#220TahunMTP: Enigma Makam Zaman Kompeni (1)

Katakanlah kalau saya sedikit desa, tapi saya mengalami kesulitan soal bagaimana memasang handsfree itu di daun telinga. Untungnya sih berhasil, setelah melihat bagaimana teman-teman mahasiswa itu memasangnya. Saya berterima kasih pada abang-abang petugas karena sudah menyetel handsfree ini dengan sangat baik, karena suara Meneer Lilie dengan aksen Jawa Tengahan (beliau berasal dari Kudus) langsung terdengar:

“Jadi saya tidak perlu bicara keras-keras lagi, ya? Syukurlah.”

Pemandu kami di siang itu: Meneer Lilie.
Pemandu kami di siang itu: Meneer Lilie.

Beliau meminta kami berkumpul di sebuah plakat dekat pintu masuk, untuk memulai tur. Bukan yang di atas pintu masuk, tapi pada plakat batu nisan di sebelah dalam, tembok sebelah kiri. Batu nisan yang ini pernah saya baca keterangannya di brosur MTP, dan kalau saya tak salah ingat, plakat ini memberi pesan pada siapa pun yang membacanya untuk ingat akan kematian. Hanya itu, belum ada hal unik yang membekas.

Tapi dengan penjelasan Meneer Lilie, semua berbeda. Beliau membacakan inskripsi itu dalam bahasa Belanda yang sangat fasih. Memang, ketika sebuah bahasa dibacakan dengan sangat tepat, maka bahasa itu terdengar sangat merdu di telinga. Inskripsi pada nisan bernomor 17 itu berbunyi:

Plakat Nomor 17.
Plakat Nomor 17.

Menurut Meneer Lilie, inskripsi ini ditulis dalam bahasa Belanda lama, dengan ciri-ciri penggunaan kata gy untuk menyebut “Anda”. Sekarang model bahasa ini tidak digunakan lagi, kecuali di beberapa desa di Belgia Utara.

Saya baru paham kalau inskripsi itu memang benar mengingatkan kita pada kematian ketika Meneer Lilie menerjemahkannya:

Seperti halnya Anda sekarang, saya pun dulu demikian.
Bahwa sekarang saya seperti ini, Anda pun juga akan demikian
.

Makjleb. Kami merinding dan tak tahu mesti berucap apa. Kata-kata itu jelas mengingatkan kita akan kematian, tapi bukan yang secara eksplisit, “Woy, ingat mati woy…”, melainkan sebuah sindiran yang sangat mengena. Seolah-olah orang yang dimakamkan itu menyindir telak orang-orang jahat yang masih hidup, dengan kata-kata singkat (Ya Tuhan, itu aslinya cuma 16 kata dalam bahasa Belandanya) yang membuat saya kepikiran terus soal nisan itu di sepanjang tur. Ya Tuhan, iya, kita juga akan mengalami nasib yang sama dengan orang yang dimakamkan di bawah nisan itu…

Tapi siapa yang dimakamkan di sana?

Itulah rahasia lain yang dijelaskan oleh Meneer Lilie. Di nisan bertanggal 4 Desember 1762 itu, tidak ada nama atau keterangan apa pun, berbeda dengan nisan zaman VOC yang menurut Meneer Lilie umum ada di zaman itu. Hanya ada inisial, JVK, dan Meneer Lilie juga tidak tahu itu inisial siapa.

Beliau berkelakar, “Mungkin nama aslinya Jan van der Kraan,” dan kami langsung cekikikan.

Satu fakta unik lain yang sangat menggelitik soal nisan itu adalah tulisan L=J yang ada di sana. Sekilas tanpa makna, tapi Meneer Lilie tampaknya sudah punya arti sendiri tentang itu. Dan memang benar, tulisan L=J itu ternyata merupakan kutipan dari Kitab Perjanjian Lama, Mazmur 66: Laudate Dominum Jubilate Deo omnis terra, atau “Seluruh dunia bersukacitalah kepada Allah, Pujilah Tuhan.”

