Antara Aku, Menara Air, dan Senja

Becak motor kami berhenti di sebuah perempatan. Sembari menunggu kendaraan lain bergerak, saya mengintip langit di atas sana, bersama keadaan di sekitar kami.

Inilah Medan. Kota yang di dalam benak saya mendapat julukan kota perkebunan. Beda dengan Jakarta kota pemerintahan, Malang kota tetirah, bagi saya Medan adalah pusat ekonomi perkebunan, karena dari sinilah, ekonomi Hindia Belanda pada paruh awal abad 19 mulai menuai hasil berlimpah untuk pemerintahan kolonial, berupa karet dan kelapa sawit.

Demi Tuhan! Itu bangunan apa?

Sebuah menara air tegak berdiri menentang keramaian jalan ibukota provinsi. Rangka besi tebal menjadi penyangga, menjaga tabung besar dari kemungkinan tumpah. Sebuah dasar yang mirip benteng dapat dilihat, bertuliskan angka 1908. Yang unik, tabung besar yang tampak seperti disusun dari plat-plat besi ini berjendela, dan catnya yang krem cokelat selang-seling mengingatkan saya pada nuansa country di benua Amerika.

Saya membayangkan sapi yang sedang mengunyah jerami. Babi-babi mandi di kubangan, ditingkahi suara ribut gosip ayam betina dari dalam gedung kayu besar bercat serupa. Ha, imajinasi saya terlalu nakal.

Beberapa kali kami melewati bangunan itu dan saya belum dapat memastikan fungsi menara ini, sampai bentor kami berbelok kiri di perempatan (biasanya kami selalu menikung ke kanan), dan nama PDAM Tirtanadi menjadi tanda kalau ini adalah perusahaan air minum kota Medan.

Agaknya, menara ini merupakan penyimpan air di kota kala pusat pengelolaan perkebunan ini berada dalam masa perkembangannya. Menara yang ternyata punya sejarah panjang, sepanjang sejarah perusahaan air itu sendiri.

menara-air-kota-medan-04
Ia yang punya sejarah panjang, berpendar di tengah malam.

Menurut beberapa informasi yang tersebar di dunia maya, dahulu reservoir yang kini beralamat di Jl. Sisingamangaraja No. 1 ini digunakan untuk menampung air dari Rumah Sumbul di Sibolangit. Kapasitas tandonnya 1.200 meter kubik. Dibuat dengan ketinggian atap 42m di atas tanah, reservoir ini dibuat dari besi dengan diameter 14m dan berat mencapai 330 ton. Awalnya dimiliki oleh NV Waterleiding Maatschappij Ajer Beresih, sebuah perusahaan air Hindia Belanda sebelum akhirnya dinasionalisasi oleh Pemerintah Indonesia, dan diserahkan untuk dikelola oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Nama perusahaan pun menjadi PDAM Tirtonadi.

Saya menelan ludah. Ini menara punya sejarah yang panjang. Bagaimana sekarang? Sayang saya tak begitu tahu karena belum sempat berkunjung ke dalam kantor PDAM ini (kecuali saya tinggal di Medan dan kepengin memasang instalasi air bersih di rumah).

Tapi terus terang, ada beberapa “jasa” pemerintah kolonial yang mesti diakui. Terlepas dari semua penjajahan dan sakit hati diskriminasi yang kita rasa, untuk masalah pelayanan publik, mereka melakukan usaha terbaik untuk membuat penduduk (dari ras mereka) sejahtera.

Boleh dikata, kita sekarang kadang tinggal terima jadi peninggalan kolonial. Jangan jauh-jauh, seluruh jalur kereta api Jawa ini asalnya dari bukaan lahan kolonial. Untuk membuat jalur baru, kita masih berusaha, yang paling mungkin nanti dibuktikan dengan jalur kereta Bandara Soekarno Hatta.

