#220TahunMTP: Antara Ruang Publik dan Komunitas

Ratu itu sudah mati.

Bau busuknya mengenaskan di seantero batang tubuhnya. Nadi-nadi yang tersohor dalam puisi kebanggaan nan bertele-tele itu sudah kering dan berlendir, anyir menyeruak membuat zat asam yang ada berbau seperti namanya. Ia bahkan sampai harus memohon-mohon untuk dihirup.

Tapi semua orang tak bisa: terlalu banyak kematian menggantung di udara. Terlalu banyak bau busuk yang bahkan orang yang paling terbiasa pun tak bisa menghirupnya lagi. Semua sudah jadi jijik yang terjijik; sang ratu yang sudah mati tak bisa menerima kematian lagi. Antrian mayat mengular panjang seakan jatah kematian satu dekade dirapel dalam seminggu.

Orang-orang di atas sana pun memutuskan. Tak boleh ada kematian di kota. Bawa keluar, jauh ke selatan. Pada sepetak luas tanah merah (tanah abang), hibah dari penguasa yang masih berakal lurus. Mungkin, hemat mereka kala itu, ketenangan dan kepuasan (weltevreden) tak hanya berlaku bagi orang yang masih bernapas, tapi juga untuk orang yang jatah napasnya sudah habis.

Maka semua yang belum terlalu lama tidur pun dibangunkan. Dihanyutkan melawan arus menuju hulu, melewati kanal penggerak kincir (molenvliet), lurus terus sebelum transit di halte terdekat dan mengganti moda dengan kereta kuda hitam mengilap (agak familiar dengan keadaan saat ini ya :haha), menuju tempat tidur baru yang lebih luas, lebih bersih, dan lebih sehat. Entah bagi siapa, yang jelas semua akan tenang dan puas.

Tenang dan puas.

Entah sampai kapan.

***

Weltevreden yang sama sekali tidak membawa ketenangan dan kepuasan bagi saya melancarkan serangannya entah untuk yang keberapa kalinya hari itu. Setelah ledekan tak berkeputusan karena saya menelepon museum (memangnya apa yang salah dengan menelepon museum sejarah?), informasi yang saya dapatkan ketika telepon itu diangkat (oleh petugas museumnya, tentu) sangat tidak menyelesaikan masalah. Mereka tidak menjawab pertanyaan saya atas info yang tidak disampaikan di spanduk yang mereka pasang di Museum Sejarah Jakarta.

Tapi tak apa juga sih, besoknya saya bisa datang saja seperti setan, persis ketika acara Smesco Netizenvaganza hari pertama, ketika semua orang yang saya kenal di blog berseliweran di dekat saya tapi mereka semua tidak mengenali si pengarang tulisan ini, sementara saya terlalu takut buat menyapa :aaak digampar.

Mbak-mbak kantor yang tadi meledek saya mendekat sambil membawa secarik kertas. “Selamat ya Gar, nanti malam rapat lagi…”

“Rapat? Di hari Jumat?” Perasaan saya sudah tak enak. Cepat saya sambar kertas undangan yang tadi dibawa si Mbak. Melihat apa yang ia katakan itu benar adanya, hati saya mencelus.

Saya berharap semoga saya cukup sinting untuk tidak mengikuti rapat nanti malam itu…

***

Ya, cukup sinting untuk pulang rapat jam sepuluh malam.

Saya selalu ada di antara dua situasi kalau jam tidur saya tak cukup. Jutek atau linglung. Kala itu saya cukup jutek. Cukup, soalnya saya sudah sedikit semangat melihat Museum Taman Prasasti lumayan bersih. Tapi bahkan sapaan ramah dari tukang parkir tak saya gubris dengan cukup berarti. Mungkin juga karena perhatian saya sudah teralihkan (saya bukan orang dengan perhatian yang bisa dibagi) karena benar, acara tur ini diselenggarakan di Museum Taman Prasasti.

Spanduk di balik pintu masuk.
Spanduk di balik pintu masuk.

Jadi museum ini ganti nama ke Museum Prasasti, begitu ya? Kok saya tidak tahu?