Oke, saya mengerti, penjelasan itu bisa diterima. Tapi, masih ada satu pertanyaan: pun demikian, meskipun itu hanya ayat kitab suci biasa, tapi kenapa harus disamarkan? Kekurangan tempat? Banyak nisan zaman Kompeni yang inskripsinya lebih panjang daripada itu, tambahan satu ayat suci tak akan merusak!

Jawaban Meneer Lilie menurut saya sangat mengejutkan: karena yang dimakamkan di bawah nisan itu, dengan kata lain JVK, adalah seorang Katolik.

Saya melihat lagi tanggal pemakaman Tuan JVK dan langsung merinding. Ini tidak mungkin banget ada orang Katolik di Batavia pada tanggal segitu dan dia masih lolos hidup dengan bebas, bahkan meninggal dan dimakamkan di pemakaman Belanda yang notabene dekat dengan gereja yang ada pada saat itu, Hollandse Kerk, yang kalau masih kurang jelas, adalah sebuah gereja Protestan

Sederhana saja, 4 Desember 1762 adalah masih merupakan tanggal ketika VOC berkuasa. Dengan demikian, agama Katolik masih dilarang!

Bukan rahasia lagi, dan saya rasa pembaca budiman pasti sudah banyak membaca, bahwa tujuan VOC berdagang dan berusaha memonopoli perdagangan di wilayah Jalur Rempah adalah untuk menanggulangi pengaruh dua musuh besar bangsa Belanda, yakni Spanyol dan Portugis (Belanda bahkan sempat berada di bawah kendali Spanyol selama beberapa masa). Kebencian rakyat Bataaf terhadap “penjajah”-nya itu begitu mendasar, bahkan sampai ke ranah agama. Kebetulan, Belanda adalah penganut Protestan yang taat, sementara Spanyol dan Portugis adalah pusat Katolik. Jelas sudah, namanya kadung benci, maka semua prinsip-prinsip yang “berbau” Spanyol dan Portugis harus dibuang jauh-jauh, bahkan dimusnahkan.

Tentu juga termasuk agama.

Agama Katolik dilarang betul berkembang di masa kekuasaan VOC. Beberapa buku mengatakan bahwa para penganut Katolik (yang notabene orang Portugis) di masa itu diperlakukan sama seperti mereka memperlakukan pribumi: sebagai budak. Baru ketika mereka memeluk Protestan, mereka akan diperlakukan seperti orang Eurasia lain (yang perlakuannya tentu saja tidak sama dengan orang Belanda asli), dan mereka-mereka ini pun akhirnya akan membentuk golongan baru, golongan Eropa Kelas Dua:

The Mardjikers, yang asal katanya berasal dari bahasa Melayu: mahardhika, yang akhirnya terserap oleh bahasa Indonesia dan menjadi satu kata juga: merdeka.

Penjelasan tentang ini akan menjadi sangat panjang. Semua penjelasan itu akan berkait dengan: Gereja Portugis di Luar Tembok Kota (kini Gereja Sion), Jonatan Michielsz, Augustijn Michielsz, De Swaluwen van Klapanoenggal karangan Johan Fabricius, Cibinong, Citeureup, tanjidor, De Pampangers, dan lain sebagainya yang tentu tak akan muat kalau saya masukkan semua dalam postingan ini. Mungkin di lain kesempatan kalau saya kebetulan jalan-jalan ke Cibinong dan sekitarnya, melihat bukit karst dan burung-burung walet, ya… :hehe.

Mungkin akan muncul pertanyaan: kalau agama ini dilarang, kenapa ada Gereja Katedral yang notabene merupakan gereja Katolik termegah di Jakarta? Pertanyaan serupa pun juga terlintas di benak saya, dan penjelasan Meneer Lilie adalah: Gereja Katedral baru dibuka pada akhir abad ke-19, itu pun di bekas sebuah kapel gereja Protestan. Tapi mengapa gereja itu kini sangat megah?

