245 (2): Lamno dan Lelucon Makan Siang

Lautnya :D
Lautnya 😀

Matahari sampai di titik tertingginya, sebagaimana kami yang sampai di tengah-tengah perjalanan. Pemandangan pantai sepanjang ini masih terus menggoda kami. Pasir yang masih mengotori kaki (dan yang masih enggan saya bersihkan) juga semakin memperkeruh suasana. Apalagi, sisa-sisa keindahan pantai dengan pasir putihnya itu masih senantiasa mengintip. Indah sekali. Sekian kilometer, saya lupa tepatnya berapa, garis pantai Aceh dipenuhi dengan pasirnya yang putih menguning terkena sinar matahari. Kesemuanya lengang, tanpa ada wisatawan atau apa pun di sana. Hanya pantai dan sinar matahari.

img_3568

img_3566

Bosan hanya dengan pose pengambilan foto yang begitu-begitu saja, saya mencoba sesuatu yang lebih menantang :hehe. Peringatan, don’t try this at home. Caranya, berlutut menghadap pintu mobil, kemudian mengeluarkan sebagian tubuh di mobil yang sedang melaju, mengambil beberapa foto dari posisi berlutut di kursi mobil. Jepret jepret jepret. Heheh.

Hahasek :D.
Hahasek :D.
Wuhu.
Wuhu.

Atau, kalau saya lagi bosan, saya berdiri dari tempat duduk, mengeluarkan separuh badan, dan jejepretan lagi. Akibatnya foto yang dihasilkan tidak stabil, memang, tapi penampakannya agak mirip dengan kalau saya sedang mengambil foto dari atas mobil :haha. Sekali lagi, ja-ngan di-ti-ru, ya.

 Saya selalu suka laut. Model: kerbau.
Saya selalu suka laut. Model: kerbau.
Ada pohon, pasir, dan pulau.
Ada pohon, pasir, dan pulau.

Asyik! Rasanya seperti “makan angin” secara harfiah. Sesekali saya bertopang dagu di pintu mobil, berpikir tentang tempat-tempat yang barusan kami lalui, dan apa yang akan kami jumpai di depan sana. Seakan mengerti, tidak ada yang melambatkan kendaraan.

img_3552

Beberapa saat lagi kami akan memasuki Lamno.
Beberapa saat lagi kami akan memasuki Lamno.

Saya merasa semua mata sedang tertuju pada anak-anak penggila foto ini, dan saya cuma mengangkat bahu malu-malu. Yah, mau bagaimana lagi. Saya ingin sekali mengabadikan semuanya. Semua terlalu indah untuk dilewatkan. Mendengar alasan itu, para bapak cuma tertawa kecil, sembari berkata kalau lebih baik sekarang kita makan siang dulu. Nanti, di sebuah puncak gunung (yang saat itu namanya masih dirahasiakan), pemandangannya akan seribu kali lebih indah. Tak akan cukup waktu satu-dua jam mengagumi keindahan itu. Kita cuma perlu bersabar dan menanti saat kendaraan ini membawa kami ke sana.

Pantai lagi :)).
Pantai lagi :)).

Sebuah kota kecil menyambut kami dari jauh. Dengan rambut berantakan saya memasukkan kamera. Okelah…

Sebenarnya, di saat itu juga para bapak menyelipkan sedikit kekhawatiran tentang cuaca di atas pegunungan nanti. Memang, sampai di tengah hari itu matahari terik. Tak ada tanda-tanda mendung. Dan saya juga tidak percaya kalau mendung (dan hujan) bisa melanda. Menurut saya curah hujan sudah habis selama tiga hari ke belakang, dengan semua banjir dan tanah longsor itu. Tapi… demi menghormati bapak-bapak itu, dengan sedikit helaan napas, baiklah. Saya mengiyakan untuk tidak terlalu lama berada di pegunungan itu nanti. Tapi saya juga menyelipkan satu persyaratan, bahwa saya mesti bosan mengambil gambar di sana.

Beberapa saat kemudian dan kami lagi-lagi menjumpai rambu sapi.
Beberapa saat kemudian dan kami lagi-lagi menjumpai rambu sapi.

Kita makan siang di sebuah pasar kecil setelah berbelok ke kanan pada pertigaan jalan utama. Jalanannya tidaklah terlalu bagus, dengan kontur berbatu dan berdebu. Saya melongok ketika kami melewati kantor desa. Lamno. Sebuah desa yang pada awalnya hanya terdengar sebagai desa lain di Aceh pada telinga saya, tapi ketika saya menggali ingatan saya lebih jauh, tersiratlah bahwa Lamno bukanlah desa biasa.

Ingat soal penduduk Aceh yang bermata biru? Yep, mereka berasal dari Lamno.