Duh, juteknya. Dan Tuhan agaknya tahu kalau saya sedang jutek banget, jadi Tuhan mengirimkan penawar racun jutek yang jos banget bagi saya. Boleh ditiru kalau pembaca budiman bertemu saya dan cukup peduli dengan kejutekan yang tidak enak banget didengar karena saya pasti akan jadi Tuan Nyinyir Maksimal.

Hal-hal yang Tuhan berikan pagi itu adalah:

Makanan gratis.
Makanan gratis.

Makanan gratis.

Minuman gratis. Tinggal pilih, mau teh, kopi, kopi susu, air putih dalam dispenser (bagi yang bawa botol, boleh refill sesuka hati). Teh pun mereka menyediakan tiga merk teh celup ternama, sampai-sampai saya bingung: ini kok tehnya beda-beda sih merknya? Apa ada orang yang punya preferensi teh tertentu? Kalau pembaca budiman sukanya teh apa?

Suvenir gratis.

Paper akademik gratis tentang Batavia lama.

Oh, maksud saya, dua paper akademik gratis tentang Batavia lama.

Dan makanan gratis lagi. Iya, makanan gratisnya boleh nambah. Minumannya juga.

Semuanya GRATIS!

Tanda peserta yang diambil setelah registrasi.
Tanda peserta yang diambil setelah registrasi.

Iya, gratis, tak pakai ribet. Registrasi pun gratis dan tak ada keribetan. Cukup sediakan KTP dan nanti KTP-nya difoto oleh bapak-bapak yang ramah banget, kemudian langsung ambil suvenir, paper akademik buat bahan bacaan sebelum tur (plus paper soal ruang publik di Batavia), dan silakan makan jajanan pagi sesukanya dan minum sesukanya.

Saya langsung senang. Seumur-umur, tumben saya ikut tur museum dengan pelayanan begini maksimal. Makanan gratis, minuman gratis, suvenir, dan yang paling penting, paper akademik! Paper ini menurut saya penting, sebab ringkasan tur akan memberi panduan pada kita tentang apa yang akan kita jelajahi, dan mencegah peserta tur untuk bertanya soal hal-hal yang kurang penting pada si pemandu. Dengan membaca paper sebelum mulai perjalanan, kita jadi hanya akan bertanya soal hal-hal yang menggelitik, unik, dan butuh penalaran dalam perjalanan nanti.

That was the best tour I’ve ever had this far.

Cuma satu sayangnya. Peserta umumnya kurang banget! Sejauh mata memandang, peserta umum mungkin hanya lima orang. Saya, sepasang kekasih yang kebetulan tersasar ke museum ini, dan seorang ibu beserta anak laki-lakinya yang sangat ingin tahu dan bertanya apa arti setiap kata dalam inskripsi, hanya saja ibunya tak bisa menjawab karena tak mampu berbahasa Belanda.

Pesertanya hanya ini... *tepokjidat*.
Pesertanya hanya ini… *tepokjidat*.

Selebihnya adalah mahasiswa dari Sastra Belanda dan Arkeologi dari universitas yang kampusnya ada di Depok dan Salemba (yang kebetulan pemandu kami kali ini adalah dosen di universitas itu pssst), tamu undangan (dari beberapa universitas dan Pusat Arkeologi Nasional), dan tim karate yang kebetulan juga diundang untuk tampil sebelum acara dimulai.

Agak prihatin memang, terlebih karena panitia tampaknya menyediakan suvenir dalam jumlah banyak, tapi apa boleh buat? Memang minat masyarakat untuk jalan-jalan ke kuburan Belanda sangat kurang. Itu sebabnya, pemakaman Belandanyalah yang harus diubah dan disulap untuk menghilangkan kesan seram dan penuh mitos dari sebuah tempat penguburan jenazah.

Saya pikir, Museum Taman Prasasti (MTP) sudah mulai berbenah ke atah situ, dengan menyulap museum kuburan ini menjadi sebuah ruang publik di mana pengunjung bisa bebas mau ngapain saja, tapi sekaligus juga belajar soal arsip-arsip kolonial yang tersirat dari inskripsi-inskripsi, baik verbal maupun nonverbal yang ada pada nisan-nisan spektakuler orang-orang yang dimakamkan di Pekuburan Kebon Jahe Kober ini.

