Arca Singa Stambha #2: Selaksa Tanya Tentang Malang dan Singa

Apabila diperhatikan lebih lanjut, disengaja atau tidak, identitas Malang sebetulnya adalah singa. Sekali lagi, entah ini disengaja atau tidak, singa selalu punya kaitan erat dengan kota Malang.

Mari mulai dari tempat kita berada. Arca singa stambha yang saya lihat di Museum Mpu Purwa ini, pertama sekali, membawa pikiran saya pada patung tiga singa yang ada di Taman Bentoel depan Stasiun Malang Kotabaru. Saya tahu, ini sangat tak ada hubungannya dengan arca-arca. Patung tiga singa itu sendiri sebetulnya menjadi lambang Singo Edan, atau klub sepakbola Arema, kebanggaan warga Malang. Markas Arema berada di depan stasiun. Banyak foto pemain Arema terpajang di sana.

Tapi ketika mengingat itu, saya baru sadar bahwa di Malang ada banyak sekali singa.

Baca juga: Arca Singa Stambha #1: Misteri Sang Singa Kemenangan

singa-batu-secret-zoo
Ya, maksud saya memang singa. Tapi singa di Kota Malang tidak hidup!

Kehadiran toko-toko pernak-pernik Arema, disengaja atau tidak, menjadikan Malang sangat semarak dengan singa-singa. Cobalah masuk ke sebuah toko pernik Arema dan saya berani menjamin bahwa pasti ada nuansa singa di dalam sana. Bahkan saya sempat pangling karena lebih banyak maskot singa ketimbang ciri khas dari toko barang-barang offisial klub seperti itu: sepakbola!

singa-gagah-taman-bentoel-malang
Salah satu dari tiga singa di Taman Bentoel depan Stasiun Malang. Gagah!

Mengapa Arema sangat identik dengan singa? Sebuah situs dunia maya menjawab pertanyaan saya. Menurut sang pendiri, singa dijadikan maskot klub sepakbola ini karena tanggal kelahirannya (11 Agustus 1987) dalam naungan zodiak Leo, yang simbolnya singa. Bukan alasan yang saya harapkan, karena ini artinya hubungan antara singa dan Arema boleh dikata hanya sebatas kebetulan.

lambang-malang-disetujui
Lambang Kota Malang sejak 1937. Perhatikan beda dengan lambang yang diusulkan tahun 1921.

Namun Malang sudah punya lambang kota yang berwujud singa pada zaman kolonial. Ditetapkan sebagai sebuah kota mandiri pada tanggal 1 April 1914, Malang baru mendesain lambang kotanya pada 1921, dan setelah perubahan melalui lambang kedua pada tahun 1936 karena berbagai kritik terhadap lambang yang lama, lambang kota Malang secara resmi baru ditetapkan pada tahun 1937.

lambang-malang-1921
Lambang Kota Malang antara 1921-1936. Tidak disetujui Pemerintah Kerajaan Belanda dengan berbagai alasan, tapi mayoritas karena ketidaklazimannya.

Beberapa sumber dunia maya menjelaskan bahwa lambang kota Malang berupa singa dan lotus (sari) yang posisinya melintang (malang berarti memalang atau melintang) berasal dari Singhasari (yang diartikan sebagai singa dan lotus), kerajaan besar yang pernah berjaya di daerah Malang. Masalahnya, daerah Tumapel (nama asli Kec. Singosari) kini tidak masuk dalam wilayah kota Malang, jadi seolah-olah Kota Malang tidak punya identitas sendiri, melainkan “meminjam” identitas dari kabupaten sebelah.

malang-singa-lotus-melintang
Malang, singa dan teratai putih yang saling berlintangan. Diambil dari album heraldik Belanda berjudul Koffie-Hag.

