Dilipur Senja di Bukit Nipah

Kecuali dijelaskan lain (yang mana penjelasan lain itu sebenarnya tidak ada), semua foto selfie dalam postingan ini diambil dengan ponsel milik Kak Randy :)).

Halo!
Mataku hilang :haha.

Apa sih yang paling terkenal dalam setiap inci perjalanan menuju tiga gili di utara Lombok itu?

Jelas, those blue guard rails.

Gardu pandang biru-biru yang letaknya pas sekali di titik pusat sudut dua tikungan paling tajam di sepanjang jalan. Yang sebenarnya sudah kami lewati dalam perjalanan menuju utara, tapi kami harus balik lagi ke sana gara-gara urung meneruskan perjalanan.

Lho? Memangnya mau ke mana?

Kalau saya boleh cerita, sebenarnya Malimbu dan Nipah bukanlah tujuan utama kami :hehe :peace. Tempat yang ingin kami tuju itu sebenarnya Pantai Tebing di Desa Gangga, Lombok Utara. Pantai yang, dari beberapa foto yang beredar di dunia maya, saya duga sebagai pantai piroklastik, aliran lava yang terhenti tepat beberapa meter sebelum bibir pantai. Keren sekali kalau kita bisa foto-foto di sana :hehe.

Tapi tempatnya jauh. Gangga itu beberapa kilometer sebelum Bayan. Dan kemarin, setelah saya hitung-hitung dan curiga tentang kenapa Kecamatan Gangga itu kok belum juga kami temui, kami berhenti sebentar di pinggir jalan, dan sementara Kak Randy membeli bensin, saya iseng buka Google Maps. Ternyata masih 10 kilometer lagi, dan waktu saat itu sudah sekitar jam lima, dalam posisi Kak Randy belum shalat Ashar dan sebentar lagi waktunya Maghrib. Saya tak tega melihatnya kalau kami mesti melanjutkan perjalanan lebih jauh lagi, jadi saya memutuskan agar kita balik saja, toh kami sudah banyak melewati pantai.

Lagi pula saya tak bisa memperkirakan omelan macam apa yang akan saya terima kalau kami pulangnya malam-malam :hehe.

Kami pun putar arah, tapi saya berjanji pada diri sendiri: kalau pulang Juli nanti, saya harus ke sana! :tekad.

Kembali kami harus menjalani rute yang mendaki gunung lewati lembah di pinggir jurang itu. Pemandangan yang kini ada di kanan kami masih terus menggoda kami untuk diam sebentar, menikmatinya. Matahari mendoyong, dengan warna pucat yang mulai menegas jingganya, siap untuk kembali ke peraduan setelah menyelesaikan tugas, dengan semburat-semburat warna yang membias pudar pada mega yang menunggu dengan setianya.

Sementara itu, pada horizon dan semua apa yang ada di bawahnya, golakan samudra menenang, tampak seperti cermin mahabesar yang sedang menyiapkan diri menyambut sang raja. Mungkin satu tatapan singkat bagi sang matahari di cermin itu, untuk memastikan penampilannya masih sama seperti bangun pagi tadi: tegas, garang, tajam setajam silet melihat semua yang ada di dunia.

Semua keindahan itu membuat kami pada akhirnya menyerah, pada satu tikungan yang padanya terdapat pengaman jalan berwarna biru, satu dari dua spot fotografi terbaik di seantero Jalan Lintas Mataram–Tanjung.

Terletak sebelum Pantai Pandanan kalau dari arah Mataram, biarkan debur ombak menggantikan ucapan selamat datang, bagi pejalan yang kelelahan, dalam indahnya alam Nipah, Lombok Utara.

Selfie lagi!
Selfie lagi!

Selamat datang di Bukit Nipah.

Nipah sendiri sebenarnya merupakan nama untuk dua tempat sekaligus: sebuah bukit dan pantai yang ada di bawahnya. Tentang bukit Nipah, kami sebelumnya belum percaya kalau itu adalah sebuah bukit yang menjadi tanjung kecil, yang kami sangka pada awalnya cuma pinggir jalan dan di bawahnya merupakan tebing menjurang, persis sebagaimana keadaan di Malimbu. Tentang Pantai Nipah, ia ada;ah pantai yang di pinggir jalannya banyak pedagang ikan bakar.

Di atas sini menurut saya lebih ke gardu pandang, karena dari sinilah pemandangan laut bebas lepas betul-betul apik ditatap. Dengan tiga gili di kejauhan sebagai background, dan objek fotografi (para orang) dan pengaman jalan biru cerah, foto di sini pasti akan langsung dikenali, karena pengaman jalan biru itulah signature-nya foto di Lombok!

