafsiran relief candi yang akan dibahas dalam bagian terbesar dalam buku ini. Ibarat kata, tahu dan kenal relief boleh, menafsirkan kegiatan yang dilakukan tokoh dalam relief sudah pintar kita lakukan, tapi kalau belum bisa menghubungkannya dengan mata rantai dinamika masyarakat kala itu, penafsiran yang dilakukan hanya akan berarti dangkal tanpa makna.

Setelah semua cukup, barulah perjalanan dilanjutkan dengan inventarisasi candi-candi zaman Majapahit yang memuat figur bertopi.

Dari sekian banyak candi di zaman Majapahit, hanya beberapa yang akan dibahas, candi-candi yang reliefnya masih lengkap dan dokumentasinya masih terjaga dengan baik, atau candi pendharmaan yang berhubung beberapa candi lain sudah rusak termakan usia atau reliefnya hilang dicuri. Candi-candi terpilih tersebut adalah:

  • Candi Jago (1268 M Arsitektur, 1350 M Renovasi);
  • Candi Panataran (1197 M–1454 M);
  • Candi Surowono (1350 M–1365 M);
  • Candi Mirigambar (1388 M–1399 M);
  • Candi-candi di Gunung Penanggungan (dari seratusan situs, hanya dipilih tiga: Candi Kendalisodo, Candi Yudha, beserta arca Panji dari Candi Selokelir).

Pembahasan tentang para nominasi itulah, yang menjadi topik besar nan mendominasi setengah tebal buku. Pembahasan yang sangat mendetail, komprehensif, disertai rujukan silang dalam berbagai karya sastra pada zaman itu dan referensi tentang makna yang terkandung dalam arsitektur dan tata letak candi, serta relief-reliefnya.

Lebih khusus lagi tentang makna figur bertopi dalam tokoh utama cerita, dari aspek empiris serta sosio-kultural masyarakat yang hidup dalam masa Majapahit akhir. Tidak melulu pada waktu candi itu diresmikan, namun pembahasan merentang terus, satu sama lain, menjadi kesatuan yang padu, dari masa ketika Raden Wijaya membuka hutan maja sampai perang pendudukan Demak atas kekuasaan Majapahit, hingga musnahnya, lagi-lagi, pada masa Sirna Ilang Kertaning Bumi.

Bagian bab yang sebenarnya hanyalah bagian kecil dari monograf kerajaan Majapahit, namun bagian yang sama sudah mampu membius saya, membuat saya terbengong-bengong karena kehabisan decakan kagum, disertai banyak jam yang saya habiskan untuk mengkhayal bagaimana jika saya berada di sana.

Umumnya, pembahasan dimulai tentang pembahasan keberadaan candi secara umum. Fakta-fakta sejarah tentang kapan candi itu dibangun, apa fungsi candi ini, serta penjelasan umum tentang tata letak serta arsitektur bangunan.

Barulah penjelasan berlanjut tentang relief candi, tentang tokoh dan lakon yang ditampilkan, plus penafsiran mengenai segala hal sampai pada hal terkecil seperti mengapa adegannya dipisahkan dengan relief pohon berpilin dan mengapa penataan reliefnya seolah tidak teratur. Begitu detail dan begitu mendalam, sampai saya merasa seperti membaca buku panduan bagaimana tata cara berkunjung ke suatu candi dengan baik dan benar, sama dengan apa yang dilakukan para pendahulu berabad-abad silam.

Akhirnya, pembahasan ditutup dengan kesimpulan komplet tentang apa makna dan fungsi figur bertopi dalam relief candi tersebut, tentu terkait dengan relief naratif yang digambarkan si pemahat dalam candi.

Membaca buku ini seperti mendapat sebuah pandangan baru yang agaknya mendobrak pemahaman lama tentang candi sebagai tempat pemujaan. Candi memang tempat pemujaan, tapi sebenarnya ajaran yang terdapat di dalamnya lebih dari itu.

