Arca Singa Stambha #3: Malang dan Sejarah Kerajaan Airlangga

Apa yang terjadi di tahun 941, sedemikian sehingga sebuah singa besar seberat satu ton mesti dibuat dan diberi pengingat tulisan angka tahun? Saya menolak tafsiran bahwa singa itu hanya “milik rakyat jelata” dan “dibuat dengan proporsi asal-asalan”. Pasti ada sesuatu di balik singa itu, yang tersembunyi di balik angka tahun 941. Cuma singa dan angka tahun 941 petunjuk yang saya miliki, jadi saya mesti mengolah semua dari sana.

Ternyata ada sebuah prasasti yang menyebut angka tahun 941 (atau 1019 M). Prasasti itu adalah Prasasti Pucangan, berangka tahun 1037 M dan 1041 M, yang kini disimpan di Kalkuta, India. Baik sisi berbahasa Sansekerta (1037 M) dan sisi berbahasa Jawa Kuno (1041 M) sama-sama menyebut bahwa tahun 941 Saka adalah penobatan Airlangga sebagai raja.

arca-singa-stambha-sejarah-kerajaan-airlangga
Inilah arcanya.

“Jangan-jangan singa ini adalah batu peringatan penobatan Airlangga sebagai raja?” saya berdesis.

“Hah?” Curio tampak sangat kebingungan.

Memang belum ada buku yang saya baca pernah mengaitkan antara sejarah kerajaan Airlangga dan singa secara spesifik, selain kutipan dari Prasasti Pucangan itu. Namun George Coedes mengambil terjemahan yang sama sekali berbeda. Dalam bukunya, “Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha”, tulisan beliau diterjemahkan sebagai:

“Pada tahun 1037 M, Airlangga, ‘setelah meletakkan kakinya di atas kepala musuh-musuhnya, mengambil tempat di atas tahta singa-singa, yang dihiasi ratna mutumanikam”.

Penelusuran lebih lanjut atas “tahta singa-singa” di SNI II menunjukkan bahwa dalam babon sejarah Indonesia itu, terjemahan Prasasti Pucangan tersebut ditulis sebagai “singgasana”, maksudnya tahta raja. Namun, alih-alih mengartikan singgasana sebagai tahta raja, bukankah mungkin bahwa singgasana berasal dari dua kata, singgha dan asana, yang secara harfiah berarti tempat duduk yang dihiasi singa-singa?

Memang, menurut prasasti itu, Airlangga baru secara resmi “mengambil tempat di atas tahta singa-singa” pada tahun 959 Saka (1037 M). Hal ini diperingati dengan dipahatnya bagian Sansekerta dari Prasasti Pucangan. Namun, jangan lupa, kerajaan Airlangga secara resmi berawal saat penobatannya, tahun 941 Saka. Arti penting 1037 M dalam sejarah kerajaan Airlangga tak lain adalah karena di tahun itulah (1037) ia selesai mengalahkan musuh-musuh. Konsolidasi kerajaan telah usai. Dengan demikian, ia dapat memerintah dengan tenang.

Saya membayangkan penobatan Airlangga sebagai raja, meski dilakukan di tengah keprihatinan, tetap memerlukan sebuah pertanda. Airlangga itu sebenarnya narsis; ia banyak menurunkan peninggalan yang mayoritas bentuk legitimasi dirinya sebagai raja yang sah. Buktinya, terdapat puluhan prasasti dan sebuah kakawin memuji-muji dirinya. Tentu akan sangat janggal kalau di hari sepenting penobatan sebagai raja ia tidak membuat sesuatu sebagai pengingat.

Dengan demikian, sangatlah potensial apabila di masa itu, arca singa ini dijadikan pengingat tahta raja. Ia membuktikan pada dunia, bahwa bahkan singa sang raja hutan pun (ini juga sebenarnya petunjuk lain lagi) bertekuk lutut pada kerajaan Airlangga.