Sebelumnya, izinkan saya bercerita sedikit. Saya tidak begitu tahu ya, entah ini hanya perasaan saya saja atau bagaimana, tapi beberapa orang Aceh yang saya temui (misalnya para bapak itu dan beberapa teman saya yang asli Aceh) punya sedikit perbedaan secara fisik. Mata mereka lebih jernih dari mata orang Indonesia kebanyakan. Cokelatnya lebih muda dan lebih cerah. Ingin rasanya bertanya kepada para bapak yang menemani kami (apakah benar demikian), tapi setelah saya susun-susun, pertanyaan itu terdengar begitu konyol, bahkan di benak saya sendiri, akibatnya urung saya tanyakan.

Tapi ketika saya mengingat Lamno dan cerita tentang penduduknya yang bermata biru, kemungkinan akan hal itu sontak tumbuh, meski sedikit. Kan bukannya tidak mungkin, kalau masyarakat Aceh sebenarnya keturunan dari percampuran darah dari berbagai etnis di seluruh dunia. Tentunya semua orang sudah tahu bahwa sejak dulu, Aceh telah menjadi bandar pelabuhan bagi para petualang dan peniaga dari seluruh dunia. Percampuran etnis tentunya sangat mungkin terjadi pada daerah sedemikian, menghasilkan masyarakat yang saya lihat hari ini, kan?

Hari itu, pasar Lamno tidak ramai. Malah beberapa los di dalam pasar tampak kosong. Mungkin pasar ini dalam tingkat keramaiannya yang umum hanya segini, atau saat itu bukan hari pasaran sehingga tidak ada pedagang yang buka. Intinya, tidak banyak kendaraan yang lalu lalang. Meskipun, ada rombongan anak sekolah yang mungkin baru pulang sehingga jalanan kala itu agak penuh. Mereka berjalan berombongan menuju jalan utama.

Dengan isengnya, saya mencari mana di antara anak-anak itu yang bermata biru :hihi. Sayang saya tak bisa menemukannya. Jendela mobil ditutup agar debu tak masuk ke dalam kendaraan.

Kami berhenti di sebuah restoran dekat masjid. Sembari para bapak menunaikan shalat, saya dan Mbak Din menyantap makanan lebih dulu. Lagi-lagi santapan berbahan dasar ikan laut, kali ini ikan tuna berbumbu yang benar-benar lezat, rempeyek udang renyah dan sayur bercampur ikan teri yang sangat terasa di lidah. Ternyata, meskipun daerah ini terlihat cukup jauh dari pesisir, ternyata sebenarnya pantai dari sini tidaklah berjarak begitu jauh.

Yang biasanya saya (sangat) bosan ketika menunggu, siang itu waktu berlalu tanpa permisi. Jangan lupa, saya masih berusaha menyisir orang-orang yang lewat, mencari apakah masih ada penduduk Lamno yang bermata biru… tapi lagi-lagi saya mesti kecewa karena saya tak bisa menemukan siapa pun yang sesuai dengan bayangan saya.

Sebelum makanan kami datang, sebenarnya untuk sesaat perhatian saya sempat teralihkan dengan (lagi-lagi) cara makan yang menurut saya unik. Begini ceritanya. Di atas setiap meja terdapat sebuah ceret plastik besar berisi air, di dalam sebuah baskom plastik yang ukurannya juga besar. Oh, saya pikir, ceret itu biasanya berisi air minum. Saya tidak memikirkan baskom plastik besarnya, yang saya lihat hanya ceretnya saja. Jadi saya pun menunggu gelas diantar ke tempat kami, karena di atas meja itu, surprisingly tidak ada gelas nangkring. Lumayan, air minum gratis. Kebetulan saya lupa membawa bekal minuman untuk perjalanan ini :haha.

Tapi kemudian Pak Dayat tiba dari masjid, dan dengan entengnya menuangkan air ceret itu untuk mencuci tangan.

Apa yang tepat terjadi di depan mata saya itu sukses mendiamkan saya yang hampir memanggil sang pelayan. Tunggu. Tunggu dulu. Sebelum saya membuat muka ini harus dilepas untuk disembunyikan di dalam tas, perkenankan saya mengkonfirmasi satu hal. Satu hal saja. Jadi air dalam ceret itu tidak untuk diminum, melainkan untuk mencuci tangan? Baskom plastik di bawahnya digunakan sebagai tempat menampung air hasil cucian tangan? Saya tidak salah lihat, kan? Ini saya sudah dalam posisi mau meminta gelas pada si empunya restoran, lho…

Pengunjung restoran yang baru masuk pun melakukan hal yang serupa dan saya langsung berterima kasih kepada Tuhan. Sebesar-besarnya. Berusaha betul saya untuk tidak tertawa terbahak-bahak karena kebodohan yang… begitu bodoh itu, karena saya berusaha untuk, katakan saja, belajar adat baru dalam tata cara makan minum di sudut barat Pulau Sumatera, tanpa kentara. Untung tidak ada yang tahu. Saya pura-pura mengamati lensa kamera untuk mengalihkan perhatian.

