Berita Buku Buat Teman Baru

Sebelum saya bertutur-tutur, Mas Ade, terlebih dulu saya mohon izin untuk ikut give-away tentang buku pertama yang dibaca. Dan sekali lagi saya mau minta maaf gara-gara postingannya telat :huhu. Tapi saya sudah bikin, kok! Cuma publish-nya yang telat… sama saja, ya? Maaf… :huhu.

Kalau saya boleh jujur, saya tidak terlalu pasti apakah buku ini adalah yang pertama saya baca. Namun yang jelas, buku ini adalah buku yang pertama kali membekas di benak saya, sejauh yang saya ingat (tolong jangan gampar saya, ya :peace).

Saya ingat, berpuluh tahun lalu, saya, seorang anak kecil, umur lima tahun, ada dalam masa asyik-asyiknya membaca buku, tentang apa saja. Yang jelas buku yang saya baca bukan buku baru, karena orang tuanya tidaklah begitu berada untuk membelikannya buku sedemikian, kendati dia sangat ingin punya buku baru dengan kertas harum percetakan, sampul berkilat tanpa kertas menguning dan bagian-bagian halaman yang robek. Tapi ya sudahlah, yang penting kan isinya.

Saya betul-betul menikmati saat-saat membaca. Sebuah buku akan menjadi satu film baru di atas kepala. Semua tokohnya akan bermain dalam dunia buku itu, dunia yang kalau saya bayangkan adalah dunia sempurna tempat semua ada dari alfa sampai omega. Saya bisa menghabiskan waktu berjuta-juta detik dalam setiap kesempatan yang saya bisa hanya dengan memandangi huruf-huruf yang sedikit demi sedikit menjelma menjadi adegan di dalam kepala saya.

Bagi saya saat itu, buku adalah pelarian. Dari dunia yang menurut saya kejam karena saya dulu ketakutan setengah mati dengan orang asing. Kalau saya boleh cerita, ketika saya melihat orang-orang itu tersenyum, mereka seperti menyeringai seram. Cuma orang tua dan kakak saya yang saya kenal dapat saya hadapi dengan tenang. Selebihnya mengetahui saya sebagai anak dengan histeria ekstrem. Bahkan ketika saya bertemu paman dan bibi sendiri, saya akan menangis, berteriak dan sembunyi di belakang kursi :hihi :peace.

Itu dulu. Saya yang sekarang sudah jauh lebih baik kalau menghadapi orang asing (meski kadang masih suka gemetaran dan gagapnya jadi dua kali lipat, sih) :haha.

Nah, saat-saat gelap di belakang kursi itulah yang saya habiskan dengan membaca. Buku pertama yang dapat saya ingat, selain tumpuk-tumpukan bundel majalah Trubus yang gambar flora dan faunanya mengenalkan saya dengan nama latin, dan majalah Bobo bundel bulan Agustus 1986, adalah buku ini.

Trio Detektif: Misteri Merpati Berjari Dua.

Trio Detektif. Sumber gambar: goodreads.com.
Trio Detektif. Sumber gambar: goodreads.com.

Saya lupa sudah buku itu tentang apa. Saya cuma ingat beberapa adegannya :hehe. Adegan tentang merpati dan mutiara. Adegan tentang Jupe yang heran karena roti yang ia makan sudah habis dan piringnya licin tandas. Ha, samar sudah itu di kepala ini :hihi.

Yang saya ingat hanya buku ini cerita detektif dengan tiga tokoh utama. Jupiter Jones, si gempal yang genius, pintar dengan segala teka-teki tapi sangat parah kalau sudah menyangkut kegiatan fisik. Pete Crenshaw, si atletis dengan badan kekar (dan deskripsi itu akan diulang dan diulang dalam setiap edisi bukunya) yang kadang… dungu, dan Bob Andrews, anak pendek berkacamata yang ahli di bidang riset dan fotografi. Dalam buku Misteri Karang Bencana, kelihaiannya dengan insiden negatif foto membuat penampakan pelaut di Rocky Beach dapat dijelaskan.

Saya paling ingat dengan yang satu itu (saya baca berkali-kali), tapi saya tidak menceritakannya karena yang diminta kan buku pertama, kalau saya tidak salah… iya, kan? :hihi.

Saya ingat sudah baca beberapa serial Trio Detektif. Misteri Merpati Berjari Dua, Misteri Labah-Labah Perak, Misteri Karang Bencana, Misteri Bisikan Mumi, dan beberapa Trio Detektif dalam edisi novelnya yang lain, novel itu kalau tidak salah membahas tentang bisnis ayam goreng tepung. Dari sana saya kenal kata “karsinogen” yang ditulis “carcinogen” tapi saya belum tahu artinya :haha.