Mungkin juga pembaca budiman sudah dapat menduga. Setelah serangkaian kejadian (Perang Anglo-Belanda Keempat, Revolusi Amsterdam), Belanda akhirnya jatuh ke tangan Prancis di tahun 1795. Pada saat itu, bentuk negaranya adalah Republik. Namun usia republik ini tidak bertahan lama, karena penguasa Prancis saat itu (di Prancis juga ada kemelut yak), Napoleon Bonaparte, akhirnya “menobatkan” adiknya, Louis Bonaparte, sebagai Raja Belanda pada 5 Juni 1806.

Louis Bonaparte ini adalah seorang Katolik.

Sejak saat itu, agama Katolik mulai diterima di Batavia, dan diberi kebebasan untuk berkembang.

Kembali ke zaman VOC, penjelasan selanjutnya oleh Meneer Lilie menurut saya mencengangkan. Ternyata, pada saat itu, golongan Katolik ini ketika dimakamkan, maka pada nisan-nisan mereka akan banyak menggunakan singkatan atau teka-teki seperti huruf L=J di atas. Kadang, selain kutipan ayat kitab suci, peribahasa dalam bahasa Latin pun akan dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi samar.

Beberapa di antaranya adalah NT (Naturae Tempus abire ibi est, Sudah saatnya dirimu pergi), LBA (Laudate Beata Alpha et Omega, Terpujilah Tuhan Yang Awal dan Yang Akhir), HE (Haec Libertatis Ergo, Demikianlah demi kebebasan), dan AC (Abiistis Dulces Caricae, Engkau yang tersayang dapat pergi secara tiba-tiba). Paling makjleb bagi saya yang AC sih, soalnya saya paling sedih kalau yang saya sayangi itu pergi secara tiba-tiba :huhu. Duh, amit-amit.

Dan yang paling jos dari penjelasan soal batu nisan bernomor 17 itu (iya, sejauh ini baru membahas satu batu nisan saja), adalah bahwa ada satu singkatan lagi yang sering digunakan baik pada masa lalu dan masa sekarang. Singkatan itu adalah: LG!

Iya, LG yang merk produk elektronik itu :haha. Cuma, kalau zaman sekarang LG dipakai sebagai merk elektronik, dulu, menurut tuturan Meneer Lilie, sangat berbeda. LG pada zaman itu berarti Laudate Gloria in Exelcis Deo, yang artinya “Pujilah Tuhan yang Maha Mulia”. Tulisan itu ada di makam Nyonya Sarah Pedel, janda dari Wiycker Sloot, seorang saudagar senior di Timor. Kata Meneer Lilie makamnya juga ada di MTP ini, cuma sayang kemarin keterbatasan waktu membuat kami tidak sempat menjelajahi semua nisan.

Ya iyalah! Saya masih belum berkurang kadar ketakjuban dan kekaguman saya kepada Meneer Lilie. Saya mendengar penjelasannya antara setengah tidak percaya, kagum, heran, merinding, pokoknya campur aduk! Beliau sungguh-sungguh paham dengan cerita setiap nisan, seolah-olah Meneer Lilie adalah petugas pemakaman sekaligus pencatat register harian kota (Dagh Register) di tahun-tahun abad 16 dan 17 ketika VOC dan Batavia dalam tembok berjaya. Fakta bahwa dari satu nisan dengan empat baris kata saja bisa punya cerita sepanjang ini, bagaimana dengan nisan-nisan yang lain?

Dan semua itu dijelaskan oleh Meneer Lilie seakan-akan sudah jadi santapan sehari-hari: kabar yang sangat biasa ia dengar dan ia ceritakan kembali… saya takjub dan salut banget padanya.

***

Kami melanjutkan tur ke luar, pada pendopo besar dan agak gelap yang pasti akan dijejaki siapa saja yang berkunjung di Museum Taman Prasasti ini. Meneer Lilie mengenang, bahwa tempat ini dulunya, selain merupakan kantor pemakaman di ruangan sebelah kanan kirinya (kini pos satpam dan pos tiket saya tak bisa membayangkan bagaimana seramnya di malam hari), juga merupakan tempat jenazah disemayamkan sebelum akhirnya dibawa masuk dalam suatu prosesi yang sangat romantis.

