Arca Singa Stambha #1: Misteri Sang Singa Kemenangan

Agak tidak disangka-sangka, Mbak Mimin menunjuk arca yang tadinya saya kira Dwarapala dengan muka terpotong itu sebagai salah satu masterpiece milik Museum Mpu Purwa. “Jadi ini bukan Dwarapala ya, Mbak?” tanya saya sedikit songong.

“Dwarapala itu apa, ya, Mas?” Dengan lugu sang juru pelihara menanyakan pertanyaan saya. Air mukanya menyiratkan kebingungan.

Dengan sangat sombongnya, saya mencoba menjelaskan perihal arca-arca yang menjadi penjaga pintu masuk ke pura-pura di Bali. Tentang tampangnya yang seram dan jumlahnya yang sepasang, umum terdapat di kiri dan kanan pintu masuk utama. Sadar bahwa penjelasan itu malah makin membuat bingung dua wanita di depan saya, saya mencoba mendekatkan penjelasan dengan arca Dwarapala di Singosari, arca serupa tapi tak sama yang konon merupakan arca Dwarapala terbesar di Nusantara.

Tapi Curiolah yang mampu menjelaskan dengan bahasa yang bisa dimengerti manusia. “Iku lho Mbak, reco pentung.”

“Oalah, reco pentung! Masnya ini ngomong Dwarapala, Dwarapala, ya saya mana mengerti.”

Saya merasa sedikit malu karena kali ini malah saya yang bingung. “Er… reco pentung itu apa, ya?”

Setelahnya saya yang ber-oalah, kemudian terkekeh malu mendengar penjelasan kedua wanita itu. Sombong sih, akhirnya kena batunya, deh.

Ternyata nama yang lebih dikenal masyarakat untuk Dwarapala adalah reco pentung, lantaran figur-figur menyeramkan penjaga gerbang itu selalu membawa pentung, alias pentungan, atau gada. Kalau diingat-ingat, arca Dwarapala Singosari juga membawa gada, yang bentuknya agak berbeda. Beberapa peneliti mengartikan secara terpisah gada yang dibawa kedua patung itu, terkait dengan masa pendiriannya. Omong-omong, Dwarapala Bali (yang disebut hanya pala) juga selalu membawa gada.

Namun demikian, arca di hadapan saya sama sekali tidak terkesan membawa pentungan. Bagian depannya terpotong dan hanya menyisakan bentukan kepala dan rambut keriting. Jadi arca apakah ia sebenarnya?

“Bukan Mas, ini bukan arca… apa tadi, Dwarapala,” kata Mbak Mimin. Jeda sejenak. “Ini arca singa stambha. Ini koleksi baru Museum Mpu Purwa, tapi sudah jadi salah satu koleksi maskot karena usianya hampir seribu tahun,” katanya. Jeda tadi seolah digunakannya layaknya persiapan sang pembawa acara menyampaikan sajian utama untuk parade malam, penuh kebanggaan.

“Singa Stambha?” Saya keheranan. “Apa artinya stambha?”

“Kemenangan,” jawab Mbak Mimin singkat.

arca-singa-stambha-museum-mpu-purwa
Inilah arcanya. Sengaja saya tampilkan penuh agar obrolan selanjutnya bisa lebih jelas.

Singa Stambha: Teori dan Visualisasi

Cerita Mbak Mimin dan penelusuran lebih lanjut di situs berita dunia maya menjelaskan bahwa arca singa ini memang penghuni baru. Arca ini ditemukan sekitar awal tahun 2015, pada lokasi pembangunan perumahan baru di Kel. Merjosari, Kec. Lowokwaru, Kota Malang. Penggalian dilakukan BPCB Trowulan atas permintaan pihak pengembang yang menemukan arca ini terkubur saat mereka melakukan pembangunan beberapa unit rumah baru. Diketahui, sebelumnya area perumahan tersebut adalah bekas persawahan.

Saya berpikir dengan hati agak miris, sudah berapa peninggalan sejarah masa klasik terkubur lebih dalam dan hancur di lahan-lahan perumahan baru tanpa sempat dieksplorasi. Ha, ingatlah nasib Candi Badut dan Situs Karangbesuki, dan candi-candi lain di sekitarnya yang kini sudah jadi rumah-rumah berharga mahal di kawasan Tidar. Ada sekian banyak bukti bahwa kawasan Malang Raya sangat kaya akan peninggalan masa klasik, namun semua tergerus kalah oleh kebutuhan manusia akan tempat tinggal yang semakin banyak.