Hm, tidakkah ada bukti sejarah yang paling tidak mengonfirmasi bahwa daerah yang sekarang bernama kota Malang juga identik dengan singa, selain karena letak mereka yang berdekatan? Secara umum, jika kita mau membedakan, Kota Malang punya sejarah yang lebih panjang daripada Singosari berkat Kerajaan Kanjuruhan, apa tidak ada hal yang lebih dulu membuktikan bahwa di sini juga ada banyak singa?

Nama Singosari sendiri sebenarnya terbilang baru. Singosari merupakan nama baru dari Kutaraja, yang kedua ini juga nama pergantian dari Tumapel. Pergantian Kutaraja menjadi Singosari baru terjadi pada tahun 1176 saka atau 1254 M, saat penobatan Kertanegara sebagai raja muda oleh ayahnya, Wisnuwardhana alias Ranggawuni.

Batas-batas administratif yang ada sekarang makin memanaskan kesan bahwa Malang, sebagai sebuah kota mandiri, “meminjam” identitas dari kabupaten sebelah, sebagaimana yang telah saya sebut sepintas di atas. Itu sebetulnya tidak salah. Perjalanan waktu memang mungkin saja membuat pergeseran wilayah. Pusat kota di zaman kerajaan ke pusat pemerintahan kolonial sudah pasti bisa berbeda. Singosari adalah kerajaan besar, ibukotanya pun bisa saja sangat luas. Di masa kini, mungkin saja wilayah ibukota itu terbagi dalam dua wilayah administratif: Kota Malang dan Kabupaten Malang.

Tapi saya penasaran saja. Apa ada bukti yang lebih awal soal ini?

Di tengah semua itu, saya sempat membaca sebuah artikel di koran lokal, bagian dari sebuah penelusuran sejarah, saya tak perlu sebutkan namanya, yang menyebut bahwa Kutaraja berada di tengah kota Malang kini. Artikel itu menyebut adanya “benteng” yang pernah menjadi batas Kutaraja di daerah itu (yang kini berubah menjadi pekuburan), tapi yang lebih fantastis, artikel itu juga menyebut bahwa ibukota kerajaan Singhasari “berpindah” dari Kutaraja ke Tumapel sekarang.

Saya agak susah menerima penjelasan itu. Dalam Nagarakretagama, pupuh 41.3, Mpu Prapanca menulis:

i çaka rasa parwwatenduma bhatara wisnwanabhiseka saɳ suta siwin,
samasta para samya riɳ kadiri jangalomarkh amuspa riɳ urasabha,
narenda krtanagarekan abhisekanama ri siran huwus rakaçita,
pradeça kutaraja mankin atiçobhitanaran i sinhasari nagara. (Des. 41.3)

Tahun saka rasa gunung bulan (1176) Bhatara Wisnu menobatkan putranya
Segenap rakyat Kediri berduyun-duyun ke pura, mangastubagia
Raja Kertanegara nama gelarannya, tetap demikian seterusnya
Daerah Kutaraja bertambah makmur, berganti nama praja Singasari.

Meskipun saya tidak meragukan makna dari terjemahan Prof. Slamet Muljana tersebut, tapi saya harus memuaskan rasa penasaran diri sendiri untuk memastikan apa benar Kutaraja berganti nama menjadi Singasari, atau apakah justru Kutaraja memang berpindah ke sebuah daerah baru bernama Singasari. Hal itu tetap saja mungkin, paling tidak sampai saya bisa diyakinkan bahwa Kutaraja memang hanya berganti nama.

Jadi, mari kita terjemahkan baris terakhir bait ketiga dari pupuh ke-41 kakawin itu kata demi kata. Terjemahan ala saya menghasilkan:

“Daerah Kutaraja (kini) (dinamai dengan amat eloknya) sebagai Ibu Kota Singasari.”

