Aku Membuka Dengan Penutup: Punden Tutup

Punden Tutup.
Punden Tutup.

Judul di atas sebenarnya tidaklah asing.

Yap, salah satu kalimat dalam novel Harry Potter yang pernah saya baca memuat kalimat itu. Berhubung cocok dengan nama tempat yang unik, yang kami kunjungi ini, jadilah, semua saya gabungkan sehingga menjadi seperti yang tampak di atas postingan.

Setelah berangkot (berangkot, bukan berangkat) dari kota Malang, mengisi perut dengan santapan lezat dan memastikan akomodasi tidak terganggu untuk beberapa hari ke depan, berkenalan dengan lansekap kota Batu yang spektakuler namun terkesan terbengkalai dalam denyutan samarnya (semua ini akan ada postingannya tersendiri jadi mohon dinanti :haha), kami pun mulai menjelajah. Niat kami, atau saya pada saat itu, hari pertama kunjungan sebenarnya saya jadwalkan untuk singgah dan berdoa di rumah terakhir Prasasti Sangguran sebelum akhirnya diboyong oleh Lord Minto ke Britania Raya: Punden Mojojojo.

Eh salah, maksud saya Punden Mojorejo :hehe :peace.

Dari alun-alun Batu tempat kami menyusun rencana, sebenarnya jarak ke Punden Mojorejo ini lumayan jauh. Pun, tidak ada dari kedua kami yang pernah ke sana, bahkan Curio sebagai penduduk asli kota ini. Kami pun pada akhirnya hanya berpedoman pada sebuah berita di dunia maya yang memuat di mana Punden Mojorejo ini berada.

Menurut penelisikan Curio, letaknya ada di Desa Mojorejo (sumpah saya mau ketawa ketika mendengar ini, maksud saya, ya iyalah di Desa Mojorejo, memangnya mau di Desa Mojojojo? disambit Curio), dan untuk ke sana, kita tidak mesti mengikuti apa yang tertulis di berita itu, karena kalau mau sesuai dengan berita, berarti kita harus mencapai situs itu dari Kota Malang, via Karangploso.

Oh, inilah yang saya suka dengan traveling bersama orang lokal. Mereka selalu punya jalan pintas!

Petunjuk arah dari alun-alun sebenarnya sederhana. Belok kiri setelah Lippo Mall Batu. Selebihnya, jalan akan berganti menjadi suasana desa, yang menurut saya sebenarnya adalah suasana Batu yang sejati. Bukan dengan mal dan segenap gegap gempita taman bermain yang sangat salah tempat itu. Saya punya bukti, banyak bukti, bahwa pariwisata tidak mesti dengan wahana supermewah, hotel mahal, dan lain sebagainya. Kesederhanaan masyarakat pun sangat bisa menjadi objek wisata yang menarik.

Saya tampaknya tahu postingan apa yang harus saya selesaikan setelah ini.

Bertualang dengan sepeda motor, itu artinya saya mesti siap dengan kontur jalanan Batu yang ekstrem tanjak-turunannya. Maklum saja, kota ini secara harfiah terletak di lereng gunung dengan sedikit jalanan berada di dataran. Tapi saya bersyukur sekali karena jalanan di sana mulus-mulus. Pun jika ada beberapa lubang, bisa dilewati dengan baik karena jalanan tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa kendaraan yang lalu-lalang, tidak sering sehingga tidak membahayakan, meski medan jalan sedemikian bukan berarti kita bisa bebas mengebut.

Saya mendapati perumahan di kota ini agak unik. Paling mencolok adalah dari sisi penomoran rumahnya. Begitu terobsesinya mungkin, pemerintah kota ini dengan agrowisata, sampai-sampai setiap rumah dibuatkan plakat nomor rumah berbentuk buah, sesuai dengan kecamatannya. Saya lupa, namun seingat saya bentuk plakat itu ada stroberi, apel hijau, apel merah, atau jeruk.

Saya ingat Curio pernah mengunggah nomor rumahnya di jejaring sosial :haha. Used with permission, of course.

Nomor rumah baru #15 #fifteen

A post shared by heni (@curiocherry) on

Balik lagi, semua plakat buah di semua rumah itu mungkin untuk menyematkan kesan bahwa Batu adalah kota yang terkenal dengan hasil buah-buahannya, predikat pertama yang disematkan pada kota ini sebelum mendapat julukan sebagai kota dengan taman bermain serta kebun binatang tematik terbaik seantero negeri.