Diperhatikan masak-masak, hampir semua fitur dari patung singa ini unik. Bentuknya singa berdiri, dengan dua kaki depan terlipat di dada dan dua kaki bawah sebagai tumpuan. Ketiadaan surai (rambut keriting itu ternyata surai) dan saya pasti akan menerka bahwa ini arca anjing, karena posisi seperti itu menurut saya lebih cocok diperankan oleh anjing, alih-alih seekor singa.

Sedikit ke bagian bawah, perut singa ini buncit dengan proporsi cenderung tidak normal, karena buncit perut singa ini menghabiskan tempat, memenuhi bawah leher sampai ke atas kaki. Mukanya pun terlihat terengah-engah, matanya tak tampak karena menanggung beban perut yang demikian besar. Sayang bagian moncongnya terpotong. Andaikata bagian mulut sang singa masih ada, seseorang pasti bisa menerka bahwa ini patung singa pada kesempatan pertama.

Untuk ukuran sebuah arca patung ini cukup besar. Tingginya hampir 1,2 meter dan beratnya tidak kepalang tanggung, satu ton. Tak heran ketika pengangkatannya dari dalam tanah, arca ini harus dirantai dan diangkat alat berat. Syukurlah tak ada masalah berarti dalam pemindahannya. Apa yang saya lihat di Museum Mpu Purwa tak berbeda dengan foto media daring yang menampilkan saat pengangkatan sang patung.

Sejumlah pekerja memindahkan arca Singa Stamba diperkirakan berumur ribuan tahun di Perumahan Dinoyo Regency, Jalan Tlogo Agung, Kota Malang, Senin (8/6/2015). Sumber: Surya Malang
Sejumlah pekerja memindahkan arca Singa Stamba diperkirakan berumur ribuan tahun di Perumahan Dinoyo Regency, Jalan Tlogo Agung, Kota Malang, Senin (8/6/2015). Sumber: Surya Malang.

Tak banyak hiasan yang bisa saya lihat di arca ini. Kondisinya sudah sangat aus. Saya juga tak sempat melihat bagian belakangnya karena takut menjatuhkan benda purbakala lain di belakang arca singa lantaran ruang gerak yang demikian sempit. Tapi di bagian leher seperti ada pahatan kalung, begitu juga di depan perut seperti ada sabuk berornamen (upawita?). Ada pula tonjolan pahatan panjang seolah keluar dari kelamin sang singa.

Pahatan panjang itu agak mirip dengan sebuah arca dari Situs Pasir Angin yang saya sambangi beberapa waktu yang lalu. Namun saya belum menemukan referensi terkait hal ini, kendati bisa saja arca ini berasal dari langgam yang sama. Dwarapala aus yang ada di Museum Pasir Angin juga sepintas tampak serupa. Saya curiga itu ekor, namun ekor yang mengarah ke depan tentu membawa polemik tersendiri yang bisa menghabiskan satu postingan untuk membahasnya.

Baca juga: Museum Pasir Angin #1: Cerita Dwarapala dan Kolam Angka Delapan

singa-candi-kidal
Kira-kira pose menopang itu seperti ini. Diambil dari Candi Kidal.

Visualisasi singa sebagai peninggalan masa klasik Hindu-Buddha memang bukan hal baru. Di Candi Ngawen, Jawa Tengah, singa dipakai sebagai pengisi sudut-sudut candi, sebagai penopang semu. Di Candi Kidal pun demikian. Namun pose mereka tidak sama: singa di Candi Ngawen dan Candi Kidal “menopang” dengan posisi kaki mengangkang dan tangan paralel menahan, seperti sebuah gerakan kuda-kuda (pose serupa uniknya muncul juga di kebudayaan Mesoamerika), sementara singa stambha ini berdiri tegak dengan kedua tangannya terlipat di depan dada.

Sejarawan BPCB Trowulan mengatakan bahwa ini postur yang baru pertama kali ditemukan di daerah Malang Raya. Saya harus setuju dengan pernyataan ini, karena pose sang singa memang agak tidak lazim. Posisi tangannya pun mengundang tanya karena tidak semata-mata terlipat, kalau kita perhatikan lebih jauh. Tangan kanan diposisikan lebih tinggi dari tangan kiri, bertumpuk di depan dada.