Pertanyaannya sekarang, di mana Airlangga dinobatkan sebagai raja? Apakah ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa Malang adalah tempat kejadian itu? Atau setidak-tidaknya, jika penobatan tidak berlangsung di Malang, dapatkah saya menempatkan arca singa ini sebagai kenang-kenangan Malang untuk penobatan Airlangga?

Awal Sejarah Airlangga: Pernikahan Tragis

Masih banyak sejarawan berdebat mengenai soal ini. Beberapa fakta sejarah yang telah ditemukan tidak bisa memberi kepastian, sehingga terbuka ruang penafsiran yang seluas-luasnya tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Saking luasnya, penafsiran pada buku yang satu berbeda dengan buku yang lain. Perbedaan itu juga memungkinkan siapa pun, termasuk saya, untuk membuat penafsiran sendiri.

Tapi mari menginventarisasi hal-hal yang sudah kita ketahui. Mari mulai dengan cerita singkat soal apa yang terjadi sejak Airlangga menjejakkan kaki di tanah Jawa untuk pertama kalinya, sampai ke penobatannya sebagai raja dalam pelarian.

Pada 1006, Airlangga diutus ibunya untuk pergi ke Jawa. Ia mesti bertolak ke kerajaan Dharmawangsa Teguh untuk menikahi putrinya, sang putri mahkota Kerajaan Medang. Niat tersembunyi: sang ibu ingin menjadikan Airlangga raja di Jawa. Jika ia terus diam di Bali, akan ada hal-hal tak menyenangkan terjadi padanya. Oh, Mahendradatta memang tokoh yang sangat menentukan di sini.

Nahas, acara itu tidak berlangsung mulus. Alih-alih pernikahannya berakhir bahagia, Airlangga justru mesti menghadapi pralaya. Tepat di hari pernikahannya. Adalah Aji Wurawari dari Lwaram (dengan di-back up Sriwijaya) maju menyerang tepat di hari pernikahan. Penyerangan ini menghancurkan seisi keraton Dharmawangsa Teguh, menewaskan sang prabu beserta permaisuri baru Airlangga. Ada yang bilang penyerangan ini dilatarbelakangi sakit hati dan cemburu karena Aji Wurawari merasa “ditikung” oleh orang baru.

Beruntung, Airlangga dan Narottama (pengasuhnya, tak lain guru Dharmodayana Warmadewa, ayah tirinya) bisa melarikan diri. Mereka mengungsi ke hutan di lereng gunung. Mereka menjalani hidup dalam pelarian, sebagaimana Panca Pandawa hidup dalam keterasingan hutan. Lebih kurang tiga belas tahun Airlangga bersembunyi di hutan sebelum ada sesuatu terjadi. Hampir sama dengan lamanya Pandawa mesti mengasingkan diri karena kalah judi.

Tahun 1019, kondisi Jawa Timur tak kunjung membaik karena tak ada pemerintahan pasti. Raja-raja yang dulunya setia di bawah Dharmawangsa Teguh sudah banyak yang memerdekakan diri. Para brahmana dan menteri-menteri masa tiga belas tahun lalu pun datang ke tempat pelarian Airlangga. Mereka memintanya untuk menjadi raja di bekas kerajaan pamannya.

Saya menduga, pembesar-pembesar yang datang ke asrama pendeta tempat pelarian Airlangga ini adalah orang-orang yang loyal dengan ibu Airlangga. Memang dibandingkan Dharmawangsa Teguh, Mahendradatta jauh lebih berwibawa dan perkasa. Sayang nasib buruk membawanya menjadi istri seorang raja di Bali. Pada akhirnya sang ratu wafat jauh dari anak dan suami.

Akhirnya, setelah membuat patung piutnya (Mpu Sindok) di Isanabajra, Airlangga dinobatkan sebagai raja di Halu. Hemat saya, tempat inilah yang mesti dicari perkiraan posisinya, karena bisa saja Halu berada sangat dekat dengan Malang. Tapi sebelum menyoalkan tempat penobatan, bagian selanjutnya membahas di mana peristiwa pernikahan tragis itu terjadi.

