Ada Pencuri di Kos Kosan!

Tahukah kau apa yang terjadi ketika kecurigaan menggantung di udara?

Saya rasa, pada saat itulah semua manusia menjadi binatang.

Saya mulai yakin, bahwa pada dasarnya manusia hanya ingin melindungi dirinya sendiri. Selain itu, sebisa mungkin memakan mereka yang lemah. Semua orang saling mengamati, saling mengamankan diri. Ketika mereka melihat ada seseorang yang tak bisa melindungi dirinya, mereka semua akan memangsa dan saling menyalahkan. Tanpa melihat siapa yang menjadi korban.

Ya, kami semua akan memangsa.

Bahkan apabila tidak ada seorang pun yang (bisa) dituduh, sadar apabila diri dicurigai sebagai pelaku tindak kejahatan akan membuat semua orang melindungi diri. Apalagi ketika para pelaku, yakni kami, tidak punya alibi. Jikalau ada yang berpikir punya alibi, yang bisa mendukung hanya orang terdekat. Sangat tidak meyakinkan.

Ada kejadian di kosan saya. Seorang mantan anak kos yang datang menginap, sebut saja A, kehilangan uang dan gawai tabletnya. Katanya dicuri orang, jadi saya mengenyahkan pikiran kalau mungkin saja ini ulah tuyul.

ada-pencuri
Si pencuri laptop! Sumber dari sini.

Saya baru tahu ada kejadian tak mengenakkan ini sejak ribut-ribut sekitar jam delapan malam. Dari nada bicara orang-orang, ini bukan soal sepele. Pasti ada yang kemalingan. Apalagi omongan mereka soal alibi, siapa yang masuk kamar, dan apa yang dilakukan di dalam kamar itu.

Saya mencoba menggali informasi ketika keadaan sudah agak sepi. Satu orang sedang bicara dengan ibu kos. Seseorang yang lain pergi ke kamar. Saya bertanya pelan-pelan pada siapa pun yang bisa ditemui soal linimasa dan tempat kejadian perkara. Korban tak tampak sejauh mata memandang, ia pergi entah ke mana.

Informasi yang saya dapat tidak banyak karena mereka masih bicara dan terus bicara. Namun saya rasa agak memadai, untuk membuat sebuah postingan teka-teki. Kata seseorang, percakapan adalah kunci. Saya belum mengobrol dengan semua orang. Tapi dengan percakapan ke satu orang, saya rasa sudah ada beberapa poin yang saya dapat.

Linimasa Perkara

Saya ingat betul, Mbak L menceritakan semuanya dengan sangat yakin. Tapi keyakinan itu justru membuat perasaan saya tidak enak…

Pukul lima A datang ke kosan kami, menginap karena ada urusan kantor. Ia akan tidur di kamarnya dulu, lantai dua samping tangga. Setelah dapat kunci, ia ke kamar untuk menaruh barang. Setengah jam kemudian ia keluar kosan karena ada urusan. Baru balik pukul delapan dan mendapati uang dan tabletnya sudah hilang.

Waktu barang hilang, kalau begitu, sudah bisa disimpulkan: antara pukul setengah enam dan delapan. Siapa yang mengambilnya, adalah yang punya kesempatan masuk di antara waktu-waktu itu. Sangat gampang, jika ada yang mengaku masuk ke sana.

Ada yang mengaku masuk ke kamar itu. Inisial namanya L, seorang wanita muda penjaga warung ayam penyet di halaman kosan. Ia mengaku masuk ke kamar itu untuk mengambil mukena seorang penghuni kos, sebut saja namanya Bu Las. Tapi dia tidak merasa melihat ada yang aneh. Dia juga tidak mengaku bahwa dia mengambil sesuatu selain mukena milik Bu Las. Atau, kepada saya dia tidak bicara apa-apa soal itu.