Saya dulu kepingin sekali punya semua edisi Trio Detektif. Ada empat puluhan serialnya, dan saya cuma punya beberapa. Mau minta untuk dibelikan, saya tidak berani, karena orang tua saya punya pos-pos pengeluaran yang lebih penting. Buku-buku yang saya baca itu pun kebanyakan pemberian. Sering saya menghabiskan waktu menatap lekat-lekat beberapa lembar terakhir buku yang oleh penerbitnya disisipkan sampul-sampul dari judul-judul lainnya, sambil menerawang: ini bukunya tentang misteri apa, ya…

Sampai sekarang pun kebiasaan itu belum hilang :hehe.

OK! Demikian buku pertama saya. Next, untuk buku yang saya rekomendasikan. Hm… ini agak susah sebenarnya, karena saya tidak begitu paham selera Mas Ade dan saya tidak yakin kalau Mas Ade suka novel, soalnya saya pernah dengar langsung di sebuah titik dekat eskalator Gramedia Matraman (ha!) kalau Mas kurang suka baca novel :haha. Tapi berhubung yang saya punya semuanya novel, maka dalam bagian ini saya akan mengusulkan sebuah novel juga. Sebuah novel yang, kalau saya boleh berbangga, belum ada di toko buku mana pun di negeri ini.

Karena ini novel ciptaan saya sendiri.

_MG_4765
In 10 Days :)). Dengan sinopsis panjangnya.

Judul aslinya adalah 10 Days Before I Die. Saat novel ini mau saya kirim ke penerbit, judul, tokoh, dan beberapa bagian besar ceritanya saya ganti. Sekarang novel ini berjudul “In 10 Days.” Dengan jumlah halaman yang masih sama dengan cerita pendahulunya, 135 halaman A4. Yang saya selesaikan ketik dalam waktu 8 hari, langsung, itu cuma tidurnya 2 atau 3 jam sehari. Kebetulan dulu saat saya membuat ini, yang dimulai 24 Desember 2010, sedang libur panjang, jadi saya yang sendirian di kamar kos ini habis-habisan saja menjajah kesendirian dengan mengetik cerita.

Rasanya bangga sekali bisa menyelesaikan satu novel. Meskipun harus dibayar dengan muka tirus, berat badan turun drastis dan pikiran yang rada linglung karena saya delapan hari itu seperti orang kesurupan yang suka ngomong sendiri terus mengetik-ketik cerita. Kadang ketawa sendiri, dan nangis saat saya mengetik surat terakhir (ups, spoiler). Yah, mungkin itu kali ya yang orang-orang bilang proses kreatif :hehe.

Tapi saya sangat bahagia, karena saya akhirnya bisa masuk ke dalam kepala sendiri dan jadi sutradara untuk semua tokoh yang bermain di dalam kepala saya, tidak jadi penonton semata :hehe.

Cerita ini… tentang perasaan. Dinamika psikologi antara seorang suami dan istrinya, dua insan yang dibayang-bayangi Malaikat Maut. Ketakutan akan kematian, kisah tentang firasat dan pertanda, ketidakpercayaan tentang bayang-bayang akan masa depan, pertanyaan seputar mimpi, penantian, yang akhirnya harus diselesaikan dengan… oops, rahasia. Tunggu saja di toko buku kalau seandainya suatu hari nanti buku ini bangun dari tidur panjangnya dan diputuskan lolos ke penerbit :hihi :amin.

Tapi kemarin dua penerbit sudah menolaknya, sih :hehe.

Sekadar sneak peek dan membuat penasaran aduh pedenya, berikut saya sampaikan sinopsis pendek dari cerita itu. Semoga berkenan :hehe.


Semua berawal ketika Ryuta bermimpi melihat istrinya dalam peti mati. Perasaan gundah, takut, dan gelisah, muncul entah dari mana, memenuhi relung hatinya dan membuatnya merasa tersiksa. Ia mencoba mengabaikannya, meski sulit.

“Tidak ada apa-apa. Tidak akan ada apa-apa.”

Namun, firasat dan berbagai pertanda terjadi makin sering, membuatnya tak bisa mengabaikan perasaan hitam itu, bagaimanapun dia mencoba.

“Sebenarnya apa yang akan terjadi?”

Dan, di atas semua itu, tiba-tiba saja Sayaka merubah sikapnya. Seratus delapan puluh derajat. Sebelumnya, Ryuta adalah penghancur kehidupan bagi wanita itu. Meskipun mereka tinggal bersama, dua orang ini tak pernah bertegur sapa. Padahal ada ikatan pernikahan di antara mereka. Tapi sekarang, Sayaka berubah. Itu tidak membuat Ryuta bertambah senang, karena, perasaan yang menyiksa itu tumbuh semakin cepat dan ganas, mengalahkan kebahagiaannya.

Untungnya Ryuta bisa mengingatkan diri sendiri, setidaknya ia harus terus mencoba mengabaikannya. Ia mencoba berpikir rasional. Dia mencoba bahagia dan optimis dengan perubahan sikap itu. Tidak mengacuhkan apa pun yang menghambatnya, dia mencoba melakukan sesuatu yang terbaik: memperbaiki hubungan mereka.