Para peserta memerhatikan dengan penuh semangat.
Para peserta memerhatikan dengan penuh semangat.

Iya, romantis. Tapi mari simpan penjelasan itu dulu karena Meneer Lilie menarik perhatian kami pada nisan granit yang panjangnya kira-kira setinggi saya, kini tertempel di dinding sebelah kiri, nisan pertama di dinding sayap kiri yang dijumpai kalau seseorang pengunjung datang ke museum ini.

Meneer Lilie bertutur, beginilah nisan seorang pejabat VOC pada masanya. Dibuat dari batu granit asli yang didatangkan dari Bukit Nadu, namanya batu gunung biru (blauwe arduin atau blauwe steen, saya curiga ada hubungannya dengan Tamil Nadu), India Selatan, batu granit ini bisa diolah langsung di India sana, bisa juga diolah di Batavia (ketika teknologi untuk memahat batu sudah ada). Bedanya, kalau granit olahan India, huruf-hurufnya akan membentuk relief, kalau olahan Indonesia, huruf-hurufnya menceruk alias terpahat ke dalam.

Saya langsung memutar kepala dan menemukan nisan dengan huruf timbul. Baiklah… :hehe.

Nisan zaman VOC umumnya punya beberapa ciri khas. Pertama adalah empat gelang besi yang ada di setiap sudutnya (ada nisan yang masih memilikinya, ada yang tidak, tapi untuk nisan yang sudah dipajang di tembok, umumnya gelang-gelang ini tidak bisa kita temukan lagi dan bekas lubang gelangnya sudah disemen). Gunanya adalah untuk mengangkat batu nisan ini apabila ada keluarga yang akan dimakamkan di dalamnya.

Adat pemakaman di zaman Kompeni memang seperti itu: makam terdiri dari satu liang yang berkamar-kamar tempat si mati dimakamkan, dan apabila ada keluarganya yang meninggal, maka makam itu akan dibuka lagi dan jenazah yang baru ini akan ditempatkan pada kamar yang masih kosong. Semacam katakomba kalau menurut saya, hanya dalam skala yang lebih kecil.

Hal lain yang menjadi ciri khas adalah inskripsi berupa lambang heraldik (lambang keluarga) dan inskripsi verbal. Soal lambang heraldik kita tunda dulu (ingatkan saya bahwa dengan ini ada dua topik yang saya postpone), karena sekarang Meneer Lilie sedang bercerita soal inskripsi verbal yang ada di sana.

Michel Westpalm van Amelanden.
Michel Westpalm van Amelanden.

Orang yang dimakamkan di bawah nisan ini bernama Michiel Westpalm van Ameland, atau Michiel Westpalm dari Ameland, seorang Direktur Jenderal (jabatan eselon I kalau di pemerintahan sekarang), tingkatnya satu tingkat di bawah Gubernur Jenderal. Ameland adalah sebuah pulau di Kepulauan Wadden, Belanda. Sekilas tak ada yang aneh, sampai Meneer Lilie berkata kalau Michael Westpalm ini sebenarnya adalah seorang pembohong.

“Dia bukan orang Belanda. Dia adalah orang Hussum, Jerman Utara, yang berbohong berasal dari Ameland agar bisa diterima bekerja di Kompeni.”

“Ya… terus kenapa?” batin saya.

Bukannya bagaimana-bagaimana, tapi saya sudah cukup akrab dengan kisah bohong-membohongi di instansi. Saya tahu seorang pegawai di kantor saya yang berbohong soal umurnya saat penerimaan pegawai dan sekarang dia bekerja dengan baik-baik saja di kantor saya (meski kadang ada masalah juga, sih).

Simpelnya begini, menurut saya, dia dan juga Michael Westpalm amat sangat beruntung sekali bisa lolos dari penerimaan anggota Kompeni dan nasibnya baik sekali, punya jabatan tinggi di Kompeni (meski orang yang saya kenal dan kisahnya mirip tidak punya jabatan, tapi toh ia punya pekerjaan?).