Tapi adakah yang sadar kalau Batu ini sebenarnya adalah salah satu tonggak sejarah terpenting di Jawa Timur?

Motor terus saya lajukan. Pemandangan rumah penduduk berganti dengan ladang-ladang bawang, sawi, dan kol. Ada pula pisang-pisangan yang entah namanya apa, daun bawang dan bawang merah yang saya juga tak bisa bedakan. Beberapa menit dan pemandangannya itu-itu saja, sampai kami mendekati sebuah gunung kecil yang tadi saya kenali di kejauhan sebagai Gunung Wukir.

“Jadi kita akan memutari gunung ini?” tanya saya.

Curio mengiyakan. “Punden Ngandat ada di sisi satunya.”

Ngandat adalah nama lain Mojorejo, setidaknya nama Ngandat-lah yang terukir di Prasasti Sangguran, bukan Mojorejo.

“Baiklah.” Saya kembali melaju, mempercepat motor untuk memutari gunung. Tak banyak vegetasi yang unik di sini, mereka semua khas dataran tinggi, meski anehnya belum banyak tanaman konifer. Gunung Wukir ada di sebelah kanan kami jadi saya menghabiskan waktu memerhatikan sisi kanan, memandang lekat bukit-yang-dipanggil-gunung yang legendaris (sekaligus mistis) itu.

Sampai hidung saya mencium aroma yang terlalu familiar dan saya mengerem kuat-kuat, langsung menolehkan kepala ke sebelah kiri. Untung saja tidak ada kendaraan melintas, jadi saya tidak takut terseruduk, saking kagetnya dengan wangi yang sedang saya cium. Gila, ini jauh banget dari rumah saya dan saya mencium bau seperti ini?

Papan nama.
Papan nama.

Papan nama cagar budaya menyinggahi mata. Nama “Punden Tutup” pun, untuk pertama kalinya, saya lihat di depan pagar hitam, dan di dekat gerbang ada dua motor terparkir. Oke, ini mungkin cagar budaya biasa yang ada di Kota Batu, maksud saya, ada banyak cagar budaya di suatu kota yang mungkin cuma berupa makam atau apalah, tapi untuk kasus Punden Tutup, semua berbeda.

Maksud saya, demi Tuhan, saya mencium bau dupa!

Motor langsung saya rem di depan pagar, dan tanpa melihat muka Curio yang sebenarnya sudah was-was karena tentunya dia mencium bau yang sama, tapi kenapa sebab spesifik dia memasang air muka seperti itu, saya tak tahu.

Saya cuma ingat mengabaikan air mukanya, membuka helm dan berkata, “Kita masuk.”

***

Untuk ukuran sebuah cagar budaya, bagi saya tempat ini terawat dengan cukup baik. Sekeliling situs sudah dipagari, dan pagarnya seperti baru dibangun. Di dalam sini juga sudah dilengkapi dengan pendopo tak berdinding, berlantai keramik, dan beratap genting dengan cat yang juga tampak baru. Sebuah pendopo lain yang juga tak berdinding berbentuk persegi, ada tepat di depan situs.

Sejenak saya tadi curiga. Pendapa yang lebih kecil ini mirip bale pawedaan.

Dua orang pria menjelang paruh baya, mungkin usia empat puluhan, menyapa kami dalam bahasa Jawa. Mereka duduk di pendopo yang lebih besar, rupanya sudah mengamati kami sedari tadi melongok dari luar pagar. Saya langsung memasang Curio sebagai tameng, secara refleks, sementara saya terkaget dan ternganga, menatap dua pria itu dan apa yang ada di depan saya, berganti-ganti, dengan ketidakpercayaan yang sangat.

“Jadi apa yang ingin kau ketahui?” Curio berdesis. Suaranya seperti tertahan dan saya menoleh.

Iya, dia menahan napas.

Saya meletakkan helm di pendopo (iya, saya tak salah ucap, ada pendopo di sana) dan berkata cepat, “Ini apa, siapa yang membangun ini, kenapa ada di sini, dan apa yang bapak itu lakukan di sini.”

Curio bertanya dengan bahasa Jawa Timuran yang nanti dia klaim sebagai “setengah halus”, sebelum akhirnya bertanya balik dengan desisan panik, “Mereka bertanya kenapa kita ada di sini.”

Saya sudah mengeluarkan kamera dan balas berdesis, “Er… bilang saja penelitian situs purbakala. Aku dari kementerian, dan dirimu dari kantor setempat. Atau bilang saja kita ini mahasiswa. Memangnya kenapa mereka bertanya?”