Terakhir kali saya berkunjung ke MTP adalah sekitar 2012 awal, untuk pemotretan buku tahunan kelas di universitas. Saya ingat dulu hampir semua nisan yang ada di sini bercorat-coret dengan bau pesing di mana-mana, kotor karena tanah merah berlumpur naik ke mana-mana akibat hujan yang terus-terus turun. Belum lagi nyamuk dan ilalang tinggi membuat kami tak bisa mengeksplorasi sampai ke belakang sana.

Plus, ada insiden petir ketika teman saya membunyikan lonceng di depan, insiden yang membuat kami tidak berani lagi berkunjung kemari sampai bertahun-tahun sesudahnya.

Tapi sekarang, MTP saya rasa jauh lebih bersahabat. Prasasti-prasastinya baru saya pandang sekilas, tapi saya tak menemukan coretan yang berarti. Pelatarannya pun sudah lumayan tinggi dari tanah merah (salah satu sebab daerah ini dinamakan Tanah Abang) di sekitarnya, dan sama sekali tak ada lumpur.

Saya tak tahu apakah itu karena sekarang masih musim kemarau dan apa juga karena kebetulan ada acara di sini, tapi saya harap semoga saja kebersihan ini berlanjut terus, agar tempat ini bisa betul-betul bertransformasi menjadi ruang publik dan ruang terbuka hijau yang sangat didambakan oleh warga Jakarta. Koeningsplein dan Waterlooplein saja tidak cukup untuk menjadi paru-paru kota!

Ruang publik yang bersih adalah idaman semua orang.
Ruang publik yang bersih adalah idaman semua orang.

Sembari menunggu semua orang datang dan selesai registrasi (plus cemal-cemil cantik), saya membaca dua paper di dekat makam berinskripsi Armenia, menurut seorang bapak berkalung KMT KRL di dekat saya kepada tamu dari . Masing-masing judulnya adalah “Ruang Publik dan Komunitas” karangan Nirwono Joga dan “Wisata 220 Tahun Museum Taman Prasasti (1795—2015) karya Lilie Suratminto.

Jujur, esai berjudul ‘Ruang Publik dan Komunitas’ itu sangat membuka mata tentang bagaimana kita warga Jakarta sangat mendambakan ada ruang publik terbuka hijau yang bisa kita nikmati setiap saat dan kita aman dan nyaman ada di dalamnya.

Tapi mendamba bukan sekadar mendamba, karena sebagaimana kata Nirwono Joga dalam esai itu, “Taman sebagai ruang publik bukanlah sesuatu yang terberi melainkan diperjuangkan.” Kita harus berjuang, mendesak pemerintah menyediakan ruang publik dalam bentuk ruang terbuka hijau minimal 30% dari luas seluruh kota, sesuai UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Perjuangan itu paling afdol, menurut Nirwono, adalah dalam bentuk kegiatan komunitas di ruang terbuka hijau. Ruang publik tak akan berarti ketika publik tak berkegiatan di dalamnya. Mengutip esai itu, “Taman kota tak hanya cukup dibangun, tapi juga harus dihidupkan. Taman akan sia-sia jika masyarakat tak mau berkunjung, merawat, menjaga, dan menyemarakkan suasana.”

Itu sangat tepat. Tapi, sebelumnya menurut saya ada peran pemerintah yang harus dijalankan di sana.

Begini, publik tak akan berkegiatan di ruang publik itu ketika ruang publiknya tidak memenuhi syarat. Contoh, siapa yang mau jalan-jalan di sebuah taman kota yang kotor, bau, dan tidak aman karena setiap saat bisa dicopet? Siapa yang mau berkegiatan kalau nanti diganggu gerombolan orang yang tak bertanggung jawab, dan untuk berkegiatan kita harus memberi sejumlah (besar) uang pada orang-orang itu?

Kalau berkegiatan asyik seperti dua MC ini bisa, kan seru, ya.
Kalau berkegiatan asyik seperti dua MC ini bisa, kan seru, ya.

Menurut saya, di sinilah pemerintah mengambil peran. Memang, keberhasilan pembentukan ruang publik sangat bergantung pada kepedulian warga dalam menjaga ruang publik yang sudah ada. Namun untuk meniadakan hambatan-hambatan itu, negara alias pemerintahlah yang memiliki organnya. Butuh kerja sama dari semua organ keamanan milik pemerintah agar kebutuhan warga akan ruang publik yang aman dan nyaman dapat terpenuhi.