Keunikan lain, arca ini ditemukan sendirian. Tidak ada struktur benda purbakala lain ditemukan di dekat sang arca singa. Tak ada bekas dinding candi, petirtaan, apalagi tanda-tanda artefak-artefak lain. Karenanya, pihak BPCB Trowulan sendiri agak susah menjelaskan apa fungsi dari arca singa ini, lantaran posisi relatif benda purbakala ini pada lingkungan yang lebih besar tak diketahui sehingga fungsinya pun tak dapat ditentukan. Pengamatan yang lebih teliti terhadap arca ini, dengan demikian, hanya bisa dilakukan dari segi morfologi, dan penggunaan satu metode saja menghasilkan kesimpulan yang, menurut saya, agak kasar.

Menurut sejarawan itu, arca ini adalah milik masyarakat menengah ke bawah karena (1) diduga arca ini hanya wahana yang ditempatkan bukan di bangunan suci atau istana, dan (2) proporsi antarbagian tubuhnya tidak sama, di mana bagian perut buncit besar sekali, namun bagian kakinya malah mengecil. Jelas, ini bukan arca indah yang dibuat dengan presisi tinggi sebagaimana arca pendarmaan raja-raja atau para pengiringnya.

Saya agak susah menerima penjelasan ini arca milik rakyat jelata. Kalau ini bukan arca yang dimiliki penduduk menengah ke atas, kenapa arca ini punya bentukan kalung dan sabuk berornamen, mirip upawita? Apabila benar itu upawita, maka bukankah artinya singa ini “memiliki kasta”, karena upawita adalah penanda kasta? Mungkinkah singa ini punya posisi sosial yang lebih tinggi daripada orang yang memilikinya? Lagi pula rakyat jelata mana yang punya arca?

Satu Petunjuk: Angka Tahun

Di tengah semua kebingungan itu, fitur yang bagi saya paling menentukan, dan yang paling dapat membuat titik terang, adalah angka tahun yang tercetak di dada si arca singa. Ditulis dengan huruf Jawa Kuno, angka-angka itu adalah: 9-4-1, artinya tahun saka 941, atau tahun 1019 Masehi.

Dengan asumsi bahwa tahun itu adalah tahun peresmian arca singa, sejarawan BPCB Trowulan mensinyalir ada dua kemungkinan asal arca tersebut. Yang pertama, arca ini adalah sisa peninggalan Kerajaan Kanjuruhan, dan yang kedua, arca ini adalah peninggalan peradaban kerajaan Jawa Tengah yang masuk ke Jawa Timur pada abad 8—9 Masehi.

Selanjutnya, mengutip penjelasan sang sejarawan, nama stambha yang disematkan pada sang singa juga bertolak dari dugaan tahun pembuatan arca, yakni abad ke-10. Di masa itu, pemujaan terhadap Wisnu sedang populer sehingga banyak arca dibuat untuk menghormatinya, salah satunya adalah arca singa ini. Satu awatara Wisnu, awatara ketiga, memang berwujud manusia berkepala singa (Narasimhamurti Avatara) sehingga penjelasan ini masuk akal, kendatipun dengan demikian arca ini mestinya bukan semata-mata seekor singa, melainkan manusia berkepala singa. Quod non, lho ya.

Saya masih agak susah menerima penjelasan soal tahun pembangunan arca. Taruhlah sejarah soal kerajaan Kanjuruhan, yang menurut SNI berkuasa di daerah Malang sekitar tahun 650—700 M. Antara abad ke-8 sampai dekade awal abad ke-9, kerajaan ini sudah tidak lagi terdengar namanya. Bukti-bukti sejarah yang muncul di awal abad ke-10 sudah menyebut-nyebut Dyah Wawa dan Pu Sindok, satu yang saya ingat adalah Prasasti Sangguran yang berangka tahun 928 M, hampir 100 tahun lebih awal dari arca singa ini. Artinya, pengaruh Jawa Tengah sudah masuk di abad ke-9, sedemikian rupa sehingga Kanjuruhan sudah berubah menjadi vasal, sehingga tak mungkin mengartikan arca abad ke-10 sebagai peninggalan kerajaan Kanjuruhan.