Curio tidak menjawab.

Sumpah, untuk beberapa saat saya terdiam, tak percaya dengan apa yang dirasa oleh kelima panca indera yang saya miliki. Bagi saya yang tinggal dan berasal dari lingkungan Hindu, apa yang ada di depan saya sebenarnya bukan hal asing. Sangat tidak asing. Tapi mengingat saya mendapati ini di Kota Batu, yang notabene sejauh mata memandang tidak ada pura atau situs pemujaan yang digunakan oleh umat Hindu, plus umat Hindu di Jawa Timur sebelah sini adalah minoritas, tentunya semua ini menjadi unik.

Bebatuan di sela akar beringin.
Bebatuan di sela akar beringin.

Di depan saya ada sebuah pohon yang saya duga sebagai pohon beringin. Tinggi, besar, menjulang dengan akar-akar gemuk mencuat ke atas tanah. Di depannya, pada sebuah bentukan balok semen yang di tengahnya terdapat rongga berisi pasir, beberapa batang dupa menyala, asapnya pekat, riuh menyebarkan aroma kemenyan ke segala penjuru. Tapi bukan dupanyalah kini yang semakin membuat saya terkaget-kaget. Melainkan apa yang ada di belakangnya, yang sepintas seperti tonggak batu rendah.

Deskripsinya, tonggak batu itu berada pada sebuah alas yang di tengah-tengahnya terdapat cekungan berbentuk kotak untuk meletakkan tonggak batu tersebut.

Prototipe yang sangat asli dari…

Inilah... yah... duh.
Inilah… yah… duh.

Lingga-yoni.

“Cuy, itu lingga yoni!” Saya berdesis, menoleh ke belakang, dan tentu saja, Curio sudah tidak ada. Kedua bapak itu menatap saya sambil tersenyum, kemudian bertanya dalam bahasa Indonesia dengan logat Jawa Timuran yang sangat kental, “Masnya suka sejarah?”

“Eh, iya Pak, lumayan.” Tahu mereka bisa bahasa Indonesia, saya sudah bertanya sejak tadi.

“Jadi ini sebenarnya monumen apa, Pak?”

Mereka pun bercerita tentang biasanya, mereka pergi ke sini sebelum musim tanam di Desa Torongrejo ini untuk berdoa. Ritus berdoa yang menurut saya agak unik, dan saya pikir tanpa saya ungkap di sini pun pembaca budiman sudah mengetahui apa dan bagaimananya. Yang jelas, keberadaan situs ini penting bagi penduduk desa karena biasanya mereka mengadakan acara selamatan desa di punden ini pada saat-saat tertentu (seperti Malam Satu Suro, atau hari-hari besar lainnya), berdoa di tempat ini untuk memohon keselamatan.

Curio datang (ya, dia sudah menghirup udara segar yang cukup di luar sana) dan bercerita lagi dengan dua bapak itu. Tentu saja, cerita dalam bahasa Jawa akan lebih komprehensif dan membuka semua misteri tentang artefak yang ada di depan saya. Termasuk dengan batu yang ada di agak ke belakang pohon, yang saya harus melangkah dengan hati-hati untuk dapat mengambil fotonya.

Mungkin ini sebabnya situs ini dinamakan Punden Tutup?
Mungkin ini sebabnya situs ini dinamakan Punden Tutup?

Batu yang mirip sekali dengan kenong, sebuah alat musik dalam set gamelan. Tetapi, mungkin inilah juga sebab kenapa situs ini dinamai Punden Tutup, karena batu ini mirip betul seperti tutup panci.

Bentukannya seperti… kenong, karena saya bingung bagaimana mendeskripsikannya. Bagian di sebelah tengahnya menonjol, dan hiasan yang mengelilinginya (meski cuma sebuah lingkaran polos) membuktikan bahwa bukan alam yang membuat ini, melainkan manusia. Dengan kata lain, ini produk kebudayaan masyarakat yang tinggal di sini.

Kenyataan yang saya lihat bahwa punden ini masih digunakan saat ini, tahun 2015, dalam fungsinya yang saya kira tak jauh dengan fungsi awalnya membuktikan bahwa betapa masyarakat daerah sini bisa menjaga kebudayaannya selama ribuan tahun!

A closer look.
A closer look.

“Wuaduh, ini kan…” saya menggumam tidak percaya. Ini benar-benar mirip, dan saya sudah cukup kaget, tapi apa yang dikatakan Curio selanjutnya membuat saya lebih terkejut.

