245 (3): Terjebak di Kulu–Paro

11 November 2014.

img_3647

Saya ingat, di dua tulisan sebelumnya matahari di bubungan langit sudah bersinar dengan garangnya. Begitu garang sampai-sampai kami sering kesilauan. Tapi sembari kami mengasyikkan diri memanja mata dengan panorama Geurutee (yang memang tiada dua itu), mungkin sang raja siang mencari tempat lain untuk memperoleh perhatian.

Saya paling suka pantai dan mendung.
Saya paling suka pantai dan mendung.

Sayangnya, saat itu tak ada yang peduli, dan tak ada yang mencari. Kami masih terhipnotis dengan lanskap Geurutee, bagaikan kesempatan sekali seumur hidup yang tentu tak akan datang lagi.

Pantai! Ada juga yang memecah batu karena tuntutan ekonomi.
Pantai! Ada juga yang memecah batu karena tuntutan ekonomi.

Namun, ketika mobil kami meluncur pada turunan terakhir di Geurutee, udara seketika mendingin. Bukan dingin macam biasa, tapi dingin yang mengembus turun, terbawa angin, menelusup di kulit kami. Diskusi seru tentang apa yang ada di puncak Geurutee seketika menghenti. Untuk beberapa saat kami bergeming, semua orang melongok pada sang langit, mencari sesuatu yang kami ingat dengan pasti, tadi ada di sana.

Satu turunan setelahnya. Sepi.
Satu turunan setelahnya. Sepi.

Tentu saja yang kami cari tidak ada.

Ya iyalah, ngapain mencari sesuatu yang sudah ada?

Saya memecahkan keheningan dengan berkata, nyaris berlagu, “K-kayaknya mau hujan…”

“Ya, memang mau hujan. Padahal kita belum lewat Kulu dan Paro. Justru yang parahnya itu di sana. Kalau sampai terjadi longsor lagi, kita bisa terjebak sampai malam,” timpal Pak Mansur. Suaranya pasrah, hampir-hampir seperti tidak mengharapkan apa pun selain melewati dua pegunungan itu (Kulu dan Paro adalah nama pegunungan) dengan selamat.

Pantai yang masih ada.
Pantai yang masih ada.

Kami berlima menatap sekeliling kami, waspada. Dan, eng ing eng, tiba-tiba saja saya ingat, longsor banjir Meulaboh yang sempat menjadi headline media nasional itu, amazingly, berada di Pegunungan Kulu dan Paro, dua pegunungan yang bahkan penunjuk jalan menuju ke arahnya saja belum kami jumpai. Kewaspadaan semakin tinggi karena kami tidak tahu cuaca di daerah sana bagaimana selama dua hari ke belakang. Meulaboh memang cerah, tapi siapa yang bisa meramal cuaca pegunungan?

Suara setengah menyesal yang terdeteksi oleh antena supersensitif saya membuat kesunyian ini harus dihentikan. “Mudah-mudahan tidak hujan,” saya menghibur diri sendiri. Saya melirik jam tangan dan mengutuk dalam hati. 14.23. Jam segini, menurut pengalaman, merupakan waktu emas untuk turun hujan.

Kembali saya melongok ke luar, langit yang tadi biru kini sudah berubah jadi kelabu cerah. Gulung-gemulung awan CB alias kumulonimbus mulai mengganti warna mendung menjadi kelabu gelap. Oh Tuhan, jangan sampai awan-awan itu bertemu. Saya tahu betul, Mas Baliyan yang sedang menyetir juga sadar dengan awan itu, jadi dia menambah kecepatan. Semua orang ingin memotret (sebenarnya saya), tapi semua orang juga ogah repot dan terjebak dalam kemacetan akibat tanah longsor, akibatnya kami cuma bisa menatapi jalanan.

Itulah awannya.
Itulah awannya.

Tapi, ada suara nakal di dalam diri ini yang sepertinya mendengus. “Terus kalau hujan kenapa? Kemacetan apa, sih? Seru dong, punya pengalaman di tengah hujan. Apalagi kalau longsor. Ya, kan? Memangnya separah apa sih?” Agak gila sih kedengarannya, soalnya seperti menantang alam. Maklumlah, imajinasi saya terlalu aktif (saya menolak frasa “menjurus gila”), jadi pikiran dan suara-suara di dalam otak ini kadang punya jalan pikirannya sendiri.