Sumpah, membaca buku ini dan menelisik tentang Pangeran Panji seperti punya seorang pemandu yang membawa wisatawan mengerti membaca relief dari candi-candi terpilih itu. Si pemandu yang sangat pandai, karena ia pun mampu menyitir kembali pupuh-pupuh Desawarnana atau Serat Centhini yang ternyata mendeskripsikan fakta tersembunyi tentang candi dimaksud. Wuaduh, saya kehabisan stok sanjungan untuk mendeskripsikan buku ini. Saat membaca dan menyaksikan foto-foto reliefnya, saya serasa kepingin loncat-loncat, kepingin datang sendiri dan menyaksikannya langsung!

Saya penasaran dengan semua candi, tapi paling pol sih penasarannya dengan Candi Panataran, tentang bagaimana urutan tempat yang harus didatangi kalau kepingin mengunjungi candi itu supaya dapat maknanya secara penuh, mulai dari Petirtaan Luar, Teras Pendopo, Candi Angka Tahun (candi yang sering digambarkan foto sebagai Candi Panataran), Teras Pendopo Kecil, Candi Naga, sampai pada Candi Induk dan akhirnya turun lagi ke Petirtaan Dalam.

Belum lagi dengan Gunung Penanggungan. Gunung yang dilegendakan mirip sekali dengan Gunung Meru mitis, dengan satu puncak utama dan delapan puncak yang lebih kecil (dinamakan bukit). Sampai heran, kok ya bisa begitu persis? Dan ternyata di sana diperkirakan terdapat lebih dari seratus situs peribadatan dan pertapaan yang belum seluruhnya ditemukan, yang uniknya, ternyata dibangun di pertengahan abad ke-15, ketika Majapahit sudah musnah. Beberapa di antaranya dibahas di sini, terutama candi yang memiliki relief. Waa waa waa waa.

Semangat membaca ini seperti anak kecil yang baru ketemu mainan baru. Harus datang dan harus menyaksikan sendiri! :hehe. Ibarat kata, harus kenalan langsung dengan Pangeran Panji, soalnya cerita orang saja sangat tidak cukup.

Tapi… di beberapa paragraf, membaca buku ini juga bagaikan tamparan. Tidak perlu jauh-jauh, sih. Dari pengarangnya saja. Bu Lydia Kieven jelas bukan orang Indonesia. Tapi ia peduli dengan Indonesia, peduli dengan peninggalan budaya Indonesia. Meneliti relief Indonesia selama dua puluh tahun. Saya jadi bertanya-tanya, ke mana orang Indonesianya?

Bahkan penerbit buku ini pun tidak tunggal, harus ada kerja sama (dan embel-embel “bantuan”) pihak asing, terlebih lagi ini kedutaan besar negara asing.

Halo?

Yang lebih sering dijadikan rujukan dalam buku ini juga kebanyakan nama-nama asing, seperti Adrian Vickers (pengumpul dan penyunting travelogue “Bali Tempoe Doeloe” yang membuat saya ternganga-nganga tentang Bali), J.L.A. Brandes (orang yang “menyelematkan” Desawarnana dari kebakaran di Lombok), dan yang lainnya, misalnya saja Marijke J. Klokke, P.V. van Stein Callenfels, dan W.F. Stutterheim. Memang ada orang Indonesia yang juga menjadi arkeolog handal seperti Satyawati Suleiman dan beberapa nama lain, buku ini juga merujuk beberapa di antaranya, tapi entah, menurut saya, senasib dengan cendekia Indonesia lainnya, di kalangan masyarakat Indonesia sendiri mereka belum begitu terdengar namanya.

Apakah arkeolog dan arkeologi juga seperti hakikat ilmunya, terbenam dalam tanah dan pasir, karenanya seseorang harus menggali jauh untuk bisa menemukannya? Ataukah orang-orang lebih suka menyitir nama-nama asing, supaya terdengar keren dan lebih dipercaya?

Semoga saja saya salah. Semoga saja semuanya karena sayanya saja yang belum tahu :)).