Secara leksikal, memang sama sekali tidak ada satu kata pun yang secara eksplisit menjelaskan bahwa Kutaraja berganti nama. Namun, makna kalimat itu bagi saya sudah cukup jelas. Kuncinya ada pada frasa mankin atiçobhitanaran. Dalam kamus bahasa Jawa Kuno yang jadi referensi saya, atiçobhita berarti amat elok, amat indah. Dalam pupuhnya, kata ini ditulis menempel dengan kata aran (artinya nama) yang mengalami perubahan bunyi menjadi naran. Dengan demikian, tentu saja kata sifat atiçobhita menjelaskan aran, bukan pradeça kutaraja. Baris ini hanya membahas nama, tidak menyinggung soal tempat, apalagi perpindahan tempat.

Itu artinya, terjemahan Prof. Slamet Muljana secara makna bisa saya terima, meski untuk mencapai hal itu saya menempuh jalur yang berbeda. Yang penting, saya sepakat dengan beliau tentang satu hal pokok: bahwa ibukota Kutaraja sama sekali tak pernah berpindah. Lagi pula, meskipun tidak ada kata yang menunjukkan pergantian nama, bukankah tidak ada juga kata yang menunjukkan perpindahan tempat?

Bagi saya, perpindahan ibukota dengan alasan apa pun pasti mendapat perhatian pujangga masa itu. Selain itu, adalah janggal bahwa di tengah-tengah kemakmuran kerajaan masa pemerintahan Wisnuwardhana, (setelah raja-raja sebelumnya tidak pernah memerintah dengan mulus), dan pada puncaknya penobatan Kertanegara sebagai yuwaraja, ibukota tiba-tiba dipindahkan.

Biasanya, ibukota dipindahkan karena adanya pralaya/bencana alam yang menghancurkan negara, sebagai contoh dipindahkannya pusat kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur oleh duo ayah-anak Dyah Wawa dan Pu Sindok. Atau, ibukota berpindah akibat serangan musuh, dan inilah yang sering terjadi di Jawa Timur terutama pada masa Airlangga. Hal ini tak lepas dari kosmogoni kerajaan Hindu yang menganggap ibukota yang sudah hancur akan membawa sial jika tetap ditinggali (sekarang pun hal ini masih kami, umat Hindu, percayai, dalam skala yang lebih kecil, yakni rumah).

Sebagai contoh, di masa Wangsa Isyana, ibukota berpindah (paling sedikit) tiga kali. Dari Watu Galuh, ibukota awal buatan Pu Sindok di selatan Jombang, ibukota mesti berpindah ke Watan di selatan Sidoarjo pada awal abad ke-10 (yang saya duga sangat berkaitan dengan gagalnya percobaan Dharmawangsa Teguh menguasai Sriwijaya).

Selanjutnya, setelah huru-hara pernikahan Airlangga tahun 1006 yang menewaskan Dharmawangsa Teguh, Airlangga setelah merebut kembali semua kerajaan dari penyerangnya membuat ibukota baru di kaki Gunung Penanggungan yang bernama Watan Mas pada tahun 1021. Ibukota kembali harus berpindah pada tahun 1032 dari Watan Mas ke Patakan lantaran kerajaan Airlangga digempur musuh sehingga semua orang harus kabur.

Masih ada dua perpindahan lagi namun hal itu saya rasa belum relevan dibahas di sini. Yang jelas, semua perpindahan ibukota itu terangkum dalam bukti tertulis. Perpindahan dari Watu Galuh ke Watan dimuat dalam Prasasti Pucangan (1041), perpindahan Watan ke Watan Mas dalam Prasasti Cane (1021), dan perpindahan dari Watan Mas ke Patakan dalam Prasasti Terep (1032).

Namun, Nagarakretagama tidak pernah mengatakan bahwa ibu kota berpindah, apalagi menjelaskan bahwa di tahun itu (1254) Singasari digempur musuh. Malah, babad ini memberi petunjuk bahwa di masa itu, kerajaan Singasari sedang ada dalam masa jayanya. Saya rasa ini satu argumen lagi untuk mempertahankan pendapat bahwa yang terjadi adalah “pergantian nama”, sebagaimana suatu daerah diberkati dalam nama yang baru agar daerah ibukota menjadi lebih berwibawa, meski hal itu tidak bertahan lama karena Kertanegara tewas dibabat Jayakatwang dari daerah Kediri.

