#220TahunMTP: Enigma Makam Zaman Kompeni (2)

Saya belum selesai memandang nisan Michiel Westpalm ketika Pak Lilie menarik perhatian kami bahwa ruang pendopo ini penuh dengan nisan di kiri kanannya. Bahkan sampai terpajang di luar sana, diterpa panas dan hujan, serta angin kencang. Inilah nisan-nisan yang berhasil diselamatkan pada zaman VOC dan dipindahkan ke museum ini.

Kalau diperhatikan, nisan-nisan pemakaman di masa Kompeni sangat dipengaruhi status sosial orang yang meninggal. Semakin tinggi jabatannya, semakin megah pula nisannya, dibuat dari batu granit yang sulit didapat, dengan pengerjaan yang rumit.

Itu juga tercermin dari lambang heraldik yang dipasang pada batu nisan orang itu, juga kemegahan acara pemakamannya. Pak Lilie membahasnya satu per satu.

Lambang heraldik adalah lambang keluarga, berupa emblem identitas bagi sebuah keluarga besar. Keluarga-keluarga di Eropa umum memiliki ini, dan lambang heraldik memegang posisi yang demikian penting, menjadi status kedua setelah jabatan yang diemban di perusahaan (maksudnya VOC). Begitu bangganya orang dengan lambang heraldik keluarganya, sampai-sampai mereka selalu berusaha menampilkan lambang ini dalam semua benda yang mungkin. Misal pembatas ruangan, atau rak buku, termasuk juga batu nisan.

Contoh lambang heraldik dari nisan anonim.
Contoh lambang heraldik dari nisan anonim.

Lambang heraldik memiliki beberapa komponen yang memiliki arti filosofis bagi keluarga itu. Misal benda hidup dengan jumlah tiga buah, sebagai contoh ikan berjumlah tiga, atau babi yang memiliki tiga kaki. Semua itu punya makna yang sama: kemakmuran dan ke-Kristenan yang kuat. Alasannya, dalam kepercayaan Kristiani terdapat Tritunggal: Allah, Putra, dan Roh Kudus, dan ketiganya dilambangkan dengan benda hidup yang menggambarkan kehidupan.

Terkait dengan batu nisan, jenis kelamin juga digambarkan dalam lambang heraldik. Lambang yang digambarkan dalam perisai menunjukkan laki-laki, dan kalau digambar dalam bundaran, menunjukkan yang dimakamkan adalah perempuan.

Satu nisan bisa juga memuat keduanya, dan itu berarti harmonisme antara pria dan wanita, juga menyiratkan kalau yang dimakamkan di sana tidak melulu satu orang.

Selain itu, secara tersirat, asal daerah dari orang yang dimakamkan itu bisa tampak di lambang heraldiknya. Meski tidak semua daerah punya ciri khas, Meneer Lilie kemarin memberi petunjuk dari kita bagaimana membedakan makam seseorang yang berasal dari Prancis, dengan satu petunjuk singkat:

Fleur de-lis.

Pak Lilie menjelaskan tentang nisan Vrijmetselaar.
Pak Lilie menjelaskan tentang nisan Vrijmetselaar.

Beliau mengambil contoh sebuah makam dengan lambang heraldik tiga fleur de-lis dalam sebuah perisai. Meski orang yang meninggal tidak lahir di Prancis, tapi boleh diterka kalau asal-usul keluarganya pasti dari negara itu.

Setelah nisan dengan fleur de-lis, Meneer Lilie menarik perhatian kami pada sebuah nisan di sebelahnya. Nisan yang dulu sempat menjadi kontroversi karena lambang yang tercetak padanya, jangka dan mistar yang membentuk segitiga, dengan mata di tengah-tengahnya.

Tarekat Mason Bebas, Vrijmetselaar, atau bahasa umumnya: Freemason.

Organisasi yang menurut beberapa orang adalah “penguasa informal” ini memang pernah mengalami masa kejayaan di Batavia. Dengan satu alirannya, Ster van het Oosten alias Bintang Timur, organisasi ini telah memberi warna pada peninggalan bersejarah di Jakarta. Salah satunya adalah gedung Kimia Farma di Jl. Budi Utomo (yang nama lama jalan ini kalau saya tak salah adalah Vrijmetselarlaan alian Jalan Freemason), dan yang paling jos, tentu saja, kantor pusat dari gerakan ini yang sekarang menjadi Gedung Bappenas di dekat Burgmeester Bisschopplein, yang bertetangga dengan sebuah gereja.