Baca juga: Arca Singa Stambha #1: Misteri Sang Singa Kemenangan

Menyoal Ibukota Kerajaan Dharmawangsa Teguh

Dari Prasasti Pucangan (OJO LXII), Slamet Muljana mengidentifikasi keraton Dharmawangsa Teguh berada di selatan Sidoarjo. Tepatnya di Watan, sisi selatan Gunung Penanggungan. Keraton ini rupanya keraton baru, yang telah dipindahkan dari ibukota Pu Sindok pada awal abad ke-10. Keraton terakhir Pu Sindok diduga ada di Watu Galuh, sekitar Jombang, di tepi Sungai Brantas (2011: 17).

Namun demikian, SNI II agak berbeda pendapat. Menurut SNI, Desa Wotan yang disebut dalam Prasasti Pucangan sebagai keraton paman Airlangga itu mestinya dicari di sekitar Maospati, Kabupaten Magetan kini, karena sekarang ada sebuah desa bernama Wotan di daerah itu.

Padahal Wotan juga ada sih di Sidoarjo, kalau mau dicari. Saya pernah datang ke sana. Eh, itu Mojokerto, deng.

Menurut hemat saya, jika Wotan berada di Maospati, maka lokasi itu akan menjadi terlalu barat dan terlalu selatan. Jika pada awalnya keraton Pu Sindok ada di daerah Malang, kemudian dipindahkan ke Jombang (mereka hanya terpaut satu pegunungan saja), maka terlalu jauh jika Dharmawangsa Teguh memindahkan ibukota sampai Maospati. Meski pemindahan ibukota umum terjadi di masa itu, namun jarak Malang-Jombang-Magetan terlalu jauh. Memang masih tidak cukup jauh ketimbang dibandingkan pemindahan ibukota yang terjadi di masa duo Dyah Wawa-Pu Sindok (Yogyakarta-Malang), namun sampai sekarang belum ditemukan bukti soal “pralaya kedua” atau sebab lain yang cukup kuat untuk mendukung teori ibukota dipindahkan dari Jombang sampai ke perbatasan Madiun-Magetan itu.

Lagi pula, Prasasti Pucangan menjelaskan bahwa ketika pembantaian di istana Dharmawangsa Teguh itu terjadi, Airlangga bersama Narottama lari ke hutan di lereng gunung. Logika saja, untuk ukuran dua orang, yang satunya masih sangat muda (enam belas tahun) sementara yang satu lagi usianya sudah cukup sepuh (Narottama adalah guru Udayana, ayah Airlangga), apa mungkin melarikan diri dari Magetan sampai ke suatu hutan di lereng gunung yang kini telah ditemukan peninggalan purbakala masa Airlangga, yakni Kompleks Arjuno-Penanggungan?

Di lain pihak, kompleks pegunungan Arjuno-Penanggungan merupakan pegunungan subur dan kaya hutan serta sumber air. Tempat itu pun tidak jauh dari Sidoarjo selatan. Tambahan lagi, daerah itu telah menjadi latar tempat kerajaan-kerajaan Hindu awal Jawa Timur sejak abad ke-10. Artinya, tentu telah ada peradaban religius di sana, sehingga apa yang tertulis di Prasasti Pucangan akan lebih bisa diterima, jika Wotan dimaksud ada di selatan Sidoarjo, dekat kompleks Gunung Penanggungan.

Pralaya: Awal Sejarah Kerajaan Airlangga

Sebagaimana diketahui, pralaya yang terjadi di istana Dharmawangsa Teguh membuat Airlangga beserta Narottama lari ke pegunungan. Soal lokasi pelarian ini, dalam bagian Prasasti Pucangan yang berbahasa Jawa, tertulis “manganti ri humbanging wanagiri”. Lokasi ini memang sangat menggoda untuk dikaitkan dengan Wonogiri yang masih ada kini. Saya pun pernah menyebut bahwa lokasi pelarian ini adalah Wonogiri dalam postingan tentang Pura Airlangga di Pulau Menjangan.