Satu bukti lagi bahwa ibukota tak pernah berpindah, adalah bahwa Petirtaan Watugede, setting cerita Ken Arok dan Ken Dedes, tidak seberapa jauh dari Tumapel. Menurut saya akan sangat janggal jika Kecamatan Singosari tidak diidentifikasi sebagai Kutaraja (yang merupakan nama awal sebelum Singosari) karena semua bukti sejarah menunjuk pada tempat ini sebagai pusat kerajaan Singosari.

Hanya saja itu belum menjawab pertanyaan di awal postingan ini! Tidakkah ada bukti bahwa Kota Malang juga identik dengan singa? Daerah Malang Raya memang rumah bagi singa-singa Singosari. Tapi bagaimana dengan Kota Malang? Entahlah, tapi saya punya perasaan yang kuat bahwa dengan ditemukannya patung singa ini, identitas singa-singa di dalam batas administrasi Kota Malang seolah menemukan “rumahnya”.

singa-taman-bentoel-malang-2
Di mana rumahmu, wahai singa?

Maka mungkin saja, banyaknya singa yang ditemukan di kota Malang kini bukan kebetulan semata. Kota ini memang punya signifikansi dengan singa, tanpa harus mengatakan bahwa singa di Malang berasal dari Singosari. Hubungan singa dan Malang terjadi jauh sebelum itu. Itulah yang harus saya buktikan dengan kemampuan cetek yang saya miliki.

Saya bahas di postingan selanjutnya, ya? Soalnya tulisan ini sendiri sudah sangat panjang.

Kadang saya tertawa sendiri juga kalau membaca kembali draf untuk postingan pamungkas itu, hihi. Kalau saya pikir-pikir lagi, ini memang dugaan gila dan sama sekali tak berdasar. Tapi minimal tulisan itu bisa meyakinkan diri saya sendiri soal signifikansi simbol singa di Malang Raya, dalam arti yang lebih luas. Dalam tulisan ini saya sudah menempatkan singa di Singosari pada Kabupaten Malang. Itu artinya saya mesti menemukan singa untuk saya tempatkan di Kota Malang. Mungkin saja singa di depan saya ini jawabnya.

Yah, pembenaran saya adalah bahwa bagaimanapun, “Tafsir sejarah tidak mengenal batas, dan akan berlangsung terus-menerus selama masih ada minat terhadapnya.” Itu kata Prof. Slamet Muljana lho, bukan kata saya sendiri. Sisanya saya serahkan pada sidang pembaca budiman untuk menilainya. Jika semisal ada hal-hal yang mengganjal, monggo diutarakan, kita diskusi di kolom komentar.

Yang penting, Malang nominor, sursum moveor! Malang namaku, maju tujuanku!

p.s.
Bagi yang ingin tahu lebih banyak tentang lambang-lambang masa kolonial dari kota-kota di Indonesia, sila mengakses laman ini: Koffie Hag Albums Nederland: Nederlandsche Heraldiek Oost Indië. Lambang-lambang kota di Indonesia zaman kolonial keren-keren, lho.


Referensi:
Buku:
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 2010. Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuna. Jakarta: Balai Pustaka.
Wojowasito, S. 1977. Kamus Kawi-Indonesia. Bandung: CV Pengarang.