Lelucon tentang bangunan Freemason yang berdampingan dengan sebuah gereja memang sempat jadi kontroversi yang seru pada masanya. Tapi sebenarnya itu tak aneh lagi, karena kantor lama di Vrijimetselaarlaan ini pun posisinya dekat sekali dengan Gereja Katedral.

Beberapa pendapat teori konspirasi yang lebih ekstrem bahkan menyatakan kalau Jakarta sempat dipersiapkan untuk “hal-hal tertentu”. Dan yang lebih mengejutkan, konon ide-ide Vrijmetselaar inilah yang β€œmengilhami” salah satu organisasi pergerakan tertua yang dimiliki kaum nasionalis Indonesia.

Pak Lilie tidak membahasnya lebih jauh. Beliau meminta kami membaca sendiri di buku D. Thedens yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia namun hanya dicetak sebanyak 5.000 eksemplar, apabila kami masih penasaran dengan Tarekat Mason Bebas di Batavia.

Kira-kira bukunya seperti ini:

_MG_9894

***

Kata Pak Lilie, tidak semua nisan-nisan yang ada diselamatkan dari pekuburan zaman VOC ada di sini. Nisan-nisan zaman VOC yang ada di Museum Prasasti pada umumnya diselamatkan oleh yayasan kebudayaan Belanda kala itu, Bataviaasch Genootschap (kini Museum Gajah) dari sebuah gudang pengusaha Tionghoa, akibat pemindahan makam yang berantakan dari beberapa lokasi lama.

Selain di sini, beberapa nisan zaman VOC yang masih bisa dibaca terdapat di Museum Wayang (ada sembilan nisan di sana, termasuk milik Gustaaf Willem Baron von Imhoff dan Adriaan Valckenier, saudara sepupu), Gereja Sion (milik Gubernur Jenderal Hendricus Zwaardecroon), dan di Pulau Onrust (milik Maria van der Velde yang terkenal dengan kisah sedihnya).

Saya belum mengunjungi yang di Gereja Sion dan di Pulau Onrust, mungkin ada yang mau menemani jalan-jalan ke sana? kode keras :haha.

Bergerak ke nisan selanjutnya di sisi kanan pendopo, Meneer Lilie bercerita soal seseorang bernama Jacques de Bollan van Luik, seorang Persia yang dikenal sebagai arsitek dari Westzijde Pakhuizen, sebuah gedung berbentuk huruf V yang masih berdiri hingga saat ini dan menyimpan potongan terakhir dari tembok kota Batavia.

Gedung itu kini menjadi Museum Bahari.

Di sebelahnya adalah nisan Peter van Hoorn dan istrinya, Sara Bessels. Mereka orangtua dari seorang gubernur jenderal, bernama Joan van Hoorn.

Jikalau jalan-jalan ke Museum Fatahillah, pada sebuah ruangan gelap yang lurus dengan pintu masuk (yang kalau pintu belakangnya dibuka, maka akan tembus ke tangga Patung Hermes yang ada di halaman belakang), di sana ada sebuah plakat kayu panjang, yang dulu sempat hilang dan ditemukan kembali sebagai papan penggilasan cucian, plakat peresmian Stadhuis ketiga yang kini menjadi gedung tempat plakat itu berada.

Adalah Joan van Hoorn yang mengawali pembangunan Museum Fatahillah itu, dan yang meletakkan batu pertama pembangunan gedung itu adalah putrinya, Petronella van Hoorn, yang nantinya juga dimakamkan di bawah nisan yang sama. Selain mereka, turut dimakamkan Francois Tak, atau dikenal umum sebagai Kapten Tak, seorang perwira militer yang tewas di Kartasura dalam pengejaran Untung Surapati.

Dari penjelasan-penjelasan Meneer Lilie di atas, terang sudah bahwa pemakaman dengan batu nisan impor dan ukiran rumit dari India seperti ini hanya bisa dilakukan oleh para pejabat tertinggi di perusahaan, karena harganya sangat mahal. Tapi yang mahal bukan cuma perlengkapan dan batu nisannya saja, upacara pemakamannya pun menelan biaya yang sangat tinggi.

Begitu banyaknya uang yang berputar dalam satu upacara pemakaman membuat perusahaan-perusahaan pemakaman bermunculan, dan, Kompeni menerapkan pajak tinggi terhadap upacara pemakaman. Memang pemerintah yang satu ini tak mau kalah, tapi itu sebenarnya tidaklah aneh, mengingat VOC datang ke sini hanya dengan satu tujuan: mengeruk keuntungan sebanyak mungkin.