“Dulu ini lengkap Gar, satu set gamelan. Cuma sekarang sudah banyak batu yang hilang dan yang tersisa tinggal satu batu ini.”

Saya menghela napas. Antara kaget karena dulu situs ini pasti jauh lebih besar dari ini, tapi agak kesal juga mendengarnya. Terlepas dari apa kepercayaan orang-orang dengan batu ini, bagi saya semua yang ada di depan mata ini merupakan peninggalan arkeologi yang tidaklah bisa dinilai harganya, karena ini sangat berarti bagi masyarakat sekitar.

Tapi sebagaimana beliung-beliung dan peninggalan masa neolitikum yang bernasib nahas justru ketika telah ditemukan, batu-batu berbentuk unik ini pun akhirnya harus hilang dari tempat asal mereka untuk kepentingan orang-orang kaya yang menjadikannya koleksi pribadi. Padahal ini milik masyarakat, kekayaan budaya dan kearifan lokal banyak orang. Tindakan menjadikannya milik pribadi bagi saya adalah sangat egois.

“Ada dugaan tentang siapa yang mencurinya?”

Setelah ditanya seperti itu, kedua bapak menjawab dengan tegas dan tuntas,

“Orang Bali.”

ACK!

Cat got your tongue, Gar?

Yes, it was.

Saya meminta Curio mengklarifikasi, yang mana yang mereka maksudkan dengan orang Bali, dan jawaban kedua bapak tetap sama. Orang Bali. Memang ada berapa Bali sih di Indonesia?

Wuaduh.

Serbasalahlah saya, tak tahu harus berkata apa. Kalau saja saya bisa jedot-jedot kepala di dinding pendopo, mungkin hal itu sudah saya lakukan. Antara malu, tapi bingung, bersalah, tapi… bagaimana, ya? Banyak perang dalam diri ini jadi saya bingung harus bicara apa. Ujung-ujungnya cuma menghela napas lagi, menatap situs dan semua orang yang ada di dekat saya berganti-ganti, dan akhirnya… cengengesan.

Dan saya mengurungkan niat untuk mengaku bahwa saya adalah seorang Bali juga… guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Di dekatnya juga ada sesajian.
Di dekatnya juga ada sesajian.

Saya cuma bisa berucap, “Orang… Bali, ya.” Setelahnya lidah ini kelu, tidak mengerti harus bicara apa lagi. Baiklah, batin saya dalam hati. Saya minta maaf jikalau itu benar kejadiannya. Semoga di manapun benda-benda arkeologi ini berada, diperlakukan dengan baik.

Yah, kalau memang benar batu-batu ini berada di bawah penguasaan orang Bali, sepertinya saya bisa membayangkan “perlakuan” terhadapnya akan jadi seperti apa…

Belakangan baru saya ketahui kalau apa yang ada di depan saya itu adalah peninggalan zaman megalitikum, yakni menhir dan kenong batu. Jadi bukan lingga yoni sebagaimana dugaan saya di atas, meski saya tetap dengan teori ala-ala saya kalau lingga yoni adalah bentuk menhir yang lebih sederhana dan lebih kecil.

Begitupun demikian, itu membuktikan sesuatu, bahwa daerah Batu di tepi Sungai Brantas ini (nun jauh di bawah jurang sana) memang telah menjadi tempat kediaman masyarakat megalitik sejak zaman prasejarah silam, dengan sistem kepercayaan mereka yang menggunakan artefak dari batu, seperti apa yang ada di depan saya sekarang.

Sistem kepercayaan ini sendiri bukanlah sistem sederhana yang semata pada benda-benda langit atau roh leluhur sebagaimana yang saya baca di sebuah babon sejarah Indonesia yang sekarang juga jadi sejarah :hehe. Lebih dari itu, kepercayaan ini agaknya serupa dengan bukti yang saya temukan di Situs Pasir Angin, bahwa pencaharian masyarakat yang saat itu telah masuk dalam fase bercocok tanam telah terwakili pula dalam ritus pemujaan.

Dengan kata lain, pemujaan juga dilakukan terhadap benda-benda di sekitar ladang perkebunan, dengan tujuan supaya “kekuatan besar” (The Supreme Power) itu memberi “restu” akan kegiatan bercocok tanam yang sedang dilakukan masyarakat.