Namun, berdasarkan bagian prasasti yang berbahasa Sansekerta, Airlangga dikatakan masuk hutan (vanayagat), sehingga uraian tentang wanagiri tidak merujuk nama tempat, melainkan diartikan secara harfiah, “hutan di lereng gunung” (SNI II 1984: 176 cat. kaki No. 66). Yang jadi pertanyaan, di manakah letak hutan di lereng gunung ini, dan bagaimana Airlangga bisa bertahan di sana sampai 1019?

Prasasti Pucangan memberi petunjuk bahwa Airlangga, yang lari ke hutan di lereng gunung, “bertemankan para pendeta yang suci kelakuannya”. Artinya, Airlangga tidak benar-benar melarikan diri ke hutan yang tak dikenalnya, melainkan ia pergi ke sebuah pertapaan yang tak asing, sehingga ia bisa bertahan selama tiga belas tahun.

Ada pula petunjuk bahwa di pertapaan itu jugalah Airlangga belajar seni kepemimpinan dan perang, sehingga ketika ia dinobatkan sebagai raja, tak berapa lama berselang dari penobatannya (tepatnya tahun 1021) ia sudah memberikan penghargaan atas jasa-jasa rakyat Desa Cane yang membantunya dalam perang (Prasasti Cane, OJO LVIII).

Dengan asumsi yang saya terima bahwa Wotan, ibukota kerajaan Dharmawangsa Teguh ada di selatan Sidoarjo, maka penentuan “hutan di lereng gunung” pun akan jadi lebih jelas. Ada dua kandidat yang saya pikir cukup cocok terkait ini, lantaran posisinya yang tak jauh dari daerah selatan Sidoarjo (sekitar Pandaan kini). Kedua gunung itu adalah Gunung Penanggungan dan Gunung Arjuno.

gunung-penanggungan-sejarah-kerajaan-airlangga
Gunung Penanggungan.

Di Gunung Penanggungan kini banyak ditemukan kompleks pertapaan. Di samping itu, Airlangga memerlukan tempat yang sudah tidak terlalu asing baginya. Mungkin sekali, ia akan pergi ke pertapaan yang pernah pula ditinggali oleh sang ibu(ketika diasingkan akibat dituduh hamil di luar nikah), yang dengan kata lain, harusnya sudah ada dalam waktu yang lama. Dengan sendirinya, jika saya menganggap Gunung Penanggungan sebagai tempat pelarian Airlangga, harus ada tempat yang (1) dibangun sebelum tahun 1000M dan (2) punya hubungan dengan Mahendradatta, atau paling tidak, Wangsa Isyana.

Adakah tempat yang memenuhi kriteria tersebut di Penanggungan? Ada. Petirtaan Jolotundo. Di dekatnya pun ada petilasan Eyang Narottama, yang saya berani jamin dimaksudkan untuk Narottama yang sama dengan yang menemani Airlangga dalam pelarian itu. Petirtaan Jolotundo sendiri dibangun tahun 899 Saka, atau, tahun 977 M. Selain itu, berbagai prasasti peninggalan Airlangga pun ditemukan di Gunung Penanggungan, termasuk di dalamnya Prasasti Pucangan.

Namun berbagai pertanyaan masih menaungi petirtaan ini. Salah satunya adalah apakah ia dulu merupakan kompleks pemujaan saja, atau juga sebuah pertapaan. Belum ditemukan bukti lain soal itu. Selain itu, ada dugaan bahwa Petirtaan Jolotundo dibangun sebagai mas kawin antara Udayana terhadap Mahendradatta. Sedangkan, pada akhirnya hubungan pasangan suami-istri ini tidak berakhir mulus yang terbukti dengan “dibuangnya” Airlangga ke Jawa.

