Arca Agastya Karangbesuki: Unik, Mungil, Perutnya Rata!

Sedari tadi Sang Bhatara Guru bergelar Arca Agastya Karangbesuki itu mengamati gerak-gerik kami dalam diam. Kami mengutak-utik foto Prasasti Kanuruhan, juga berdiskusi seru tentang patung singa stambha, tapi kami mendiamkannya. Padahal, patung ini juga adalah salah satu maskot dari Museum Mpu Purwa. Bahkan, agaknya patung sang maharsi ini punya keunikan lebih ketimbang dua topik obrolan kami sebelumnya.

Baca juga: Arca Singa Stambha #3: Malang dan Sejarah Kerajaan Airlangga

Kali ini saya beruntung karena tak (mungkin) salah menebak ini patung apa. Tentu ini patung Rsi Agastya, alias Siwa Mahaguru, berkat penampilan bak maharsi dan trisula yang dibawanya.

arca-agastya-karangbesuki
Arca Agastya Karangbesuki, kini di Museum Mpu Purwa Kota Malang

Patung ini, yang namanya Arca Agastya Karangbesuki itu, tak sampai dua setengah kaki tingginya. Bagian kakinya pun sudah tak tampak lagi. Tapi sepertinya ada sesuatu yang berbeda dengan patung ini, kendati saat itu saya tak bisa menerka apa. Mbak Mimin meminta saya menebak. Beberapa lama patung ini kami pelototi. Tapi entahlah ya, sepertinya tak ada yang aneh.

“Agastya yang ini kurus, Mas.”

Dang! Itu pukulan telak. Kami langsung melihat ke arah perut sang arca. Eng ing eng, memang benar, ternyata perutnya tidak buncit. Tapi demi Tuhan, Agastya yang bagaimana yang digambarkan tidak buncit?

Mbak Mimin pun menjelaskan. Saya langsung memasang ekspresi menganga lebar-lebar sampai rahang mau jatuh. Kalau di manga-manga Jepang, saya seperti sang tokoh yang baru diberi tahu bahwa dunia mau runtuh. Saya mengingat-ingat beberapa Agastya yang saya temui, entah di candi Jawa Tengah atau candi Jawa Timur. Semua mereka punya perut yang agak besar. Bukan “agak” lagi. Agastya memang dipersonifikasikan sebagai seorang rsi berperut buncit.

Kata Mbak Mimin, arca ini hanya ada satu di seluruh Jawa Timur. Arca Agastya Karangbesuki ini punya langgam Jawa Tengahan. Arca ini sendiri diperkirakan berasal dari abad ke-8 atau ke-9 Masehi. Tepatnya pada masa-masa kerajaan Kanjuruhan yang asli. Tempat penemuannya pun memang berasal dari daerah situs Kanjuruhan, yakni di Situs Karangbesuki, dua ratus meter di sebelah utara Candi Badut.

“Wah, ini dari Situs Karangbesuki yang itu?” komentar saya takjub. “Waduh, padahal situs itu kan…”

Saya mengingat-ingat situs tak biasa yang baru kemarinnya saya kunjungi. Saya langsung bersyukur, dua kali. Pertama karena papan petunjuk di situs itu tidak bohong: memang ada arca Agastya yang tersisa darinya. Kedua, tentu saja karena saya bisa melihat arca itu secara langsung.

Brosur Museum Mpu Purwa yang diberikan sang pemandu memberi info yang singkat, padat, dan lengkap. Digambarkan dimensi arca Agastya (arca ini tak sampai satu meter tingginya, cuma 0,7 meter!). Ada pula ciri khasnya, yang sudah diberitahu Mbak Mimin tadi: perutnya yang tidak buncit. Beberapa keunikan lain yang disampaikan di brosur itu adalah rambut yang terurai hingga punggung, janggut yang diukir panjang dan halus, serta adanya bekas hiasan kantong air pada sabuk yang mengikat kainnya.

Tapi bagi saya sendiri, sepintas seperti ada berkas Tionghoa di Arca Agastya Karangbesuki. Pertama sekali dugaan itu timbul karena wajah arca ini. Alih-alih berair muka teduh, arca ini justru seperti tersenyum jenaka. Senyum lebar sampai mata menghilang adalah satu fitur yang biasa saya lihat di arca-arca Tionghoa.