Baru selanjutnya, warga sekitar dan komunitas menggaungkan keberadaan taman itu dengan semua saluran yang tersedia. Menyelenggarakan berbagai kegiatan di taman-taman kota. Melangsungkan acara-acara olahraga bersama, untuk menjadi ajang sosialisasi dan melepas penat, sekaligus ajang warga masyarakat untuk lebih mengenal dan membangun hubungan baik, yang dampaknya akan bisa meredam konflik yang terjadi antarwarga.

Di situlah menurut saya hakikat sepenuhnya dari “ruang publik untuk semua”. Bukan hanya soal penggunaan ruang publik yang mesti menyeluruh, tapi kerja sama semua pihak untuk mewujudkan ruang publik yang layak bagi warga untuk beraktivitas dan memperoleh sebanyak mungkin manfaat darinya.

Saya baru akan membaca paper selanjutnya ketika MC sudah membuka acara dan meminta kami berkumpul di depan backdrop. Beberapa petugas mulai menyiapkan koper-koper besar berisi alat entah apa di belakang sana, sepertinya agak terburu-buru karena jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih, padahal sesuai jadwal, mestinya acara ini dimulai jam sembilan.

Oh baiklah, saya mengharap acara pembukaan ini cepat berlalu saja deh… tapi kira-kira, koper-koper itu berisi apa, ya?

***

Ternyata bapak yang tadi menjelaskan soal nisan berinskripsi Armenia itu adalah salah satu dari tiga pemandu kami hari ini!

Pak Lilie, Bu Enny, Pak Nirwono.
Pak Lilie, Bu Enny, Pak Nirwono.

Narasumber kami untuk hari ini ada tiga orang. Pertama, si bapak berkalung kartu multi trip tadi, adalah Meneer Lilie Suratminto (penulis paper yang satu lagi itu :hehe). Beliau adalah dosen di Fakultas Sastra Belanda, Universitas Indonesia. Dikenal sebagai pakar di bidang sejarah Batavia lama (khususnya zaman VOC), beliau memang pemerhati nisan-nisan lama ini, sebuah bidang yang pasti membuat heran orang kebanyakan tapi bidang yang sama juga sangat saya kagumi :hehe (sok-sok mencari kesamaan gitu :hehe).

Beliau menyelesaikan pendidikan sarjananya di Jakarta dalam jurusan Sejarah, magister di Rijksuniversiteit Leiden di bidang linguistik terapan, dan doktor di Universitas Indonesia dengan disertasi yang juga tentang penelitian batu nisan peninggalan VOC. Penelitiannya tentang batu-batu nisan kuburan ini telah dibukukan, dengan judul “Makna Sosio-Historis Batu Nisan VOC di Batavia”.

Saya tampaknya tak perlu lagilah meragukan kemampuan Meneer Lilie dalam bidang tafsir-menafsir batu nisan di Batavia dan sekitarnya ini… dan saya harap saya bisa menarik banyak ilmu darinya!

Narasumber kedua adalah seorang arsitek lansekap yang sudah menerbitkan banyak buku soal tata kota yang hijau dan bersahabat dengan lingkungan. Namanya Nirwono Joga, beliau adalah Ketua Kelompok Studi Arsitektur Lansekap Indonesia, Dewan Eksekutif Kemitraan Habitat dan Koordinator Kemitraan Kota Hijau.

Pantas esainya soal bagaimana menciptakan ruang terbuka hijau di kota seperti Jakarta sangat menohok, karena tentunya beliau sudah banyak bergerak di bidang ini, tahu apa masalah dan bagaimana pemecahan untuk masalah krisis ruang terbuka hijau di sebuah ibukota negara yang bernama Jakarta.

MC 1, Pak Lilie, Bu Enny, MC 2, Pak Evan (maaf saya tidak tahu nama MC-nya! :hoho).
MC 1, Pak Lilie, Bu Enny, MC 2, Pak Evan (maaf saya tidak tahu nama MC-nya! :hoho).