Posisi Penanggungan yang agak terbuka, dalam hal ini di bagian barat, juga membuka kemungkinan besar untuk diserbu ulang oleh Wurawari, yang menurut penjelasan Prasasti Pucangan ada di sebelah barat. Artinya, Airlangga tentu memerlukan tempat pelarian yang tidak terlalu jauh dari Watan (karena ia akan kembali ke tempat ini nanti untuk mengklaim kekuasaannya) namun terlindung di sisi sebelah barat sehingga penyerangan Wurawari, jika ada, bisa sedikit dipersulit.

Lagi pula, keraton Dharmawangsa Teguh juga tidak terlalu jauh dari Gunung Penanggungan. Akan agak janggal jika Airlangga berniat melarikan diri dari sesuatu yang mengancam nyawanya tapi ia tidak pergi ke tempat yang jauh (ini hanya pendapat nyeleneh pribadi, mohon jangan dimasukkan ke dalam hati).

Maka tibalah kita pada kemungkinan kedua, yang lebih saya sukai, bahwa Airlangga, ditemani oleh Narottama, melarikan diri ke arah Gunung Arjuno, dengan kata lain ke arah Malang Raya. Daerah Malang Raya memang terlindung dari arah barat akibat gugusan pegunungan yang ada di sana. Untuk bisa mencapai daerah ini dari barat pun, hanya ada satu celah yang kini adalah daerah Pujon.

Ngomong-ngomong, kata “pujon” bisa kita plesetkan menjadi “pujaan”, yang pada akhirnya bisa diubah menjadi “pemujaan”. Dari mana dan kapan nama ini berasal, saya belum bisa memberikan sumber yang pasti. Tapi, saya mulai berpikir bahwa daerah sebelah barat di kebupatian Malang ini adalah tempat pemujaan yang masif pada masa lalu, sebagaimana Besakih kini. Beberapa penemuan bersejarah mulai ditemukan di daerah Pujon, satu di antaranya bahkan masih populer sebagai tempat laku tirakat.

Bukankah para rsi di masa lalu umum tinggal di dekat candi tempat pemujaan? Sebagai contoh, Desawarnana menjelaskan bahwa jauh-jauh rombongan Hayam Wuruk dan Dang Acarya Nadendra (nama asli Mpu Prapanca) datang ke Singosari untuk menemui Dang Acarya Ratnamsa. Ia adalah seorang pendeta dan genealog kerajaan Singosari dan Majapahit sekaligus penjaga Candi Singosari di masa lalu.

gunung-arjuno-sejarah-kerajaan-airlangga
Gunung Arjuno, dari Kota Batu.

Satu-satunya kelemahan dari kemungkinan ini adalah bahwa di Gunung Arjuno belum pernah (bukan berarti tidak ada) ditemukan prasasti dari zaman kerajaan Airlangga, kendati pun telah banyak ditemukan prasasti dari masa sebelumnya. Satu hal yang pasti, dengan demikian, daerah ini bukanlah daerah yang asing.

Relativitas Lokasi Musuh Kerajaan Airlangga

Bagian lain dari Prasasti Pucangan juga menjelaskan soal arah musuh terhadap lokasi keraton Airlangga. Namun, sifatnya sangat relatif sehingga tidak bisa dijadikan patokan tanpa telaahan mendalam. Alasannya, sebagaimana telah saya kemukakan di postingan sebelum ini, ialah karena Airlangga beberapa kali memindahkan ibukota kerajaannya. Akibatnya referensi tentang arah tentu saja akan menjadi sangat relatif, karena prasasti yang satu dengan prasasti yang lain bisa saja menunjuk tempat yang sama dengan arah yang sangat berbeda.

Baca juga: Arca Singa Stambha #2: Selaksa Tanya Tentang Malang dan Singa

Dari semua musuh yang ditumpas Airlangga, mungkin yang paling pasti untuk ditentukan hanyalah daerah Wengker. Beberapa peta yang saya temukan di dua buku menunjukkan bahwa daerah ini berada di sebelah barat Daha. Tepatnya, di timur Gunung Lawu, kini jadi wilayah Kabupaten Madiun. Saya belum mendalami daerah ini lebih lanjut, jadi hanya ini info yang bisa saya berikan sekarang.