Laman daring, sekaligus sumber gambar lambang Kota Malang masa kolonial:
Halo Malang (2015, 05 September). [Ngalamers Harus Tahu] Malang Empat Kali Ganti Lambang Kota. Diakses 15 Desember 2016. http://halomalang.com/serba-serbi/-ngalamers-harus-tahu-malang-empat-kali-ganti-lambang-kota
Ralf Hartemink (2016, 21 Oktober). Malang, Civic Heraldry of Indonesia. Diakses 10 Desember 2016. http://www.ngw.nl/heraldrywiki/index.php?title=Malang

64 thoughts on “Arca Singa Stambha #2: Selaksa Tanya Tentang Malang dan Singa

          1. emang bikin nagihhhhhh kan, dan btw fenome sempol itu baru blooming 2016 ini, gatau kenapa, mungkin next time mas gara bisa nulis “sejarah sempol” gitu wkwkwkwk, terus tiba tiba kamu menemukan candi sempol ><

          2. Iya. Heran lho kenapa bikin nagih. Kadang takut juga kalau isi sempol itu aneh-aneh macam tayangan investigasi di televisi. Sebenarnya sempol itu dibuat dari apa sih? Dan, Candi Sempol? Saya belum terbayang bagaimana bentuknya. Haha.

          3. wkwk aman kooook, itu terbuat dari ayam, cuman memang sih ada beberapa yang curang karena mereka pakai daging tikus atau brutu ayam :|||||

            aku gabisa bedain ~ berdoa ajalah tiap kali mau makan.
            hehe

  1. saya setuju kalimat ini “Tafsir sejarah tidak mengenal batas, dan akan berlangsung terus-menerus selama masih ada minat terhadapnya.”
    boleh saya simpulkan sejarah sejatinya memang bukan ilmu pasti, dan selama beberapa generasi kedepan, maupun ke belakang bisa jadi tafsirnya bebeda-beda.
    ini yang kadang membuat otak saya berimajinasi liar, meruntutkan peristiwa demi peristiwa sejarah pada masa lalu XD

    1. Iya Mas, kejadian sejarah pada dasarnya kejadian yang disusun kembali berdasarkan penerkaan. Harus ada bukti konkret, namun harus juga ada seni imajinasi, hehe. Seru ya menyusun-nyusun kejadian-kejadian itu dalam lini masa, soalnya kita jadi terang apa yang terjadi di masa lampau.

  2. Menarik sekali ceritamu Gara. Dan ternyata alasan penggunaan Singa sebagai lambang Singo Edan itu karena hari kelahiran klub sepakbola tersebut yang berada di bawah naungan zodiak Leo tho? Hahaha ini membuat aku ketawa lho.

    Tapi kalau merunut ke sejarah Singosari yang dirimu ceritakan, aku justru bertanya-tanya. Kenapa Singa? Bukankan itu adalah hewan asli Afrika, yang bahkan penyebarannya tak sampai di Indonesia? Dan anehnya, meskipun begitu Singa termasuk hewan yang banyak digambarkan dalam kebudayaan bangsa-bangsa Asia.

    Ternyata membahas Singapun bisa jadi menarik yaaaa 😊

    1. Iya Mas, itu hasil wawancara dengan sang pendiri klub, hehe.
      Untuk pertanyaan ini saya juga belum pernah baca dengan pasti jawabannya Mas, jadi ini hanya sebatas dugaan ya. Menurut peta distribusi singa yang saya lihat di Wikipedia, pernah ada persebaran binatang singa di daerah India, jadi mungkin saja paham ini juga dibawa dari wilayah India itu. Selain itu, sebagaimana diketahui ada awatara Wisnu yang berupa manusia berkepala singa.
      Oh iya Mas, haha, masih ada satu postingan pamungkas soal singa.

      1. Aku jadi ingat, pas ke Bhaktapur di Nepal. Ada patung Singa, yg dibuat oleh seorang seniman pada masanya. Konon dia bikin patung itu murni imajinasi, karena belum pernah melihat singa seumur hidupnya. Tapi hasilnya mirip lho.

        O iya ya, awataranya Wisnu berbentuk setengah singa. Mungkin dari sanalah kita yang di Asia Tenggara mengenal singa.

        Aku tunggu postinganmu yang selanjutnya Gara.