Kata Mbak L, dia tidak masuk ke sisi kamar tempat barang-barang itu disimpan, dia masuk ke sisi kamar yang lain, mengambil mukena sesuai perintah Bu Las, setelah itu pergi. Ia tidak mengambil benda lain, meski sebelumnya ia diminta Bu J (pembantu kosan) mengambil dispenser yang disimpan di kamar itu untuk diperbaiki. Mbak L beralasan, di kamar itu ada orang menginap, jadi ketimbang nanti ada barang hilang (yang mana kejadian), lebih baik menunggu orang yang menginap itu kembali sebelum mengambil dispenser atau barang-barang lain yang akan diperbaiki.

Dengan demikian, kejadian Bu J menyuruh L mengambil dispenser adalah setelah mereka berdua tahu ada orang menginap di kamar itu. Artinya, paling tidak pada pukul lima sore Bu J masih ada di lingkungan kosan ini. Ia memang biasa di sini sampai sore jika Mas G (pembantu sekaligus perawat ibu kos) pulang kampung, yang kebetulan terjadi hari itu.

Satu hal lain yang terbukti adalah pada waktu itu Bu Las sudah ada di rumah. Biasanya, Bu Las shalat di kamar nahas itu, jika kamarnya kosong. Dengan demikian, ketika Bu Las meminta Mbak L mengambil mukena, itu artinya sudah ada orang yang menginap di kamar itu sehingga Bu Las tidak bisa shalat di sana. Artinya lagi, cuma ada satu waktu shalat sehingga semua itu mungkin: Maghrib.

Pasangan Bu Las dan Pak Las adalah penghuni lama kosan, tinggal di sini sejak dekade 90-an. Saya akan kembali ke penjelasan soal orang-orang ini di bagian kedua tulisan ini.

Setahu saya, Bu Las datang belakangan dari suaminya, karena sesiangan tadi saya tak lihat dia. Saya baru mendengar suara yang bersangkutan ketika saya mau mandi sekitar pukul 18.10. Kalau suaminya, Pak Las, saya sudah lihat sejak tadi siang, sekitar 14.00 ketika saya keluar beli es doger. Tapi setelah itu saya tak memperhatikan gerak-geriknya lagi karena saya sendiri ketiduran sampai senja.

Mbak L merasa dirinya punya alibi. Katanya, dari pagi sampai sesorean tadi ia ada di depan, di warung, menyiapkan jualan untuk esok hari. Yang membikin heran, katanya, sepanjang hari ia bekerja di depan, tak ada orang asing yang masuk. Paling-paling orang tambahan yang berkunjung kemari hanya anaknya Bu J, namanya Mbak Y, dan ia pulang bersama ibunya setelah gelap tanah.

Saya ingat betul, Mbak L menceritakan hal itu dengan amat sangat yakin.

Keyakinan yang justru membuat perasaan saya tidak enak, karena itu artinya, pelakunya sudah sangat pasti bukan orang luar.

Tempat Kejadian

Saya rasa perlu untuk menggambarkan tempat kejadian perkara, agar penjelasan soal linimasa dapat lebih saya lengkapi.

Kosan saya terdiri dari dua lantai utama dan satu rooftop. Ibu kos beserta anak laki-lakinya, Mbak L dan suami, dan Mas G tinggal di lantai bawah. Saya mengesampingkan layout lantai satu karena tidak ada hubungan yang cukup erat dengan cerita. Informasi tentang masing-masing orang ada di bagian selanjutnya.

Tangga menuju lantai dua ada di sebelah belakang. Di lantai dua ada tiga kamar mandi, tujuh kamar kos yang semuanya terisi, dan dua gudang. Di lantai ini juga ada tempat cuci pakaian dan hal itu tak perlu saya jelaskan lebih jauh, mengingat lokasi tempat-tempat itu (beserta siapa yang tinggal di sana) sudah saya sajikan pada gambar. Perhatikan tanda bintang dan garis putus-putus: tanda bintang menunjukkan tempat kejadian, garis putus-putus menunjukkan bekas tembok.

denah-kosan-gara
Denah ala-ala dari kosan saya. Sepertinya saya lupa memberi pintu di kamar paling kanan, haha. Perhatikan tanda bintang dan garis putus-putus.