Tentang Lwaram, juga ada perbedaan pendapat, namun mayoritas para peneliti sepakat bahwa daerah ini juga ada di sebelah barat keraton Airlangga. Rentangnya sangat luas, mulai Madiun bahkan sampai ke Kudus, Jawa Tengah. Namun, Slamet Muljana punya pendapat yang unik soal Lwaram. Menurutnya, “Lwaram” kini berubah menjadi “Lawang” akibat perubahan bunyi. Daerah Lawang sendiri berada di selatan Pandaan, dan sepintas, ini cocok dengan dugaan samar dalam SNI (2010: 206 dan 208, catatan kaki No. 282) bahwa keraton Lwaram juga ada di sebelah selatan Sidoarjo.

Namun kembali lagi, ketika Airlangga akan menyerang Lwaram di tahun 1032 M keratonnya sudah beberapa kali berpindah sehingga urusan arah, lagi-lagi, menjadi sangat relatif. Jika pun penjelasan Lwaram adalah Lawang ini saya terima, itu juga akan mengganggu alur pikiran postingan ini secara keseluruhan.

Arca Singa: Kenang-Kenangan dari Kan(j)uruhan

Pun jika akhirnya ada bukti konkret yang menentukan bahwa Airlangga tidak dinobatkan di daerah yang kini disebut sebagai Malang Raya, singa ini tidak kehilangan kredibilitasnya sebagai kenang-kenangan dari sejarah kerajaan Airlangga, karena ia juga berhubungan langsung dengan Airlangga melalui abdinya yang setia: Narottama. Setidak-tidaknya dari Prasasti Baru (1030 M) sampai Prasasti Pucangan Jawa Kuno (1041 M), Rakryan Kanuruhan Pu Narottama sudah punya sejarah sebagai penerima perintah dalam prasasti dimaksud. Masa itu, gelar ini adalah gelar tertinggi bagi pejabat kerajaan Airlangga setelah Rakryan Mahamantri.

Menurut pendapat saya, gelar Rakryan Kanuruhan yang diberikan pada Narottama sebagai gelar tertinggi agak kasar jika disebut hanya semata melestarikan tradisi. Pertama, sejarah Pu Sindok memindahkan pusat kerajaan ke daerah Kanjuruhan sudah terjadi sekitar satu setengah abad sebelum Airlangga datang ke Jawa Timur. Kedua, kerajaan Dharmawangsa Teguh sudah betul-betul musnah ketika Airlangga datang. Oleh karena itu, ia tidak punya alasan apa pun untuk mempertahankan sistem birokrasi lama. Ia bahkan harus melegitimasi kekuasaannya sendiri melalui penerbitan berbagai prasasti.

Satu-satunya alasan yang menurut saya mungkin adalah karena sebagaimana pendahulunya, Airlangga juga melarikan diri ke pegunungan yang merupakan wilayah Kanuruhan. Daerah itu tidaklah begitu terasing, meskipun terisolasi, karena sudah jadi pertapaan sejak zaman kerajaan Kanjuruhan yang asli. Dengan demikian, tentu saja ia menganggap daerah Kanjuruhan sebagai daerah yang sangat penting. Kanjuruhan adalah daerah yang setia, sehingga wakilnya sebagai penguasa di daerah itu pun harus orang yang sangat ia percaya.

Informasi sedikit, di zaman Singosari akhir dan Majapahit, Rakryan Kanuruhan agak turun peringkatnya dalam tataran pejabat teras kerajaan. Sebagaimana diketahui, di zaman dua kerajaan terakhir ini, jabatan tertinggi setelah Rakryan Mahamantri adalah Rakryan Apatih. Gelar ini disandang oleh Gajah Mada. Menurut saya alasannya simpel: karena daerah Kanuruhan di masa dua kerajaan itu sudah tak lagi signifikan, lantaran telah berevolusi menjadi ibukota dengan nama Tumapel.