Dan tamparan paling keras dilancarkan oleh kondisi situs candi yang mengenaskan. Beberapa (puluh) panel relief hilang entah ke mana dan berakhir di tangan siapa. Beberapa relief hancur tak terbaca, beberapa yang masih beruntung selamat cuma meninggalkan penggambaran kaki. Terutama di situs Gunung Penanggungan. Interpretasi relief dilakukan dengan foto yang diambil pemerintah kolonial pada saat situs tersebut pertama kali ditemukan.

Bahkan di Candi Yudha, sebagian besar panel relief yang masih lengkap pada tahun 1951 sudah lenyap per tahun 1996 (halaman 364). Interpretasi cuma bisa dilakukan via imaji maya. Patung-patung Grogol, berjumlah tiga buah, masih lengkap saat pemotretan tahun 1902 tapi sekarang sudah hilang satu, dan yang hilang adalah Patung Panji, patung yang paling utama.

Yah, demikianlah situasinya kini. Semoga saat saya datang ke sana nanti, semua masih ada sisanya untuk saya saksikan dan saya ajak berkenalan. Sepertinya tujuan pertama adalah Candi Panataran di Blitar, karena candi itu masih lengkap. Paling penasaran dengan relief Teras Pendopo yang ada sekitar delapan puluh panel relief dan sembilan narasi.

Saya memberi nilai tinggi pada buku ini, dan Pangeran Panji, yang ternyata merupakan pemandu yang sangat baik di candi-candi itu. Pemandu dalam menelusuri candi dan menyerap makna yang ada di dalamnya. Kadang ia menjadi tokoh utama yang menuntun pengunjung, kadang ia bahkan tak tampak dalam relief karena tugasnya sebagai pemandu telah usai, meski sebenarnya ia tidak meninggalkan, karena begitu si pengunjung sadar reliefnya telah meninggalkannya kembali dalam kesendirian, ia masih ada di sana, siap memandu pengunjung menyelesaikan perjalanan religiusnya.

Sama banget sih dengan saya (numpang curhat).

Yang jelas, dipedulikan atau tidak, ia tetap ada di sana, memastikan pengunjung dan semua sahabat yang menyambanginya tidak salah dalam melangkah, tidak salah dalam menyesap makna. Pangeran Panji dan lakonnya datang di waktu yang tepat dengan ceritanya yang melipur, bersesuaian dengan kehidupan sehari-hari, menyusupkan ajaran-ajaran agama di dalamnya, memastikan pengunjung candi tidak merasa sepi, kendati hubungan dengan Tuhan adalah hubungan privat yang paling pribadi.

Cerita kehidupan yang ada sedih, ada tawa, ada kenikmatan (ehem, hati-hati) dan keterpisahan dalam cinta, yang semuanya memberi pelajaran berharga, menjadikan setiap jejak kaki menyusuri candi adalah jejak-jejak tanpa ketersia-siaan, karena setelah meninggalkan tempat itu, jejak-jejak yang ada adalah jejak-jejak orang yang kaya akan pengetahuan dan pengertian terhadap hidup dan semua hakikatnya.

Anyway, untuk saya pribadi, saya sangat berharap hari itu akan tiba, ketika saya bisa datang ke candi-candi itu.

Selamat menyesap sejarah!


Jakarta, 7 April 2014.

Ditulis oleh bocah setengah kesurupan yang masih menghitung masa
untuk berpetualang menuju candi tertua di timur Jawa
dan mengekspresikan kegilaannya terhadap foto-foto di album tua
yang tak sengaja bersua ketika berselancar di dunia maya :haha.

57 thoughts on “Berkas Jejak Sang Pemandu Jejak

  1. Jadi sedih mengetahui fakta bahwa kekayaan budaya Indonesia justru banyak diteliti oleh orang asing :(.

    Buku yang sepertinya komprehensif dan menarik. Jangan-jangan aku juga ikut kecanduan kalau baca bukunya..haha. Yang jelas, buku ini ada di tangan orang yang tepat untuk bisa dirangkum menjadi sebuah ulasan yang asyik dibaca seperti ini d^^b.