Saat kami ke sana, daerah itu sedang ramai pengunjung. Semua orang melakukan hal yang sama, foto-foto dan foto-foto. Kendaraan diparkir di bahu jalan yang lumayan lebar dan berbentuk hampir pelataran, sisa tanah lebih di sisi kiri jalan karena badan jalannya mepet ke badan tebing.

Hoi!
Hoi!

Pelataran kala itu terisi beberapa belas motor, beberapa mobil, juga beberapa pedagang seperti pedagang rujak. Tapi pedagang itu tidak mengganggu wisatawan, karena mereka berjualan di tempat-tempat yang tidak digunakan para turis mengambil gambar.

Sedangkan sepanjang trotoar itu? Bersih, setiap inci dari tempat itu sama indahnya untuk mengabadikan masa. Bagi saya, keindahan tanah kelahiran ini betul-betul mendekati infinit. Dengan deburan ombak laut, semilir angin, desir daun kelapa, tipisnya awan, bijaknya sinar matahari, guratan jingga senja, ah, susah mendefinisikan indahnya! Harus ke sana sendiri, membuktikan, memastikan, menikmati, barulah relativitas keindahan itu bisa bermakna.

Yep, ini Nipah.
Yep, ini Nipah.

Kami pun demikian. Kalau kami tidak ke sana, entah apa keindahan Nipah hanya akan jadi cerita yang cuma masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan bagi kami. Tapi ketika kami di sana dan menikmati sendiri, wuhu… mata pun kalau bisa kami perintahkan untuk tidak berkedip.

Saya baru saja akan menyarankan kami untuk kembali ketika Kak Randy menanyakan sesuatu. Saat itu, saya sedang menatap tebing tinggi di sisi jalan yang satu lagi, berpikir bagaimana kalau tebing ini rubuh dan menimpa kami terus kami semua berjatuhan di laut dalam bentuk yang tak utuh… (ini benar-benar harus dihentikan, ya :hehe).

“Kak, itu ramai-ramai ada apa?”

“Hah? Nggak tahu…” Saya melihat ke arah sana, memang para wisatawan seperti baru habis keluar dari sesuatu. Tapi saya tidak tahu apa.

“Mau ke sana?” tawar Kak Randy.

Saya berpikir sebentar, dan memutuskan setelah bertanya dulu pada diri sendiri, kapan lagi mau ke sana? “Mau, tapi sebentar ya. Aku ambil helmku dulu.” Saya memang paling tidak bisa meninggalkan barang-barang di parkiran outdoor, takut hilang!

“Aduh Kak, nggak usah deh, percaya deh, ada tukang parkirnya, banyak orang juga, nggak mungkin ilanglah.”

Mungkin saya saat itu lagi kumat gilanya, jadi saya tak menggubris. Saya ambil saja helm (yang sebenarnya tidak bermerk) itu dari tempatnya di bawah sadel motor saya (yang saya sangat khawatirkan terlalu gampang dibuka), mengaitkannya di tas ransel saya, sebelum mengeluarkan kalimat pamungkas yang benar-benar membuat semua orang (terutama sahabat saya yang ada di Batu, Malang sana), ingin membunuh saya,

“Heh heh, nggak. Trust no one. Suspect everyone.

Oke, harus diakui, itu adalah sebuah keputusan yang memang pada akhirnya membuat saya menyesal setelah sadar bahwa saya… salah kostum. Haduh, susah memang jalan-jalan sama saya! :hihi.

Bagaimana tidak, saya jadi orang yang paling salah kostum di antara semua orang yang berwisata ke sana. Di saat semua orang mengenakan pakaian santai, baju longgar dan celana pendek karena setting tempat sedang di pantai, saya mengenakan pakaian lengkap, jeans, dan jaket tebal yang terkancing sampai ke leher. Jangan lupakan helm yang terkait di tas ransel saya itu, yang membuat saya amat sangat susah mengeluarkan kamera SLR yang tersimpan dalam tas lain di dalam ransel saya :haha.

Lihat bawaan saya, kan?
Lihat bawaan saya, kan?

Jujur, saya baru sadar semua pakaian itu salah ketika saya sedang mengetik ini. Pantas saja semua orang kala itu mengamati saya! :hehe.

Kami menuruni jalan setapak yang ternyata macet gara-gara di sana ada pedagang jagung dan ikan bakar, sementara konsumennya (yang kalau saya tegaskan, pasangan) menyantap hidangan juga di sisi sebelah jalan setapak itu. Bagaimana tidak macet? Ternyata ada juga pedagang dan konsumen yang salah tempat, makan kok di jalan orang lewat?