Yang ketiga adalah seorang arsitek lansekap juga, pengamat lingkungan sekaligus pemerhati Museum Taman Prasasti yang rajin menyumbangkan ide-ide pada pemerintah dalam pengelolaan museum dan ruang terbuka hijau di kota. Dialah Evan Sandjaja, seorang pengamat yang kritis dan objektif dalam meninjau masalah-masalah tata ruang di Jakarta, tapi datang dengan berbagai solusi, tidak cuma melulu menyalahkan, tapi menghilang ketika orang bertanya apa yang harus dilakukan.

Saya menganggap diri saya beruntung banget bisa mengikuti acara di hari kemarin itu, dan jujur, saya tak sabar sekali, semoga acara pembukaan itu cepat selesai.

Acara dibuka oleh Ibu Enny Prihantini, Kepala Unit Pengelola Museum Kesejarahan Jakarta, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta. Mungkin beliau tahu kalau kita semua sudah tidak sabar untuk segera memulai tur jadi sambutan Bu Enny tidaklah berpanjang-panjang. Pembacaan doa pun lewat begitu saja, dan acara bergulir dengan penampilan dari sebuah klub karate di bilangan Senayan, Hiroshi Karate Club.

Ciat! Gyaku-tsuki! (Saya kurang tahu apa itu gerakannya sih, tapi demikianlah :haha).
Ciat! Gyaku-tsuki! (Saya kurang tahu apa itu gerakannya sih, tapi demikianlah :haha).

Karate itu seru ya kalau dipelajari sejak kecil… dan menurut saya kemampuan bela diri perlu banget dimiliki kaum hawa supaya bisa menjaga diri dari tangan-tangan jahil di luar sana. Menangkis dan melakukan serangan akan jadi keterampilan yang sangat berguna. Bagi anak-anak pun, kemampuan bela diri juga sangat bermanfaat. Kata si pelatih yang kemarin menerangkan beberapa gerakan sih, bela diri membuat pikiran lebih dewasa dan mencegah agar tak gelap mata. Semacam pengendalian emosi mungkin, ya…

Penampilan beberapa gerakan (termasuk Kata 1 yang isinya ada 19 gerakan itu) ditutup dengan pertunjukan kumite oleh dua gadis yang ikut dalam klub karate. Meski dibilang gerakannya light alias tidak betul-betul dengan kekuatan, kok saya agak seram ya melihatnya :haha. Bagi saya yang awam ini, gerakan-gerakannya masih tampak cepat dan kalau saya kena, saya kayaknya akan luka-luka :hehe.

Tapi kalau saya boleh menilik lebih dalam, mungkin inilah hakikat ruang publik yang diidamkan Pak Nirwono dalam esainya itu. Sebuah tempat terbuka di mana orang bebas berkegiatan dengan tentunya saling menghormati orang lain dan bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun sekitar. Ruang publik yang ditujukan untuk penggunaan publik, pusat interaksi, pusat kegiatan masyarakat.

Ruang publik untuk semua.

Tak lama setelah pertunjukan kumite berakhir, itu artinya tur akan segera dimulai :hore. MC meminta kami menuju tempat pengambilan suvenir tadi, untuk mengambil perlengkapan yang harus kami bawa saat mengikuti tur. Kata dua MC yang memandu acara, ini penemuan terbaru yang digunakan oleh MTP dalam tur tahun ini (memberi kesan bahwa tur ini dilakukan setiap tahun), dan kamilah pengguna pertama dalam sejarah MTP yang beruntung menggunakan…

Handsfree! Top!


Selanjutnya dalam #220TahunMTP:
1. Enigma Makam Zaman Kompeni (1)
2. Enigma Makam Zaman Kompeni (2)
3. A Walk Among Tombstones
4. Belajar Menjadi Pencari Jejak

40 thoughts on “#220TahunMTP: Antara Ruang Publik dan Komunitas

  1. Aku minat, cuma sayangnya gak bisa datang. Tapi aku lupa, kenapa ya kemarin itu aku gak bisa datang? hahaha … Btw, ketemu kak Olyvia Bendon (www.obendon.com), kakak satu ini spesialis jalan-jalan ke pekuburan dan berburu nisan. Pastinya dia semangat, kalau tau acara ini>

    Agak sedih sih ya, melihat pengunjungnya yang gak seberapa. Tapi aku rasa juga, karena mungkin sosialisasi acaranya yang kurang nih. Coba, kalau panitia mengkontak beberapa blogger dari awal, pasti rame deh hahaha

    Jadi ini postingan pembuka ya Gara? Asiiik, gak sabar nunggu lanjutannya nih. Dan salut dengan dengan fasilitas handsfree yang mereka sediakan. Itu permanen atau cuma selama acara itu aja?