Jika disebut “peninggalan Kanjuruhan”, maka ya, saya setuju, karena bukankah seluruh daerah Malang Raya adalah wilayah Kanjuruhan, sehingga peninggalan yang berasal dari sana juga dengan sendirinya bernama “peninggalan Kanjuruhan”?

Saya juga punya pendapat yang berbeda soal penggunaan kata stambha. Meskipun saya setuju dengan pendapat bahwa singa ini memang harus disebut singa stambha, tapi menurut saya disebut stambha bukan semata-mata perwujudan Dewa Wisnu, melainkan pada masa itu adalah juga masa-masa “kemenangan”, karena 941 bukan angka tahun biasa. Entah kebetulan atau disengaja, ada sesuatu yang sangat penting justru kejadian di tahun itu. Sesuatu yang mengubah sejarah Jawa Timur.

Dan siang itu, ketika kami mencoba menggali lebih dalam, semua hal muncul berkaitan: antara Malang Raya, arca singa, dan angka tahun sembilan empat satu.


Kepustakaan:
Laman daring:
http://suryamalang.tribunnews.com/2015/06/09/warga-malang-tolak-arca-singha-stambha-usia-ribuan-tahun-dipindah-ke-museum?page=2
http://nasional.news.viva.co.id/news/read/635439-arca-singa-berusia-1-000-tahun-ditemukan-terkubur-di-malang

47 thoughts on “Arca Singa Stambha #1: Misteri Sang Singa Kemenangan

  1. ya ampun, Garaaaa… untuk satu arca saja kamu bisa nulis banyak informasi yang aku sampai terkagum-kagum bacanya euy. Pengen selftoyor rasanya atas keminiman aku yang amat sangat soa beginian.

  2. Untung banget ya pas proses pembangunan perumahan di Dinoyo-Malang, arca tersebut nggak terus ditutup atau pura-pura nggak ditemukan oleh pemborongnya, tapi justru dilaporkan ke BPCB Jawa Timur. Yang masih mengganjal, dari mana ya peradaban dinasti Kanjuruhan atau sebelum itu mendapat gambar singa yang disimbolkan sebagai kemenangan? Apa nyambung ke masa keemasan Ashoka di India? Panjang juga ya kalo ditarik ke sana. Menunggu penjelasan dari Gara biar tercerahkan. Hihihi.

    1. Sebenarnya saya belum dapat info juga kenapa singa ini oleh pihak BPCB dikatakan sebagai singa stambha. Namun penelusuran ala-ala versi saya malah sepakat dengan pendapat pihak BPCB itu, hehe. Kalau ditelusuri sedikit, penggunaan simbol-simbol dari India merupakan bentuk masuknya budaya itu dalam sebuah masyarakat baru, sehingga maknanya pun menurut saya juga mirip. Kanjuruhan sebenarnya lokus Hindu yang tak kalah tua dibanding Jawa Tengah, hal ini nanti kita perdalam waktu saya sampai arca Agastya ya Mas, setelah Singa Stambha ini, hehe.

  3. Kok kwbetulan ya nemu patung singa di pembangunan perumahan? Tapi biasanya sih pihak pengembang akan menutupi semua jenis temuan biar pembangunannya cepat selesai. Agak curiga sih kalau patung besar dan berat seperti itu ditemukkan secara mandiri. Bagaimana kalau pihak pengembang tidak mau bekerja sama dengan pihak museum untuk pencarian lebih lanjut di daerah sekitar?

    Entahlah. Mungkin cuman pikiran yang salah.

    1. Yah ada sih yang seperti itu, disembunyikan atau dilibas saja. Cuma biasanya sih hal-hal mistis terlibat di sini jadi kejadian bablas seperti itu menurut saya agak jarang, hehe.

  4. singa sedakep ya..
    baca baris2 terakhir malah bikin makin penasaran….

    pose singa di candi Kidal kenapa kok aku langsung ingat boneka kucing manggil2 di toko2 di Mangga Dua ya

    1. Cuma yang ini kayaknya nggak menarik pengunjung ya Mbak, hehe. Mungkin perlu saya perdalam soal simbolisme singa di sebuah tulisan di masa depan. Saya jadi penasaran juga soal ini…

  5. MAS GARAAAAA 😀

    Masih tentang sejarah-sejarah yang begitu kamu kuasai itu ya 😀 hihihi kereeen 😀

    Sekarang ngomongin arca, anyway itu pose arcanya like a boss ya sedakep gitu ._. *HEH JANGAN NGOMONGIN ARCA* *Emaap*

    1. Haha, iya arcanya unik ya, sedang bersedekap. Saya tumben lho melihat arca like a boss begini. Biasanya berdiri-diri cantik tok. Semestinya pose unik menyimpan makna unik juga. Nanti kita bahas di tulisan selanjutnya ya.