Bukan cuma itu. Tapi sampahnya! Beberapa pengunjung asal buang tongkol jagung bakar yang sudah habis dimakan ke jurang di bawah mereka. Atau membuang bekas tulang ikan dan kertas nasi (ya, kertas nasi seperti yang sudah saya bahas dulu), ke jurang yang sama dengan tempat pasangannya membuang tongkol jagung bakar. Saya tidak peduli sih sebenarnya dengan kasmarannya pasangan itu, memang katanya kalau sudah saling cinta itu dunia milik berdua yang lain cuma mengontrak, tapi masa kalian juga jadi pabrik sampah, sih?

“Sialan,” gumam saya dalam hati. Sambil memungut satu plastik kecil bekas krupuk yang tergeletak di tengah jalan setapak yang berdebu itu dan kemudian mengantonginya, saya pun akhirnya melihat apa yang disajikan sebagai panorama di depan mata saya.

Model: Randy,
Model: Randy,

Tiba-tiba saja saya sudah tidak bisa melangkah lagi. Semua kerepotan yang sedang saya kenakan (dan yang sedang saya bawa) seolah lepas semua. Saya tak punya hak untuk mengomentari panorama apa yang disajikan di depan saya.

Gila. Siapa saya menilai mahakarya ini? Tapi yang saya akui, memang… Lombok tak perlu berusaha untuk menjadi cantik. Panorama Lombok tak perlu berpoles, tak sudi bersolek, karena apa yang disajikan pada sebuah tanjung bukit kecil di daerah Nipah adalah pemandangan kelas satu; kesempurnaan yang masih bisa ditangkap mata insan yang hidup di atas dunia.

Saya pun akhirnya percaya satu hal.

“Lombok memang indah.”

_MG_4061Seolah ada tiga layar superbesar di depan mata saya, semua terjalin dalam jahitan yang paling rapi sehingga tak mungkin ada makhluk yang bisa membedakan jahitan itu, lantaran si penjahit adalah pelaku yang sama yang menenun hidup manusia yang menatapnya.

Layar-layar itu, kalau saya boleh jelaskan, menampilkan panorama yang berbeda dari segi nuansa, warna, dan komposisi; tapi ketiganya tidak bersaing menjadi yang terbaik, karena ketika mereka semua bergabung; keindahan yang terjalin jauh lebih bermakna dari keindahan individu mereka.

Dari kanan ke kiri: Gili Air, Gili Meno. Gili Trawangan. Kalau tidak salah.
Dari kanan ke kiri: Gili Air, Gili Meno. Gili Trawangan. Kalau tidak salah.

Layar pertama ada di kanan saya. Dengan tiga gili menatap mesra dari kejauhan, ditingkahi kelabu mega dalam mendung yang mulai menebal di utara. Pohon-pohon yang jarang pada sisi curam bukit ini seperti berkata untuk tegar, bahkan dalam kesendirian yang belum berakhir (tetiba saya batuk-batuk). Berkas-berkas matahari yang sekali-kali menimpa abu-abu itu membuat semuanya menjadi kontras, namun jelas.

Semacam pelajaran yang harus diketahui untuk semua orang yang masih sendiri :haha.

Sementara itu, di sisi kiri, lengkungan pantai sempurna menjadi teman kami menghabiskan waktu, di depan gugusan bukit menghijau nan permai. Samar terdengar ombak meningkahi perbincangan kami soal bagaimana kabar masing-masing, dan bagaimana pekerjaan masing-masing di tanah perantauan (kami sama-sama anak rantau). Asap tipis membubung, tanda bahwa di sana ada kehidupan, di samping sebuah vila berlantai tiga besar dengan para tamu bermain-main di pantai nan sepi, hampir-hampir jadi pantai pribadi mereka sendiri.

Antara bukit dan pantai yang meneluk.
Antara bukit dan pantai yang meneluk.

Akhirnya, rumah sang matahari, tepat di barat kami, kini didominasi oleh warna kuning pucat yang sedang berubah oranye lantaran sang raja sepertinya masih enggan untuk kembali, meski alam sudah bersiap menyambut malam. Jadilah, sinar pucatnya yang memanjang pada samudra itu, menjadikan semua yang menatap dengan menentangnya menikmati efek cahaya yang paling klasik di seluruh waktu keberlangsungan dunia: siluet sempurna.

Pose yang... salah.
Pose yang… salah.
Ha, ini lebih baik.
Ha, ini lebih baik.

Bagaimana mungkin kita bisa tahan menatap keindahan seperti itu? Tapi dasar kami, langsung saja, dengan sedikit mengabaikan orang-orang di sana, dan tidak memedulikan bagaimana tampilan diri sendiri, mengeluarkan penemuan termutakhir abad ini dalam dunia fotografi: tongkat narsis!