“Astaga itu gue hampir malu…” #lebay

Berhubung semua orang sudah berkumpul, dan pada akhirnya kenyang senang dengan kening licin, saya pun memberanikan diri bertanya tentang penduduk Lamno yang bermata biru. Penduduk keturunan Portugis yang masih bertahan, padahal Portugis telah jauh meninggalkan daerah Malaka beratus-ratus tahun yang lalu. Jawaban yang saya dapatkan membuat saya tidak berani bertanya lebih jauh.

“Dulu memang banyak, Mas. Di pesisir, jadi nelayan. Tapi sekarang sudah jarang, soalnya banyak yang jadi korban tsunami.”

Mungkin pesisir ini yang dimaksud?
Mungkin pesisir ini yang dimaksud?

Saya sengaja tidak meneruskan pembicaraan. Tak enak rasanya. Kami pun menyudahi makan siang saat matahari sedang terik-teriknya. Siap melanjutkan perjalanan menuju puncak (dalam arti sebenarnya, bukan konser eliminasi Akdemi Fntasi ya) yang (katanya) tersohor dengan pemandangannya yang, ya, spektakuler. Saya sebenarnya sudah bersiap dengan kamera ini (tinggal point and shoot), tapi sejenak sebelum memasuki jalan besar, mobil kami malah berbelok lagi menuju sebuah toko di bagian dalam pasar.

Singgah di sebuah toko emas.

“Rupa-rupanya ada yang ingin melihat beberapa bentukan emas untuk dijadikan pengikat cincin,” saya berlagu dalam hati. Kami bahkan sempat turun dari mobil untuk beberapa saat, tapi Pak Mansur mengajak kami semua melanjutkan perjalanan jadi niat untuk membeli emas pun diurungkan untuk beberapa waktu :hihi. Katanya sekarang tidak ada waktu untuk membeli emas lantaran perjalanan kita masih panjang. Saya bisa melihat beberapa orang memasang raut wajah sedikit kecewa.

By the way, itu adalah toko emas satu-satunya di Lamno. Heheh.

Mobil kami bergerak, berusaha menembus debu dan jalan berbatu menuju jalan beraspal bagus beberapa ratus meter di depan kami. Ketika membelok di sebuah tikungan, mata saya menangkap sebuah toko alat-alat petualangan. Agak takjub juga melihat merk-merk outdoor gear di daerah ini. Tapi yang membuat saya tertarik bukanlah barang di etalase, melainkan nama toko itu, nama yang berhasil membuat mata saya mengekor sampai bangunan sederhana tempat toko itu berdiri lenyap dari pandangan.

Geurutee.

Well, siap dengan petualangan di jalan menanjak, Gar?

Pantai terakhir di pesisir, sebelum menanjak ke pegunungan :)).
Pantai terakhir di pesisir, sebelum menanjak ke pegunungan :)).

32 thoughts on “245 (2): Lamno dan Lelucon Makan Siang

  1. sayang banget ya, masyarakat Lamno yang bermata biru sudah mulai sedikit 🙁
    kabarnya juga gitu sih, banyak yang terkena tsunami
    aahh.. perjalananmu bikin mupeng, hehe

    1. Iya, padahal dulu masih ada yang berdagang juga. Tapi sekarang sudah entah di mana, sudah sedikit banget. Soalnya mereka kebanyakan tinggal di pesisir dan berprofesi nelayan.

      Wah, terima kasih banyak 😀

  2. aih..sudah 3 tahun tak menginjak pantai..kangen jebar jebur disana
    iya katanya kalo aceh itu kepanjangannya arab, china, eropa, hindustan
    jadi banyak suku…
    salam kenal dari malang

  3. Very beautiful spot, Bli. Tahukah Bli, saya sampai harus mendownload Chrome supaya bisa comment di situsmu ini. Apa pasal? Memberi komentar via opera mini tak bisa, tidak ada tombol menu post comment. Membuka via browser ponsel pun ribet, mesti ini itu dulu. Saya kira harus comment via komputer atau laptop ya. Tapi Bli tahulah, macam mane jaringan di daerah saya ni. Syukurlah saat coba download Chrome, dan buka situs Bli via Chrome ternyata berhasil. It works! Akhirnya bisa cuap-cuap lagi di tulisanmu.
    Dulu saya pikir Aceh itu akronim dari Arab-Cina-Eropa-Hindustan.

Terima kasih sudah membaca! Sudilah kiranya meninggalkan jejak?