Lantai tiga adalah tempat jejemuran dan dua kamar kosan, semuanya terisi. Namun lantai tiga juga tak perlu saya dalami lebih jauh mengingat penghuni kamar di lantai tiga belum kembali dari kampung halaman di hari Minggu nahas itu. Untuk lantai dua, anak kos yang ada sore itu hanya saya, Pak Las, dan Bu Las, yang lain juga pulang kampung.

Memang kamar tempat kejadian ini menarik. Saat Mas A tinggal di kosan ini, ruangan itu terbagi menjadi dua kamar tidur terpisah. Namun karena salah satu kamar terasa terlalu sempit (dan selalu kosong setelah penghuni terakhirnya keluar tahun lalu), dua kamar itu disatukan menjadi satu kamar besar dengan dua pintu yang sama-sama berfungsi.

kunci-dan-pintu
Kunci pintu. Sumber dari sini.

Dari kedua pintu, yang biasa digunakan Bu Las untuk shalat, dan yang digunakan Mbak L untuk masuk, adalah pintu sebelah kanan. Sementara itu, kamar Mas A yang dulu adalah kamar sebelah kiri. Ini penting, karena di hari nahas itu, Mas A tak tahu mana pintu yang terbuka dan mana pintu terkunci.

Mas A masuk dan keluar dari pintu sebelah kiri; pintu kamarnya dulu. Tapi ia sama sekali tak tahu bahwa pintu kanan bisa dibuka, karena ia mengira pintu itu terkunci.

Alasannya? Ada kunci menggantung di bagian dalam pintu sebelah kanan.

Jadi ketika ia keluar dan meninggalkan barang berharga di dalam kamar, ia tak tahu bahwa ia tidak benar-benar aman. Kamarnya masih bisa dimasuki siapa saja yang tahu kalau kamar itu tidak terkunci.

Dan semua orang yang tahu kamar itu digabungkan tentu tahu kedua pintu tidak terkunci.

Korban

Perlukah kita mengenal siapa yang menjadi korban?

Saya tak banyak mengenal A. Ketika saya mulai mengekos di sini, A sudah pindah. Tapi satu yang Bu Las katakan pada saya soal orang ini adalah bahwa ia bekerja di instansi pajak, artinya satu kementerian dengan saya.

Oh, ya, kata saya, tapi itu tak berarti bahwa kami akan kenal satu sama lain, kan?

Sampai dengan sehari setelah kejadian, hanya itu info yang saya peroleh. Namun, pembicaraan tak sengaja dengan Mbak L sore tadi membuka fakta baru soal A: bahwa ia cukup sering kecurian barang selama mengekos di sini. Barang yang hilang bervariasi, dari sepatu, helm, sampai uang.

Mungkin Mas A tipe orang yang (sangat) teledor menaruh barang. Mungkin saja barangnya hanya lupa ditaruhnya, tidak dicuri. Namun cerita Mbak L pada satu kejadian kehilangan itu adalah bahwa ada saksi yang menyaksikan barang milik A (dalam hal ini helm) sebentar ada lalu sebentar kemudian (dalam tempo 30 menit) tidak ada, membuat saya berpikir ulang soal kemungkinan keteledoran semata.

Ketika saksi itu ditanya, ia menerangkan bahwa ada seorang wanita yang masuk dan mengambil helm itu. Ia tak tahu siapa karena cahaya saat itu remang-remang mengingat kejadiannya adalah ketika shalat subuh.

Sayang kasus kehilangan helm itu sudah dua tahun berlalu sehingga saya tak bisa mendapat apa-apa selain cerita-cerita dan kecurigaan yang kontradiktif. Namun jikalau toh memang Mas A kecurian dalam semua kejadian kehilangannya, tidakkah ini sedikit aneh, mengingat anak kos lain tidak pernah mengalami masalah serupa?