Selain itu, adanya kantong air di pinggang baru saya lihat di arca ini. Agastya sebelah mana yang membawa kantong air? Bentuk kantong airnya mengingatkan saya pada arca-arca dari dataran Tiongkok. Seperti labu yang pernah saya lihat dibawa seorang tokoh di serial Kera Sakti. Hm, apakah mungkin pengaruh Cina di masa itu, sebagaimana India, juga telah masuk sedikit demi sedikit ke Jawa, meninggalkan berkas-berkasnya? Dan apakah kehadiran budaya Tiongkok di Jawa Timur masa itu adalah salah satu tonggak untuk pembuktian bahwa bekas Tionghoa di pedalaman Nusantara memang ada, yang bukti terjelasnya ada di Bali?

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya mencari pembanding Agastya yang sezaman. Kalau tak salah, saya pernah lewat sepintas di arca Agastya yang tidak berperut buncit, pada suatu sayap di Museum Nasional. Mungkin perbandingan arca Agastya Karangbesuki dengan Agastya Museum Nasional bisa menjelaskan beberapa keanehan ini.

Baiklah, ke Museum Nasional kita menuju. Akan ada beberapa hal yang ternyata bukan sebuah ketidaklaziman. Kantong air itu, contohnya.

Baca juga: Kepingan-Kepingan Ekspresi dari Gajah dan Arca

Mencari Banding Arca Agastya Karangbesuki di Museum Nasional

Dari arca yang sangat besar di rotunda, yang berasal dari Candi Banon, sampai ke arca-arca Agastya kecil di sayap kiri dan kanan Taman Arca, mayoritas arca Agastya di Museum Nasional, yang ditampilkan ke publik, digambarkan sebagaimana lazimnya. Hampir semua digambarkan memiliki perut yang buncit, janggut yang panjang, dengan laksana seorang maharsi. Satu arca Agastya bahkan digambarkan dengan sorban.

agastya-museum-nasional
Agastya yang satu ini lazim kita jumpai di Museum Nasional. Perutnya buncit, kan?

Sorban dan teka-tekinya saya simpan dulu untuk kesempatan yang lain.

Ternyata ada satu arca Agastya yang sesuai dengan apa yang saya cari. Arca yang satu ini, perutnya tidak buncit. Asalnya dari Dieng, Jawa Tengah, dari abad ke-9. Artinya, arca satu ini berasal dari masa ketika kebudayaan Hindu yang berkembang di Jawa masih kental dengan nuansa India. Sebagaimana diketahui, candi-candi di Dieng sering disebut sebagai gugusan candi tertua di Jawa secara umum. Banyak tulisan yang menyimpulkan bahwa langgam bangunan candi di Dieng mirip dengan langgam candi di India bagian selatan.

agastya-dieng-museum-nasional
Arca Agastya dari Dieng

Arca di Museum Nasional ini juga digambarkan sedang berdiri (samabhangga). Janggutnya panjang, dan ada kendi air juga di pinggang sebelah kiri. Hanya saja, alih-alih digambarkan terikat pada kain, kendi di arca ini dipegangnya dengan tangan kiri.

Dengan fakta bahwa arca Agastya yang ada di Museum Mpu Purwa ditemukan di Jawa Timur, dekat dengan situs candi yang gayanya sangat ke-Jawa Tengahan, agaknya benar jika kebudayaan Hindu di Jawa Timur tidak semata-mata boyongan dari Jawa Tengah di abad ke-10. Meskipun akhirnya kebudayaan “boyongan” itu mendominasi dalam perjalanan sejarah Jawa Timur, ada bukti bahwa di saat yang sama dengan budaya Hindu-India berkembang di Jawa Tengah, budaya yang sama juga tumbuh di Jawa Timur.

Ini tidak terlalu banyak membuktikan apa-apa, memang. Tapi saya sempat berkelakar dalam hati bahwa mungkin saja aslinya Agastya itu tidak buncit, tapi perutnya menggendut setelah lama tinggal di Indonesia.