Saya sebenarnya agak heran. Kecuali kami, para pengunjung seperti belum ada yang repot untuk membawa tongkat narsis. Mungkin mereka lupa, karena orang-orang itu pada sibuk memandangi kami dengan pandangan sangat ingin. Seperti ingin pinjam tongkat narsis kami tapi urung dilakukan gara-gara melihat kami yang masih terlalu menikmati penemuan baru itu dan belum akan meminjamkannya dalam waktu dekat.

Ini lho, tongsis :haha.
Ini lho, tongsis :haha.

Well, memang demikian! Kami tak ingin menyia-nyiakan setiap detik yang disediakan Tuhan untuk mengabadikan momen-momen ini!

Bagaimana kalau mau ke sana, Gar? Sangat mudah (saya jadi ingat beberapa paragraf dalam buku telepon yang pernah saya baca sejak kecil, paragraf-paragraf itu selalu diawali dengan dua kata ini). Asal ada alat transportasi, niat, dan kamera, maka semua orang pasti bisa ke sana.

Kemarin saya sudah sempat menuliskan, ini dari Mataram sampai Bangsal via Senggigi, jalurnya akan sangat mudah. Tapi, meskipun rutenya memang mudah, alat transportasi umum yang ada di Lombok lumayan sulit dan kalaupun ada, agak tricky sehingga butuh trik khusus untuk bisa mencapainya (naik mobil colt dari Pasar Lendang Bajur atau Pasar Kebon Roeq itu perjuangan, belum lagi kalau ternyata rute yang dilewati adalah rute Pusuk sehingga tiba-tiba sudah muncul di Perempatan Bangsal).

Saran saya, sewalah kendaraan bermotor, boleh roda empat, meski bintangnya tentu sepeda motor. Selain lebih ekonomis, juga lebih asyik soalnya bisa ke mana-mananya mana-mana. Harganya sekitar Rp100-Rp200k, belum termasuk bensin, tapi sepadan dengan medan dan pemandangan yang akan dilalui.

Tapi untuk pengeluaran kami selama berwisata di Nipah? Hratis! Jadi ayo kawan, puaskan hasratmu, karena belum tentu keindahan Nipah ini akan sering kali kau sambangi!

Ah, indahmu, senja.
Ah, indahmu, senja.

49 thoughts on “Dilipur Senja di Bukit Nipah

  1. hhfftt… sepertinya otak saudara2 kita ini memang perlu dilempengin lagi. di mana2 mayoritas dari mereka piknik asal piknik dan buang sampah sembarangan

  2. Keren cerita dan fotonya.
    Gemes ya kalau daerahnya bagus eh tapi masih byk sampah di sana sini…
    sayangnya bawah laut indonesia jg sering ditemui sampah. aku pernah nulis soal itu..frustasi deh kalau menyelam ketemunya botol Aqua atau bungkus Rinso atau Gudang Garam…

  3. Dulu waktu pacaran pernah ke lombok berdua, terus menghabiskan sore di bukit nipah ini. Asik banget tempatnya~ meski kadang ramai, tapi asik buat pacaran xixixix jadi kangen lombok deh~

    1. Yap, memang top banget cantiknya, Mbak :)).
      Iya Mbak, saya juga kegerahan, tapi karena melihat pemandangan seperti itu, saya seolah lupa :hehe.

      1. hihihi… bener banget. Belum ada yang ke Lombok, hanya satu dua ke Gili-Gili, Nobody selain saya dan mantan pacar di pantai yang pasirnya putih dan indah banget. heaven on earth deh…

  4. bagus banget pemandangannya Gara!!
    Sayang yak, masih banyak orang yang buang sampah sembarangan 🙁
    Aku belum pernah ke Lombok, semoga kesampaian, aamiin

  5. wah bagian yang buang sampah gar bikin geram deh. sayang banget klo keindahan tempat ini dirusak oleh benda-benda yang gak ada hubungannya dengan keindahan…

    itu foto sunsetnya jadi bikin kepengen deh, kepengen je lombok…

    salam
    /kayka

    1. Takut ilang, Mbaaaaak… soalnya Lombok itu rawan pencurian helm (dan motor) *well, at least Mataram, sih*. Lha wong motor diparkir di kantor polisi saja bisa hilang, kok.

  6. Punggungmu nggak pegel kah, helm dikaitin gitu -.-”

    nggak heran sih, klo byk sampah. Rasanya di setiap pantai yg aq kunjungi jg liat pemandangan menyebalkan ini. Harusnya ada peringatan tegas, trs disediain tempat sampah..

    1. Pegelnya jangan ditanya :huhu.
      Ya, itu sangat diperlukan. Dan semoga kesadaran pengunjungnya juga makin meningkat sih. Tapi bener juga, soalnya di sana tempat sampah minim banget ya…

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?