  3. Wah cuma buat membuktikan lambang singa memang murni ciri khas malang sendiri ternyata sulit ha ha ha……

    Tapi dari pandangan orang awam seperti saya sih memang dari dulu sudah begitu. Mungkin ada banyak bukti yang menunggu untuk ditemukan. Sayangnya di indonesia sendiri belum banyak dana untuk mengeksplorasi peradaban masa lalu di indonesia sendiri.

    1. Iya Mas. Tapi penetapan singa sebagai lambang kota tentu harus ada alasannya. Lebih jauh lagi, pemakaian nama singa di kerajaan Singosari juga menurut saya harus ada sebabnya. Rasa penasaran akan hal itu yang membuat saya bela-belain mencari jejak-jejak dari nama singa itu, haha.
      Betul, untuk penelitian, apalagi sejarah, dana yang disediakan pemerintah masih sangat terbatas. Tapi saya bisa memahami, karena prioritas pembangunan masih banyak. Mudah-mudahan seiring perbaikan kondisi bangsa, perhatian akan hal ini akan makin meningkat.

  4. Dua singa yang sekarang menjadi lambang kota sudah pasti diriku mengira itu bawaan dari lambang negara Belanda hehehe. Kadang salut dengan upaya Belanda membangun Malang sedemikian cantiknya sehingga punya pedestrian luas, kompleks perumahan elite di Jalan Ijen yang wow pada masanya. Eh kok ini diriku malah ngomongin peninggalan kolonial ya hahaha

    1. Malang memang didesain sebagai kota tetirah ya Mas, hehe. Banyak bangunan kolonial yang spektakuler banget di Malang, yang dilihat dari luar saja sudah bikin sorak-sorai saking kagumnya, padahal cuma dilihat dari luar, haha. Sayang di Ijen mulai banyak bangunan yang direnovasi atau diubah gayanya, sehingga pasti agak beda dengan aslinya di masa kolonial silam. Masalah serupa juga terjadi di Menteng, sih…

  5. Saya sepakat sekali dengan pernyataan Prof. Slamet Muljana tersebut, selagi ada minat,ada perkembangan penemuan baru, sejarah akan terus tak henti dibahas, karena belajar pada masa lalu itu bagai membuka lorong waktu. Dan Malang, dalam hal ini Malang Raya, begitu banyak sejarah yang mengiringinya, termasuk simbol-simbolnya, dalam hal ini singa.

    1. Iya Mas. Pernyataan itu juga jadi semacam semangat buat saya untuk tahu sedikit demi sedikit soal apa-apa saja yang terjadi di masa lalu dan masih bisa kita saksikan saat ini meski hanya dalam bentuk saksi bisu, hehe. Mungkin karena saya orang yang susah move on kali ya #ehgimana.

  6. Saya baru ngeh kalau logonya Malang itu Singa dan saya tahu di Indonesia apalagi di Jawa kebanyakan macan. Afrika dan India paling banyak singanya. Tapi kenapa kok make singa ya. Mungkin bawaan dari zaman kolonial atau mungkin juga bangsawan dulu suka miara singa.

    Apa Watu Galuh yang disebut itu sebuah desa di Kecamatan Diwek Jombang? Konon katanya dulu ditemukan banguan semacam candi, saya kurang ngeh penemuan itu jadi gak begitu paham.

    1. Menurut saya ini salah satu bawaan dari India yang meski kecil masih bertahan sampai hari ini, Mas. Iya betul, yang di Kabupaten Jombang. Wah betulan? Patut ditelusuri lebih lanjut tuh penemuan candinya. Jika ternyata signifikan maka boleh jadi ada keraton yang ditemukan… secara, sejauh ini penemuan paling signifikan hanya berupa gapura.

    1. Setuju Mas, hehe. Sedemikian lamanya singa menjadi identitas Malang, tapi asalnya dari Malang kabupaten. Kebetulan ketemu singa di kota Malang. Tahunnya pun unik. Maka cerita pun dimulai… hihi.