Klarifikasi Poerbatjaraka soal Agastya

Meski saya pada awalnya menganggap itu cuma kelakar, namun ketika disertasi Poerbatjaraka sudah ada di tangan, sepertinya kelakar itu beralasan. Ilmuwan itu mengangkat Agastya sebagai topik disertasinya, yang berjudul Agastya in der Archipel (Agastya di Nusantara). Dipromotori oleh N.J. Krom, saya rasa apa yang mereka berdua katakan sejauh ini bisa menjadi kata putus bagi permasalahan menyangkut arca Agastya di negeri ini.

Sebelum saya sampai ke perut Agastya yang tidak rata, ada beberapa hal yang bisa disimpulkan secara umum soal arca Agastya, dengan pengecualian arca Agastya Banon yang, meminjam istilah Poerbatjaraka, “besar dan bagus”. Yang pertama adalah bahwa Agastya dalam sastra-sastra Hindu kuno digambarkan “agak kerdil”, atau “berukuran tubuh kecil”. Meskipun pendapat ini akhirnya dibantah sendiri beberapa halaman selanjutnya, tak bisa dipungkiri bahwa memang ada sastra Hindu yang menyatakan bahwa dibandingkan rsi-rsi yang lain, Agastya punya postur yang lebih pendek (Poerbatjaraka 1992: 129).

Apa artinya? Ini berarti ukuran kecil dari arca Agastya Karangbesuki, juga arca Agastya berperut rata yang ada di Museum Nasional, bukanlah hal yang tidak disengaja. Ada sebuah langgam (relatif) yang diikuti kedua patung tersebut dari segi tinggi badan. Disebut relatif, karena pada akhirnya, dengan penemuan arca Agastya dari Candi Banon (yang nantinya diikuti di Prambanan dan Singosari pada masa jauh kemudian), langgam ini berganti dengan pemahaman baru bahwa arca Agastya haruslah, yah, besar dan bagus (Poerbatjaraka 1992: 134).

Akhirnya, apa yang ia katakan soal Agastya berperut rata?

Poerbatjaraka merujuk pada penemuan di Travancore (kini Kerala), India, yang ia sebut secara samar sebagai salah satu candi Hindu tua di India. Di sana, penemuan tersebut menyimpulkan bahwa Agastya pada dasarnya tidak digambarkan dengan perut buncit. Poerbatjaraka menduga bahwa berubahnya postur tubuh Agastya dikarenakan salah tafsir yang akhirnya membudaya di sana (dan akhirnya, di Indonesia, mengingat pengaruh Hindu negeri ini berasal dari India Selatan), sebagaimana terkutip:

“Seperti yang sudah dikatakan di atas secara singkat, perut Agastya yang buncit merupakan suatu interpretasi yang tidak benar tentang namanya Kumbhayoni. […]. Ketika kepada nama Kumbhayoni diberikan sinonim Kumbhodara dan Kundodara, orang menduga bahwa Agastya memiliki perut buncit. Pendapat yang terakhir ini diterapkan ke dalam seni pahat, dan dengan demikian kita mendapatkan seorang Agastya dengan perut buncit.” (Poerbatjaraka 1992: 134-135).

Dengan jawaban di atas, penyebab Agastya berperut buncit telah terjawab. Namun itu belumlah memuaskan, karena alasan Agastya berperut rata (yang dapat disimpulkan lebih tua dari Agastya berperut buncit) muncul di Indonesia belum dijelaskan. Secara samar, Poerbatjaraka menjelaskan hal itu dalam paragraf-paragraf berikut:

Dapat ditarik kesimpulan bahwa Agastya yang ramping dan berperut kecil itu dari segi seni pahat atau skulpturil, tentu sudah berusia cukup lanjut. Dan karena candi di Deogarh di mana juga terdapat Agastya yang ramping, berasal dari zaman Gupta (320-550 M), begitulah menurut pendapat yang berlaku sekarang ini, maka seharusnya candi di Travancore yang dimaksud di atas juga kurang lebih berasal dari zaman itu. Karena itu pembubuhan tanggal “8th century AD” oleh penulis terlalu muda bagi kita.

[…] kita ingin menaruh perhatian pada Guru Agastya di Banon. Dilihat dari tinggi ukuran badan, Guru ini masih dibuat menurut cara ciptaan yang lama. Jadi menurut pandangan kami mungkin saja arca ini dalam usia berkaitan langsung dengan Agastya Deogarh dan Travancore. Sebab arca ini baru berada pada tingkat pertama perkembangan: berperut buncit, tapi berbadan kekar.” (Poerbatjaraka 1992: 135).

