245 (2): Sesuatu di Keude Panga

Mungkin semua tahu kalau Teunom, daerah yang baru saja kami lewati itu, agak menyimpan cerita prihatin yang untuk mengubahnya saat itu ada di luar kekuatan semua kami, akibatnya Mas Baliyan mempercepat mobil, untuk beberapa saat, sehingga melaju agak kencang ketika kami meninggalkan Teunom. Sekali lagi untuk beberapa saat, saya katakan, karena tak berapa lama berselang, ketika kami semua sudah sadar tiba di suatu desa yang entah apa namanya saya belum tahu, Pak Dayat meminta Mas Baliyan singgah di sebuah masjid untuk buang air kecil.

Sebuah masjid yang tampaknya sekaligus menjadi lokasi balai desa. Lagi-lagi saya tak bisa mencari tahu apa nama desanya. Sembari menunggu Pak Dayat ke toilet, Mas Baliyan dan Pak Mansur keluar untuk melemaskan kaki, meninggalkan saya yang sedang jejepretan dan Mbak Din yang sedang asyik internetan (ya, providernya sudah berinvestasi di Aceh Jaya) di dalam mobil. Tak bisa internetan, saya memfoto balai desa itu, balai desa yang sepi, padahal kami ke sana hari Selasa. Mungkin tempat ini cuma dipakai kalau ada hajatan desa.

Ceritanya demikian, belajar pemotretan, sampai saya baru sadar terhadap sebuah papan pengumuman tepat di depan mobil kami.

balai-desa-keude-panga
Hiasan di gunungan itu benar-benar khas Aceh.

Lukisan seorang pria yang sedang memegang beberapa lembar uang, hanya tampak seperdelapan wajahnya dan kami semua langsung bisa mengenalinya sebagai Gays Tambnan. Cukup cetar? Tunggu sampai kalian membaca tulisannya.

gayus-tambunan-keude-panga
Saya tidak pernah melihat yang seperti ini di Jakarta.

“Waspadalah terhadap aliran sesat. Jangan jual aqidah demi rupiah.”
Dipersembahkan oleh Dinas Syariat Islam Kabupaten Aceh Jaya.

Wow. Saya tak bisa berkata apa-apa, selain keheranan karena sepertinya saya baru pertama kali melihat imbauan pemerintah sedemikian. Terbersit rasa penasaran: aliran sesat yang seperti apa? Apa di sini ada praktek-praktek sesat yang menghasut calon pengikut dengan uang? Dan benarkah ada yang menjadi pengikut aliran-aliran begitu? Seribu pertanyaan 5W+1H lainnya bergumul di dalam pikiran ini. Tapi tak ada yang terucap. Topik agama terlalu sensitif dan saya rasa agak tidak bijak kalau saya merusak hari ini hanya gara-gara salah omong.

Lagi pula, sepuluh menit lebih sudah lewat tapi belum ada tanda-tanda Pak Dayat kembali mengalihkan perhatian saya. Nah lho. Mas Baliyan dan Pak Mansur yang tadi keluar sekadar melemaskan kaki bertanya pada kami. Memang sih, tadi saya sempat melihat Pak Dayat ke arah jalan, tapi saya juga tidak mengerti ke mana. Mbak Din mencoba menghubungi dan sepertinya tanpa hasil. Ke mana Pak Dayat?

Ternyata, setelah kami memutuskan untuk “meninggalkannya” saja (sebuah keputusan yang agak membuat saya mengernyitkan dahi, tapi sebenarnya itu bahan candaan semata), kami mendapati Pak Dayat sedang sibuk mengamati sesuatu di sebuah toko sederhana di samping masjid. Oke, sepertinya cuma saya yang agak heran, karena yang lain sebenarnya sudah tahu kalau Pak Dayat akan ke toko itu. Weleh. Tertipu, nih.

Toko apa gerangan?

Ternyata toko batu akik!

toko-cincin-keude-panga
Toko batu cincin di Keude Panga. Sekaligus menjawab di mana kami berada.