Hati saya selalu terasa berat ketika tandon megah itu hilang dari ruang pandang. Saya kepengin menikmatinya barang beberapa jenak, terutama di malam hari. Ada banyak cerita yang ingin dia sampaikan pada saya, dan saya lebih dari sangat bersedia untuk mendengarkannya.

Bertanya saya pada Mbak Din, dan ia memiliki penyelesaian yang sangat tepat untuk permintaan saya: menatap kota dari ketinggian.

senja-kota-medan-02
Pemandangan dari atap hotel.

Atap hotel.

Jadilah, senja itu, saya menenteng kamera dan tripod, menuju atap hotel untuk membuktikan apakah tandon bisa dilihat dari sini. Semoga saja tidak ada bangunan yang lebih tinggi dari hotel yang menghalangi pandangan saya ke arah reservoir.

Agak susah memang menuju ke lantai atas. Meskipun di dalam lift tersedia tombol R, tombol itu tak berfungsi bahkan dengan kartu akses. Mungkin kartu akses untuk mencapai daerah sana hanya dikhususkan untuk pegawai.

Jadi saya mendaki sampai lantai 9, kemudian menuju ke atas dengan tangga darurat. Tangga itu membimbing saya pada lantai atas yang difungsikan sebagai gudang dan rumah lift. Sebuah pintu yang menuju pelataran luar tampak tertutup dari sini. Sebuah tangga lain mendaki lebih ke atas, pada sebuah ruangan terang yang papan-papan bertempelan bisa dilihat dari tempat saya berdiri: kantor manajemen.

Pintu menuju pelataran luar adalah kayu berjendela, dengan tempelan ucapan selamat ulang tahun. Masih ada balon yang belum ditiup tergeletak di atas meja. Nyatalah bahwa bagian rooftop ini agaknya dipakai para pegawai untuk mengadakan event kantor.

Pintu terbuka dengan mudah, meski ada palang kayu dengan larangan membuka di depannya. Saya sangat bersyukur. Sembari berharap di sini tak terpantau CCTV (sepanjang pengamatan sih tidak ada), saya menyingkirkan papan larangan ke balik meja bundar.

Ah, saya mohon maaf, manajemen. Bagaimana mungkin saya tak membuka palang kayu itu kalau senja yang ada di luar demikian megah? Bagaimana mungkin saya tak merangsek keluar kalau sang tandon tak berulang kali mengetuk pintu, meminta untuk didengar?

Saya tak lupa membawa palang pintu itu untuk mencegah kejadian terkunci oleh manajemen. Angin bertiup kencang, tapi pagar yang tinggi memberi rasa aman. Matahari sudah terbenam, tapi lampu-lampu jalan di bawah sana belum tampak nyalanya. Cuma lampu neon yang menjadi penanda hotel ini saja menari-nari memberi cahaya.

Jendela kantor manajemen tertutup gorden. Tapi nyala lampu yang tampak dari luar sini menunjukkan di sana ada orang-orang bekerja. Semoga saja tak ada pegawai yang terlalu penasaran untuk menyibakkan tirai dan melihat ada penyelinap di atas atap.

senja-kota-medan-01
Senja di Kota Medan.

Warna senja yang tersaji di depan saya tampak begitu mulus. Inilah senja yang mistis yang menjadi favorit para pencari foto. Senja pertama di kota Medan yang bisa saya tangkap dari kamera. Saya melihat sekeliling, dan ketika menoleh ke kanan, saya menahan napas.

Tak ada penghalang di antara kami bertiga. Hanya saya, tandon air, dan kota yang bernapas.

“Jadi apa kau siap untuk membagi ceritamu?”

Cerita Sang Menara Air

menara-air-kota-medan-01
Menara air Kota Medan

Ia bercerita bahwa perusahaan air bersih itu didirikan atas prakarsa tiga orang baik. Yang pertama bernama Hendrik Cornelius Van Den Honert (1854–1916), direktur Deli Maatschappij (dibaca “maskapai”), perusahaan pemegang konsesi 120.000 hektar kebun tembakau di Sumatera Utara pada masanya.