    1. Yah, kalau kita mau sinis, mungkin kita orang indonesia punya urusan yang lebih penting ketimbang meneliti relief candi. Tapi semoga saja tidak demikian :hehe.
      Terima kasih banyak Mi :)).

  2. Aku selalu ambil tour guide kalau ngeliat candi bli, karna pengen tahu kisahnya. Selalu penasaran sama relief relief dan ga rela kalau pulang dari berkunjung ga tau kisah di balik candi itu.

    Aku mau tau kisah lebih dalam soal pangeran panji! Googling ah!

    1. Sip, kisah panji memang sekarang seperti jadi tren di kalangan arkeolog. Saya juga masih mencari sumber lain untuk bisa saya gali, tapi yang paling pol sih memang datang langsung ke candinya :hehe.

  3. keren bukunya ya sepertinya, berbobot dan banyak informasi 🙂

    Sebenarnya untuk ada nama asing di buku seperti ini bukan berarti melulu kita jadi pecinta asing – imho ya. Bisa jadi data mereka lebih lengkap saking cinta dan pedulinya sama Indonesia.

    Ini di salah satu musium di Rotterdam sudah beberapa bulan ini ada pameran khusus mengenai koleksi emas dari masa kerajaan Jawa. Aku lagi penasaran siapa private collectornya..tapi yah bangsa sendiri gak peduli untuk menggali hal ini..malahan Belanda duluan.. 🙁

    Ini link ke youtube tentang pameran yg aku bilang itu..kalau kegedean video-nya di-delete aja link-nya yaaa..

    1. Ya Mbak, mereka punya data yang lebih lengkap dan kecintaan dan kepedulian mereka harus diakui lebih besar untuk saat ini :)).
      Wow… terima kasih banyak atas link-nya Mbak. Akan saya cek. Khazanah emas Jawa itu memang kadang bagi saya di luar nalar, pada masa itu tapi bisa menghasilkan perhiasan dengan ukiran dan kerumitan tingkat tinggi :)).

  4. waaah…, Gara makasih ya dibuatin reviewnya, thanks for the link too,
    pastinya aku akan cari buku ini juga, my kind of book banget he..he..

    cerita Panji ini memang banyak versi banget ya, aku pernah baca ulasan tentang ini, karena si Raden Panji ini waktu nyari Sang putri musti nyamar jadi apa aja ..
    jadi ingat ada cerita Panji juga di wayang Beber dari daerah asal pak SBY (jadi koleksinya Museum Wayang)

    1. Iya Mbak, di buku ini juga dijelaskan Pangeran Panji kadang menyamar menjadi pertapa, atau ia yang pergi bertapa sebelum menemui kekasihnya. Cinta dalam keterpisahan dan cinta dalam kenikmatan adalah tema dominan yang ada dalam buku ini.
      Eh ada di Museum Wayang ya Mbak? Di sebelah mana? Doh, ya begini deh kalau setiap masuk Museum Wayang tapi cuma bengong-bengong di depan makamnya J.P.Coen, jadi tidak tahu koleksi yang lainnya :hehe.
      Mohon maaf sekali karena ini baru saya balas ya, Mbak. Dari kemarin saya mesti bedrest dan balas komentarnya baru mulai lagi hari ini :hehe. Maaf sekali :)).

  5. Berbeda dengan di sini, karena Hindu-Budha nampaknya ga laku di sini, sehingga langka banget ada candi di Tatar Sunda.
    Berarti Bang Gara ini suka juga buku-buku terbitan Komunitas Bambu ya?

    1. Iya ya, candi di Tatar Sunda setahu saya Candi Cangkuang saja… terus prasastinya ada Prasasti Batutulis di Bogor ya Kang :)). Yap, suka, kemarin saya baru borong beberapa bukunya :hehe.