Saya kurang ingat berapa lama kami sudah berdiri di pendopo, membahas empat nisan itu, tapi Meneer Lilie masih terus bercerita. Kali ini, adat pemakaman zaman kompeni yang menjadi topiknya. Kami semua langsung tidak percaya ketika Pak Lilie bertutur bahwa semua upacara pemakaman para pejabat tinggi dilakukan pada malam hari.

Alasannya? Sebab pemakaman di malam hari tampak lebih romantis.

Saya mencoba membayangkan penjelasan Meneer Lilie sesudahnya.

Masa itu belum ada listrik, belum ada penerangan jalan. Dari rumah duka, iring-iringan jenazah hanya diterangi oleh para budak yang membawa lampu minyak dan lilin di sepanjang jalan. Di belakangnya, orkes musik mengalun sendu, seolah memupuk kesedihan dan mengingatkan keluarga akan sosok yang telah tiada.

Di depan, seorang pejabat setingkat di bawah si mati, dengan seragam lengkapnya, menjadi pembawa bantal yang di atasnya ada sepatu atau pedang dan sarung tangan yang dulu digunakan si mati. Di belakangnya lagi ada panji-panji berupa lambang heraldik keluarga, baru disusul oleh iringan jenazah yang diusung pegawai perusahaan, disebut lijkdragers, dan terakhir, diikuti keluarga dan orkes musik.

Setelah jenazah beserta iring-iringannya (yang spektakuler itu) tiba, jenazah disemayamkan di pendopo untuk diupacarai oleh pastur atau pendeta. Umumnya, pastur/pendeta membunyikan lonceng yang ada di pelataran makam (sampai sekarang masih ada) sebagai tanda upacara mulai dan selesai. Setelah upacara selesai, barulah jenazah dimakamkan di tempat yang telah disiapkan, atau di makam keluarga yang lain.

Saya yakin kalau saya berkesempatan menyaksikan satu upacara pemakaman saat itu, maka keindahannya akan sangat spektakuler.

Tapi buat apa semua keindahan seperti itu, terutama ketika itu semua dibangun di atas kebohongan?

Kebohongan karena biaya untuk menyelenggarakan satu upacara pemakaman, tak jarang membuat keluarga yang ditinggalkan jatuh miskin, hanya untuk menjaga gengsi. Jangan pikir soal esensi dan nilai agama dari sebuah upacara pemakaman, apalagi penghiburan atas kesedihan orang yang ditinggalkan, tapi pikirlah soal berapa rijksdaalders uang harus dipinjam supaya piringschenken bisa dibagikan!

Padahal si mati pun tak bisa merasakan apa-apa lagi!

Masa itu, upacara pemakaman sudah menjadi bisnis tersendiri, ditandai dengan banyak bermunculan usaha-usaha biro jasa pemakaman. Bekerja sama dengan kerkfabriek, bagian diaken Gereja Belanda, mereka mengurus soal prosesi pemakaman, surat-surat, dan lain-lain, termasuk menyewakan jubah khusus bagi petinggi-petinggi yang ikut dalam upacara pemakaman itu.

Undangan acara duka pun disebar oleh kerkfabriek ini, dengan bentuk undangan yang sangat bagus, menggunakan tinta yang bersepuh emas. Perlengkapan upacara duka pun dipersiapkan oleh perusahaan ini, seperti lencana-lencana dan piringschenken.

Intinya, keluarga si meninggal cuma terima beres, yang penting mampu membayar maka semua persiapan dan upacara selesai dilaksanakan.

Mulai mirip dengan zaman sekarang, ya :haha.

Begitu banyaknya kebohongan dalam upacara ini, bahkan pengusung jenazah pun sebenarnya tidak mengusung jenazah. Sebenarnya, yang mengusung jenazah itu adalah para budak, para lijkdragers ini cuma mengusung secara simbolis dengan memegangi kain penutup peti jenazah seolah-olah menggotong peti jenazah itu.

Namun meskipun cuma mengusung sekenanya, para lijkdragers ini bersama dengan tamu undangan yang lain (kecuali budak, tentu) akan mendapat hadiah berupa buah tangan dari si empunya acara, berupa lencana lambang heraldik keluarga si mati yang terbuat dari emas atau perak, serta piringschenken, yakni piring-piring bertatahkan lambang heraldik keluarga, juga terbuat dari emas atau perak.