Kedua, Pieter Kolff, direktur dari Deli Steenkolen Maatschappij, perusahaan penyedia batu bara untuk wilayah Deli (yang digunakan untuk mengeringkan tembakau dan bahan bakar lokomotif kereta). Yang terakhir adalah Charles Marie Hernkenrath, direktur dari Deli Spoorweg Maatschappij, perusahaan kereta api yang melayani daerah Sumatera Utara kala itu.

Tiga orang ini juga, masing-masing adalah presiden komisaris, komisaris, dan direktur utama di perusahaan air yang berkantor pusat di Amsterdam. Yap, kantor pusatnya bukan di Medan, tapi di Amsterdam, tepatnya di Heerengracht 255A, meskipun wilayah kerjanya adalah Medan dan sekitarnya, yang dulu terkenal dengan nama Deli.

Dahulu, menara air ini adalah benda yang vital bagi Medan. Sebuah landmark pada pusat kota yang sedang booming gara-gara perkebunan tembakau yang berkembang sangat pesat (iya, Tembakau Deli). Ia pun adalah bukti bahwa di luar Batavia pun, industri bisa berkembang dan menyejahterakan.

Banyak pendatang di kota ini berusaha mengadu nasib untuk memperbaiki hidup. Saya teringat kisah Pak Merari Siregar dalam romannya, Azab dan Sengsara (meski novel itu bersetting 1910 namun saya rasa masih cukup relevan). Di novel itu, Aminuddin hijrah ke Helvetia untuk menjadi kerani di perkebunan, ia bekerja keras dan akhirnya berhasil menempati jabatan yang cukup baik.

Semua keberhasilan para perantau tentu menjadi magnet yang menarik penduduk. Akibatnya, kebutuhan semua orang akan sumber air yang memadai dan cukup sangat mendesak. Sang menara air menyamakan kota Medan masa lampau dengan Jakarta dalam versi yang lebih kecil.

Apalagi, katanya, kebutuhan air tidak bisa dipenuhi oleh sumber di dalam Kota Medan. Air Sungai Deli tidak layak minum, dan kala itu banyak penyakit yang menjangkit di sana, utamanya adalah beri-beri.

“Kalau di Jakarta, tentunya air Sungai Ciliwung tidak bisa dibilang layak untuk diminum, kan?” tanyanya.

“Nah itu tahu,” jawab saya.

Oleh karena itu, ketika Prof. Dr. H. Dürk dari Munich mempublikasikan hasil penelitiannya, yang menyebut bahwa salah satu faktor yang dapat menurunkan laju penyakit di kota adalah air bersih yang memadai, pemerintah makin merasa perlu untuk mendirikan perusahaan mandiri di Medan, sebagai pengelola air bersih untuk seluruh penduduk. Untuk sumber air, sang profesor mengusulkan Rumah Sumbul sebagai mata air utama.

“Kita buat perusahaan air minum! Leding buat air bersih!”

menara-air-kota-medan-02
Tandon air yang bercerita.

Betapa semangatnya cerita si tandon air, pada senja dan saya yang bertopang dagu di pagar atap.

Saya berpikir, hal lain yang harus kita saluti dari pemerintah kolonial adalah komitmen mereka menyediakan pelayanan publik kelas satu. Untuk perusahaan air minum ini, tidak tanggung-tanggung, mereka memanggil para ahli yang juga kelas satu.

Survei lokasi air minum dilakukan oleh Ir. Jan Schotel dari Rotterdam, arsitek menara air ternama yang  membangun beberapa menara air di Belanda, seperti menara air di Woerden, Zwolle, Gouda, Hengelo, dan beberapa kota lain, termasuk rumah bergaya Art Noeveau di Dordrecht.

Pelaksana survei kelayakan dan kepala proyek adalah T. Boshuyer, yang datang pada Juni 1903 dan menyelesaikan tugasnya bersama Jan Schotel pada pertengahan 1904. Mereka berdua menemukan bahwa sumber air terbaik dan paling memungkinkan untuk ditransmisikan via pipa adalah di antara Sungai Petani dan Sungai Betimus, dekat Bandar Baru dengan debit 50 liter per detik.