Apa artinya? Paling tidak ada dua kesimpulan terkait penjelasan di atas. Yang pertama, Agastya berperut rata lebih tua dari Agastya berperut buncit. Kedua, dengan ditemukannya arca Agastya berperut rata, Indonesia boleh jadi menerima budaya Agastya dalam wujudnya yang paling asli, paling tua, yakni tubuhnya yang pendek/kerdil dan perutnya yang tidak buncit.

Dengan demikian, tidaklah terlalu mengherankan dengan keterangan-keterangan bahwa arca Agastya yang berperut rata ini dikatakan punya usia yang lebih tua daripada arca-arca Agastya setelahnya. Namun menurut hemat saya, perlu juga dicermati bahwa pada masa-masa awal perkembangan seni pahat Hindu India di Indonesia, perkembangannya terjadi secara paralel. Perubahan bentuk perut Agastya yang terjadi di India sana, terjadi pula di Indonesia. Dengan demikian, untuk ukuran sebuah bangsa yang baru mendapat agama dan budaya baru dari luar, hubungan yang terjadi antara bangsa itu dengan bangsa sumber budayanya, boleh dikata sangat erat.

Satu hal lagi yang pantas ditegaskan kembali, penemuan ini merupakan bukti awal bahwa pada masa awal perkembangannya, setelah lepas dari Tarumanegara di tatar Sunda, Hindu tidak hanya berkembang di Jawa Tengah. Memang, pandangan tentang Hindu yang pertama kali berkembang di luar Jawa Barat adalah di Jawa Tengah, karena ditemukan prasasti tertua (Prasasti Canggal) dan kompleks candi tertua (Candi Dieng). Namun, Jawa Timur pun boleh jadi nominasi pecahan Hindu setelah Jawa Barat, karena penemuan-penemuan masa kini semakin mengukuhkan kalau pernah ada pusat Hindu yang berkembang secara paralel dengan Dataran Kedu dan Kewu pada saat yang sama, dan mestinya mendapat perhatian yang sama pula.

agastya-museum-nasional-2
Satu lagi Agastya di Museum Nasional.

Yang pasti, sesuatu pada perut arca Agastya Karangbesuki yang saya temui akan selalu membuat saya teringat dengan kelakar itu. Rupanya Agastya memang terlalu senang hidup di Jawa sampai-sampai perutnya membuncit. Oh, betapa Jawa adalah tanah kemakmuran!

41 thoughts on “Arca Agastya Karangbesuki: Unik, Mungil, Perutnya Rata!

  1. (komentar ini candaan, seenaknya, ga logis, tolong jangan dianggap serius, apalagi dimasukkan ke hati)

    Q: Kenapa Agastya akhirnya perutnya gendut?
    A: 1. Suka minum tuak atau anggur, 2. Mpreg

    1. Seperti kata sebuah lagu, “Tongkat kayu dan batu jadi tanaman”, Indonesia memang subur sekali. Tapi entahlah, keserakahan manusia. Jadi tak terlihat lagi subur tanah ini.

    1. Saya setuju. Jawa memang sangat makmur dan subur. Tanahnya bisa ditanami apa saja, pesisirnya pun sangat kaya akan ikan. Tak heran manusianya cerdas-cerdas semua, sepertimu Mas, hehe.

  2. Duh Gara… Seperti biasa, ulasanmu selalu dalam. Mungkin jg karena archa ini jg berkaitan dg agamamu kali ya, jd kamu paham ttg archa.

    Kalau aku waktu ke sana mah, main foto2 aja, hehe.

    1. Sebenarnya ulasan tentang arca tidak ada Mbak di pelajaran agama yang saya terima di sekolah, hehe. Tapi karena sering lihat di pura, mungkin jadi familiar. Saya juga waktu ke sana foto-foto, haha. Menambah stok swafoto narsis #eh.