Saya kagum, sangat kagum, dengan kemampuan kepercayaan asli itu untuk bisa bertahan sampai suatu titik di bulan Mei 2015 ini. Cerita yang saya dengar dari Curio selanjutnya semakin menguatkan itu, ini membuat saya kaget, bahwa tradisi serta upacara serupa tidak hanya berlangsung di sini, sebuah desa di Kecamatan Junrejo, bahkan di seantero Kota Batu, tradisi selamatan desa di tempat yang diidentifikasi sebagai “punden” masih ada.

Dupa. Bingung mau komentar apa. Sarana pemujaan?
Dupa. Bingung mau komentar apa. Sarana pemujaan?

Kesimpulannya, seperti yang dikatakan Curio, kalimat yang sama dengan yang membuat saya berujar dengan nada tinggi, “Kau bercanda”.

Memangnya untuk apa aku bercanda? Semua desa memiliki punden, Gar. Bahkan desaku juga!

Saya sempat sangat tidak percaya dengan ini, dan berkelakar, “Ya, berhubung BNS ada di Desa Oro-oro Ombo, maka tentunya ada Punden Oro-oro Ombo?”

Saya terkejut sekali ketika Curio mengangguk. “Memang ada, Gar. Dekat sekali dengan BNS, malah. Kamu mau ke sana?”

Mata ini membelalak. Bayangkan, bayangkan saja, kalau semua desa dalam satu kota memiliki peninggalan arkeologisnya masing-masing. Dinamai sesuai dengan nama desa masing-masing, atau nama dusun, jikalau di satu desa ada beberapa punden. Sebagai contoh, Punden Tutup ini ternyata dinamai sesuai nama dusunnya, yakni Dusun Torong Tutup, Desa Torongrejo.

Maka ada berapa situs yang semestinya bisa dijadikan cagar budaya hanya pada satu kota kecil di lereng Gunung Arjuno ini? Maka ada berapa perayaan adat yang bisa kita saksikan di beberapa desa di kota ini, jika saja kita datang di saat yang tepat?

Ini memang dibuat demikian atau ini sebenarnya adalah umpag candi? Hm...
Ini memang dibuat demikian atau ini sebenarnya adalah patok candi? Hm…

Pertanyaan besar yang lain, maka tanpa berusaha pun, maka ada berapa besar potensi wisata budaya yang sebenarnya bisa diemban dan dikembangkan Kota Batu?

Saya kembali dari lamunan saya karena Curio seperti sedang mendapat informasi baru dan dia sedang memastikan arah yang harus kami ambil. Namun, alih-alih arahnya menuju Punden Mojorejo, kami malah diminta menyusuri jalan di belakang situs Punden Tutup, melintasi pematang-pematang sawah. Lho? Bukannya Punden Mojorejo, katanya, ada di pinggir jalan besar?

“Memangnya kita mau ke mana?” Saya bertanya setelah selesai memasukkan kamera ke tempatnya.

“Ini, Gar, di belakang sini kata si Bapak ada Arca Ganesha.”

Saya tidak bisa menyembunyikan keterkejutan.

“Hah? Ganesha? Di sini?”

33 thoughts on “Aku Membuka Dengan Penutup: Punden Tutup

  1. Pas naik ke Semeru aku menginap di Junrejo, Batu juga sama temen2. Di sana nomor rumahnya berbentuk stroberi :D. Tapi nggak tahu ada punden atau nggak.

    Pencarian sejarah amatir ini keren banget, Gara. Bahkan bisa jadi topik penelitian bagi yang studinya sesuai.

    1. Junrejo sebelah mana, Mas? :hehe. Pasti ada punden, soalnya saya menemukan arca Wisnu juga di tengah kota, kok :hehe.
      Iya, saya berharapnya juga begitu, ada peneliti-peneliti yang menelaah situs ini lebih lanjut jadi pembahasannya bisa lebih komprehensif dan situs ini lebih dikenal dan lebih dijaga lagi :)).

  2. Saya akui, saya pun belum pernah mendekati punden ini dan Gunung Wukir. Hanya sekadar tahu, karena agak ragu jika harus ke sana sendirian hahaha. Jadi penasaran bagaimana cerita selanjutnya 🙂

    Di bumi perkemahan Bedengan, Desa Selorejo, Kec. Dau, Malang, ada semacam pura/pendopo persembahyangan. Dugaan saya bukan untuk kepercayaan Hindu, namun lebih ke adat Kejawen. Lokasinya persis menempel tebing, dan posisi bumi perkemahan dan tempat sembahyang ini sendiri bisa dibilang berada di lereng Pegunungan Putri Tidur (begitu kami menyebutnya, karena memanjang dari Panderman, Butak, Kawi).

