245 (2): Mengintip dari Balik Pinus

Entah siapa yang membuka topik. Mungkin karena selama beberapa saat itu tidak ada apa pun yang menemani kami selain pepohonan dilatari bukit di kejauhan. Mungkin pula karena ada pantai mulai mengintip, atau beberapa pepuingan bekas tsunami menyapa kami sekilas dari pinggir jalan.

pantai-calang-01
A preliminary glimpse of Calang Beach.

Yang jelas, tiba-tiba saja pembicaraan beralih jadi soal gerakan separatis dan bencana tsunami. Tentang bagaimana bencana tsunami ternyata menyimpan cerita yang tidak melulu soal keluarga yang tercerai-berai, tidak hanya soal harta benda yang lenyap menghilang di laut lepas. Ternyata, gelombang besar itu juga (jelas) berdampak pada para anggota gerakan separatis yang juga menjadi korban bencana tersebut, yang saat itu bersembunyi di gunung-gunung sementara di pesisir keluarga mereka terdampak langsung. Mereka pun menjadi satu dengan masyarakat, melepaskan semua keinginan untuk berpisah karena “berkat” bencana itu, semua merasa satu. Senasib, sepenanggungan, sependeritaan. Semua konflik (dan sebenarnya intrik) dalam dinamika perpolitikan Aceh sirna sudah, tersapu bersama dahsyatnya air laut tsunami. Meninggalkan derita yang merekat kuat sebagai pemersatu, menjadi kekuatan untuk bangkit menuju hari esok dalam pangkuan Ibu Pertiwi.

Saya tak perlu bercerita lagi soal MoU Helsinki 15 Agustus 2005, kan?

Begitu saya sadar dari lamunan ini, matahari mulai menerik. Tebing-tebing pendek gundul berdiri tegak di kiri kanan jalan. Beberapa di antara mereka seperti tergerus, akibat penggalian bebatuan. Saya hanya menghela napas, oke, satu lagi siang yang panas…

pohon-pinus-pantai-calang
Pepohonan pinus seperti ini.

Dan di balik tebing itulah pepohonan pinus mengintip. Pepohonan pinus biasa, pada awalnya saya menyangka. Tapi apa yang ada di balik itu membuat napas saya tercekat.

pantai-pasir-putih-calang
Meet the beach!

Pantai berpasir putih, dengan dilatari dua pulau kecil di belakangnya, mengintip dari balik deretan rapi pohon pinus. Seolah-olah menuruti mata dengan debur ombak di pasir yang kalau diteliti sebenarnya kekuningan itu. Tak ada yang meminta sebenarnya, kami berdua masih kehilangan suara untuk berkata, tapi seakan mengerti, mobil kami melambat. Dan kesenangan kami makin bertambah ketika jalan yang cukup besar untuk dilalui mobil membentuk pertigaan ke arah pantai. Hanya terpisah tujuh belas meter dengan kami.

pohon-pinus-pantai-calang
Satu lagi pepohonan pinus.

“Singgah sebentar,” Pak Mansur berkata. Tentu saja kami senang bukan kepalang!

pantai-indah-calang-aceh
Siapa yang tidak tergoda dengan pantai seindah ini?
kurva-pantai-calang-aceh
That curve, really!

Kami bahkan sempat lupa di mana pantai itu berada. Yang jelas, saya langsung melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal, menggamit kamera, sebelum berlarian menuruni bebatuan pemecah ombak untuk berjumpa dengan apa yang sudah saya nanti sejak detik pertama saya menjejak Aceh: samudra!

bermain-di-pantai-calang
Playing with the sea, taken by fisheye lens, credit goes to Mbak Dina.

Kelomang-kelomang kecil berlarian terpapar ombak. Saya mendekat dan kecepatan lari binatang kecil bercangkang itu berlipat ganda. Lelah mengejar kelomang, pemandangan dari tempat saya berdiri hingga horizon di kiri dan kanan menjadi sasaran selanjutnya. Saya tak bisa mendeskripsikannya dengan kata. Entah, rasa-rasanya keindahan sedemikian tak cukup hanya dengan kata!

kelomang-pasir-pantai-calang
Kelomang, kelomang, di mana dirimu?

“Lengang”, hanya itu kata yang terucap kala itu. Pantai yang otentik, sama sekali tanpa denyut kehidupan bahari. Pun pariwisatanya. Hanya ada beberapa bangunan bercat terang berdiri di dekat barisan pohon pinus. Bercat selang seling dengan warna oranye dan putih. Mungkin digunakan sebagai tempat istirahat sejenak bagi para pengelana Meulaboh–Banda Aceh, mensyukuri keagungan Tuhan dalam bentuk pertemuan daratan dan samudra. Di belakang bangunan itu, gang yang terbentuk dari barisan pohon pinus yang mulai meninggi benar-benar memberi nuansa hijau yang teduh namun misterius.

rumah-istirahat-pantai-calang
Rumah peristirahatan yang catnya unik!

Sama sekali tak ada orang di pantai itu. Benar-benar lengang. Hanya ada kelomang, laut, pohon pinus, dan sinar matahari. Jauh sekali dari dugaan saya tentang sebuah “pantai berpasir putih” yang ramai dengan wisatawan yang berjemur membolak-balik diri seperti ikan bakar hihi. Sekali lagi cuma ada kelomang, laut, pohon pinus, sinar matahari, dan oh ya, pasir. Jangan lupakan kami sebagai pendatang baru di sana, yang benar-benar berusaha memanfaatkan kelengangan itu untuk mengabadikannya dalam gambar sebanyak yang kami bisa, dalam jangka waktu yang tak terlampau lama itu.

pantai-calang-sepi
Selain Mbak Dina yang tak sadar masuk bidang gambar, siapa lagi yang ada di sana?
pulau-pantai-calang
Pulau yang ada di kejauhan kami, tapi saya lupa namanya.

Setengah jam kemudian, kami melanjutkan perjalanan. Dengan pasir yang masih menempel di kaki dan agak mengotori mobil, kami berangkat. Tanpa tahu di mana pantai indah itu berada, sampai ketika kami beranjak dari SPBU dan ketika saya membaca di papan penunjuk jalan di mana kami berada. Calang, ibukota kabupaten Aceh Jaya. Agak menjauh dari pantai saya melihat bangunan beratap khas berwarna-warni, yang konon merupakan pusat pemerintahan kabupaten Aceh Jaya. Usut diusut, bentuk puncak atap kantor bupati Aceh Jaya itu dibuat serupa dengan meukeutop, tutup kepala khas Aceh.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Cantikmu, Calang!

15 thoughts on “245 (2): Mengintip dari Balik Pinus

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?