  3. Suksma Gara. Menyimak paparan Agastya sambil ternganga, Gara membedahnya dari referensi museum di Jatim, Dieng hingga museum Nasional. Pesan menjaga kesuburan kemakmuran menjadi tugas bersama. Salam

    1. Terima kasih Mbak. Sebenarnya kunjungan di Museum Mpu Purwa kemarin sangat singkat makanya saya cari pembanding ke Museum Nasional. Syukurlah malah terbuka pemikiran baru di sana, hehe.

    1. Terima kasih banyak atas apresiasinya Mbak, tapi masih banyak hal yang masih harus saya pelajari, hehe. Ini kebanyakan hasil cerita dengan juru peliharanya doang kok, hehe.

    1. Itulah salahnya, kenapa di tanah sesubur Nusantara masih ada kelaparan dan kesenjangan makanan. Prihatin rasanya, Mas. Saya masih mencari cara bagaimana bisa berkontribusi untuk negeri ini. Mudah-mudahan tulisan ini bisa membantu.

  4. Rsi Agastya yang konon katanya adalah Bapak dari Bahasa Tamil. Yang mengherankan beliau ini lahirnya di Banares (Varanasi) di India Utara kok bisa jadi Bapak Bahasa Tamil (India Selatan) yang bahasanya berbeda banget dengan India di utara. Saya mengingat-ingat di bagian mana Rsi Agastya ini muncul di epik Mahabharat. Duh saya pelupa >__<

    1. Saya malah ingatnya Rsi Agastya itu muncul di Ramayana? Ketika Dasarata dan istrinya meminta anugerah putera dari para dewa, haha. Tapi saya juga lupa, hehe. (Ketahuan jarang baca epos padahal di agama dulu diekspos banget).
      Menurut saya itu lebih ke soal figur, Mas. Hindu memang awal munculnya di India Utara, hanya penyebarannya ke selatan tentu memunculkan tokoh-tokoh prominen di daerah selatan setelah adanya percampuran dengan penduduk di sana. Tokoh yang dianggap biasa saja di utara jadi sangat penting di selatan karena kedekatannya dengan kehidupan masyarakat di selatan. Itu juga kejadian di Indonesia (cuma belum saya dalami, haha).

  5. Menarik sekali Mas, kamu membahas bagian perut dapat ribuan kata dan panjang sekali. aku penasaran. Kamu dulu jurusan arkeologi ya, Mas?
    Oh ya. di paragraf atas disebutkan bahwa candi2 di Dieng adalah candi Hindu tertua, itu shahih?
    dan ternyata menarik ya, sebab seni pahat dari Empu aslinya kemudian dibawa ke Indonesia jadi berbeda, meski hanya pada bagian perutnya saja. Atau mungkin, bisa menggambarkan watak? bahwa di Indonesia untuk urusan perut lebih diutamakan. hehe.
    Salut, Mas. jadi pengen ketemu sampeyan dan ngajak jalan ke beberapa candi.

  6. Menarik sekali Mas, kamu membahas bagian perut dapat ribuan kata dan panjang sekali. aku penasaran. Kamu dulu jurusan arkeologi ya, Mas?
    Oh ya. di paragraf atas disebutkan bahwa candi2 di Dieng adalah candi Hindu tertua, itu shahih?
    dan ternyata menarik ya, sebab seni pahat dari Empu aslinya kemudian dibawa ke Indonesia jadi berbeda, meski hanya pada bagian perutnya saja. Atau mungkin, bisa menggambarkan watak? bahwa di Indonesia untuk urusan perut lebih diutamakan. hehe.
    Salut, Mas. jadi pengen ketemu sampeyan dan ngajak jalan ke beberapa candi.

    1. Bukan Mas, saya bukan jurusan arkeologi, bukan juga jurusan sejarah. Ini cuma sebatas hobi, hehe.
      Sampai sekarang, demikianlah pendapat para sejarawan, bahwa Dieng masih merupakan kompleks tertua, disusul Gedong Songo dan Badut. Tentu ada kemungkinan berubah jika ada penemuan-penemuan baru.
      Boleh jadi, Mas. Umumnya perubahan pada produk budaya pasti karena pengaruh dari masyarakatnya juga. Hayuk atuh jalan ke candi, saya pengen diskusi banyak, hehe.