    1. Lha, Mas Bart malah lupa kenapa kemarin tidak bisa datang :haha. Hayo kenapa, Mas? :hehe. Tahun depan datang ya Mas, pokoknya sekitar 28 September acara inti ulang tahun MTP ini. Kan dibukanya 28 September 1795.

      Iya, Mbak Olive memang pakar banget kalau soal cerita di balik kuburan lama :hehe. Sayang kemarin juga saya tidak melihat Mbak Olive di sana, mungkin Mbak Olivenya sedang ada agenda lain.

      Well, memang demikian. Saya juga tahu ini karena kebetulan Jumat siangnya kemarin tiba-tiba ingin jalan ke Museum Fatahillah terus ketemu spanduk besar seperti yang ada di awal postingan. Itu juga setelah saya telepon museumnya makanya saya bisa menganggap kalau acara ini bebas dan tidak dimaksudkan untuk komunitas tertentu. Tapi memang unit kesejarahan museum di Jakarta masih belum begitu mengadopsi media sosial ya, akun Twitter MTP setahu saya ada tapi twit terakhirnya sudah lamaaa banget.

      Iya ini pembuka (yang kepanjangan :haha). Soal handsfree, katanya sih bakal permanen, cuma saya agak sangsi soalnya kan kalau mau permanen berarti mesti ada tur yang terjadwal (setiap minggu, misal) dan mesti ada peminatnya. Oh ini topik seru banget di seminar kemarin :haha. Terima kasih atas komentar dan apresiasinya!

      1. Iya beneran aku lupa, kenapa waktu itu gak bisa datang. Sempat baca broadcast nya dari Taufan. Eh kita belum tukar nomor kontak ya Gar?

        Ah sayang banget ya kalau twitter nya gak dioptimalkan. Padahal itu media yang efisien banget untuk promo-promo murah. Semoga ini bisa jadi masukkan buat mereka.

        Nah itu yang aku pikirkan, kalau misalnya tidak ada tour terjadwal khan handsfree nya jadi kurang termanfaatkan. Tapi tetaplah, perlu kita apresiasi. Btw, itu handsfree nya harus ada tourguide konvesional atau sudah ada materi di dalamnya? Jadi pengunjung tinggal pakai kapanpun. Kalau misalnya seperti yang kedua, ya tanpa tour terjadwal pun gak masalah.

        Sama-sama Gara, senang juga baca postingan ini. Terutama bagian pembukanya, yang langsung bikin aku penasaran hahaha … Kayaknya dirimu mulai menggunakan saran-saran Agus untuk ‘membuat pembuka yang menangkap perhatian pembaca’. Siiip 🙂

        1. a Mas Taufan waktu itu saya beritahu soal ini, katanya berminat tapi ternyata ada kesibukan jadi tidak bisa datang :)). Oh iya Mas kita belum bertukar nomor, boleh saya minta nomor Mas?

          Guide-nya masih konvensional Mas kemarin itu, Meneer Lilie sendiri yang turun tangan menemani kami jalan-jalan, makanya ceritanya jadi banyak banget (yang zaman Kompeni akhirnya jadi 2 postingan saking panjangnya).

          Iya sama-sama Mas. Soalnya semua orang bilang kalau per 1750 ke atas ratu Batavia sudah mati jadi sebetulnya saya cuma mendramatisir masalah. Yah namanya… *bekep mulut supaya tidak spoiler postingan selanjutnya :haha :peace*.

          1. Ah iya, dia kayaknya ada deadline apa gitu, dan mau ketemuan travelblogger dari Makassar. Aku diajakkin juga, cuma gak bias. Tapi kok aneh ya, aku lupa kenapa gak bisanya? hahaha *masih berusaha ingat2 dari tadi*

            Nanti kita tukar nomor via DM twitter aja ya Gar.

            Arrghhh kamu system promosi nya bikin penasaran. Baiklah, aku sabar menanti lanjutannya. Kalau kelamaan, nanti tak tagih aja hahaha

          2. Tak apa Mas kalau tak bisa ingat :hehe. Baik, sebentar saya kirim DM yak :hehe.
            Sip Mas, semoga postingan selanjutnya tidak terlalu melenceng dari jadwal :amin. Sekali lagi terima kasih, ya.