  6. Iya. Sekilas lebih mirip anjing karena posisi kedua kaki depan yang terlipat di bagian dada.
    Aku setuju sama kamu, mas. Agak aneh kalau arca itu dimiliki rakyat jelata, karena sepertinya arca itu pada zamannya adalah obyek yang dimiliki minimal kaum menengah. Bentuk tubuhnya yang tidak presisi mungkin ada maksud tertentu.

    Baru kali ini ada blogger yang fokus banget sama arkeologi sampai bisa membahas satu arca dalam satu tulisan. Lanjutkan, mas!

    1. Iya, bahkan sekarang pun pemilik rumah-rumah yang bisa mengoleksi patung-patung adalah orang-orang dengan kemampuan finansial berlebih di samping memang suka dan perlu untuk ibadah. Hehe, terima kasih banyak, mudah-mudahan tulisan selanjutnya bisa rilis dalam waktu dekat.

  7. Kok aku ngeliatin arca singa itu kayak anak kecil sedekap ya? Jadi mengerti sedikit tentang arca dari sini. Penyampaiannya juga menarik, keep It up bro. Oia, salam kenal mas Gara

    1. Halo, salam kenal juga. Iya ini memang arcanya bersedekap, unik yah. Saya pun tumben ketemu arca yang seperti ini. Wah, terima kasih atas apresiasinya. Syukurlah kalau tulisan ini bermanfaat dan ada ilmunya, hehe.

  8. “Dan siang itu, ketika kami mencoba menggali lebih dalam, semua hal muncul berkaitan: antara Malang Raya, arca singa, dan angka tahun sembilan empat satu.”

    wuih seperti cerita detektif. Menanti obrak-abrik ceritanya kembali, Mas.

  9. Gw jadi agak suka bertanya2 soal “sang penjaga” gerbang ini kan biasanya ditemukan di candi Hindu dan Budha, tapi di Sumatra saya berkunjung ke Candi Muaro Jambi (Hindu -Budha) nggak nemu ya sejenis Dwarapala. Mungkin kah Makara adalah simbol Dwarapala juga disana?

    1. Candi di Sumatera itu unik-unik, ya. Yap, makara yang seram dan mengancam juga jadi figur penjaga bangunan dari kekuatan jelek. Cuma kalau di Jawa mereka muncul semua, baik Dwarapala atau Makara. Saya belum nyambung dengan gejala kalau Dwarapala tidak ada. Alamat mesti ke Sumatera nih, hehe.

  10. Saya tertinggal sekian langkah, mungkin banyak, dalam hal pendalaman arca dan museum Mpu Purwa di Malang oleh Mas Gara. Saya banyak terbuka wawasan, termasuk Kanjuruhan, asal muasal arca ini, setelah membaca tulisan ini 🙂

    1. Museum Mpu Purwa itu salah satu museum yang saya yakin untuk tidak merasa bosan meski mengunjunginya lebih dari sekali. Mbak Mimin yang ramah dan terbuka, arca-arcanya yang punya banyak kisah di dalamnya. Saya dengar pembangunan museum itu sekarang sudah bergerak ke arah yang lebih baik ketimbang saat saya datang dulu. Berbahagialah Mas, soalnya tinggal di Malang, jadi bisa berkunjung ke museum ini kapan pun berkenan, hehe.

    1. Kalau Sumatera saya belum pernah menulis soal sejarahnya, Mbak. Maklum, belum pernah tandang ke sana, hehe. Tapi saya cukup yakin daerah Indonesia identik dengan legenda macan karena di masa lalu banyak macan yang tinggal dan hidup di sini. Cuma kalau singa, sebagaimana kata Mas Bart, tak tinggal di Indonesia, jadi tentu saja budaya singa ini patut dicari sumbernya. Saya mulai dengan Malang sebagai skala terkecil, hehe.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?