Saya yakin, kehilangan benda-benda, bagi siapa saja, minimal membersitkan hasrat untuk ribut-ribut, apalagi kalau kehilangannya sering. Tapi terus terang, selama tiga tahun saya tinggal di sini, tak pernah ada satu kejadian kehilangan pun. Anehnya, sekalinya Mas A mampir menginap, langsung ada kejadian.

Bisakah saya menyimpulkan bahwa Mas A mungkin sudah jadi incaran?

Kami Yang Tak Punya Alibi

Apa yang membuatmu yakin kalau dia pelakunya? Apa yang membuatmu yakin kalau kau bukan pelakunya?

Kami semua tak punya alibi. Kami semua. Kalaupun ada yang merasa punya, tak ada orang yang dapat mengkonfirmasinya. Itu artinya, kami semua berkemungkinan menjadi pelaku.

Dari semua orang, Mbak L terduga paling utama. Ia mengaku masuk ke ruangan itu. Ia memang mengaku tidak mengambil benda lain selain mukena. Ia juga menolak mengambil dispenser walau diperintahkan Bu J. Tapi siapa yang bisa menjamin itu? Siapa yang bisa meyakinkan bahwa ia memang tak mengambil benda lain?

Bu Las sudah ada di rumah ketika Mas A datang menginap, karena ia meminta Mbak L mengambil mukena di ruang shalat. Artinya ia juga tahu kalau Mas A tidak ada di kamar. Satu-satunya orang yang bisa meyakinkan bahwa ia tidak mendekati kamar Mas A hanya suaminya sendiri. Namun hal itu juga tidak serta-merta benar adanya karena alibi Pak Las juga hanya akan dikuatkan oleh Bu Las.

Saya yang bertetangga kamar dengan pasangan itu pun tak bisa memastikan apa mereka selalu ada di kamar. Saya tidak tahu kapan Bu Las kembali. Saya hanya melihat Pak Las sekilas di kamarnya sekitar pukul dua siang. Setelah itu kami sibuk dengan urusan masing-masing sampai A ribut-ribut karena barang dan uangnya raib.

Saya bahkan tak tahu ada A datang menginap.

Informasi soal apa yang orang-orang di bawah lakukan lebih tidak dapat saya pastikan. Mbak L berkata dirinya dari pagi sampai sore ada di depan, menyiapkan barang dagangan untuk besok. Suaminya, Aa C, membantunya. Bu J, pembantu ibu kos, memasak di dapur bawah–semua kegiatan itu berlangsung independen. Tak ada yang bisa saling memastikan. Lagi pula, berapa banyak sih dari kita yang mengamat-amati gerak-gerik orang dengan pikiran bahwa akan ada sesuatu yang terjadi?

Saya sendiri tak punya alibi yang kuat, jika saya ditanya oleh otoritas berwajib soal hal ini. Saya justru termasuk orang yang berada dekat tempat kejadian–karena antara 18.10 sampai 18.30 saya mandi di kamar mandi depan kamar A. Saya cuma bisa mengingat kembali apa yang saya lakukan dari arsip obrolan Whatsapp–paling tidak, antara 17.30 sampai 18.10, dan antara 18.10 sampai 20.00, saya bisa memastikan bahwa saya ada di kamar, sibuk chatting.

Semoga saja ada yang akan percaya.

Yang menarik adalah kehadiran Mbak Y, anak Bu J. Saya tidak tahu apa yang ia lakukan. Memang, Mbak Y biasa datang kemari untuk membantu ibunya memasak. Tapi anehnya, ia biasanya datang ketika Mas G sang penjaga kosan sedang pulang kampung (seperti hari itu). Awalnya saya tidak menganggap hal ini penting, tapi dengan perkembangan selanjutnya, mendadak saya merasa sedikit curiga.