Urusan selanjutnya diserahkan pada para peneliti. Ada tiga peneliti yang diterjunkan untuk meneliti sumber air ini, yakni Dr. J. G. C. Vriens, Kepala Divisi VIII Kebun Raya Bogor, Dr. W. A. Kuenen, peneliti di Senembah Maatschappij (salah satu dari empat perusahaan tembakau terbesar di Medan), dan Prof. Dr. H. Dürk sendiri. Anggaran untuk membangun sistem air bersih di Medan pun saat itu mencapai 500.000 gulden.

Menurut saya ini jumlah uang yang sangat fantastis.

Ia melanjutkan ceritanya, “Dan ternyata uang sebanyak itu tidak cuma untuk membangun satu tandon air di kantor pusat PDAM Tirtanadi, saudara-saudara!”

“Oh ya?” tanya senja.

menara-air-kota-medan-03
Menara air dan senja.

Akta pendirian perusahaan menyebutkan bahwa infrastruktur yang harus dibangun adalah minimal 10 hidran, 3 Pancuran Wallace (pancuran yang bisa dijadikan sumber air bersih, kini contohnya ada di Paris), 3 permandian umum, yang semuanya gratis untuk seluruh masyarakat. Namun, untuk menunjang kerja pemadam kebakaran kala itu, mesti dibangun minimal 80 hidran di seluruh kota.

Mereka membuat seluruh sistem ini dari nol, dan bukannya tanpa hambatan. Laporan tahunan yang dirilis pada 1 Januari 1907 membuktikan bahwa pada Desember 1906 suplai air sempat berhenti tiga hari total karena hujan memporak-porandakan sistem perpipaan di km4+500. Pembangunan menara air ini sendiri adalah tahap akhir dari pembentukan sistem air bersih di Kota Medan.

Tapi apakah mereka berhasil membangun sistem air bersih di kota ini?

Pertanyaan itu saya ajukan sendiri, dalam hati, dan begitu melihat si pencerita, saya mendapat jawabannya secara langsung.

Dengan menara tinggi menjulang yang bertahan hingga hari ini, agaknya mereka berhasil. Semua usaha itu dibangun “hanya” untuk kebutuhan 766 penduduk Eropa, 6.352 penduduk Tionghoa dan 7.109 penduduk pribumi yang tinggal di Kota Medan, total kira-kira 14.200 orang di tahun 1905.

Menurut Sensus Penduduk 2010, 105 tahun kemudian, penduduk Kota Medan mencapai 2,1 juta jiwa.

Pertanyannya setelah itu menjadi sangat mudah. Dengan 15.000 penduduk saja perencanaan, eksekusi, dan kualitas pengelolaan air bersih di Medan sudah sedemikian saksamanya. Jika penduduk berjumlah 2,1 juta jiwa, dengan kata lain 140 kali lipat lebih besar, akan seperti apa pengelolaan air bersih itu semestinya? Ada berapa ratus tandon air yang mesti dibangun?

Tapi pertanyaan yang lebih urgen lagi, apakah hari ini semua masyarakat Medan sudah mendapat fasilitas air bersih yang memadai?

menara-air-kota-medan-05
Bagaimana semestinya jika penduduk suatu kota sudah bertambah 140 kali lipat?

41 thoughts on “Antara Aku, Menara Air, dan Senja

    1. Ini sebenarnya cerita lama, kejadiannya setahun lalu. Baru sempat ditulis sekarang :hehe. Terima kasih sudah membaca ya, padahal baru banget publish-nya :hehe.

  1. Kalau pemda jeli menara air ini bisa jadi wisata sejarah yang menarik. Waktu ke Medan belasan tahun lalu, saya hanya bisa melihat menara air ini dari kejauhan.