Pikiran yang punya jalan pikirannya sendiri. Ah, mbuh. Saya memilih memotret lagi untuk mengisi kekosongan benak. Terlalu lama kosong, saya bisa kesurupan betulan. Jalan berkelok, bukit hijau menyendiri yang makin lama makin besar jadi objek pemotretan.

img_3658

Kami mendekati bukit itu, dan ternyata, sesaat sebelum jalan mulai menanjak, sebuah papan rambu kuning berkata pada kami semua, “Anda Memasuki Pegunungan Kulu”. Belokan demi belokan, pada awalnya dinding bukit granit curam tajam menjadi pembuka tanjakan, tapi setelah satu belokan, saya mulai (sedikit) mengerti kenapa longsor Aceh Jaya masuk sebagai tajuk utama berita nasional minggu kemarin.

Bahu jalan masih berwarna lumpur, cokelat yang mulai mengering. Memang badan jalan saat itu sudah bersih, tapi gundukan tanah di kiri jalan menandakan volume longsor kemarin cukup banyak. Di sisi kanan, bukit telanjang dengan warna yang sama dengan gundukan di kiri kami. Tonjol-tonjolan batu seolah tak kuasa menahan gerumbulan tanah yang kemarin tumpah ruah menutupi badan jalan. Saya melongok ke atas dan berkata, “Padahal dari sini di atas sana masih rimbun.”

“Tapi di atasnya lagi sebenarnya sudah gundul,” seseorang menjawab saya. Saya lupa siapa.

“Oh,” saya terdiam. Sisa orang yang ada di dalam mobil itu pun demikian. Dan diamnya kami itu membuat suasana entah bagaimana jadi agak menyeramkan, karena mobil masih berusaha membelah kelokan demi kelokan itu sesegera mungkin, sementara jendela mobil yang terbuka membuat angin dingin masih terus berembus. Mendung masih menunjukkan ketidakpastian di langit sana. Beberapa dari kami cuma bisa berharap semoga kami tidak kehujanan. Atau terjebak longsor. Atau gabungan keduanya: terjebak dan kehujanan.

Tapi bukankah sip banget kalau itu sampai kejadian? #eh

Tiba-tiba saja kontur jalan mendatar setelah kami melalui sebuah turunan. Mendadak pikiran ini pun berceloteh dengan sombongnya, “Heh? Cuma segitu?” Well, terus terang hati ini agak kecewa. Sebenarnya yang saya inginkan adalah sedikit petualangan. Dengan pemandangan lumpur pada bukit-bukit yang terjal. Atau paling tidak seperti tadi: sisa-sisa pemberesan longsor.

img_3667

Apalagi ternyata, satu rambu berposisi terbalik yang kami lewati adalah tanda masuk Pegunungan Kulu. Pantas jalan jadi rata begini. Tapi ya sudahlah. Mungkin memang musibah longsor itu sudah benar-benar berlalu. Dengan, menurut yang saya baca di berita, dua mobil tertimpa longsoran (amit-amit, semoga mobil ini tidak kena), dan predikat tak membanggakan sebagai bencana provinsi. Semua akibat bukit yang sudah menggundul di atas sana. deep sigh

“Lagi pula, tidak mungkin ada yang lebih buruk dari itu, kan,” saya menggumam sambil menatap langit yang di sebelah sini kini cuma tersaput mendung tipis. Untuk sementara, meski sebenarnya kondisi langit ini tertangkap kamera, katakan saja saya luput untuk sadar bahwa intaian kumulonimbus besar sudah sangat dekat dengan kami. Malah, kami mendekatinya.

Jalanan masih lancar. Masih kering, langit di atas sana masih mendung. Para bapak sudah tak ada yang bicara. Sepintas saya mendapati ada air muka kekhawatiran di wajah-wajah mereka. Saya kembali mengingat percakapan kami tentang longsor Meulaboh (tatkala pertama kali menjejak di Aceh), dan oh ya, saya ingat longsor terparah itu ada di pegunungan yang kalau saya tak salah sebut namanya Pegunungan Paro. Paro? Paroan? Apa pegunungannya hanya separuh?

Tapi jalanan di depan kami masih rata-rata saja. Belum ada tanda-tanda bahwa kami akan menjumpai…

“Anda Memasuki Pegunungan Paro.”

OK. Rupanya kita sudah berada di dalamnya. Untuk kesekian kalinya saya mengeluarkan kepala dari jendela mobil, mendongak, dan melihat cuaca (saya sudah melakukannya beberapa kali sepanjang perjalanan ini), dan baiklah… langit mulai mendung. Tapi cuma separuh. Bukan hal yang perlu dikhawatirkan. Lagipula, saya kembali mengulang argumen yang tadi, nggak mungkin ada yang lebih buruk, kan?

Argumen yang agaknya salah karena di tanjakan pertama di Pegunungan Paro, hujan turun.

Tenang saja, masih gerimis.

Saya masih optimis, kendati muka orang-orang (mungkin termasuk wajah saya juga) berubah pias. Tapi saya tetap, masih berusaha berpikiran baik. Bahkan ketika hujan berubah jadi (sangat) deras dengan butir-butirnya yang besar. Mas Baliyan menginstruksikan untuk menutup jendela mobil agar air tak masuk. Setengah hati saya melakukannya. “Astaga, hujan begini saja,” gerutu saya dalam hati.