  7. Horeeee! Nambah lagi wawasan baru, 🙂

    Saya sedikit tergelitik dan kaget juga bahwa arca pun juga membahas hingga urusan perut dalam artian sebenarnya, baik rata atau buncit itu. Tapi Jawa memang tanah kemakmuran, setuju dengan kelakar yang disebutkan di atas 🙂

    1. Sesungguhnya seniman yang bebas pun punya pakem ya Mbak, hehe. Apalagi kalau di masa lalu ketika seni dan agama dengan dogma-dogmanya sangat erat sehingga semua hal mutlak menjadi pakem, hehe.

  8. Saya jadi nambah ilmu tentang Archa juga setelah membaca ini.
    Tapi tetap aja susah membedakannya.
    Sepakat dengan komen2 diatas, mungkin perut buncit perlambang kemakmuran sejalan dengan pertambahan usia 🙂

  9. lho mas Gara klo di india Agastya nya berperut kecil dan kemudian dikorelasikan dengan temuan yang sama di indonesia, berarti masih masuk akal. tapi apakah tidak ada “kepastian” bukan dugaan semata tentang usia patung itu sendiri? klo usianya masih rentang seabad okelah. Tapi kalo sudah lebih, mungkin saja pengaruh hindu dalam hal pematung tidak ikut masuk.

    sedangkan adanya perubahan kemudian menjadi gendut apakah bukan seperti kisah walisongo yang mengadaptasi cerita mahabarata dengan adanya karakter2 baru? mungkin saja Agastya gendut di indonesia merupakan budaya yang entah merupakan akar dari budaya indonesia sendiri (mungkin penyesuaian). Kecuali jika ada bukti-bukti kuat bahwa usia Agastya gendut lebih muda dibanding Agastya yang kurus.

    tapi saya juga tadi mikir, lha apa hubungannya sama China? jika patung-patung seperti mata dan mulutnya seperti kebudayaan china, apa hubungannya dengan perkembangan agama hindu? atau apa mungkin budaya china yang masuk yang mengubah perut Agastya sebagaimana perbedaan pada mata dan mulut?

    maaf hanya pertanyaan dari orang yang nggak tahu sejarah. cuma hasil sekali baca saja ha ha ha……

    1. Hehe, begini Mas. Pada awalnya, penggambaran Agastya itu baik di Jawa maupun di India sama-sama berperut kecil dan bertubuh pendek. Namun seiring berjalannya waktu, ternyata penggambaran Agastya di kedua wilayah itu berubah, jadi punya perut buncit. Penyebabnya adalah karena adanya interpretasi yang keliru terhadap julukan Agastya yakni Kumbhayoni. Soal usia, Agastya yang perutnya rata memang lebih tua daripada yang perutnya buncit. Kebanyakan Agastya berperut rata ditemukan di candi-candi bertarikh paling lawas, seperti Dieng, sementara Agastya berperut buncit ditemukan di candi-candi bermasa lebih kemudian, mulai dari Prambanan sampai ke candi zaman Majapahit.
      Soal pengaruh Tiongkok, itu benar-benar pikiran saya saja Mas, melihat ekspresi wajahnya mengingatkan saya pada patung-patung dewa di klenteng atau wihara yang pernah saya datangi. Namun mungkin saja nih, ada pengaruhnya sedikit, secara di masa lalu perdagangan internasional membuat Indonesia banyak mendapat eksposur kebudayaan dari daratan Asia yang lain, hehe.
      Nggak apa-apa kali Mas, haha. Saya malah berterima kasih, saya juga jadi belajar untuk menjelaskan secara runut dan mudah dipahami, hehe.

  10. jadi perut rata ke buncit karena miss communication dan juga pengaruh kondisi saat itu kali ya .. sudah mulai banyak yang perut buncit … apalagi zaman sekarang jadi banyak yang obesitas .. ehh jadi malah kemana mana 🙂

  11. Nambah lagi ilmu perarca an ini. Gara, jangan jangan perut buncit karena yang buat patungnya lagi sensi sama perutnya sendiri kali #hihihi
    Salam kenal lagi ya gara

  12. Kok sama sih Gara, aku juga melihat gaya China di arca-arca itu hihihi… apa karena pengaruh kumis dan janggut ya? Rasanya ga beda jauh sama patung-patung di vihara-vihara… 😀
    Kapan-kapan kamu tulis soal hiasan kepala yang segitiga itu ya Gar… pengen tau aja 😀

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?