Sebelum semua terlambat, karena secara tidak sadar Ryuta mengikuti batas waktu yang diberikan dunia:

Sepuluh hari.


Yep, demikian. Selamat membaca!

Satu gambar terakhir.
Satu gambar terakhir.

57 thoughts on “Berita Buku Buat Teman Baru

  1. Terima kasih banyak Mbak 🙂
    Saya dulu suka banget dengan jejepangan Mbak. Walhasil tulisan saya dulu semuanya rada berjepang :hehe :peace.

  2. Wow, hebat sekali usia 5 tahun bacaannya serial detektif :). Amazing!

    Buku pertama yang kubaca apa ya? Rasanya buku bergambar tentang mengenal bentuk dan warna (sangat anak-anak 😀 ). Lembarannya tebal karena dibuat dari karton (seperti bahan hardcover) dan warnanya menarik. Jadi pengen posting tentang buku itu kapan-kapan.

    Semoga novelnya bisa terbit, Bli Gara. Dari sinopsis sepertinya menarik :).

    1. Dulu sih ambisinya menerbitkan di penerbit yang punya chain toko buku itu, Kak. Tapi dia menolak. Satu lagi penerbit indie, yang menerima pengiriman naskah via e-mail. Belum terlalu terlihat sih novel-novel terbitan penerbit kedua ini.

    1. Iya, harus tahan mengajukan naskah ini lagi dan lagi. Tapi saya yakin naskah ini pasti ada jodohnya :hehe. Tinggal soal waktu yang tepat saja.
      Terima kasih atas semangatnya, Mas :)).

  3. Buku pertamaku? Pippi Hendak Berlayar, warna merah terbitan Gramedia.
    Kebadungannya meninggalkan kesan banget sampai sekarang, mungkin kenekatan jalan2 juga gara2 baca ini 😀

    1. Pippi Long Stocking ya, Mbak? Saya belum pernah baca bukunya, tapi pernah nonton flm kartunnya.
      Saya yakin bukunya juga pasti inspiratif sekali, karena bisa menggugah Mbak untuk jadi pejalan! :hehe.

  4. wah telat ngukutinya, semoga novelnya bsa diterima dipenerbit ya ger,,ko sama gue juga udh ditolak penerbit 3 kali dgn alasan follower twitter kurang banyak hehe

  5. Trio Detektif ya? Aku lupa perasaan pernah baca buku itu pas aku SD. Yang paling aku ingat dulu suka banget baca Kasus Untuk STOP (Sporty, T…, O…, Petra). Dan sebagian tulisan Enyd Bliton (bener gak nih nulisnya?).

    Oya Bli, aku baru saja nyampe Pulau Jawa. Sekarang lagi di Tangerang tempat pamanku. Mungkin baru beberapa hari lagi ke Bogor. Boleh nggak aku beli novel In 10 Days? Kita ketemuan yuks! 🙂

    Soal penerbit, kenapa enggak gabung di Forum Lingkar Pena? Atau sudah coba kirim ke Diva Press? Aku punya sahabat yang sudah menerbitkan banyak novel karyanya (Sekelopak Bunga Sakura, Salju di Langit Seoul, Selembar Daun Momiji, dll), semua karyanya bertema Jepang dan Korea. Namanya Aris Kurniawan, nama pena Arizu Kazura. Karya-karyanya diterbitkan oleh Diva Press semua. Katanya sih, Diva Press welcome banget terhadap novel bertema Asia. Coba deh Bli kirim ke penerbit itu.

    1. Yap, Enyd Bliton 🙂
      Waa. Tangerang! Agak jauh, ya… :hehe. Berapa hari di Jawa? Tentu saya mau ketemuan, tapi saya bisanya hanya akhir pekan, hari kerja saya susah ada waktu luang, Mas :hehe. Dan soal novel, astaga, terima kasih sekali sudah berniat membeli, tapi jangan repot-repot Mas, kirimkan saja saya alamat e-mail dan saya akan mengirimkannya ke alamat e-mail Mas :hehe.
      Diva Press ya? Baru dengar saya Mas :malu. Oke, mungkin hari ini saya mau cari-cari informasi soal penerbit itu :). Terima kasih banyak atas semua informasinya ya, Mas! :hehe

  6. wahhh penggemar serial trio detektif ya…
    saya dulu juga lho. punya hampir lengkap bukunya. kayaknya cuma kurang 2 atau 3 buku aja. 😀
    asik banget baca trio detektif itu. sampe dibaca berulang2 kali tetep aja seru.
    tapi akhirnya karena udah gak sempet baca lagi akhirnya dijual. hehehe.

    1. Sekarang sudah jarang terlihat serial itu, Kak. Mesti cari di toko buku loakan baru ada kemungkinan dapat :hehe.
      Dijual… (untuk sementara tercenung). Wah, siapa tahu kalau saya hunting di toko buku bekas terus ketemu buku-bukumu, Kak :haha :random.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?