Tapi antrian kendaraan di sebuah tanjakan membuat mobil kami (dan pikiran saya) berhenti.

Uh oh.
Uh oh.

Macet, saudara-saudara.

Saya masih mencoba menenangkan suasana. Apalagi di luar sana hujan agak mereda. “Mungkin di depan ada kendaraan mogok,” kata saya. Maklum, ini daerah pegunungan. Pengalaman saya dengan beberapa jalur gunung di Bali membuktikan bahwa tak jarang kemacetan panjang terjadi karena truk yang ada jauh di depan sana pecah ban sehingga kendaraan mesti pelan-pelan melintas. “Hujannya juga kayaknya sudah berhenti. Di tempat saya, biasanya kalau hujannya deras turunnya cuma sebentar, heheh,” sambung saya sambil membuka kembali jendela mobil. Tak ada yang menggubris. Mereka membiarkan saya.

Di luar sudah gerimis, lho. Sudah selesai. Tenang saja, kenapa?

Saya tak akan menduga kalau yang menyahuti perkataan saya adalah alam, secara langsung, dengan langit yang menggelap mendadak (sangat mendadak) serta hujan yang lagi-lagi turun dengan deras (dan membuat saya menutup kaca mobil cepat-cepat).

Langitnya berubah jadi seperti ini.
Langitnya berubah jadi seperti ini.

Glek.

Alam, apa aku menantangmu?

Heheh. Terribly sorry

Hujan makin menderas. Sejenak saya melihat ke luar jendela dan saya baru sadar kalau jalanan kami sudah tertutup lumpur. Uh oh.

Jalanan kami.
Jalanan kami.

Hey, I have said “sorry”!

Jelas tidak ada yang memedulikan.

Nakalmu sih, Gar!

Nelangsa, saya menoleh ke belakang. Mobil mengantri. Setengah jam sudah berlalu dan belum ada tanda-tanda kendaraan-kendaraan ini akan bergerak. Padahal posisi mobil kami (lagi-lagi) ada dalam kebimbangan: di tengah-tengah tanjakan! Saya yang sadar diri tidak kurus ini diam, seperti terlem di jok mobil. Karena bagaimana kalau saya bergerak dan kita semua terperosok ke belakang?

Mobil di belakang kami.
Mobil di belakang kami.
Mobil di depan kami.
Mobil di depan kami.

Gar, kamu nggak tahu rem tangan, ya? :haha

Dan seakan ingin menambah kerumitan hari ini, Pak Dayat tiba-tiba saja membuka pintu, meloncat keluar dari mobil, bergabung dengan beberapa pria yang sedang hujan-hujanan untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Saya ingin mencegah, tapi Pak Mansur melarang.

“Biarkan saja. “Dia memang selalu ingin tahu,” katanya sambil terkekeh.

Beberapa saat kemudian kami sudah tidak melihat Pak Dayat lagi. Rupa-rupanya dia berjalan di tengah hujan dan lumpur ini ke muka, ke awal mula antrian, mencari informasi dari siapa pun yang bisa ditemui.

Empat puluh lima menit kemudian Pak Dayat masih belum juga kembali, dan kali ini, gantian saya yang agak blingsatan karena personil kami tidak lengkap. Sementara orang-orang lain malah tampak tenang (menurut saya). Puncaknya, setelah semua itu, seakan semakin ingin mempermainkan saya, tiba-tiba saja antrian bergerak.

Longsor, saudara-saudara.
Longsor, saudara-saudara.

“Lah, lah? Pak Dayat mana?”

Ternyata yang bersangkutan sedang berbincang dengan supir mobil yang ada di depan kami, seperti memberitahu info apa yang terjadi. Yang sebenarnya sudah tidak kami perlukan lagi, karena ketika Pak Dayat kembali ke dalam (dengan basah kuyup) dan bercerita (dengan semangatnya, tentu) pada kami semua, kami berlima sudah bisa melihat apa yang sesungguhnya berlangsung di luar sana.

A fresh landslide.

Dari kamera berlensa fisheye milik Mbak Dina.
Dari kamera berlensa fisheye milik Mbak Dina.