Satu-satunya orang yang ada di rumah kos ini namun paling tidak mungkin menjadi terduga adalah ibu kos kami. Beliau kini invalid karena penyakit yang menderanya. Tak mungkin ia bisa bergerak ke lantai dua dan melakukan semua itu—toh kalaupun memang mungkin, untuk apa? Ibu kos sudah terkenal tajir di kalangan anak kos dan warga sekitar, untuk apa ia harus mengambil uang dan tablet yang nilainya, mohon maaf, tidak seberapa?

Setelah Ketahuan

Biasanya akan ada seseorang yang bereaksi berlebihan… tapi kenapa yang bereaksi berlebihan justru adalah orang yang tidak mungkin?

Sesungguhnya, agak aneh juga kenapa ribut-ribut itu hanya terlokalisir pada Pak Las, Bu Las, Mbak L, dan suaminya, sedangkan anak kos lain yang jelas-jelas ada di sana (saya) tidak dimasukkan dalam persoalan, ditanyai pun tidak. Mungkin Mas A sudah menghapuskan anak kos lain dalam daftar tersangka versinya. Menurut saya itu gegabah, tapi orang punya pikirannya masing-masing, kan?

Mereka langsung saling bertanya tentang apa yang dilakukan saat barang-barang hilang dan apa ada orang lain yang masuk ke tempat kejadian. Saya sepintas menguping karena mereka ribut di kamar Bu Las, di samping kamar saya. Merasa bahwa belum semua orang yang menurut informasi masuk/punya niat masuk ke kamar itu sudah didengar pembelaan dirinya, mereka bahkan mendatangi rumah Bu J, dengan maksud ingin bertanya apa maksud Bu J menyuruh Mbak L mengambil dispenser itu segera. Sekaligus, mengambil keterangan dari Mbak Y.

Bu J yang entah kenapa merasa tersinggung langsung mengadu ke ibu kos. Bahkan, suami Bu J juga turut serta. Saya tak tahu apa yang mereka berdua bicarakan, tapi akhirnya mereka menganggap perintah Bu J kepada Mbak L untuk mengambil dispenser sebagai hal yang normal. Ya, kalau dipikir-pikir, memang bisa juga, Bu J menyuruh Mbak L untuk mengambil dispenser dari dalam kamar itu, artinya ia tidak mau masuk ke kamar itu.

Kecuali hal itu dilakukan dengan sengaja supaya tuduhan bisa dialihkan ke orang lain…

Begitu seriusnya masalah ini bagi si korban sehingga ia bahkan punya usul untuk melaporkan hal ini ke polisi. Semua orang setuju, tapi ketika usul ini disampaikan kepada Bu J dan keluarga, ada satu orang yang menentang keras.

Mbak Y.

Ibu satu balita ini sangat menentang rencana orang-orang untuk membawa masalah ini ke penegak hukum. Dari cerita Mbak L, Mbak Y ini bahkan sampai menangis-nangis agar masalah ini tidak dibawa ke kantor polisi. Alasannya karena dulu ia pernah punya masalah dengan seorang polisi. Ia takut dengan polisi, jadi ia tak ingin berurusan lagi dengan korps penegak hukum itu.

Kenapa ia harus bersikap seberlebihan itu? Jelas, semua orang, termasuk saya, langsung curiga, meski cuma di dalam hati. Saya sependapat dengan Mbak L, lebih baik masalah ini dibawa ke polisi agar jelas, bila perlu pemeriksaan sidik jari sebaiknya dilakukan. Berada dalam kecurigaan sangat tidak nyaman, karena setiap orang pasti punya tertuduh masing-masing. Jika dibiarkan, hubungan interpersonal kami akan terganggu, karena setiap kali berinteraksi dengan orang yang dicurigai, rasa curiga itu tak hilang bahkan setelah kejadiannya lama berlalu. Akan ada sesuatu yang akan mengganjal, dan itu sangat tak enak.