Akan tetapi, meskipun acara pemakaman menyimpan banyak intrik dan masalah serta pajak di baliknya, upacara pemakaman adalah salah satu gelaran budaya yang paling mengagumkan bagi pelancong Eropa yang datang dari tempat yang jauh (yang tentu saja cuma numpang lewat dan tak tahu apa-apa).

Baginya, Batavia kala itu benar-benar Koningin van het Oosten, seorang ratu cantik yang mahasempurna. Kota yang sangat berbudaya Eropa, yang mampu mempertahankannya bahkan sekian ratus ribu kilometer dari tanah asal budaya itu, ditambah bonus pemandangan kota dengan kanalnya yang sangat cantik.

Oh, andai saja mereka tahu!

***

Masuk kembali ke pelataran dalam, Pak Lilie menjelaskan soal pengaruh aliran Protestan pada bentuk nisan. Sebagaimana diketahui, terdapat dua aliran besar pada agama ini, yakni Protestan Konservatif atau Protestan Liberal. Dua nisan itu dipajang tepat di sisi dalam sebelah kiri dari arah masuk, jadi agak susah untuk dilewatkan.

Perbedaan yang sangat mencolok adalah, kalau nisannya berasal dari aliran konservatif, maka hanya ada nisan polos, yang bahkan tak ada tanggal kapan meninggalnya (ekstrem nisan dari golongan konservatif adalah bahkan cuma granit polos saja tanpa keterangan apa-apa). Pun ketika ada tulisan, tulisannya hanya sebatas tanggal lahir dan tanggal meninggal, tanpa nama atau pun embel-embel jabatan.

Sedangkan kalau nisan dari aliran liberal… kira-kira sama dengan nisan Michiel Westpalm di postingan terdahulu, inskripsi panjang dan lambang heraldik yang besar.

Tapi kalau kita mau pikir-pikir, memangnya apa sih arti inskripsi panjang-panjang di batu nisan? Memang ada orang meninggal membawa jabatan, apalagi lambang panji-panji keluarga? Pentingkah kedudukan seseorang ketika ia telah kembali pada Yang Esa?

Yah, mungkin orang-orang zaman dulu juga memikirkan kami, penduduk kota tiga sampai empat abad kemudian, yang kebingungan mencari identitasnya sendiri dari sumber-sumber sejarah yang perlahan tapi pasti mulai musnah…

Saya pikir saya mesti berterima kasih pada orang-orang yang hidup di masa lampau itu.

32 thoughts on “#220TahunMTP: Enigma Makam Zaman Kompeni (2)

  1. Ternyata menarik juga ya belajar sejarah. Dulu pas SMP suka sekali sejarah tapi pas SMA jd ga suka sm sekali gegara tugasnya buanyaaak banget.

    Kalo dipikir-pikir orang dulu sama jaman sekarang nggak jauh berbeda ya, sama-sama mementingkan gengsi, harusnya kan dipentingin fungsi bukan gengsi. Aku jadi mikir, dari prosesi pemakaman si pejabat seakan mereka tuh spesial banget ya, mereka tak pernah memikirkan perasaan para budak, jangankan untuk pesta pemakaman, untuk makan pun mereka susah. Kadang nggak habis pikir, kenapa masih ada orang yang suka berlebih-lebihan padahal di saat yang sama ada orang yang begitu kekurangan. Itu sih yang aku pikirin sepanjang baca tulisan ini

    1. Menurut saya esensi penjajahan adalah superioritas, ketika suatu kelompok berada di atas kelompok yang lain dan memanfaatkan perbedaan posisi itu untuk tidak memandang kelompok yang lain itu sebagai manusia yang setara. Selain itu penjajahan adalah soal kepentingan kami dan kepentingan kalian dan kepentingan kami mesti didahulukan, bukan kepentingan “kita”.
      Poin yang bagus dengan mengangkat bahwa zaman sekarang mulai tak berbeda dengan masa lalu. Saya akhirnya jadi mikir, “Sekarang ini kita sedang dijajah, ya?”

  2. Gaaaaaar… Gw ngebayangin kalo dirimu jadi guru sejarah kayak gimana (gara-gara komen sebelumnya ngomongin sejarah). Hahaha. gw baca ceritanya menarik banget.