  6. Ahhh dulu mau beli buku ini ragu mlulu… ternyata bagus yah. Besok coba cari wes 😀
    Pas main ke Candi Penataran memang lihat bbrp relief sosok bertopi tsb, bingung dia itu siapa? Lupa lupa ingat, sepertinya Candi Sukuh punya relief sosok bertopi juga, Gara.

    1. Nah, di dalam buku ini juga ada komentar tentang figur di Candi Sukuh itu, Mas. Tapi sebaiknya saya rahasiakan biar tidak spoiler :hehe. Waa waa jadi tambah penasaran nih dengan semuanya :)).

  7. Gara, kagum berkali-kali membaca tulisan ini. Mulai dari ternganga mengetahui isi bukunya dan kemudian membaca isi postingannya. Salut sudah bisa menyelesaikan membaca dan membuat review lengkapnya. Malu euy membandingkan dengan postingan kamis bukudi blog sendiri. Hahaha.
    Btw gw kagum banget dengan keberlanjutan pemikiran dan fokus yang lu miliki Gar. Sungguh. Seluruh isi postingan mengalir dan gak kehilangan fokus. Kereeennn!!!

    1. Saya pun menghabiskan waktu yang lumayan lama untuk bisa menyelesaikan buku ini, Mbak, tapi sepadan dengan pemahaman yang tersangkut di dalam kepala saya, meski itu belumlah seberapa :)).
      Terima kasih banyak, Mbak :)).

  8. sekali lagi thank you for the link ya
    ada seri terjemahan arkeologi Gar..? pengen cari ah..

    cerita soal panji ini katanya banyak versi beredar di Jawa Timur ya, dalam pengelanaan cari sang putri panji menyamar jadi orang yg berbeda2 (pernah baca liputan soal ini .., di Tempo kalau nggak salah…duluu)
    salah satunya tentang panji ini aku pernah liat di wayang beber Pacitan di Museum Wayang

    1. Iya Mbak, sama-sama. Mbak, mohon maaf, yang komentar kemarin sebenarnya masuk, tapi komentarnya pending dan belum sempat saya approve soalnya saya sakit dan harus bedrest beberapa hari. Ini juga baru mulai balesin komentar lagi :hehe. Mohon maaf ya Mbak :)).
      Sama banget, Mbak. Saya juga penasaran sekali dengan serial arkeologi itu :hehe. Dan benar sekali Mbak, cerita Panji ini jadi salah satu cerita yang digambarkan dalam wayang beber Jawa di zaman Majapahit akhir :)).

    1. Soalnya saya penasaran dengan relief candi, Feb. Kepingij banget berkunjung ke satu candi. Belum pernah kunjung ke candi mana-mana soalnya :hehe :malu.
      Kebetulan ada buku ini waktu main ke toko buku, jadi diambil saja :hehe. Berat, ya saya akui agak berat… tapi kalau dibaca pelan-pelan, pasti bisa paham. Saya juga lama nih baca bukunya, soalnya mesti pelan-pelan banget biar dapet maksudnya si penulis :hehe.

  9. Kesukaan ku nih Gar, tentang sejarah.. Masukin ke list buku ah.. Hihihi.. 😛

    Aku pun pengen banget ngunjungin candi-candi.. Entah kenapa selalu merasa ada sesuatu kalok ke sana.. Tapi sayang pas kemaren ke Jogja ngga mau ke Prambanan karena ada Roro Jonggrang.. Hahah.. 😀 Aku masih percaya mitos 😛

  10. Bacaannya berat ya Bli, tapi syukurlah masih ada orang Indonesia yang bersedia mengungkapkan isi buku ini secara ringkas.
    Iya, candi bisa menjadi petunjuk tentang peradaban di Indonesia di waktu dahulu. Keren, mau ikutan baca

    1. Wow, terima kasih sekali! Saya sekarang sedang melihat gambar-gambar di link itu–ya, memang lebih jelas.
      Buku ini bisa dibilang menjadikan saya suka dengan sejarah dan arkeologi–meski latar belakang akademis saya sama sekali bertolak belakang. Sekali lagi terima kasih!

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!