Tapi kenapa Mbak Y harus bereaksi seberlebihan itu? Apa ia benar-benar takut dengan polisi? Atau ada penjelasan lain terkait kejadian ini? Tak ada yang berani menyuarakan, tapi saya berani jamin bahwa dalam benak setiap orang pasti sudah ada pemikiran baru, yang tentu bisa berujung pada tuduhan, jika saja ada bukti yang juga mengarah padanya.

Sayang saya tak sempat mengikuti perdebatan dengan detail karena mesti pergi keluar. Namun ketika saya kembali, ada satu info penting yang saya lewatkan. Info ini berhasil menghentikan gunjingan seisi kosan, lantaran informasi yang dibawa sendiri oleh Mas A, si korban ini mengubah drastis keadaan malam itu:

Barang yang hilang sudah ditemukan.

Kriminal Yang Urung, Korban Yang Buntung

Apakah penyelesaian dan penjelasannya memang semudah itu?

Ya, di malam itu, demikianlah agaknya.

Semua benda yang hilang ditemukan kembali di tas Mas A sendiri. Ada dua tas yang ia bawa, tas besar dan tas kecil. Semua barang yang hilang itu tadinya ada di tas kecil. Ternyata, setelah ia mengecek lagi, ternyata semua benda yang tadi hilang ada di dalam tas besar.

Ia langsung minta maaf ke semua orang. Saya cukup mengerti, bahwa sangatlah memalukan, apabila seseorang yang baru datang sudah membuat rusuh satu kosan yang selama ini adem tenteram damai, dengan sebuah kejadian kecurian yang secara langsung menempatkan kami semua sebagai tersangka, dan akhirnya semua tuduhan dan kecurigaan itu tidak terbukti karena barang-barang yang hilang sebetulnya cuma salah taruh. Alamak. Bagi beberapa orang, mungkin inilah yang dianggap sebagai “perusak kedamaian”.

Tapi paling tidak, menurut saya, kita ambil hikmah saja dari kejadian ini. Waspada jelas nomor satu. Jangan karena di kosan tidak pernah ada kejadian kehilangan, kita lantas teledor dan menganggap sepele semua hal. Jangan sampai karena menganggap situasi aman, kita meninggalkan pintu dalam keadaan tidak terkunci, meski itu hanya ke kamar mandi untuk buang air kecil.

Nama pun tindak kriminal, terjadi karena dua hal: niat dan kesempatan. Niat jahat orang tidak bisa kita atur, namun kesempatan kadang muncul dari keteledoran sendiri. Inilah yang harus diminimalisasi sebisa mungkin. Jangan sampai kecerobohan kecil jadi penyesalan besar. Bagaimanapun, kehilangan apa pun yang kita miliki pasti menimbulkan perasaan tak enak di hati. Sebelum terjadi, lebih baik kita mengantisipasi.

Saya juga belajar untuk lebih teliti dan hati-hati sebelum mengambil kesimpulan. Apalagi kalau kesimpulan yang akan diambil ternyata berdampak bagi orang lain. Terlalu cepat ribut-ribut kalau barang kecurian tanpa sebelumnya mengecek dulu apakah kita salah taruh barang yang hilang itu menurut saya sangat tidak bijak. Kalau kesimpulan benar sih, tak apa. Kalau ternyata barangnya memang salah taruh? Yang ada pasti bakal jadi malu.

Oleh sebab itu, setiap kali dihadapkan dengan masalah, kita mesti belajar untuk melihatnya dengan tenang. Jangan terburu-buru. Pelajari situasi, pelajari semua kemungkinan. Pertimbangkan baik buruknya. Ambil keputusan hanya ketika kita sudah yakin dan siap menerima semua konsekuensi. Pastikan juga konsekuensinya paling tidak sudah diperkirakan.

Malam pun berlalu dengan cukup tenang…

Epilog

Kalau memang barang-barang itu dicuri dan ia sudah tahu siapa pencurinya, buktinya tidak ada karena barang-barang itu sudah kembali. Tak ada tindak kriminal, jadi siapa yang mau kita tuduh?