  3. aah iya nggak kebayang jaman dulu itu bikin gambar heraldiknya bgmn
    pasti ada juga profesi pemahat nisan

    ada nisan yg sempat bikin termangu, di nisan wanita muda yang meninggal di lautan, yg punya pesan puitis, jadi membayangkan kisah hidupnya berbulan2 naik kapal dari Eropa tapi akhirnya tak sampai ke tujuan
    agar sepeninggalnya semua hidup damai,

    Gereja Sion dan pulau Onrust juga belum kudatangi Gar

    1. Iya ya Mbak, mereka berbulan-bulan di lautan dan pergi ke tempat yang jauh banget, tempat yang bahkan mereka belum tahu seperti apa, yang ternyata sangat berbeda :hehe.
      Kapan-kapan ke sana yuk, Mbak? :hehe.

  4. Setuju sama Bang Dani diatas, kayaknya kamu cocok jadi guru sejarah bang πŸ˜€ gilak penjelasanmu itu loh mas detail banget πŸ˜€

    Lambang-lambang yang dibuat pada zaman dulu itu punya arti yang menarik juga ya Bang πŸ˜€ orang-orang zaman dulu pinter-pinter brati ya ._.

    Ngomongin Freemason, yah, sekarang masih marak itu ya mata satu sama segitiga gitu

  5. ngomongin soal freemason tuh menarik *oia aku termasuk yang suka soal satu ini*
    makanya penasaran juga sama museum prasasti πŸ˜€

    aku baru tahu kalau ada acara pemakaman sespektakuler itu Gara o_O

  6. Cerita yang panjang dan BIKIN SEDIH kok nggak bisa ikutan acara semenarik itu di Museum Taman Prasasti >_<
    Jujur fokusku ke Freemason. Sungguh pnasaran dengan tinggalannya di Jakarta, kepo dengan yang masih aktif di Jakarta. Bahkan Solo pun sebenarnya ada beberapa, tapi sudah disamarkan. πŸ™‚

    1. Iya di Solo mereka memang sempat buat loge tersendiri Mas. Duh ada info sudah di ujung lidah saya tapi tak berani saya buka di sini :hehe. Kapan-kapanlah ketika kita ketemu ya Mas :haha.

  7. wahhh ahli sejarah lagi cerita :p
    yuuk kita ke onrust, ikutan trip yang sehari 3 pulau itu. Aku yakin deh kalo perginya sama kamu pasti banyak info2 tersembunyi yang bisa digali πŸ˜€

    1. Yuk Mbak kita jalan ke sana, saya penasaran dengan cerita Maria van der Velde, dari kisah sedih sampai penampakannya :hehe. Info-info dong Mbak kalau ada trip ke sana, terima kasih :)).

  8. Mantap jaya riset untuk penulisan artikel ini, salut!

    Btw, aku tertarik untuk lebih tahu tentang sepak terjang Vrijmatselaar dan bangunan-bangunannya yang masih tertinggal hingga kini. Buku yang di atas itu susah sih ya didapatkannya? Sepertinya tarekat tersebut sangat mempengaruhi kehidupan dan budaya urban, pada masanya. Siapa tau sebenarnya pun, masih ada budaya itu yang terbawa sampai sekarang, tapi kita tidak menyadarinya.

    Hmmm aku pribadi kok melihat pemakaman di malam hari itu seram ya daripada romantis? hehehehe …

    1. Untuk mendapat hardcopy asli dari buku itu memang susah sih. Saya mesti mencari ke segenap toko buku loak, dan tidak ada, terus nemu di internet, tinggal satu, itu pun mesti keluar “sedikit” biaya :hehe. Tapi kalau hanya ingin membacanya saja, buku ini punya versi ebook (bajakan) yang bisa diunduh di internet :hehe. Saya sih cari bukunya biar ada kebanggaan saja, di seluruh dunia buku ini hanya ada 5.000 eksemplar yang berbahasa Indonesia dan saya punya satu di antaranya :hehe.

      Syahdu Mas… ada musiknya, iring-iringan, seperti kirab di malam hari. Cuma yang diarak adalah jenazah, bukan gunungan :hehe.

      1. Wah iya dong, kalau punya bukunya langsung pasti menyenangkan. Satu diantara 5000 di dunia gitu lho πŸ™‚

        Boleh dong nanti aku diinfoin ebook nya Gar. Matur suksma πŸ™‚

  9. Sekarang sudah tidak dijual di umum lagi sih Mbak, kemarin saya sudah usaha ke Kwitang sampai ke Taman Mini dan TIM tapi tak dapat juga, akhirnya saya beli on line tapi itu pun agak susah :haha. Tapi di internet ada versi ebooknya gratis, bisa diunduh :hehe.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!