Longsor gila… Saya sampai kehabisan kata, hampir membelalakkan mata melihat apa yang tersaji di hadapan kami. Rupanya beberapa jam yang lalu di depan ada (beberapa) longsor (lagi), yang sampai dengan saat antrian mulai bergerak tadi masih berusaha dibersihkan oleh beberapa ekskavator. Alat-alat berat itu kini sudah mulai menyelesaikan tugas, terparkir rapi di pinggir jalan dengan operator-operator yang sedang istirahat, sementara bapak-bapak polisi (yang kayaknya seumuran saya :malu) mengatur lancarnya lalu lintas di tengah hujan yang masih deras itu.

sony-nex-6-1394

Jalan putus, road guard rail amblas. Kami harus mepet dengan bukit supaya bisa lewat.
Jalan putus, road guard rail amblas. Kami harus mepet dengan bukit supaya bisa lewat.

Hanya saja, apa yang ada di depan mata kami… susah untuk dilupakan. Sungguh.

Bukit rendah di kanan kami seperti tergerus separuh sebagai akibat dari si longsor besar. Berbongkah-bongkah tanah yang tingginya kira-kira semobil kami ada di kiri jalan, tampaknya merupakan penggalan bukit yang ada di atas sana. Melihat itu, lagi-lagi saya menelan ludah. Kalau kami cukup sial dan tertimpa satu saja dari bongkahan itu, maka tulisan selanjutnya setelah ini mungkin saja tentang petualangan di rumah sakit terdekat.

Amit-amit.

Bongkah-bongkah besar.
Bongkah-bongkah besar.

Batang-batang pohon yang tampaknya lemah tertidur lemas di pinggir jurang yang menganga di kiri kami. Ambang pengaman jalan (road guard rail) sudah tidak berguna lagi; bongkah-bongkah besar batu sudah menghancurkannya sejak awal. Kini, untuk memisahkan badan jalan dengan jurang besar di bawah sana, garis barikade yang dibentang bersusun menjadi pengaman darurat. Padahal kan, sedianya ambang pengaman besi itu cukup kuat apabila ditabrak kendaraan. Kesimpulannya, memang bebatuannya yahud kekuatan dan ukurannya. Bahkan kami melihat pohon yang tercerabut sampai akar-akarnya tercampur dengan tanah longsoran.

Garis barikade.
Garis barikade.

Intermezzo sedikit, sempat kami dihibur dengan pemandangan yang cukup indah dari sini. Saya selalu kagum dengan pemandangan jalan di bawah sana yang bisa dilihat dari atas sini, demikian juga sebaliknya. Apalagi dengan pepohonan rimbun yang seperti membuat kami serasa menelusup di dalamnya. Tapi saat itu, dengan semua ambang pengaman jalan yang ambrol, jalan yang putus sampai tinggal setengahnya, hujan yang masih turun, kendaraan yang sangat kami semua khawatirkan selip karena lupa ganti ban, membuat tak ada orang yang bercanda. Bahkan ketika saya mengambil gambar, semua orang merasa perlu menahan napas!

Pohon tercerabut sampai ke akarnya.
Pohon tercerabut sampai ke akarnya.
But the view is indeed, breathtaking.
But the view is indeed, breathtaking.
Melintas pegunungan.
Melintas pegunungan.

“Setelah Paro, jalanan sudah rata. Kita sudah masuk Aceh Besar.”

Lagi-lagi saya lupa siapa yang berkata demikian.

Baru ketika pemandangan gunung telah berganti sawah, kami bisa bernapas lega, saya bisa rileks dan lemas di kursi saya. Udara di luar masih dingin; langit pun masih mendung. Nyamannya udara dan suasana alam, serta kelegaan akan apa yang baru saja kami alami mungkin membuat saya keenakan di kursi penumpang. Tanpa sadar, kedua mata ini memberat, makin lama makin susah dibuka…

Waktu saya sadar, kendaraan kami sudah tiba di Banda Aceh. Pada suatu belokan menjelang apa yang secara samar saya dengar sebagai makam Sultan Iskandar Muda, ekor mata saya menangkap satu bentuk bangunan yang saya hapal betul sebagai bangunan Belanda.

Heh!? Apa itu?

Beberapa menit saya memikirkan struktur-struktur kolonial yang mungkin sampai kepala saya agak pening, namun tak ada titik terang. Ah, ya sudahlah! Yang penting…

Selamat datang di Banda Aceh, diriku! Petualangan apa yang menunggu di ibukota provinsi ini?

26 thoughts on “245 (3): Terjebak di Kulu–Paro

    1. Yah begitulah Mas, katanya sering kena longsor. Padahal jalan itu masih bagian dari Jalan Amerika yang dipuji-puji orang karena kekuatan dan kemulusannya itu, tapi karena sering kena longsor, ya demikianlah jadinya 🙁

  1. pengalaman buruk memang jadi bumbu-bumbu yang menyenangkan. membaca tulisanmu, seperti sedang berada di sampingmu juga. kalau nggak mikir waktu, rasanya penghalang apa pun pasti nggak dipikirin deh, jalanin aja, kalau harus ditunggu, ya ditunggu.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!