    Di Wagir, ada kampung Hindu berikut pura mereka, yang hidup rukun berdampingan dengan umat Muslim dan Jawa lainnya. Di Wagir pula (Kalau tak salah), terdapat industri rumahan pembuatan dupa. Mungkin kapan-kapan Mas Gara bisa ke sana hehehe.

    1. Vibrasi spiritual daerah sana memang jos banget Mas, semacam ada tumpukan ujian sebelum keajaiban menunggu di ujung jalan. Saya membuktikannya dengan patung Ganesha itu, yang masih ada di tempatnya yang (menurut saya) asli dan difungsikan banget sebagaimana aslinya dulu.
      Wagir itu di Malang atau di Batu, Mas? Wah, saya penasaran dengan bagaimana adat kejawen, mudah-mudahan di kunjungan tahun depan bisa tandang ke sana. Terima kasih atas rekomendasinya ya, Mas!

  3. Punden Tutup bentuknya seperti klenengan ya Gara. Kalau digali lebih dalam mungkin ada filosofinya mengapa bentuknya seperti itu. Dan rupanya masih digunakan untuk ritual agama ya, dari kendi, bunga, dan dupanya itu…

    1. Yep, iya saya juga bingung kenapa bentuknya demikian, tapi budaya prasejarah memang bentuknya unik Mbak, ada kenong batu, kursi batu, batu dakon, dan lain-lain… :hehe.

    1. Seandainya lengkap, tentu peninggalan ini akan jadi lebih spektakuler ya, Mas. Tapi demikianlah nyatanya, jujur waktu mereka bilang orang Bali yang suka mengambil, saya jadi sedih banget :huhu. Akan ada banyak cerita sedih di seputaran daerah ini Mas, saya betulan menangis di hadapan Ganesha :huhu.

  4. weh, aku baru tau ada situs arkeologi di Batu. hahahaha.
    aku setuju nih dengan kalimat yang menyatakan Batu (dulu) dikenal sebagai argowisata bukan yg sekarang. ya meski aku nggak nolak juga dengan dibangunnya BNS dan Jatimpark itu. hehehehhe.
    cuma seakan-akan predikat Batu sebagai pusat argowisata Jatiim kayak ilang gitu ketutup sama tadi.

    1. Sebetulnya banyak Mas situs arkeologi di sini, tersebar dari tempat yang paling sulit sampai ke tempat yang paling tak terduga :)). Sekarang agrowisata Batu mulai terkikis pelan-pelan karena gaung BNS dan segenap taman bermain megah itu. Saya tak anti dengannya, saya pun berkunjung ke BNS dan JP 2 dan main di sana, tapi Batu menurut saya bisa lebih dari itu kalau semua komponen objek wisata yang ada di sana dilibatkan :hehe.

    1. Teman-teman saya juga heran Mbak, saya sukanya gua, punden, kuburan, petilasan, candi, arca :haha. Yah namanya suka Mbak :hehe :peace. Terima kasih atas apresiasinya!

  5. Saya suka dengan ganesha. Sudah sejak kecil malahan. Mau tahu lebih lanjut tentang ganeshanya. Ha ha ha

    Wah mas gara enak bisa keliling-keliling, pasti banyak pengetahuannya tentang situs-situs kuno di indonesia. Saya sih cuma dari bacaan aja dan kebanyakan terlihat membosankan untuk dibaca

  6. Asyik banget emang berburu ginian, kayak kalau nemu bangunan tua era kolonial ya pasti berburu plakatnya. Apalagi kalau di candi model gini, suka tengak-tengok ga jelas.
    “Rip, lagi ngapain?”
    “Nyari ‘harta karun'”

  7. Halooo mas Gaara.. saya nemu artikel ini ketika sedang mencari nfo2 punden yg ada di kota batu. kebetulan saya sedang magang di dinas pariwisata dan kebudayaan kota batu.. sudah beberapa hari ini saya mengunjungi punden2 yg ada di kecamatan bumiaji batu, salah satunya adalah punden watu tumpuk yang ada di desa sumberbrantas dusun jurangkuali dan itu sangat mengagumkan, dengan kondisi jalan yg begitu sulit… tak lupa, saya suka tulisannya:)

    1. Halo Mbak, wah saya malah belum pernah datang ke punden yang di Sumberbrantas. Ternyata benar dugaan saya, di sana juga ada punden. Bolehkah saya minta kontak Mbak? Kayaknya saya pengen bertukar informasi dan data nih mengenai punden yang ada di Kota Batu, hehe. Terima kasih sebelumnya.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!