  2. Waah, keren ya ada acara seperti ini. Mana suvenirnya niat banget. Mungkin perlu sosialisasi yang lebih giat untuk ke depannya, ya, supaya lebih banyak yang tahu.

    Aku setuju soal peran pemerintah dalam mengoptimalkan ruang publik itu, Bli :). Semoga ke depannya, ruang publik di Jakarta (dan di daerah lainnya) bisa lebih dimanfaatkan dengan baik, bukan hanya ‘ruang’ kosong yang enggan untuk ditempati.

    1. Iya, jangan cuma pasang beberapa spanduk di museum sebelah saja :hehe.
      Terima kasih, ya. Moga-moga makin banyak ruang publik yang layak disediakan bagi masyarakat kota, supaya kita juga bisa turut andil menjaga ruang publik itu. Kita butuh ruang publik nih, yang banyak soalnya manfaat ruang terbuka hijau itu tidak sedikit.

  3. yah tak diragukan lagi mas, konser musik luar negri lebih ramai dari sekedear mengenang sejarah yang ada di negeri. sebuah pekerjaan besar bagi kita semua untuk membangkitkan rasa cinta mengenai peninggalan di negeri ini

    1. Iya Mas, masih kurang banget memang kepedulian masyarakat kita akan sejarah. Semoga tahun depan peminat tur ini lebih banyak lagi, Mas juga boleh banget ikut tahun depan Mas, ayo ikutan :hehe.

    1. Iyap, saya pikir semacam seminar atau live music bisa, kemaren ada organ tunggal juga (meski tidak ada yang berani menyanyi sih :haha). Kita kan selalu punya kegiatan ya :hehe, bisa juga kalau kita kopdar di sana :hehe.

  4. Nyesel posisi nggak di Jakarta pas ultah MTP. Wait… jadi namanya masih Museum Taman Prasasti atau udah ganti jadi Museum Prasasti sih? Btw Gar, minta tolong kopiin scriptnya donk *kedip-kedip*

    1. Itu juga saya tanyakan di seminarnya Mas, and that question turned out to be very funny sampai-sampai satu ruangan ketawa :haha. Boleh boleh, saya sudah fotokopikan satu, mau dikirim atau Mas ada rencana main ke Jakarta dalam minggu-minggu depan?

  5. hadeeh kok baru tau ada acara ini
    Gara, kalau ada lagi yg seperti ini kasih tau dong, mau ikutan
    beberapa kali sudah ke sini, pasti lain halnya kalau ada narasumber spt pak Lilie (pernah sekali ketemu beliau sbg narasumber)

    1. Iya Mbak, tahun depan akan ada lagi tur seperti ini sekitar akhir September atau awal Oktober, kita bisa mulai menandai kalender nih :hehe. Iya, Meneer Lilie memang sering jadi narasumber untuk acara-acara museum di Jakarta :hehe. Beruntung sekali bisa bertemu dan diskusi dengan beliau :)).

      1. Mungkin karena info untuk acara ini cuma berupa dua spanduk di museum Fatahillah ya. Lain kali kalau ada event yang kebetulan saya lihat, tak kabari ya. Awas kalau tidak datang :haha *jahat*.

  6. ruang publik dan komunitas itu sangat kolerasi mas..dimana ada ruang publik yang disediakan pemda atau pemkot pasti rame ya mas..makanya harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mereka yang ingin unjuk gigi

    1. Betul Mas, masyarakat kita memang sedang sangat mendamba adanya ruang publik yang representatif untuk kegiatan yang dilakukan, yang bisa merangkul semua orang jadi tak perlu jauh-jauh apabila ingin bersosialisasi :hehe.

    1. Ada perubahan sih Mbak kalau menurut saya :hehe, sekarang sudah sedikit lebih rapi. Saat ini juga MTP sedang dikerjakan dan ditata ulang meski tentu masih ada bolong di sana-sini. Mudah-mudahan perubahannya nyata dan bermanfaat bagi masyarakat ya :amin.

Apa pendapat Anda terhadap tulisan tersebut? Berkomentarlah!