Sudahkah saya cerita kalau di Aceh sekarang lagi booming batu akik? Well, bukan cuma di Aceh, sih. Tapi di Jakarta juga. Katakan saja, akhir-akhir ini para bapak sedang sangat menggemari kerajinan perbatuakikan ini. Batu-batu mulia yang bersinar (sebenarnya juga tidak mulia-mulia amat, sih) itu menjadi incaran orang-orang, untuk dibuat cincin atau kalung. Tak jarang, para kolektor batu bahkan mencari langsung ke sumbernya (gunung di kejauhan sana yang saya tak tahu gunung apa namanya). Termasuk Pak Dayat yang kini sedang asyik masyuk mengamat-amati beberapa jenis batu yang dipajang, menurut cerita beliau sendiri, ia sering melakukan perjalanan sendiri ke gunung untuk mencari batu-batu indah ini. Tentu saja, gratis.

koleksi-batu-akik-aceh
Dipilih, ayo dipilih!

Berbagai macam, kesan saya ketika melihat kumpulan bebatuan yang dipajang di etalase. Semoga saya tidak salah mengucapkan namanya, ada batu safir berwarna biru cerah, ada juga batu sejenis safir tapi warnanya merah darah, yang saya tidak tahu apa namanya. Kedua jenis batu itu menjadi best seller di toko pada saat itu. Ada pula batu nefrit (mungkin ejaan yang benar adalah nephrite, batu mengkilap yang kadang bening tapi kadang juga berwarna pucat sewarna susu, dengan warna dasar dominan hijau, seperti giok). Berbagai jenis batu lain dengan nama yang sulit diucapkan, ditambah beberapa varian giok tertata apik dalam alas berwarna merah. Orang-orang yang ada di dalam toko itu memilih-milih dengan tingkat ketelitian yang bagi saya supertinggi. Pak Dayat menunjukkan beberapa jenis batu dengan berbagai variasi warna dan tingkat asahan dan juga kilap mineral yang terkandung di dalamnya.

Berbagai jenis bebatuan. Ada juga cincin “pengikat” batu-batu hias ini 🙂

Tapi… kok ya bagi saya, semua batu sama saja? Hah, entah, mungkin saya tidak terlalu tertarik dengan dunia perbatuan.

Yang tak dapat saya lupakan (sayang, saya orang yang sangat susah lupa), adalah betapa semangatnya Pak Dayat bercerita kepada kami (yang pada akhirnya hanya bercerita pada Mbak Din karena saya agak tidak berminat dan jadinya sibuk jejepretan) tentang bagaimana membedakan batu asli dan palsu (dengan cara diterawang dan disinari senter dari arah sebaliknya), dan pengetahuan tentang di mana (di Jakarta, tentu), tempat kami bisa memotong batu, mengasahnya, dan menjadikannya cincin, disertai dengan apa bahan yang dapat digunakan sebagai dasar cincin. Perak, platina, rhodium, dan lain-lain. Begitu semangatnya. Rasa-rasanya ia bercerita seperti seorang anak kecil yang baru dapat mainan baru :hihi.

Mungkin saya juga seperti itu, kalau bercerita tentang sejarah dan bangunan tua?

Ah, otak saya terlalu penat mencerna pengetahuan baru yang terlalu banyak itu. Saya menyingkir, melipir pelan-pelan, memilih keluar dan menemani Pak Mansur yang duduk di atas balai-balai, di bawah pohon pinggir jalan. Selama beberapa waktu, saya termangu pada lengang sepinya jalan yang membentang di hadapan saya. Jalan yang panjang, sangat panjang, seolah tak ada ujung. Saya melihat pada jalan yang belum kami lalui dan yang saya tatap adalah panjang bentang aspal sampai horizon. Berbalik arah dan saya melihat hal yang sama.

pasar-sepi-keude-panga
Pasar di depan kami. Hei, ke mana semua orang?
pasar-sepi-keude-panga-2
Sisi sebelah. Mungkin semua orang takut dengan lensa?

Bertanya saya pada Pak Mansur, dan sambil tertawa kecil, beliau mengatakan bahkan kami belum menempuh setengah jalan.

Untuk sedetik, saya terperanjat. Apa lagi yang akan kami temui di sisa perjalanan ini?

6 thoughts on “245 (2): Sesuatu di Keude Panga

    1. Nah, lho. Itu dia, sih. Perlu nggak ya? Tapi setahu saya saat ini Lombok dari segi beragama masyarakatnya aman-aman saja, sih, Mas. Ancaman aliran sesat beriming-iming uang belum ada. Hehe. Jangan sampai, deh, ada kejadian seperti itu. Bisa gawat nanti :))

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!