Rupanya ada hal lain di balik itu, saudara-saudara! Meneer Lilie agaknya berusaha menanamkan pada kami untuk tidak berbohong dalam berbagai hal. Perlahan, beliau membaca baris pertama inskripsi di nisan itu.

Door onrust rust hier onder…

Yang artinya, “Dalam ketidaktenangan, beristirahatlah di bawah ini…

Makjleb lagi. Sudah, saya langsung diam. Oh, memang demikian. Ya pantaslah.

Michael Westpalm meninggal dengan tidak tenang (dan hal itu digambarkan dalam batu nisannya). Ini berarti ia meninggal dalam rasa sakit yang amat sangat, dan memang benar, menurut penuturan Meneer, ia meninggal karena sakit malaria. Sebuah penyakit yang sangat ditakuti oleh penduduk Batavia Lama, tapi penyakit yang paling sering menjangkiti karena perilaku masyarakatnya sendiri yang tak bisa menjaga kebersihan (soal ini saya jelaskan di postingan depan ya, iya ada total tiga topik yang harus saya rapel :hihi).

Namun bagi saya sendiri, ada pelajaran lain yang bisa diambil. Sebagai seorang penganut Hindu yang kepercayaan dasarnya adalah karmapala, apa yang dialami oleh sang Direktur Jenderal Westpalm itu adalah buah dari perbuatannya sendiri yang sudah berbohong untuk mendapatkan pekerjaan. Apa yang dimulai dari sebuah kebohongan tidak akan berakhir baik, karena meski semasa hidup tidak ada ganjaran berarti yang dirasakan, namun ganjaran itu datang ketika saat terakhir itu tiba: saat-saat kematian.

Dan apa yang lebih buruk dari kematian yang tidak tenang?

Apa cerita soal Michael Westpalm sudah selesai di situ?

“Belum,” kata Meneer Lille. Beliau kemudian menceritakan bahwa di kalangan keluarga-keluarga Gubernur Jenderal zaman VOC kala itu, sudah ada silang sengkarut genealogi yang sebenarnya sangat menarik untuk jadi topik penelitian ataupun disertasi, disertai cerita-cerita seru di dalamnya.

Michael Westpalm cuma satu cerita kecil di antaranya, tapi ceritanya memberi warna pada peninggalan-peninggalan bangunan di Jakarta masa kini:

Pertama-tama saya perlu membuka fakta bahwa Westpalm meninggal tanggal 24 Agustus 1734 dalam usia 50 tahun. Janda Westpalm, Geetruida Margaretha Goosens, menikah lagi dengan seorang pedagang kaya raya dari Swedia, Frederik Julius Coyett, cucu gubernur Srilanka dan anak laki-laki gubernur Banda dan Ambon. Sayangnya Goosens menjadi black widow, karena Coyett meninggal di malam pertama, tanggal 5 September 1736 dalam usia 56 tahun. Oleh karenanya, beberapa buku menyebutkan bahwa Geetruida Goosens hanya “bertunangan” dengan Coyett.

Oh, namun meski bertunangan, harta kekayaan Coyett ini tak terkira banyaknya, karena beliau adalah pedagang senior VOC. Fakta yang sama membuat Geetruida punya hubungan dengan beberapa gubernur jenderal, salah satunya adalah ia menjadi ibu baptis dari anak-anak gubernur Jenderal Jacob Mossel.

Beruntung suaminya kaya raya, jadi ia pun mewarisi kekayaan yang tak terhitung jumlahnya. Salah satunya adalah rumahnya, yang kini menjadi wihara (atau klenteng?) di kawasan Gunung Sahari (satu-satunya klenteng di Jakarta Pusat yang mengambil gedung bekas gereja dengan banyak arca Hindu di dalamnya. Bicara tentang percampuran!).

Tak lama berselang, Goosens kemudian menikah lagi dengan Gubernur Jenderal Johannes Thedens, yang memerintah dalam masa-masa yang tidak menyenangkan (1741-1743) lantaran di masa-masa itu pemberontakan Tionghoa yang berujung pembantaian ribuan masyarakat Tionghoa di Jakarta dan pembentukan Kawasan Glodok baru saja terjadi setahun sebelumnya, jadi aftermath-nya adalah di masa-masa pemerintahan Johannes Thedens ini.