Esok malamnya, ketika saya pulang kantor, saya menjumpai Mbak L bicara dengan Mas G yang baru balik mudik. Jelas, isu panas, yang dibahas tentu kejadian kecurian ini. Saya mencuri dengar sedikit sebelum akhirnya nimbrung, karena ada pernyataan Mbak L yang sangat menggelitik.

Beberapa saat setelah semua orang kembali ke kegiatan masing-masing karena kasus sudah ditutup, Mas A ternyata mendatangi Mbak L dan ia dengan tegas meralat semua ucapan terkait dirinya yang salah taruh. Barang yang tadinya hilang memang ditemukan dalam tas besar. Tapi hal itu sangat tidak mungkin, menurutnya, karena ia sudah membongkar semua tasnya ketika mencari dan ia tidak menemukan uang dan tablet di sana.

Saya yang mendengar sepintas lalu langsung kaget. “Hah? Beneran Mbak? Dia katanya sudah mengecek?”

“Katanya teh begitu, Mas Angga. Tapi ya biar dia sudah ngomong seperti itu, memang ada bedanya? Toh barangnya sudah ketemu jadi tidak bisa bilang ada apa-apa. Lagipula kan kalau memang dicuri dan pencurinya dia sudah tahu, tidak ada bukti, jadi bagaimana kita mau menuduh?”

Kami berdua tidak bicara apa-apa. Memang, informasi ini bisa menimbulkan pertanyaan baru soal alibi, bahkan mengerucutkan orang-orang yang punya kesempatan mencuri menjadi orang-orang yang punya kesempatan mengembalikan. Meskipun pelakunya tidak bisa ditetapkan secara pasti, paling tidak jumlah orang yang mungkin melakukan kejahatan itu jadi lebih sedikit. Kecurigaan tidak menyebar pada seluruh orang karena akan ada orang-orang yang terbukti bersih.

Tapi apakah ada gunanya? Barang yang dicuri sudah kembali. Saksi tidak ada. Bukankah dengan demikian, tidak ada tindak kriminal yang bisa dituduhkan?

Namun meski begitu, saya yakin akan satu hal. Kecurigaan akan tetap melayang di udara.

Yah, kita memang sangat perlu waspada.

19 thoughts on “Ada Pencuri di Kos Kosan!

  1. Iya ya, meskipun barang yang hilang sudah kembali ditemukan, tapi tetap saja kecurigaan belum terjawab dan semua jadi waspada kalau kemungkinan hal itu berulang di lain kali. Jadi gak enak pasti suasananya. Cuma ini sepertinya sudah lama ya Gara kejadiannya? Soalnya aku pernah baca di timeline juga judulnya, tapi selalu gagal untuk masuk dan membacanya. Baru kali ini berhasil, dan aku baca tuntas 🙂

    1. Iya, sepertinya para penghuni pasti saling curiga kalau ada kejadian lagi, hadeh.
      Yep, tulisan ini memang repost, maklum Mas supaya bersih-bersih draft, hehe. Syukurlah kalau dibaca sampai tuntas, terima kasih banyak ya.

  2. pernah kejadian juga saat ngekos. saya hanya membelakangi pintu kamar untuk menjemur sekitar 10menit, eh pas masuk kamar 1 tablet dan 1 hp hilang. menyebalkan. lapor polisi, tidak ada hasilnya juga. mungkin perlu dibahas terus kali, jadi biar pelakunya yang orang dalam itu gerah dan mengembalikan

    1. Si pencuri nekat banget ya Mbak. Iya ya, kalau kasus-kasus yang dianggap sepele sama polisi ini pasti mengusutnya lama, atau bahkan tidak beres. Mau bagaimana, pencurian besar saja kadang tidak selesai, hehe.

  3. Iya rentan tuh koskosan jadi target maling. Apalgi kos-kosan mahasiswa. Soalnya mahasiswa sekarang mainan laptop ama smartphone. Ga kaya mahasiswa dulu. Udah itu biasanya mahasiswa masih teledor orangnya (masih muda).

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?