  7. Keren sekali dimensi bahasan sejarah yg dinamis ini, berbeda dengan deretan tahun dan nama semata. Selaku orang kebun, terkesima dengan perpaduan singa (fauna) dan lotus (flora) kesatuan yang lestari. Salam

  8. jadi tau klo ambang arema itu singa ada hubungannya sama zodiak, iya ya mengapa Singa banyak di Malang darimana pas zaman kerajaan dulu tahu tentang Singa atau singa bisa populer di sebuah kerajaan, menunggu bahasan Singa ini lebih lanjut gar

    1. Siap Mbak, setelah satu siklus akan segera saya posting. Pertamanya saya pun seperti ini, cuma ingin membahas arca singa, eh malah penasaran kenapa di Malang ada banyak sekali singa. Akhirnya merembet ke mana-mana deh, terus jadi panjang, haha.

  9. Keren ulasannya Gara. GIlak kamu research banyak bener, takjub aku sampai ke Negarakretagama Mpu Prapanca. Btw, Aticobhita artinya amat elok, indah, ini bagus dijadiin nama anak ya #eaaa
    Well done Gara! Ditunggu post berikut

  10. Nggak habis pikir bang bisa sampe nemu website tentang lambang2 kota zaman baheula. Takjub bener ngeliatnya. Sayang Batam dulu tak berarti apa-apa. Hanya sebuah pulau gersang nan kosong huhu

    Singa dan Malang kerap kali mengusik rasa ingin tahu saya karena jika melihat diversitas fauna Indonesia, setahu saya di seluruh penjuru Indonesia tidak ada singa. Membaca ini membuat saya semakin penasaran (duh). Dilanjutkan bang 🙂

    1. Iya, keren-keren banget lambang kota di masa lalu, ya! Saya sejauh ini baru tahu lambang masa lalu Jakarta, Semarang, dan Surabaya karena ada tercetak di dinding salah satu gedung di Kota Tua Jakarta, namun saya tak sangka kota-kota lain juga punya lambang yang demikian indah. Betul, Indonesia bukan daerah persebaran singa di masa lalu. Semoga postingan berikutnya soal ini bisa menjawab semua pertanyaan, ya.

  11. Detail banget Mas.. khas Mas Gara 🙂 Walaupun masih menyisakan penasaran asal usul lambang Singanya dari mana 😀

  12. Yaaaaiii, Malang… One of the most wanted destination I desire to go. Wah, ko bisa ya orang Indonesia zaman dulu mengimajinasikan singa padahal tidak ada di negeri kita. Apa karena gambaran dari pemerintah kolonial?

      1. Iya juga ya. Saya malah baru nyadar. Sangat misterius, mereka pada masa itu sudah bisa berimajinasi tentang singa dan notabene ada di dunia nyata. Sedangkan orang Cina saja sejak zaman dulu berimajinasi tentang naga, tetapi belum pernah diketemukan.

          1. Dulu ada, Mas, kata Wikipedia, hehe. Asia selatan pernah menjadi wilayah persebaran singa. Waktunya kira-kira sama dengan munculnya peradaban di lembah Sungai Indus, hehe.

          2. Iya kalau sekarang mah singa cuma ada di kawasan Afrika ya… sip sama-sama, saya juga baru nyambung setelah baca artikel Wikipedia yang soal singa itu. Di sana ada peta persebarannya, hehe.

  13. dulu …. saya pernah beberapa tahun tinggal di Malang, tapi pada waktu masih sangat jarang ada ornamen Singa. Jadinya saya baru tahu kalau Malang sangat identik dengan singa .. hehehe
    Ohh begitu sejarahnya mengapa Arema berjuluk Singo Edan 🙂

  14. Aduh mas Gara, postingannyaaah panjang sekali. Walau begitu saya suka cara anda mengaitkan praduga dengan fakta dan sejarah di Malang. Gokil abis! Menambah pengetahuan sekaligus membuka pemikiran saya tentang Malang.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!