Sadar tidak sih kalau semua yang menikah dengan G.M. Goosens ini nasibnya selalu tidak… bagus?

Putri Westpalm, Sophia Francina Westpalm, menikah dengan seorang pria bernama Reynier de Klerk, yang di tahun 1777 menjadi Gubernur Jenderal VOC, sampai kematian de Klerk pada 1780. Mereka tinggal di Molenvliet, rumah terbaik pada masanya, yang kemegahan dan kekayaan perkakas rumah itu membuat Sophia mesti memiliki ratusan budak, tapi itu sebenarnya bukan masalah besar lantaran Sophia sendiri adalah pedagang budak.

Kini, rumah Reynier de Klerk itu masih berdiri tegak di Jl. Gajah Mada. Saya sangat bersyukur bahwa rumah itu masih berdiri, dan kediaman sang Gubernur Jenderal ini seingat saya pernah mendapat penghargaan dari UNESCO. Hayo, gedung apa?

Yep, Gedung Arsip Nasional.

Jujur, bicara soal kaum wanita di zaman VOC memang membuat bulu kuduk agak meremang, karena dari kaum wanita “ningrat” inilah, kekuasaan dan posisi penting di keanggotaan VOC berpindah dari satu lelaki ke lelaki lain, termasuk keluarga-keluarganya juga. Inilah, menurut saya, awal dari cikal politik dinasti luar kerajaan yang terjadi di Indonesia. Yang unik, alih-alih mengikuti sistem patriarkal seperti kerajaan-kerajaan di masa Indonesia kuno, dinasti di zaman VOC justru mengikuti garis ibu melalui pernikahan, sebab semua anak laki-laki Eropa di masa itu dikirim ke Belanda dan berkarir di sana.

Sebagai contoh, kalau pembicaraan soal keluarga Westpalm ini diteruskan, maka obrolan akan membawa kita pada rumitnya dinasti kekuasaan yang dibentuk antara keluarga Westpalm-Verijssel, keluarga van der Parra, keluarga Senn van Basel, keluarga Alting, dan keluarga Riemsdijk. Mereka semua adalah petinggi di Dewan Hindia pada dekade-dekade akhir abad ke-18.

Rumit memang, tapi juga menarik :hihi.


Post scriptum:
Postingan hampir 3.000 kata tapi gambarnya cuma empat :haha. Nasib yang lupa foto-foto…


Referensi:
1. Blackburn [Abeyasekere], Susan. 2007. Jakarta: Sejarah 400 Tahun. Judul Asli: Jakarta: A History. Depok: Masup Jakarta
2. Suratminto, Lilie. 2015. Wisata 220 Tahun Museum Taman Prasasti (1795–2015). Dibawakan pada tur 220 tahun Museum Taman Prasasti, 3 Oktober 2015.
3. _______. 2007. Makna Sosio-Historis Batu Nisan VOC di Batavia. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
4. Taylor, Jean Gelman. 2009. Kehidupan Sosial di Batavia: Orang Eropa dan Eurasia di Hindia Timur. Judul Asli: The Social World of Batavia. Depok: Masup Jakarta.

34 thoughts on “#220TahunMTP: Enigma Makam Zaman Kompeni (1)

  1. Applause buat Gara! Saya suka penuturannya, bagai sedang diceritakan dongeng sebelum tidur yang malah bikin gak ngantuk karena kisahnya menarik 🙂

    Btw apa hubungannya dengan Cibinong-Citeureup sih?

    1. Terima kasih banyak Mas :hehe. Tanah Cibinong, Citeureup, Cileungsi, Jonggol, Sentul, sampai Gunung Putri dan Klapanunggal itu dulu kepunyaan satu orang, kapten Mardjiker terakhir namanya Augustijn Michiels ini Mas, dan di sanalah kesenian tanjidor berawal. Di sana ada kediamannya yang megah banget dengan banyak vila yang orang dari Batavia bisa tinggal dan singgah barang beberapa waktu, tapi sekarang kediamannya itu sudah tidak ada agaknya.