Berdasarkan hal-hal di atas, maka patung singa yang ada di depan saya ini tak lain merupakan “kenang-kenangan” dari penobatan itu. Pada akhirnya, tidaklah menjadi aneh mengapa patung dari awal abad ke-11 ini ditemukan di Malang, malahan, patung ini adalah missing link dari sejarah kerajaan Airlangga di Jawa Timur.

Saya mulai mendapat pandangan baru soal mengapa singa ini disebut singa “kemenangan”. Ini adalah bentuk optimisme orang-orang yang percaya akan Airlangga. Optimisme seorang Narottama pada Airlangga, yang dididiknya sejak menghabiskan masa kecil di Bali. Bahkan ketika sosok ini berada dalam asingnya hutan, penobatan Airlangga sebagai pemimpin kerajaan adalah sebuah kemenangan (jayastambha). Tidak cuma bagi orang-orang yang dekat dengan beliau, melainkan untuk seluruh peradaban Jawa Timur. Jika kerajaan Airlangga tak pernah berdiri, maka tak akan ada Kediri, Singasari, dan pada gilirannya, Majapahit.

Pada akhirnya, bagaimanapun saya mencoba memisahkan, Malang Raya, terlepas dari apakah ia merupakan wilayah kota atau kabupaten, adalah wilayah yang maskot singanya sudah menjadi ruh kota ini. Malang dan singa sudah menjadi satu. Malang adalah singa, dan singa adalah Malang.

malang-dan-singa-kerajaan-airlangga
Malang dan singa, dipersatukan oleh Airlangga. Gambar bukan milik saya.

20 thoughts on “Arca Singa Stambha #3: Malang dan Sejarah Kerajaan Airlangga

    1. Lebih mirip guguk ya.
      Itu dari Jl. Sultan Agung. Yang sekarang lahannya dipagar dan dikasih plang dimiliki oleh PT XYZ. Kayaknya bentar lagi mau bangun hotel deh di situ. Bye bye panorama.

    1. Hehe… secara sifat mirip, sama-sama berhubungan dengan raja, cuma yang satu raja hutan. Meski Indonesia bukan habitat alami singa tapi persebaran budaya citra singa sebagai raja juga sampai kemari ya, hehe.

  1. wah penelusuranmu tentang singa masih berlanjut mas. aku jg sedikit bingung sih awalnya kenapa hewan singa dijadikan simbol di kerajaan2 yg ada di jawa timur. mengingat singa tidak perna hidup di tanah jawa

  2. Asal kata Singgasana itu sangat menarik, Gara. Kursi-kursi yang ditopang oleh singa. Masuk akal juga. Bukankah kebanyakan kursi tempat duduk para raja itu diukir oleh berbagai hewan gagah yang salah satunya adalah singa dan Sulur Sulur bunga? Semuanya melambangkan ke kekuasaan tetapi Anggun

  3. suka tulisannya, raja Airlangga masih jarang ditulis ceritanya. Masalah singa kenapa menjadi simbol di Malang atau beberapa kerajaan di nusantara padahal singa hewan asal afrika sempat menjadi pikiranku gar, berhubung pendidikanku biologi mungkin saja ada kaitannya dengan ilmu biologi dan geografi, aha bisa meluas kemana-mana ini nanti yang jelas akupun penasaran base on my background ya

    1. Oh, hehe. Kalau menurut saya itu adalah satu aspek budaya yang dibawa penjelajah India ketika datang ke Indonesia. Dari laman Wikipedia pernah saya baca bahwa di masa lampau India adalah salah satu habitat singa, hehe.

  4. Di beberapa kerajaan nusantara kata singgasana merujuk kepada kursi kebesaran yang diduduki raja yang berkuasa. Sejauh ini begitu yang saya pahami.

    Kalo begitu universitas airlangga harusnya berada di kota Malang ya, hehehe….

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?