    Kalau membuat sesuatu utilitas penjajah dulu memikirkannya untuk kebutuhan berpuluh atau mungkin beratus tahun yang akan datang. Kalau zaman sekarang penguasa membuat sesuatu yang dibangun yang dipikirkan bagaimana anggaran bisa makin membesar tiap tahun. Kualitas nomor sekian.

  2. Tampa air, gak ada kehidupan…. Tekhnologi PDAM semakin meningkat, air akan tercukupi…
    Menikmati harus air memang sangat nikmat, apalagi air terjun…. Hmmm nikmat banger dh

    1. Iya! Wah saya kepengen tahu juga bagaimana ceritanya menara air di Cirebon. Selama ini baru sempat lihat dari kejauhan. Terima kasih sudah mengingatkan, mudah-mudahan dalam waktu dekat ini bisa ke Cirebon :)).

  3. Saya setuju mas. Dampak pemerintah kolonial memang di satu sisi merugikan bangsa, tetapi kita memang harus mengakui kalau adanya bangunan dan infrastruktur penting di Indonesia saat ini adalah berkat mereka. Dan mereka menjadi inspirasi bagi pembangunan infrastruktur lain di Indo. Sayangnya karena keberadaanya di pusat perkotaannya, saya pesimis kalau bangunan seperti menara air itu dimanfaatkan untuk semua. Pasti ada pihak-pihak, terutama pinggiran yang tidak mencicipinya..

    1. Hehe… ternyata ceritanya panjang dan sangat membekas di kota Medan Mbak, meskipun sekarang mungkin tinggal segelintir orang saja yang tahu. Terima kasih sudah mampir dan membaca, ya :)).

    1. Salam kenal :)).
      Iya, Medan memang kota yang sangat menarik dan sangat bersejarah! Tak cukup rasanya hanya sekali berkunjung ke sana. Mudah-mudahan saya bisa main ke Medan lagi untuk menggali satu-dua cerita :amin.

    1. Iya! Saya juga baru tahu ketika ada di Medan, memang menara air ini kurang terkenal kalau dibandingkan dengan Rumah Tjong A Fie atau Istana Maimoon. Mudah-mudahan dengan tulisan ini, si menara air bisa sedikit lebih dikenal masyarakat Indonesia, dan Medan sendiri khususnya. Terima kasih sudah mampir ya, Mbak.

    1. Menara air ini dekat dengan hotel jadi kami selalu melewatinya :hehe. Ini bahkan bangunan kolonial pertama yang saya jumpai di Medan, jadi saya susah lupa :)). Iya Mbak, pemerintah kolonial memang tak tanggung-tanggung kalau membangun, menurut saya itu sesuatu yang harus dicontoh pemerintah Indonesia saat ini.

  4. Seharusnya memang tata kota mengikuti perkembangan kotanya ya Gara. Salah satu urusan vital tentang itu ya adalah urusan pemasokan air bersih bagi warga kota.

  5. Hai Garaaa… Lama banget nggak mampir dan komen di siniii. Maafkaaan, sibuk kali 😛
    Aku salut sama kamulah, cerita menara air aja bisa jadi cerita kece begini!

    1. Hai Mbak, mohon maaf juga kalau saya lama tidak muncul di blog Mbak, kondisi blog yang seperti ini membuat semangat juga jadi turun banget. Mudah-mudahan krisis ini tak berlangsung lama. Ah, terima kasih banyak atas apresiasinya, Mbak.

  6. Water toren ini masuk list buat dikunjungi tahun ini ahh hehehe. Sejauh bertemu dengan water toren yang lain, Medan punya bentuk yang besar dan unik. Mencolok seperti water toren di Magelang pula. Nice share, Gar 🙂

    1. Saya pun ingin berkunjung ke sana lagi dan melihat menara air ini lebih dekat. Mungkin ada cerita yang dimiliki oleh penjaga menara ini tentang bagaimana sistem pengelolaan air bersih di Kota Medan. Kota ini memang pusat ekonomi sejak zaman dulu :hehe.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!