    1. Terima kasih banyak atas pujiannya Mas… :hehe. Iya, 350 tahun dan mestinya banyak sekali asimilasi budaya yang mereka lakukan. Ternyata di kurun 1602–1799 saja sudah banyak sekali percampuran yang terjadi antara kebudayaan Eropa dan Indonesia :hehe.

  2. Gimana bisa nulis sedetail ini ya? Apalagi nama-nama dalam bahasa Belanda. Suka bacanya, emang gara suka sejarah ya? Terus ini wisata nisan ya? Baru denger wisata kayak ginian. Ditunggu postingan rapelannya

    1. Kemarin kebetulan ada diberi notes jadi saya mencatat sedikit-sedikit Mbak :hehe. Begitulah, saya suka sejarah :hoho. Yep, wisata nisan adalah nama yang tepat. Sip, terima kasih sudah menunggu :hehe. Semoga rilisnya tidak meleset dari jadwal :)).

  3. Wooow. Keren Gar. Kaya banget postingan ini. Btw inkripsi di makam yang di bagian awal postingan ini, artinya mirip dengan arti doa memasuki makamnya muslim juga Gar yang kurleb ada bagian yang berarti mirip-mirip

  4. Mungkin kalo kamu lahir lebih dulu dan nulis post2 ini lebih dulu dan aku baca, aku bakal suka pelajaran sejarah di sekolah. Keren, Gar! Ternyata sejarah itu insightful banget ya, gak cuma historical stuff and story aja tp juga ilmu hidupnya ada. Merinding tuh isi inskripsi yg ttg mati iti. Makjleb karena isinua implisit. Way to go for the next 2 posts! 😀

    1. Terima kasih ya Mbak :hihi. Gimana ya, sejarah itu menurut saya cerita tentang orang, dan saya biasanya suka banget ngomongin orang jadi rasanya enjoy banget kalau sudah ngomongin sejarah :haha.
      Yah, pembuat plakat itu pasti sudah banyak makan asam garam kehidupan Mbak :hehe.
      Sudah siap, cuma masih menunggu jadwal tayang. Terima kasih sudah menunggu!

  5. Aku suka banget postingan ini, karena banyak pengetahuan baru tentang kehidupan (dan kematian) para ekspatriat di Batavia pada masa VOC. Dan salut juga karena referensimu lumayan melengkapi tulisan ini. Keren! 🙂

  6. keren banget Gara!! Aku jadi makin pengen untuk mengunjungi taman prasasti.
    Gar, coba tulis buku sejarah deh, sejarah di postingan2 kamu menarik banget soalnya 🙂

    1. Yuk sini Mbak nanti saya temenin kalau waktunya tepat :hehe.
      Saya menulis di blog dulu saja kali ya Mbak, tapi kalau ada yang mau membukukan ya saya terima dengan senang hati :hihi.

  7. Gara, Pak Lilie itu dosen bahasa Belanda di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Aku inget mukanya karena walau mahasiswa sastra Perancis di FSUI (sekarang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia) 😉

    Tambahan mengenai agama; di Eropa jaman dulu memang agama yang resmi hanya satu yaitu agama yang dianut penguasa saat itu. Di Perancis yang resmi raja dan rakyat menganut agama Katholik penganut Protestan diburu dan dibunuh pertengahan 1500an. Sebagian besar akhirnya mengungsi ke Belanda, Afrika – Selatan dan Amerika Utara. Coba deh google Huguenot.

    1. Sentimen agama tunggal dulu kuat banget ya Mbak, sampai main basmi-membasmi gitu. Oke, saya jadi penasaran dengan Huguenot. Terima kasih atas tambahan informasinya ya Mbak :hehe.

  8. Cara Gara bertutur dalam posting ini menarik. Saya juga suka sejarah, karena pengaruh masa kecil bapak yang suka membaca buku sejarah perang dunia, terutama kehebatan jendral Erwin Rommel.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!